Suka Mema'afkan Dan Keutamaannya

dokumen-dokumen yang mirip
Lima Syarat Wajib Haji

Pembunuh Sembilan Puluh Sembilan Nyawa

Apa Yang Terjadi Pada Mayit Di Kuburnya

Pertama Kali Wahyu Turun

Fadhilah Siwak. Syaikh Amin bin Abdullah asy-syaqawi. Terjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

Orang yang Terakhir Masuk Surga dan yang Paling Rendah

Kisah Nabi Sulaiman alaihissalam

Hukum Menanam Saham Di Sebagian Perusahaan

Jaga Emosi Anda! Syaikh Amin bin Abdullah asy-syaqawi. Terjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

BAB IV KONSEP SAKIT. A. Ayat-ayat al-qur`an. 1. QS. Al-Baqarah [2]:

Hukum Hadiah yang Diberikan Oleh Pusat-Pusat Perbelanjaan

Kelembutan Dalam Islam

As-hamad, Penguasa Yang Maha Sempurna dan Tempat Bergantung Segala Sesuatu

Syafaat Kubra. Abu Ishaq al-huwaini al-atsari. Terjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

TAFSIR AKHIR SURAT AL-BAQARAH

Hukum Berobat Kepada Dukun Dan Peramal

Nabi Musa dan Hidhir alaihimassalam

Apakah Masjidil Haram Sama Dengan Masjid-Masjid Lainnya Di Tanah Haram?

Bersegera Memenuhi Seruan Allah dan Rasul-Nya

Negeri Yang Wajib Ditinggalkan

Pengertian Ikhlas. Syaikh Muhammad Bin Shalih al-'utsaimin. rahimahullah. Terjemah : Muhammad Iqbal A. Gazali Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

Nabi Yahya dan Lima Ajaran untuk Kaumnya

Buah Keimanan. Abdul Jabbar. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

Sekelumit Tentang Perang Badar

Memetik Pelajaran Dari al-qur'an Surat At Taubah

Kisah Sebuah Amanah. Abu Ishaq al-huwaini al-atsari. Terjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

Tiga Kedustaan Yang Dilakukan Nabi Ibrahim alaihissalam

Abu Ishaq al-huwaini al-atsari

Mendulang Faidah Dari Surat al- Qomar (Ayat : 54-55)

Pelajaran Dari Perang Badar

Apakah Asal dalam Dakwah Adalah Tauqifi?

Hukum Mengubah Nazar

Membatalkan Shalat Witir

Siapakah Mukmin Sejati?

Tata Cara Sujud Tilawah

Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail alaihimassalam

Hukum Onani. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah Syaikh Muhammad al-utsaimin rahimahullah

Dorongan Untuk Memanfaatkan Berbagai Sarana Informasi dengan Beberapa Syarat. Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Membalas Kebaikan Orang Lain

Isra Dan Mi'raj. Muhammad bin Abdullah bin Mu aidzir. Terjemah : Muzaffar Sahidu Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

Di Antara Kemungkaran Pakaian Wanita Dalam Pesta Perkawinan

Tafsir Ringkas Surat at-tiin

Riddah: Pengertian, Sebab Dan

Orang Munafik Akan Kehilangan Cahaya di Tengah Kegelapan

Tata Cara Shalat Malam

TAFSIR SURAT AL-BAYYINAH

Nama Allah Shubhanahu wa ta alla al-halim (Maha Penyantun)

Jembatan Antara Surga Dan Neraka

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu Seorang Orator Ulung

Mimpi Yang Dilihat Oleh Nabi Shalallahu'alaihi wasallam

AL-HAFIIDH DAN AL-HAAFIDH Syaikh Amin bin Abdullah asy-syaqawi

Mengabulkan DO A Hamba-Nya

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan

Hukum Ucapan Fulan Mati Syahid

Puasa Mengajarkan Mencintai Orang Miskin

Cara Terbaik Untuk Amar Ma ruf dan Nahi Munkar

Tatkala Menjenguk Orang Sakit

Ar-Rabb, Yang Maha Mengatur Dan Menguasai Alam Semesta

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan. Tema: Yang Diizinkan Tidak Berpuasa

Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berkorbanlah. (QS. al-kautsar:2)

