Semester III -3 SKS Dr. Ir. SUDARSONO, M.T.
Menggambar Mesin Fisika Mekanika Statika Struktur Proses Produksi Metalurgi Fisik
1. Menghitung kekuatan yang bekerja pada elemen mesin yang bersangkutan. 2. Menghitung dimensi dari elemen mesin bersangkutan. 3. Menentukan bahan yang sesuai dengan perhitungan kekuatan yang telah dilakukan. 4. Menyesuaikan hasil rancangan dengan standar yang ada.
25 % untuk UTS, 25 % untuk UAS, 40 % untuk penyelesaian Tugas (Tugas I 20 %, Tugas II 20 %), Kehadiran 10%
1. Callister, MATERIAL SCIENCE AND ENGINEERING AN INTRODUCTION, John Wiley and Sons. Inc. 2. Edi Septe S, ELEMEN MESIN, Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri Universitas Bung Hatta. 3. G. Niemann, et.al., ELEMEN MESIN jilid 1, DISAIN DAN KALKULASI SAMBUNGAN BANTALAN DAN POROS. 4. Khurmi R.S and Gupta, J.K, 1987, A TEXT BOOK OF MACHINE ELEMENT, Eurasia Publishing House, New Delhi. 5. Shigley, J.E and Mitchell L.D, 1983, Mechanical Engineering Design, 4ed, Mc.Graw-Hill, New York. 6. Spott, M.F, 1985, DESIGN OF MACHINE ELEMENT, McGraw Hill, New York. 7. Sudarsono, 2013, Elemen Mesin, AKPRIND Press, Jakarta. 8. Sularso & Suga, Kiyokatsu, DASAR PERENCANAAN & PEMILIHAN ELEMEN MESIN, PT. Pradnya Paramita, Jakarta, cetakan ke-7. 9. Wiryosumarto, Harsono, & Okumura, Toshie, 1981, TEKNOLOGI PENGELASAN LOGAM, PT. Pradnya Paramita, Jakarta.
1. Bagaimana caranya kita mendapatkan tenaga dlm jumlah besar, tetapi bersih, aman & ekonomis tanpa menggunakan bahan bakar minyak dan tanpa merusak permukaan bumi ini? 2. Poros roda gigi ini meyusahkan, sudah 8x patah dalam enam minggu trakhir, Perbuatlah sesuatu atas hal tersebut.
Dilain pihak, Suatu kebutuhan tertentu yang harus dipenuhi, mungkin samar-samar dan diutarakan secara tidak jelas, sedemikian rupa sulit untuk merumuskannya sebagai suatu masalah yang butuh solusi
Stress-Strain Diagram
Modulus of Elasticity Tensile Strength
Ductility Toughness
Tensile Test Machine Extensometer
Measurement of Elongation Comparison of Breaks
Berdasarkan penyambungan pelatnya, sambungan paku keling dikelompokkan sebagai : 1. Sambungan berimpit ( lap joint) adalah sambungan yang menempatkan pelat yang akan disambung saling berimpitan dan kedua pelat tersebut disambung dengan paku keling. 2. Sambungan bilah (butt joint) adalah sambungan yang menempatkan kedua ujung pelat yang akan disambung saling berdekatan, lalu kedua pelat tersebut ditutup dengan bilah (strap), kemudian masing-masing pelat disambungkan dengan bilah menggunakan paku keling.
