4 HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
3 METODE PENELITIAN. Gambar 3 Garis besar jalannya penelitian

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

IDENTIFIKASI FITOKIMIA DAN EVALUASI TOKSISITAS EKSTRAK KULIT BUAH LANGSAT (Lansium domesticum var. langsat)

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Kadar Air Ekstraksi dan Rendemen Hasil Ekstraksi

HASIL PENELITIAN Penentuan waktu hewan coba mencapai DM setelah induksi STZ. Kriteria hewan coba mencapai DM adalah apabila kadar GDS 200

PEMISAHAN SENYAWA-SENYAWA YANG BERSIFAT ANTIMALARIA DARI EKSTRAK METANOL KULIT KAYU MIMBA (Azadirachta Indica JUSS)

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Variabel Hama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya dengan berbagai

BAB 3 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB VI PEMBAHASAN. salam dapat menurunkan ekspresi kolagen mesangial tikus Sprague dawley DM.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Uji Toksisitas Potensi Insektisida Nabati Ekstrak Kulit Batang Rhizophora mucronata terhadap Larva Spodoptera litura

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Ekstrak air akar kucing yang didapat mempunyai spesifikasi sebagai

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. tumbuhan, hewan, mineral, sediaan sarian (galenika) atau campuran dari bahanbahan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Ekstraksi dan Penapisan Fitokimia

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

pudica L.) pada bagian herba yaitu insomnia (susah tidur), radang mata akut, radang lambung, radang usus, batu saluran kencing, panas tinggi pada

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh protozoa genus Plasmodium

BAB I PENDAHULUAN. mengidap penyakit ini, baik kaya, miskin, muda, ataupun tua (Hembing, 2004).

BAB I PENDAHULUAN. Asam urat merupakan senyawa kimia hasil akhir dari metabolisme nucleic

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Ekstrak memberikan rendemen sebesar 27,13% (Tabel 3).

BAB V PEMBAHASAN. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil penelitian yang telah dianalisis

BAB III METODE PENELITIAN

PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIMALARIA DAN INSEKTISIDA FRAKSI ETIL ASETAT DAN SENYAWA 5,7,2',5",7",4"-HEKSAHIDROKSIFLAVANON-[3,8"]- FLAVON DARI BATANG

BAB IV PEMBAHASAN. Gambar 4. Borok Pada Ikan Mas yang Terinfeksi Bakteri Aeromonas hydrophila

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

Syamsudin 1, Susan Marlina 1, Rita Marleta Dewi 2 1 Fakultas Farmasi, Universitas Pancasila, Jakarta, 2 P3M, Litbangkes, Departemen Kesehatan

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian dengan pemberian ekstrak daun pepaya (Carica papaya L.)

penglihatan (Sutedjo, 2010). Penyakit ini juga dapat memberikan komplikasi yang mematikan, seperti serangan jantung, stroke, kegagalan ginjal,

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit periodontal adalah penyakit yang umum terjadi dan dapat ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun Artocarpus

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. penyakit periodontitis (Asmawati, 2011). Ciri khas dari keadaan periodontitis yaitu gingiva kehilangan

BAB VI PEMBAHASAN Pengaruh Ekstrak Daun Salam Terhadap Kadar Glukosa Darah

I. PENDAHULUAN. Identifikasi Masalah, (1.3) Tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat Penelitian, (1.5)

HASIL DAN PEMBAHASAN Persiapan dan Ekstraksi Sampel Uji Aktivitas dan Pemilihan Ekstrak Terbaik Buah Andaliman

Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi, Vol. 11, No. 2, 2006, halaman ISSN : Akreditasi DIKTI Depdiknas RI No.

Tanaman Putri malu (Mimosa pudica L.) merupakan gulma yang sering dapat ditemukan di sekitar rumah, keberadaannya sebagai gulma 1

DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... iii DAFTAR LAMPIRAN... vi DAFTAR GAMBAR... vii DAFTAR TABEL... viii PENDAHULUAN... 1

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan negara yang memiliki ribuan jenis tumbuhan

MORTALITAS LARVA 58 JAM

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 14. Hasil Uji Alkaloid dengan Pereaksi Meyer; a) Akar, b) Batang, c) Kulit batang, d) Daun

BAB I PENDAHULUAN. peradaban manusia, tumbuhan telah digunakan sebagai bahan pangan, sandang maupun obat

Studi Potensi Bioherbisida Ekstrak Daun Ketapang (Terminalia catappa) Terhadap Gulma Rumput Teki (Cyperus rotundus)

