RESONA Jurnal Ilmiah Pengabdian Masyarakat

dokumen-dokumen yang mirip
RESONA Jurnal Ilmiah Pengabdian Masyarakat

RESONA Jurnal Ilmiah Pengabdian Masyarakat

PENGEMBANGAN SDM BERBASIS PELATIHAN KETERAMPILAN DAN PERBERDAYAAN PEMUDA

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan nasional merupakan usaha peningkatan kualitas manusia, yang

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARANGANYAR NOMOR 10 TAHUN 2015 TENTANG BADAN USAHA MILIK DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARANGANYAR,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK BARAT NOMOR 5 TAHUN 2011

BUPATI SIAK PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 18 TAHUN 2007 TENTANG BADAN USAHA MILIK DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIAK,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR NOMOR 07 TAHUN 2008 TENTANG. PEDOMAN PEMBENTUKAN DAN PENGELOLAAN BADAN USAHA MILIK DESA (BUMDes)

KORPORASI USAHA PERDESAAN SALAH SATU ALTERNATIF PENGEMBANGAN EKONOMI DESA SESUAI NAFAS PANCASILA

Semakin tinggi tingkat pendidikan petani akan semakin mudah bagi petani tersebut menyerap suatu inovasi atau teknologi, yang mana para anggotanya terd

BUPATI JEMBER PERATURAN BUPATI JEMBER NOMOR 03 TAHUN 2010 TENTANG

BUPATI SEMARANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR 7 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN TATA CARA PEMBENTUKAN DAN PENGELOLAAN BADAN USAHA MILIK DESA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BARRU TAHUN 2011 NOMOR 11 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARRU NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG

I. PENDAHULUAN. lapangan kerja, pengentasan masyarakat dari kemiskinan. Dalam upaya

BAB I PENDAHULUAN. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sistem pemerintahan yang

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANTUL

Optimalisasi UPK Dalam Rangka Mencapai Ketahanan Pangan Nasional

PERATURAN DESA CABAK NOMOR 04 TAHUN 2016 TENTANG PEMBENTUKAN BADAN USAHA MILIK DESA (BUM DESA)

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BLITAR SERI C PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLITAR NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN PASAR DESA

PENJELASAN ATAS PERATURAN MENTERI DESA, PDT DAN TRANSMIGRASI NOMOR 1,2,3,4 dan 5 TAHUN 2015 DALAM RANGKA IMPLEMENTASI UU DESA

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Desa Trimodadi Kecamatan Abung Selatan Kabupaten Lampung Utara

- 1 - PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH BUMBU NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG. PEDOMAN PENDIRIAN DAN PENGELOLAAN BADAN USAHA MILIK DESA (BUMDes)

BAB I PENDAHULUAN. mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan

BUPATI KOTABARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTABARU NOMOR 15 TAHUN 2017 TENTANG PEMBERDAYAAN DAN PERLINDUNGAN KOPERASI

BAB IV LANDASAN PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN UMKM

BUPATI TASIKMALAYA PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN TASIKMALAYA NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, disahkan pada

RANCANGAN PROGRAM RENCANA AKSI PENGEMBANGAN KBU PKBM MITRA MANDIRI

PELEMBAGAAN PARTISIPASI MASYARAKAT DESA MELALUI PEMBANGUNAN BKM

PERATURAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA NOMOR 20 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN DAN TATA CARA PEMBENTUKAN BADAN USAHA MILIK DESA

RESONA Jurnal Ilmiah Pengabdian Masyarakat

BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG PEMBANGUNAN KAWASAN PERDESAAN

BUPATI PURWOREJO PROVINSI JAWA TENGAH

MENGELOLA DESA SECARA PARTISIPATIF REFLEKSI STUDI BANDING DESA MUARA WAHAU KE WILAYAH DIY. Oleh: Sri Purwani Konsultan

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

KEPALA DESA KALENSARI KABUPATEN INDRAMAYU PERATURAN DESA KALENSARI NOMOR 9 TAHUN 2015 TENTANG BADAN USAHA MILIK DESA BERKAH MANDIRI

