Unnes Journal of Mathematics Education Research

dokumen-dokumen yang mirip
Unnes Journal of Mathematics Education Research

ANALISIS KETERAMPILAN GEOMETRI SISWA DALAM MEMECAHKAN MASALAH GEOMETRI BERDASARKAN TINGKAT BERPIKIR VAN HIELE

KEEFEKTIFAN MODEL MMP PADA KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DISERTAI IDENTIFIKASI TAHAP BERPIKIR GEOMETRI

ANALYSIS OF STUDENT REASONING ABILITY BY FLAT SHAPE FOR PROBLEM SOLVING ABILITY ON MATERIAL PLANEON STUDENTS OF PGSD SLAMET RIYADI UNIVERSITY

ANALISIS TINGKAT BERPIKIR SISWA BERDASARKAN TEORI VAN HIELE PADA MATERI DIMENSI TIGA DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF FIELD DEPENDENT DAN FIELD INDEPENDENT

Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata I pada Jurusan Matematika Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

Strategi Pemecahan Masalah Matematika Siswa SMP Ditinjau dari Tingkat Berpikir Geometri Van Hiele

KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MAHASISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL ANALISIS MELALUI PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERDASARKAN MASALAH

Unnes Physics Education Journal

Sugiyarti Pendidikan Matematika-Universitas Negeri Malang Jl. Semarang 5 Malang.

TINGKAT BERPIKIR GEOMETRI SISWA KELAS VII SMP BERDASARKAN TEORI VAN HIELE

Kemampuan Penalaran Matematis Siswa SMP dalam Belajar Garis dan Sudut dengan GeoGebra

KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS MAHASISWA DALAM PEMECAHAN MASALAH KALKULUS II

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN REPRESENTASI MATEMATIS SISWA

DISPOSISI MATEMATIS SISWA DITINJAU DARI KEMAMPUAN MENYELESAIKAN MASALAH BERBENTUK OPEN START DI SMP NEGERI 10 PONTIANAK

Pendahuluan. Mika Wahyuning Utami et al., Tingkat Berpikir Siswa...

Erfan Yudianto, S. Pd Mahasiswa S2 Pendidikan Matematika UNESA.

KETERAMPILAN DASAR GEOMETRI SISWA KELAS V DALAM MENYELESAIKAN SOAL BANGUN DATAR BERDASARKAN KEMAMPUAN MATEMATIKA DI MI AL ISTIQOMAH BANJARMASIN

KEEFEKTIFAN PENDEKATAN PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIK. Info Artikel. Abstra

Nego Linuhung Pendidikan Matematika FKIP Universitas Muhammadiyah Metro Abstract

KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATERI PECAHAN DI SMP

Pengembangan Media Pembelajaran dengan GeoGebra untuk Visualisasi Penggunaan Integral pada Siswa SMA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

Pembentukan Karakter dan Komunikasi Matematika Melalui Model Problem Posing Berbantuan Scaffolding Materi Segitiga

Kata Kunci: Problem Based Learning (PBL), Ekspositori, dan Hasil Belajar. Abstract

IDENTIFIKASI TINGKAT BERPIKIR GEOMETRI SISWA SMP BERDASARKAN TEORI VAN HIELE. Abdul Jabar dan Fahriza Noor. Kata Kunci: berpikir geometri, van hiele.

Meningkatkan Kemampuan Penalaran Matematis melalui Pembelajaran berbasis Masalah

PENINGKATAN KEMAMPUAN PENALARAN LOGIS MATEMATIKA SISWA MELALUI PEMBELAJARAN DISCOVERY METHODS DI KELAS X SMA NEGERI 2 SIGLI. Fithri Angelia Permana

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika 2017 UIN Raden Intan Lampung 6 Mei 2017

KEEFEKTIFAN PEMBELAJARAN STRATEGI REACT DENGAN MODEL SSCS TERHADAP KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIKA DAN PERCAYA DIRI SISWA KELAS VIII

PENGARUH PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DENGAN ASESMEN KINERJA TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

KEEFEKTIFAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA MENGACU PADA MISSOURI MATHEMATICS PROJECT TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Seloka: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Keefektifan Pembelajaran Model Quantum Teaching Berbantuan Cabri 3D Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah

Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Geometri dan Karakter Siswa SMP Kelas VIII Melalui Pembelajaran Model 4K

Analisis Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Matematika Tentang Bangun Datar Ditinjau Dari Teori Van Hiele ABSTRAK

Oleh Nila Kesumawati Jurusan Pendidikan Matematika, FKIP Universitas PGRI Palembang

MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA SMP MELALUI PENDEKATAN PROBLEM POSING

JCAE, Journal of Chemistry And Education, Vol. 1, No.1, 2017,

EFEKTIVITAS MODEL PROBLEM BASED LEARNING DITINJAU DARI KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA

ANALISIS LEVEL PERTANYAAN GEOMETRI BERDASARKAN TINGKATAN VAN HIELE PADA BUKU TEKS MATEMATIKA SMP KELAS VII

IDENTIFIKASI TAHAP BERPIKIR GEOMETRI CALON GURU SEKOLAH DASAR DITINJAU DARI TAHAP BERPIKIR VAN HIELE

UJME 4 (1) (2015) Unnes Journal of Mathematics Education.

