BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kesatuan yang dibangun di atas keheterogenan

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan jangka panjang Indonesia mempunyai sasaran utama. terciptanya landasan yang kuat dari bangsa Indonesia untuk tumbuh dan

2015 PEWARISAN NILAI-NILAI BUDAYA SUNDA PADA UPACARA ADAT NYANGKU DI KECAMATAN PANJALU KABUPATEN CIAMIS

2015 KESENIAN RONGGENG GUNUNG DI KABUPATEN CIAMIS TAHUN

BAB I PENDAHULUAN. Kesenian tradisional pada Masyarakat Banten memiliki berbagai

BAB I PENDAHULUAN. Modernisasi merupakan fenomena budaya yang tidak dapat terhindarkan

BAB I PENDAHULUAN. Munculnya usaha budidaya benih ikan di Kecamatan Bojongpicung tidak

BAB I PENDAHULUAN. Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk dalam berbagai

BAB I PENDAHULUAN. kegiatan dalam suatu usaha secara menyeluruh untuk meningkatkan kesejahteraan

BAB I PENDAHULUAN. Kegiatan ekonomi yang sangat berpengaruh terhadap tingkat pertumbuhan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, adat istiadat dan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pada bab ini akan dibahas secara rinci mengenai metode penelitian yang

BAB I PENDAHULUAN. Provinsi Jawa Barat yang lebih sering disebut sebagai Tatar Sunda dikenal

BAB I PENDAHULUAN. melestarikan dan mengalihkan serta mentransformasikan nilai-nilai kebudayaan dalam

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ekonomi tahun 1980an telah berdampak pada tumbuhnya

BAB IV ANALISIS NILAI-NILAI KEAGAMAAN DALAM UPACARA SEDEKAH BUMI. A. Analisis Pelaksanaan Upacara Sedekah Bumi

BAB I PENDAHULUAN Amalia, 2013

BAB I PENDAHULUAN. Eksistensi budaya dalam kehidupan sosial masyarakat suatu bangsa

BAB I PENDAHULUAN. Pertanian dan pedesaan merupakan dua sisi mata uang yang saling

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. masih banyak memperlihatkan unsur persamaannya, salah satunya adalah suku

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

2017 DAMPAK MODERNISASI TERHADAP KEHIDUPAN MASYARAKAT KAMPUNG BENDA KEREP KOTA CIREBON TAHUN

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan industri merupakan hal yang sangat penting dalam. meningkatkan kesempatan kerja serta memperbaiki kualitas pertumbuhan

BAB I PENDAHULUAN. perasaan, yaitu perasaan estetis. Aspek estetis inilah yang mendorong budi

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Yuyun Yuniati, 2013

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ageng Sine Yogi, 2014

BAB V PENUTUP. A. Kesimpulan

2015 KAJIAN NILAI-NILAI BUDAYA UPACARA ADAT NYANGKU DALAM KEHIDUPAN DI ERA MODERNISASI

BAB I PENDAHULUAN. Kegiatan ekonomi masyarakat dalam bidang perikanan di Indonesia, telah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Lia Nurul Azizah, 2013

BAB I PENDAHULUAN. keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan strukturstruktur

BAB I PENDAHULUAN. Ada tiga faktor penting dalam sejarah yaitu manusia, tempat, dan waktu 1.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Bab ini membahas lebih rinci metode penelitian yang digunakan dalam

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. keanekaragaman budaya, adat istiadat, bahasa dan sebagainya. Setiap daerah pun

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pernikahan adalah salah satu peristiwa penting yang terjadi dalam

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Kelurahan Sindangkasih adalah kearifan lokal budaya yang masih tersisa di

BAB I PENDAHULUAN. Kesenian merupakan segala hasil kreasi manusia yang mempunyai sifat

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu sasaran yang hendak dicapai dalam pembangunan ekonomi

BAB III METODE PENELITIAN

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI

I. PENDAHULUAN. Bangsa Indonesia adalah Bangsa yang heterogen, kita menyadari bahwa bangsa

BAB I PENDAHULUAN. manusia yang sangat kompleks. Didalamnya berisi struktur-struktur yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Pengaruh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya yang

BAB I PENDAHULUAN. Dalam pepatah Jawa dinyatakan bahwa budaya iku dadi kaca benggalaning

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu kebanggaan nasional (national pride) bangsa Indonesia adalah

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara pertanian, dimana pertanian memegang