BAB III METODE PENELITIAN. dibagi menjadi kelompok kontrol dan perlakuan lalu dibandingkan kerusakan

ADLN-Perpustakaan Universitas Airlangga BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Skrining Alkaloid dari Tumbuhan Alstonia scholaris

ABSTRAK. PENGARUH FRAKSI AIR KULIT MANGGIS (Garcinia mangostana) DAN ARTEMISININ TERHADAP PARASITEMIA PADA MENCIT YANG DIINOKULASI Plasmodium berghei

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimen, karena

ABSTRAK ABSTRACT KATA PENGANTAR

PERNYATAAN. Jember, 4 Juni 2010 Yang menyatakan, Siti Agus Mulyanti NIM

UJI EFEKTIFITAS AKAR KAYU KUNING (Coscinium fenestratum Colebr) SEBAGAI ANTIMALARIA PADA MENCIT YANG DIINFEKSI Plasmodium berghei

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. faktor seperti radiasi, senyawa kimia tertentu, dan virus. Faktor-faktor

BAB V HASIL PENELITIAN. Study preliminary / uji pendahuluan dan proses penelitian ini telah

BAB I PENDAHULUAN. Obat tradisional telah dikenal dan banyak digunakan secara turun. temurun oleh masyarakat. Penggunaan obat tradisional dalam upaya

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian yang berjudul Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Jati Belanda

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian true experimental dengan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Pengaruh Variasi Dosis Tepung Ikan Gabus Terhadap Pertumbuhan

PEMANFAATAN JENIS POHON. (Avicennia spp.) SEBAGAI BAHAN

I. PENDAHULUAN. merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di negara negara

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. yang meliputi persentase hepatosit normal, pembengkakan hepatosit, hidropik,

HASIL. Kadar Air Daun Anggrek Merpati

BAB I PENDAHULUAN. supaya tidak terserang oleh penyakit (Baratawidjaja, 2000). keganasan terutama yang melibatkan sistem limfatik (Widianto, 1987).

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sampel dari penelitian ini adalah daun murbei (Morus australis Poir) yang

UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK ETANOL BUAH MAKASAR (Brucea javanica (L)Merr.) TERHADAP Plasmodium berghei SECARA IN-VIVO PADA MENCIT

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

DAFTAR ISI. repository.unisba.ac.id

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sampel atau bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun

HASIL. (%) Kulit Petai 6.36 n-heksana 0,33 ± 0,06 Etil Asetat 0,32 ± 0,03 Etanol 70% 12,13 ± 0,06

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penggunaan obat tradisional sudah dikenal sejak zaman dahulu, akan tetapi pengetahuan masyarakat akan khasiat

I. PENDAHULUAN. Bentuk jeruk purut bulat dengan tonjolan-tonjolan, permukaan kulitnya kasar

PENGARUH IRRADIASI GAMMA PADA Plasmodium Berghei TERHADAP DAYA TAHAN MENCIT Darlina dan Devita T PTKMR-BATAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN. Hasil pemeriksaan ciri makroskopik rambut jagung adalah seperti yang terdapat pada Gambar 4.1.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

dari tanaman mimba (Prijono et al. 2001). Mordue et al. (1998) melaporkan bahwa azadiraktin bekerja sebagai ecdysone blocker yang menghambat serangga

BAB I PENDAHULUAN. berbagai masalah kesehatan. Hal ini cukup menguntungkan karena bahan

LAMPIRAN Lampiran 1. Hasil identifikasi tumbuhan

BAB 4 HASIL PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Penyakit ikan merupakan salah satu masalah serius yang dihadapi oleh

BAB I PENDAHULUAN. tahun 2009 mencapai 1,85% per 1000 penduduk. Penyebab malaria yang tertinggi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Transkripsi:

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 1 Hasil Identifikasi Tanaman Identifikasi/determinasi dari bagian-bagian batang, daun, buah yang dilakukan oleh Bidang Botani, Puslit Biologi LIPI menyatakan tanaman ini memiliki nama ilmiah Coscinium fenestratum (Colebr). Tanaman ini masuk dalam suku Menispermaceae yang merupakan golongan tanaman sebagai sumber isoquinoline alkaloid (Shamma 1972) dengan ciri tumbuh merambat dan membentuk kelompok-kelompok pada beberapa pohon rambatan atau tumbuhan lainnya, sehingga sulit untuk dibedakan antara individu satu dengan lainnya. Batang tumbuhan ini licin dengan warna abuabu dan diameter terbesar yang ditemukan adalah kurang lebih 4,6 cm. Kulit bagian dalam berwarna kuning. Memiliki daun yang peltate berwarna abu-abu di bagian bawah dan tidak berbulu. Anakan kayu kuning juga tumbuh mengelompok (Noorhidayah et al. 2008). 4. 2 Hasil Ekstraksi Hasil maserasi akar tanaman C. fenestratum seberat 1 kg setelah dikeringkan diperoleh sebagai rendemen, yaitu perbandingan berat ekstrak yang diperoleh dengan berat simplisia awal. Rendemen ekstrak air sebesar 10,90%, dengan berat ekstrak sebanyak 109 gram, sedangkan ekstrak etanol memiliki rendemen 9,8% dengan berat ekstrak 98 gram. Tabel 1 Hasil ekstraksi akar tanaman kayu kuning Ekstrak Berat sampel kering Berat ekstrak total Etanol 1000 gr 98 gr Air 1000 gr 109 gr