PEMECAHAN MASALAH BERDASARKAN PROSES BERFIKIR VAN HIELE

UJME 1 (1) (2013)

BANYAK CARA, SATU JAWABAN: ANALISIS TERHADAP STRATEGI PEMECAHAN MASALAH GEOMETRI

ANALISIS TAHAP BERPIKIR GEOMETRI SISWA BERDASARKAN TEORI VAN HIELE DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF DI SMP

Respon Mahasiswa terhadap Desain Perkuliahan Geometri yang Mengembangkan Kemampuan Komunikasi Matematika

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN LANGSUNG DENGAN PENDEKATAN PROBLEM POSING DITINJAU DARI KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF

ANALISIS KETERAMPILAN GEOMETRI SISWA DALAM MEMECAHKAN MASALAH GEOMETRI BERDASARKAN TINGKAT BERPIKIR VAN HIELE

Implementasi Pembelajaran Investigasi Berbantuan Software Cabri 3D terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis dan Kemandirian Belajar Mahasiswa

Jurnal Pendidikan Berkarakter ISSN FKIP UM Mataram Vol. 1 No. 1 April 2018, Hal

Rusli P.D. Kolnel, Rully Charitas Indra Prahmana, Samsul Arifin, Pengaruh Pembelajaran...

KRITERIA BERPIKIR GEOMETRIS SISWA SMP DALAM MENYELESAIKAN MASALAH GEOMETRI 5

SELING Jurnal Program Studi PGRA ISSN (Print): ; ISSN (Online): X Volume 4 Nomor 1 Januari 2018 P

KEEFEKTIFAN PEMBELAJARAN PROBLEM POSING DENGAN PENDEKATAN PMRI TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA

MELALUI TUTUP KALENG BERBENTUK LINGKARAN Oleh : Nikmatul Husna

ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM PEMECAHAN MASALAH DITINJAU DARI ADVERSITY QUOTIENT PADA PEMBELAJARAN CREATIVE PROBLEM SOLVING

ANALISIS KEMAMPUAN MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 03 TUNTANG TENTANG BANGUN DATAR DITINJAU DARI TEORI VAN HIELE

Seloka: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

PROFIL KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA KELAS VII-A MTs MUHAMMADIYAH 6 KARANGANYAR DALAM MENYELESAIKAN SOAL BANGUN DATAR

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBING PROMPTING TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA.

PENGARUH PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS SISWA SMP

KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIKA SISWA PADA MATERI TEOREMA PYTHAGORAS DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF

Journal of Physical Education and Sports

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

EFEKTIFITAS PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK INDONESIA (PMRI) UNTUK PENINGKATAN KEMAMPUAN BERFIKIR MATEMATIS SISWA

1. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Hukum 2016

Proses Berpikir Kritis Siswa pada Level Deduksi Informal van Hiele

PROFIL KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH SISWA BERMOTIVASI BELAJAR TINGGI BERDASARKAN IDEAL PROBLEM SOLVING

PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL BERBANTUAN SOFTWARE FOCUSKY UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN DISPOSISI MATEMATIS

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dedi Abdurozak, 2013

Journal of Innovative Science Education

ANALISIS PENGARUH DISPOSISI MATEMATIS, KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF, DAN PERSEPSI PADA KREATIVITAS TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS

Unnes Journal of Mathematics Education

DAFTAR PUSTAKA. Akdon. (2008). Aplikasi Statistika dan Metode Penelitian untuk Administrasi dan Manajemen. Bandung: Dewa Ruche.

Unnes Journal of Mathematics Education

KEEFEKTIFAN PBL BERBASIS NILAI KARAKTER BERBANTUAN CD PEMBELAJARAN TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATERI SEGIEMPAT KELAS VII

PROFIL KEMAMPUAN PENALARAN SISWA DALAM MEMECAHKAN MASALAH ARITMETIKA SOSIAL

PENGARUH PENERAPAN METODE INKUIRI TERHADAP KEMAMPUAN MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 PADANG-GANTING KABUPATEN TANAH DATAR.

Peningkatan Kemampuan Koneksi Matematik Peserta Didik Menggunakan Model Problem Based Learning (PBL) dengan Berbantuan Software Geogebra

Profil Kreativitas Mahasiswa Berdasarkan Gaya Berpikirnya dalam Memecahkan Masalah Fisika di Universitas Negeri Makassar

Edu Elektrika Journal

BAB I PENDAHULUAN. Diantaranya, Kurikulum 1964, Kurikulum 1974, Kurikulum 1984, Kurikulum

Economic Education Analysis Journal

(Difference of Students Achievement Using Double Loop Problem Solving Model and Problem Based Learning Model on The Human Respiration System)

PENGGUNAAN SOFTWARE CABRI PADA PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATERI DIMENSI TIGA KELAS X SMA

Oleh : Fika Rizqi Rachmawati NIM S

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan

JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA, VOLUME 2, NOMOR 2, JULI 2011

Journal of Mechanical Engineering Learning

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia. 1 Dalam hal

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN CREATIVE PROBLEM SOLVING (CPS) TERHADAP KEMAMPUAN PENALARAN ADAPTIF MATEMATIS SISWA

Unnes Journal of Mathematics Education Research

ABSTRAK. Kata kunci : Pengajaran mikro, disposisi matematika, mengajar matematika dalam PPL

Penerapan Media Komik Matematika Terhadap Peningkatan Pemahaman Konsep Perkalian dan Pembagian Bilangan Cacah di Sekolah Dasar

ANALISIS TINGKAT BERPIKIR KREATIF SISWA GAYA BELAJAR VISUAL DALAM MEMECAHKAN MASALAH PERSEGI PANJANG DAN PERSEGI

ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA KELAS XI SMK MUHAMMADIYAH I PATUK PADA POKOK BAHASAN PELUANG JURNAL SKRIPSI

KEEFEKTIFAN MODEL PEMBELAJARAN TEAMS GAMES TOURNAMENT TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH. Info Artikel. Abstra

Transkripsi:

UJMER 4 (2) (2015) Unnes Journal of Mathematics Education Research http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ujmer KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DAN DISPOSISI MATEMATIS SISWA KELAS X PADA PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH Munahefi Detalia Noriza, Kartono, dan Sugianto Prodi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Semarang, Indonesia Info Artikel Sejarah Artikel: Diterima September 2015 Disetujui Oktober 2015 Dipublikasikan November 2015 Keywords: level of thinking geometry; mathematical disposition; problembased learning (PBL); problem solving ability; Van Hiele approaches Abstrak Tujuan penelitian ini adalah menganalisis keefektifan model PBM pendekatan Van Hiele serta mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah dan disposisi matematis tiap tingkat berpikir geometri pada model PBM pendekatan Van Hiele. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kombinasi kualitatif dan kuantitatif.model kombinasi penelitian ini adalah tipe concurrent triangulation, pengabungan metode kualitatif dan kuantitatif secara seimbang. Teknik pengambilan sampel penelitian kuantitatif yaitu simple random sampling yang mana pada penelitian ini diambil satu kelas eksperimen dengan model PBM pendekatan Van Hiele dan satu kelas kontrol dengan pembelajaran ekspositori. Teknik pemilihan subyek penelitian kualitatif yaitu non-probability sampling, dimana pengambilan subyek berdasarkan tingkat berpikir geometri. Model PBM pendekatan Van Hiele efektif terhadap kemampuan pemecahan masalah dan disposisi matematis. Kemampuan pemecahan masalah dan disposisi matematis tiap tingkat berpikir geometri Van Hiele. Peserta didik tingkat 1 (analisis) dapat memahami masalah tapi tidak dapat menyusun rencana penyelesaian dengan baik. Peserta didik tingkat 2 (deduksi informal) dapat memahami masalah, menyusun rencana, melaksanakan rencana dengan baik tapi tidak dapat mengecek hasil. Peserta didik tingkat 3 (deduksi) dapat memahami masalah, menyusun rencana, melaksanakan rencana, dan mengecek hasil dengan baik. Disposisi matematis secara keseluruhan padatiap tingkat berpikir geometri dengan model PBM pendekatan Van Hiele termasuk pada kategori tinggi. Abstract The purpose this study was to analyze the effectiveness of the model PBL Van Hiele approach and describe problem solving ability and mathematical disposition of each level thinking geometry on the model PBL with Van Hiele approach. This study is a combination of qualitative and quantitative research. Model combination of this research is type of concurrent triangulation, merging qualitative and quantitative methods in a balanced manner. Quantitative research sampling technique is simple random sampling which in this study was taken experimentclass used model PBL with Van Hiele approach and control class with expository. Qualitative research subjects selection techniques, namely non-probability sampling, whereas the subjects based on levels thinking of geometry. Model PBL with Van Hiele approach effectived to increased problem-solving ability and mathematical disposition. Problem solving ability and disposition of each level mathematical thinking of Van Hiele approach. Learners level 1 (analysis) can understand problem but can t plan well completion. Learners level 2 (deduction informal) can understand problem, plan, execute plan well but can not check the results. Learners level 3 (deduction) can understand problem, plan, implement plan, and check results properly. Overall mathematicaldisposition of each level thinking of geometry use model PBL with Van Hiele approach included in high category. 2015 Universitas Negeri Semarang Alamat korespondensi: Kampus Unnes Bendan Ngisor, Semarang, 50233 E-mail: kimdaeta@gmail.com ISSN 2252-6455 66

PENDAHULUAN Geometri sebagai salah satu cabang ilmu matematika yang sangat penting untuk dipelajari karena geometri banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Geometri mempunyai peluang lebih besar untuk dimengerti oleh peserta didik dibanding cabang ilmu matematika lainnya karena benda-benda geometris yang memuat ide-ide geometri dapat ditemukan di lingkungan sekitar. Namun demikian, pemahaman dan penyelesaian masalah geometri antara satu peserta didik dengan peserta didik lainnya bisa jadi berbeda walaupun mereka berada pada jenjang pendidikan yang sama.van Hiele menyatakan bahwa kenaikan dari tingkat yang satu ke tingkat berikutnya lebih bergantungpada pembelajaran dibandingkan usiamaupunkedewasaan biologis (Usiskin, 1982). Menurut Nur sebagaimana dikutip oleh Shadiq (2009)menyatakan bahwa pendidikan matematika di Indonesia pada umumnya masih berada pada pendidikan matematika konvensional dimana guru mengajarkan matematika dengan langsung membuktikan dalil dan contoh penyelesaian soal danpeserta didik kurang diberikan kesempatan untuk berinisiatif mencari solusi penyelesaian sendiri, melainkan hanya dihadapkan pada pertanyaan bagaimana soal bukan kepada mengapa penyelesaiannya demikian. Hal tersebut tidak sejalan dengan proses pembelajaran pada satuan pendidikan berdasarkan SNP PP RI No. 19 (2005) yang diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan prinsip tersebut adalah model pembelajaran berbasis masalah (PBM) (Pradnyana et al., 2013). Sedangkan untuk mengatasi perbedaan tingkat berpikir geometri antara peserta didik perlu adanya pendekatan Van Hiele dalam pembelajaran geometri. Pembelajaran geometri dengan model PBM pendekatan Van Hiele diharapkan dapat mengembangkan ranah kognitif maupun afektif peserta didik. Salah satu ranah kognitif adalah kemampuan pemecahan masalah, sedangkan yang termasuk ranah afektif adalah disposisi matematis. Kemampuan pemecahan masalah menurut Anderson (2009) adalah keterampilan yang melibatkan proses menganalisis, menafsirkan, menalar, memprediksi, mengevaluasi, dan merefleksikan. Langkahlangkahpemecahan masalah menurut Polya (1973) terdiri atas: memahami masalah, merencanakan penyelesaian, melaksanakan rencana, dan memeriksa proses dan hasil.sedangkan disposisi matematis menurut NCTM (1989) adalah suatu kecenderungan untuk berpikir dan bertindak dengan cara yang positif dalam pembelajaran Tingkat berpikir geometri menurut teori Van Hiele (Usiskin, 1982; Clowley, 1987) terdiri dari lima tingkatan, yaitu tingkat 0 (visualisasi), tingkat 1 (analisis), tingkat 2 (deduksi informal), tingkat 3 (deduksi), dan tingkat 4 (rigor). Tiap tingkat berpikir Van Hiele mempunyai karakteristik berbeda-beda dalam memecahkan masalah geometri (Muhassanah dan Riyadi, 2014). Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis kemampuan pemecahan masalah dan disposisi matematis tiap tingkat berpikir geometri pada pembelajaran PBM pendekatan Van Hiele.Berdasarkan uraian tersebut maka tujuan penelitian ini adalahmenganalisis keefektifan model PBM pendekatan serta mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah dan disposisi matematis tiap tingkat berpikir geometri pada model PBM pendekatan Van Hiele. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan jenis penelitian kombinasi kualitatif dan kuantitatif. Model kombinasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe concurrent triangulation. Concurrent triangulation adalah metode penelitian yang mengabungkan antara metode kualitatif dan kuantitatif dengan cara mencampur kedua metode tersebut secara seimbang (Sugiyono: 67