BAB I PENDAHULUAN. Pulau Bangka, Singkep dan Belitung merupakan penghasil timah terbesar di Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Yuvenalis Anggi Aditya, 2013

BAB I PENDAHULUAN. sampai merauke, menyebabkan Indonesia memiliki banyak pulau. dijadikan modal bagi pengembang budaya secara keseluruhan.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Komunikasi merupakan mekanisme untuk mensosialisasikan normanorma

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat adalah orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan. Dengan demikian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat pesisir pantai barat. Wilayah budaya pantai barat Sumatera, adalah

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara kesatuan dari berbagai pulau dan daerah yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bangsa Indonesia yang mempunyai ribuan pulau dengan berbagai

BAB I PENDAHULUAN. minyak mentah, batu bara, tembaga, biji besi, timah, emas dan lainnya. Dampak

BAB I PENDAHULUAN. Kenyataan menujukan bahwa kebudayan Indonesia telah tumbuh dan. generasi sebelumnya bahkan generasi yang akan datang.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. sakral, sebuah pernikahan dapat menghalalkan hubungan antara pria dan wanita.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut

BAB I PENDAHULUAN. menghasilkan suatu sistem nilai yang berlaku dalam kehidupan

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. terkenal sebagai salah satu negeri terbesar penghasil kain tenun tradisional yang

2015 KEHID UPAN MASAYARAKAT BAD UY LUAR D I D ESA KANEKES KABUPATEN LEBAK BANTEN

BAB I PENDAHULUAN. Minangkabau. Tradisi ini dapat ditemui dalam upacara perkawinan, batagak gala

BAB I P E N D A H U L U A N. Pendidikan seni berperan penting dalam pengembangan kecerdasan

BAB I PENDAHULUAN. Koperasi mempunyai peranan yang sangat penting sebagai pelaku

BAB I PENDAHULUAN. Kesenian ronggeng gunung merupakan kesenian tradisional masyarakat

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

2015 PENGAKUAN KEESAAN TUHAN DALAM MANTRA SAHADAT SUNDA DI KECAMATAN CIKARANG TIMUR KABUPATEN BEKASI

ILMU SEJARAH FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA UNIVERSITAS SEBELAS MARET 2013

BAB I PENDAHULUAN. Dalam suatu suku bangsa mempunyai berbagai macam kebudayaan, tiap

BAB I PENDAHULUAN. yang semula hanya dinikmati segelintir orang-orang yang relatif kaya pada awal

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Nova Silvia, 2014

BAB I PENDAHULUAN. sekarang ini sedang dikembangkan oleh pemerintah Indonesia. Selain bertujuan

BAB I PENDAHULUAN. Masyarakat Indonesia merupakan suatu masyarakat majemuk yang

BAB I PENDAHULUAN. Kebermaknaan seseorang boleh dikatakan hanya ada manakala ia berada

2016 DAMPAK KEBIJAKAN SUMEDANG PUSEUR BUDAYA SUNDA TERHADAP PENANAMAN NILAI-NILAI KESUNDAAN

BAB I PENDAHULUAN. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki kekayaan budaya dan

BAB I PENDAHULUAN. Kelompok industri kecil memiliki peran strategis dalam peningkatan

BAB I PENDAHULUAN. Kampung Naga merupakan salah satu perkampungan masyarakat yang. kampung adat yang secara khusus menjadi tempat tinggal masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kebudayaan merupakan corak kehidupan di dalam masyarakat yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Kajian mengenai perkembangan industri moci di Cikole dan dampaknya

BAB I PENDAHULUAN. Modernisasi yang dipelopori oleh negara-negara Barat tak bisa dipungkiri

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PANDANGAN MASYARAKAT TERHADAP UPACARA MERTI DESA DI DESA CANGKREP LOR KECAMATAN PURWOREJO KABUPATEN PURWOREJO

2015 KEHIDUPAN MASYARAKAT NELAYAN KECAMATAN GEBANG KABUPATEN CIREBON

2013 POLA PEWARISAN NILAI-NILAI SOSIAL D AN BUD AYA D ALAM UPACARA AD AT SEREN TAUN

BAB I PENDAHULUAN. Manusia pada hakikatnya akan hidup sebagai kelompok, hal tersebut

I. PENDAHULUAN. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang heterogen atau majemuk, terdiri dari

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Nurshopia Agustina, 2013

BAB I PENDAHULUAN. Kesenian tradisional pada akhirnya dapat membangun karakter budaya

BAB I PENDAHULUAN. Manusia sebagai makhluk hidup berinteraksi dengan lingkungan alam sekitarnya.

