BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Undang-undang Dasar 1945 menjelaskan dengan tegas, bahwa

dokumen-dokumen yang mirip
NASKAH AKADEMIK PENULISAN HUKUM/SKRIPSI URGENSI PENGANCAMAN PIDANA KURUNGAN UNTUK MENANGGULANGI PENGEMISAN DI MUKA UMUM

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara kesejahteraan (welfare state). Itulah konsep

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam Penjelasan Undang Undang Dasar 1945, telah dijelaskan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara kesejahteraan (welfare state). Itulah konsep negara

BAB I PENDAHULUAN. bisa dilakukan secara merata ke daerah-daerah, khususnya di bidang ekonomi

BAB I PENDAHULUAN. Tercatat 673 kasus terjadi, naik dari tahun 2011, yakni 480 kasus. 1

BAB I PENDAHULUAN. dampak negatif bagi pihak-pihak tertentu. adalah Yayasan Lembaga Pengkajian Sosial (YLPS) Humana Yogyakarta.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pengemis merupakan salah satu golongan masyarakat yang harus

yang tersendiri yang terpisah dari Peradilan umum. 1

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Negara republik Indonesia adalah negara hukum, berdasarkan pancasila

BAB I PENDAHULUAN. kekerasan. Tindak kekerasan merupakan suatu tindakan kejahatan yang. yang berlaku terutama norma hukum pidana.

BAB I PENDAHULUAN. paling dominan adalah semakin terpuruknya nilai-nilai perekonomian yang

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari realitas kehidupan. masyarakat. Pengaturan tentang Fakir mskin dan anak-anak terlantar

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Praperadilan merupakan lembaga baru dalam dunia peradilan di

BAB I PENDAHULUAN. makmur yang merata materiil dan spirituil berdasarkan Pancasila dan Undang-

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang dan peraturan serta ketentuan-ketentuan lain yang berlaku di

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

BAB I PENDAHULUAN. pidana yang diancamkan terhadap pelanggaran larangan 1. Masalah pertama

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam kehidupan masyarakat di Indonesia perjudian masih menjadi

BAB I PENDAHULUAN. Dalam penjelasan Undang-Undang Dasar 1945, telah ditegaskan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. memberikan efek negatif yang cukup besar bagi anak sebagai korban.

I. PENDAHULUAN. Hukum merupakan seperangkat aturan yang diterapkan dalam rangka menjamin

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pada era globalisasi seperti sekarang ini, perkembangan

BAB I PENDAHULUAN. eksistensi negara modern, dan oleh karena itu masing-masing negara berusaha

BAB I PENDAHULUAN. ditegaskan dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-undang Dasar Tahun Setiap

BAB I PENDAHULUAN. yang memiliki derajat yang sama dengan yang lain. untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran. Dalam Pasal 2 Undang-undang

BAB I PENDAHULUAN. kematian dan cedera ringan sampai yang berat berupa kematian.

BAB I PENDAHULUAN. Negara Indonesia berdasarkan hukum (Rechstaat), tidak berdasarkan atas

BAB I PENDAHULUAN. yang berkaitan dengan modus-modus kejahatan.

dikualifikasikan sebagai tindak pidana formil.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil, dan

BAB I PENDAHULUAN. kelompok masyarakat, baik di kota maupun di desa, baik yang masih primitif

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan negara berkembang yang dari waktu ke waktu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan Negara hukum sebagaimana diatur dalam Pasal

BAB I PENDAHULUAN. manusia dalam pergaulan di tengah kehidupan masyarakat dan demi kepentingan

BAB I PENDAHULUAN. Perbuatan yang oleh hukum pidana dilarang dan diancam dengan pidana

BAB I PENDAHULUAN. informasi dan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi.

BAB I PENDAHULUAN. Negara merupakan sebuah kesatuan wilayah dari unsur-unsur negara, 1 yang

BAB I PENDAHULUAN. hidup masyarakat Indonesia sejak dahulu hingga sekarang. banyaknya persoalan-persoalan yang mempengaruhinya. Salah satu persoalan

BAB I PENDAHULUAN. Pembukaan Undang-Undang Dasar tahun 1945 yaitu melindungi segenap

BAB I PENDAHULUAN. 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 amandemen ke-iii. Dalam Negara

BAB I PENDAHULUAN. tertib, keamanan dan ketentraman dalam masyarakat, baik itu merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Anak Di Indonesia. hlm Setya Wahyudi, 2011, Implementasi Ide Diversi Dalam Pembaruan Sistem Peradilan Pidana

BAB I PENDAHULUAN. yang bertujuan mengatur tata tertib dalam kehidupan masyarakat.