2013:499). Populasi penelitian ini adalah peserta didik kelas X SMA N 9 Semarang tahun ajaran 2014/2015. Teknik pemilihan subyek pada penelitian kualitatif adalah non-probability sampling, yaitu pengambilan subyek dimana setiap obyek penelitian yang diambil tidak memiliki peluang yang sama untuk dijadikan subyek penelitian. Jenis non-probability sampling yang digunakan adalah purposive sampling, dimana pengambilan subyek berdasarkan tingkat berpikir geometri Van Hiele. Teknik pengambilan sampel pada penelitian kuantitatif adalah simple random sampling. Simple random sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang dilakukan secara acak. Sampel penelitian ini terdiri atas satu kelas eksperimen dan satu kelas kontrol. Kelas eksperimen dimana para peserta didik diajarkan dengan model PBM pendekatan Van Hiele, sedangkan kelas kontrol dengan pembelajaran ekpositori. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini terdiri atas: observasi, tes, skala psiokologi, dan wawancara.dalam penelitian ini terdapat dua jenis tes yaitu tes geometri Van Hiele (TGVH) dan tes kemampuan pemecahan masalah (TKPM). TGVH dilakukan sebanyak dua kali yaitu sebelum dan sesudah peserta didik melakukan proses pembelajaran pada materi geometri terhadap kelas eksperimen. Hal ini dikarenakan menurut Usiskin (1982) kenaikan tingkat berpikir geometri dari tingkat yang satu ke tingkat berikutnya lebih banyak tergantung dari pembelajaran dibandingkan usia. TKPM hanya dilakukan hanya sekali kali setelah proses pembelajaran pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol. Materi TKPM pada penelitian ini adalah materi geometri kelas X dengan soal berbentuk uraian. Skala psikologi pada penelitian ini digunakan untuk mengukur kemampuan disposisi matematispeserta didik.wawancara dirancang untuk menggali karakteristik kemampuan pemecahan masalah dan disposisi matematis pesera didik. Analisis data dilakukan pada saat tahap sebelum di lapangan hingga tahap analisis selama di lapangan. Analisis sebelum di lapangan dilakukan dengan validasi perangkat dan instrumen penelitian. Analisis selama di lapangan merupakan menyusun secara sistematis data kuantitatif dan kualitatif yang diperoleh dari hasil observasi, TGVH, TKPM, skala disposisi matematis dan wawancara. Analisis data kuantitatif yang diperoleh dari data TKPM dan skala disposisi matematis untuk menentukan keefektikan PBM pendekatan Van Hiele terdiri atas: uji ketuntasan dengan uji z, uji beda rata-rata dengan uji t, dan analisis regresi untuk mengetahui pengaruh disposisi matematis terhadap kemampuan pemecahan masalah. Sedangkan analisis data kualitatif dilakukan dengan cara mereduksi data, menyajikan data, dan menarik kesimpulan dari data yang telah dikumpulkan dan memverifikasi kesimpulan tersebut. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil perhitungan ketuntasan belajar kelas eksperimen menggunakan uji proporsi pihak kanan didapat z hitung = 1,854. Pada α=5 % diperoleh z 0,5-α = z 0,45 = 1,64. Karena z hitung >z 0,5-α, maka H o ditolak dan H 1 diterima. Jadi berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah peserta didik pada kelas eksperimen yang sudah mencapai kriteria ketuntasan minimalyaitu 70 mencapai lebih dari 75%.Berdasarkan hasil perhitungan uji beda rata-rata hasil TKPM diperoleh thitung = 2,879.Taraf nyata 5% dan dk = 68 diperoleh t tabel = 1,669. Karena t hitung >t tabel maka H 0 ditolak. Oleh karena itu dapat simpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalahpeserta didik pada kelas eksperimen lebih tinggi daripada peserta didik pada kelas kontrol. Berdasarkan hasil perhitungan uji beda rata-rata skor disposisi matematis diperoleh t hitung = 2,738, sedangkan untuk dk = 68 dan taraf nyata 5% maka diperoleh t tabel = 1,669. Karena t hitung >t tabel maka H 0 ditolak. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa skor disposisi matematispeserta didik pada kelas eksperimen lebih tinggi daripada peserta didik pada kelas kontrol. Berdasarkan hasil uji linieritas dengan SPSS diperolehnilai signifikansi adalah 0,00 = 0%<5% sehingga H 0 ditolak dan H 1 68