Transkripsi:

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG MASALAH Indonesia merupakan negara kesatuan yang dibangun di atas keheterogenan bangsanya. Sebagai bangsa yang heterogen, Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa, bahasa, agama, dan kebudayaan. Suatu hal yang membanggakan bagi kita sebagai rakyat Indonesia, karena bisa mempersatukan keberagaman tersebut dalam satu ikatan yaitu NKRI. Sudah selayaknyalah keberagaman tersebut dijadikan sebagai modal untuk membangun negeri ini bukan malah dijadikan sebagai alat pemicu terjadinya disintegrasi bangsa. Kebudayaan merupakan salah satu aspek yang turut memperkaya keheterogenan bangsa Indonesia. E.B.Tylor mendefinisikan kebudayaan sebagai kebulatan yang kompleks termasuk di dalamnya pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat kebiasaan dan kapabilitas serta kebiasaan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat (Huky, 1987: 67-68). Kebudayaan suatu masyarakat akan berbeda dengan kebudayaan yang dihasilkan oleh masyarakat lainnya karena kelahiran suatu kebudayaan masyarakat sangat dipengaruhi oleh kondisi geografis tempat tinggalnya. Misalnya kebudayaan masyarakat yang tinggal di daerah pesisir pantai berbeda dengan kebudayaan masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman.

2 Salah satu bentuk dari kebudayaan yang berkembang dalam suatu masyarakat adalah upacara adat. Di dalam kehidupan masyarakat Sunda khususnya, tampak bahwa perjalanan hidup manusia itu tidak terlepas dari adanya upacara ritual yang menyertainya, misalnya kelahiran, pernikahan, kematian, maupun dalam masalah pertanian. Upacara adat yang dilaksanakan sangat berkaitan erat dengan pandangan hidup orang Sunda itu sendiri. Dalam hal ini, upacara adat direfleksikan sebagai bentuk hubungan manusia dengan sesamanya dalam konteks hubungan sosial, dengan Tuhan, maupun hubungan manusia dengan alam. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Garna (2008: 187) bahwa: Pandangan hidup orang Sunda mengandung berbagai hal tentang manusia sebagai pribadi, hubungan manusia dengan lingkungan masyarakat, dengan alam, dengan Tuhan, dan tentang hakekat manusia dalam mengejar kemajauan rokhaniah dan kepuasan batiniah. Posisi upacara adat bagi masyarakat pelakunya merupakan sesuatu yang harus dilakukan dan jika tidak maka dikhawatirkan akan menyebabkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Selain itu, di dalam upacara adat terdapat maknamakna tentang kehidupan yang tersirat melalui simbol-simbol yang digunakannya. Oleh karena itu, masyarakat pendukungnya berusaha untuk tetap mempertahankan pelaksanaan upacara adat yang dianggap sebagai wasiat dari leluhurnya. Upacara adat Mapag Sri adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Kampung Leuwi Panas yang merupakan suatu kebudayaan yang merefleksikan kehidupan masyarakatnya yang mayoritas berprofesi sebagai petani. Upacara ini dilakukan sebagai bentuk ungkapan syukur masyarakat kampung Leuwi Panas kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang mereka peroleh. Upacara

3 adat Mapag Sri juga dijadikan sarana untuk memohon kelancaran dalam tanam padi selanjutnya dan sebagai penghormatan terhadap Dewi Sri sebagai Dewi Padi atau Dewi Kesuburan serta sebagai ritual tolak bala. Selain itu upacara ini juga bertujuan untuk memelihara hubungan diantara masyarakat kampung Leuwi Panas. Pada jaman dahulu Upacara adat Mapag Sri diselenggarakan setiap selesai panen yaitu pada bulan Mei. Namun dalam perkembangannya upacara ini kemudian dilakukan setiap bulan Agustus yang dilaksanakan selama sehari semalam. Upacara ini ini dilaksanakan dengan mengarak panganten pare sebagai simbol Dewi Sri mengelilingi kampung, dengan diiringi berbagai atraksi kesenian dan arak-arakan lainnya. Setelah itu, diadakan pergelaran wayang kulit dengan lakon Sulanjana (cerita mengenai asal-usul padi). Pagelaran wayang kulit ini merupakan tahap yang penting dalam upacara adat Mapag Sri. Di dalam upacara adat ini juga terdapat prosesi selamatan atau ngaruwat. Setelah prosesi ngaruwat berakhir, masyarakat memperebutkan air yang berasal dari tujuh mata air yang dipercaya sebagai tolak bala dan bisa menyembuhkan penyakit. Air yang sudah diruwat ini kemudian disimpan dan dituangkan ke sawah ketika mulai masa tanam lagi. Upacara adat Mapag Sri yang diselenggarakan di Kampung Leuwi Panas Majalengka banyak mengandung makna-makna kehidupan melalui simbol-simbol yang digunakannya. Salah satu makna yang terdapat di dalam upacara adat Mapag Sri adalah mengajarkan sikap hidup bergotong royong. Sebagaimana kita ketahui bahwa pada jaman sekarang sikap hidup gotong royong merupakan suatu hal

