Uji Pembentukan Biogas dari Sampah Pasar Dengan Penambahan Kotoran Ayam

dokumen-dokumen yang mirip
UJI PEMBENTUKAN BIOGAS DARI SUBSTRAT SAMPAH SAYUR DAN BUAH DENGAN KO-SUBSTRAT LIMBAH ISI RUMEN SAPI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

SEMINAR TUGAS AKHIR KAJIAN PEMAKAIAN SAMPAH ORGANIK RUMAH TANGGA UNTUK MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN BIOGAS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. peternakan tidak akan jadi masalah jika jumlah yang dihasilkan sedikit. Bahaya

HASIL DAN PEMBAHASAN. ph 5,12 Total Volatile Solids (TVS) 0,425%

1. Limbah Cair Tahu. Bahan baku (input) Teknologi Energi Hasil/output. Kedelai 60 Kg Air 2700 Kg. Tahu 80 kg. manusia. Proses. Ampas tahu 70 kg Ternak

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

ANALISIS PERAN LIMBAH SAYURAN DAN LIMBAH CAIR TAHU PADA PRODUKSI BIOGAS BERBASIS KOTORAN SAPI

HASIL DAN PEMBAHASAN

MAKALAH PENDAMPING : PARALEL A PENGEMBANGAN PROSES DEGRADASI SAMPAH ORGANIK UNTUK PRODUKSI BIOGAS DAN PUPUK

BIOGAS. Sejarah Biogas. Apa itu Biogas? Bagaimana Biogas Dihasilkan? 5/22/2013

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus hingga bulan Oktober 2014 dan

PROSIDING SNTK TOPI 2013 ISSN Pekanbaru, 27 November 2013

BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan permintaan energi yang disebabkan oleh pertumbuhan populasi

I. PENDAHULUAN. Sebenarnya kebijakan pemanfaatan sumber energi terbarukan pada tataran lebih

LAPORAN PENELITIAN BIOGAS DARI CAMPURAN AMPAS TAHU DAN KOTORAN SAPI : EFEK KOMPOSISI

SNTMUT ISBN:

III. METODE PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilakukan pada bulan Januari hingga Agustus 2015 dan bertempat di

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pemanfaatan Limbah Cair Industri Tahu sebagai Energi Terbarukan. Limbah Cair Industri Tahu COD. Digester Anaerobik

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Bel akang

SNTMUT ISBN:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. suatu gas yang sebagian besar berupa metan (yang memiliki sifat mudah terbakar)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara produsen minyak dunia. Meskipun

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PEMBUATAN BIOGAS dari LIMBAH PETERNAKAN

PENUNTUN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN LIMBAH PETERNAKAN

BAB I PENDAHULUAN. dan energi gas memang sudah dilakukan sejak dahulu. Pemanfaatan energi. berjuta-juta tahun untuk proses pembentukannya.

Pengaruh Pengaturan ph dan Pengaturan Operasional Dalam Produksi Biogas dari Sampah

ANALISIS PERAN LIMBAH CAIR TAHU DALAM PRODUKSI BIOGAS

Pembuatan Biogas dari Sampah Sayur Kubis dan Kotoran Sapi Making Biogas from Waste Vegetable Cabbage and Cow Manure

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

SCIENTIFIC CONFERENCE OF ENVIRONMENTAL TECHNOLOGY IX

Bakteri Untuk Biogas ( Bag.2 ) Proses Biogas

III. METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. hewani yang sangat dibutuhkan untuk tubuh. Hasil dari usaha peternakan terdiri

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang.