Hukum Memakai Emas Dan Intan Bagi Laki-Laki

Qawaid Fiqhiyyah. Niat Lebih Utama Daripada Amalan. Publication : 1436 H_2015 M

Syarah Istighfar dan Taubat

Tafsir Depag RI : QS Al Baqarah 284

Tafsir Surat an-nashr

Pembelahan Dada Nabi Muhammad serta Peristiwa Mi rajnya

Waktu Shalat Malam. Dr. Muhammad bin Fahd al-furaih. Dinukil dari Buku Masalah-Masalah Shalat Malam. (hal )

Wa ba'du: penetapan awal bulan Ramadhan adalah dengan melihat hilal menurut semua ulama, berdasarkan sabda Nabi r:

TAFSIR SURAT. Syaikh Dr. Amin bin Abdullah asy-syaqawi. Publication: 1439 H_2018 M TAFSIR SURAT AL-INSYIRAH (ALAM NASYRAH)

Berkompetisi mencintai Allah adalah terbuka untuk semua dan tidak terbatas kepada Nabi.

Konsisten dalam kebaikan

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan. Tema: Mengganti Puasa Yang Ditinggalkan

Hukum Bersiwak Bagi Yang Puasa Setelah Gelincir Matahari

Kisah Orang Botak, Orang Tuli, dan Orang yang Sakit Kusta

Adab Berpakaian. Syaikh Amin bin Abdullah asy-syaqawi. Terjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan. Narasumber: DR. Ahmad Lutfi Fathullah, MA Video kajian materi ini dapat dilihat di

Apakah Membaca Iftitah Wajib di Setiap Raka at dalam Shalat Atau Cukup Di Awal Saja?

ISLAM IS THE BEST CHOICE

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan. Tema: Anjuran Mencari Malam Lailatul Qadar

Menghormati dan Menghargai Ulama

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan

TAFSIR SURAT AN-NAS Oleh: Abdul Aziz Abdul Wahid, Lc.

Doa dan Dzikir Seputar Musuh dan Penguasa

Makna Ayat Hijab. Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh. Disusun oleh : Amin bin Yahya al-wazzan

Pengobatan Dengan Ruqyah Untuk Penyakit Kejiwaan

Tafsir Depag RI : QS Al Baqarah 286

APA PEDOMANMU DALAM BERIBADAH KEPADA ALLAH TA'ALA?

Tafsir Surat al-aadiyaat

Transkripsi:

Suka Mema'afkan Dan Keutamaannya ] إندوني [ Indonesia Indonesian Syaikh Amin bin Abdullah asy-syaqawi Terjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad 2014-1435

فضائل العفو» باللغة ا ندونيسية «الشيخ أم بن عبد ا الشقاوي تر ة: رف هداية ا أبو أمامة مراجعة: أبو ز اد إي و هار انتو 2014-1435

Suka Memaafkan Serta Keutamaannya Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Ta'ala semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba'du: Memaafkan merupakan sifat terpuji dan bagian dari akhlak mulia yang telah diperintahkan oleh Allah Shubhanahu wa ta alla pada para nabi serta hamba -Nya. Berdasarkan firman Allah tabaraka wa ta'ala: ن ٱل ه ل ١ ف قال ا تعا : خ ذ ٱلع و ف بٱ لع ر و أم ر أع ر ض ع و ] ا عراف: [ ١ "Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh". (QS al-a'raaf: 199). Dijelaskan lebih tegas lagi dalam bentuk perintah kepada nabinya, dan umatnya secara umum, Allah berfirman: 3

ة نت ك و قال ا تعا : ول ظ ا ل غل يظ ٱلق م ل ك فٱ ف نه م ن ح و ب نف ض وا ] آل عمران: [ ١ "Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka". (QS al-imraan: 159). ١ Demikian juga perintah Allah ta'ala pada hamba -Nya yang beriman secara umum, seperti ditegaskan dalam firman -Nya: ٱل قال ا تعا : و ي ت ل و ل وا أ ض ل ٱلف م ن م وٱ س ع أن ي ؤ ت وا أ و وا أن ون فح وا ب وٱل م ك وٱل م ج ر ن س ب يل ٱ و عف و ص وٱ ق ر ف ر غ ح يم ٢ ] ا ور: [ ٢ ف و ر ٱ ل م "Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS an-nuur: 22). 4

