BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. perundang-undangan di Indonesia juga sudah tercantum dalam pembukaan. kehidupan berbangsa dan bernegara adalah dengan pendidikan.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. sebagaimana yang tertuang dalam Undang Undang Nomor 20 tahun negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Pasal 31 ayat 2 Undang-Undang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. kebijakan pembangunan dalam dunia pendidikan. Pembangunan dalam bidang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan. membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka

BAB I PENDAHULUAN. pertama dan utama adalah pendidikan. Pendidikan merupakan pondasi yang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan bertujuan untuk membentuk karakter dan kecakapan hidup. Nasional (UU No. 20/2003) Bab II Pasal 3, bahwa:

BAB I PENDAHULUAN. orang bisa menjadi apa yang dia inginkan serta dengan pendidikan pula

BAB I PENDAHULUAN. Di zaman globalisasi saat ini pengetahuan dan teknologi mengalami

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. peranan penting dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional melalui

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Penyelenggaraan. pendidikan diharapkan mampu mencetak manusia yang berkualitas yang

BAB I PENDAHULUAN. Pelaksanaan pembelajaran dalam mencapai tujuan pendidikan telah diatur

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. sampai kapanpun, sepanjang ada kehidupan manusia di dunia ini.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. globalisasi seperti sekarang ini akan membawa dampak diberbagai bidang

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ivo Aulia Putri Yatni, 2013

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi seorang

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan dalam kehidupan suatu negara memegang peranan yang. sangat penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa.

I. PENDAHULUAN. Pendidikan adalah salah satu faktor yang menentukan kemajuan bangsa Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. sertifikasi untuk meningkatkan kemampuan profesional pendidik, kebijakan baik kurikulum maupun standar pendidikan.

I. PENDAHULUAN. Pendidikan adalah salah satu kebutuhan yang penting bagi setiap bangsa.

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan aktifitas atau kegiatan yang selalu menyertai

BAB I PENDAHULUAN. Menurut UU No.20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional menyatakan. bahwa:

BAB I PENDAHULUAN. akan berusaha untuk mengaktualisasi pengetahuannya tersebut di dalam. latihan, bagi pemerannya dimasa yang akan datang.

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. seseorang individu agar bisa dan mampu hidup dengan baik di lingkungannya

pengetahuan dan teknologi perlu adanya pembaharuan dalam sistem pendidikan secara terarah dan terencana maka Undang-Undang Republik Indonesia No 20

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuh

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

I. PENDAHULUAN. berpengaruh dalam kemajuan suatu bangsa. Pendidikan juga awal dari. terbentuknya karakter bangsa. Salah satu karakteristik bangsa yang

I. PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seorang atau. kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya

BAB I PENDAHULUAN. aspirasi (cita-cita) untuk maju, sejahtera, dan bahagia menurut konsep

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan menduduki posisi sentral dalam pembangunan. Kualitas sumber

BAB I PENDAHULUAN. yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. maka dari itu perlu dilakukan peningkatan mutu pendidikan. Negara Kesatuan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan pada saat ini telah menjadi kebutuhan yang sangat penting dalam

BAB I PENDAHULUAN. potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu tujuan pendidikan nasional yang ingin dicapai telah ditetapkan

BAB I PENDAHULUAN. tingkah laku yang baik. Pada dasarnya pendidikan merupakan proses untuk

BAB I PENDAHULUAN. Dalam Al-Qur an Allah menjelaskan bahwa Allah akan mengangkat. martabat orang yang berilmu. Oleh karena itu Allah berfirman :

I. PENDAHULUAN. Tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam Undang- Undang Sistem Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. tujuan pendidikan nasional, dalam Undang - Undang No. 20 Tahun 2003

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. untuk memajukan kesejahteraan bangsa. Pendidikan adalah proses pembinaan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pada era globalisasai saat ini suatu bangsa dituntut bersaing dan selalu

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

(PTK Pada Siswa Kelas VIII B SMP Muhammadiyah 10 Surakarta)

BAB I PENDAHULUAN. manusia (SDM) yang berkualitas yang mana menjadi subjek pencipta,

BAB 1 PENDAHULUAN. pembelajaran. Karena itu guru harus dapat membuat suatu pengajaran menjadi

BAB I PENDAHULUAN. daya manusia yang berkualitas baik melalui pendidikan informal di rumah

BAB I PENDAHULUAN. ataupun tinta hitam tergantung yang menuliskannya. No. 20 Tahun 2003 yang menyatakan bahwa :

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah hal yang penting dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan.