24 4. 3 Hasil Analisis Fitokima Ekstrak akar tanaman C. fenestratum selanjutnya dianalisis fitokimia untuk mengetahui kandungannya. Hasil yang ditunjukkan pada Tabel 2 yaitu adanya kandungan alkaloid yang tinggi dari kedua jenis ekstrak. Tabel 2 Hasil analisis fitokimia ekstrak akar C. fenestratum JENIS UJI Hasil ekstrak etanol Hasil ekstrak air 1. Alkaloid ++++ ++++ 2. Flavonoid ++++ ++ 3. Phenol hidroquinon ++++ ++ 4. Steroid - - 5. Triterpenoid ++ +++ 6. Tanin - - 7. Saponin + - Senyawa lain yang terkandung dalam akar C. fenestratum adalah dari golongan flavonoid, dengan jumlah lebih tinggi pada ekstrak etanol, phenol hidroquinon juga dideteksi lebih banyak di ekstrak etanol, triterpenoid lebih kuat pada ekstrak air, dan saponin terdeteksi hanya di ekstrak etanol. Menurut Rojsanga et al. (2010), berberine merupakan senyawa isokuinolin alkaloid banyak terkandung pada tanaman C. fenestratum. Senyawa ini memiliki aktifitas biokimia dan farmakologi yang cukup luas, termasuk antidiare dan antitumor. Sebagai antimalaria dengan gejala spesifik antara lain adalah diare maka sangat dimungkinkan senyawa ini yang bekerja.

25 4. 4 Hasil Uji Aktivitas Antimalaria Pemberian ekstrak C. fenestratum pada kelompok E1 (ekstrak etanol dosis 0,625 mg/25 gr BB mencit) dan E2 (ekstrak etanol dosis 1,25 mg/25 gr BB mencit) yang ditunjukkan pada Tabel 3 tidak memberikan pengaruh yang berarti pada pertumbuhan Plasmodium. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh dosis pemberian yang rendah sehingga tidak cukup kuat untuk membunuh Plasmodium yang ada. Pada kelompok E3 (ekstrak etanol dosis 3,75 mg/25 gr BB mencit) setelah pemberian perlakuan terjadi penurunan jumlah parasit pada hari ke tujuh. Hal ini dibuktikan dengan uji ANOVA yang menunjukan adanya pengaruh perlakuan terhadap pertumbuhan Plasmodium, dan pada pengujian lanjut didapatkan hasil bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok E3 dengan kelompok E1. Tabel 3 Rerata persentase parasitemia mencit berdasarkan pemberian bahan uji ekstrak C. fenestratum dan lamanya pengamatan. Pengamatan Persentase parasitemia mencit pada kelompok Hari ke E1 E2 E3 A1 A2 A3 K+ K- 0 a 7.768 a 7.486 6.789 ab 6.478 10.86 8.194 c 7.53 7.79 1 a 15.88 a 14.43 13.9 ab 8.732 7.355 13.49 c 12.7 17.8 2 a 21.47 a 10.92 12.83 ab 16.64 12.36 12.61 c 9.46 11.4 3 a 22.58 a 10.37 16.7 ab 16.64 14.83 12.31 c 8.26 10 4 a 22.68 a 21.65 16.76 ab 23.18 17.09 13.67 c 5.25 13.7 7 a 16.38 a 9.928 5.281 ab 23.83-9.77 c 9.41 15 Keterangan : E1: ekstrak etanol dosis 0.625 mg/ 25 grbb mencit; E2 : ekstrak etanol dosis 1.25 mg/ 25 grbb mencit; E3 : ekstrak etanol dosis 3.75 mg/ 25 grbb mencit. A1 : ekstrak air dosis 0.625 mg/ 25 grbb mencit; A2 : ekstrak air dosis 1.25 mg/ 25 grbb mencit dan A3 : ekstrak air dosis 3.75 mg/ 25 grbb mencit. K+ adalah kontrol dengan pemberian klorokuin dan K- adalah kontrol negatif hanya diberikan larutan PGA 3%. a a a a a a Sementara itu, untuk kelompok A1 (ekstrak air dosis 0,625 mg/25 gr BB mencit) tidak terjadi penurunan parasitemia setelah pemberian ekstrak melainkan