BAB I PENDAHULUAN. kurangnya kualitas sumber daya manusia staf Lembaga Pemasyarakatan, minimnya fasilitas dalam Lembaga Pemasyarakatan.

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat, sehingga harus diberantas 1. hidup masyarakat Indonesia sejak dulu hingga saat ini.

BAB I PENDAHULUAN. bermanfaat bagi pengobatan, tetapi jika dikonsumsi secara berlebihan atau tidak. rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.

BAB I PENDAHULUAN. (rechtsstaat), tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka (machtsstaat). Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. bahkan hampir tiap hari terjadi kasus terhadap anak berupa eksploitasi

BAB I PENDAHULUAN. Perbuatan tersebut selain melanggar dan menyimpang dari hukum juga

BAB I PENDAHULUAN. nasional. Adanya ketidakseimbangan antara perlindungan terhadap. korban kejahatan dengan perlindungan terhadap pelaku, merupakan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam kehidupan di masyarakat sering sekali terjadi pelanggaran terhadap

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) adalah Kepolisian

BAB I PENDAHULUAN. A. Alasan Pemilihan Judul. Pidana Penjara Seumur Hidup (selanjutnya disebut pidana seumur hidup)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembicaraan tentang anak dan perlindungan tidak akan pernah

BAB I PENDAHULUAN. terus menerus termasuk derajat kesehatannya. dengan mengusahakan ketersediaan narkotika dan obat-obatan jenis tertentu

BAB III METODE PENELITIAN. Sesuai dengan rumusan yang akan dibahas, maka pendekatan masalah dalam

BAB I PENDAHULUAN. penjelasan Undang-Undang Dasar 1945 yang mengatur bahwa Negara

BAB I PENDAHULUAN. Untuk menjaga peraturan-peraturan hukum itu dapat berlangsung lurus

berlandaskan pada pancasila dan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 yang Indonesia harus taat dan patuh terhadap hukum yang ada di Indonesia dan

BAB I PENDAHULUAN. mampu memimpin serta memelihara kesatuan dan persatuan bangsa dalam. dan tantangan dalam masyarakat dan kadang-kadang dijumpai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan Negara hukum, hal ini telah dinyatakan dalam

I. PENDAHULUAN. masing-masing wilayah negara, contohnya di Indonesia. Indonesia memiliki Hukum

BAB I PENDAHULUAN. lingkungannyalah yang akan membentuk karakter anak. Dalam bukunya yang berjudul Children Are From Heaven, John Gray

BAB I PENDAHULUAN. berpartisipasi serta berhak atas perlindungan dari tindak kekerasan dan. diskriminasi serta hak sipil dan kebebasan.

KRIMINALISASI PERBUATAN MENGEMIS DI TEMPAT UMUM DAN PELANCONG YANG TIDAK MEMPUNYAI PENGHASILAN DALAM PASAL 504 DAN 505 KITAB UNDANG-UNDANG

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Negara Republik Indonesia sebagai negara hukum yang berdasarkan

BAB I PENDAHULUAN. berkembang secara optimal baik fisik, mental maupun sosial, untuk. mewujudkannya diperlukan upaya perlindungan terhadap anak.

BAB I PENDAHULUAN. yang baik dan yang buruk, yang akan membimbing, dan mengarahkan. jawab atas semua tindakan yang dilakukannya.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Belakangan ini banyak sekali ditemukan kasus-kasus tentang

I. PENDAHULUAN. merupakan peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh setiap masyarakat agar

BAB I PENDAHULUAN. dilakukan oleh sekelompok atau suatu rumpun masyarakat. Kata tawuran

BAB I PENDAHULUAN. termasuk kategori kejahatan kemanusiaan (crime of humanity),apalagi

BAB I PENDAHULUAN. lazim disebut norma. Norma adalah istilah yang sering digunakan untuk