4 langka terutama bagi masyarakat perkotaan. Masih banyak lagi makna yang terkandung di dalam upacara adat Mapag Sri ini yang berisikan nilai-nilai sosial sehingga layak untuk dijadikan sebagai pedoman hidup dalam bermasyarakat. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi yang semakin pesat, laju arus globalisasi sudah tidak bisa terbendung lagi. Globalisasi tidak selalu berdampak positif bagi kehidupan tetapi dapat pula memberikan dampak yang negatif. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengantarkan dunia pada globalisasi ternyata telah mengikis nilainilai kepribadian bangsa. Salah satu dampak negatif dari globalisasi adalah munculnya pergeseran sikap dan pola hidup bangsa kita yang merasa lebih maju ketika mempraktekan budaya-budaya asing. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena mereka tidak sadar bahwa budaya-budaya asing itu tidak selamanya sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia bahkan bisa menjadi boomerang bagi kehidupan kita. Globalisasi sebagai salah satu faktor eksternal terjadinya perubahan sosial, telah mempengaruhi seluruh aspek kehidupan bangsa. Aspek kebudayaan merupakan salah satu aspek yang terkena dampak buruk dari globalisasi. Kebudayaan lokal akan terkikis oleh kebudayaan asing yang masuk, sehingga memungkinkan terjadinya suatu kondisi yang memaksa dan mensubtitusikan setiap nilai-nilai budaya suatu bangsa atau masyarakat tertentu untuk mengikutinya.

5 Globalisasi memberikan dampak terhadap pelaksanaan upacara adat Mapag Sri di Kampung Leuwi Panas. Upacara adat yang diselenggarakan oleh masyarakat Kampung Leuwi Panas ini mulai ditinggalkan oleh generasi mudanya. Terlihat dari kurangnya partisipasi mereka dalam pelaksanaan upacara adat Mapag Sri. Saat ini generasi muda lebih tertarik kepada kebudayaan baru yang menurut mereka lebih modern dan menyenangkan. Bahkan masyarakat di Kabupaten Majalengka sendiri tidak banyak yang mengetahui keberadaan upacara adat Mapag Sri yang dilakukan masyarakat Kampung Leuwi Panas. Di samping globalisasi, munculnya gerakan pembaharuan Islam sebagai faktor internal terjadinya perubahan sosial, khususnya di lingkungan masyarakat Majalengka juga turut mempengaruhi paradigma masyarakat dalam memandang pelaksanaan upacara adat Mapag Sri. Dalam pandangan mereka, upacara adat atau tradisi Mapag Sri yang biasa dilakukan masyarakat sama sekali tidak terdapat dalam ajaran agama Islam. Selain itu dalam upacara adat kerap kali melaksanakan ritual-ritual yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Sehingga masyarakat yang memiliki pemikiran tersebut tidak lagi ikut menyelenggarakan upacara adat Mapag Sri. Pembahasan mengenai agama dan tradisi sebagai roh dari kebudayaan masyarakat merupakan suatu diskusi yang panjang. Baik agama maupun budaya keduanya saling mempengaruhi bahkan dapat pula saling bertentangan. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Sutiyono (2010: 39-40) mengenai agama dan budaya sebagai berikut:

6 Agama dan budaya adalah dua bidang yang dapat dibedakan tapi tidak dapat dipisahkan. Agama bernilai mutlak, tidak berubah menurut perubahan waktu dan tempat. Tetapi budaya, sekalipun berdasarkan agama, dapat berubah dari waktu-ke waktu dan dari tempat ke tempat. Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa agama dan budaya merupakan dua hal yang berbeda. Agama merupakan suatu sistem ajaran tentang Tuhan sedangkan budaya dalam hal ini tradisi diartikan sebagai gambaran sikap dan perilaku manusia yang telah berproses dalam waktu lama dan dilakukan secara turun-temurun dimulai dari nenek moyang. Demikian pula dengan masyarakat di Kampung Leuwi Panas Kabupaten Majalengka meskipun sebagian besar memeluk Islam, namun mereka juga tidak meninggalkan tradisi Mapag Sri yang telah mengakar dalam kehidupan mereka. Di sisi lain terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat telah mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap pelaksanaan upacara adat Mapag Sri. Sebagian diantara mereka sudah tidak ikut terlibat lagi dalam upacara adat Mapag Sri. Perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat dapat disebabkan karena faktor yang bersumber dari dalam masyarakat atau internal dan faktor yang bersumber dari luar masyarakat atau eksternak. Faktor yang berasal dari dalam atau internal contohnya adalah bertambah atau berkurangnya penduduk, penemuan-penemuan baru, konflik dalam masyarakat dan terjadinya suatu revolusi. Sementara itu, globalisasi dikategorikan sebagai faktor eksternak penyebab terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat di samping faktor pengaruh kebudayaan lain (Soekanto, 1990: 352-361).

7 Perubahan sosial tersebut yang kemudian akan mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap pelaksanaan upacara adat Mapag Sri di Kampung Leuwi Panas Kabupaten Majalengka untuk tetap melaksanakan adat tersebut atau meninggalkannya. Masyarakat yang tetap melaksanakan upacara adat Mapag Sri menganggap bahwa adat tersebut merupakan suatu kebutuhan yang dapat memuaskan dirinya. Sedangkan masyarakat yang tidak lagi melaksanakan upacara adat Mapag Sri menganggap bahwa adat itu sudah tidak mampu menopang kebutuhan mereka dan tidak sesuai dengan kondisi jaman maupun ajaran dalam agama Islam. Sebagaimana pendapat yang diungkapkan oleh Soekanto (1990: 352) sebagai berikut: Apabila diteliti lebih mendalam, sebab terjadinya suatu perubahan dalam masyarakat, mungkin karena adanya sesuatu yang dianggap sudah tidak lagi memuaskan. Mungkin saja karena ada faktor baru yang lebih memuaskan masyarakat sebagai pengganti faktor yang lama itu. Di sisi lain, upacara adat yang merupakan unsur kebudaayan lokal mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang justru pada jaman sekarang sangat diperlukan sebagai jawaban terhadap tantangan jaman. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Soeryawan (1984: 1) bahwa upacara tradisional yang hingga kini masih berfungsi dan disokong oleh masyarakat banyak mengandung hal-hal positif yang menunjukkan nilai hidup dan makna kesusilaan. Pada saat ini upacara adat Mapag Sri mulai kurang mendapatkan perhatian khususnya dari generasi muda di Majalengka. Sehingga menimbulkan kecemasan akan hilangnya upacara adat Mapag Sri. Apabila terus dibiarkan maka nilai-nilai yang terkandung di dalam upacara adat Mapag Sri akan hilang bersamaan dengan hilangnya upacara adat Mapag Sri di tengah-tengah masyarakat. Nilai-nilai

8 tersebut diantaranya adalah gotong royong, kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam, nasehat-nasehat dalam mengarungi kehidupan yang diisyaratkan melalui simbol-simbol yang digunakan dalam upacara adat Mapag Sri. Selain alasan yang telah dipaparkan di atas, terdapat beberapa alasan lain yang mendorong penulis untuk melakukan penulisan mengenai Upacara Adat Mapag Sri di Kampung Leuwi Panas Kabupaten Majalengka 1983-2005 (Suatu Kajian Historis Terhadap Tradisi Masyarakat). Pertama, sampai saat ini masyarakat khususnya generasi muda di Kabupaten Majalengka tidak banyak yang mengetahui tentang keberadaan upacara adat Mapag Sri yang diselenggarakan di Kampung Leuwi Panas Kecamatan Dawuan. Sehingga penulis merasa perlu untuk melakukan suatu penulisan mengenai upacara adat Mapag Sri. Dengan demikian, walaupun laju modernisasi tidak dapat dibendung, tapi setidaknya masyarakat khususnya generasi muda di Kabupaten Majalengka dapat mengetahui dan mengenali kebudayaan lokal di daerahnya. Kedua, belum ada penulisan tentang asal usul upacara adat Mapag Sri di Kampung Leuwi Panas, sehingga penjelasan mengenai asal mula dan tata cara pelaksanaan upacara adat Mapag Sri hanya dilakukan secara lisan dari generasi ke generasi. Namun melihat kenyataan sekarang, yaitu kurangnya minat generasi muda terhadap upacara adat Mapag Sri, dikhawatirkan cerita tentang asal mula upacara adat Mapag Sri akan hilang. Oleh karena itu, penulis merasa perlu untuk melakukan suatu penelitian dan penulisan tentang upacara adat Mapag Sri, sehingga penulisan skripsi ini dapat dijadikan sebagai sumber tertulis yang