26 jumlahnya tetap/stabil pada hari kedua dan ketiga menjadi 16.64%, lalu pada hari keempat sampai hari ketujuh naik kembali jumlahnya menjadi 23.18%. Pemberian ekstrak dapat menghambat Plasmodium untuk berkembang lebih banyak. Ketika pemberian ekstrak dihentikan, jumlah parasitnya kembali meningkat. Pada kelompok A2 tidak terjadi penurunan parasitemia bahkan jumlahnya semakin meningkat dari hari kedua sampai hari ketujuh, hal ini kemungkinan disebabkan karena dosis ekstrak yang diberikan kurang sehingga tidak mampu membunuh parasit. Di kelompok A3 terlihat penurunan jumlah parasitemia pada mencit. Penurunan terlihat mulai hari kedua lalu stabil jumlah parasitemianya dan kembali naik pada hari keempat setelah pemberian ekstrak dihentikan. Setelah naik pada hari keempat lalu berangsur turun pada hari ketujuh. Gambar 4 Morfologi P. berghei stadium tropozoit di dalam eritrosit mencit. Gambar 5 Morfologi P. berghei stadium skizon di dalam eritrosit mencit (terlihat adanya beberapa eritrosit mengalami multiinfeksi dari P. berghei)

27 Uji statistik lanjut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara pemberian perlakuan A3 dengan dosis A1. Pada kelompok kontrol positif dengan pemberian Klorokuin terlihat ada penurunan parasitemia mulai hari kedua setelah pemberian obat, kemudian berturut-turut menurun sampai hari keempat lalu kembali meningkat pada hari ketujuh. Walaupun klorokuin telah dilaporkan gagal dalam pengobatan malaria falciparum, ternyata dalam penelitian ini masih memiliki efek penurunan parasitemia pada mencit yang terinfeksi P. berghei. Menurut Taylor (2000), Klorokuin akan mengikat feriprotoporfirin IX yaitu suatu cincin hematin yang merupakan hasil metabolisme hemoglobin di dalam parasit. Ikatan antara feriprotoporfirin IX-Klorokuin ini memiliki sifat melisiskan membran parasit sehingga parasit mati. Tabel 4 Rerata pesentase penghambatan parasitemia pada hari ke-7 setelah pemberian ekstrak Dosis ekstrak (mg/25 grbb mencit) Rerata persentase penghambatan Ekstrak Etanol (%) Ekstrak Air (%) Klorokuin (%) 0.625-16.69-27.34-25.72 1.25-32.64 0.28 3.75 29.43 34.67 Lebih lanjut diungkapkan oleh Slater (2002) bahwa mekanisme kerja dari klorokuin adalah mengganggu penyerapan makanan di dalam vakuola makanan dari tropozoit intraeritrositik, dengan toksisitas yang selektif terhadap lisosom tropozoit tersebut. Dalam bentuk alkaline, obat terdapat di dalam vakuola makanan parasit dengan konsentrasi tinggi dan meningkatkan ph. Hal ini menyebabkan penggumpalan pigmen dengan cepat. Klorokuin menghambat kerja enzim parasit heme polymerase yang mengubah toksik heme menjadi non-toksik hemazoin, yang menghasilkan akumulasi toksik heme di dalam tubuh parasit. Hal inilah yang mungkin mengganggu biosintesis asam nukleat. Mekanisme lain diduga

