BAB IV ANALISA HASIL SIMULASI

dokumen-dokumen yang mirip
Analisis Peningkatan Kualitas dan Kapasitas Jaringan Seluler PT. XL Axiata pada Area Jawa Tengah bagian Utara melalui Proyek Swap dan Modernisasi

BAB I PENDAHULUAN. mempengaruhi peningkatan jumlah pengguna jaringan GSM (Global System for

Analisis Pengaplikasian MCPA pada Perusahaan Provider GSM di Daerah Sumatera Utara

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III PROSES DRIVE TEST

ANALISIS KUALITAS VOICE CALL PADA JARINGAN WCDMA DENGAN DRIVE TEST MENGGUNAKAN TEMS INVESTIGATION

ANALISIS UNJUK KERJA MULTI BAND CELL PADA GSM DUAL BAND

BAB II LANDASAN TEORI

BAB IV ANALISIS DAN HASIL PENELITIAN Analisis Hasil Pengukuran di Area Sekitar UMY

BAB III METDOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV ANALISIS DESKRIPTIF IMPLEMENTASI GFP

ANALISIS KUALITAS RF PADA JARINGAN SELULER 2G & 3G DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TUGAS AKHIR

STUDI PERENCANAAN JARINGAN SELULER INDOOR

ANALISA KELAYAKAN IMPLEMENTASI AMR PADA TEKNOLOGI 2G UNTUK OPTIMALISASI BIAYA (STUDI KASUS: PT. INDOSAT ) Tesis

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB II TEORI DASAR. Public Switched Telephone Network (PSTN). Untuk menambah kapasitas daerah

BAB III METODE PENELITIAN. Pada bab 3 ini akan dibahas mengenai metode penelitian yang dilakukan pada BTS-

Modul 8 Drive Test Analysis (DTA) 4G LTE Lanjut

BAB I PENDAHULUAN. menjaga dan meningkatkan performa pada jaringan telekomunikasi. diharapkan akan diikuti semakin tingginya jumlah trafik.

Fendy Yulian Rakhmad (L2F606027) Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Abstrak. Kata Kunci : drive test, TEMS, GPS

BAB III METODA PENELITIAN

BAB III PERENCANAAN PARAMETER BSS UNTUK OPTIMALISASI BTS INDOOR


AKUISISI DATA GPS UNTUK PEMANTAUAN JARINGAN GSM

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PENGUKURAN KUALITAS SINYAL PADA JARINGAN GSM

Analisis Kinerja Dan Perbaikan Jaringan GSM Pada BSC Operator H3I (THREE)

Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Udayana 1, 2,

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan berkembangnya jaman kebutuhan manusia akan bidang telekomunikasi juga semakin meningkat,

Setyo Budiyanto 1,Mariesa Aldila 2 1,2

E-Journal SPEKTRUM. Ida Bagus Ari Budiarta, Pande Ketut Sudiarta, IGAK. Diafari Djuni H. 1

BAB IV ANALISIS STRATEGI IMPLEMENTASI AMR

Drive Test and RF Optimization Overview. Alfin Hikmaturokhman.,ST.,MT

BAB III ANALISIS TRAFIK DAN PARAMETER INTERFERENSI CO-CHANNEL

BAB II ADAPTIVE MULTI-RATE (AMR)

Modul 6 Drive Test 4G LTE

Abstract A. PENDAHULUAN. Sistem komunikasi semakin berkembang dengan tingginya kontinuitas

Modul 4 Introduction to atoll

Analisa Unjuk Kerja Jaringan Operator 3G(WCDMA-UMTS) Menggunakan Metode Drivetest

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

KUALITAS LAYANAN DATA PADA JARINGAN CDMA x EVOLUTION-DATA ONLY (EVDO)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

ANALISIS PENGARUH DOWN TILT ANTENA UNTUK MENGURANGI KEGAGALAN HANDOVER PADA JARINGAN SELULER GSM PT. INDOSAT, Tbk. PURWOKERTO

BAB III PERENCANAAN DAN SIMULASI

PENANGANAN INTERFERENSI PADA JARINGAN SELULER 2G PT. INDOSAT UNTUK AREA BANDUNG

BAB IV HASIL DAN ANALISA

OPTIMASI JARINGAN 3G DI AREA BANDUNG BARAT BERDASARKAN DATA CUSTOMER COMPLAIN 3G

Evaluasi Performansi Jaringan UMTS di Kota Semarang menggunakan Metode Drive Test