BAB I PENDAHULUAN. banyak anak yang belum tercukupi kebutuhan hidupnya. Hambatan-hambatan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Negara Indonesia adalah negara berdasarkan UUD 1945 sebagai konstitusi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Menurut Barda Nawawi Arief, pembaharuan hukum pidana tidak

I. PENDAHULUAN. seluruh masyarakat untuk meningkatkan mutu kehidupannya, sebagaimana yang

BAB I PENDAHULUAN. yang telah tercakup dalam undang-undang maupun yang belum tercantum dalam

I. PENDAHULUAN. Negara Republik Indonesia. Kepolisian adalah hak-ihwal berkaitan dengan fungsi

BAB I PENDAHULUAN. faktor sumber daya manusia yang berpotensi dan sebagai generasi penerus citacita

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan negara hukum yang menjunjung tinggi nilai-nilai

BAB I PENDAHULUAN. penjajahan mencapai puncaknya dengan di Proklamasikan Kemerdekaan. kita mampu untuk mengatur diri sendiri. 1

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Anak bukanlah untuk dihukum tetapi harus diberikan bimbingan dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam kehidupan di masyarakat sering sekali pelanggaran terhadap

BAB I PENDAHULUAN. peraturan-peraturan tentang pelanggaran (overtredingen), kejahatan

BAB I PENDAHULUAN. yang berbeda. Itu sebabnya dalam keseharian kita dapat menangkap berbagai komentar

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sistem transportasi adalah suatu hal yang penting bagi suatu kota,

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Hukum dan pelanggaran hukum dapat dikatakan merupakan satu

BAB I PENDAHULUAN. pemerintahan tanpa kecuali. Hukum merupakan kaidah yang berupa perintah

BAB I PENDAHULUAN. terlihat pada ujud pidana yang termuat dalam pasal pasal KUHP yaitu

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara hukum yang memiliki konstitusi tertinggi dalam

BAB I PENDAHULUAN. aka dikenakan sangsi yang disebut pidana. mempunyai latar belakang serta kepentingan yang berbeda-beda, sehingga dalam

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Anak adalah amanah sekaligus karunia Tuhan Yang Maha Esa,

BAB I PENDAHULUAN. sekali terjadi, bahkan berjumlah terbesar diantara jenis-jenis kejahatan terhadap

BAB I PENDAHULUAN. besar peranannya di dalam mewujudkan cita-cita pembangunan. Dengan. mewujudkan suatu masyarakat yang adil dan makmur.

I. PENDAHULUAN. persamaan perlakuan (equal treatment). Berdasarkan Pasal 34 ayat (1) Undang-

PENEGAKAN HUKUM TERHADAP ANGGOTA MILITER YANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA NARKOTIKA DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN MILITER II 11 YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia sebagai negara hukum berdasarkan Pancasila dan UUD

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Undang-undang Dasar 1945 menjelaskan dengan tegas, bahwa Negara Indonesia berdasarkan atas hukum (rechstaat), tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka (machtsstaat). Hal ini berarti bahwa Republik Indonesia ialah negara hukum yang demokratis berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar, menjunjung tinggi hak asasi manusia dan menjamin segala warganegara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintah, serta wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada pengecualiannya. Demi mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil, makmur, dan merata secara materiil dan spirituil berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945, penegakan hukum harus dilaksanakan secara tegas dan konsisten. Indonesia adalah negara kesejahteraan (welfare state), itulah konsep negara yang dianut oleh bangsa indonesia sebagaimana pernyataan Jimly Ashiddiq, sebagai berikut: Undang-Undang Dasar 1945 bukan hanya konstitusi politik, tetapi juga kostitusi ekonomi dan sosial budaya, karena itulah konsep negara yang dianut dalam Undang-Undang Dasar 1945 adalah negara kesejahteraan, namun berbagai masalah pendidikan, kesehatan, pendidikan rasa aman dan kesejahteraan umum belum terselesaikan dengan baik, artinya cita-cita nasional seperti yang dituangkan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, dan 1