28 terbentuknya ikatan kompleks (Tjitra 2000) antara klorokuin dengan feriprotoporfirin IX di dalam vakuola makanan, ikatan kompleks ini meracuni vakuola sehingga menghambat penyerapan (intake) makanan (Fitch 1986). Penghambatan terbesar diperoleh berturut-turut dari ekstrak air dosis 3,75 mg/ 25 grbb mencit yaitu sebesar 34,67 %, ekstrak etanol dosis 3,75 mg/ 25 grbb mencit sebesar 29,43 % dan ekstrak air dosis 1,25 mg/ 25 grbb mencit sebesar 0,28%. Dosis lainnya tidak menunjukkan penghambatan pertumbuhan P. berghei melainkan efeknya justru meningkatkan. Hal yang sama juga ditunjukkan pada kelompok kontrol positif dengan pemberian Klorokuin, dengan menunjukan tidak adanya daya hambat pada hari ke-7. Jika dilihat pada grafik rerata persentase pertumbuhan Plasmodium dengan perlakuan ekstrak etanol (Gambar 6), maka terlihat kontrol positif mengalami penurunan pada hari ke-4 tetapi pada hari ke-5 sampai hari ke-7 setelah pemberian ekstrak terjadi peningkatan melebihi hari ke-0. Gambar 6 Grafik rerata persentase pertumbuhan P. berghei dengan perlakuan ekstrak etanol. Pola yang hampir sama ditunjukkan pada pemberian ekstrak etanol dosis ketiga (3,75 mg/25 grbb mencit/hari), yaitu pada hari ke-3 terjadi penurunan parasitemia namun setelah itu kembali menunjukan kenaikan. Pada pemberian ekstrak etanol dosis kedua (1,25 mg/25 grbb mencit/hari) menunjukkan penurunan yang lebih berarti dibandingkan dosis 1 dan dosis 3 serta kontrol. Hal ini juga

29 dibuktikan oleh perhitungan penghambatan pertumbuhan Plasmodium. Analisis statistika menggunakan DMRT juga menunjukkan pada taraf α sebesar 0.05 dosis kedua memiliki respon penurunan angka parasitemia yang terbaik dibandingkan dosis lain dan kontrol. Jika dilihat dari grafik rerata persentase pertumbuhan Plasmodium dengan perlakuan ekstrak air (Gambar 7), maka terlihat kontrol positif mengalami penurunan pada hari ke-4 tetapi pada hari ke-5 sampai hari ke-7 setelah pemberian ekstrak terjadi peningkatan melebihi hari ke-0. Pada perlakuan dengan ekstrak air tidak ada dosis yang memiliki pola yang sama dengan Klorokuin. Ekstrak air dosis ketiga (3,75 mg/ 25 gr BB mencit/hari) menunjukkan penurunan yang lebih berarti dibandingkan dosis 1 dan 2 serta kontrol. Hal ini juga dibuktikan oleh perhitungan penghambatan pertumbuhan Plasmodium. Analisis statistika menggunakan DMRT juga menunjukkan pada taraf α sebesar 0.05 dosis ketiga memiliki respon penurunan parasitemia yang terbaik dibandingkan dosis lain dan kontrol. Gambar 7 Grafik rerata persentase pertumbuhan P. berghei dengan perlakuan ekstrak air. Rerata persentase pertumbuhan Plasmodium yang tertera pada Tabel 5 menunjukkan banyak mencit yang mati pada rentang mulai hari ke-7 sampai hari ke- 14 setelah pemberian ekstrak. Hal ini dikarenakan pada hari-hari tersebut jumlah

30 Plasmodium dalam darah sudah tinggi (malaria berat) sehingga perlakuan yang diberikan tidak efektif dalam membunuh Plasmodium. Sebelum mati, mencit telah menunjukkan tanda-tanda sakit berat, kurus, gerakan berkurang, posisi diam di pojok kandang dengan telinga dan ekor pucat. Seperti dilaporkan Jekti et al. (1996) bahwa mencit yang mengalami malaria berat akan terlihat lesu, lemah, kurus, pucat/anemis pada bagian daun telinga, ekor dan selaput lendir mata, mulut dan anus tampak pucat kadang kekuningan, hal ini disebabkan bayaknya eritrosit yang diserang dan kemudian pecah/hilang pada saat pecahnya skizon, atau eritrosit yang terserang membentuk trombus yang mengakibatkan timbulnya nekrosis jaringan, anoksi serta anemi. Gejala lainnya adalah bulu berdiri, menggigil dengan posisi tubuh kiposis dan turgor buruk. Pada Tabel 6 terlihat kematian juga terjadi pada rentang antara hari ke-7 sampai hari ke-14 setelah pemberian ekstrak. Pada dosis A2 dan A3 masih ada mencit yang sembuh pada hari ke-4 dan hari ke-3 setelah pemberian ekstrak. Setelah diamati di bawah mikroskop pada 1000 eritrosit tidak ditemukan Plasmodium dan mencitnya dapat bertahan hidup sampai penelitian berakhir yaitu hari ke 28 setelah pemberian ekstrak. Respon individu terlihat baik pada mencit yang mampu pulih setelah pemberian perlakuan, hal ini dapat disebabkan ekstrak air C. fenestratum dosis 1,25 mg/ 25 gr mencit dan 3,75 mg/ 25 gr mencit bekerja optimal pada kondisi tertentu individu. Pada kelompok kontrol dengan pemberian Klorokuin terlihat kematian mencit terjadi mulai hari ke-3. Dan pada hari ke-11 semua mencit sudah mati. Kelompok kontrol negatif yang hanya diberi larutan PGA 3% juga menunjukkan pada hari ke-11 setelah pemberian ekstrak semua mencit kelompok tersebut telah mati. Keamanan obat merupakan hal yang utama. Indeks terapeutik (TI) berguna untuk memperkirakan batas keamanan sebuah obat dengan menggunakan rasio yang mengukur dosis terapeutik efektif pada 50% hewan (ED 50 ) dan dosis letal (mematikan) pada 50% hewan (LD 50 ). Apabila semakin dekat rasio suatu obat kepada angka 1, maka semakin besar bahaya toksisitasnya. Dosis efektif ekstrak pada kelompok E3 dan A3 jika dibandingkan dengan LD dari berberine yang pernah diteliti oleh Singh et al. (1990) yaitu 1200 mg/ kgbb ternyata masih relatif lebih kecil. Angkanya hanya mencapai 1:4 dari LD 50. Hal ini 50