ABSTRAK. iii Universitas Kristen Maranatha

ANALISIS PERFORMANSI REHOMMING BR 9.0-EVOLUSION BSC (ebsc) PADA JARINGAN GSM PT TELKOMSEL DI MAKASSAR

BAB III DATA FAST TRAFFIC HANDOVER

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ANALISIS KUAT SINYAL DAN KUALITAS PANGGILAN JARINGAN GSM INDOOR DENGAN TEMS INVESTIGATION DAN G-NETTRACK PRO

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB III IMPLEMENTASI GLOBAL FREQUENCY PLANNING

OPTIMASI JARINGAN 3G (UMTS/WCDMA) PADA AREA ALUN-ALUN KANTOR GUBERNUR PROVINSI LAMPUNG UNTUK OPERATOR TELKOM

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 3G/UMTS. Teknologi WCDMA berbeda dengan teknologi jaringan radio GSM.

Rekayasa Elektrika. Unjuk Kerja Jaringan Seluler 2G dan 3G PT. XL Axiata di Area Jawa Tengah Bagian Utara setelah Proyek Swap dan Modernisasi

ANALISA DAN OPTIMASI QUALITY OF SERVICE (QOS) LAYANAN VOICE DALAM JARINGAN SELULAR CDMA X TELKOM FLEXI REGIONAL OPERATION SEMARANG

PENGUKURAN LANGSUNG (DRIVE TEST) JARINGAN 3G DENGAN METODE BENCHMARK DI AREA TEBET

OPTIMASI HANDOVER PADA JARINGAN GLOBAL SYSTEM FOR MOBILE COMMUNICATION (GSM) M.Yanuar Hariyawan, Hamid Azwar, Lena Miranti Siahaan

OPTIMASI KUALITAS PENERIMAAN SINYAL DARI ANTENA NODE B PADA SISTEM UMTS 3G DENGAN PHYSICAL TUNING ABSTRAK

BAB III PERANCANGAN DAN SIMULASI LEVEL DAYATERIMA DAN SIGNAL INTERFERENSI RATIO (SIR) UE MENGGUNAKAN RPS 5.3

Pada Tugas Akhir ini data diperoleh dari data drive test dan optimasi pada

Makalah Seminar Tugas akhir ANALISIS KUALITAS PANGGILAN PADA JARINGAN GSM MENGGUNAKAN TEMS INVESTIGATION

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

PENANGANAN BLOCK CALL DAN DROP CALL PADA JARINGAN UMTS BERDASARKAN PENGUKURAN PARAMETER ACCESSIBILITY, COVERAGE AND QUALITY

ANALISIS DROP CALL PADA JARINGAN 3G PADA BEBERAPA BASE STATION DI KOTA MEDAN

ANALISIS PENYEBAB BLOCKING CALL DAN DROPPED CALL PADA HARI RAYA IDUL FITRI 2012 TERHADAP UNJUK KERJA CDMA X

EVALUASI COVERAGE AREA UNTUK JARINGAN SELULAR 2G OPERATOR XYZ (STUDI KASUS KOTA BANDUNG) COVERAGE AREA EVALUATION FOR 2G CELLULAR NETWORK

Optimasi BTS Untuk Peningkatan Kualitas Jaringan CDMA 2000

HALAMAN PERNYATAAN. : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

BAB I PENDAHULUAN. Permasalahan pada sistem komunikasi nirkabel dan bergerak sangatlah kompleks

PERFORMASI AKSESBILITAS JARINGAN 3G (STUDI KASUS SITE CIREBON) PERFORMANCE ACCESIBILITY ON 3G NETWORK (CASE STUDY SITE CIREBON)

BAB IV PERHITUNGAN EIRP SISTEM MULTI NETWORK

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

ANALISIS PERFORMANSI JARINGAN 3G UMTS/WCDMA OPERATOR XL DENGAN MENGGUNAKAN METODE DRIVE TEST (STUDI KASUS UNIVERSITAS SYIAH KUALA)

