PENERAPAN METODE COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENEMUKAN GAGASAN UTAMA SEBUAH TEKS PADA SISWA KELAS VII DI SMP NEGERI 3 BATU TAHUN AJARAN 2008/2009 Sandy Farboy SMPN Sumbawa Abstrak Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan di kelas VII SMP Negeri 3 Batu dengan subjek penelitian siswa kelas VII SMP Negeri 3 Batu sebanyak 31 siswa. Data penelitian ini berupa aktivitas siswa saat proses pembelajaran membaca intensif serta hasil nilai peningkatan kemampuan membaca intensif siswa. Data tersebut diperoleh dengan teknik wawancara, pengamatan, diskusi, tes dan dokumentasi. Penelitian ini menempatkan guru sebagai pengamat saat tindakan dan peneliti sebagai pelaksana tindakan (pengajar). Data yang terkumpul dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah mereduksi, menyajikan kemudian menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan persentase ketuntasan belajar membaca intensif siswa pada siklus 1 66%, dan siklus 2 sebesar 96.77%. Siswa juga lebih antusias dan aktif saat pelaksanaan metode CIRC. Dengan demikian, pembelajaran membaca intensif dengan menggunakan metode CIRC dapat meningkatkan kemampuan membaca intensif siswa pada pembelajaran menemukan gagasan utama pada sebuah teks siswa kelas VII SMP Negeri 3 Batu tahun pelajaran 2008/2009. Kata kunci: Cooperatif, Kemapuan menemukan gagasan 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keterampilan berbahasa yang terdapat dalam kurikulum Bahasa dan Sastra Indonesia ada empat komponen. Keterampilan itu adalah keterampilan menyimak (listening skills), berbicara (speaking skills), membaca (reading skills), dan menulis (writing skills). Keempat keterampilan berbahasa tersebut itu erat sekali berhubungan dengan tiga keterampilan lainnya dengan cara yang beraneka ragam. Dalam memperoleh keterampilan berbahasa, biasanya kita melalui suatu hubungan urutan yang teratur: mula-mula pada masa kecil kita belajar Jurnal Artikulasi Vol.7 No.1 Februari 415
menyimak bahasa, kemudian berbicara, sesudah itu kita belajar membaca, dan menulis. Menyimak dan berbicara kita pelajari sebelum memasuki sekolah. Keempat keterampilan tersebut pada dasarnya merupakan suatu kesatuan, merupakan catur tunggal. Tarigan (1985: 1) Selanjutnya setiap keterampilan itu erat pula berhubungan dengan proses-proses berpikir yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan banyak latihan. Melatih keterampilan berbahasa berarti pula melatih keterampilan berpikir (Tarigan, 1987: 1). Sehubungan dengan keterampilan membaca, Iskandarwassid dan Dadang Sunendar (2008: 245) mengatakan keterampilan membaca pada umumnya diperoleh dengan cara mempelajarinya di sekolah. Keterampilan berbahasa ini merupakan suatu keterampilan yang sangat unik serta berperan penting bagi pengembangan pengetahuan, dan sebagai alat komunikasi bagi kehidupan manusia. Dikatakan unik karena tidak semua manusia, walaupun telah memiliki keterampilan membaca, mampu mengembangkannya menjadi alat untuk memberdayakan dirinya atau bahkan menjadikannya budaya bagi dirinya sendiri. Dikatakan penting bagi pengembangan pengetahuan karena presentase transfer ilmu pengetahuan terbanyak dilakukan melalui membaca. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa masyarakat Negara maju ditandai oleh telah berkembangnya budaya baca. Negara-negara yang masyarakatnya sangat maju dan kuat, misalnya, Negara Amerika, Jepang, Australia, Prancis, dan sebagainya, dalam diri masyarakatnya sudah tertanam kebiasaan membaca yang tinggi. Berdasarkan kurikulum 2006, salah satu tujuan umum pembelajaran Bahasa Indonesia terkait dengan pembelajaran membaca adalah menggunakan berbagai jenis membaca untuk memahami berbagai bentuk wacana tulis, dan berbagai karya sastra berbentuk puisi, cerita pendek, drama, novel remaja, antologi puisi, novel dari berbagai angkatan (Depdiknas, 2006: 22). Membaca merupakan kegiatan untuk mendapatkan makna dari apa yang tertulis dalam teks. Untuk keperluan tersebut, selain perlu menguasai bahasa yang dipergunakan, seorang pembaca perlu juga menguasai bahasa yang dipergunakan, seorang pembaca perlu juga mengaktifkan berbagai proses mental dalam sistem kognisinya. Iskandarwassid dan Dadang Sunendar (2008: 245). Pengertian membaca sebagai suatu istilah sangat beraneka ragam. Di dalam konteks belajar-mengajar, membaca dipandang sebagai proses menuju pemahaman sebagi produk yang dapat diukur (Hafni, 1981). Di sepanjang proses itu terjadi peraihan informasi yang dikandung oleh lambang grafis yang mewakili kata-kata bahasa Indonesia. Pembaca sebagai pemakai bahasa berinteraksi dengan masukan grafis, mengarahkan segenap pengetahuan, kompetensi bahasa, dan khasanah pengalaman konseptualnya untuk memproses tiga jenis informasi: a. informasi grafonik. b. informasi sintaksis. c. informasi semantis. Kesemuannya dapat menjadi Jurnal Artikulasi Vol.7 No.1 Februari 416