2 implementasi dari Pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945 belum berhasil dicapai dengan baik. 1 Negara kesejahteraan sejatinya adalah strategi pembangunan kesejahteraan sosial yang memberi peran lebih besar kepada negara dalam penyelenggaraan sistem jaminan sosial terencana, melembaga dan berkesinambungan. Bentuk perlindungan negara mencakup jaminan sosial dasar yang melindungi warga negaranya dari resiko kehilangan pendapatan karena sakit, kematian, mengangur, kecelakan kerja dan kehamilan. 2 Penegakan hukum masa sekarang ini diberi makna yang lebih luas tidak hanya menyangkut pelaksanaan hukum, tetapi juga meliputi langkah preventif, dalam arti pembuatan undang-undang. Menurut Andi Hamzah, istilah penegakan hukum sering disalahartikan seakan-akan hanya bergerak dibidang hukum pidana atau hanya dibidang hukum represif, istilah penegakan hukum disini meliputi, baik hukum yang represif maupun yang preventif, berbeda dengan istilah inggris yaitu law enforcement yang sekarang diberi makna represif, sedangkan yang preventif berupa pemberian informasi, dan petunjuk yang disebut law compliance, yang berarti pemenuhan atau penataan hukum. 3 1 Emir Soendoro, Jaminan Sosial Solusi Bangsa Indonesia Brdikari, (jakarta: Dinov Progress Indonesia, 2009), halaman. 35 2 Ibid, hlm. 36 3 Nyoman serikat Putra Jaya, Beberapa Pemikiran Kearah Pengembangan Hukum Pidana,(Bandung:Citra Aditya Bakti, 2008), hlm. 133-134.

3 Berkaitan dengan penegakan hukum terhadap pengemisan di muka umum, Pasal 504 KUHP menentukan sebagai berikut : 1. Barang siapa mengemis dimuka umum,diancam kerena melakukan pengemisan dengan pidana kurungan paling lama enam minggu. 2. Pengemisan yang dilakukan oleh tiga orang atau lebih yang berumur enam belas tahun, diancam dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan. Pengemisan dapat mengganggu orang yang sedang berpergian, dianggap kurang pantas dan amat memalukan, akan tetapi jika datang meminta-minta di rumah, tidak dikenakan pasal ini,asal tidak kelihatan di jalan umum. 4 R. Soesilo mendefisikan minta-minta atau mengemis dapat dilakukan dengan meminta secara lisan, tertulis atau memakai gerak-gerik, termasuk juga dalamkatagori pengertian ini adalah menjual lagu-lagu dengan jalan menyanyi main gitar, biola, angklung, musik serta menyodorkan permainan sepanjang toko-toko dan rumah-rumah yang bisa dilakukan dikota-kota besar. 5 Dalam pengertian lain pengemis adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dari meminta-minta dimuka umum dengan berbagai alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang. 6 4 R.Soesilo, Kitap Undang-Undang Hukum Pidana Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal,(Bandung:Karya Nusantara,1988)hlm.327 5 Ibid, hlm. 327 6 http://dinsoslampung.web.id/pengertian-a-karakteristik.html.

4 Bertitik tolak dari pengertian tersebut diatas, maka definisi pengemis adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dari meminta-minta di tempat umum dengan berbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasih dari orang. Cara yang dimaksud adalah dengan mengamen atau meminta sumbangan yang disertai dengan surat keterangan miskin yang dikeluarkan oleh kepala desa atau camat yang memuat keterangan bahwa yang bersangkutan fakir miskin atau anak yatim. Operasional hukum selain berpijak pada dasar negara, yaitu pancasila, juga harus berpijak pada empat prinsip cita-cita hukum, yakni: 7 1. Melindungi semua unsur bangsa demi keutuhan. 2. Mewujudkan keadilan sosial di bidang ekonomi dan kemasyarakatan. 3. Mewujudkan kedaulatan rakyat dan negara hukum. 4. Menciptakan toleransi atas dasar kemanusiaan dan keadilan dalam hidup beragama. Tertib hukum akan terganggu akibat adanya kejahatan dan pelanggaran hukum. Perkembangan hukum itu sendiri makin lama akan ketinggalan, karena kemampuannya dalam merumuskan hukum maupun pelaksanaannya akibat kondisi masyarakat yang majemuk yang semakin kompleks. Pada gilirannya pertentangan kepentingan hidup dalam 7 Moh. Mahfud MD, Membangun Politik Hukum, Menegakan Konstitusi, (Jakarta : Rajawali Pers, 2010), hlm 18.