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan pada pengembangan dan peningkatan laju pertumbuhan

BAB I PENDAHULUAN. otonomi daerah merupakan wujud reformasi yang mengharapkan suatu tata kelola

PEMERINTAH KABUPATEN ASAHAN SEKRETARIAT DAERAH Jalan Jenderal Sudirman No.5 Telepon K I S A R A N

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

BUPATI KAPUAS PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN BUPATI KAPUAS NOMOR 20 TAHUN 2016 TENTANG

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan

PEMERINTAH DESA BATUJAJAR BARAT KECAMATAN BATUJAJAR KABUPATEN BANDUNG BARAT JL. Desa NO : 11 DESA BATUJAJAR BARAT KECAMATAN BATUJAJAR

BUPATI BANYUMAS PROVINSIJAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUMAS NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG BADAN USAHA MILIK DESA

TINJAUAN PUSTAKA. Koperasi Unit Desa (KUD) adalah suatu Koperasi serba usaha yang

I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Tourism Center adalah 10,1%. Jumlah tersebut setara dengan US$ 67 miliar,

Pengelolaan. Pembangunan Desa. Buku Bantu PENGANGGARAN PELAKSANAAN PERENCANAAN PENGADAAN BARANG DAN JASA PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PELAPORAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB VI PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MENCIPTAKAN PERUBAHAN

BUPATI KARO PROVINSI SUMATERA UTARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARO NOMOR 06 TAHUN 2016 TENTANG

KUWU LIMPAS KECAMATAN PATROL KABUPATEN INDRAMAYU PERATURAN DESA LIMPAS NOMOR 14 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI BULUKUMBA PROVINSI SULAWESI SELATAN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG

KEPALA DESA CINTAKARYA KABUPATEN BANDUNG BARAT

BAGAIMANA MENAKAR PEMBANGUNAN EKONOMI LOKAL DI ERA OTONOMI DAERAH*)

penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan pendapatan bagi kelompok masyarakat berpendapatan rendah.

BAB I PENDAHULUAN. 2 menurut kecamatan menunjukan bahwa Kecamatan Serasan menempati urutan

PEMERINTAH KABUPATEN BOJONEGORO

PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 9 TAHUN 2007 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DAN KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEPALA DESA CABAK KECAMATAN TLOGOWUNGU KABUPATEN PATI PERATURAN DESA CABAK NOMOR 05 TAHUN 2016 TENTANG

KEPALA DESA BANJAR KECAMATAN LICIN KABUPATEN BANYUWANGI SALINAN PERATURAN DESA BANJAR NOMOR 4 TAHUN 2015 TENTANG KERJASAMA DESA

PROGRAM HIBAH KOMPETISI INTERNAL KULIAH KERJA NYATA

BAB IV VISI DAN MISI DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA

Pengelolaan. Pembangunan Desa Edisi Desember Buku Bantu PENGANGGARAN PELAKSANAAN PERENCANAAN PENGADAAN BARANG DAN JASA PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. pasar belum tentu dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang kemampuan

BUPATI LAHAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAHAT NOMOR 05 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN TATA CARA PEMBENTUKAN DAN PENGELOLAAN BADAN USAHA MILIK DESA

USULAN PENDEKATAN DAN METODOLOGI RENCANA KERJA DAN JADWAL KEGIATAN CALON TENAGA AHLI PEMASARAN PARTISIPATIF

STRATEGI PENGUATAN KELOMPOK TANI DALAM PENGEMBANGAN USAHA NOVRI HASAN

BUPATI TAPIN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TAPIN NOMOR 05 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN TATA CARA PEMBENTUKAN DAN PENGELOLAAN BADAN USAHA MILIK DESA

Ditetapkan pada tanggal 2 Juni 2008

VII. Pola Hubungan dalam Lembaga APKI di Kecamatan Kahayan Kuala Kabupaten Pulang Pisau Kalimantan Tengah

I. PENDAHULUAN. Telah menjadi kesepakatan nasional dalam pembangunan ekonomi di daerah baik tingkat

PENGENTASAN KEMISKINAN MELALUI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA

MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR NOMOR 08 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN GROBOGAN NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN TATA CARA PEMBENTUKAN DAN PENGELOLAAN BADAN USAHA MILIK DESA

PEMERINTAH KABUPATEN PURWOREJO

PEMERINTAH KABUPATEN PACITAN WILAYAH KECAMATAN TULAKAN KANTOR DESA NGUMBUL Jl.Raya Desa Ngumbul Kec.Tulakan Kode Pos 63571

RESONA Jurnal Ilmiah Pengabdian Masyarakat

PELAKSANAAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT OLEH PEMERINTAH DESA DI DESA CIMINDI KECAMATAN CIGUGUR KABUPATEN PANGANDARAN NENA NURHASANAH ABSTRAK

BUPATI MURUNG RAYA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN BUPATI MURUNG RAYA NOMOR 07 TAHUN 2016 TENTANG

PEDOMAN PELAKSANAAN DAN PEMBINAAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI PUSKESMAS ABCD BAB I PENDAHULUAN

JENIS-JENIS DAN POLA KEMITRAAN USAHA OLEH : Anwar sanusi

PENGEMBANGAN SISTEM KELOMPOK HOME INDUSTRY KRIPIK TEMPE PADA DESA BANGUN JAYA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN TATA CARA PEMBENTUKAN DAN PENGELOLAAN BADAN USAHA MILIK DESA

BUPATI LAMPUNG TENGAH PROVINSI LAMPUNG

BAB VI PENDANAAN PEMBANGUNAN DAERAH

WALIKOTA BATU PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN WALIKOTA BATU NOMOR 39 TAHUN 2017 TENTANG

BUPATI LAMPUNG TENGAH PROVINSI LAMPUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMPUNG TENGAH NOMOR TAHUN TENTANG : PENGELOLAAN PASAR KAMPUNG

I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Pertama, Kedua, Ketiga, Keempat, Kelima, Keenam, Pertama, Kedua, Ketiga, Keempat, Kelima,

Transkripsi:

Resona Jurnal Ilmiah Pengabdian Masyarakat Vol. 1, No. 1 (2017) 6-12 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Muhammadiyah Palopo RESONA Jurnal Ilmiah Pengabdian Masyarakat http://journal.stiem.ac.id/index.php/resona/index KKN-PPM Penguatan Ekonomi Desa melalui BUMDES di Desa Poreang Kecamatan Tana Lili Kabupaten Luwu Utara Sulawesi Selatan Suhardi M. Anwar 1, Goso 2, Adil 3 1,2,3 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Muhammadiyah Palopo INFO NASKAH Diserahkan 30 November 2017 Diterima dan disetujui 26 Desember 2017 Kata Kunci: Penguatan ekonomi Bumdes Pemberdayaan Masyarakat Desa ABSTRAK Membangun kekuatan ekonomi desa hanya bisa dilakukan dengan menyejahterakan masyarakat melalui program pemberdayaan dan kemandirian masyarakat dalam kehidupan ekonominya. Tujuan pembangunan otonomi asli desa adalah mengembangkan prakarsa dari dalam (inward looking) dan menumbuhkan kekuatan-kekuatan baru masyarakat. Pada hakikatnya masyarakat dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Usaha pemberdayaan masyarakat mensyaratkan keterlibatan masyarakat. Hal ini dimaksudkan supaya menjadi subyek proses perencanaan dan mampu berkembang secara mandiri serta keberlanjutan sebagai unit sosial maupun unit ekonomi yang otonom. Kelembagaan yang mengakar pada masyarakat Desa Poreang, Kecamatan Tana Lili, belum mampu berkembang, baik ditinjau dari aspek ekonomi maupun aspek sosial. Pemberdayaan dilakukan dengan participatory rural appraisal (PRA) bersinergi dengan melibatkan mahasiswa yang memprogramkan KKN-PPM. Hasil yang dicapai dari program pemberdayaan ini adalah meningkatnya kapasitas pengelolaan pembangunan khususnya penguatan ekonomi masyarakat melalui peran Bumdes dalam memberdayakan masyarakat di berbagai sektor usaha yang telah dibentuk serta dengan program sarasehan, seminar, dan pelatihan masyarakat Desa Poreang telah memiliki kemampuan mengantisipasi perubahan lingkungan makro. 1. Pendahuluan Kesejahteraan masyarakat hanya mungkin diupayakan dengan memberdayakan dan memandiriakan masyarakat dalam kehidupan ekonominya. Hal ini dilakukan dengan membangun daya dan tenaga yang dimiliki masyarakat melalui motivasi untuk membangkitkan kesadaran masyarakat akan potensi yang dimiliki serta berusaha untuk bisa Corresponding Author: 1 suhardi@stiem.ac.id, manwarsuhardi@gmail.com; +62 813 4351 3111 2 goso@stiem.ac.id; +62 813 4379 8848 3 adil_basyr14@yahoo.com; +62 853 3521 9859