tujuan membaca (Muksin Ahmadi, 1990: 22). Mengenai kesukaran siswa, Muksin Ahmadi (1990: 23) mengatakan kesukaran siswa dalam memahami isi bacaan berakar pada kebiasaan yang salah, yang menurut Hafni berdasarkan pandangan Michael Swana (1979), meliputi: a. terlalu banyak memperhatikan butir demi butir informasi, tetapi gagal memberi makna teks. b. terlalu cepat membaca untuk memahami maksud umum teks, tetapi gagal memahami butirbutir tertentu sehingga mungkin memperoleh arti yang salah dari sebagian isi teks. c. terlalu imajinatif sehingga menafsir isi teks menjadi sangat subjektif. d. adanya keruwetan sintaksis terutama pada kalimat teks yang panjang-panjang. e. adanya gaya penulisan yang berulang-ulang penggunaan ungkapan-ungkapan atau kata-kata yang berlebihan. f. adanya penggunaan kosakata yang terlalu asing bagi pembaca. Selanjutnya, Oka (1983: 74) menerangkan dalam pengajaran keterampilan membaca secara umum ada dua kemampuan yang harus dikuasai siswa, yaitu: kemampuan mekanis dan kemampuan komprehensif. Namun dalam kenyataannya, tidak semua siswa mampu menguasai kedua kemampuan tersebut. Begitupun yang terjadi pada siswa di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs). Siswa di jenjang ini secara umum lebih banyak mengalami kesulitan dalam memahami bacaan secara komprehensif. Padahal aspek keterampilan membaca pada jenjang SMP dan SMA menuntut tingkat pemahaman yang lebih tinggi. Adapun masalah membaca secara komprehensif yang dihadapi siswa secara umum adalah rendahnya kemampuan memahami bacaan. Hal tersebut dikarenakan kesulitan-kesulitan siswa dalam: menguasai kosakata, menafsirkan buah pikiran, menangkap ide pokok, menangkap perincian isi bacaan, menangkap urutan peristiwa, menangkap maksud pengarang, menilai dan mengomentari bacaan secara kritis, mengikuti yang digariskan dalam bacaan, mengingat masalah pokok bacaan, dan mengatur pemahaman. Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti beserta guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMP Negeri 3 Batu bekerja sama atau berkolaborasi mencoba untuk melaksanakan metode Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) pada pengajaran menemukan gagasan utama dalam teks yang dibaca di kelas VII dengan judul Penerapan Metode Cooperative Integrated Reading And Composition (CIRC) Untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa Menemukan Gagasan Utama Pada Sebuah Teks Siswa Kelas VII di SMP Negeri 3 Batu Tahun Ajaran 2008/2009. 1.2 JANGKAUAN MASALAH Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka masalah pada penelitian ini adalah kesulitan siswa kelas VII SMP Negeri 3 Batu dalam menemukan gagasan utama dalam teks yang dibaca. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah tersebut peneliti bersama guru mencoba bersamasama untuk memperbaiki Proses Belajar Mengajar (PBM) dengan menerapkan metode Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) pada kegiatan pembelajaran, khususnya pada materi Jurnal Artikulasi Vol.7 No.1 Februari 417
menemukan gagasan utama dalam teks yang dibaca. 1.3 RUMUSAN MASALAH Berdasarkan pada jangkauan masalah di atas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Bagaimanakah penerapan metode Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) untuk meningkatkan kemampuan menemukan gagasan utama pada sebuah teks siswa kelas VII di SMP Negeri 3 Batu Tahun Ajaran 2008/2009? b. Bagaimanakah peningkatan kemampuan menemukan gagasan utama pada sebuah teks siswa kelas VII SMP Negeri 3 Batu tahun pelajaran 2008/2009 dengan menggunakan metode Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)? 1.4 TUJUAN PENELITIAN Penelitian ini secara umum bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menemukan gagasan utama pada sebuah teks siswa kelas VII SMP Negeri 3 Batu tahun pelajaran 2008/2009 dengan menggunakan metode Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC). Adapun Secara khusus penelitian ini bertujuan: a. Mendeskripsikan penerapan metode Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) untuk meningkatkan kemampuan menemukan gagasan utama pada sebuah teks siswa kelas VII SMP Negeri 3 Batu tahun pelajaran 2008/2009. b. Mengetahui peningkatan kemampuan menemukan gagasan utama pada sebuah teks siswa kelas VII SMP Negeri 3 Batu tahun pelajaran 2008/2009 dengan menggunakan metode Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC). 1.5 MANFAAT PENELITIAN Manfaat penelitian ini antara lain adalah sebagai berikut: a. Meningkatkan kemampuan menemukan gagasan utama pada sebuah teks siswa kelas VII SMP Negeri 3 Batu. c. Memberikan alternatif penyelesaian masalah menemukan gagasan utama pada sebuah teks kepada guru melalui metode Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC). 1.6 PENEGASAN ISTILAH Penegasan istilah dalam penelitian ini bertujuan untuk mempermudah pemahaman istilah-istilah yang digunakan. Adapun istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Langkah-langkah pada metode Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) yaitu a : Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen. b. Guru memberi wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran. c. siswa bekerjasama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas. d. mempresentasikan/membacakan hasil kelompok. e. guru membuat kesimpulan bersama. f. penutup (Agus Suprijono, 2008: 130-131). Jurnal Artikulasi Vol.7 No.1 Februari 418