9 memuat informasi mengenai upacara adat Mapag Sri di Kampung Leuwi Panas Kabupaten Majalengka. Periodisasi waktu yang penulis gunakan dalam penulisan ini adalah antara tahun 1983 sampai tahun 2005. Tahun 1983 dipilih karena pada tahun tersebut terjadi pemekaran wilayah yaitu Desa Sinarjati dari Desa Mandapa yang berdampak pada pelaksanaan upacara adat Mapag Sri. Sebelum terjadi pemekaran yaitu ketika Desa Sinarjati masih menjadi bagian dari Desa Mandapa, upacara adat Mapag Sri diikuti oleh warga (petani) di seluruh Desa Mandapa. Namun kemudian setelah terjadi pemekaran wilayah, upacara adat Mapag Sri hanya diikuti oleh petani di Desa Sinarjati saja yang pelaksanaannya berpusat di Kampung Leuwi Panas. Sedangkan tahun 2005 dijadikan batasan akhir karena didasarkan pada pemikiran bahwa upacara adat Mapag Sri yang sempat beberapa tahun tidak dilaksanakan dan pada tahun 2005 mulai dilakukan pembinaan dari Disbudpar Kabupaten Majalengka. Dalam kurun waktu tahun 1983-2005 penulis melihat adanya suatu dinamika dalam pelaksanaan upacara adat Mapag Sri. Dinamika yang terjadi misalnya, dahulu upacara adat Mapag Sri hanya berlangsung tidak sampai satu hari. Namun kemudian dalam perkembanganya waktu pelaksanaan upacara adat Mapag Sri berlangsung selama sehari semalam. Bahkan bisa memakan waktu selama dua hari apabila ditambah dengan persiapan-persiapan upacara. Berdasarkan permasalahan yang dipaparkan di atas, penulis merasa tertarik untuk mengkaji lebih dalam mengenai asal-usul dan makna yang terkandung dalam upacara adat Mapag Sri. Melalui penulisan ini penulis berharap dapat

10 memperkenalkan upacara adat Mapag Sri di Kampung Leuwi Panas, karena keberadaannya kurang begitu diketahui oleh masyarakat di Kabupaten Majalengka. Selain itu melalui penulisan ini diharapkan dapat menumbuhkan minat generasi muda dan masyarakat di Kabupaten Majalengka untuk ikut berpartisipasi dalam melestarikan upacara adat Mapag Sri. Penulis akan melakukan penulisan yang berjudul Upacara Adat Mapag Sri Di Kampung Leuwi Panas Kabupaten Majalengka 1983-2005 (Suatu Kajian Historis Terhadap Tradisi Masyarakat). 1.2. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis merumuskan permasalahan yang menjadi pokok kajian penulisan, yaitu Bagaimana keberadaan Upacara Adat Mapag Sri di Kampung Leuwi Panas Kabupaten Majalengka Tahun 1983-2005?. Untuk membatasi ruang lingkup penelitian, maka penulis memfokuskan rumusan masalah melalui pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: 1. Bagaimana latar belakang upacara adat Mapag Sri di Kampung Leuwi Panas Kabupaten Majalengka? 2. Bagaimana proses pelaksanaan upacara adat Mapag Sri di Kampung Leuwi Panas Kabupaten Majalengka? 3. Bagaimana perkembangan upacara adat Mapag Sri di Kampung Leuwi Panas Kabupaten Majalengka dari tahun 1983 sampai dengan tahun 2005?