BAB I PENDAHULUAN. Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik -1- Universitas Diponegoro

PENGOLAHAN LIMBAH ORGANIK/CAIR MENJADI BIOGAS, PUPUK PADAT DAN CAIR

TINJAUAN LITERATUR. Biogas adalah dekomposisi bahan organik secara anaerob (tertutup dari

BAB I PENDAHULUAN. ini adalah perlunya usaha untuk mengendalikan akibat dari peningkatan timbulan

Analisis Kelayakan Ekonomi Alat Pengolah Sampah Organik Rumah Tangga Menjadi Biogas

BAB I PENDAHULUAN. dipancarkan lagi oleh bumi sebagai sinar inframerah yang panas. Sinar inframerah tersebut di

Produksi gasbio menggunakan Limbah Sayuran

3 METODOLOGI 3.1 WAKTU DAN TEMPAT 3.2 BAHAN DAN ALAT 3.3 TAHAPAN PENELITIAN Pengambilan Bahan Baku Analisis Bahan Baku

Macam macam mikroba pada biogas

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dalam negeri sehingga untuk menutupinya pemerintah mengimpor BBM

Adelia Zelika ( ) Lulu Mahmuda ( )

BIOGAS DARI KOTORAN SAPI

Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata I pada Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik. Oleh: DWI RAMADHANI D

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat (UU RI No.18 Tentang Pengelolaan Sampah, 2008). Untuk

PENGARUH KOMPOSISI BAHAN BAKU KOMPOS (SAMPAH ORGANIK PASAR, AMPAS TAHU, DAN RUMEN SAPI) TERHADAP KUALITAS DAN KUANTITAS KOMPOS

Pengolahan Limbah Cair Tahu secara Anaerob menggunakan Sistem Batch

PEMANFAATAN LIMBAH SEKAM PADI DAN KOTORAN SAPI DALAM PEMBUATAN BIOGAS MENGGUNAKAN ALAT ANAEROBIC BIODIEGESTER

METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Materi Prosedur Persiapan Bahan Baku

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. bahan dasar campuran antara enceng gondok dan kotoran sapi serta air sebagai

POTENSI PEMBENTUKAN BIOGAS PADA PROSES BIODEGRADASI CAMPURAN SAMPAH ORGANIK SEGAR DAN KOTORAN SAPI DALAM BATCH REAKTOR ANAEROB

TINJAUAN PUSTAKA. Limbah ternak adalah sisa buangan dari suatu kegiatan usaha peternakan

JURNAL PENGEMBANGAN BIODIGESTER BERKAPASITAS 200 LITER UNTUK PEMBUATAN BIOGAS DARI KOTORAN SAPI

POTENSI PEMANFAATAN LIMBAH ORGANIK DARI PASAR TRADISIONAL DI BANDAR LAMPUNG SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN KOMPOS DAN BIOGAS

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

MEMBUAT BIOGAS DARI KOTORAN TERNAK

PENGARUH PENAMBAHAN AMPAS KELAPA DAN KULIT PISANG TERHADAP PRODUKSI BIOGAS DARI KOTORAN SAPI

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

PENGARUH PERBEDAAN STATER TERHADAP PRODUKSI BIOGAS DENGAN BAHAN BAKU ECENG GONDOK

Chrisnanda Anggradiar NRP

OP-016 STUDI OPTIMASI KEMATANGAN KOMPOS DARI SAMPAH ORGANIK DENGAN PENAMBAHAN BIOAKTIVATOR LIMBAH RUMEN DAN AIR LINDI

Oleh : Mulyayanti Dosen Pembimbing : Suyanto,ST,MT

PANDUAN TEKNOLOGI APLIKATIF SEDERHANA BIOGAS : KONSEP DASAR DAN IMPLEMENTASINYA DI MASYARAKAT

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian. Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Penelitian ini dilakukan mulai. Bahan dan Alat Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Biogas merupakan gas yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan

I PENDAHULUAN. Hal tersebut menjadi masalah yang perlu diupayakan melalui. terurai menjadi bahan anorganik yang siap diserap oleh tanaman.