b. Pengertian membaca sebagai suatu istilah sangat beraneka ragam. Di dalam konteks belajar-mengajar, membaca dipandang sebagai proses menuju pemahaman sebagai produk yang dapat diukur (Hafni, 1981). Di sepanjang proses itu terjadi peraihan informasi yang dikandung oleh lambang grafis yang mewakili kata-kata bahasa Indonesia. Pembaca sebagai pemakai bahasa berinteraksi dengan masukan grafis, mengarahkan segenap pengetahuan, kompetensi bahasa, dan khasanah pengalaman konseptualnya untuk memproses tiga jenis informasi: a. informasi grafonik. b. informasi sintaksis. c. informasi semantis. Kesemuannya dapat menjadi tujuan membaca (Muksin Ahmadi, 1990: 22). 2. KAJIAN TEORI 2.1 TEORI MEMBACA Menurut Ahmad S. Harjasujana (1986: 02) membaca adalah kegiatan merespon lambang-lambang cetakan atau tulisan dengan menggunakan pengertian yang tepat. Oka (1983: 17) memberikan pengertian membaca sebagai proses pengolahan bacaan secara kritis-kreatif yang dilakukan dengan tujuan memperoleh pemahaman yang bersifat menyeluruh tentang bacaan dan penilaian terhadap keadaan, nilai, fungsi, dan dampak bacaan itu. Selain itu, pengertian membaca juga diberikan Hafni, 1981 dalam Mukhsin Ahmadi (1990: 22) yaitu membaca sebagai suatu istilah sangat beraneka ragam. Di dalam konteks belajar mengajar, membaca dipandang sebagai proses menuju pemahaman sebagai produk yang dapat di ukur. Tujuan utama dalam membaca dituturkan oleh Tarigan (1987: 09) yaitu untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan yang erat sekali berhubungan dengan maksud tujuan atau intensif kita dalam membaca. Oleh sebab itu, Tarigan dan H. G Tarigan (1987: 135) mengatakan membaca adalah kunci ke gudang ilmu. Ilmu yang tersimpan dalam teks harus digali dan dicari melalui kegiatan membaca. Selain itu, M. E. Fowler (1985) dalam Mukhsin Ahmadi (1990: 24) juga mengatakan bahwa tujuan membaca dibagi menjadi 3 bagian yaitu: 1. Suatu program pengajaran membaca yang bertujuan untuk (a). menambah kecepatan dan memperbaiki pemahaman, (b). mengajar siswa bagaimana mengadaptasi pendekatan membaca dengan berbagai variasi bahan bacaan, (c). memperbaiki pembacaan bagi semua keterampilan berbahasa. 2. Suatu latihan membaca untuk dapat mengapresiasi dan memperoleh kesenangan estetis dari prosa atau puisi (karya sastra). 3. Program individual yang ditujukan untuk mendorong siswa agar membaca sebanyak-banyaknya dan memungkinkan siswa itu untuk dapat mengembangkan diri menjadi pembaca yang teliti sepanjang hayatnya. 2.2 MEMBACA INTENSIF Membaca intensif menurut Tarigan (1987: 35-36) adalah studi seksama, telaah teliti, dan pengamanan terperinci yang dilaksanakan di dalam kelas terhadap suatu tugas yang pendek kira-kira dua sampai empat halaman setiap hari. Bagian dari teknik membaca intensif meliputi kuesioner, latihan pola-pola kalimat, latihan kosa kata, telaah kata-kata, dikte dan diskusi umum. Bukan keterampilan-keterampilan yang terlihat yang paling diutamakan dalam Jurnal Artikulasi Vol.7 No.1 Februari 419
membaca intensif, melainkan hasil atau pemahaman yang mendalam serta terperinci atas teks yang dibaca. Membaca intensif mempunyai tujuan utama yaitu untuk memperoleh sukses dalam pemahaman penuh terhadap argumenargumen yang logis, urutan-urutan retoris atau pola-pola teks, pola-pola simbolisnya, nada-nada yang bersifat emosional dan sosial, pola-pola sikap dan tujuan pengarang, dan juga sarana-sarana linguistik yang dipergunakan untuk mencapai tujuan. Pemahaman ini berhubungan erat dengan kecepatan membaca. Kecepatan membaca akan menurun kalau kedalaman atau keterperincian pemahaman semakin bertambah dan semakin meningkat (Tarigan, 1987:35-36). 2.3 STRATEGI PEMBELAJARAN MEMBACA Trianto (2007: 144) menjelaskan, secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Berkaitan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan siswa dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan. Adapun tujuan utama pengajaran startegi belajar adalah mengajarkan siswa untuk belajar atas kemauan sendiri. Dengan kata lain, tujuan pengajaran strategi belajar adalah untuk membentuk siswa sebagai pembelajar mandiri. Kemp (1995) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien (Wina Sanjaya, 2008: 126). Strategi pembelajaran adalah strategi yang meliputi kegiatan atau pemakaian teknik yang dilakukan oleh pengajar mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan sampai ke tahap evaluasi, serta program tindak lanjut yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu pengajaran. Strategi pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia yaitu pola keterampilan pembelajaran yang dipilih pengajar untuk melaksanakan program pembelajaran dalam rangka untuk mencapai tujuan keterampilan berbahasa Indonesia yang terdiri atas keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis (Iskandarwassid dan Dadang Sunendar, 2008: 09). 