5 masyarakat dan akhirnya muncul perlawanan hukum itu yang dapat menimbulkan masalah sosial. 8 Dengan dirumuskanya pengemisan di muka umum menjadi suatu tindak pidana yang berupa pelanggaran, menjadikan ketidak konsistenan negara dalam mengurus pengemis/orang miskin, kerena dalam Pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan hal yang berbeda, yaitu: Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang masalah tersebut di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: Apakah urgensi pengancaman pidana kurungan terhadap pengemisan di muka umum? C. Tujuan Penelitian Mengetahui dan menganalisis urgensi pengancaman pidana kurungan terhadap pengemisan di muka umum sehingga dapat diketahui kegunaan pengancaman pidana kurungan untuk penerapan hukum terhadap pelaku pengemisan. D. Manfaat Penelitian Selain tujuan penelitian di atas, dalam penulisan hukum ini penulis juga mengharapkan adanya suatu manfaat yang dapat diperoleh. Adapun manfaat yang didapat dari penelitian ini terbagi menjadi : 8 Moh. Hatta, Kebijakan Politik Kriminal, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), Hlm. 12

6 1. Manfaat Teoritis Manfaat Teoritis dari penelitian ini adalah diketahuinya seberapa pentingnya pidana kurungan terhadap pengemisan di muka umum. Diharapkan hasil dari penelitian ini dapat memberikan tambahan pengetahuan bagi perkembangan ilmu hukum pada umumnya dan perkembangan ilmu hukum pidana pada khususnya. 2. Manfaat Praktis Manfaat praktis dari penelitian ini adalah sebagai tambahan pengetahuan dan wawasan bagi penulis mengenai hukum pidana, serta memberikan pengetahuan kepada masyarakat agar meningkatkan kesadaran dan kepedulian untuk selalu mentaati peraturan dan Undang- Undang yang berlaku. E. Keaslian Penelitian Penulisan hukum / skripsi ini merupakan hasil karya penulis sendiri, bukan merupakan duplikasi ataupun plagiasi dari hasil karya penulis lain. Kajian penelitian ini adalah mengkaji bagaimana urgensi pidana kurungan terhadap pengemisan dimuka umum. Setelah dilakukan penelusuran ternyata telah ada penulis lain yang melakukan penulisan hukum berkaitan dengan masalah ini,yaitu: 1. Yohanes Tulus Dwiatmaja, 2008, Fakultas Hukum Universitas Atmajaya Yogyakarta dengan judul : Perlindungan Hukum yang Diberikan Negara Terhadap Anak Korban Eksploitasi Ekonomi Sebagai Pengemis oleh Orang Tua.

7 a. Rumusan Masalah : 1) Faktor apakah yang menyebabkan anak sebagai korban eksploitasi ekonomi sebagai pengemis oleh orangtua. 2) Bagaimanakah negara dalam memberikan perlindungan hukum terhadap anak sebagai korban eksploitasi b. Tujuan: 1) Untuk mengetahui dan menganilisis faktor apa yang menyebabkan anak sebagai korban eksploitasi ekonomi sebagai pengemis oleh orangtua. 2) Untuk mengetahui dan memperoleh data negara dalam memberikan perlindungan hukum terhadap anak sebagai korban eksploitasi ekonomi sebagai pengemis oleh orangtua. c. Kesimpulan : 1) Faktor yang menyebabkan anak menjadi korban eksploitasi ekonomi sebagai pengemis oleh orangtua adalah kemiskinan, pendidikan, lingkungan sosial, serta kekerasan dalam rumah tangga. 2) Upaya yang dilakukan oleh negara dalam rangka perlindungan hukum terhadap anak korban eksploitasi ekonomi sebagai pengemis oleh orangtua yaitu dengan cara melaksanakan upaya non hukum dengan bentuk pencegahan. 2. Debie Wicaksono, 2013, Fakultas Hukum Universitas Atmajaya Yogyakarta dengan judul : Perlindungan Hukum Terhadap

