2016 BIOSORPSI LOGAM KROMIUM HEKSAVALEN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

2016 BIOREMEDIASI LOGAM KROMIUM (VI) PADA LIMBAH MODEL PENYAMAKAN KULIT MENGGUNAKAN BAKTERI PSEUDOMONAS AERUGINOSA

BAB I PENDAHULUAN. semakin banyaknya industri-industri yang berkembang, baik dalam skala besar

BAB I PENDAHULUAN. manusia seperti industri kertas, tekstil, penyamakan kulit dan industri lainnya.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan sektor industri menyebabkan peningkatan berbagai kasus

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan adalah kromium (Cr). Krom adalah kontaminan yang banyak ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. Keberadaan logam berat di sistem perairan dan distribusinya, diatur oleh

I. PENDAHULUAN. akumulatif dalam sistem biologis (Quek dkk., 1998). Menurut Sutrisno dkk. (1996), konsentrasi Cu 2,5 3,0 ppm dalam badan

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Bidang industri di Indonesia pada saat ini berkembang cukup pesat. Hal ini

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. kegiatan industri adalah limbah bahan berbahaya dan beracun. Penanganan dan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perindustrian di Indonesia semakin berkembang. Seiring dengan perkembangan industri yang telah memberikan

et al., 2005). Menurut Wan Ngah et al (2005), sambung silang menggunakan glutaraldehida, epiklorohidrin, etilen glikol diglisidil eter, atau agen

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini menunjukkan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Perbandingan nilai ekonomi kandungan logam pada PCB (Yu dkk., 2009)

I. PENDAHULUAN. masalah yang sangat krusial bagi negara maju dan sedang berkembang. Terjadinya

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. seiring dengan meningkatnya konsumsi di masyarakat. Semakin pesatnya

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Logam berat merupakan salah satu bahan pencemar perairan.

barang tentu akan semakin beraneka ragam pula hasil buangan sampingnya. Dari

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kemajuan teknologi dan berkembangnya dunia industri, ikut andil

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan

LIMBAH CAIR PENYAMAKAN KULIT DENGAN TANAMAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PERNYATAAN HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN KATA PENGANTAR DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR LAMPIRAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Industri yang menghasilkan limbah logam berat banyak dijumpai saat ini.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Kabupaten Garut merupakan salah satu kabupaten di Jawa Barat yang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. Aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan seringkali. berupa dampak positif maupun negatif. Salah satu aktivitas manusia yang

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. mandi, mencuci, dan sebagainya. Di sisi lain, air mudah sekali terkontaminasi oleh

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. industri tapioka, yaitu : BOD : 150 mg/l; COD : 300 mg/l; TSS : 100 mg/l; CN - :

BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Laboratorium merupakan salah satu penghasil air limbah dengan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PEMBUATAN KHITOSAN DARI KULIT UDANG UNTUK MENGADSORBSI LOGAM KROM (Cr 6+ ) DAN TEMBAGA (Cu)

BAB I PENDAHULUAN. Kitin dan kitosan merupakan biopolimer yang secara komersial potensial

BAB I PENDAHULUAN. oleh karena itu kebutuhan air tidak pernah berhenti (Subarnas, 2007). Data

ADLN- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB 1 PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. dalam bidang perindustrian. Penggunaan logam krombiasanya terdapat pada industri

I.1.1 Latar Belakang Pencemaran lingkungan merupakan salah satu faktor rusaknya lingkungan yang akan berdampak pada makhluk hidup di sekitarnya.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II. Potensi Biomassa Spirulina platensis sebagai Biosorben. Logam Kromium (Cr )

BAB 1 PENDAHULUAN. supaya dapat dimanfaatkan oleh semua makhluk hidup. Namun akhir-akhir ini. (Ferri) dan ion Fe 2+ (Ferro) dengan jumlah yang tinggi,

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan zat kehidupan tidak satupun makhluk hidup di kehidupan ini

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. maupun gas dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Lingkungan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. kesehatan lingkungan. Hampir semua limbah binatu rumahan dibuang melalui. kesehatan manusia dan lingkungannya (Ahsan, 2005).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Bahan pencemar yang berasal dari industri juga dapat meresap ke dalam

Anindita Meitamasari Dosen Pembimbing : Ipung Fitri Purwanti ST., MT. Ph.D.

Warna Bau ph Kuning bening Merah kecoklatan Coklat kehitaman Coklat bening

2015 FITOREMEDIASI LOGAM KROM PADA LIMBAH CAIR PENYAMAKAN KULIT DENGAN SISTEM SIRKULASI

Bab V Hasil dan Pembahasan

Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian Secara Keseluruhan

I. PENDAHULUAN. menyebabkan terjadinya penurunan kualitas air. Salah satu faktor terpenting

Bab IV Hasil dan Pembahasan

2. TINJAUAN PUSTAKA. berflagel. Selnya berbentuk bola berukuran kecil dengan diameter 4-6 µm.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Indonesia memiliki lahan tambang yang cukup luas di beberapa wilayahnya.