2.4 STRATEGI BELAJAR COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC) DAN RUANG LINGKUPNYA Pendekatan pembelajaran kooperatif menekankan tujuan-tujuan kelompok dan tanggung jawab individual. Sebagai tambahan, pengembangan CIRC dihasilkan dari sebuah analisis masalah-masalah tradisional dalam pengajaran pelajaran membaca, menulis, seni berbahasa (Slavin, 2008: 200). Hiebert, 1983 dalam (Slavin, 2008: 201) menjelaskan Sebuah fitur yang bersifat hampir selalu universal dari pengajaran membaca adalah penggunaan kelompok membaca yang terdiri atas para siswa dengan tingkat kinerja yang sama. Dasar pemikiran utama untuk pelajaran membaca adalah bahwa para siswa perlu memiliki Jurnal Artikulasi Vol.7 No.1 Februari 420
materi-materi yang sesuai dengan tingkat kemampuan mereka. Selanjutnya Slavin menjelaskan satu fokus utama dari kegiatan CIRC sebagai cerita dasar adalah membuat penggunaan waktu tindak lanjut menjadi lebih efektif: Para siswa yang bekerja yang bekerja di dalam tim-tim kooperatif dari kegiatan-kegiatan ini, yang dikoordinasikan dengan pengajaran kelompok membaca, supaya dapat memenuhi tujuan-tujuan dalam bidangbidang lain seperti pemahaman membaca, kosa kata, pembacaan pesan, dan ejaan. Para siswa termotivasi untuk saling bekerja satu sama lain dalam kegiatan-kegiatan ini atau rekognisi lainnya yang didasarkan pada pembelajaran seluruh anggota tim. Tujuan utama dari para pengembang program CIRC terhadap pelajaran menulis dan seni berbahasa adalah untuk merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi pendekatan proses menulis pada pelajaran menulis dan seni berbahasa yang akan banyak memanfaatkan kehadiran teman satu kelas. Respon dari kelompok teman adalah unsur khas dari model-model proses penulisan, tetapi keterlibatan teman jarang sekali menjadikan kegiatan sentralnya. Akan tetapi, dalam program CIRC, para siswa merencanakan, merevisi, dan menyunting karangan mereka dengan kolaborasi yang erat dengan teman satu tim mereka. Pengajaran mekanika bahasa benar-benar terintegrasi sekaligus menjadi bagian dari pelajaran menulis, dan pelajaran menulis sendiri terintegrasi dengan pengajaran pelajaran memahami bacaan baik dengan keterpaduan kegiatan-kegiatan proses menulis dalam program membaca maupun dengan penggunaan kemampuan memahami bacaan yang baru dipelajari dalam pengajaran pelajaran menulis. CIRC terdiri dari tiga unsur penting: kegiatan-kegiatan dasar terkait, pengajaran langsung pelajaran memahami bacaan, dan seni berbahasa dan menulis terpadu. Dalam semua kegiatan ini, para siswa bekerja dalam tim-tim yang heterogen. Semua kegiatan mengikuti siklus regular yang melibatkan presentasi dari guru, latihan tim, tes serta mempunyai materi dan petunjuk manualnya. Langkah-langkah pada metode Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) menurut Agus Suprijono, 2008: 130-131 yaitu: 1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen. 2. Guru memberi wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran. 3. Siswa bekerjasama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas. 4. Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok. 5. Guru membuat kesimpulan bersama. 6. Penutup 2.5 MENGUKUR KEMAMPUAN DAN PEMAHAMAN MEMBACA Salah satu kegiatan yang ikut menentukan keberhasilan proses belajar mengajar (PBM) ialah penilaian, baik yang menyangkut penilaian program, kegiatan maupun hasil proses belajar mengajar. Lingkup kegiatan ini amat luas karena itu pada penilitian ini perhatian dipusatkan pada penilaian terhadap kemajuan siswa dalam PBM. Jurnal Artikulasi Vol.7 No.1 Februari 421
Iskandarwassid dan Dadang Sunendar (2008: 247) mengatakan pengajaran membaca harus memperhatikan kebiasaan cara berpikir teratur yang baik. Hal ini disebabkan membaca sebagai proses yang sangat kompleks, dengan melibatkan semua proses mental yang lebih tinggi, seperti ingatan, pemikiran, daya khayal, pengaturan, penerapan, dan pemecahan masalah. Oleh karena itu, kemampuan membaca merupakan salah satu dari keempat keterampilan berbahasa yang diajarkan dan karenanya juga berkonsekuensi untuk diteskan kepada siswa. Selanjutnya, Iskandarwassid dan Dadang Sunendar menjelaskan ada banyak cara yang distandarkan untuk mengukur kemampuan membaca. Sejumlah teknik pengukuran kemampuan membaca yang sering dipergunakan antara lain adalah dengan mempergunakan bentuk betul-salah, melengkapi kalimat, pilihan ganda, pembuatan ringkasan atau rangkuman, test, test -C, dan lain-lain. Teknik yang paling umum dipakai adalah format bentuk tes pilihan ganda. Namun demikian, format tersebut