31 menunjukkan masih terbuka kesempatan pemanfaatan tanaman ini sebagai obat, tetapi di lain pihak ED 50 yang digunakan sebagai pembanding juga seharusnya ED 50 dari berberine murni, sedangkan pada penelitian ini belum dilakukan pemurnian berberine. Hal yang berbeda terlihat pada kelompok perlakuan ekstrak etanol dan air C. fenestratum, umur hidup mencit relatif lebih lama bahkan ada yang pulih dari malaria dan bisa bertahan sampai hari ke-28 setelah pemberian ekstrak. Jekti et al. (1996) mengatakan bahwa kematian mencit lebih dipengaruhi oleh tingkatan pasase atau proses transfer parasit dari mencit ke mencit. Semakin tinggi tingkat pasasenya maka tingkat virulensi parasit tersebut semakin ganas. Pada penelitian ini digunakan pasase pertama, kematian terjadi pada hari ke-5 sampai hari ke-7 setelah pemberian ekstrak. Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Jekti et al. (1996) yaitu banyak kematian terjadi pada hari ke-5 dan ke-6 setelah pemberian ekstrak.

32 Tabel 5 Rerata persentase pertumbuhan Plasmodium dalam tubuh mencit dengan perlakuan ekstrak etanol akar C. fenestratum selama pengamatan hari ke-0 sampai hari ke-28 setelah pemberian ekstrak. Perlakuan Mencit ke Pengamatan hari ke setelah pemberian ekstrak 0 1 2 3 4 7 14 21 28 E1 1 6.637 10.83 2 15.56 27.5 18.54 34.62 44.21 26.86 3 11.45 24.16 46.51 26.72 14.23 26.47 4 3.983 12.74 12.51 9.826 10.83 5 1.214 4.171 8.319 19.15 21.43 12.18 E2 1 5.816 13.7 7.525 8.156 19.07 2 2.671 3.654 1.84 1.66 10.87 3 4.771 10.8 22.14 6.894 29.42 4 13.71 31.85 14.7 19.58 23.03 25.02 5 10.46 12.14 8.393 15.56 25.89 24.62 E3 1 5.619 11.51 7.274 8.038 11.04 2 8.915 14.83 18.48 32.6 18.37 18.67 3 7.64 12.84 15.05 17.11 22.37 4 9.107 23.71 13.23 21.57 27.42 5 2.662 6.592 10.1 4.184 4.573 7.738 0.093 Keterangan : E1: ekstrak etanol dosis 0.625 mg/25 grbb mencit; E2 : ekstrak etanol dosis 1.25 mg/25 grbb mencit; E3 : ekstrak etanol dosis 3.75 mg/25 grbb mencit; A1 : ekstrak air dosis 0.625 mg/25 grbb mencit; A2 : ekstrak air dosis 1.25 mg/25 grbb mencit dan A3 : ekstrak air dosis 3.75 mg/25 grbb mencit. K+ adalah control dengan pemberian klorokuin dan K- adalah control negative hanya diberikan larutan PGA 3%. Warna blok abu-abu menunjukkan kematian mencit pada hari ke-x.