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pencemaran lingkungan banyak menjadi perhatian dan topik

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kromium (Cr) merupakan salah satu kontaminan yang sering ditemukan dalam limbah industri (He dan Paul, 2014). Kromium banyak digunakan pada industri penyamakan kulit, metal finishing, petroleum refineries, industri besi dan baja, tekstil (Villegas et al., 2008), industri plating, dan electroplating (Owlad et al., 2009). Di alam, kromium terdapat dalam keadaan bilangan oksidasi yang beragam mulai dari Cr(II) sampai Cr(VI) (Joutey et al., 2010). Cr(VI) diketahui seribu kali lebih toksik jika dibandingkan dengan Cr(III) (Villegas et al., 2008). Oleh karena itu, limbah yang mengandung logam Cr(VI) perlu diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke perairan bebas sehingga tidak mencemari lingkungan dan tidak mengganggu kesehatan makhluk hidup. Kromium heksavalen bersifat racun, karsinogenik dan mutagenik serta bila jumlahnya terus meningkat atau terakumulasi maka dapat mengubah morfologi tubuh juga merusak sistem tubuh (Das, 2009). Selain itu, penimbunan limbah kromium yang berlangsung terus-menerus akan menyebabkan dampak lingkungan yang serius yakni menimbulkan bau, rasa yang tidak sedap dan mengganggu ekosistem dalam air. Berbagai metode yang telah dikembangkan dalam menangani permasalahan pencemaran logam berat, termasuk logam kromium, diantaranya adsorpsi, membran ultrafiltrasi, reverse osmosis, membran bioreaktor, teknik electrolytic recovery, dan pertukaran ion (Maksin et al., 2012; Zhou et al., 2013). Akan tetapi, beberapa metode tersebut memerlukan biaya yang mahal, tidak ramah lingkungan, dan tidak efektif untuk mengolah logam berat dengan rentang konsentrasi 1-100 mg/l dalam air limbah (Han et al., 2007). Oleh karena itu, diperlukan metode alternatif lain yang murah namun tetap efektif dalam mengurangi kandungan logam berat dalam limbah. 1

2 Pada beberapa tahun terakhir, biosorpsi menjadi metode alternatif yang murah namun efektif dan efisien untuk menghilangkan kontaminan logam berat dalam limbah (Xie et al, 2014). Biosorpsi hampir serupa dengan metode adsorpsi. Akan tetapi, agen penyerap dalam biosorpsi merupakan biomaterial atau biopolimer (He dan Paul, 2014). Berbagai jenis biosorben yang telah dipelajari dapat menghilangkan logam Cr(VI) meliputi bakteri, yeasts, fungi, alga, produk samping industri, dan agricultural biowastes (Joutey et al., 2010 ; Xie et al, 2014). Berdasarkan data statistik dari penelitian-penelitian sebelumnya, biomassa alga merupakan biosorben yang 84,6% lebih banyak digunakan daripada biomassa fungi dan bakteri (Kanchana et al., 2014; Sweetly, 2014). Kemampuan biosorpsi ini berhubungan dengan jenis dan jumlah gugus fungsi dari biomassa yang berperan dominan dalam menghilangkan berbagai kontaminan logam berat seperti karboksil, hidroksil, sulfat, posfat, dan amina. Sebagai teknik yang lebih murah dan efisien, metode biosorpsi sudah banyak diteliti dengan melibatkan berbagai biosorben. Diantara beberapa biosorben, alga merupakan yang paling banyak digunakan karena kelimpahannya di air laut dan air tawar, murah namun efektif, dapat digunakan ulang, dan memiliki kapasitas penyerapan logam yang tinggi (He dan Paul, 2014). Alga dibagi menjadi dua jenis yaitu makroalga dan mikroalga. Berbagai jenis makroalga telah diteliti kemampuan biosorpsinya terhadap logam berat krom (Murphy et al., 2008). Selain itu, biosorpsi logam berat lain seperti timbal, tembaga, zink, dan nikel oleh makroalga juga telah selesai dilakukan (Sheng et al., 2004). Biosorpsi Pb(II) dan Cu(II) oleh makroalga Spirogyra and Cladophora memberikan hasil bahwa kedua jenis makroalga sangat potensial digunakan sebagai biosorben yang dapat dikembangkan lebih lanjut (Lee dan Shui, 2011). Persentase penyerapan makroalga Ulva lactuca terhadap logam Cr(VI) ditemukan mencapai 96% (Asnaoui et al., 2014). Selain itu, persentase maksimum penyerapan logam Cr(VI) oleh biomassa makroalga Azolla filiculoides juga ditemukan