sering dikritik karena jawaban benar dapat diperoleh lewat lebih dari satu cara, misalnya dengan cara menebak. Di samping itu, juga diragukan kemampuan membaca siswa memahami sungguh-sungguh wacana yang diteskan karena tanpa adanya penilaian dalam pemilihan jawaban yang benar. Dengan demikian, proses pemilihan jawaban yang benar belum tentu mencerminkan proses yang terlibat sebagaimana dalam konteks membaca yang sebenarnya. Untuk mengatasi kritik tersebut, usaha pengukuran kemampuan membaca dapat ditempuh dengan mempergunakan lebih dari satu teknik. Pada penelitian ini, teknik atau bentuk tes yang digunakan adalah tes soal uraian. Hal ini di dasarkan pada aspek penilaian yang terdiri dari beberapa tingkatan dalam pemahaman membaca dan pertimbangan peneliti beserta guru bahwa tes soal uraian diharapkan atau akan lebih memungkinkan siswa untuk kreatif dalam berpikir dan menalar. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 PENGANTAR Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari dua pertemuan dengan waktu 5x40 menit. Pelaksanaan siklus 1 pertemuan pertama pada hari Sabtu 6 Februari 2008 dan pertemuan kedua dilaksanakan hari Selasa 16 Februari 2008. Siklus 2 pertemuan pertama hari Selasa 23 Februari 2008 dan pertemuan kedua hari Sabtu 27 Februari 2008. 4.2 HASIL PENELITIAN 4.2.1 PENERAPAN METODE COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA MENEMUKAN GAGASAN Utama Pada Sebuah Teks Siswa KELAS VII DI SMP NEGERI 3 BATU SIKLUS 1 4.2.1.1 Perencanaan Pembelajaran Kegiatan perencanaan pembelajaran siklus 1 yang dilakukan peneliti bersama guru antara lain yaitu: Jurnal Artikulasi Vol.7 No.1 Februari 422
a. Menyusun silabus b. Menyusun RPP c. Menyusun LKS 4.2.1.2 PELAKSANAAN TINDAKAN PEMBELAJARAN a. PERTEMUAN PERTAMA Pelaksanaan pembelajaran pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Sabtu 6 Februari selama 3x40 menit, dimulai pada pukul 07.00-09.00 WIB. Pada pertemuan pertama, satu siswa tidak masuk. Adapun uraian pelaksanaan pembelajaran menemukan gagasan utama dengan metode CIRC siklus 1 pertemuan pertama sebagai berikut: 1) Apersepsi 2) Membentuk kelompok heterogen 3) Memberikan wacana sesuai dengan topik pembelajaran. 4) Siswa bekerjasama menemukan ide pokok 5) Mempresentasikan hasil kelompok 6) Membuat kesimpulan 7) Penghargaan. b. PERTEMUAN KEDUA Pelaksanaan pembelajaran siklus 1 pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Selasa 16 Februari 2008 selama 2x40 menit, dimulai pada pukul 07.00-08.20 WIB. Seperti pertemuan pertama, satu siswa juga tidak mengikuti proses pembelajaran. Uraian pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1) Apersepsi 2) Membentuk kelompok heterogen 3) Memberikan wacana sesuai dengan topik pembelajaran. 4) Siswa bekerjasama menemukan ide pokok 5) Mempresentasikan hasil kelompok 6) Membuat kesimpulan 7) Penghargaan. 4.2.1.3 Evaluasi Evaluasi pembelajaran pada siklus 1, baik pada pertemuan pertama dan kedua dilakukan dalam bentuk evaluasi proses maupun evaluasi hasil. Evaluasi proses dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dan evaluasi hasil dilaksanakan setelah pembelajaran berlangsung. 4.2.2 PENINGKATAN KEMAMPUAN MENEMUKAN GAGASAN UTAMA KELAS VII SMP NEGERI 3 BATU DENGAN MENGGUNAKAN METODE CIRC SIKLUS 1. Kemampuan siswa untuk menemukan gagasan utama, gagasan penjelas, kalimat utama, dan mampu menyimpulkan topik atau masalah utama pada teks. Sebelum pelaksanaan metode CIRC sangat kurang. Hal ini dibuktikan dengan hasil nilai siswa sebagai berikut: NO NAMA Nilai Pra Ket Siklus 1 Ket Peningkatan (%) 1. Abdul Hamid Mahmud 66 75 T 13,6 2. Achmad Alfan Zainullah 66 4,54 3. Adi Mashudi 75 T 75 T 0 4. Adriananta Yuswa 67 74 T 10,4 5. Anggita Yunitian 65 79 T 21,5 Jurnal Artikulasi Vol.7 No.1 Februari 423
6. Anggraini Diah Kuswan 68 68 0 7. Aini kusuma 73 T 73 T 0 8. Bayu Setiawan 75 T 8, 9. Bella Mariska 60 60 0 10. Canda Macica 68 73 T 7,35 11. Eka Oktaviana 71 T 71 T 0 12. Eka Retno Asih 70 T 1,44 13. Eko Bagus Pramudya 68 74 T 8,82 14. Erika Nur Aini 76 T 81 T 6,57 15. Irfan Andi Prasetya 0 16. Istiqomah 66 66 0 17. Khilmiatun Nisa 75 T 75 T 0 18. Klarine Nur Agtiansyah 65 65 0 19. Mochamad Affandi 75 T 8, 20. Mohammad Nur Sholeh 70 T 76 T 8,57 21. Moh. Muklas Wicaksono 0 22. Mohammad Ryan Isroni 68 68 0 23. Nur Latifatuz Zahro 74 T 7,24 24. Nur Mufidah. 75 T 8, 25. Nurinda Rachmadanti 66 73 T 10,6 26. Nurul Kholifah 66 75 T 13,6 27. Rubiyatul Adawiyah 67 72 T 7,46 28. Ryan Harris Abdullah 68 68 0 29. Ryan Harris Abdillah 71 T 2,89 30. Saka Aryo Abdillah 67 67 0 31. Yanaita Febitri 0 JUMLAH 2122 2177 124,61 Rata-rata 68,4 70,22 4,02 Keterangan: Peningkatan : Nilai post test-nilai pre test x 100%= Nilai pre test Post test : nilai setelah tindakan Pre test : nilai pra tindakan Ketuntasan: Pra Tindakan : 6 siswa (19% dari jumlah siswa) Siklus 1 : 20 siswa (66% dari jumlah siswa) Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa rata-rata siswa mengalami peningkatkan 4,04% setelah pelaksanaan metode CIRC dalam pengajaran menemukan gagasan utama pada sebuah teks. Namun demikian, pada siklus 1 juga terdapat 14 siswa yang tidak mengalami peningkatan dari sebelum Grafik 4.1 tindakan. Hal ini disebabkan karena siswa kurang memperhatikan pada saat pembelajaran berlangsung. Aktivitas Siswa Saat PBM Siklus 1 Jurnal Artikulasi Vol.7 No.1 Februari 424