diterima.hal ini menunjukkan bahwa variabel Y dapat diprediksi oleh variabel X. Model regresi linier sederhana antara disposisi matematis dan kemampuan pemecahan masalah kelas eksperimen berdasarkan hasil hitung dengan SPSS diperoleh nilai a=39,782dan b=0,457 sehingga persamaan regresi adalah = 39,782 + 0,457. Besarnya presentasi variabel X berpengaruh terhadap variabel Y dinyatakan oleh koefisien determinasi kelas eksperimen yang berdasarkan hasil hitung dengan SPSS, disposisi matematis berpengaruh positif terhadap hasil TKPM pada kelas eksperimen sebesar 33,6%. Model pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan Van Hiele efektif terhadap kemampuan pemecahan masalah dan disposisi matematis. Hal ini dikarenakan (1) presentasi peserta didik dengan model pembelajaran berbasis pendekatan Van Hiele yangsudah mencapai ketuntasan, yaitu 70 lebih dari 75%; (2) rata -rata hasil tes kemampuan pemecahan masalahdan skor disposisi matematispeserta didik yang dikenakan model pembelajaran berbasis pendekatan Van Hielelebih tinggi dari pada peserta didik yang dikenakan pembelajaran ekspositori; dan (3) disposisi matematis berpengaruh positif terhadap kemampuan pemecahan masalah, hal tersebut sejalan dengan pendapat para ahli yang menyatakan bahwa disposisi menunjang pengembangan kemampuan pemecahan masalah matematis. Beberapa ahli juga menyatakan bahwa pembelajaran berbasis masalah efektif pada pembelajaran Mariani, et al (2014) menyatakan bahwa pembelajaran berbasis masalah berbantuan Mathematics Pop Up Book efektif terhadap pembelajaran geometri. Pradnyana, Marhaeni, dan Made (2013) yang menyatakan bahwa pembelajaran berbasis masalah efektif diterapkan pada pembelajaran; juga pada pembelajaran Fatade (2012) juga menyatakan bahwa pembelajaran berbasis masalah efektif diterapkan pada pembelajaran Pada penelitian ini, TGVH dilaksanakan sebanyak dua kali pada kelas eksperimen. TVGH dilaksanakan sebelum dan sesudah peserta didik kelas eksperimen memperoleh pembelajaran materi geometri. Gambar 1 berikut ini adalah pengelompokan tingkat berpikir geometri Van Hiele berdasarkan hasil pretes dan postes pada kelas eksperimen. 100,0% Prosentase Peserta Didik 80,0% 60,0% 40,0% 20,0% 0,0% Tingkat 0 (Visualisasi) Tingkat 1 (Analisis) Tingkat 2 (Deduksi Informal) Tingkat 3 (Deduksi) Tingkat Berpikir Geometri Van Hiele Tingkat 4 (Rigor) Pretes Gambar 1. Hasil Tes Geometri Van Hiele 69

Berdasarkan Gambar 1 terdapat beberapa peserta didik yang mengalami perubahan tingkat berpikir geometri Van Hiele. Peserta didik yang berada pada tingkat 0 (visualisasi) mengalami penurunan dari yang awalnya sebesar 25,7%, setelah pembelajaran turun menjadi 2,9%. Peserta didik yang berada pada tingkat 1 (analisis) juga mengalami penurunan dari yang awalnya sebesar 65,7% setelah pembelajaran turun menjadi 17,1%. Peserta didik yang berada pada tingkat 2 (deduksi informal) mengalami kenaikan dari yang awalnya sebesar 5,7% setelah pembelajaran naik menjadi 74,3%. Peserta didik yang berada pada tingkat 3 (deduksi) juga mengalami kenaikan dari yang awalnya sebesar 2,9% setelah pembelajaran naik menjadi 5,7%. Tidak ada seorang pun peserta didik yang berada pada tingkat 4 (rigor) sebelum maupun sesudah pembelajaran. Tabel 1. Kemampuan Pemecahan Masalah pada Tiap Tingkat Berpikir Geometri Van Hiele Indikator Pemecahan Masalah Memahami Masalah Menyusun Rencana Melaksana kan Rencana Mengecek Hasil Tingkat 0 (Visualisasi) informasi yang diketahui sesuai dengan dapat permasalahan yang ditanyakan. dapat membuat sketsa sesuai informasi yang diberikan. dapat rumus yang akan digunakan untuk dapat menyusun rencana pemecahan benar. dapat menjawab benar karena tidak dapat menyusun rencana pemecahan benar dapat menuliskan simpulan akhir dari pernyelesaian dapat melakukan pengecekan kembali terhadap hasil pekerjaannya. Tingkat 1 (Analisis) informasi yang diketahui sesuai dengan permasalahan yang ditanyakan. membuat sketsa permasalahan tapi masih kurang lengkap. Peserta didik rumus yang salah dalam Peserta didik menyusun rencana pemecahan masalah yang kurang tepat dan tidak lengkap. dapat menjawab benar karena rencana pemecahan masalah yang disusun masih kurang tepat dapat menuliskan simpulan akhir dari penyelesaian dapat melakukan pengecekan kembali terhadap hasil pekerjaannya. Tingkat 2 (Deduksi Informal) informasi yang diketahui sesuai dengan permasalahan yang ditanyakan. membuat sketsa sesuai informasi yang diberikan. menuliskan rumus yang benar untuk permasalahan tapi masih kurang lengkap menyusun rencana pemecahan masalah dengan benar tapi tidak sistematis. menjawab masalah dengan benar karena dapat menyusun rencana pemecahan benar walaupun tidak sistematis. menuliskan simpulan akhir dari penyelesaian dapat melakukan pengecekan kembali terhadap hasil pekerjaannya. Tingkat 3 (Deduksi) informasi yang diketahui sesuai dengan permasalahan yang ditanyakan. membuat sketsa sesuai informasi yang diberikan. rumus yang akan digunakan dengan benar menyusun rencana pemecahan masalah dengan benar dan sistematis menjawab masalah dengan benar dan sistematis karena dapat menyusun rencana pemecahan benar dan lengkap. menuliskan simpulan akhir dari penyelesaian melakukan pengecekan kembali terhadap hasil pekerjaannya. 70