PERENCANAAN DAN ANALISA HASIL PERUBAHAN PARAMETER FREKUENSI UNTUK MENINGKATKAN PERFORMANCE JARINGAN INDOOR GSM

BAB IV ANALISA PERFORMANSI HASIL OPTIMALISASI PARAMETER BSS PADA BTS INDOOR

EVALUASI EFISIENSI PERANGKAT BASE STATION MENGGUNAKAN DRIVE TEST PADA ANTENA SINGLE-BAND DAN MULTI-BAND

BAB II ASPEK TEKNIS JARINGAN GSM

Perencanaan dan Penataan Menara Telekomunikasi Seluler Bersama di Kabupaten Bangkalan Menggunakan MapInfo Dwi Adha Manjayanti

SITE XXX. Indoor Walk Test Overview

Analisis Benchmarking Jaringan 3G Operator HCPT dan XL di Area Jakarta

PERENCANAAN JARINGAN LONG TERM EVOLUTION (LTE) 1800 MHz DI WILAYAH MAGELANG MENGGUNAKAN BTS EXISTING OPERATOR XYZ

Analisis Kualitas Jaringan 2G Pada Frekuensi 900MHz Dan 1800MHz Di Area Purwokerto

Perencanaan dan Penataan Menara Telekomunikasi Seluler Bersama di Kabupaten Sidoarjo Menggunakan MapInfo

PENERAPAN FITUR ADAPTIVE MULTI RATE (AMR) PADA JARINGAN GSM

PERENCANAAN JARINGAN LONG TERM EVOLUTION (LTE)1800 Mhz DI WILAYAH MAGELANG MENGGUNAKAN BTS EXISTING OPERATOR XYZ

Analisis Pengaruh Model Propagasi dan Perubahan Tilt Antena Terhadap Coverage Area Sistem Long Term Evolution Menggunakan Software Atoll

BAB II KAJIAN PUSTAKA

PERENCANAAN KEBUTUHAN NODE B PADA SISTEM UNIVERSAL MOBILE TELECOMMUNICATION SYSTEM (UMTS) DI WILAYAH UBUD

ANALISIS LAYANAN VOICE CALL DAN DATA PACKET PADA OPERATOR TELEPON SELULER DI WILAYAH BALI INNER CITY

BAB IV ANALISA PERFORMANSI BTS CDMA 20001X PT BAKRIE TELECOM COVERAGE KOTA BEKASI

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

Transkripsi:

BAB IV ANALISA HASIL SIMULASI Bab ini akan membahas tentang hasil analisa dari proses pengukuran Drive Test dengan menggunakan TEMS Investigation 8.0.4, akan dibahas juga hasil analisa coverage plot dengan menggunakan software planning U-net. Hal-hal yang dianalisa meliputi kondisi Coverage sinyal (Rx Level) dan kualitas sinyal (Rx Qual) pada BTS Wongkaditi dan kemudian akan dilakukan perbandingan antara analisa hasil dari proses pengukuran Drive Test dengan hasil analisa dari software planning U-net. Analisa yang dilakukan terhadap hasil drive test adalah dengan melihat apakah hasil drive test tersebut sudah memenuhi standard-standard nilai yang sudah ditetapkan dan kemudian membandingkan hasil tersebut dengan coverage plot yang didapatkan dari software U-net. Berikut akan diuraikan hasil pengukuran sinyal melalui proses drive test. 4.1 Proses Pengumpulan Data Drive Test Dalam proses pengukuran drive test ini menggunakan handset (MS) yang dihubungkan dengan laptop yang sudah ter-install software TEMS Investigation 8.0.4. Hasil dari proses drive test ini berupa TEMS logfile. File inilah yang nantinya akan dianalisa lebih lanjut. Drive test tersebut dilakukan pada site Wongkaditi yang beralamat di Desa Pauwo, Kec. Kabila, Kab. Bone Bolango, Gorontalo, Sulawesi Utara. Site wongkaditi merupakan site yang baru dibangun, sehingga memerlukan suatu pemeriksaan kondisi sinyal di daerah site tersebut apakah sudah dalam kondisi yang siap On-Air. Daerah site wongkaditi merupakan daerah sub-urban, dengan jumlah penduduk yang cukup banyak. Site ini memiliki konfigurasi S222, dimana BTS tersebut memiliki 3 sektor dan memiliki TRX berjumlah 2 buah di tiap sektornya. Untuk data identitas tiap sektornya (Cell ID) adalah : Sektor 1 : 51921 Sektor 2 : 51922 Sektor 3 : 51923 37