8 Gelandangan dan Pengemis di Kota Yogyakarta Setelah Berlakunya UU No 13 Tahun 2013 Tentang Penanganan Fakir Miskin. a. Rumusan Masalah : 1) Bagaimanakah pelaksanaan perlindungan hukum terhadap para gelandangan dan pengemis di kota Yogyakarta? 2) Faktor apa yang menghambat dan mendukung pelaksanaan perlindungan hukum terhadap gelandangan dan pengemis di kota Yogyakarta? b. Tujuan Penelitian : 1) Pelaksanaan perlindungan hukum terhadap gelandangan dan pengemis Yogyakarta. 2) Faktor-faktor yang menghambat dan mendukung pelaksanaan perlindungan hukum terhadap gelandangan dan pengemis di kota Yogyakarta. c. Kesimpulan : Pelaksanaan perlindungan hukum belum sepenuhnya berjalan dengan baik sesuai Pasal 5 UU No 13 tahun 2011 lebih lanjut berdasarkan UU No 11 tahun 2009 dengan melaksanakan program rehabilitasi dengan memberikan motivasi. F. Batasan Konsep Batasan konsep pada penulisan ini adalah:

9 1. Urgensi adalah keharusan yang mendesak atau hal yang sangat penting 9. 2. Pidana kurungan adalah merupakan salah satu bentuk pidana perampasan kemerdekaan, akan tetapi pidana kurungan ini dalam beberapa hal lebih ringan daripada pidana penjara. 10 3. Pengemisan adalah perbuatan meminta-minta di muka umum dengan berbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain. 4. Muka umum adalah dihadapan orang banyak, atau orang lain termasuk juga di tempat yang dapat didatangi dan / atau dilihat setiap orang. 11 G. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian hukum normatif, yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara meneliti data sekunder sebagai data utama, sedangkan data primer sebagai penunjang. Penelitian hukum normatif berfokus pada norma hukum positif berupa peraturan perundang-undangan. 2. Sumber Data Dalam penelitian hukum normatif data yang digunakan berupa data sekunder, terdiri dari: a. Bahan Hukum Primer 9 http://kamusbahasaindonesia.org/urgensi#ixzz2n0mhvoeg 10 Teguh Prasetyo, Hukum Pidana, (Jakarta, raja grafindo, 2012), hlm 117 11 http://penelitihukum.org/tag/definisi-di-muka-umum/

10 1) Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 2) Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) 3) Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1980 tentang Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis 4) Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik IndonesiaNomor 14 Tahun 2007 tentang PenangananGelandangan dan Pengemis b. Bahan Hukum Sekunder 1) Buku-buku dan tulisan ilmiah yang berhubungan dengan masalah perbuatan melawan hukum; 2) Buku-buku yang membahas persoalan pengemisan 3) Internet Di samping data sekunder, Penelitian ini juga menggunakan dukungan data primer berupa keterangan-keterangan dari nara sumber. 3. Cara Pengumpulan Data Data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara : a. Studi Kepustakaan Studi Kepustakaan yaitu dengan membaca, mempelajari, dan memahami buku-buku dan mendeskripsikan, menganalisis dan menilai peraturan perundang-undangan dengan menggunakan penalaran hukum yang berhubungan dengan urgensi pidana

11 kurungan terhadap pengemis yang melakukan pengemisan dimuka umum. b. Wawancara dengan Nara Sumber. Dalam hal ini penelitian mengadakan wawancara langsung dengan Staf/Kepala Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai narasumber yang bertujuan untuk memperoleh data primer. 4. Analisis Data Data yang diperoleh dalam penelitian dianalisis secara kualitatif yaitu analisis yang dilakukan dengan memahami dan merangkai data yang dikumpulkan secara sistematis sehingga diperoleh suatu gambaran mengenai masalah atau keadaan yang diteliti. H. Sistematika Skripsi Sesuai dengan judul Urgensi Pidana Kurungan Terhadap Pengemisan di Muka Umum, maka penulisan ini dibagi menjadi 3 (tiga) bab yang masing-masing bab terdiri dari sub-sub bab, sebagai berikut: BAB I. PENDAHULUAN Dalam bab ini penulis menguraikan tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, keaslian penelitian, batasan konsep, metode penelitian, sistematika skripsi.

12 BAB II. KEBIJAKAN PIDANA TERHADAP PENGEMISAN Dalam bab ini penulis menguraikan tentang Kebijakan Pidana Terhadap Pengemisan di Muka Umum, Tinjauan Umum Tentang Pidana Kurungan, Tinjauan Umum Tentang Pengemisan di Muka Umum, Urgensi Pengancaman Pidana Kurungan Terhadap Pengemisan di Muka Umum. BAB III. PENUTUP Dalam bab ini penulis merumuskan kesimpulan dan mengajukan saran.