PEMBUATAN BIOGAS DARI SAMPAH PASAR

PRODUKSI BIOGAS DARI LIMBAH MAKANAN MELALUI PENINGKATAN SUHU BIODIGESTER ANEAROB. Agus Purnomo 1), Edwi Mahajoeno 2)

PEMBUATAN BIOGAS DARI LIMBAH CAIR INDUSTRI BIOETANOL MELALUI PROSES ANAEROB (FERMENTASI)

BAB II LANDASAN TEORI

I. PENDAHULUAN. perantara jamu gendong (Muslimin dkk., 2009).

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

PENDAHULUAN. padat (feses) dan limbah cair (urine). Feses sebagian besar terdiri atas bahan organik

Diajukan Sebagai Persyaratan Untuk Menyelesaikan Pendidikan Diploma III Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Sriwijaya

PENGARUH PENAMBAHAN BERBAGAI AKTIVATOR DALAM PROSES PENGOMPOSAN SEKAM PADI (Oryza sativa)

BAB II LANDASAN TEORI

Nama : Putri Kendaliman Wulandari NPM : Jurusan : Teknik Industri Pembimbing : Dr. Ir. Rakhma Oktavina, M.T Ratih Wulandari, S.T, M.

BAB I PENDAHULUAN. meningkatnya jumlah penduduk. Namun demikian, hal ini tidak diiringi dengan

PENGARUH EM4 (EFFECTIVE MICROORGANISME) TERHADAP PRODUKSI BIOGAS MENGGUNAKAN BAHAN BAKU KOTORAN SAPI

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PEMBUATAN BIOGAS DARI LIMBAH CAIR TEPUNG IKAN SKRIPSI

LAPORAN TUGAS AKHIR PEMANFAATAN LIMBAH PERTANIAN (JERAMI) DAN KOTORAN SAPI MENJADI BIOGAS

PRODUKSI BIOGAS DARI CAMPURAN KOTORAN SAPI DENGAN KOTORAN AYAM

Pengaruh Variasi Bobot Bulking Agent Terhadap Waktu Pengomposan Sampah Organik Rumah Makan

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan April Juli 2015 di Laboratorium Daya dan

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari - Mei 2014 di Laborartorium

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2010 sampai dengan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerob (bakteri yang hidup

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

Transkripsi:

Uji Pembentukan Biogas dari Sampah Pasar Dengan Penambahan Kotoran Ayam Yommi Dewilda, Yenni, Dila Kartika Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Andalas Kampus Unand Limau Manis Padang 25163 yommidewilda@yahoo.com Abstrak Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan kotoran ayam dalam pembentukan biogas dari sampah pasar (sayur dan buah) tanpa pengkondisian lingkungan digester. Metode yang digunakan adalah anaerobic batch digester skala laboratorium 50 liter. Penentuan komposisi gas CH 4 dan CO 2 melalui metode absorbsi dengan menggunakan absorban alkohol sedangkan komposisi gas CO2 menggunakan absorban NaOH. Penelitian dilakukan selama 30 hari. Digester terdiri dari digester kontrol dan digester uji. Digester kontrol diisi dengan sampah sayur dan buah (C/N=37,6087; kadar air=55,3790%) dan penambahan air. Digester uji diisi dengan campuran sampah sayur dan buah, kotoran ayam (C/N=6,6320; kadar air 65,7653%) dan penambahan air. Digester kontrol dan uji diisi sebanyak 30 liter. Setelah pengamatan 30 hari, maka didapat produksi kumulatif biogas rata-rata adalah 21,20 liter (digester kontrol) dan 22,67 liter (digester uji). Komposisi rata-rata gas CH 4 dan CO 2 pada pengujian hari ke-16 adalah 5,5787% dan 1,5031% (digester kontrol), 10,7181% dan 1,7516% (digester uji). Komposisi rata-rata gas CH 4 dan CO 2 pada pengujian ke-30 adalah 11,2669% dan 2,5941% (digester kontrol), 25,1390% dan 3,0886% (digester uji). Penambahan kotoran ayam tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan biogas. Kata kunci: biogas, digester, kotoran ayam, sampah sayur dan buah 1 Pendahuluan Kota Padang merupakan salah satu kota di Indonesia yang menghasilkan sampah organik dalam jumlah yang cukup besar. Salah satu lokasi di Kota Padang yang berkontribusi dalam dalam menghasilkan sampah organik ini adalah adalah Pasar Raya. Komposisi sampah organik yang dihasilkan Pasar Raya mencapai 83,67% (Desnifa, 2009). Dengan kandungan bahan organik yang cukup besar ini, sampah Pasar Raya Kota Padang memiliki potensi untuk dijadikan bahan baku pembuatan biogas. Digunakannya sampah organik menjadi bahan baku pembuatan biogas akan sangat berpengaruh terhadap pengurangan jumlah timbulan sampah yang masuk ke TPA. 99