33 Tabel 6 Rerata persentase pertumbuhan Plasmodium dalam tubuh mencit dengan perlakuan ekstrak air C. fenestratum selama pengamatan hari ke-0 sampai hari ke-28 setelah pemberian ekstrak. Perlakuan Mencit ke Pengamatan hari ke setelah pemberian ekstrak 0 1 2 3 4 7 14 21 28 A1 1 3.853 9.333 9.388 9.388 10.76 10.11 2 8.907 14.6 17.92 17.92 27.32 29.74 3 8.055 5.291 24.63 24.63 44.25 38.59 4 5.904 7.383 11.83 11.83 11.76 15.98 5 5.669 7.052 19.45 19.45 21.82 24.73 A2 1 9.992 7.498 14.42 24.29 21.69 2 3.297 5.602 4.491 0.188 0 0 0 0 0 3 13.79 10.55 19.6 21.91 25.54 4 25.62 9.47 16.83 22.55 35.4 5 1.581 3.66 6.469 5.194 2.8 A3 1 2.976 9.335 12.01 12.83 10.43 16.56 2 2.601 4.698 2.985 0 0 0 0 0 0 3 10.07 13.33 9.65 17.52 12.38 18.5 4 20.23 34.23 35.53 25.67 34.55 5 5.094 5.872 2.88 5.539 11 13.84 Keterangan : E1: ekstrak etanol dosis 0.625 mg/25 grbb mencit; E2 : ekstrak etanol dosis 1.25 mg/25 grbb mencit; E3 : ekstrak etanol dosis 3.75 mg/25 grbb mencit; A1 : ekstrak air dosis 0.625 mg/25 grbb mencit; A2 : ekstrak air dosis 1.25 mg/25 grbb mencit dan A3 : ekstrak air dosis 3.75 mg/25 grbb mencit. K+ adalah control dengan pemberian klorokuin dan K- adalah control negative hanya diberikan larutan PGA 3%. Warna blok abu-abu menunjukkan kematian mencit pada hari ke-x. 33

34 34 Tabel 7 Rerata persentase pertumbuhan Plasmodium dalam tubuh mencit dengan dalam kelompok kontrol positif dan kontrol negatif pengamatan hari ke-0 sampai hari ke-28 setelah pemberian ekstrak Perlakuan Mencit ke Pengamatan hari ke- setelah pemberian ekstrak 0 1 2 3 4 7 14 21 28 K+ 1 10.5 13.7 6.62 7.2 7.2 38.5 2 3.86 8.56 8.72 9.2 9.2 3 8.36 14.5 9.61 7.8 4 10.3 15.1 15.3 13.3 7.79 5 4.69 11.7 7.09 3.81 2.07 8.53 K- 1 6.05 9.69 9.35 13 11 17.5 2 7.69 26.9 3 5.38 15.7 17 10.6 25.2 26 4 8.8 15.5 10.1 6.57 8.37 12.1 5 11 21.1 20.6 19.9 23.9 19.3 Keterangan : E1: ekstrak etanol dosis 0.625 mg/25 grbb mencit; E2 : ekstrak etanol dosis 1.25 mg/25 grbb mencit; E3 : ekstrak etanol dosis 3.75 mg/25 grbb mencit; A1 : ekstrak air dosis 0.625 mg/25 grbb mencit; A2 : ekstrak air dosis 1.25 mg/25 grbb mencit dan A3 : ekstrak air dosis 3.75 mg/25 grbb mencit. K+ adalah control dengan pemberian klorokuin dan K- adalah control negative hanya diberikan larutan PGA 3%. Warna blok abu-abu menunjukkan kematian mencit pada hari ke-x.

35 Berikut ini adalah grafik rerata lama waktu hidup mencit yang diberi perlakuan ekstrak (Gambar 7). Gambar 7 Lama hidup mencit yang diberi perlakuan ekstrak dan kontrol tanpa perlakuan. Keterangan : E1: ekstrak etanol dosis 0.625 mg/ 25 grbb mencit; E2 : ekstrak etanol dosis 1.25 mg/ 25 grbb mencit; E3 : ekstrak etanol dosis 3.75 mg/ 25 grbb mencit. A1 : ekstrak air dosis 0.625 mg/ 25 grbb mencit; A2 : ekstrak air dosis 1.25 mg/ 25 grbb mencit dan A3 : ekstrak air dosis 3.75 mg/ 25 grbb mencit. K+ adalah kontrol dengan pemberian klorokuin dan K- adalah kontrol negatif hanya diberikan larutan PGA 3%. Dari Gambar 7 tersebut terlihat bahwa masa hidup mencit terinfeksi P. berghei yang terlama adalah mencit dengan perlakuan A3. Lama hidup mencit dengan perlakuan A3 yaitu 12 hari, lalu berturut-turut perlakuan A1 selama 10 hari, perlakuan E3 selama 10 hari, perlakuan A2 dan E2 selama 8 hari, perlakuan E1 selama 7,8 hari. Mencit dalam kelompok kontrol positif dengan pemberian kloroquin masa hidupnya hanya 7 hari, sedangkan mencit tanpa perlakuan hanya dapat bertahan hidup selama 6 hari. Jika dilihat pada Tabel 5, 6 dan 7 kematian yang terjadi pada selang hari ke-4 dan ke-7 dapat disebabkan oleh adanya peningkatan jumlah parasit yang menginfeksi. Selain itu infeksi pada satu sel eritrosit dapat dilakukan oleh lebih dari satu parasit, sehingga memperparah kerusakan sel eritrosit tersebut.