a. Sambungan baris tunggal (single riveted joint). Pada sambungan berimpit, sambungan baris tunggal adalah sambungan yang menggunakan satu baris paku keling pada sistem sambungan. Sedangkan pada sambungan bilah, sambungan baris tunggal adalah sambungan yang menggunakan satu baris paku pada masing-masing sisi sambungan. Sambungan baris ganda (double riveted lap joint) Pada sambungan berimpit, sambungan baris ganda adalah sambungan yang menggunakan dua baris paku keling pada sistem sambungan. Sedangkan pada sambungan bilah, sambungan baris ganda adalah sambungan yang menggunakan dua baris paku pada masing-masing sisi sambungan. Berdasarkan susunan paku kelingnya, sambungan baris ganda ini dikelompokkan sebagai : Sambungan rantai Sambungan zig-zag BERDASARKAN JUMLAH BARIS PAKU YANG DIGUNAKAN, SAMBUNGAN PAKU KELING DIBEDAKAN SEBAGAI :
GAMBAR SAMBUNGAN BERIMPIT TUNGGAL, SAMBUNGAN BERIMPIT BARIS GANDA RANTAI, SAMBUNGAN BERIMPIT BARIS GANDA ZIG ZAG
GAMBAR SAMBUNGAN BILAH TUNGGAL DAN SAMBUNGAN BILAH GANDA Sambungan Bilah Tunggal Sambungan Bilah Ganda
KEGAGALAN PADA SAMBUNGAN PAKU KELING Pada saat menerima beban suatu sambungan paku keling kemungkinan dapat mengalami kegagalan berupa :
KEKUATAN SAMBUNGAN PAKU KELING
Efisiensi sambungan adalah perbandingan antara kekuatan sambungan paku keling dengan kekuatan sambungan tanpa paku (solid plate). Kekuatan sambungan paku keling adalah harga terkecil dari gaya tarik, gaya geser dan gaya patah yang dapat ditahan sambungan tanpa mengalami kerusakan. Sedangkan kekuatan sambungan tanpa paku (solid plate) adalah: EFISIENSI PAKU KELING
SAMBUNGAN PAKU KELING DENGAN BEBAN EKSENTRIK
PERSAMAAN YANG DIGUNAKAN ADALAH:
GAMBAR SAMBUNGAN DENGAN BEBAN EKSENTRIK
Oleh karena diameter paku keling yang digunakan sama besar, maka penampang paku : A1=A2=.=An. Sehingga persamaan diatas menjadi : Dengan mengetahui koordinat x dan y, maka titik pusat sistem sambungan dapat diperoleh :
GAMBAR TITIK PUSAT SISTEM SAMBUNGAN
Dengan adanya gaya P dan momen puntir T pada titik pusat sambungan, maka setiap paku akan menerima 2 jenis gaya, yaitu : (A). Gaya Geser Langsung. Besarnya gaya geser langsung pada setiap paku keling adalah beban, P dibagi dengan jumlah paku keling, n. Secara matematis dapat ditulis : (B). Gaya Geser Akibat Puntiran. Gaya geser akibat puntiran yang terjadi pada setiap paku keling sebanding dan tegak lurus terhadap lengan gayanya ( jarak dari titik pusat sambungan ke titik pusat paku)
GAYA GESER PUNTIRAN
Setelah diketahui besarnya gaya geser langsung dan gaya geser akibat puntiran pada setiap paku keling, kemudian dihitung besarnya resultan gaya pada setiap paku. Secara teoritis, persamaannya adalah: dimana : θ adalah sudut antara Fg dan Fpn. Besarnya sudut θ ini diketahui dari gambar. Dari gambar dibawah terlihat bahwa : θ = α + β. Dari gambar : sudut β = 900 sudut α dapat dicari dengan cara : tg α = panjang garis di depan sudut per panjang garis disisi sudut.
Setelah diperoleh resultan gaya untuk semua paku keling, selanjutnya di ambil harga resultan gaya yang paling besar untuk menghitung diameter paku keling. Persamaannya : dimana τg adalah tegangan geser izin bahan paku keling.
PVC Guard Rail Installation
Implementasi Lap JOINT
RIVETED JOINT ON AIRPLANE
TEKAN
Kemudian, antara VELG ( Lubang Velg ) dan As/Poros, pada saat penekanan maupun sesudahnya akan terjadi Tekanan permukaan pada bidang Tetap yang dinotasikan dengan,p Kg/cm². Untuk keamanan, P ini harus mempunyai harga yang besar, agar tidak terjadi selip maupun lepas.
Jika sebuah tabung yang bertekanan didalamnya, maka tekakan ini akan menekan dinding dengan notasi P.
INTER FERENCE FIT ( SAMBUNGAN SUSUT TEKAN )
CARA SUSUT
SAMBUNGAN LAS PENGELASAN Pengelasan adalah Teknologi untuk penyambungan tetap atau mati seperti halnya sambungan dengan paku keling ( penyambungan yang tidak dapat dilepas) Definisi Las menurut DEUTCHE INDUSTRI NORMEN (DIN) adalah ikatan metalurgi pada sambungan logam atau logam paduan yang dilaksanakan dalam keadaan lumer atau cair.
