PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN CILACAP

dokumen-dokumen yang mirip
PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAROS NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN, PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN HUTAN MANGROVE

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BULUNGAN,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR 24 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. Wilayah pesisir Indonesia memiliki luas dan potensi ekosistem mangrove

PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN NOMOR 04 TAHUN 2002 TENTANG LARANGAN DAN PENGAWASAN HUTAN MANGROVE DI KOTA TARAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. ekologis yaitu untuk melakukan pemijahan (spawning ground), pengasuhan (nursery

BUPATI JOMBANG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN JOMBANG NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PELESTARIAN TUMBUHAN DAN SATWA

BAB I PENDAHULUAN. pantai sekitar Km, memiliki sumberdaya pesisir yang sangat potensial.

Oleh. Firmansyah Gusasi

1. PENDAHULUAN Latar Belakang

BUPATI SIMEULUE QANUN KABUPATEN SIMEULUE NOMOR 5 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

PENGATURAN PEMANFAATAN HASIL HUTAN HAK/MILIK DI WILAYAH KABUPATEN PANDEGLANG BUPATI PANDEGLANG,

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang .

BUPATI PURWOREJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG PERBURUAN BURUNG, IKAN DAN SATWA LIAR LAINNYA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2016 NOMOR 2

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN NOMOR 12 TAHUN 2004 TENTANG PERLINDUNGAN HUTAN DAN HASIL HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TARAKAN,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PANDEGLANG NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN DAERAH PENYANGGA TAMAN NASIONAL UJUNG KULON

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Menurut Tomlinson(1986), mangrove merupakan sebutan umum yang digunakan

PENDAHULUAN. lahan pertambakan secara besar-besaran, dan areal yang paling banyak dikonversi

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. (21%) dari luas total global yang tersebar hampir di seluruh pulau-pulau

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN ALOR TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA LINGKUNGAN HIDUP KAWASAN PESISIR DAN LAUT DI KABUPATEN ALOR

BAB I PENDAHULUAN. tempat dengan tempat lainnya. Sebagian warga setempat. kesejahteraan masyarakat sekitar saja tetapi juga meningkatkan perekonomian

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PANDEGLANG

BAB I PENDAHULUAN. dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan Negara kepulauan dengan garis pantai sepanjang

BUPATI PURWOREJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR 11 TAHUN 2004 TENTANG KAWASAN BAHARI TERPADU (KBT) KABUPATEN PURWOREJO

SUMBERDAYA ALAM WILAYAH PESISIR

PERATURAN DAERAH KOTA KUPANG NOMOR 7 TAHUN 2000 TENTANG RUANG TERBUKA HIJAU KOTA KUPANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA KUPANG, Menimbang

BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN KONSEP PENELITIAN. Mangrove merupakan ekosistem peralihan, antara ekosistem darat dengan

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PAKPAK BHARAT NOMOR 9 TAHUN 2006 TENTANG PENGUSAHAAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PAKPAK BHARAT,

PERATURAN DAERAH KOTA KUPANG NOMOR 7 TAHUN 2000 TENTANG RUANG TERBUKA HIJAU KOTA KUPANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA KUPANG,

PEMERINTAH KABUPATEN LUWU TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG GARIS SEMPADAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA NOMOR 5 TAHUN 2006 TENTANG HUTAN KOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA,

PERATURAN DAERAH KOTA BONTANG NOMOR 7 TAHUN 2003 TENTANG PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BONTANG,

BUPATI SIGI PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIGI NOMOR 5 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN DANAU LINDU

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERDANG BEDAGAI NOMOR 20 TAHUN 2012 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BERAU

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN DAIRI NOMOR : 7 Tahun 2000 SERI : B NOMOR : 1 PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAIRI NOMOR : 07 TAHUN 2000 TENTANG