Berkurangnya timbulan sampah yang masuk ke TPA dapat mengurangi emisi gas CH 4 ke atmosfer sehingga dapat memperkecil resiko global warming. Selain itu, sisa dari proses pembentukan biogas ini tidak akan mencemari lingkungan karena sisa yang dihasilkan sudah berupa sampah yang stabil yang tidak berbau dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Pemanfaatan limbah dengan cara ini secara ekonomi akan sangat kompetitif seiring naiknya harga bahan bakar minyak dan pupuk organik. Dalam penelitian ini, dilakukan penambahan kotoran ayam terhadap sampah organik. Penambahan kotoran ayam dimaksudkan sebagai bahan tambahan yang berperan dalam fermentasi bahan organik yang terkandung dalam sampah hingga menjadi biogas. Menurut Purnomo (2009), produksi biogas terbaik diperoleh dari substrat limbah makanan dengan penambahan kotoran ayam. Kotoran ayam mengandung lebih banyak nitrogen sehingga dapat menghasilkan biogas dan pupuk lebih banyak (Insani, 2010). Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai uji pembentukan biogas dari sampah organik dengan penambahan kotoran ayam. 2. Metodologi Penelitian dilakukan secara batch anaerobic skala laboratorium, dengan mempertimbangkan rentang kondisi ideal (rasio C/N dan kadar air) untuk pembentukan biogas berdasarkan literatur. Penelitian uji pembentukan biogas ini dilaksanakan di Ruang Penelitian Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Andalas, Padang. Peralatan Penelitian Digester yang digunakan dalam penelitian ini merupakan hasil modifikasi rancangan Mayasari, dkk (2010) dengan tipe floating drum. Pertimbangan pemilihan tipe floating drum ini adalah untuk memudahkan perhitungan volume gas setiap hari yang terbentuk selama proses fermentasi. Rangkaian digester yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 4 unit, terdiri dari 2 unit rangkaian digester uji dan 2 unit rangkaian digester kontrol. Rangkaian alat yang berjumlah 2 unit untuk masing-masing digester kontrol dan uji (duplo) bertujuan agar percobaan yang dilakukan dapat menghasilkan data yang akurat. Rangkaian alat digester floating drum dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Perencanaan Digester 100

Alat-alat yang digunakan dalam rangkaian alat ini sebagai berikut: a. Drum aluminium volume 50 liter sebanyak 4 unit sebagai digester; b. Drum aluminium volume 30 liter sebanyak 4 unit sebagai pengumpul gas; c. Drum besi volume 95 liter sebanyak 4 unit untuk rangkaian floating drum; d. Kran sebanyak 12 unit; e. Selang HDPE panjang ± 2 m sebagai penyalur gas. Peralatan pendukung penelitian meliputi: a. Alat pencacah sampah dan oven; b. Neraca analitik dan termometer; c. Kertas ph dan meteran. Bahan Penelitian Bahan isian yang digunakan yaitu substrat sampah sayur dan buah dari Pasar Raya Kota Padang, ko-substrat kotoran ayam dan air. Kotoran ayam berasal dari salah satu peternakan ayam yang ada di Kota Padang. Air yang digunakan pada penelitian ini berasal dari air kran Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Andalas, Padang. Prosedur pembuatan bahan isian adalah sebagai berikut: a. Memilah sampah organik (sampah yang digunakan sebagai substrat pada penelitian ini berupa sampah sayur-sayuran dan buah-buahan); b. Mencacah sampah sayur dan buah; c. Membuat bahan isian digester kontrol, yaitu dengan mencampurkan substrat sampah organik dan air; d. Membuat bahan isian digester uji, yaitu dengan mencampurkan substrat sampah organik dengan ko-substrat kotoran ayam dan air; e. Mengaduk bahan isian untuk masing-masing digester sampai merata; f. Memasukkan bahan isian yang telah diaduk ke dalam digester; g. Menambahkan starter EM-4 sebanyak 7 ml/digester, untuk mempercepat tercapainya tahap hidrolisis dan mempercepat proses penguraian bahan isian. Bahan isian yang dimasukkan ke dalam digester memenuhi 2/3 bagian dari volume digester, yaitu ±30 liter. Uji Pendahuluan Uji pendahuluan meliputi penentuan rasio C/N dan kadar air substrat sampah organik dan ko-substrat kotoran ayam, yang digunakan untuk menentukan perbandingan jumlah substrat, ko-substrat dan air yang digunakan sebagai bahan isian pembentukan biogas. Hasil uji pendahuluan ditinjukkan pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil Uji Pendahuluan Uji Pendahuluan Bahan Isian Sampah Sayur dan Buah Kotoran Ayam Rasio C/N 37,6087 6,6320 Kadar Air (%) 55,3790 65,7653 101