KEGIATAN PENGELASAN Shielded metal arc welding Gas welding
CONTOH ALAT WELDER Spot welder
Contoh Welder Machines Inverter TIG Welding Machine TIG-160 (WS-160) Mig Welding Machine 90 Amp. Flux Welding Machine
Welding Safety
PENGELASAN DALAM AIR Underwater welding
KEUNTUNGAN SAMBUNGAN LAS TERHADAP SAMBUNGAN PAKU KELING Kekuatan sambungan lebih besar dan sambungan lebih rapat dan merata Berat sambungan lebih ringan sehingga cocok untuk konstruksi yang memerlukan lebih ringan, misalnya, pesawat terbang dsb. Saat pengelasan relatip tidak bersuara ribut. Lebih praktis, lebih ekonomis,baik dipandang dari segi material maupun dari segi pembiayaan.
METODE PENGELASAN Pengelasan tekan adalah cara pengelasan dimana sambungan dipanaskan dan kemudian ditekan hingga menjadi satu. Pengelasan cair adalah cara pengelasan dimana sambungan dipanaskan sampai mencair dengan sumber panas dari busur listrik atau semburan api gas yang terbakar. Pematrian adalah cara pengelasan dimana sambungan diikat dan disatukan dengan menggunakan paduan logam yang mempunyai titik cair rendah. Dalam hal ini logam induk tidak turut mencair.
PENGELASAN TEKAN Las tekan : - Las Api - Las Tahanan Listrik Dibakar dahulu kemudian diberikan pukulan
PENGELASAN TEKAN Disini terjadi percikan bunga api dimana dapat dipakai sebagai tanda Las tumpul Bila percikan masih banyak artinya, Baja belum bersatu Biasa untuk plat tipis Las titik
LAS TEKAN
LAS TEKAN
LAS TEKAN
LAS CAIR / LAS OTOGEN
LAS CAIR / LAS OTOGEN
LAS CAIR / LAS OTOGEN
SAMBUNGAN LAS
SAMBUNGAN LAS Kampuh V Terbuka Kampuh V Tertutup Kampuh X sama sisi
PERHITUNGAN SAMBUNGAN LAS
PERHITUNGAN SAMBUNGAN LAS
PERHITUNGAN SAMBUNGAN LAS
LAS KEPALA Karena pengelasan ada 2 tempat, maka P yang bekerja tiap luasan penampang las adalah = ½ P Sedang luas penampang dari las adalah : F = L. a jadi a = ½.s. 2
LAS KEPALA PERHATIAN : L tidak boleh dihitung keseluruhan, sebab pada bagian ujung-ujungnya kebiasaan tidak sempurna bentuknya. Bagian yang tidak boleh dimasukkan hitungan adalah x + 2x = 3x. Jadi panjang yang dipakai dalam perhitungan adalah : L = ( L 3x )
LAS KEPALA maka : P1 = P2 =1/2.P 2
LAS SISI
LAS SISI Akibatnya : Cara pengelasan-pun tidak perlu sama panjang. Dalam hal ini P1 < P2, maka l1 < l2, yang harga masingmasing dapat dicari dari : P2 P1 ז = 2 ז = 1 ז ----- = 1 ז ------ = 2 ז gs a.l2 a.l1
Pematrian adalah cara penyambungan dengan menggunakan logam pengisi atau logam patri diantara permukaan logam induk yang disambung. Logam pengisi mempunyai titik cair lebih rendah dari pada logam induk. Ada dua macam logam patri,yaitu logam patri lunak dimana logam mempunyai titik cair lebih rendah dari 450 C dan logam patri yang mempunyai titik cair lebih dari 450 C yang disebut logam patri keras. Selama proses pematrian suhu harus cukup tinggi agar logam patri cair mempunyai derajad kecairan yang tinggi sehingga dapat mengalir kedalam rongga antara kedua logam induk.
Logam-logam yang digunakan sebagai logam patri adalah : paduan AG-Cu, Pb-Sn, Bi-Sn, dan Bi-Sn-Pb sebagai patri lunak. Berdasarkan cara pengadaan energi panasnya, pematrian dibagi dalam tujuh kelompok yaitu : 1. Patri busur,dimana panas dihasilkan dari busur listrik dengan elektroda karbon atau dengan elektroda wolfram. 2. Patri gas dimana panas ditimbulkan karen adanya nyala api gas. 3. Patri solder, dimana panas dipindahkan dari solder besi atau tembaga yang dipanaskan. 4. Patri tanur,dimana tanur digunakan sebagi sumber panas. 5. Patri induksi,dimana panas dihasilkan karena induksi listrik frekwensi tinggi. 6. Patri resistansi,dimana panas dihasilkan karena resistensi listrik. 7. Patri celup,dimana logamyang disambung dicelupkan kedalam logam patri cair. Sifat-sifat patrian dapat diperbaiki dengan menggunakan fluks atau dengan mengatur atmosfir sekitar patrian pada saat pematrian berlangsung.