70 60 50 40 30 20 10 0 PARTISIPASIMEMBACAMENCATATEVALUASI 4.2.3 Refleksi Berdasarkan tindakann yang dilakukan pada siklus 1, baik pada pertemuan satu maupun dua, maka diadakan refleksi pada proses maupun hasil oleh peneliti, guru dan beberapaa siswa. Adapun berdasarkan hasil evaluasi, maka telah diperoleh ketuntasan belajar sebesar 64,51%. Walaupun hasil ini sudah melebihi dari indikator pencapaian, namun pencapaian siklus 1 belum maksimal karena belum mencapai ketuntasan belajar yaitu sebesar 70%. Berdasarkan hasil evaluasi hasil, kesulitan siswa yang paling banyak adalah pada proses menemukan gagasan utama, kalimat utama, dan topik sedangkan untuk gagasan penjelas sudah mulai dipahami oleh siswa. Berdasarkan hasil catatan lapangan, pengamatan maupun hasil pembelajaran, terdapat masalah-masalah yang menghambat pembelajaran. Masalah pertama, yaitu pada penggunaan waktu yang belum efektif dan efesien. Untuk mengatasi itu, maka pada siklus 2, RPP dipersiapkan dengan sebaik- langkah- baiknya serta alokasi waktu padaa langkah pembelajaran diatur lebih rinci lagi. Masalah kedua, siswa masih kurang maksimal dalam menemukan gagasan utama, gagasan penjelas, kalimat utama, dan topik. Walaupun sebagian besar siswa setujuu dan senang dengan belajar berkelompok karena tidak membosankan. Namun demikian, hasil yang dicapai kurang 1 2 3 4 maksimal karena saat pembelajaran berlangsung, siswa sering dipanggil oleh pihak sekolah dan hal itu membuat pembelajaran tidak maksimal. Oleh karena itu, untuk memecahkan masalah tersebut, padaa siklus 2 sebelum kegiatan pembelajaran dimulai guru atau penelitii meminta izin terlebih dahuluu agar saat kegiatan pembelajaran dimulai siswa tidak disibukkan duluu dengan aktivitas atau kegiatan lainnyaa karena hal tersebut akan mengganggu proses pembelajaran. Masalah ketiga, karena siswa kurang maksimal khususnya dalam menemukann gagasan utama, dengan alasan paragraf dalam LKS atau Tes terlalu banyak sehingga guruu (peneliti) dengan guru pamong mengurangi jumlah parangraf, dari 10 paragraf tiap LKS dan Tes menjadi 8 paragraf. 4.2.44 PENERAPAN PENERAPAN METODE COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA MENEMUKAN GAGASAN UTAMA PADAA SEBUAH TEKS SISWA KELAS VII DI SMP NEGERI 3 BATU SIKLUS 2 4.2.4.1 Perencanaan Pembelajaran Seperti pada siklus 1, perencanaan pembelajaran siklus 2 juga dilakukan oleh peneliti bersamaa guru mata pelajaran. Adapun kegiatan perencanaan pembelajaran siklus 1 antara lain yaitu: a. Menyusun silabus b. Menyusun RPP Jurnal Artikulasi Vol.7 No.1 Februari 425
c. Menyusun LKS 4.2.4.2 Pelaksanaan Tindakan Pembelajaran a. Pertemuan pertama Pelaksanaan pembelajaran pertemuan pertama siklus 2 dilaksanakan pada hari selasa 23 Februari 2008 selama 2x40 menit dengan 30 siswa dan dimulai pada pukul 07.00-08.20 WIB. Adapun uraian pelaksanaan pembelajaran menemukan gagasan utama pada teks yang dibaca dengan menggunakan metode CIRC siklus 2 pertemuan pertama adalah sebagai berikut: 1) Apersepsi 2) Membentuk kelompok heterogen 3) Memberikan wacana sesuai dengan topik pembelajaran. 4) Siswa bekerjasama menemukan ide pokok 5) Mempresentasikan hasil kelompok 6) Membuat kesimpulan 7) Penghargaan. b. Pertemuan kedua Pelaksanaan pembelajaran siklus 1 pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Sabtu 27 Februari 2010 selama 2x40 menit, dimulai pada pukul 07.00-08.20 WIB. Seperti pertemuan pertama, satu siswa juga tidak mengikuti proses pembelajaran. Uraian pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1) Apersepsi 2) Membentuk kelompok heterogen 3) Memberikan wacana sesuai dengan topik pembelajaran. 4) Siswa bekerjasama menemukan ide pokok 5) Mempresentasikan hasil kelompok 6) Membuat kesimpulan 7) Penghargaan. 4.2.5 Peningkatan Kemampuan Membaca Intensif Kelas VIII MTs Muhammadiyah 1 Malang dengan Menggunakan Strategi PQ4R Siklus 2 Berdasarkan hasil evaluasi baik proses maupun hasil, diperoleh kemampuan menemukan informasi sebagai bahan diskusi melalui membaca intensif siswa kelas VIII MTs Muhammadiyah 1 Malang lebih baik dibandingkan sebelum tindakan dan siklus 1. Hal ini bisa dilihat pada hasil nilai siswa yang mangalami peningkatan sangat baik. Selain itu, hasil pengamatan juga menunjukkan dengan strategi PQ4R siswa lebih antusias dalam pembelajaran. Berikut hasil penilaian pada siklus 2: Tabel 4.2 Peningkatan Kemampuan Menemukan Gagasan Utama Sebelum dengan Sesudah Tindakan Siklus 2 NO NAMA Nilai Pra Ket Siklus 2 Ket Peningkatan (%) 1. Abdul Hamid Mahmud 66 82 T 24,24 2. Achmad Alfan Zainullah 66 81 T 22,72 3. Adi Mashudi 75 T 83 T 10,66 4. Adriananta Yuswa 67 83 T 23,88 5. Anggita Yunitian 65 81 T 24,61 6. Anggraini Diah Kuswan 68 82 T 20,58 7. Aini kusuma 73 T 82 T 13,33 Jurnal Artikulasi Vol.7 No.1 Februari 426