Penentuan Jumlah Substrat, Ko-substrat dan Air Rasio C/N yang disyaratkan untuk pembentukan biogas, yaitu 20-30 (Fithry, 2010). Kadar air yang disyaratkan untuk pembentukan biogas, yaitu 91-93% (Ratnaningsih, 2009). Jumlah substrat dan ko-substrat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut (Yuwono, 2006): (A x B) (Cx D) C/N B D Keterangan: C/N : nilai rasio C/N yang dicari A : nilai rasio C/N bahan 1 B : massa/volume bahan 1 C : nilai rasio C/N bahan 2 D : massa/volume bahan 2 Tabel 2 menunjukkan jumlah substrat, ko-substrat dan air yang digunakan pada penelitian ini (yang ditetapkan berdasarkan hasil uji pendahuluan) serta kondisi awal bahan isian pada penelitian ini. Digester Tabel 2. Jumlah substrat, ko-substrat dan air Jenis Substrat Rasio C/N (1) Kadar Air (%) Kontrol 1 Substrat + Air 34,3949 91,3592 Kontrol 2 Substrat + Air 34,0667 90,6927 Uji 1 Substrat + Ko-substrat + Air 26,4584 92,9148 Uji 2 Substrat + Ko-substrat + Air 26,0334 90,4286 Pembuatan Biogas Berdasarkan jenis bahan isian yang digunakan, maka pembuatan biogas pada penelitian ini dapat dibedakan sebagai berikut: a. Digester kontrol (substrat sampah sayur dan buah + air) b. Digester uji (substrat sampah sayur dan buah + ko-substrat kotoran ayam + air) Parameter yang diamati adalah: a. ph Pemantauan ph dilakukan 1 kali dalam 5 hari menggunakan kertas ph. b. Temperatur Pemantauan temperatur dilakukan 1 kali dalam 5 hari menggunakan termometer. c. Level kenaikan drum pengumpul gas Kenaikan drum pengumpul biogas diamati setiap harinya. Proses pengadukan dilakukan setiap hari untuk menghindari terbentuknya kerak (scum). Pengadukan dilakukan dengan cara menggoyangkan digester. Pembentukan biogas direncanakan berlangsung dengan memanfaatkan rentang temperatur Kota Padang yang berkisar 22-31,7 C (termasuk rentang temperatur 102