Gambar 4.1 Site Wongkaditi Data Logfile yang dihasilkan pada drive test kali ini berjumlah 5 buah, hal ini dikarenakan daerah sekitar site mempunyai banyak jalur yang harus dilewati sehingga data logfile-nya harus terbagi-bagi. Berikut adalah data logfile hasil proses drive test : Gambar 4.2 Logfile 1 38

Gambar 4.3 Logfile 2 Gambar 4.4 Logfile 3 39

Gambar 4.5 Logfile 4 Gambar 4.6 Logfile 5 4.2 Pengolahan Data Logfile Drive Test Data-data logfile yang telah didapatkan tersebut dianalisa apakah nilai-nilai yang diterima sudah memenuhi standard yang telah ditetapkan. Semua data logfile tersebut diolah dan digabung menjadi satu untuk bisa melihat kondisi jaringan secara keseluruhan. 40

Proses penggabungan tersebut menggunakan salah satu aplikasi dari Software TEMS yaitu TEMS DeskCat 5.5. Dengan menggabungkan semua data logfile maka akan lebih mudah untuk menganalisa dan melihat kondisi jaringan pada site tersebut. Pada saat menjalankan software TEMS DeskCat ada beberapa parameter yang harus diatur terlebih dahulu agar nantinya didapatkan data yang diinginkan saja dan tidak semua data ditampilkan, hal ini dilakukan untuk lebih memudahkan dalam hal menganalisa lebih lanjut. Parameter-parameter yang diambil adalah : 1. Cell Id 2. Rx Qual 3. SQI 4. Rx Level 5. Handover 6. Dropped Call Setelah semua parameter sudah diatur, maka akan didapatkan satu file gabungan dari semua logfile. Contoh hasil dari proses penggabungan ada pada gambar di bawah : Gambar 4.7 TEMS DeskCat 41

Jika proses penggabungan semua data logfile telah selesai, maka hasilnya akan disimpan dan file yang akan dihasilkan nantinya dalam format midi file. File yang berbentuk midi tersebut akan diubah formatnya menjadi text file, hal ini dilakukan agar file tersebut bisa dimasukkan ke dalam program Microsoft Office Excel. Program Microsoft Office Excel merupakan alat atau tools yang sangat berguna untuk mengolah data-data yang berjumlah banyak dan berbentuk tabel-tabel. Oleh karena itu file yang berbentuk midi diubah ke dalam bentuk text file yang nantinya akan diexport ke program Microsoft Office Excel. Selain karena alasan diatas, penggunaan program Excel ini dilakukan agar nantinya file yang dihasilkan bisa digunakan juga melalui software Mapinfo. Mapinfo merupakan software komputer yang sangat berguna dalam hal pemetaan dan analisa geografi, sehingga dengan menggunakan software Mapinfo tersebut kita dapat menganalisa hasil pengukuran drive test dengan menambahkan peta dan jalur-jalur yang dilalui. Proses tersebut bertujuan agar kita mengetahui daerah-daerah atau jalur mana saja yang berada pada kondisi network yang bagus atau jelek. 4.3 Analisa Data Drive Test Setelah proses pengolahan data logfile menggunakan TEMS DeskCat selesai, kemudian file hasil pengolahan tersebut diubah ke dalam format Microsoft Office Excel. File inilah yang akan dianalisa lebih lanjut menggunakan software pemetaan Mapinfo. Pada saat data diolah di Mapinfo inilah kita bisa melihat secara lebih detail dan lebih jelas tentang kondisi jaringan site tersebut. 4.3.1 Rx Qual Gambar 4.7 di bawah, menunjukkan kondisi Rx Qual pada site Wongkaditi tersebut. Rx Qual adalah tingkat kualitas sinyal penerima di MS, diukur berdasarkan nilai BER (Bit Error Rate). Rentang nilai antara 0 7, semakin kecil nilainya maka semakin bagus kualitas sinyalnya. Standard nilai Rx Qual yang digunakan oleh pihak operator Indosat dan vendor perangkat Huawei dapat kita lihat pada tabel 4.1 dimana nilai yang bisa diterima adalah mulai dari 0 sampai 5, yang ditandai dengan warna hijau, dan nilai yang jelek adalah mulai dari 6 sampai 7, yang ditandai dengan warna merah. 42