I. PENDAHULUAN. Pendidikan di negara Indonesia dilakukan dalam upaya meningkatkan mutu

BAB I PENDAHULUAN. sebagai suatu sistem pada prinsipnya bukan hanya bertujuan untuk memenuhi

BAB I PENDAHULUAN. yang dapat mengembangkan semua aspek dan potensi peserta didik sebaikbaiknya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Tujuan Pendidikan Nasional menurut Undang-Undang No.20 tahun 2003

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Pendidikan pada dasarnya merupakan interaksi antara peserta didik

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan yang diadakan di Negara tersebut. Pendidikan dapat

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar belakang masalah

BAB I PENDAHULUAN. sangat pesat, dengan teknologi dan komunikasi yang canggih tanpa mengenal

BAB I PENDAHULUAN. membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. diabaikan, yang jelas disadari bahwa pendidikan merupakan salah satu faktor

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. memiliki penetahuan dan keterampilan, serta manusia-manusia yang memiliki. latihan bagi peranannya di masa mendatang.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. bangsa dan negara. Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Pasal 3 Tahun tentang tujuan pendidikan nasional yaitu;

BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan sebagaimana dirumuskan dalam

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Yuanita, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pendidikan, manusia dapat mengembangkan diri untuk menghadapi tantangan

BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan dan teknologi tersebut diperlukan sumber daya manusia yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tiara Dara Lugina, 2013

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM). Pendidikan seyogyanya menyiapkan generasi yang berkualitas untuk kepentingan diri sendiri di masa depan, masyarakat, bangsa dan negara. Pasal 3 Undang-undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional : Berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman. dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak hanya mempersiapkan para siswanya untuk sesuatu profesi atau jabatan, tetapi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari. Upaya upaya tersebut mencakup komponen komponen pendidikan seperti peningkatan sarana dan prasarana pembelajaran, peningkatan kualitas guru, peningkatan proses pembelajaran, pembaharuan kurikulum, dan lain sebagainya. Dalam hal ini yang menjadi patokan utama adalah seorang guru itu sendiri di dalam mengelola proses pembelajaran yang akan dilaksanakan. Kemampuan seorang guru dalam mengelola kelas sangat berperan penting dalam meningkatkan aktivitas 1

2 siswa di dalam kelas karena dalam pembelajaran di dalam kelas, terdapat hubungan antara murid dan guru, tanpa adanya hubungan tersebut maka tidak akan terjadi proses pembelajaran yang diharapkan sesuai dengan tujuan yang telah di rencanakan. Keduanya saling berkomunikasi dalam proses pembelajaran di dalam kelas untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk mengoptimalkan potensi siswa salah satunya adalah dengan model pembelajaran yang diterapkan guru dikelas yang diharapkan dapat membangkitkan semangat murid dalam belajar dan semakin menggali potensi yang dimiliki murid tersebut. Di dalam proses belajar banyak sekali permasalahan yang timbul salah satunya adalah dari penerapan model pembelajaran yang diterapkan oleh guru, kebanyakan guru masih menerapkan teacher center (berpusat pada guru) yaitu aktivitas pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas sebagian besar diambil alih oleh guru, guru yang lebih berperan aktif di dalam kelas, dimana model pembelajaran yang diterapkan adalah model ceramah. Padahal model ceramah dirasa kurang efektif dalam meningkatkan potensi siswa dan kurang membuat siswa aktif di dalam kelas. Siswa hanya menerima pembelajaran yang disampaikan oleh guru di dalam kelas tanpa adanya interaksi yang berarti, dengan penerapan model tersebut kebanyakan siswa hanya mengingat materi ketika disampaikan saja, tetapi ketika mereka keluar dari kelas kebanyakan dari mereka sudah lupa dengan materi yang disampaikan di dalam kelas sebelumnya. Ini di karenakan tidak adanya aktifitas yang dilakukan murid di dalam kelas selain hanya mendengarkan materi yang disampaikan guru di dalam kelas. Murid akan lebih paham dan aktif jika murid diajak untuk berinteraksi atau pun berdiskusi di dalam kelas oleh gurunya, dengan mereka langsung menerapkan materi yang di sampaikan oleh guru di dalam kelas murid pasti akan merasa senang dengan kegiatan tersebut, misalnya dengan memecahkan suatu kasus soal secara bersama-sama yang di tugaskan oleh guru. Murid pasti akan senang dengan kegiatan tersebut, terlebih jika mereka bisa menjawab soal kasus yang di berikan oleh guru di kelas ada kesenangan dan kebanggaan tersendiri di dalam dirinya, sehingga itu dapat