mesophilic), sehingga tidak dilakukan pemanasan digester ataupun pengkondisian temperatur (Mayasari dkk, 2010). Menurut Deublein & Steinhauser (2008), waktu tinggal yang cocok untuk rentang temperatur mesophilic adalah 30 hari. 3. Hasil dan Pembahasan Perbandingan Biogas dari Digester Kontrol dengan Biogas dari Digester Uji A. Volume Biogas Perhitungan volume dilakukan dengan melihat perubahan ketinggian drum aluminium pengumpul biogas. Volume biogas dihitung dengan menggunakan rumus volume tabung yaitu mengalikan luas permukaan dengan tinggi kenaikan drum pengumpul biogas. Produksi harian biogas untuk digester uji dimulai lebih awal dibandingkan dengan digester kontrol. Dimana digester uji dimulai pada hari ke-2 sedangakan digester kontrol dimulai pada hari ke-4. Hal ini bisa disebabkan oleh jumlah bakteri yang berperan dalam bahan isian dalam digester uji untuk memproduksi biogas tidak sama dengan jumlah bakteri yang terdapat dalam digester kontrol pada waktu yang sama. Hal ini juga dikarenakan bakteri hidrolitik terdapat dalam jumlah yang besar dalam kotoran unggas karena reproduksinya sangat cepat. Bakteri ini memecah senyawa organik kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana (Siallagan, 2010). Volume kumulatif biogas yang dihasilkan digester uji tidak jauh lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan volume biogas kumulatif yang dihasilkan digester kontrol. Ratarata volume biogas kumulatif digester uji adalah 22,67 liter, sedangkan rata-rata volume biogas kumulatif digester kontrol adalah 21,20 liter. Dapat disimpulkan bahwa penambahan ko-substrat kotoran ayam ke dalam substrat sampah sayur dan buah, tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap volume biogas yang dihasilkan yaitu sekitar ±3,35% lebih besar daripada pembentukan biogas dari substrat sampah sayur dan buah saja. Terjadi perbedaan nilai ph yang sedikit berarti antara digester kontrol dan digester uji. Digester kontrol cenderung memiliki ph asam dari awal hingga akhir penelitian. Namun, nilai ph untuk digester uji cenderung naik hingga mencapai angka mendekati netral. Hasil pengamatan ph digester kontrol dan uji selama 30 hari pengujian pembentukan biogas menunjukkan kondisi yang asam, dan kenaikan ph yang terjadi hanya mampu mencapai ph 6 (digester uji) dan ph 5 (digester kontrol). Kondisi ini menunjukkan bahwa, bakteri penghasil asam tumbuh terlalu cepat sehingga asam yang dihasilkan akan lebih banyak dari jumlah yang dapat dikonsumsi oleh bakteri penghasil metan, akibatnya sistem akan terlalu asam (Ratnaningsih, 2009). Walaupun demikian, tidak berarti bahwa gas metan belum diproduksi. Metana tetap diproduksi oleh bakteri metan tetapi belum optimal. Ada sebagian bakteri metan yang mampu bertahan pada ph dibawah 4 dengan hasil kerja yang tidak optimal (Ramli, 2009). Nilai temperatur digester kontrol dan digester uji tidak jauh berbeda (26 0 C-28,5 0 ) karena tidak adanya pengkondisian temperatur optimum selama proses pembentukan biogas. Nilai temperatur yang berperan dalam proses pembentukan 103