Definisi al-'afwu: Berkata al-kafawi menjelaskan, "al-'afwu artinya ialah tidak menyakiti (orang yang telah berbuat jahat padanya) walaupun mampu untuk membalasnya". Dan setiap orang yang berhak mendapat balasan yang setimpal atas perilakunya, kemudian yang disakitinya tidak menuntut balas dan dirinya ikhlas dan mampu untuk itu, dan ia membiarkannya maka itulah yang dinamakan al- 'Afwu (memaafkan). Dan perbedaan antara al-'afwu dengan ash- Shafhu (berlapang dada) sangat tipis, dan keduanya mempunyai kemiripan dalam makna, akan tetapi, bila dikatakan misalkan, "Aku berlapang dada", yakni bilamana ada orang yang menyakiktiku lalu dia aku maafkan dan biarkan kesalahan dan celaan yang ditujukan padaku". Dan ash-shafhu itu cakupan maknanya lebih luas dari hanya sekedar memaafkan, karena bisa jadi ada orang yang dapat memaafkan namun belum bisa menerimanya, seperti dikatakan, "Aku berlapang dada atasnya", yaitu manakala dia memprioritaskan untuk membiarkan sambil menerimanya dengan ikhlas. Hal itu, seperti telah disinggung oleh Allah ta'ala dalam firman -Nya: 5

] الزخرف: ٨ ف س و ح قال ا تعا : فٱصف م ن م و ق ل س ه ل م و ن ٨ ع ف "Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan katakanlah: "Salam (selamat tinggal)." kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka yang buruk)". (QS az-zukhruf: 89).0F1 [ Al-Hafidh Ibnu Katsir menjelaskan firman Allah Shubhanahu wa ta alla dalam surat an-nuur diatas dengan mengatakan, "Ayat ini turun berkaitan dengan Abu Bakar ash-shidiq radhiyallahu 'anhu, yaitu manakala beliau bersumpah tidak akan memberi apa-apa lagi kepada Misthah bin Atsatsah setelah terlibat dalam menyiarkan berita bohong tentang diri Aisyah. Maka tatkala turun firman Allah Shubhanahu wa ta alla yang menyatakan kesucian umul mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha, melegakan semua orang dari kaum mukminin, dan merasa bahagia serta tentram atasnya, kemudian Allah Shubhanahu wa ta alla menerima taubatnya orang-orang yang ikut serta menyebarkan berita bohong tersebut dari kalangan mukminin. Dan memerintahkan supaya ditegakan hukuman bagi mereka sebagai balasannya. Dan atas anugerah dan keutamaan yang Allah Shubhanahu wa ta alla berikan, pada Abu Bakar yang biasa menyambung 1. Bashairu Dzawi Tamyiiz 3/421. 6

kekerabatan bersama sanak keluarga dan kerabat, dan diantara mereka ada yang bernama Misthah bin Atsatsah anak dari bibinya, dia seorang yang fakir yang tidak mempunyai harta. Dan ketika itu dirinya terlibat di dalam menyiarkan berita bohong tersebut dan telah bertaubat serta ditegakan hukuman cambuk baginya. Sedangkan Abu Bakar adalah orang yang terkenal dengan kedermawanannya, beliau banyak membantu pada sanak kerabat dan juga orang lain, maka tatkala turun firman Allah tabaraka wa ta'ala: ح يم ٢ [ا ور: وٱ ف و ر م ف ر ٱ غ أن ون ل قال ا تعا : ب [ ٢ "Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS an-nuur: 22). Artinya balasan yang mereka lakukan setimpal dengan perbuatannya. Sebagaimana Engkau telah mengampuni hamba yang berbuat dosa pada -Mu, Kami juga telah mengampunimu. Dan sebagaimana engkau memaafkan, Kami juga memaafkan kesalahanmu. 7

Maka tatkala mendengar hal tersebut Abu Bakar langsung mengatakan, "Tentu, demi Allah kami menyukai Engkau mengampuni kami Duhai Rabb kami". Kemudian beliau kembali untuk menyantuni dan memenuhi kebutuhan kerabatnya yang bernama Misthah. Dan beliau mengatakan, "Demi Allah, aku tidak akan mencabut sedekah untuknya selama-lamanya. Demi Allah, aku tidak akan menuntut balas pamrih darinya selama-lamanya". Ibnu katsir mengomentari ucapan Abu Bakar tadi dengan mengatakan, "Oleh karena itulah dirinya dijuluki ash-shidiq karena kejujuran dan keimanannya". 2 Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, berkata; "Uyainah bin Hishan pernah datang menemui Umar bin Khatab. Kemudian dia berkata, "Inilah wahai Ibnu Khatab, demi Allah kamu tidak pernah memberi pemberian pada kami, tidak pula menghukumi kami secara adil". Mendengar hal itu, Umar langsung naik pitam, marah sampai dirinya berkeinginan buruk padanya. Lalu budak beliau berkata mengingatkan, "Wahai Amirul mukminin, (ingatlah) sesungguhnya Allah ta'ala berkata pada Nabi -Nya Muhammad Shalallahu 'alaih wa sallam: ف و و أم ر لع ر ف ٱل ه ل ١ قال ا تعا : خ ذ ٱلع بٱ و أ عر ض ع ن 2. Tafsir Ibnu Katsir 10/198. Adapun haditsnya diriwayatkan oleh Imam Bukhari no: 4757. 8