8. Bayu Setiawan 9. Bella Mariska 10. Canda Macica 11. Eka Oktaviana 12. Eka Retno Asih 13. Eko Bagus Pramudya 14. Erika Nur Aini 15. Irfan Andi Prasetya 16. Istiqomah 17. Khilmiatun Nisa 18. Klarine Nur Agtiansyah 19. Mochamad Affandi 20. Mohammad Nur Sholeh 21. Moh. Muklas Wicaksono 22. Mohammad Ryan Isroni 23. Nur Latifatuz Zahro 24. Nur Mufidah. 25. Nurinda Rachmadanti 26. Nurul Kholifah 27. Rubiyatul Adawiyah 28. Ryan Harris Abdullah 29. Ryan Harris Abdillah 30. Saka Aryo Abdillah 31. Yanaita Febitri JUMLAH Rata-rataa 60 68 71 68 76 66 75 65 70 68 66 66 67 68 67 2122 68,4 T T T T 82 82 80 80 81 83 84 80 81 84 86 83 82 82 81 91 82 80 82 81 83 82 82 2537 81,84 T 18,84 T 36,66 T 17,65 T 12,68 T 14,50 1,47 T 92,10 T 21,74 T 21,21 T 0,08 T 29,23 T 24,64 T 18,57 T 18,84 T 20,59 T 17,34 T 31,88 T 24,24 T 21,21 T 22,39 T 19,12 T 20,29 T 22,39 T 18,84 686,,25 21,14 Keterangan: Peningkatan : Nilai post test-nilai pre test Nilai pre test Post test : nilai setelah tindakan Pre test : nilai pra tindakann x 100%= Ketuntasan: Pra Tindakan : 6 siswa (19% dari jumlah siswa) Siklus 2 : 30 siswa (96, 77% dari jumlah siawa) Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan pada proses pembelajaran menemukan gagasan utama dengan menggunakan metode CIRC siklus 2, diperoleh gambaran aktivitas siswa berikut ini: Grafik 4.2 Aktivitas Siswa Saat PBM Siklus 2 70 60 50 40 30 20 10 0 1 2 3 4 PARTISIPASI MEMBACA MENCATAT EVALUASI Jurnal Artikulasi Vol.7 No.1 Februari 427
Tabel 4.3 Perbandingan Peningkatan Kemampuan Menemukan Gagasan Utama Siswa Siklus 1 dan Siklus 2 NO NAMA Peningkatan (%) Siklus 1 Siklus 2 1. Abdul Hamid Mahmud 13,6 24,24 2. Achmad Alfan Zainullah 4,54 22,72 3. Adi Mashudi 0 10,66 4. Adriananta Yuswa 10,4 23,88 5. Anggita Yunitian 21,5 24,61 6. Anggraini Diah Kuswan 0 20,58 7. Aini kusuma 0 13,33 8. Bayu Setiawan 8, 18,84 9. Bella Mariska 0 36,66 10. Canda Macica 7,35 17,65 11. Eka Oktaviana 0 12,68 12. Eka Retno Asih 1,44 14,50 13. Eko Bagus Pramudya 8,82 1,47 14. Erika Nur Aini 6,57 92,10 15. Irfan Andi Prasetya 0 21,74 16. Istiqomah 0 21,21 17. Khilmiatun Nisa 0 0,08 18. Klarine Nur Agtiansyah 0 29,23 19. Mochamad Affandi 8, 24,64 20. Mohammad Nur Sholeh 8,57 18,57 21. Moh. Muklas Wicaksono 0 18,84 22. Mohammad Ryan Isroni 0 20,59 23. Nur Latifatuz Zahro 7,24 17,34 24. Nur Mufidah. 8, 31,88 25. Nurinda Rachmadanti 10,6 24,24 26. Nurul Kholifah 13,6 21,21 27. Rubiyatul Adawiyah 7,46 22,39 28. Ryan Harris Abdullah 0 19,12 29. Ryan Harris Abdillah 2,89 20,29 30. Saka Aryo Abdillah 0 22,39 31. Yanaita Febitri 0 18,84 JUMLAH 124,61 686,25 Rata-rata 4,02 21,14 Keterangan: Peningkatan : Nilai post test-nilai pre test x 100%= Nilai pre test Post test : nilai setelah tindakan Pre test : nilai pra tindakan Ketuntasan: Pra Tindakan : 6 siswa (19% dari jumlah siswa) Siklus 1 : 20 siswa (66% dari jumlah siswa) Siklus 2 : 30 siswa (96,77% dari jumlah siswa) 4.2.6 Refleksi Berdasarkan hasil evaluasi pada proses maupun hasil nilai pembelajaran siklus 2, menunjukkan siswa lebih antusias dan semangat dalam melaksanakan tugas, lebih kritis dalam mengemukakan pendapat. Siswa yang sebelumnya kurang motivasi menjadi lebih semangat saat pelaksanaan metode CIRC di siklus 2. Bahkan siswa yang mengalami penurunan di siklus 1, pada Jurnal Artikulasi Vol.7 No.1 Februari 428
siklus 2 berhasil meningkatkan kemampuan belajarnya dalam menemukan gagasan utama. 4. 3 Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian, metode CIRC berhasil meningkatkan kemampuan menemukan gagasan utama pada teks siswa kelas VII SMP N 3 Batu. Peneliti menggunakan dua hasil peningkatan, yaitu peningkatan kemampuan menemukan gagasan utama dan peningkatan aktivitas siswa. Adapun peningkatan kemampuan menemukan gagasan utama diambil dari dua tagihan, yaitu: tugas dari LKS dan hasil tes, sedangkan peningkatan aktivitas siswa dilihat dari hasil pengamatan saat proses pembelajaran. Pada siklus 1, siswa yang tuntas belajar sebesar 66% dengan kualifikasi C cukup dan masih dalam kategori belum berhasil. Pada siklus 2, siswa yang dinyatakan tuntas belajar 96,77 atau 30 dari 31. Peningkatan ini mencapai kualifikasi A sangat baik dan sudah masuk dalam kategori berhasil. Fokus utama dari kegiatan CIRC pada pembelajaran menemukan gagasan utama adalah membuat penggunaan waktu tindak lanjut menjadi lebih efektif: Para siswa yang bekerja yang bekerja di dalam tim-tim kooperatif dari kegiatan-kegiatan ini, yang dikoordinasikan dengan pengajaran kelompok membaca, supaya dapat memenuhi tujuan-tujuan dalam bidangbidang lain seperti pemahaman membaca, kosa kata, pembacaan pesan, dan ejaan. Para siswa termotivasi untuk saling bekerja satu sama lain dalam kegiatan-kegiatan ini atau