3 memacu aktifitas siswa di dalam kelas serta memacu semangat siswa dalam belajar agar dapat memecahkan soal kasus yang lainnya. Berbagai upaya juga telah dilakukan untuk dapat meningkatkan potensi murid entah itu dari intern maupun ekstern, upaya yang dilakukan dari intern (pihak sekolah) bercondong pada guru nya. Guru memiliki peran besar dalam meningkatkan aktivitas siswa di kelas serta menggali potensi siswa itu sendiri melalui model-model pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas, sehingga guru diharapkan memiliki berbagai inovasi yang dapat diterapkan di dalam kelas, selain pihak intern, pihak ekstern (pemerintah) pun telah melakukan upaya untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan dengan tujuan agar siswa dapat menggali potensi yang dimiliki nya, salah satu upaya tersebut adalah dengan selalu di perbaharui nya kurikulum pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Namun, dewasa ini justru mutu pendidikan yang diharapkan meningkat dengan dirubahnya kurikulum pada sistem pendidikan Indonesia sebenarnya belum merata, terdapat kesenjangan mutu pendidikan di beberapa daerah kesenjangan mutu pendidikan disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya faktor sarana prasarana yang belum memadai, dan sumber daya manusia yang masih terbatas. Keberhasilan proses pendidikan dapat dilihat dari hasil pemahaman peserta didik. Siswa bisa terlihat paham atau tidak dengan materi yang disampaikan melalui evaluasi yang guru berikan di akhir pembelajaran, dengan begitu dapat terlihat sejauh mana pemahaman materi yang murid serap selama pembelajaran. Rendahnya kemampuan pemahaman konsep siswa bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya adalah proses pembelajaran yang belum efektif. Selain itu faktor lain yang mempengaruhi pemahaman konsep peserta didik adalah pembelajaran yang dilakukan dikelas kebanyakan masih menggunakan model ceramah dalam proses pembelajaran. Siswa terkesan pasif karena hanya mencatat dan menghafal seluruh materi yang disampaikan. Siswa sudah merasa senang dengan kondisi menerima materi

4 tetapi tidak biasa memberi pendapat dan menganalisis informasi yang diterima. Kebiasaan ini sudah melekat dan sukar diubah. Kebanyakan siswa bangga dengan nilai yang diperoleh karena dapat mengerjakan soal secara mandiri namun beberapa hari kemudian materi yang dipelajari tersebut sudah lupa dan kurang manfaatnya untuk kehidupan mereka sehari-hari karena tidak diterapkan. Seperti yang terjadi di SMAN 16 Bandung kelas X IIS, tingkat pemahaman konsep pembelajaran yang dimiliki masih rendah yang dikarenakan model pembelajaran yang diterapkan disana kebanyakan masih teacher center, hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya ketika diperhatikan, guru-guru yang mengajar disana kebanyakan sudah tidak muda lagi, dimana hal ini membuat guru merasa kesulitan dengan perubahan kurikukulum yang selalu di ganti-ganti oleh pemerintah sehingga mereka masih menerapkan model pembalajaran gaya lama dalam mengajar di dalam kelas. Namun tanpa mereka sadari hal ini ternyata sangat mempengaruhi tingkat keaktifan siswa di dalam kelas, dan terutama pada tingkat pemahaman siswa di dalam kelas. Berikut hasil nilai murid kelas X IIS SMAN 16 Bandung : Tabel 1.1 Nilai Lembar Kerja Siswa (LKS) Mata Pelajaran Ekonomi No Kelas Hasil Belajar Siswa Jumlah Di atas Di bawah Siswa KKM KKM 1. X IIS 2 31 11 20 2. X IIS 3 35 27 8 KKM 75 3. X IIS 4 31 16 15 JUMLAH 97 54 43 Sumber : Daftar Nilai mata Pelajaran Ekonomi Kelas X IIS SMAN 16 Bandung