biogas ini mengakibatkan proses pembentukan metana berlangsung tidak sempurna dan memerlukan waktu yang lama untuk sampai ke tahap ini. Temperatur kerja yang optimum untuk penghasil biogas adalah 35 C, sedangkan pencernaan anaerobik dapat berlangsung pada kisaran 5 C sampai 55 C. Sehingga gas metan masih dihasilkan selama proses fermentasi, namun tidak optimum (Kadarwati, 2003 dalam Chotimah, 2010). Pada pengujian di laboratorium, pembentukan gas CH 4 juga berlangsung pada temperatur yang sangat dingin (hingga di bawah -3ºC). Berdasarkan beberapa literatur di atas, dapat disimpulkan bahwa pembentukan biogas bisa berlangsung pada kisaran temperatur -3ºC hingga 60ºC. Akan tetapi, pengaturan temperatur digester sulit dilaksanakan (Damanhuri, 2008). Oleh karena itu, penggunaan temperatur lokal sepertinya sudah cukup baik untuk menghasilkan biogas. B. Perbandingan Komposisi Biogas Penentuan komposisi biogas yang dihasilkan digester kontrol dan uji dilaksanakan dengan 2 (dua) metode yang sama, yaitu dengan uji kuantitatif dan uji kualitatif. Penentuan komposisi biogas dilaksanakan 2 kali, yaitu pada hari ke-16 dan hari ke- 30. Perbandingan Uji Kuantitatif Pengukuran komposisi biogas dilakukan dengan metode absorbsi gas. Gas yang terbentuk ditampung dalam tangki penampung gas yang terhubung dengan digester. Gas yang telah terkumpul disalurkan ke absorban CO 2 (NaOH) dan absorban CH 4 (alkohol) untuk dihitung komposisinya. Kandungan gas CH 4 untuk masing masing digester kontrol dan uji masih dapat dikatakan sangat rendah. Digester uji sedikit mengungguli kandungan gas CH 4 untuk digester kontrol. Pada pengujian hari ke-16, kandungan gas CH 4 dan CO 2 rata-rata digester kontrol adalah 5,5787% dan 1,5031%. Pada pengujian hari ke-30, kandungan gas CH 4 dan CO 2 rata-rata digester kontrol adalah 11,2669% dan 2,5941%. Pada pengujian hari ke-16, kandungan gas CH 4 dan CO 2 rata-rata digester uji adalah 10,7181% dan 1,7516%. Pada pengujian hari ke-30, kandungan gas CH 4 dan CO 2 rata-rata digester uji adalah 25,1390% dan 3,0886%. Pada pengujian hari ke-16, gas CH 4 dan CO 2 rata-rata digester uji relatif lebih besar dari digester kontrol, yaitu 31,54% untuk CH 4 dan 7,64% untuk CO 2. Pada pengujian hari ke-30, gas CH 4 dan CO 2 rata-rata digester uji relatif lebih besar daripada digester kontrol, yaitu 38,10% untuk CH 4 dan 8,70% untuk CO 2. Dapat disimpulkan bahwa, kotoran ayam memberikan pengaruh terhadap kandungan metan yang akan terbentuk selama proses fermentasi. Kotoran ayam dapat meningkatkan nilai ph selama proses pembentukan biogas yang menyebabkan proses pembentukan biogas dapat berlangsung sehingga biogas yang dihasilkan memiliki kadar metan yang lebih tinggi dibandingkan dengan digester kontrol. 104

Perbandingan Uji Kualitatif Uji kualitatif yang dilakukan terhadap digester kontrol dan uji ternyata tidak memiliki perbedaan yang berarti. Ini dikarenakan kandungan metan yang terkandung dalam biogas kontrol dan uji cenderung sama. Pada proses uji kualitatif pertama dan kedua diketahui bahwa kualitas gas yang dihasilkan dari kedua digester kontrol dan uji tergolong sangat rendah. Biogas yang dikeluarkan dari masing-masing digester kontrol dan uji tidak dapat terbakar, yang berarti bahwa gas metan yang terdapat dalam biogas digester kontrol sangat sedikit pada saat uji kuantitatif pertama dan kedua. Hal ini sesuai dengan hasil uji kuantitatif biogas digester kontrol dan uji yang menunjukkan persentase gas metan yang kecil. Kondisi Akhir Bahan Isian Penentuan rasio C/N dan kadar akhir bahan isian, digunakan untuk melihat perubahan kondisi bahan isian setelah dicerna dalam digester selama 30 hari. Pada hari ke-30, nilai rasio C/N bahan isian digester kontrol turun menjadi 10,9936 (kontrol 1) dan 11,3067 (kontrol 2). Nilai rasio C/N bahan isian digester uji mengalami penurunan hingga menjadi 16,3938 (uji 1) dan 17,6778 (uji 2). Unsur karbon dan bahan organik merupakan makanan pokok bagi bakteri anaerob. Dari hasil penelitian diperoleh nilai imbangan C/N akhir dari tiap-tiap bahan isian nilainya semakin kecil setelah mengalami proses fermentasi selama 30 hari. Hal ini disebabkan oleh unsur karbon dan bahan organik lainnya terurai. Menurut Wulandari (2006) dalam Harahap (2007), unsur carbon (C) sebagai energinya dan nitrogen (N) akan digunakan bakteri sebagai bahan untuk membangun struktur sel tubuhnya. Itulah sebabnya mengapa ratio C/N semakin menurun. Dilihat dari nilai akhir C/N dan kadar air, maka kondisi akhir bahan isian pembentukan biogas ini dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Nilai rasio C/N akhir untuk digester kontrol 1 dan 2 berturut-turut adalah 10,9936 dan 11,3067. Sedangkan untuk digester uji 1 dan uji 2 berturut-turut adalah 16,3938 dan 17,6778. Rasio C/N untuk pupuk adalah 10-20 dengan kadar air maksimum 50% (SNI: 19-7030-2004). 4. Kesimpulan Digester uji menghasilkan biogas dengan volume yang relatif lebih besar 3,35% dibandingkan digester kontrol. Penambahan ko-substrat kotoran ayam ke dalam substrat sampah sayur dan buah dapat mempercepat pembentukan biogas pada tahap awal. Akan tetapi, ko-substrat kotoran ayam tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap volume maupun komposisi CH 4 yang akan terbentuk. Hal ini dikarenakan kotoran ayam lebih banyak mengandung bakteri hidrolitik yang dapat mempercepat proses awal. Saran 1. Penambahan inokulum bakteri metan sebelum penelitian pembentukan biogas dimulai; 105