Gambar 4.8 Rx Qual Tabel 4.1 Rentang nilai Rx Qual Range Jumlah Presentase Simbol 0-5 2109 99.95% 6-7 1 0.05% Dari gambar di atas dapat kita lihat bahwa jumlah area yang memiliki Rx Qual dengan kondisi bagus (warna hijau) sesuai standard yang sudah ditetapkan berjumlah 2109 dengan nilai presentase sebesar 99.95 %. Sedangkan jumlah area yang memiliki Rx Qual dengan kondisi jelek (warna merah) diluar standard yang sudah ditetapkan berjumlah hanya 1 dengan nilai presentase sebesar 0.05%. Nilai Rx Qual yang didapatkan dari hasil Drive Test harus memenuhi standard nilai KPI (Key Performance Indicator), dimana KPI adalah Standard nilai minimum yang harus dipenuhi oleh suatu parameter yang ditetapkan bersama antar pihak operator dan pihak vendor penyedia perangkat. Untuk nilai KPI dari Rx Qual ini adalah sebesar 98%. Jika kita bandingkan antara nilai Rx Qual hasil Drive Test dengan nilai KPI maka dapat 43

dilihat bahwa nilai Rx Qual sebesar 99.95% sudah memenuhi target nilai KPI yang sudah ditetapkan. 4.3.2 SQI (Speech Quality Index) Gambar 4.9 Speech Quality Index Tabel 4.2 Rentang nilai Speech Quality Index Range Jumlah Presentase Simbol Rata- Rata 18 to 30 1870 97.85% 15 to 18 11 0.58% 29.35 0 to 15 30 1.57% -20 to 0 0 0.00% Pada gambar 4.9 menunjukkan nilai SQI dari site Wongkaditi. SQI merupakan indikator kualitas suara dalam keadaan menelepon atau dedicated. Pengukuran nilai SQI ini lebih teliti daripada pengukuran nilai Rx Qual dimana kalau Rx Qual hanya 44

mengkonversi nilai BER (Bit Error Rate) ke range level tertentu tapi kalau pada SQI nilai BER, FER dan data handover events juga masuk ke dalam perhitungan. Rentang nilai SQI adalah antara 0 30, dimana semakin besar nilainya maka semakin bagus kualitas suaranya. Standard nilai SQI yang digunakan oleh pihak operator Indosat dan vendor perangkat Huawei dapat kita lihat pada tabel 4.2 dimana rentang nilai SQI yang paling bagus mulai dari 18 sampai 30 yang ditandai dengan warna hijau. Untuk rentang nilai yang kedua antara 15 sampai 18 yang ditandai dengan warna kuning, rentang nilai yang ketiga antara 0 sampai 15 ditandai dengan warna jingga sedangkan untuk rentang nilai terakhir antara -20 sampai 0 ditandai dengan warna merah. Dari gambar di atas dapat kita lihat bahwa jumlah area yang memiliki SQI dengan kondisi bagus (warna hijau) sesuai standard yang sudah ditetapkan berjumlah 1870 dengan nilai presentase sebesar 97.85%. Untuk jumlah area yang memiliki SQI pada rentang nilai kedua adalah 11 dengan nilai presentase sebesar 0.58%, untuk jumlah area yang memiliki SQI pada rentang nilai ketiga adalah 30 dengan nilai presentase sebesar 1.57%. Sedangkan untuk SQI dengan rentang nilai terakhir (warna merah) adalah 0. Gambar 4.10 Grafik SQI pada TEMS DeskCat 45

