RIDWAN REMIN Auahelap! Self Publishing
Inilah aku orangnya. Si pemilik nama Jono Adi Putro, atau yang biasa dipanggil Jono (doang) oleh orang-orang yang mungkin terlalu malas untuk menyebutkan nama belakangku yang tiada lain ialah nama dari almarhum Ayahku. Panggil Jono ajalah, Biar gampang. Lagian kalo panggil Adi atau Putro, nanti malah bokap lu yang nyaut. Kan, serem! begitulah, kata beberapa orang yang selera humornya tidak terlalu tinggi. Atau yang biasa kusebut, orang-orang jenaka! 2
Saat ini aku sedang berada di usia yang sangat matang. Usia yang sering kali dianggap ideal untuk seorang lelaki bujang diledeki lapuk. Aku memang tidak lebih tua dari Ibuku, itu jelas. Aku pun tidak lebih muda dari bayi yang baru lahir, dan sekali lagi, itu sudah tentu jelas. Sejak 6 tahun yang lalu, aku sudah resmi keluar dan meninggalkan bangku kuliah dengan gelar Sarjana Komunikasi di genggaman. Tua? Iya. Tapi aku tidak setua itu, masih sangat bertenaga. Tidak percaya? Sini kutonjok! Aku ini anak dari seorang Ayah yang kaya raya. Tapi sayang, Ayah telah meninggal sejak lama. Sejak aku masih kecil. Sejak aku masih belum terlalu mengerti untuk apa sebenarnya aku dilahirkan. Aku ingat, saat itu RCTI baru saja resmi menjadi stasiun televisi swasta ke-dua di Indonesia. Dan sejaman dengan itu, Ayah resmi meninggalkan aku dan Ibu. 20 Tahun yang lalu. Aku dan Ibu. Kami berdua tidak hanya ditinggalkannya begitu saja. Ia meninggalkan kami 3
dengan segudang harta warisan yang lebih dari cukup untuk memenuhi segala kebutuhan kami sewaktu-waktu. Bahkan, tidak hanya itu. Seperhitunganku, harta warisan Ayah tidak hanya akan memenuhi kebutuhanku dan Ibu, tapi juga mampu memenuhi kebutuhan anak-anakku nanti. Cucu-cucuku juga. Dan anak dan cucu dari para cucu-cucuku berikutnya. Harta warisan peninggalan Ayah memang sangat banyak. Banyak sekali. Mungkin, tidak akan pernah bisa dihabiskan seperti harta Keluarga Cendana. Kalau kau mengira aku sedang bercanda, ya terserah sajalah. Kesibukanku? Sekarang Aku berstatus sebagai pekerja kantoran di salah satu gedung perkantoran yang ada daerah Jakarta Selatan, bagian barat Indonesia. Aku memang anak orang kaya. Tapi bukan pula aku ini dibesarkan untuk menjadi pemalas yang hanya bisa menikmati hasil kerja keras orang tuaku saja tanpa melakukan usaha apa pun yang berguna. Selain itu, Ibu juga tidak suka melihatku bermalas-malasan. Selalu saja Ibu marah kalau 4
melihat anak semata wayangnya ini hanya berdiam diri di dalam rumah tanpa melakukan aktivitas apa pun yang menurutnya berguna. Keluar, gih! Jangan diem di rumah terus. Nanti keasikan diem malah gak bisa bergerak, lho. kata Ibu di satu waktu ketika aku sedang asik menganggur setelah lulus dari kuliah. Emangnya Ibu mau, aku pergi terus gak pulang-pulang lagi? kataku membela diri dari depan televisi yang sangat sulit ditinggali, jadi mending aku diem terus tapi tetep ada di rumah, kan? Terserah kamu, lah! kata Ibu, yang saat itu terlihat tiada beda seperti layaknya anak muda jaman sekarang yang sedang pusing meladeni kelakuan kekasihnya. Membicarakan Ibu, aku jadi kagum sekaligus sedih. Kesedihan tak pernah kurasakan sehebat ini sebelumnya. Kali ini air mataku teramat sulit 5
kubiarkan tetap diam di pelupuk mata. Rasanya mereka semua ingin melompat keluar; menyapa Ibu yang tengah terbaring lemas di kamarnya. Tubuh Ibu kini memang sudah benar-benar lemas, bahkan rasanya sudah terlalu lemas walau hanya untuk menghela napas. Sudah kubujuk Ia ke Dokter, tapi tak mau. Biarin Ibu istirahat di rumah aja, begitu katanya. Seharusnya aku sudah beristri. Karena tak setiap waktuku bisa selalu ada di sampingnya, menemaninya. Aku terlalu sibuk menjalani rutinitas karena tuntutan pekerjaan. Sampai-sampai aku malah lebih banyak berbagi waktu bersama orang-orang yang tak kukenali sebelumnya; merebut waktuwaktuku bercengkerama dengan orang yang kukenali dan kucintai, seharusnya. Seharusnya aku memang sudah beristri. Agar tak lagi hanya ada bantal dan guling yang menemaninya ketika aku sedang tak berada di rumah. 6
Kerap kulihat Ibu sedang bicara pada dinding kamar. Mencurahkan segala kepedihannya, menangis menahan rasa sakit yang sudah sejak lama menyetubuhinya. Tangisku pun pecah dibuatnya. 7
Mau Tahu Cerita Selengkapnya? Yuk Dibeli Bukunya! 8