] ا عراف: [ ١ "Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh". (QS al-a'raaf: 199). Sikap seperti ini adalah sikapnya orang jahiliyah". Sang rawi mengatakan, "Demi Allah tidak sampai sempurna ayat tersebut dibacakan pada Umar melainkan dirinya langsung redam emosinya. Dan beliau adalah orang yang paling memuliakan terhadap firman Allah". HR Bukhari no: 4642. Imam Syafi'i mengatakan dalam lantunan bait syairnya: Mereka menghardik agar aku diam, sedang mereka yang memulai permusuhan. Aku katakan, 'Sesungguhnya membalas kejelakan pintunya sangat terbuka lebar' Namun, memaafkan orang bodoh lagi pandir itu memiliki kemuliaan Didalamnya ada kebaikan serta menjaga kehormatan orang Seekor singa akan tetap diam dan tenang bila tidak diganggu Sedang anjing bila dilemparin batu ia menyalak dengan suara yang keras 9

Allah tabaraka wa ta'ala berfirman: ت ٱس م 10 قال ا تعا : وس ار ع و ا إ غ م ن م ف ر ت ق ل لم ١ ٱ ي ن ي ن ف ق و ن ع د ت وٱ ض أ ة ن ا وج ع ر ض ه ا ء وٱ ء وٱل ظ م ٱ ل غ يظ ٱل ا ] آل عمران: ١-١] ا وٱلع س ن ١ ح ن ٱ ا س وٱ ٱلم "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan". (QS al-imraan: 133-134). Dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriyawatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: ا قص ت ص د قة م ن مال وما زاد قال رسول ا ص ا عليه وسلم:» م إ رعه ا ح د «[أخرجه مسلم] ا تواض أ أ م إ ع ز ا و و ف دا ب ع ا ب ع "Tidaklah sedekah itu mengurangi dari harta sedikitpun. Tidaklah ada seseorang yang memberi maaf pada orang lain melainkan itu kemulian baginya, dan tidaklah ada seorang hamba yang tawadhu kecuali Allah akan angkat derajatnya". HR Muslim no: 2588. ع

Dan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam adalah manusia yang paling pemaaf dan berlapang dada. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari Jabir radhiyallahu 'anha, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam bersabda: خ ذ السي ف ا ن ا م ف ن ا و ت ج ع قال رسول ا ص ا عليه وسلم:» إ ن ر : ي د ه.ق ال و ا ل س ي ف ص ل ت ا ع ع ر إ ف ل م أ ر أ ف ا س ي ي ق ت و ه و ق ا م : م. ق ا ل ق ل ت نع ك م ي ة : من ا ا : ا. م ق ا ل م ن م ن ع ك م. ق ا ل ق ل ت س ول ا ر ض ر ص ا م ع. ق ا ل ف ش ا ا ل س ي ف ه ا ه و ذ ا ج ا ل س. م ل ا عليه وسلم» [أخرجه ا خاري و مسلم] "Ada seseorang yang datang padaku dan ketika itu aku sedang tertidur, lalu dirinya menghunuskan pedang, aku pun terbangun, dan dia berdiri tepat diatas kepalaku namun aku tidak merasakannya dengan pedang terhunus yang berada ditangannya. Kemudian dia berkata padaku, "Siapakah sekarang yang akan membelamu? Aku menjawab, "Allah". Kemudian dia mengulangi kembali, "Siapakah yang akan menolongmu? Aku menjawab kembali, "Allah". Beliau mengatakan, "Seketika itu ia menyarungkan pedangnya, lalu dirinya duduk dan Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam tidak membalasnya". HR Bukhari no: 2910. Muslim no: 843. 11