rekognisi lainnya yang didasarkan pada pembelajaran seluruh anggota tim. Adapun dari hasil wawancara, baik terhadap guru maupun siswa menunjukkan bahwa pelaksanaan metode CIRC ini lebih memudahkan dalam pembelajaran menemukan gagasan utama. Baik secara berkelompok maupun individu, siswa merasa senang, selain di dukung dengan langkah-langkah yang mudah, siswa juga merasa didukung dengan materi yang menarik. Guru juga menuturkan bahwa metode CIRC sesuai jika digunakan dalam pembelajaran membaca, karena siswa dapat bekerjasama dalam kelompok dan siswa akan lebih cepat memahami karena bisa berdiskusi dalam kelompok masing-masing. Berdasarkan hasil data-data yang telah diuraikan di atas membuktikan kemampuan menemukan gagasan utama pada teks yang dibaca siswa dapat dikatakan berhasil dengan baik. Data yang diperoleh dari evaluasi, observasi maupun wawancara menunjukkan penerapan metode CIRC telah berhasil meningkatkan kemampuan menemukan gagasan utama siswa baik dari segi kemampuan maupun aktivitas siswa saat pembelajaran. Grafik 4.3 Peningkatan Kemampuan Menemukan gagasan utama Sebelum Tindakan, Siklus 1 dan Siklus 2 60 40 20 0 1 2 3 4 Pra Tindak an Jurnal Artikulasi Vol.7 No.1 Februari 429
Keterangan: Asfek/Tingkatan 1.Gagasan Utama 3.Kalimat Utama 2. Gagasan Penjelas 4. Menentukan Topik Bisa dilihat pada grafik di atas, nilai ratarata kemampuan menemukan gagasan utama siswa pada setiap siklus mengalami peningkatan di setiap tingkatannya. Berdasarkan data-data yang telah diuraikan di atas membuktikan kemampuan membaca intensif untuk menemukan gagasan utama dalam teks dapat dikatakan berhasil dengan baik. Data yang diperoleh dari evaluasi, observasi maupun wawancara menunjukkan penerapan metode CIRC telah berhasil meningkatkan kemampuan membaca intensif siswa baik dari segi kemampuan maupun aktivitas siswa saat membaca intensif. 5. PENUTUP 5.1 KESIMPULAN Pembelajaran ini, dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu: tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, pengamatan dan tahap refleksi hasil pembelajaran membaca intensif siswa. Adapun uraian tahapantahapan tersebut adalah sebagai berikut: a. Tahap Perencanaan b. Tahap Pelaksanaan dan Pengamatan c. Tahap Refleksi kepada berbagai pihak yang terkait dengan pemanfaatan hasil penelitian ini, yakni: a. Saran kepada guru bidang studi Hasil penelitian menunjukkan, pembelajaran menemukan gagasan utama pada teks yang dibaca menggunakan metode CIRC dapat meningkatkan kemampuan membaca intensif siswa. Oleh sebab itu, disarankan kepada guru untuk melaksanakan metode CIRC pada pembelajaran membaca berikutnya. Guru juga disarankan, dalam menghadapai masalah atau kesulitan dalam kelas berikutnya, guru menyelesaikan dengan berpedoman pada pengalaman yang telah diperoleh saat melakukan PTK. b. Saran kepada siswa Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman tentang pembelajaran membaca, khusunya pada pembelajaran menemukan gagasan utama. Dengan demikian, kemampuan membaca siswa berdasarkan tingkatannya, baik menemukan gagasan utama, gagasan penjelas, kalimat utama, dan menentkan topik akan lebih efektif dan kreatif. c. Saran kepada peneliti berikutnya Penelitian ini hanya dilaksanakan pada siswa kelas VII SMP Negeri 3 Batu dengan jumlah siswa yang terbatas. Oleh sebab itu, disarankan kepada peneliti berikutnya untuk mengadakan penelitian sejenis dengan subjek yang lain dan materi membaca yang lain. 5.2 Saran-saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dikemukakan beberapa saran Jurnal Artikulasi Vol.7 No.1 Februari 430
DAFTAR PUSTAKA Ahmadi, Mukhsin. 1990. Strategi Belajar Mengajar Keterampilan Berbahasa dan Apresiasi Sastra. Malang: YA3 Malang. Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Iskandarwassid dan Dadang Sunendar. 2008. Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: Rosda. Muslich, Masnur. 2008. KTSP: Pembelajaan Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara. Oka, Gusti Ngurah. 1983. Pengantar Membaca dan Pengajarannya. Surabaya: Usaha Nasional. (http://www.penapendidikan.com/wabah-narkoba-mengintai-pelajar/ (diakses 20 Januari 2010). Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Group. Slavin, Robert E. 2008. Cooperative Learning: Teori, Riset dan Praktik. Bandung: NusaMedia Sugiono. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta. Suprijono, Agus. 2008. Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi. Jogyakarta: Pustaka Belajar. Tarigan, Djago dan H. G Tarigan. 1987. Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa. Tarigan, Henry Guntur. 1987. Membaca: Sebagai suatu keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik: Konsep, Landasan Teoritis-Praktis dan Implementasinya. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher. Trianto, Agus. 2007. Pasti Bisa Pembahasan Tuntas Kompetensi Bahasa Indonesia: Untuk SMP dan MTs Kelas VII. Jakarta: Erlangga. Jurnal Artikulasi Vol.7 No.1 Februari 431