5 Hasil observasi tersebut menunjukkan rendahnya pemahaman siswa dalam menyerap pelajaran di dalam kelas. Hasil penilaian tersebut di dapat dari guru Ekonomi kelas X IIS di SMAN 16 Bandung. Dari hasil observasi tersebut perlu dilakukan perubahan dalam proses pembelajarannya. Hal ini bertujuan agar murid berperan aktif di dalam kelas serta meningkatkan pemahaman peserta didik di dalam menyerap pelajaran. Saling bertukar pendapat dalam memahami pembelajaran di dalam kelas serta memiliki semangat dalam menyelesaikan soal yang di berikan oleh guru di dalam kelas. Dengan dirubahnya model pembelajaran di dalam kelas akan mengakibatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah di dalam kelas, dan diharapkan pula dengan perubahan model pembelajaran murid dapat menerapkan pembelajaran tersebut ke dalam kehidupan sehari hari dalam memecahkan masalah. Selain itu, diharapkan pula siswa dapat menyerap materi yang disampaikan dengan mudah sehingga tingkat pemahaman siswa di dalam kelas dapat meningkat. Untuk mengembangkan kemampuan pemahaman konsep siswa diperlukan model pembelajaran inovatif yang dapat membuat siswa aktif. Model pembelajaran yang inovatif diharapkan dapat membantu siswa dalam mendapatkan informasi, ide keterampilan, cara berpikir, dan mengekspresikan suatu pendapat. Untuk itu diperlukan model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan siswa khususnya dalam kemampuan pemahaman konsep. Selain itu, untuk meningkatkan pemahaman konsep peserta didik, pembelajaran yang harus dilakukan adalah interaktif, menyenangkan, dan memotivasi peserta didik untuk aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi kreativitas dan kemandirian peserta didik. Akan tetapi pada kenyataannya proses pembelajaran sering terabaikan karena peserta didik memiliki kesempatan yang sedikit untuk mengembangkan keterampilan dan kemampuan berpikirnya. Pencapaian hasil belajar siswapun menjadi terbatas pada aspek pengetahuan (kognitif) tetapi belum mengalami perkembangat aspek sikap (afektif).

6 Dalam penelitian ini, peneliti membatasi penelitian dengan mengambil hanya salah satu faktor saja yaitu model pembelajaran, karena model pembelajaran dipandang memiliki peran strategis dalam upaya meningkatkan keberhasilan proses belajar mengajar karena model pembelajaran digunakan dengan melihat kondisi kebutuhan siswa. Pemilihan model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan kurikulum 2013 dan potensi siswa merupakan kemampuan dan keterampilan dasar yang harus dimiliki guru. Guru diharapkan mampu menyampaikan materi dengan tepat, dan menciptakan suatu proses pembelajaran yang dapat mewujudkan tujuan pembelajaran dengan baik, karena pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis dan logis (UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003, pasal 40). Model pembelajaran yang peneliti ambil dalam melakukan penelitian ini adalah model pembelajaran Problem Based Instruction. Dimana model pembelajaran itu sangat berpengaruh untuk membantu peserta didik dalam memahami konsep yang disampaikan oleh pendidik. B. Identifikasi Masalah Dalam melakukan penelitian perlu dilakukannya identifikasi masalah, dalam hal ini masalah yang didapat di dalam sekolah tersebut adalah : a. Kurang aktifnya siswa di dalam kelas dalam mengikuti pelajaran b. Kurang menariknya penerapan model pembelajaran yang di terapkan guru di dalam kelas c. Kurangnya kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal C. Rumusan Masalah dan Batasan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diungkapkan, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana penerapan model pembelajaran Problem Based Instruction terhadap pemahaman konsep peserta didik? Agar penelitian ini dapat dilakukan secara lebih terarah, maka rumusan masalah dijabarkan menjadi pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :

7 1. Rumusan Masalah a. Bagaimana proses pembelajaran di dalam kelas? b. Apakah terdapat perbedaan antara pemahaman konsep materi siswa sebelum dan sesudah pembelajaran Problem Based Instruction pada mata pelajaran Ekonomi? c. Bagaimana perbandingan pemahaman konsep materi siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol? 2. Batasan Masalah a. Penelitian hanya dilakukan di kelas X IIS 2 SMAN 16 Bandung Tahun Ajaran 2016/2017 b. Penelitian hanya di lakukan pada mata pelajaran ekonomi sub tema koperasi c. Penelitian hanya membahas mengenai pemahaman sisi kognitif peserta didik D. Tujuan Penelitian Penelitian yang dilakukan oleh peneliti diharapkan dapat mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. 1. Untuk mengetahui proses pembelajaran di dalam kelas 2. Untuk mengetahui adakah perbedaan pemahaman konsep materi siswa sebelum dan sesudah pembelajaran Problem Based Instruction pada mata pelajaran Ekonomi 3. Untuk mengetahui adakah perbedaan pemahaman konsep materi siswa pada kelas kontrol dan kelas eksperimen E. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi, sumber pengetahuan, bahan kepustakaan atau bahan penelitian dalam dunia pendidikan selanjutnya serta bisa terpakai oleh semua pihak dan jenjang pendidikan dengan mendukung teori yang sudah ada. 2. Manfaat Segi Kebijakan Formal Memberikan arahan kebijakan untuk pengembangan pendidikan bagi siswa dalam pembelajaran ekonomi yang baik dan efektif untuk

8 diterapkan dan dianjurkan, berkaitan dengan kebijakan sekolah bahwa guru harus menggunakan strategi pembelajaran berbasis student center. 3. Manfaat Praktis a. Bagi Guru Memberikan acuan bagi guru bagaimana mengajar dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Instruction dapat berpengaruh pada kemampuan pehamanan konsep siswa b. Bagi Sekolah Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, kondusif, dan efektif, serta memberikan manfaat bagi sekolah sebagai referensi untuk meningkatkan tentang kemampuan pemahaman konsep siswa. 4. Manfaat Segi Isu dan Aksi Sosial Memberikan informasi kepada semua pihak mengenai penerapan strategi pembelajaran di sekolah menengah atas sehingga dapat menjadi bahan masukan bagi lembaga-lembaga formal maupun nonformal. Dan dapat menambah wawasan mengenai strategi pembelajaran Problem Based Instruction bagi peneliti selanjutnya yang akan meneliti dengan variabel yang sama F. Definisi Operasional 1. Penerapan Menurut KBBI (2010) Penerapan adalah perbuatan menerapkan, proses, cara, pemasangan, pemanfaatan serta perihal mempraktikkan. 2. Problem Based Instruction Menurut Nurhadi (dalam Prasetyo, 2011:12), Problem Based Instruction merupakan model pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari mata pelajaran