PEMERINTAH KABUPATEN JEMBER

ANALISIS VEGETASI EKOSISTEM HUTAN MANGROVE KPH BANYUMAS BARAT

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEBAK

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PANDEGLANG NOMOR 21 TAHUN 2001 SERI D.3 PERATURAN DAERAH KABUPATEN PANDEGLANG NOMOR 20 TAHUN 2001 TENTANG

KAJIAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE DI TELUK YOUTEFA KOTA JAYAPURA ABSTRAK

TINJAUAN PUSTAKA. lainnya yang berbahasa Melayu sering disebut dengan hutan bakau. Menurut

BAB I PENDAHULUAN. maupun terendam air, yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut seperti pasang

PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. mangrove di Indonesia mencapai 75% dari total mangrove di Asia Tenggara, seperti

BAB I PENDAHULUAN. saling berkolerasi secara timbal balik. Di dalam suatu ekosistem pesisir terjadi

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PENGENDALIAN DAN PERLINDUNGAN SEMPADAN SUNGAI

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TABALONG TAHUN 2008 NOMOR

PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN NOMOR 21 TAHUN 1999 TENTANG HUTAN KOTA TARAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TARAKAN,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT

BAB I PENDAHULUAN. atas pulau, dengan garis pantai sepanjang km. Luas laut Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. terluas di dunia sekitar ha (Ditjen INTAG, 1993). Luas hutan mangrove

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARITO UTARA NOMOR 11 TAHUN 2001 TENTANG IZIN PEMUNGUTAN HASIL HUTAN KAYU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG NOMOR 1 TAHUN 2007 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BENGKAYANG,

LEMBARAN DAERAH KOTA SAMARINDA SALINAN

PEMERINTAH KABUPATEN MELAWI

DEPARTEMEN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL REHABILITASI LAHAN DAN PERHUTANAN SOSIAL PEDOMAN INVENTARISASI DAN IDENTIFIKASI LAHAN KRITIS MANGROVE

PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 7 TAHUN 2005 TENTANG PENGENDALIAN DAN REHABILITASI LAHAN KRITIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB 1 PENDAHULUAN. memiliki pulau dengan garis pantai sepanjang ± km dan luas

KERAPATAN HUTAN MANGROVE SEBAGAI DASAR REHABILITASI DAN RESTOCKING KEPITING BAKAU DI KABUPATEN MAMUJU PROVINSI SULAWESI BARAT

PENDAHULUAN. didarat masih dipengaruhi oleh proses-proses yang terjadi dilaut seperti

PEMERINTAH KABUPATEN POSO

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BERAU

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BERAU

SYLVOFISHERY (MINA HUTAN) : PENDEKATAN PEMANFAATAN HUTAN MANGROVE SECARA LESTARI ABSTRAK

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia memiliki mangrove terluas di dunia (Silvus et al, 1987; Primack et al,

SERI E PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGANJUK NOMOR 03 TAHUN 2004 TENTANG PENETAPAN DAN PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara di dunia dalam bentuk negara

BUPATI GARUT PROVINSI JAWA BARAT

GUBERNUR MALUKU PERATURAN DAERAH PROVINSI MALUKU NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN TELUK DI PROVINSI MALUKU

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai salah satu negara dengan garis pantai terpanjang di

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEBAK

TINJUAN PUSTAKA. Hutan mangrove dikenal juga dengan istilah tidal forest, coastal

Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 Tentang : Pengelolaan Kawasan Lindung

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

WALIKOTA LANGSA PROVINSI ACEH QANUN KOTA LANGSA NOMOR 7 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN HUTAN KOTA BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

VIII. KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE BERKELANJUTAN Analisis Kebijakan Pengelolaan Hutan Mangrove

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BERAU

BAB I PENDAHULUAN. Ekosistem mangrove adalah suatu sistem yang terdiri atas berbagai

TENTANG BUPATI NGANJUK, Undang-undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pembentukan. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi

LEMBARAN DAERAH KOTA JAMBI

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG

BUPATI TULUNGAGUNG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG

PEMERINTAH KOTA PROBOLINGGO

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULELENG NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PENERTIBAN PENEBANGAN POHON DAN BAMBU DI LUAR KAWASAN HUTAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERATURAN DAERAH PROPINSI BANTEN NOMOR : 8 TAHUN 2003 TENTANG PENGEMBANGAN PEMANFAATAN AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANTEN

BAB I PENDAHULUAN. Potensi wilayah pesisir dan laut Indonesia dipandang dari segi. pembangunan adalah sebagai berikut ; pertama, sumberdaya yang dapat

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA TAHUN 2001 NOMOR 79 SERI C NOMOR 4 PERATURAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA NOMOR 48 TAHUN 2001

PERATURAN KABUPATEN KARAWANG NOMOR : 14 TAHUN 2001 TENTANG IZIN PENGUSAHAAN TAMBAK DI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARAWANG

1. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1950 tentang Pembentukan Propinsi Jawa Barat (Berita Negara tanggal 4 Juli Tahun 1950);

Transkripsi:

PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN CILACAP PERATURAN DAERAH KABUPATEN CILACAP NOMOR : 17 TAHUN 2001 TENTANG PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE DI KAWASAN SEGARA ANAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHAESA BUPATI CILACAP, Menimbang : a. bahwa untuk menjamin terselenggaranya kehidupan dan pembangunan yang berkelanjutan, serta terpeliharanya fungsi lingkungan hidup dan kelestarian habitat perikanan, akibat dari tindakan, ancaman pemanfaatan, dan perusakan lingkungan di Kawasan Segara Anakan, maka wilayah laguna yang sangat berpotensi sebagai tempat penyediaan sumberdaya perikanan laut serta sangat efektif untuk meningkatkan produksi perikanan di dalam wilayah Kawasan Segara Anakan dan laut sekitarnya serta wilayah daratan sebagai penyangga perlu dilindungi ; b. bahwa dalam rangka menjamin kawasan konservasi, maka setiap orang berkewajiban untuk menjaga, mengawasi dan memelihara kawasan konservasi yang dijamin oleh hukum dan perundang-undangan yang berlaku c. bahwa untuk maksud tersebut diatas, maka perlu menetapkan Pengelolaan Hutan Mangrove di Kawasan Segara Anakan yang diatur dengan Peraturan Daerah ; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 13 tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam Lingkungan Propinsi Jawa Tengah (Lembaran Negara Tahun 1950 Nomor 24, Berita Negara tanggal 8 Agustus 1950) ; 2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2043) ; 3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419); 4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699) ;

5. Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839) ; 6. Undang Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839); 7. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3848 ) ; 8. Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap Nomor 23 Tahun 2000 tentang Penetapan Batas Kawasan Segara Anakan (Lembaran Daerah Kabupaten Cilacap Tahun 2000 Nomor 167, Seri D, Nomor 3888) ; 9. Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap Nomor 28 Tahun 2000 tentang Pembentukan, Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengelola Kawasan Segara Anakan (Lembaran Daerah Kaupaten Cilacap Tahun 2000 Nomor 28, Seri D Nomor 19) ; 10. Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap Nomor 6 Tahun 2001 tentang Tata Ruang Kawasan Segara Anakan (Lembaran Daerah Kabupaten Cilacap Tahun 2001 Nomor 6, Seri D Nomor 4) ; Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN CILACAP MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DAERAH KABUPATEN CILACAP TENTANG PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE DI KAWASAN SEGARA ANAKAN. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : a. Daerah adalah Daerah Kabupaten Cilacap ; b. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Daerah Kabupaten Cilacap c. Bupati adalah Bupati Cilacap ; d. Badan Pengelola adalah Badan Pengelola Kawasan Segara Anakan ; e. Kawasan adalah wilayah dengan fungsi utama lindung dan budi daya ; f. Kawasan Segara Anakan adalah kawasan yang mempunyai nilai strategis potensial yang penanganannya diutamakan untuk meningkatkan fungsi kawasan lindung dan fungsi kawasan budidaya di dalam wilayah pengelolaan ; g. Kawasan Lindung adalah kawasan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan ; h. Kawasan Budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk di budidayakan atas dasar kondisi atau potensi sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya buatan ; i. Kawasan Penyangga adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk menjamin terpeliharanya proses ekologis yang menunjang kelangsungan kehidupan untuk kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia ;