36 Tabel 8 Jumlah mencit yang hidup pada pengamatan hari ke-0 sampai hari ke-28 setelah pemberian ekstrak Perlakuan Mencit yang masih hidup pada hari ke- 0 1 2 3 4 7 14 21 28 E1 5 5 4 4 4 3 0 0 0 E2 5 5 5 5 5 3 0 0 0 E3 5 5 5 5 5 3 1 0 0 A1 5 5 5 5 5 5 0 0 0 A2 5 5 5 5 5 3 1 1 1 A3 5 5 5 5 5 5 1 1 1 K+ 5 5 5 5 4 2 0 0 0 K- 5 5 4 4 4 0 0 0 0 Keterangan : E1: ekstrak etanol dosis 0.625 mg/ 25 grbb mencit; E2 : ekstrak etanol dosis 1.25 mg/ 25 grbb mencit; E3 : ekstrak etanol dosis 3.75 mg/ 25 grbb mencit. A1 : ekstrak air dosis 0.625 mg/ 25 grbb mencit; A2 : ekstrak air dosis 1.25 mg/ 25 grbb mencit dan A3 : ekstrak air dosis 3.75 mg/ 25 grbb mencit. K+ adalah kontrol dengan pemberian klorokuin dan K- adalah kontrol negatif hanya diberikan larutan PGA 3%. Pada Tabel 8 berikut terlihat kematian mencit pada kontrol negatif dimulai pada hari kedua lalu berturut-turut semua mencit mati pada hari ketujuh. Pada kontrol positif dengan pemberian kloroquin, kematian baru terjadi mulai hari keempat lalu semakin bertambah pada hari berikutnya sehingga pada hari ke-14 semua mencit mengalami kematian. Hal yang sama terjadi pada mencit dengan perlakuan ekstrak E1, kematian dimulai pada hari kedua tetapi pada hari ketujuh mencit masih dapat bertahan dan baru pada hari ke-14 semua mencit telah mati. Mencit-mencit yang diberikan perlakuan ekstrak dengan dosis E2, E3, A1, A2 dan A3, menunjukkan hasil yang berbeda, semua mencit masih mampu bertahan sampai hari ke-4, bahkan pada dosis A1 dan A3 sampai hari ketujuh belum ditemukan adanya kematian. Kematian pada dosis-dosis tersebut terjadi pada rentang antara hari ke-7 sampai hari ke-14 setelah pemberian ekstrak. Perbedaan sangat terlihat antara perlakuan dan kontrol positif maupun negatif karena pada kontrol kematian sudah terjadi pada rentang antara hari ke-4 sampai hari ke-7 setelah pemberian ekstrak. Peristiwa ini tentu saja berhubungan dengan jumlah parasit yang masih ada di

37 dalam tubuh mencit. Adanya penurunan jumlah parasit dalam darah dengan pemberian ekstrak dapat memperpanjang umur hidup mencit. Hal ini seperti ditulis Hutomo et al. (2005) bahwa tanaman obat di Indonesia dapat digunakan sebagai antimalaria yang memiliki sifat antiplasmodia dan juga bersifat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit malaria. Lebih lanjut ia menambahkan adanya pemberian tanaman obat dapat memperpanjang umur mencit yang terserang malaria dengan mencegah kerusakan pada hati dan limpa. Pada kelompok pemberian ekstrak A2 dan A3, sampai hari ke-28 setelah pemberian ekstrak masih ditemukan mencit yang hidup, masing-masing 1 ekor. Jika dirujuk pada Tabel 4, maka terlihat bahwa pemberian ekstrak A2 dapat menurunkan parasitemia sampai terjadi kesembuhan (parasit clearance) pada hari ke-4 setelah pemberian ekstrak, sedangkan pada pemberian ekstrak dosis A3 kesembuhan telah terjadi pada hari ke-3 setelah pemberian ekstrak.