mengembangkan potensi yang ada dalam kehidupan. Sejalan dengan diberlakukannya UU Nomor 22 dan UU Nomor 25 tahun 1999 dan sejak awal 2001, telah mampu memberikan pengembangan terhadap pembangunan dan perkembangan daerah, terutama dalam kewenangan yang luas dalam mengelola potensi sumberdaya yang tersedia dengan seoptimal mungkin sebagai upaya dalam memprioritaskan pembangunan di daerah yang berbasiskan pada pengembangan masyarakat sesuai dengan kondisi sosial budaya setempat. Pada hakikatnya masyarakat dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Oleh karena itu, usaha pemberdayaan masyarakat menyaratkan keterlibatan masyarakat mulai dari perencanaan, pelaksanaan, maupun pada saat monitoring dan evaluasi. Hal ini dimaksudkan supaya menjadi subyek proses perencanaan dan mampu berkembang secara mandiri, keberlanjutan sebagai unit sosial maupun ekonomi yang otonom. Potensi yang dimiliki masyarakat Desa Poreang, Kecamatan Tana Lili, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan belum didukung oleh kelembagaan ekonomi yang kuat baik dari segi manajemen, sumberdaya manusia, modal, maupun akses dalam menembus pasar. Berdasarkan hasil Podes tahun 2000, kelembagaan keuangan seperti bank dapat berfungsi sebagai lembaga pendukung permodalan (inklusi keuangan) bagi masyarakat pedesaan. Koperasi sebagai lembaga keuangan mikro ekonomi masyarakat tumbuh di semua kecamatan namun keberadaannya belum mampu bergerak sesuai kebutuhan masyarakat dan juga keberadaannya belum merata di semua desa. Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa koperasi diandalkan sebagai penggerak perekonomian pedesaan. Koperasi Unit Desa (KUD) sebagai salah satu badan usaha yang banyak diharapkan dapat membantu terciptanya atau bangkitnya perekonomian masyarakat yang lebih baik. Akan tetapi, pada kenyataannya belum mampu diandalkan dan masih memperihatinkan (kurang sehat). Tidak efektifnya KUD disebabkan oleh bayak faktor, diantaranya yang menonjol: (a) kelemahan manajemen; (b) kelemahan sumberdaya manusia; (c) keterbatasan akses pendanaan dan modal; dan (d) kekurang mampu menembus pasar. Bercermin pada permasalahan tersebut di atas, maka itupun yang terjadi pada kelembagaan yang ada di Desa Poreang. Kelembagaan yang mengakar pada masyarakat Desa Poreang, Kecamatan Tana Lili juga belum mampu berkembang, baik ditinjau dari aspek ekonomi maupun aspek sosial. Permasalahan yang dijumpai dari aspek ekonomi antara lain: (a) kurang berkembangnya sistem kelembagaan ekonomi untuk memberikan kesempatan dalam pengembangan kegiatan usaha ekonomi kompetitif; (b) kurangnya penciptaan akses S. M. Anwar, Goso & Adil 7