-Rumus ini untuk konstruksi yang sudah terpasang dan diharapkan tidak terjadi selip. -Kalau digunakan untuk menekan/memasang, Pax ini harus lebih besar dari : pi.d.l.p.f -Sedang agar tidak berputar :
MUR DAN BAUT
MUR DAN BAUT Mur dan Baut merupakan alat pengikat yang sangat penting. Untuk mencegah kecelakaan atau kerusakan pada mesin, pemilihan Mur dan Baut sebagai alat pengikat harus dilakukan dengan seksama untuk mendapatkan ukuran yang sesuai. Untuk menentukan ukuran Mur dan baut, berbagai faktor harus diperhatikan seperti sifat gaya yang bekerja pada baut, syarat kerja, kekuatan bahan, kelas ketelitian dan lain sebagainya.
MUR DAN BAUT Adapun gaya-gaya yang bekerja pada baut dapat berupa; Beban statis aksial murni,beban aksial bersama dengan beban puntir, beban geser, dan beban tumbukan aksial. Bentuk-bentuk Mur dan Baut
MUR DAN BAUT Ring /Washer 1. Spring Washer : digunakan agar tidak mudah kendor 2. Plain Washer : Untuk merubah/menurunkan tekanan permukaan. dt = diameter dalam/diameter teras; untuk menentukan kekuatan. Dl = Diameter luar ; untuk menentukan ukuran
MUR DAN BAUT Ulir Sekrup Berupa Spiral.Jadi bila batang ulir kita belah dan kita buka, maka akan kita dapatkan bentuk sbb; Dimana α = sudut Helix, sudut perkalian Sudut α ada yang besar & ada yang kecil α besar Pada waktu mengencangkan mur-baut akan lebih cepat. α kecil Kita memerlukan putaran yang lebih dari α yang besar.
MUR DAN BAUT Ilustrasi : Bila suatu batang dililiti tali dan pada satu kali putaran, akan kita dapatkan sudut α yang kecil.
MUR DAN BAUT Karena kita ingin mendapatkan sudut α besar, maka kita gunakan lebih dari satu tali. Miss, 2 atau 3 tali α besar Untuk skrup kasar α kecil untuk skrup halus
MUR DAN BAUT Sehingga sering kita lihat, untuk diameter baut sama, tetapi jumlah ulirnya berbeda. Disini ulir halus persatuan panjang akan memiliki jumlah ulir lebih banyak dari pada ulir kasar. Sifat-sifat ulir sekrup halus 1. Diameter teras lebih besar dari diameter kasar, sehingga lebih kuat. 2. Sudut α kecil sehingga tidak mudah kendor/lepas. 3. Baik sekali untuk kekuatan sambungan yang bergetar. 4. Apabila sering dibuka pasang, akan mudah rusak. 5. Cara pemasangannya lama. 6. Cara pembuatannya harus lebih teliti.
MUR DAN BAUT Untuk ulir sekrup kasar, tentunya mempunyai sifat yang berkebalikan. Macam ulir ditinjau dari Negara asal/pembuatnya. 1. Ulir sekrup Withworth ( W ), satuan inchi, karena berasal dari Inggris, miss : W1/2 x 5. Artinya : Ulir sekrup With worth dengan DL = ½ dan L = 5.
MUR DAN BAUT 2. Ulir sekrup yang berasal dari Amerika yang disebut Sellers ( s ). UNC, NF. Contoh : 5/8 18 UNC Artinya : dl = 5/8. L=18.
MUR DAN BAUT 3. Ulir sekrup yang berasal dari German yang disebut Metrik (M). Misal : M20 x 50. Artinya : dl = 20 mm, L = 50 mm
MUR DAN BAUT Macam ulir ditijau dari segi penggunaannya; 1. Ulir sekrup gerak 2. Ulir sekrup pengikatan. add. 1. Untuk merubah gerak putar menjadi gerak lurus dll. Ulir ini ada 2 macam: 1.1. Yang berbentuk segi empat 1.2. Yang berbentuk trapesium add. 2. Lir sekrup pengikatan 2.1. Bentuk segi tiga. 2.2. Bentuk trapesium.