Tingkat berpikir geometri Van Hiele terendah pada peserta didik kelas X SMA adalah tingkat 0 (visualisasi). Sedangkan tingkat berpikir geometri Van Hiele tertinggi pada peserta didik kelas X SMA adalah tingkat 3 (deduksi informal). Burger dan Shaughnessy (1986) juga menyatakan bahwa tingkat berpikir peserta didik SMP dalam belajar geometri tertinggi pada tingkat 2 (deduksi informal) dan sebagian besar berada pada tingkat 0 (visualisasi). Pernyataan tersebut juga didukung oleh pendapat Walle (1994) yang meny atakan bahwa sebagian besar peserta didik SMP berada pada antara tingkat 0 (visualisasi) sampai tingkat 2 (deduksi informal). Khoiriyah et al. (2013) menyatakan bahwa hasil penelitian tentang tingkat berpikir peserta didik SMA berdasarkan terdiri atas tingkat 0 (visualisasi), tingkat 1 (analisis), dan tingkat 2 (deduksiinformal). Hal ini sejalan dengan penelitian ini bahwa peserta didik yang berada pada tingkat 4 (rigor) untuk jenjang pendidikan SMA kelas X belum ditemukan. Langkah-langkah pemecahan masalah menurut Polya terdiri atas memahami masalah, menyusun rencana pemecahan masalah, melaksanakan rencana pemecahan masalah, dan mengecek hasil. Tabel 1 adalah hasil penelitian kemampuan pemecahan masalah berdasarkan langkah Polya pada tiap tingkat berpikir geometri Van Hiele. Peserta didik tingkat 0 (visualisasi) dapat mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui, tapi tidak dapat unsur yang ditanyakan. Peserta didik tingkat 0 (visualisasi) juga tidak dapat menyusun model matematika, hal ini terlihat dari ketidakmampuannya membuat sketsa berdasarkan unsur-unsur yang sudah diketahui. Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Crowley (1987) yang menyatakan bahwa peserta didik pada tingkat 0 (visualisasi) membuat bangun-bangun geometri berdasarkan penampilan fisik sebagai suatu keseluruhan. Oleh karena itu peserta didik pada tingkat 0 (visualisasi) tidak dapat membuat sketsa bangun geometri hanya berdasarkan deskripsi pada soal. Pada langkah menyusun rencana, peserta didik tingkat 0 (visualisasi) tidak dapat menyusun rencana penyelesaian benar. Peserta didik pada tingkat 0 (visualisasi) juga tidak dapat rumus-rumus yang digunakan untuk Hal ini dikarenakan menurut Fuys et al. (1988), kemampuan peserta didik pada tingkat 0 (visualisasi) masih sekedar mengidentifikasi bangun berdasarkan penampakannya secara utuh, sehingga peserta didik pada tingkat 0 (visualisasi) belum dapat menentukan rumus penyelesaikan permasalahan geometri. Peserta didik tingkat 1 (analisis) dapat mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui dan yang ditanyakan. Peserta didik tingkat 1 (analisis) juga dapat menyusun model matematika walaupun belum lengkap, hal ini terlihat dari kemampuan peserta didik tingkat 1 (analisis) membuat sketsa bangun geometri tapi belum dilengkapi dengan unsur-unsur yang diketahui. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan pendapat Crowley (1987) yang menyatakan bahwa peserta didik pada tingkat 1 (analisis) dapat mengidentifikasi dan menggambar bangun yang diberikan secara verbal atau diberikan sifat-sifatnya secara tertulis. Muhassanah, Sujadi dan Riaydi (2014) juga mnyatakan bahwa peserta didik tingkat 1 (analisis) sudah mampu mengkonstruksi gambar sesuai dengan ciri-ciri yang diberikan. Pada langkah menyusun rencana, peserta didik tingkat 1 (analisis) belum dapat menyusun rencana penyelesaian benar. Peserta didik pada tingkat 1 (analisis) juga tidak dapat rumus-rumus yang digunakan untuk permasalahan dengan tepat. Hal ini dikarenakan menurut Crowley (1987), kemampuan peserta didik pada tingkat 0 (visualisasi) masih sekedar mendeskripsikan kelas suatu bangun sesuai dengan sifat-sifatnya dan membandingkan bangun-bangun berdasarkan karakteristik sifatsifatnya. Pada langkah melaksanakan rencana, peserta didik tingkat 1 (analisis) tidak dapat menjawab benar karena tidak dapat menyusun rencana pemecahan masalah dengan benar. Oleh karena itu, peserta didik tingkat 1 (analisis) tidak dapat menuliskan 71