masyarakat ke input sumberdaya ekonomi berupa permodalan (masalah inklusi keuangan), lokasi usaha, lahan usaha, informasi pasar, dan teknologi produksi; dan (c) lemahnya kemampuan masyarakat pedesaan untuk membangun organisasi ekonomi masyarakat. Berbagai permasalahan tersebut di atas diharapkan dapat teratasi dengan hadirnya Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) di setiap desa. Program ini dihadirkan sebagai motor penggerak ekonomi baru di desa demi menutupi kelemahan dari lembaga-lembaga ekonomi dan sosial yang ada di desa selama ini. Termasuk membangkitkan kembali energi bagi usaha-usaha yang ada selama ini di desa seperti KUD dan usaha-usaha produktif dari masyarakat desa setempat melalui pemberian bantuan dan pembinaan. Peran Bumdes sangat diharapkan di pedesaan karena kawasan pedesaan memiliki peran yang penting dan strategis dalam mendukung pembangunan nasional. Kemandirian pembangunan kawasan pedesaan merupakan salah satu pendekatan dalam mendorong perkembangan ekonomi secara nasional dengan memanfaatkan potensi yang ada di wilayah pedesaan tersebut. Perkembangan ekonomi kawasan perdesaan diharapkan dapat mengurangi ketergantungan kawasan pedesaan terhadap kota dan menguatkan peran desa sebagai pusat produksi kebutuhan sumberdaya pembangunan. Membangun hubungan keterkaitan antar desa-kota juga merupakan salah satu cara yang ditempuh sebagai suatu upaya pembangunan wilayah perdesaan, dimana peran desa dikuatkan sebagai pusat produksi dan sumberdaya. Pola tersebut diharapkan mendorong perkembangan ekonomi desa dan mendorong permerataan ekonomi antara desa dan kota. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan alternatif-alternatif baru dan introduksi ilmu pengetahuan yang bisa dilakukan terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat pedesaan. Melalui program KKN-PPM bersama mahasiswa dilakukan pembelajaran pemberdayaan masyarakat untuk memperbaiki kekurangan dan kelemahan serta metode dan cara tradisional yang selama ini dianut dan diyakini oleh masyarakat. 2. Metode Pelaksanaan Metode pelaksanaan program KKN-PPM Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Desa Poreang, Kecamatan Tana Lili melalui Bumdes dilakukan dengan metode participatory rural appraisal (PRA) untuk mengatasi masalah strategis yang dihadapi dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat, dengan tahapan: a. Identifikasi Potensi, Permasalahan, dan Kebutuhan Masyarakat Identifikasi potensi, permasalahan, dan kebutuahan pembangunan masyarakat meliputi S. M. Anwar, Goso & Adil 8

identifikasi potensi pengembangan kelembagaan ekonomi masyarakat desa Poreang Kecamatan Tana Lili. b. Penyusunan Program Kerja Penyusunan program dilakukan dengan menerapkan participatory rural appraisal (PRA) yang berbasiskan pada potensi, permasalahan, dan kebutuhan masyarakat pedesaan yang memuat hal-hal seperti masalah, kegiatan, pelaksanaan, sasaran, metode waktu, penanggungjawab, dukungan program/proyek lain, dinas/instansi pendukung dan perkiraan biaya. c. Evaluasi Penerapan Program Evaluasi mencakup dua aspek yaitu evaluasi penerapan rencana kegiatan bersama masyarakat dan evaluasi penerapan kegiatan antara fasilitator dengan menggunakan indikator-indikator yang telah disepakati bersama. Sebelum mahasiswa diberangkatkan ke lokasi sasaran yakni Desa Poreang, Kecamatan Tana Lili, terlebih dahulu mahasiswa diberi bekal pengetahuan dasar life skill. Sehingga ketika sudah berada di tengah-tengah masyarakat mahasiswa dengan mudah mentransfer ilmu yang telah didapatkan. Konsep yang akan digunakan dalam pengembangan Desa Poreang kecamatan Tana Lili melalui program Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (PPM) adalah sebagai berikut: a. Mempersiapkan masyarakat untuk berpartisipasi menumbuhkan rasa memiliki dan tanggungjawab terhadap program yang dilaksanakan. b. Mengembangkan kemampuan masyarakat untuk mewujudkan dan mempengaruhi arah serta pelaksanaan satu program dengan mengandalkan kekuatan yang dimiliki masyarakat sehingga pemberdayaan merupakan tema sentral untuk menumbuhkan jiwa aktif dan kreatif masyarakatnya. c. Pemberdayaan dalam kelembagaan Bumdes dengan memberdayakan keragaman aktivitas ekonomi (kelompok usaha) masyarakat dengan cara mengembangkan berbagai akses yang dapat mendukung pengembangan usaha seperti akses terhadap sumberdaya fisik; akses terhadap sumberdaya pembiayaan; dan akses terhadap kesempatan memperoleh pelatihan dan pendampingan usaha. Bumdes dikelola oleh masyarakat desa secara profesional seperti halnya mengelola badan usaha lainnya. Sumber dana Bumdes dapat diperoleh dari berbagai sumber misalnya S. M. Anwar, Goso & Adil 9