9 3. Terhadap Menurut KBBI (2014) Terhadap adalah partikel kata depan untuk menandai arah, kepada, dan lawan. 4. Pemahaman Konsep Menurut Sukamto (2012:11) bahwa pemahaman konsep yaitu kemampuan seseorang dalam mengkonstruk atau menyusun suatu konsep berdasarkan pengetahuan awal yang dimilikinya dari apa yang dialami nya, atau menyatukan atau menyusun pengetahuan yang baru ke dalam skema yang ada dalam pikirannya. Karena dengan menyusun skema baru akan membentuk suatu konsep yang utuh. Dari definisi operasional diatas dapat disimpulkan bahwa Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Instruction terhadap Pemahaman Konsep adalah proses perubahan yang diakibatkan oleh suatu model pembelajaran menggunakan masalah yang konteks dan nyata untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah dengan tujuan agar siswa bisa mengkonstruk suatu konsep berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya dari apa yang dialami nya. G. Sistematika Skripsi 1. BAB I : a. Latar Belakang Bagian ini menjelaskan mengenai gambaran penelitian yang akan dilakukan peneliti dalam skripsi nya. Di dalamnya terdapat kondisi ideal yang benar-benar terjadi di lapangan beserta masalah yang terjadi, didalamnya juga terdapat tindakan yang akan peneliti lakukan dalam penelitian nya. b. Identifikasi Masalah Identifikasi masalah menjelaskan gambaran mengenai masalah yang di dapat oleh peneliti dengan tujuan agar peneliti mencari jalan keluar untuk memecahkan masalah tersebut.

10 c. Rumusan dan Batasan Masalah Didalam nya berisi point-point pertanyaan masalah yang akan dihadapi peneliti. Tujuannya agar peneliti dapat lebih terarah dan terfokus dalam memecahkan masalah yang ada. d. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian di dalamnya berisi tentang pernyataan yang menggambarkan harapan-harapan peneliti setelah dilakukannya penelitian. e. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian didalamnya berisi mengenai manfaat penelitian yang akan di dapat setelah dilakukannya penelitian. f. Definisi Operasional Adalah penjelasan dari tiap-tiap istilah yang tertera pada judul untuk mempermudah peneliti dalam melakukan penelitian dengan adanya kesimpulan yang telah di buat di dalam definisi operasional. g. Sistematika Skripsi Didalamnya berisi sistematika penulisan skripsi atau bagian-bagian dari isi skripsi, serta judul-judul yang tertera di dalam skripsi yang kemudian membentuk satu kesatuan utuh skripsi. 2. BAB II a. Kajian Teori dan Kerangka Pemikiran 1) Kajian Teori Berisi mengenai teori-teori yang berkaitan dengan judul yang telah peneliti ambil untuk dijadikan bahan penelitian, teori tersebut biasanya bersumber dari ahli. 2) Kerangka Pemikiran Berisi tentang penjelasan keterkaitan antar variabel yang terlibat dalam penelitian.

11 3. BAB III a. Model Penelitian Model penelitian merupakan suatu rangkaian kegiatan pelaksanaan penelitian. b. Desain Penelitian Berisi mengenai rencana penelitian yang akan dilakukan peneliti. Peneliti menjelaskan mengenai model yang ia pakai termasuk ke dalam kategori penelitian survey, eksperimen, dll. c. Subjek dan Objek Penelitian 1) Subjek Penelitian : sasaran yang akan dituju peneliti dalam melakukan penelitian, baik orang, ataupun benda dll. 2) Objek Penelitian : sasaran inti dalam melakukan penelitian, yang didalamnya merupakan problematika penelitian. d. Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian 1) Pengumpulan Data : mencakup jenis data yang akan dikumpulkan, penjelasan dan alasan pemakaian suatu teknik pengumpulan data. 2) Instrumen Penelitian : berisi mengenai rangkaian penelitian untuk mengolah data yang sudah didapat. e. Teknik Analisa Data Berisi mengenai rancangan dalam mengolah data, pada tahap ini peneliti memilih teknik mana yang tepat untuk diterapkan pada analisa data yang telah ia peroleh. f. Prosedur Penelitian Bagian ini menjelaskan prosedur aktivitas perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan penelitian. 4. BAB IV a. Hasil Penelitian dan Pembahasan 1) Hasil Penelitian Berisi kan hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti dengan model penelitian yang dipilih oleh peneliti 2) Pembahasan

12 Berisi mengenai bahasan-bahasan dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti 5. BAB V a. Simpulan dan Saran 1) Simpulan : meupakan uraian yang menyajikan penafsiran dan pemaknaan peneliti terhadap analisis temuan hasil penelitian. 2) Saran : merupakan rekomendasi yang ditujukan kepada para pembuat kebijakan, pengguna, atau kepada peneliti berikutnya yang berminat untuk melakukan penelitian selanjutnya.