simpulan akhir dari penyelesaian Peserta didik tingkat 1 (analisis) juga tidak dapat mengecek hasil. Peserta didik tingkat 2 (deduksiinformal) dapat mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui dan yang ditanyakan. Peserta didik tingkat 2 (deduksiin formal) juga sudah dapat dapat menyusun model matematika dengan lengkap, hal ini terlihat dari kemampuan peserta didik tingkat 2 (deduksi informal) membuat sketsa bangun geometri yang sudah dilengkapi dengan unsur-unsur yang diketahui.pada langkah melaksanakan rencana, peserta didik tingkat 2 (deduksiinformal) dapat menjawab benar karena dapat menyusun rencana pemecahan benar. Oleh karena itu, peserta didik tingkat 2 (deduksiinformal) dapat menuliskan simpulan akhir dari penyelesaian Hal tersebut sejalan dengan pendapat Fuys et al. (1988) bahwa peserta didik tingkat 2 (deduksiinformal) dapat memberikan argumen informal yaitu menggambarkan suatu kesimpulan, memberikan alasan kesimpulan menggunakan logika yang sesuai. Namun Peserta didik tingkat 2 (deduksi informal) tidak dapat mengecek hasil penyelesaian permasalahan geometri.pada langkah memahami masalah, peserta didik tingkat 3 (deduksi) dapat mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui dan yang ditanyakan. Peserta didik tingkat 3 (deduksi) juga sudah dapat dapat menyusun model matematika dengan lengkap, hal ini terlihat dari kemampuan peserta didik tingkat 3 (deduksi) membuat sketsa bangun geometri yang sudah dilengkapi dengan unsurunsur yang diketahui. Aspek Disposisi Matematis Tabel 2. Disposisi Matematis pada Tiap Tingkat Berpikir Geometri Van Hiele Tingkat 0 (Visualisasi) Tingkat 1 (Analisis) Tingkat 2 (Deduksi Informal) Tingkat 3 (Deduksi) Aspek 1 Peserta didik cukup percaya diri dalam Peserta didik cukup percaya diri dalam kepercayaan diri yang masalah masalah menyelesaian masalah kepercayaan diri yang sangat menyelesaian masalah Aspek 2 fleksibiltas yang rendah dalam mengeksplorasi ide-ide matematis. fleksibiltas yang rendah dalam mengeksplorasi ide-ide matematis. fleksibiltas yang cukup mengeksplorasi ide-ide matematis. fleksibiltas yang tinggi dalam mengeksplorasi ide-ide matematis. Aspek 3 kegigihan yang tinggi dalam tugas-tugas kegigihan yang tinggi dalam tugas-tugas kegigihan yang tinggi dalam tugas-tugas kegigihan yang tinggi dalam tugas-tugas Aspek 4 ketertarikan dan keingintahuan yang permasalahan ketertarikan dan keingintahuan yang permasalahan ketertarikan dan keingintahuan yang permasalahan ketertarikan dan keingintahuan yang tinggi dalam permasalahan 72

Aspek Disposisi Matematis Tingkat 0 (Visualisasi) Tingkat 1 (Analisis) Tingkat 2 (Deduksi Informal) Tingkat 3 (Deduksi) Aspek 5 Aspek 6 untuk memonitor dan merefleksi proses berpikir dan kinerja diri sendiri. untuk menilai aplikasi matematika dalam bidang lain. untuk memonitor dan merefleksi proses untuk memonitor dan merefleksi proses untuk memonitor dan merefleksi proses berpikir berpikir dan kinerja diri berpikir dan kinerja diri dan kinerja diri sendiri. sendiri. sendiri. untuk menilai aplikasi matematika dalam bidang lain. untuk menilai aplikasi matematika dalam bidang lain. untuk menilai aplikasi matematika dalam bidang lain. Aspek 7 dalam mengapresiasi peran dalam mengapresiasi peran keinginan yang sangat mengapresiasi peran keinginan yang sangat mengapresiasi peran Peserta didik tingkat 3 (deduksi) sudah dapat menyusun rencana penyelesaian masalah dengan benar dan sistematis. Peserta didik pada tingkat 3 (deduksi) juga dapat rumus-rumus yang digunakan untuk permasalahan dengan tepat. Pada langkah melaksanakan rencana, peserta didik tingkat 3 (deduksi) dapat menjawab benar karena dapat menyusun rencana pemecahan benar. Oleh karena itu, peserta didik tingkat 3 (deduksi) dapat menuliskan simpulan akhir dari penyelesaian Pada langkah mengecek hasil, peserta didik tingkat 3 (deduksi) dapat melakukan pengecekan kembali terhadap hasil pekerjaannya. Hal ini sejalan dengan Fuys et al. (1988) yang menyatakan bahwa peserta didik tingkat 3 (deduksi) dapat membuktikan hubungan di antara teorema. Setiap peserta didik tentunya memiliki perbedaan disposisi matematis pada tiap aspek tersebut. Tabel 2 menunjukkan disposisi matematis pada tiap tingkat berpikir geometri berdasar klasifikasi Van Hiele. Disposisi matematis peserta didik tingkat 0 (visualisasi) termasuk pada kategori tinggi. Seluruh aspek disposisi matematis terkecuali aspek 1 kepercayaan diri dalam pembelajaran matematika dan aspek 2 fleksibel dalam mengeksplorasi ide-ide matematika termasuk pada kategori tinggi. Kepercayaan diri peserta didik tingkat 0 (visualisasi) dalam pembelajaran matematika termasuk pada kategori sedang. Sedangkan fleksibilitas peserta didik tingkat 0 (visualisasi) dalam mengeksplorasi ide-ide matematika termasuk pada kategori rendah. Hal ini dapat disebabkan oleh kemampuan geometri peserta didik tingkat 0 (visualisasi) yang masih rendah. Crowley (1987), Walle (1994), dan Fuys et al.(1988) menyatakan bahwa peserta didik tingkat 0 (visualisasi) hanya dapat mengidentifikasi bangun berdasarkan penampakannya secara utuh. Disposisi matematis peserta didik tingkat 1 (analisis) termasuk pada kategori tinggi. Seluruh aspek disposisi matematis terkecuali aspek 1 kepercayaan diri dalam pembelajaran matematika dan aspek 2 fleksibel dalam mengeksplorasi ide-ide matematika termasuk pada kategori tinggi. Kepercayaan diri peserta didik tingkat 1 (analisis) dalam pembelajaran matematika termasuk pada kategori sedang. Sedangkan fleksibilitas peserta didik tingkat 1 (analisis) dalam mengeksplorasi ide-ide matematika termasuk pada kategori rendah. Hal ini dapat disebabkan oleh kemampuan geometri 73