sumbangan dari kelompok usaha yang dikoordinir dalam bentuk balas jasa, pinjaman dari dana desa, bantuan dari lembaga donor serta aktivitas Bumdes lainnya, sehingga dalam membangun desa tidak tergantung dari anggaran kabupaten saja tetapi bisa menggunakan dana dari kas desa. 3. Hasil dan Pembahasan Hasil dan luaran yang dicapai dalam penyelesaian masalah yang dihadapi dalam pemberdayaan masyarakat dengan metode penyelesaiannya, yang telah dikemukakan pada pada uraian sebelumnya melalui pelaksanaan progran Mahasiswa KKN-PPM Desa Poreang dilakukan selama kurang lebih 2 bulan adalah sebagai berikut: a. KKN-PPM telah berhasil meyakinkan Kepala Desa dan BPD serta tokoh masyarakat Desa Poreang tentang pentingnya peran Bumdes dalam pemberdayaan masyarakat demi peningkatan Pendapatan Asli Desa (PAD) sebagai salah satu desa yang punya potensi ekonomi cukup besar, melalui sarasehan Bumdes yang dilakukan di Aula Kantor Desa Poreang yang dihadiri oleh Kepala Desa dan Aparatnya, Dosen Pembimbing, Ketua dan Anggota BPD, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Pendidik, Pemuda, Ketua dan Anggota Pengurus Bumdes serta Pendamping Desa. b. KKN-PPM bersama pemerintah desa dan BPD melalui suatu pertemuan di kantor desa telah berhasil menyusun/memperbaiki PERDES tentang BUMDES Desa Poreang. c. KKN-PPM bersama pemerintah desa dan BPD serta tokoh masyarakat melalui musyawarah telah berhasil memperbaharuhi kepengurusan BUMDES yang bisa bekerja lebih profesional dalam mengurus BUMDES Desa Poreang. d. Dengan keyakinan yang ditanamkan oleh mahasiswa KKN-PPM tentang pentingnya penguatan fungsi BUMDES kepada Kepala Desa dengan persetujuan BPD melalui musyawarah telah ditetapkan alokasi dana dalam RPMJ Desa Poreang Tahun 2017 untuk BUMDES Desa Poreang sebesar Rp50 juta dan direncanakan pada tahun 2018 sebesar Rp100 juta. e. Melalui kunjungan mahasiswa KKN-PPM ke dusun-dusun dalam wilayah kerja Desa Poreang sekaligus berdiskusi dengan Kepala Dusun setempat telah berhasil mengidentifikasi potensi ekonomi yang akan di kelola/dikembangkan oleh BUMDES di Desa Poreang. Hasil identifikasi tersebut dibawa ke dalam pertemuan untuk didiskusikan/dirapatkan dengan pemerintah desa, BPD dan pengurus BUMDES Desa Poreang sehingga disepakati membentuk kelompok usahanya, yakni: Usaha Simpan S. M. Anwar, Goso & Adil 10