3 mencapai 83,34% dan proses biosorpsinya berlangsung secara kemisorpsi (Babu et al., 2014). Sementara itu, analisis kelimpahan dan keragaman mikroalga dalam limbah industri yang menghasilkan logam Cr telah dilakukan dan memberikan hasil adanya genus Synechococcus, Chroococcus, Mycrocystis, Chlorella, serta Spirulina (Fadilah dan Herto, 2012). Hal ini mengindikasikan bahwa genus-genus yang ditemukan resisten terhadap keberadaan logam krom dan berpotensi dijadikan sebagai biosorben logam Cr. Hasil penelitian ini belum sepenuhnya dapat diaplikasikan di industri mengingat efektifitas biosorpsinya yang belum diuji. Untuk mengetahui efektifitas mikroalga dalam menyerap logam maka perlu dilakukan studi biosorpsi. Genus Synechococcus, dan Chlorella telah diteliti terkait kemampuan biosorpsinya (Li et al., 2008 ; Han et al., 2007). Sementara itu, genus Spirulina yang telah diteliti adalah spesies Spirulina platensis (Chojnacka et al., 2005). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan Spirulina platensis diketahui berpotensi sebagai agen biosorben logam Cr(VI) dengan kapasitas biosorpsi maksimum sebesar 73,6% (Gokhale et al., 2008). Selama ini, penelitian Spirulina mengenai biosorpsi logam berat sebagian besar menggunakan spesies Spirulina platensis, yaitu jenis Spirulina yang hidup di air laut. Dalam penelitian ini, digunakan biomassa Spirulina fusiformis, yaitu jenis Spirulina yang hidup di perairan tawar sebagai biosorben logam Cr(VI) mengingat asal usul taksonominya yang berada satu genus dengan Spirulina platensis sehingga diduga memiliki potensi sebagai agen biosorpsi. Selain itu, belum pernah dilakukan penelitian terkait pengujian kemampuan biosorpsi Cr(VI) oleh biomassa Spirulina fusiformis. Potensi biosorpsi dari biomassa Spirulina fusiformis diuji melalui penentuan studi biosorpsi yang meliputi penentuan parameter biosorpsi dan penentuan isoterm adsorpsi. Dengan dilakukannya studi biosorpsi biomassa Spirulina fusiformis terhadap logam Cr(VI) maka dapat diketahui kapasitas optimum logam Cr(VI) yang dapat dibiosorpsi oleh sejumlah biomassanya. Selain itu, akan

4 dapat diketahui pula kondisi optimum dari parameter biosorpsi agar dapat menyerap logam Cr(VI) secara maksimal. Dari pengujian yang akan dilakukan tersebut diharapkan akan dapat diketahui efektifitas biosorpsi logam Cr(VI) oleh biomassa Spirulina fusiformis sehingga dapat diaplikasikan penggunaannya pada berbagai industri yang menghasilkan limbah Cr(VI). 1.2 Rumusan Masalah Penelitian Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Bagaimana pengaruh ph, waktu kontak, dan suhu terhadap biosorpsi ion logam Cr(VI) menggunakan biomassa Spirulina fusiformis? 2. Bagaimana persamaan isoterm adsorpsi yang sesuai untuk biosorpsi Cr(VI) oleh biomassa Spirulina fusiformis? 3. Gugus fungsi apakah yang berperan dalam pengikatan Cr(VI) oleh biomassa Spirulina fusiformis? 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Mengetahui pengaruh ph, waktu kontak, dan suhu terhadap biosorpsi ion logam Cr(VI) menggunakan biomassa Spirulina fusiformis. 2. Mengetahui persamaan isotermis adsorpsi yang sesuai untuk proses biosorpsi Cr(VI) oleh biomassa Spirulina fusiformis. 3. Mengetahui gugus fungsi yang berperan dalam pengikatan Cr(VI) oleh biomassa Spirulina fusiformis. 1.4 Manfaat Penelitian Melalui penelitian ini diharapkan diperoleh biosorben potensial berbasis biomassa Spirulina fusiformis yang dapat dimanfaatkan pada proses pengolahan air limbah yang tercemar logam berat Cr(VI).

5 1.5 Sistematika Penulisan Bab I merupakan pendahuluan yang terdiri dari latar belakang penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan. Latar belakang penelitian berisi tentang alasan pentingnya dilakukan penelitian. Rumusan masalah berisi tentang masalah-masalah yang ingin dicari solusinya melalui penelitian. Sementara itu, tujuan penelitian mencakup hal-hal yang ingin dicapai setelah penelitian dilakukan serta manfaat penelitian yang mencakup manfaat penelitian secara keseluruhan. Sistematika penulisan berisi tentang sistematika penulisan skripsi secara keseluruhan. Bab II membahas tentang kajian pustaka yang berisi teori-teori dasar terkait penelitian yang akan dilakukan serta hasil penelusuran pustaka mengenai penelitian-penelitian terdahulu yang pernah dilakukan. Bab III membahas tentang metode penelitian yang diawali dengan waktu dan lokasi penelitian, alat dan bahan yang digunakan, dan tahapan penelitian yang berupa diagram alir serta penjelasan rinci terkait tahap-tahap penelitian. Bab IV membahas tentang hasil penelitian dan pembahasan mengenai hasil yang diperoleh. Sementara itu, bab V membahas tentang kesimpulan yang berisi jawaban dari seluruh rumusan masalah serta saran yang berisi hal-hal terkait perbaikan yang harus dilakukan untuk penelitian selanjutnya.