MUR DAN BAUT Peristilahan ulir sekrup,untuk lebih jelas diperlihatkan ulir v yang tajam, sebetulnya puncak dan akar tersebut adalah datar atau melengkung selama operasi pembuatannya. Semua ulir dibuat sesuai dengan kaidah tangan kanan (right-bahd rule) kecuali dijelaskan secara khusus
ulir Gambar dibawah ini menunjukkan geometri ulir untuk tiga standar ulir inggris yang banyak dipakai. Gambar(a) menyajikan standart ulir Amerika National ( unified) yang telah disetujui pemakaiannya di Amerika dan Inggris untuk semua produk berulir standart. Sudut ulir adalah 60 puncak dan akar dari ulir bisa datar maupun melengkung.
Ulir Perhatikan bahwa ukuran ulir dinyatakan dengan memberikan jarak puncak p untuk ukuran metris dan dengan memberikan jumlah ulirper inchi N untuk ukuran Amerika. Banyak percobaan tarik atas batang berulir menunjukkan bahwa batang tak-berulir yang mempunyai diameter yang sama dengan harga rata-rata, dari diametr rata-rata dan diameter kecil akan mempunyai kekuatan tarik yang sama dengan batang berulir. Modifikasi sering dilakukan pada ulir Acme dan ulir bujur sangkar, Misalnya bujur sangkar kadang-kadang dimodifikasi dengan memotong ruangan antara gang.
Ulir Sedemikian agar mempunyai sudut ulir sebesar 10-15. Hal ini tidak sulit, karena ini biasanya hanya dipotong dengan suatu mata pahat bubut; modifikasi tersebut memelihara sebanyak mungkin efisiensi yang tinggi yang dimiliki oleh ulir bujur sangkar dan membuat pemotongan tersebut lebih sederhana. Ulir Acme kadang-kadang dimodifikasi ke bentuk yang tumpul dengan membuat gigi yang lebih pendek. Ini menghasilkan suatu diameter kecil yang lebih besar dan karenanya menghasilkan sekrup yang kuat.
Ulir Mekanisme sekrup Daya Ini adalah alat yang dipakai dalam permesinan untuk mengubah gerakan menjadi gerakan linier dan biasanya memindahkan daya. Pemakaiannya yang antara lain sekrup penuntun pada mesin bubut dan sekrup untuk ragum penekan dan dongkrak.penyajian skematis dari penggunaan dari sekrup daya pada suatu mesin pres digerakkan oleh motor. Dalam pemakaian suatu day ( torque) T diberikan pada ujung sekrup melalui serangkaian roda gigi, sehingga menggerakkan kepala mesin press kebawah terhadap beban.
Ulir Mesin press yang digerakkan oleh sekrup
Ulir Bagian dari sekrup daya, dengan gaya tekan aksial F, kita ingin mencari rumus dari daya-putar yang diperlukan untuk menaikkan beban dan rumus lainnya untuk menurunkan beban.
Diagram Gaya F F µn P l µn P l dm N dm N Menaikkan Beban (sin λ + µ cosλ P = F cosλ µ sin λ Menurunkan Beban (sin λ µ cosλ P = F cosλ + µ sin λ
Rumus Daya Putar Dengan memperhatikan daya putar adalah hasil kali gaya (P) dan radius rata-rata(dm/2), untuk menaikkan beban kita dapat menulis : + = l d d l Fd T m m m µ π πµ 2 Sedangkan untuk menurunkan beban kita dapat menulis : + = l d l d Fd T m m m µ π πµ 2
.
POROS Poros merupakan salah satu bagian yang terpenting dari setiap mesin, hampir semua mesin meneruskan tenaga bersam-sama dengan putaran. Poros ini dapat diklasifikasikan menurut pembebanannya sebagai berikut : 1. Poros Transmisi, Poros semacam ini mendapat beban puntir murni atau puntir dan lentur. Daya ditransmisikan kepada poros ini melalui kopling,roda gigi, puli sabuk atau sproket rantai dll.bagian-bagian poros yang mendapat tumpuan disebut tap atau leher alat yang dipakai untuk menumpu disebut Bantalan.
POROS 2. Spindel Poros transmisi yang relatif pendek, seperti poros utama mesin perkakas, dimana beban utamanya berupa puntiran, disebut spindel, syarat yang harus dipenuhi poros adalah deformasinya harus kecil dan bentuk serta ukurannya harus teliti. 3. Gandar Poros seperti yang dipasang diantara roda-roda kereta barang, dimana tidak mendapat beban puntir, bahkan kadang-kadang tidak boleh berputar, Gandar ini hanya mendapat beban lentur, kecuali jika digerakkan oleh penggerak mula dimana akan mengalami beban puntir juga.