j. Sumber Daya adalah unsur lingkungan yang terdiri atas sumber daya manusia, sumber daya alam, baik hayati maupun non hayati, dan sumber daya buatan ; k. Hutan Mangrove atau hutan bakau atau hutan payau adalah hutan yang tumbuh pada pantai-pantai yang terlindung, muara sungai dan laguna, penyebaran dan komposisi tidak tergantung pada iklim, tetapi pada faktor edaphis (lebih ditentukan oleh tipe tanah), dan pasang surut. Struktur mangrove sangat sederhana yang hanya terdiri atas satu lapis tajuk pohon, dan dengan jumlah jenis pohon yang kecil ; BAB II AZAS, TUJUAN DAN FUNGSI Pasal 2 Pengelolaan Hutan Mangrove di Kawasan Segara Anakan berazaskan : a. Perlindungan (Konservasi), pengelolaan dilakukan oleh Badan Pengelola untuk menjamin kelestarian sumberdaya alam dan seluruh masyarakat ikut bertanggungjawab atas kelestarian sumber daya alam tersebut ; b. Pengendalian, dimana pengelolaan mangrove dikendalikan oleh Tim Pengamanan sehingga menjamin kelestarian yang didasarkan pada kemampuan daya dukung alam ; c. Pemanfaatan, dimana pemanfaatan dilakukan secara rasional untuk kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. Pasal 3 Pengelolaan Hutan Mangrove di Kawasan Segara Anakan bertujuan untuk menjamin kelestarian sumberdaya hayati di kawasan Segara Anakan secara terpadu sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Pasal 4 Pengelolaan Hutan Mangrove di Kawasan Segara Anakan berfungsi untuk melindungi kawasan lindung mutlak dari setiap kegiatan produktif dan melindungi kawasan lindung terbatas dari pemanfaatan yang berlebihan agar memberikan manfaat dan dapat mensejahterakan masyarakat. BAB III RENCANA PENGELOLAAN Bagian Pertama Ruang Lingkup Pasal 5 Ruang lingkup wilayah pengelolaan Hutan Mangrove di Kawasan Segara Anakan yang dimaksudkan dalam peraturan ini adalah sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap Nomor 23 Tahun 2000 tentang Penetapan Batas Kawasan Segara Anakan dan Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap Nomor 6 Tahun 2001 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Segara Anakan. Pasal 6 Ruang lingkup pengelolaan Hutan Mangrove di Kawasan Segara Anakan meliputi : a. Penetapan kebijakan pengelolaan; b. Pengelolaan Hutan Mangrove yang terdiri dari 1) Penetapan rencana rehabilitasi ;