2. Adanya pengkondisian ph dan temperatur hingga memenuhi kondisi optimum pembentukan biogas; 3. Adanya pengkuran terhadap gas-gas lain yang dihasilkan selama proses pembentukan biogas; 4. Sebaiknya perhitungan komposisi biogas dilaksanakan dengan menggunakan Gas Chromatography agar hasil yang didapatkan lebih akurat; 5. Adanya identifikasi bakteri selama proses pembentukan biogas. Daftar Pustaka Chotimah, Siti Nur. 2010. Pembuatan Biogas Dari Limbah Makanan Dengan Variasi Dan Suhu Substrat Dalam Biodigester Anaerob. Tugas Akhir. Jurusan Biologi USM: Surakarta Damanhuri, Enri, 2010. Diktat Pengelolaan Sampah. Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung: Bandung Damanhuri, Enri, 1993. Pengaruh Perubahan Temperatur Terhadap Produksi Gas Metan Dari Sampah Dengan Kadar Materi Terbiodegradasi Tinggi. Jurnal Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung No. 2 Vol. 1: Bandung Desnifa, Lea. 2009. Satuan Timbulan, Komposisi dan Potensi Daur Ulang Sampah Komersil Kota Padang Tahun 2009. Tugas Akhir. Teknik Lingkungan Universitas Andalas: Padang Fitrhy, Yulia. 2010. Pengaruh Penambahan Cairan Rumen Sapi Pada Pembentukan Biogas Dari Sampah Buah Mangga Dan Semangka. Tesis. Universitas Gadjah Mada: Yogyakarta Mayasari, dkk. 2010. Pembuatan Biodigester Dengan Uji Coba Kotoran Sapi Sebagai Bahan Baku. Laporan Tugas Akhir. Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik USM: Surakarta Purnomo, Agus. 2010. Pengaruh Suhu dan Sumber Inokulum Terhadap Produksi Biogas dari Limbah Makanan Pada Perombakan Anaerob. Skripsi. Jurusan Biologi Fakultas FMIPA USM: Surakarta Ramli, Muhammad dan Suprihatin. 2009. Beban Pencemaran Limbah Cair Industri tahu dan Analisis Alternatif Strategi Pengelolaannya. Jurnal Purifikasi, Jakarta: No. 2, Vol 10 Desember 2009 Ratnaningsih. 2009. Potensi Pemebentukan Biogas Pada Proses Biodegradasi Campuran Sampah Organik Segar Dan Kotoran Sapi Dalam Batch reaktor Anaerob. Tugas Akhir. Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Trisakti: Jakarta Siallagan, Nurmay Siska Rosilawati 2010. Kinerja Bioreaktor Anaerobik Terhadap Pengaruh Waktu Tinggal Dan Perbandingan Limbah Cair Tahu Dengan Air Pada Proses Fermentasi Dalam Menghasilkan Biogas. Tesis. Fakultas Teknik USU: Medan Yuwono, Dipo. 2006. Kompos. Cetakan Ketiga. Penebar Swadaya: Jakarta 106