POROS
POROS
POROS
POROS
POROS
POROS
POROS
Pasak adalah suatu elemen mesin yang dipakai untuk menetapkan bagian-bagian mesin seperti roda gigi, sproket,puli, kopling dll. Pasak dipakai dengan maksud : 1. Untuk menjaga supaya terjadi pengikatan pada alat bagian yang satu dengan yang lain sehingga tidak bergeser dalam arah tertentu. 2. Untuk menyambung peralatan yang satu dengan yang lain. 3. Untuk memindahkan sebuah alat bagian pada arah tertentu.
Seringkali terjadi,bahwa sebuah pasak harus memenuhi lebih dari satu maksut diatas,bahwa mungkin terjadi untuk ketiga maksut diatas. Macam-macam pasak Menurut cara pembebanan pada pasak, dibedakan 3 macam pasak. 1. Pasak memanjang ( Key ) 2. Pasak melintang ( cotter joint) 3. Splines.
Pasak memanjang Pasak ini menerima pembebanan sepanjang penampang pasak,misalnya pada sambungan poros dengan roda transmisi. Fungsi pasak memanjang ialah mengikat sambungan dan meneruskan momen puntir. Keuntungan pasak semacam ini : 1. Sederhana dan murah. 2. Mudah dipasang dan dibongkar. Kerugiannya : 3. Melemahkan poros dengan adanya alur pasak padanya ( Key way )
Pemakaian pasak dan pemilihan pasak biasanya tidak menyimpang dari lembaran antara lain N32 ; N161 dan N162, yang memberikan ukuran bermacam-macam pasak memanjang untuk garis tengah poros yang tertentu. Juga normalisasi ASME dapat dipergunakan jika satu Britis dipakai.
Kekuatan pasak memanjang,
P = 1 3 Lb t 2 K Maka dengan Rumus ini dapat ditentukan ukuran lebar b pasak setelah diketahui L dan t pasak.
Ilustrasi Pemasangan Pasak
Ilustrasi Pasak Tirus (TAPER KEY)
Ilustrasi Pasak Rata (FLAT KEY)
Ilustrasi Pasak Keping Lingkaran (WOOD RUFF KEY)
Batas Dimensi Pasak
SPLINE Spline dipergunakan untuk meneruskan gerakan relatif aksial diantara poros dan bagian sambungan lainnya. Dengan Spline didapatkan kekuatan yang lebih besar, luas bidang kontak lebih besar. Besar kekuatannya 25-40% lebih besar daripada pasak Spline Shaft dan hub A.Straight Radial B.Involute
SAE Standard SPLINES Menurut ASA (B5.26-1950) 6 Spline 4 Spline 10 Spline Suaian Tetap d = 0,90 D w = 0,25 D h = 0,05 D d = 0,85 D w = 0,241 D h = 0,075 D d = 0,91 D w = 0,156 D h = 0,045 D Spline dapat bergeser aksial tanpa pembebanan d = 0,85 D w = 0,25 D h = 0,075 D d = 0,78 D w = 0,242 D h = 0,125 D d = 0,86 D w = 0,156 D h = 0,07 D Spline dapat bergeser aksial dengan pembebanan d = 0,80 D w = 0,25 D h = 0,10 D d = 0,81 D w = 0,156 D h = 0,095 D
Contoh Soal Diketahui sambungan Spline pada auto mobil transmition terdiri dari 10 spline yang dibuat pada diameter poros asal 2,25. Tinggi spline 0,214 in. Panjang Alur pasak pada Hub(poros pipa penerus)=1,75 in. Kecepatan putaran 2500rpm & tegangan tekan yang diijinkan 700Psi. Ditanyakan besar daya kuda yang dipakai.
Penyelesaian Soal Luas Total Permukaan Spline A = t. L. n A = 0,214 x 175 x 10 in2 = 3,74 in2 Besar torsi yang diteruskan : T = p. A. r m = 700 x 374 x 2.25-0,214 2 = 2660 in lb Besar daya kuda : N T = 63000x n T. n 2660 2500 N = = = 106HP 63000 63000
Contoh Soal 1
Penyelesaian Soal
Contoh Soal 2
Penyelesaian Soal
Lanjutan penyelesaian #1
Lanjutan penyelesaian #2
Lanjutan penyelesaian #3
Lanjutan penyelesaian #4
Representasi dan Dimensi Pegas Tekan
Representasi dan Dimensi Pegas Tarik
Representasi dan Dimensi Pegas Torsi