2) Pengelolaan hutan mangrove lindung ; 3) Pengelolaan hutan mangrove sempadan sungai ; 4) Penatausahaan empang parit. c. Penataan Hutan Mangrove ; d. Perijinan Pemanfaatan Hutan Mangrove ; e. Pengawasan dan pengendalian; dan f. Ketentuan pidana dan penyidikan. Bagian Kedua Sasaran Pasal 7 Sasaran pengelolaan Hutan Mangrove di Kawasan Segara Anakan adalah terlaksananya secara terpadu usaha pelestarian Hutan Mangrove dan penataan pengelolaannya yang meliputi : a. Rehabilitasi hutan mangrove yang rusak di kawasan lindung mutlak ; b. Melestarikan hutan mangrove di kawasan lindung terbatas ; c. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan arti pentingnya menjaga kelestarian hutan mangrove d. Terciptanya pengelolaan lestari dan pemanfaatan yang terkendali terhadap hutan mangrove berbasis masyarakat yang bertanggungjawab. Pasal 8 Jenis-jenis vegetasi mangrove yang menjadi sasaran dalam pengelolaan meliputi : Api-api (Avicenia), Bakau gandul (Rhizophora mucronata), Bakau kacangan (Rhizophora apiculata), Dungun (Hiriteria), Nipah ( Nypa fruticans), Tancang (Bruguiera gymnorrhiza), Tanjan (Bruguiera parviflora), Nyirih (Xylocarpus granatum), Nyuruh (Xylocarpus granatum), Lumnitzera dan Gogen/Bogem/Perepat (Soneratia). BAB IV PENETAPAN KEBIJAKAN PENGELOLAAN Pasal 9 (1) Pengelolaan Hutan Mangrove di Kawasan Segara Anakan dilaksanakan secara terpadu dengan memperhatikan fungsi daerah asuhan bagi sumberdaya ikan, tata ruang, dan keterlibatan masyarakat. (2) Pengelolaan Hutan Mangrove di Kawasan Segara Anakan dilaksanakan secara terpadu dengan tetap melindungi keragaman spesies Mangrove dan menghindari percepatan penurunan ketersediaan Hutan Mangrove. (3) Pengelolaan Hutan Mangrove di Kawasan Segara Anakan dilaksanakan secara terpadu dengan melarang penebangan pada kawasan lindung. BAB V PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE Bagian Pertama Kegiatan-Kegiatan yang Boleh Dilaksanakan Pasal 10 Jenis-jenis kegiatan yang boleh dilaksanakan di hutan mangrove Kawasan Segara Anakan adalah :

a. Di kawasan Lindung Mutlak berupa kegiatan penelitian dengan tetap menjaga keragaman hayati ; b. Di Kawasan Lindung Terbatas berupa 1) Penelitian ; 2) Wisata ; 3) Budidaya empang parit ; 4) Pemancingan ; 5) Pemanfaatan kayu terbatas ; 6) Perikanan kepiting 7) Budidaya burung ; 8) Budidaya tanaman obat. dengan tetap menjaga tidak mengakibatkan kerusakan ekologi dan limbah tidak mencemari lingkungan. c. Di Kawasan Sempadan Sungai berupa 1) Penelitian ; 2) Wisata ; dengan tetap menjaga keragaman hayati dan tidak mengakibatkan kerusakan ekologi. d. Dikawasan Budidaya Empang parit berupa 1) Penelitian ; 2) Budidaya ikan dengan tetap menjaga keragaman hayati. Bagian Kedua Kegiatan-Kegiatan yang Dilarang Dilaksanakan Pasal 11 Jenis-jenis kegiatan yang dilarang dilaksanakan di hutan mangrove Kawasan Segara Anakan adalah : a. Di Kawasan Lindung Mutlak berupa semua kegiatan, kecuali penelitian ; b. Di Kawasan Lindung Terbatas berupa : 1) Penebangan liar ; 2) Budidaya Tanaman Industri ; c. Di Kawasan Sempadan Sungai berupa : 1) Penebangan liar ; 2) Budidaya Tanaman Industri. d. Di Kawasan Budidaya Empang parit berupa penebangan liar. BAB VI PENATAAN PEMANFAATAN HUTAN MANGROVE Pasal 12 Pemanfaatan hutan mangrove hanya dapat dilakukan pada Kawasan Lindung Terbatas dengan tetap mempertahankan kerapatan tegakan minimum, sisa tegakan normal dan tidak cacat serta rumpun. Pasal 13 (1) Pada tegakan hutan mangrove dengan umur 10 tahun dilakukan penjarangan, pengurangan jumlah pohon/rumpun dan menyisakan tegakan yang normal, tumbuh tegak lurus serta tidak cacat. (2) Tegakan dalam rumpun yang boleh ditebang adalah tegakan yang tertekan dan cacat. (3) Penjarangan tegakan hutan mangrove dilakukan setiap 5 tahun sekali.