Dalam redaksi lain, "Kemudian Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam tidak menyakiti orang tersebut". HR Bukhari no: 4135. Suatu ketika Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam mengatakan pada para pembesar Quraisy yang dahulu pernah menyakiti dirinya, serta membunuh para sahabat dan mengeluarkan beliau dari negeri yang beliau cintai, beliau mengatakan pada mereka, "Pergilah karena kalian semua bebas". 3 Didalam musnadnya Imam Ahmad diriwayatkan sebuah hadits dari sahabat Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu, beliau menceritakan, "Tatkala peperangan Uhud ada enam puluh dari kalangan sahabat Anshar yang mati syahid, sedangkan dari kalangan Muhajiri ada enam orang. Maka para sahabat Rasulallah berkata, "Kalau seandainya nanti kita mendapati hari seperti hari ini atas kaum musyrikin (bertemu kembali), benar-benar kami akan membunuh mereka lebih banyak lagi". Manakala datang hari penaklukan kota Makah, berkata seorang yang tidak dikenali namanya, "Habis sudah riwayat Quraisy pada hari ini". lalu terdengar suara lantang dari muadzinnya Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam yang menyeru, "Semuanya aman, jangan ada diantara kalian yang membunuh seorang pun 3. Sirah Ibnu Hisyam 4/27. 12

kecuali fulan dan fulan", lalu disebut beberapa nama pesohor orangorang kafir. Maka turunlah firman Allah tabaraka wa ta'ala: "Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu, akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar". (QS an-nahl: 126). Maka Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam mengatakan, "Bahkan kami memilih untuk bersabar dan tidak membalas kejelekan mereka". HR Ahmad 35/152 no: 21229. Pemaaf ini juga merupakan salah satu sifat Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam yang tercantum didalam Taurat. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abdullah bin Amr bin al-ash radhiyallahu 'anhuma, bahwa Atha bin Yasar pernah meminta pada dirinya untuk mengabarkan tentag sifat Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam yang tercantum didalam Taurat? Beliau menjawab, "Tentu, sesungguhnya dirinya disifati didalam Taurat dengan beberapa sifat yang ada didalam al-qur'an. Wahai Nabi sesungguhnya kami mengutusmu sebagai saksi, pemberi kabar gembira, dan peringatan serta penjaga bagi para kaum yang umi (tidak bisa baca tulis). Engkau adalah hamba dan utusan -Ku, Aku beri nama dirimu al-mutawakil, tidak kasar lagi berperangai buruk, tidak berteriak-teriak dipasar, tidak membalas perbuatan buruk 13

dengan yang semisalnya, akan tetapi memaafkan dan memohonkan ampun". HR Bukhari no: 2125. Pemaaf juga merupakan sifatnya para nabi yang terdahulu, seperti yang dijelaskan oleh Allah ta'ala tentang nabi -Nya Yusuf ketika dirinya berkata pada saudaranya yang dahulu pernah menyakitinya, Allah Shubhanahu wa ta alla mengkisahkan: أر ح م وه و لي غ قال ا تعا : ق ا ل ب ع م ٱ و م ف ر ٱ ل م ] يوسف: [ ٩ ٱل ٩ "Dia (Yusuf) berkata: "Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara Para Penyayang". (QS Yusuf: 92). Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, berkata, "Seakan-akan aku pernah melihat Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam menceritakan seorang nabi dari kalangan para nabi Bani Israil yang dipukul oleh kaumnya sampai berdarah, lantas dirinya mengusap darah tersebut dari wajahnya sambil berkata: ف ه م ع ل م و ن «قال رسول ا ص ا عليه وسلم:» ف ر ل قو الل ه م اغ 14 [أخرجه ا خاري و مسلم]

"Ya Allah ampunilah kaumku sesungguhnya mereka tidak mengetahui". HR Bukhari no: 3477. Muslim no: 1792. Disamping itu, sifat pemaaf juga merupakan ahklaknya para ulama dan orang-orang sholeh. Di kisahakan pada zamannya Khalifah al-mu'tashim, dirinya pernah menjebloskan Imam Ahmad ke dalam penjara dan memukulnya dengan cemeti sampai dirinya pingsan, serta darah mengalir disekujur tubuhnya, akan tetapi, Imam Ahmad berkata, "Aku jadikan kehormatanku halal untuk Abu Ishaq yakni Mu'tashim- dan aku telah maafkan dirinya". Imam Malik, beliau pernah dimasukan kedalam penjara dan dipukul dengan pecut sampai tangannya patah, namun beliau memaafkan orang yang menyiksanya. Dan bila mau dikumpulkan kisah-kisah mereka akan sangat banyak sekali kisah para ulama yang menunjukan bagaimana mereka dalam melazimi sifat memaafkan ini. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, "Aku tidak senang bila membela diriku semata dari seseorang dengan sebab karena kedustaan yang ditimpakan padaku, atau kedzaliman serta permusuhan terhadapku. Sesungguhnya aku telah menghalalkan setiap muslim (yang pernah menyakitiku). Dan saya mencintai kebaikan bagi setiap muslim, dan ingin bagi setiap mukmin melakukan kebaikan seperti yang aku cintai bagi diriku. Adapun 15