peserta didik tingkat 1 (analisis) yang masih rendah. Crowley (1987), Walle (1994), dan Fuys et al. (1988) menyatakan bahwa peserta didik tingkat 1 (analisis) hanya dapat mengklasifikasi bangun geometri berdasar sifat-sifatnya. Disposisi matematis peserta didik tingkat 2 (deduksi informal) termasuk pada kategori tinggi. Seluruh aspek disposisi matematis terkecuali aspek 2 fleksibel dalam mengeksplorasi ide-ide matematika termasuk pada kategori tinggi. Fleksibilitas peserta didik tingkat 2 (deduksiinformal) dalam mengeksplorasi ide-ide matematika termasuk pada kategori sedang. Fuys et al. (1988) menyatakan bahwa peserta didik tingkat 2 (deduksi informal) sudah dapat mengidentifikasi dan menggunakan strategi atau memberi alasan bermakna untuk memecahkan masalah. Disposisi matematis peserta didik tingkat 3 (deduksi) termasuk pada kategori ti nggi. Seluruh aspek disposisi matematis terkecualli aspek 7 mengapresiasi peran matematika termasuk pada kategori tinggi. Peserta didik tingkat 3 (deduksi) memiliki keinginan sangat mengapresiasi peran Hal ini dapat disebabkan oleh yang sudah berada pada tingkat 3 (deduksi) memiliki kemampuan geometri yang tinggi. Fuys et al. (1988) menyatakan bahwa peserta didik tingkat 3 (deduksi) sudah dapat mengkreasikan bukti dari kumpulan aksioma sederhana. PENUTUP Tingkat berpikir geometri lebih banyak tergantung dari pembelajaran dibandingkan umur atau kedewasaan biologis sehingga perlu adanya inovasi pembelajaran yang dapat mengatasi perbedaan tingkat berpikir geometri peserta didik. Model pembelajaran berbasis pendekatan Van Hiele efektif terhadap kemampuan pemecahan masalah dan disposisi matematis pada materi geometri. Selain itu perlu adanya pengadaan media pembelajaran yang dapat mengatasi perbedaan tingkat berpikir geometri peserta didik. Perbedaan tingkat tingkat berpikir geometri menyebabkan pula perbedaan kemampuan pemecahan masalah dan disposisi matematis peserta didik oleh karena itu perlu adanya analisis kemampuan pemecahan masalah dan disposisi matematis pada tiap tingkat berpikir geometri. Hal ini bertujuan agar guru dapat memahami karakterisktik kemampuan pemecahan masalah dan disposisi matematis pada tiap tingkat berpikir geometri Van Hiele.Perlu adanya penelitian lebih lanjut pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi untuk menemukan peserta didik yang berada pada tingkat 4 (rigor) yang mana tidak ditemukan pada penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA Anderson, J. 2009. Mathematics Curriculum Development and the Role of Problem Solving. ACSA Conference. Burger, W.F. dan Shaughnessy, J.M.. 1986. Characterizing the van Hiele Levels of Development in Geometry. Journal for Research in Mathematics Education. Vol.17, No. 1, Hal. 31-48. Clowley, M. L. 1987. The van Hiele Model of the Development of Geometric Thought. Learning and Teaching Geometry, K-12, Yearbook of the Nasional Council of Teachers of Mathematic. Hal. 1-16. Fatade, A.O. 2012. Investigating The Effectiveness of Problem-Based Learning in The Further Mathematics Classrooms. Disertasi. University of South Africa. Fuys, D., D. Geddes dan R. Tischler. 1988. The Van Hiele Model of Thinking in Geometry among Adolescents. Journal for Research in Mathematics Education. Vol. 3. Hal. 1-196. Khoiriyah, Sutopo, dan Aryuna, D. R. 2013. Analisis Tingkat Berpikir Siswa Berdasarkan Teori Van Hiele pada Materi Dimensi Tiga Ditinjau dari Gaya Kognitif Field Dependent dan Field Independent. Jurnal Pendidikan Matematika Solusi. Vol.1, No.1, Hal. 18-30. Mariani, S. Wardono dan E.D. Kusumawardani. 2014. The Effectiveness of Learning by PBL Assisted Mathematics Pop Up Book Againts The Spatial Ability in Grade VIII on Geometry Subject Matter. Internasional Journal of Education and Research. Vol. 2, No. 2, Hal. 531-548. Muhassanah, N. I. Sujadi, dan Riyadi. 2014. Analisis Keterampilan Geometri Siswa dalam 74

Memecahkan Masalah Geometri Berdasarkan Tingkat Berpikir Van Hiele. Jurnal Elektronik Pembelajaran Matematika. Vol.2, No.1, hal 54 66. NCTM. 1989. Curriculum and Evaluation Standards for School Mathematics. Reston, VA : NCTM. Polya. 1973. How To Solve It, Second Edition. New Jersey: Princeton University Press. Pradnyana, P. B, Marhaeni, A.A.I.N, dan I. Made. 2013. Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah terhadap Motivasi Belajar dan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas IV SD. e-journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha. Vol. 1. Republik Indonesia. 2005. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Sekretariat Negara. Shadiq, F. 2009. Model-model Pembelajaran Matematika SMP. Yogyakarta: PPPPTK Matematika. Usiskin, Z. 1982. Van Hiele Levels and Achievement in Secondary School Geometry. Chicago: University of Chicago. Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Method). Bandung: Alfabeta. Walle, J.A. 1994. Elementary School Mathematics: Teaching Developmentally. New York: Longman. 75