Untuk nilai KPI dari SQI ini diambil dari nilai rata-rata yaitu sebesar 28,5. Untuk mendapatkan nilai rata-rata dari SQI ini yaitu pada saat penggabungan data-data logfile menggunakan TEMS DeskCat seperti pada gambar 4.10 diatas. Pada gambar tersebut dapat dilihat bahwa nilai rata-rata SQI sebesar 29,35 dimana nilai tersebut sudah memenuhi target nilai KPI yang sudah ditetapkan. 4.3.3 Cell Aktif (Serving Cell) Cell aktif adalah cell yang sedang melayani kita pada saat kita melakukan suatu panggilan. Cell atau sektor yang melayani kita ketika melakukan panggilan harus sesuai dengan posisi kita pada waktu tersebut. Pada saat kita melakukan panggilan di daerah sektor 1, maka cell atau sektor yang melayani harus sektor 1 juga. Apabila pada kondisi tersebut kita dilayani oleh sektor lain maka kemungkinan besar terjadi masalah pada site itu, masalah yang biasanya terjadi adalah kekuatan sinyal yang terlalu besar dari cell yang lain sampai melebihi batas dan mengganggu cell yang lain. Gambar 4.11 Cell Aktif 46

Gambar 4.11 di atas adalah cell yang aktif yang ditunjukkan dengan Cell ID (identitas cell) masing-masing sektor. Pada gambar tersebut terdapat Legend yang menampilkan keterangan tentang cell ID untuk sektor satu yaitu 51921 ditandai dengan warna merah, cell ID untuk sektor dua yaitu 51922 ditandai dengan warna kuning, dan cell ID untuk sektor tiga yaitu 51923 ditandai dengan warna hijau. Dari gambar diatas dapat kita lihat bahwa pada saat melakukan proses drive test di daerah sektor satu, cell ID yang aktif adalah berwarna merah yaitu 51921. Ketika melakukan proses drive test di daerah sektor dua, cell ID yang aktif adalah berwarna kuning yaitu 51922. Dan pada saat melalui jalur di sektor tiga, cell ID yang aktif adalah berwarna hijau yaitu 51923. Ketiga kondisi tersebut sudah sesuai dengan cell yang aktif pada masing-masing sektor dan hal ini menunjukkan tidak terjadinya masalah di site tersebut. 4.3.4 Rx Level Rx Level adalah tingkat daya pancar sinyal BTS yang diterima oleh MS menggunakan satuan dbm. Semakin kecil nilainya maka semakin lemah sinyal yang diterima dimana rentang nilai dari Rx Level adalah -110 sampai 0. Standard nilai Rx Level yang digunakan oleh pihak operator Indosat dan vendor perangkat Huawei dapat kita lihat pada tabel 4.3. Rx Level yang paling bagus berada pada nilai -80 sampai 0 dbm yang ditandai dengan warna biru, rentang nilai yang kedua antara -87 sampai -80 dbm yang ditandai dengan warna kuning, dan rentang nilai yang paling jelek antara -110 sampai -87 dbm. Dari gambar 4.12 dapat kita lihat bahwa jumlah area yang memiliki Rx Level dengan level kuat sinyal diatas -80 dbm berjumlah 337 dengan nilai presentase sebesar 95.74%. Untuk jumlah area yang memiliki Rx Level dengan level kuat sinyal antara -87 sampai -80 dbm berjumlah 15 dengan nilai presentase sebesar 4.26%, dan untuk jumlah area yang memiliki Rx Level dengan level kuat sinyal antara -110 sampai -87 dbm berjumlah 0. 47

Gambar 4.12 Rx Level Tabel 4.3 Rentang nilai Rx Level Range Jumlah Presentase Simbol -80 to 0 337 95.74% -87 to -80 15 4.26% -110 to -87 0 0% Untuk nilai KPI dari Rx Level tersebut adalah sebesar 95%, dari tabel diatas dapat kita ketahui bahwa presentase dari Rx Level yang paling bagus yaitu level kuat sinyal di atas -80 adalah sebesar 95.74% sehingga nilai tersebut sudah memenuhi standard nilai KPI yang sudah ditetapkan. 4.4 Perbandingan Coverage Prediction Dengan Drive Test Plot Pada bagian ini akan dibandingkan antara prediksi coverage sinyal yang dihasilkan dari program U-net dengan plot hasil drive test yang telah dilakukan. Hal ini bertujuan agar kita dapat mengetahui apakah semua daerah di sekitar site Wongkaditi 48