orang-orang yang mendustakan dan berbuat dholim atasku maka mereka semua telah aku maafkan". 4 Diantara perkara yang perlu dingatkan disini, bahwa memaafkan harus ada ketentuannya yaitu bisa memperoleh kebaikan. Allah ta'ala menjelaskan dalam firman -Nya: ٱ ٤ ] الشورى: [٤ من قال ا تعا : ا ف ص ل ح ف أ ج ر هۥ وأ "Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah". (QS asy-syuura: 40). Dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Sa'di ketika menafsirkan ayat diatas, "Allah Shubhanahu wa ta alla akan membalas dengan pahala yang besar, dan ganjaran yang agung. Dan Allah memberikan syarat ketika memaafkan dengan adanya perbuatan baik didalamnya, ini menunjukan bahwasanya seorang pelaku kejahatan tidak layak untuk dimaafkan, karena maslahat syar'iyah mengharuskan dirinya untuk dihukum, oleh karena itu dalam kasus seperti ini tidak mungkin perintah untuk memaafkan diterapkan, kemudian Allah Shubhanahu wa ta alla menjadikan pahala orang yang memaafkan di atas tanggungan -Nya, sehingga hal ini membangkitkan semangat orang untuk senang memaafkan. Dan hendaknya seorang hamba berinteraksi dengan sesama makhluk yang ia sukai sebagaimana 4. Majmu' Fatawa 28/55. 16

dirinya suka bila Allah Shubhanahu wa ta alla memperlakukannya dengan baik. Sebagaimana dirinya senang bila Allah Shubhanahu wa ta alla memaafkan kesalahannya maka begitu pula maafkanlah kesalahan mereka. Sebagaimana pula dirinya mencintai bila Allah Shubhanahu wa ta alla memberi udzur padanya maka begitulah hendaknya dia juga memberi udzur pada mereka, karena sesungguhnya balasan tersebut setimpal dengan amal perbuatannya". 5 Dan barangsiapa yang mampu menerapkan dalam kondisi semacam ini maka hendaknya ia memuji -Nya atas karunia nikmat yang demikian besar baginya, atas ketentraman jiwa yang dirasakan, dan begitu banyak buah kebaikan yang bisa ia petik. Dan dianjurkan bagi tiap muslim untuk banyak memohon agar dirinya dimaafkan oleh Allah azza wa jalla. Sebagaimana tertera dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi dari Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata, "Aku pernah bertanya, "Ya Rasulallah, apa yang hendaknya aku ucapkan manakala aku mengira bahwa diriku mendapati malam lailatul Qodar? Beliau bersabda: قال رسول ا ص ا عليه وسلم:» اللهم إنك عفو كر م ب العفو فاعف ع «[أخرجه ال مذي] 5. Taisirul Karimir Rahman fii Tafsir Kalamil Manan hal: 727. 17

"Ucapkan, Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Pemurah, Engkau mencintai untuk memaafkan maka maafkan hamba -Mu". HR at-tirmidzi no: 3513. Beliau berkata, "Hadits Hasan Shahih". Seorang penyair mengatakan dalam lantunan bait syairnya: Duhai Rabbku, sungguh banyak dosa yang ku perbuat Dan aku mengetahui Engkau adalah Maha Pemaaf Bila hamba -Mu tidak mengharap dari kemurahan Mu Lantas pada siapa hamba yang penuh dosa ini harus mengadu Tidak ada wasilah yang bisa ku haturkan pada -Mu, melainkan Hamba seorang muslim dan harapan indah kiranya Engkau sudi memaafkan Pelajaran dari menekuni sifat memaafkan ini: 1. Memenuhi perintah Allah azza wa jalla. 2. Menghilangkan penyakit hati dari kedengkian dan kebencian pada sesama. 3. Ketenangan jiwa dan ketentraman bathin. 4. Memperoleh pahala besar dari Allah subhanahu wa ta'ala. 5. Mencapai derajat yang tinggi didunia maupun diakhirat kelak. 6. Menyebarkan kecintaan serta mempererat persaudaraan diantara kaum muslimin. 7. Dengan memaafkan maka itu sebagai sarana yang akan mengantarkan dirinya masuk ke dalam surga. 18

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya. 19