Pasal 14 Larangan penebangan dan atau keharusan rehabilitasi diberlakukan pada kawasan atau lokasi yang : a. Berdekatan dengan muara sungai yang menuju ke laut ; b. Berdekatan dengan daerah penangkapan ikan ; c. Merupakan nursery ground, spawning groung, feeding ground serta shelter area bagi sumber daya ikan ; d. Berdekatan dengan daerah pemukiman ; e. Merupakan penyangga mutlak terhadap erosi, banjir, maupun interusi air laut ; f. Mempunyai tumbuhan muda yang sangat rapat ; g. Berfungsi sebagai jalur hijau (green belt). Pasal 15 Hutan mangrove pada Kawasan Lindung Terbatas budidaya perikanan dan budidaya campuran dipertahankan spesies aslinya dan dapat dimanfaatkan secara terbatas untuk keperluan rumah tangga. penduduk setempat. BAB VII PERIJINAN PEMANFAATAN HUTAN MANGROVE Pasal 16 Perijinan pemanfaatan mangrove diatur oleh Bupati Pasal 17 (1) Pemanfaatan Hutan Mangrove di Kawasan Segara Anakan hanya dapat dilakukan berdasarkan Ijin dari Bupati atas rekomendasi Badan Pengelola. (2) Pemberian ijin sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini disesuaikan dengan kondisi, lokasi dan fungsi Hutan Mangrove. BAB VIII PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN KEGIATAN PEMANFAATAN HUTAN MANGROVE Pasal 18 (1) Untuk menjamin terselenggaranya pengelolaan pemanfaatan Hutan Mangrove di Kawasan Segara Anakan secara berhasil guna dan berdaya guna, dilakukan pengawasan dan pengendalian oleh Badan Pengelola terhadap pelaksanaan ketentuan-ketentuan di bidang pemanfaatan Hutan Mangrove. (2) Pembinaan dan pengawasan terhadap kegiatan usaha pemanfaatan Hutan Mangrove di Kawasan Segara Anakan dilakukan oleh Tim Pengamanan secara terpadu yang dikoordinir oleh Badan Pengelola dan dibentuk dengan Keputusan Bupati. BAB IX KETENTUAN PIDANA DAN PENYIDIKAN Pasal 19 (1) Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud Pasal 11 sampai dengan Pasal 16 Perda ini diancam sanksi pidana kurungan selama-lamanya 6 (enam) bulan dan atau denda setinggi-tingginya Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah).

(2) Sanksi pidana sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini dapat disertai perampasan terhadap alat-alat yang digunakan untuk melakukan tindak pidana. Pasal 20 Barang siapa melakukan tindakan yang mengakibatkan kerusakan lingkungan, diancam sanksi pidana sesuai Peraturan Perundang-undangan yang berlaku. Pasal 21 Penyidikan terhadap pelanggaran Peraturan Daerah ini, selain dilakukan oleh penyidik Kepolisian Republik Indonesia, dapat juga dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dilingkungan Pemerintah Daerah, yang pengangkatan dan wewenangnya sesuai Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku. BAB X KETENTUAN PERALIHAN DAN PENUTUP Pasal 22 Kegiatan-kegiatan usaha pemanfaatan Hutan Mangrove yang ada di Kawasan Segara Anakan paling lambat dalam waktu satu tahun sejak berlakunya Peraturan Daerah ini harus disesuaikan dengan Peraturan Daerah ini. Pasal 23 Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini, sepanjang mengenai pelaksanaannya ditetapkan dengan Keputusan Bupati. Pasal 24 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Cilacap. Ditetapkan di Cilacap pada tanggal 26 November 2001 BUPATI CILACAP, Cap ttd HERRY TABRI KARTA Diundangkan dalam LEMBARAN DAERAH Kabupaten Cilacap Nomor 17 tanggal 27 Nopember 2001 Seri D Nomor 9. SEKRETARIS DAERAH CILACAP, Cap ttd ADI SAROSO

PENJELASAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN CILACAP NOMOR 17 TAHUN 2001 TENTANG PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE DI KAWASAN SEGARA ANAKAN I. PENJELASAN UMUM Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, di Kawasan Segara anakan terdapat 26 (dua puluh enam) species Mangrove yang tersebar di lebih kurang 10,898.32 Ha (sepuluh ribu delapan ratus sembilan puluh delapan koma tiga puluh dua hektar). Hutan mangrove dengan jenis yang beragam di Kawasan Segara Anakan mempunyai fungsi sebagai tempat pemijahan dan daerah asuhan udang dan ikan bernilai ekonomi tinggi, sehingga apabila hutan mangrove di Kawasan Segara Anakan dapat dilestarikan dengan balk berarti telah terselamatkan potensi ikan senilai 8,3 (delapan koma tiga) juta $ US per tahun. Dari lebih kurang 10,898.32 Ha (sepuluh ribu delapan ratus sembilan puluh delapan koma tiga puluh dua hektar) tersebut, terdapat seluas lebih kurang 1.125 Ha (seribu seratus dua puluh lima hektar) hutan mangrove kritis/rusak yang perlu direhabilitasi. Pengelolaan Hutan Mangrove di Kawasan Segara Anakan ini adalah disamping untuk menetapkan kebijakan pengelolaan juga mengatur kegiatankegiatan yang boleh dilaksanakan dan yang dilarang di hutan mangrove, serta penataan pemanfaatannya karena penyelamatan mangrove sebagai tempat berpijahnya berbagai jenis ikan dan penahan sedimentasi berarti kita telah berupaya menyelamatkan lingkungan. Dengan telah ditetapkannya Batas Kawasan Segara Anakan menurut Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap Nomor 23 Tahun 2000 tentang Penetapan Batas Kawasan Segara Anakan dan bersamaan dengan Penetapan Rencana Tata Ruang Kawasan Segara Anakan yang diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap maka Mekanisme Pengelolaan Mangrove adalah untuk mendukung upaya penyelamatan mangrove di kawasan tersebut secara tepat dan berhasil guna. Untuk adanya kepastian hukum dalam rangka menjaga dan melestarikan mangrove agar pemanfaatan dapat lebih optimal dan berkelanjutan perlu diatur dan ditetapkan Mekanisme Pengelolaan mangrove di Kawasan Segara Anakan.

II. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Pasal 2 s/d 5 : Cukup Jelas : Cukup Jelas Pasal 6 : - Yang dimaksud sempadan sungai adalah lahanlahan yang terdapat di kanan-kiri sungai dengan jarak 100 meter untuk sungai besar dan 50 meter untuk sungai kecil serta sempadan yang diperkirakan untuk sungai yang melewati permukiman. - Yang dimaksud empang parit adalah pemeliharaan tanaman mangrove dipadukan dengan budidaya ikan dengan tujuan konservasi areal tambak yang rusak Pasal 7 : - Yang dimaksud kawasan lindung mutlak adalah adalah Kawasan dengan fungsi utama melindungi dan melestarikan keaslian alam, keaneka-ragaman hayati dan lingkungan hidup tanpa suatu perubahan - Yang dimaksud kawasan lindung terbatas adalah Kawasan dengan fungsi utama melindungi kelestarian alam, keanekaragaman hayati dan lingkungan hidup dengan membatasi seminimal mungkin perubahan pada sifat keaslian alam dari lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati Pasal 8 s/d 13 : Cukup Jelas Pasal 14 : - Yang dimaksud nursery ground adalah daerah asuhan/perlindungan berbagai ikan atau udang. Yang dimaksud dengan spawning ground adalah tempat bertelur/berpijah berbagai jenis ikan dan udang. - Yang dimakud dengan feeding ground adalah tempat mencari makan ikan dan udang. - Yang dimaksud dengan shelter area adalah Pasal 15 : Yang dimaksud dengan jalur hijau adalah sempadan sungai yang idealnya masih ditumbuhi mangrove sebagai penahan arus /ombak Pasal 16 s/d 24 : Cukup Jelas