tersebut telah dilakukan proses drive test dan untuk mengetahui apakah prediksi coverage sinyal telah sesuai dengan kondisi coverage sinyal yang sebenarnya. Untuk dapat membuat prediksi coverage site wongkaditi, maka langkah-langkah yang harus dilakukan adalah : 1. Menentukan sistem yang akan digunakan, untuk Tugas Akhir ini dilakukan dalam sistem GSM 2. Menentukan proyeksi yang akan digunakan, pada Tugas Akhir ini menggunakan proyeksi Universal Transverse Mercator (UTM). Untuk Site wongkaditi berada di daerah Sulawesi Utara dimana masuk ke dalam proyeksi UTM zone 51S. 3. Meng-import file database peta Sulawesi, yaitu peta topologi, morfologi, dan vector. 4. Meng-import file database antenna yang digunakan, Site Wongkaditi menggunakan antenna Kathrein dengan tipe K739630. 5. Membuat Site (yang dilakukan pada bagian explorer) dengan menentukan nama site, garis lintang dan garis bujur site tersebut. 6. Membuat antena transmitter pada site. Antena transmitter ini sesuai dengan parameter-parameter yang telah ditentukan oleh pihak operator dan vendor. Parameter-parameter yang digunakan antara lain ketinggian antena, azimuth, BCCH, dll (parameter lengkap terdapat pada Lampiran B). Untuk model propagasi yang digunakan adalah Standard Propagation Model, dimana untuk detail parameter dapat dilihat pada lampiran C. 7. Memilih jenis prediksi yang diinginkan yaitu coverage prediction dimana batas-batas nilainya adalah sebagai berikut : -80 dbm =< : warna hijau -87 sampai -80 dbm : warna kuning -110 sampai -87 dbm : warna merah Setelah semua parameter telah dimasukkan dengan benar, maka akan menghasilkan suatu prediksi coverage seperti pada gambar 4.13 di bawah : 49

Gambar 4.13 Prediksi Coverage Sinyal BTS Wongakaditi Dari prediksi coverage sinyal tersebut akan digabungkan dengan logfile hasil pengukuran drive test yang telah dilakukan. Langkah langkah yang harus dilakukan adalah : 1. Meng-export logfile hasil drive test ke dalam file dengan format text file. Pada software TEMS Investigation dilakukan pada menu export logfile. 2. Meng-import logfile drive test yang sudah berbentuk text file tersebut melalui menu Test Mobile Data pada bagian explorer di U-Net. Parameter-parameter yang harus diatur pada saat proses tersebut adalah bagian X untuk Longitude dan Y untuk latitude. 3. Menentukan batas-batas nilainya yaitu : -80 dbm =< : warna biru -87 sampai -80 dbm : warna kuning -110 sampai -87 dbm : warna merah 50

Jika semua langkah-langkah di atas telah dilakukan, maka perbandingan prediksi coverage dengan hasil pengukuran drive test dapat dihitung dan hasilnya akan tampak seperti pada gambar 4.14 dan gambar 4.15 di bawah. Pada gambar 4.14 adalah hasil perbandingan yang berupa tampilan gambar dengan pembagian warna untuk tingkat daya sinyal yang berbeda-beda. Sedangkan pada gambar 4.15 adalah hasil perbandingan yang berupa grafik sesuai dengan level daya sinyal. 51

Gambar 4.14 Coverage Prediction vs Drive Test Plot Gambar 4.15 Grafik Coverage Prediction vs Drive Test Plot Dari gambar Coverage Prediction vs Drive Test Plot di atas dapat kita ketahui bahwa hasil perbandingan keduanya menunjukkan adanya suatu perbedaan, nilai rata-rata dari perbedaan tersebut adalah 6.1897 dbm dan nilai tersebut masih dalam batas toleransi yaitu rata-rata 6.1897 db. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor yang mempengaruhi antara lain kondisi RF environment yang berubah-ubah. Dari data-data yang telah didapatkan yaitu data dari hasil proses drive test, data hasil prediksi coverage menggunakan U-Net, dan perbandingan keduanya, menunjukkan suatu output yang bagus dan bisa memenuhi target KPI yang telah ditentukan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Site Wongkaditi telah lulus uji terima dan bisa untuk On-Air agar dapat melayani para pelanggan seluler di wilayah tersebut. 52