Pinjam, Usaha Budidaya Rumput Laut Katonik, Pengembangan Koperasi Petani Kelapa Sawit, Mitra Usaha Toko/Kios Serba Ada, Penyewaan Lapak-Lapak Tempat Berjualan setiap hari pasar di Pinggir Lapangan, Pengembangan Mitra Usaha Kripik Pisang dan Pemasarannya. f. Demikian pula dengan keyakinan Kepala Desa terhadap penguatan ekonomi desa melalui BUMDES maka melalui saran sekaligus permintaan mahasiswa KKN-PPM hasilnya Kepala Desa menyiapkan kantor/sekretariat BUMDES Desa Poreang beserta fasilitas yang dibutuhkan di dalamnya, termasuk gambar struktural pengurus dan papan nama sekretariat. g. Guna efektifitas dan efesiensi dalam pengelolaan BUMDES Desa Poreang, maka mahasiswa KKN-PPM juga bersama pengurus BUMDES menyusun/membuat seluruh dokumen yang diperlukan seperti administrasi umum dan administrasi keuangan BUMDES Desa Poreang melalui seminar tata kelola Bumdes. Secara khusus mahasiswa KKN-PPM telah berhasil membantu menyusun laporan administrasi desa dan laporan keuangan BUMDES Desa Poreang. Selain itu, hasil yang paling menonjol dan fundamental dari KKN-PPM di Desa Poreang melalui pembentukan Usaha Simpan Pinjam dan sejumlah kelompok mitra usaha lainnya adalah keberhasilan menyerap tenaga kerja yang cukup lumayan dan kegairahan para mitra usaha untuk lebih mengembangkan usahanya. Gambar 1. Kegiatan Sarasehan Gambar 2. Kegiatan Seminar Bumdes Gambar 3. Kegiatan Pengesahan Kontrak Kerjasama S. M. Anwar, Goso & Adil 11

4. Simpulan dan Saran Program KKN-PPM telah menjadi wadah yang lebih efektif dalam rangka mewujudkan Catur Dharma perguruan tinggi di STIE Muhammadiyah Palopo khususnya dalam rangka pemberdayaan ekonomi masyarakat. Terlihat dengan jelas bahwa melalui rogram KKN-PPM STIE Muhammadiyah Palopo di Desa Poreang. Pendekatan yang dilakukan oleh mahasiswa melalui kegiatan seminar, pelatihan/pembimbingan, kunjungan ke tokoh masyarakat, pemuda dan remaja terutama silaturrahim yang baik dengan pemerintah desa maka terbenahilah manajemen Bumdes yang baik, bersemangat dan lebih profesional sebagai ujung tombak dalam penguatan ekonomi desa. Sehingga terbentuklah beberapa kelompok usaha jasa dan produktif yang lebih bersemangat, yakni Usaha Simpan Pinjam, Usaha Kripik Pisang, Mitra Usaha Toko Serba Ada, Usaha Persewaan Lapak-Lapak Penjualan, Kelompok Usaha Rumput Laut Katonik, dan Koperasi Petani Kelapa Sawit. Kelompok usaha ini menjadi wadah penyerap tenaga kerja. Disarankan agar STIE Muhammadiyah Palopo dan pemerintah desa, kecamatan dan kabupaten bisa dan tetap dapat mendukung terlaksananya program-program selanjutnya. Sehingga apa yang telah dihasilkan pada program KKN-PPM tersebut betul-betul dapat lebih dikembangkan di masa akan datang serta menjadi contoh yang lebih baik dan positif bagi daerah lain. Daftar Pustaka Arsyad, L. 1999. Pengantar Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi Daerah. Yogyakarta: PT. BPFE Yogyakarta. Dharmawan, A.H. 2002. Pengembangan Komunitas dan Pedesaan Berkelanjutan. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Robiati. 2003. Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pedesaan Melalui Bumdes, Kajian Desa Bantan Air Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis. Tesis. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Djohan, A. 1996. Pemberdayaan Masyarakat dan potensi Daerah Dalam Upaya Memacu Laju Pembangunan Daerah Menyongsong Otonomi Daerah yang Nyata dan Dinamis, Serasi dan Bertanggungjawab di Kabupaten Daerah Tingkat II Bengkalis. Lokakarya Pembangunan Daerah Kabupaten Bengkalis. (Disampaikan pada 24 Desember 1996) S. M. Anwar, Goso & Adil 12