11 4. Bagaimana upaya yang dilakukan untuk melestarikan upacara adat Mapag Sri di Kampung Leuwi Panas Kabupaten Majalengka? 1.3. TUJUAN PENELITIAN Tujuan merupakan jawaban terhadap permasalahan yang telah dirumuskan penulis sebelumnya. Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah: 1. Mendeskripsikan latar belakang upacara adat Mapag Sri di Kampung Leuwi Panas Kabupaten Majalengka. 2. Menguraikan tahapan-tahapan yang dilakukan pada setiap prosesi pelaksanaan upacara adat Mapag Sri di Kampung Leuwi Panas Kabupaten Majalengka. 3. Menjelaskan perkembangan dalam upacara adat Mapag Sri sejak tahun 1983 sampai tahun 2005. 4. Menjelaskan upaya yang telah dilakukan untuk melestarikan upacara adat Mapag Sri di Kampung Leuwi Panas Kabupaten Majalengka. 1.4. MANFAAT PENELITIAN Penulis berharap penelitian mengenai Upacara Adat Mapag Sri di Kampung Leuwi Panas Kabupaten Majalengka ini akan memberikan manfaat. Adapun manfaat yang diperoleh dari penulisan ini diantaranya adalah:

12 1). Penulisan karya ilmiah ini diharapkan dapat memperkaya khazanah dalam penulisan sejarah lokal yang dapat dijadikan sebagai sumber referensi penulisan-penulisan lainnya. 2). Penelitian ini diharapkan mampu menjelaskan gambaran mengenai upacara adat Mapag Sri di Kampung Leuwi Panas Kabupaten Majalengka, sehingga memotivasi para pelaku dan generasi muda untuk melestarikan upacara adat Mapag Sri. 3). Memberikan informasi maupun sumbangan pemikiran bagi pihak lain yang akan mengkaji lebih lanjut mengenai upacara adat Mapag Sri di Kabupaten Majalengka. 4). Penelitian mengenai Upacara Adat Mapag Sri di Kampung Leuwi Panas Kabupaten Majalengka ini diharapkan dapat menumbuhkan dan meningkatkan apresiasi masyarakat terutama generasi muda terhadap upacara adat Mapag Sri sebagai kebudayaan lokal. 1.5. METODE DAN TEKNIK PENELITIAN 1.5.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan penulis dalam skripsi berjudul Upacara Adat Mapag Sri di Kampung Leuwi Panas Kabupaten Majalengka Tahun 1983-2005 (Suatu Kajian Historis Terhadap Tradisi Masyarakat) adalah metode historis atau metode sejarah. Metode sejarah adalah untuk menguji dan menganalisa secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau (Gottschalk,

13 2000:32). Metode historis yang dimaksud terdiri dari empat langkah, yaitu heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. 1.5.1.1 Heuristik, merupakan tahap awal dalam metode penelitian sejarah dengan mencari dan mengumpulkan sumber-sumber sejarah yang relevan dengan masalah atau judul yang akan dikaji. Penulis berusaha mengumpulkan sumber-sumber sejarah, baik sumber primer maupun sumber sekunder maupun sumber tulisan atau sumber lisan yang diperlukan dalam penelitian mengenai Upacara Adat Mapag Sri di Kampung Leuwi Panas Kabupaten Majalengka 1983-2005 (Suatu Kajian Historis Terhadap Tradisi Masyarakat). 1.5.1.2 Kritik. Pada tahap ini penulis mulai melakukan seleksi dan penilaian terhadap sumber-sumber sejarah yang telah diperoleh. Kritik yang dilakukan ini meliputi dua aspek yaitu aspek eksternal dan internal. Dari proses kritik ini sumber-sumber sejarah selanjutnya di sebut fakta-fakta sejarah. Melalui proses inilah penulis mendapatkan fakta-fakta mengenai Upacara Mapag Sri di Kampung Leuwi Panas Kabupaten Majalengka. 1.5.1.3 Interpretasi. Pada tahap ini, penulis memberikan penafsiran terhadap faktafakta sejarah yang diperoleh dari hasil kritik eksternal maupun internal. Fakta-fakta dihubungkan, disusun dan dianalisis sehingga diperoleh penjelasan yang sesuai dengan pokok permasalahan yaitu upacara adat Mapag Sri di Kampung Leuwi Panas Kabupaten Majalengka. 1.5.1.4 Historiografi, merupakan langkah terakhir dalam penulisan ini. Historiografi merupakan proses penyusunan seluruh hasil penulisan ke

14 dalam bentuk tulisan. Sumber sejarah yang sudah terkumpul dan ditafsirkan melalui tahapan interpretasi selanjutnya ditulis menjadi suatu rangkaian cerita yang relevan dan ilmiah dalam tulisan yang berjudul Upacara Adat Mapag Sri Di Kampung Leuwi Panas Kabupaten Majalengka 1983-2005 (Suatu Kajian Historis Terhadap Tradisi Masyarakat). Di samping metode historis, penelitian ini juga menggunakan pendekatan interdisipliner. Pendekatan interdisipliner merupakan suatu pendekatan yang menggunakan konsep disiplin ilmu-ilmu sosial lain. Dalam penulisan ini penulis menggunakan ilmu Sosiologi dan Antropologi. Ilmu sosiologi digunakan ketika penulis akan menjelaskan mengenai kebudayaan dan masyarakat secara berkelompok, sedangkan ilmu Antropologi digunakan ketika akan menjelaskan manusia secara individual. 1.5.2 Teknik Penelitian Teknik pengumpulan data merupakan cara yang digunakan untuk memperoleh data yang diperlukan dalam suatu penelitian. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1.5.2.1 Wawancara, adalah suatu alat pengumpul data yang digunakan untuk mendapatkan informasi yang berkenaan dengan permasalahan yang dikaji melalui proses tanya jawab yang dilakukan kepada narasumber yang menjadi saksi mata atau mengalami kejadian langsung dalam suatu peristiwa. Dalam hal ini, penulis melakukan wawancara dengan beberapa pihak diantaranya, sesepuh Kampung Leuwi Panas, masyarakat setempat,

15 dan staf Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata Kabupaten Majalengka. 1.5.2.2 Studi kepustakaan, dilakukan penulis dilakukan dengan cara mengumpulkan buku-buku yang relevan dengan masalah yang diteliti untuk memperoleh informasi teoritis yang berkenaan dengan masalah penelitian yaitu Upacara Mapag Sri di Kampung Leuwi Panas Kabupaten Majalengka. 1.5.2.3 Studi dokumentasi, merupakan studi yang dilakukan terhadap sumbersumber yang diperoleh dalam bentuk rekaman, baik gambar, suara, atau tulisan. Studi dokumentasi digunakan penulis dengan mengumpulkan fotofoto untuk menjelaskan kondisi yang nyata di lapangan. 1.6. SISTEMATIKA PENULISAN Bab I Pendahuluan. Bab ini berisi uraian secara rinci mengenai latar belakang penelitian yang mengungkapkan kesenjangan antara harapan dan kenyataan sehingga masalah ini menjadi penting untuk dikaji. Selain itu latar belakang memuat alasan ketertarikan penulis untuk melakukan penelitian yang ditujukan sebagai bahan penulisan skripsi. Selanjutnya dikemukakan rumusan masalah yang diuraikan dalam beberapa pertanyaan penelitian, metode penelitian serta sistematika penulisan dalam penyusunan skripsi. Bab II Landasan Teori. Pada bab ini penulis memaparkan secara lebih terperinci mengenai literatur-literatur yang berhubungan dengan permasalahanpermasalahan dalam penulisan skripsi ini. Kajian-kajian yang bersifat teoritis

16 tersebut dijadikan landasan pemikiran yang relevan dengan permasalahan dalam skripsi mengenai Upacara Adat Mapag Sri di Kampung Leuwi Panas Kabupaten Majalengka 1983-2005 (Suatu Kajian Historis Terhadap Tradaisi Masyarakat). Landasan Teori ini merupakan suatu bahan acuan dalam penelitian yang penulis lakukan sehingga dapat memberikan penjelasan mengenai pembahasan yang penulis paparkan dengan berdasarkan kepada fakta-fakta di lapangan. Bab III Metode dan Teknik Penelitian. Dalam bab ini membahas mengenai metode dan teknik penelitian yang digunakan penulis dalam melakukan pnelitian ini. Adapun metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini meliputi heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Selain itu, dalam bab ini penulis menguraikan tahapan-tahapan yang dilakukan dalam melakukan penelitian yang berisi langkah-langkah kerja dari mulai persiapan sampai langkah terakhir dalam penyelesaian penelitian ini. Bab IV Upacara Adat Mapag Sri di Kampung Leuwi Panas. Bab ini berisi uraian mengenai keseluruhan hasil penelitian yang telah dilakukan dan merupakan jawaban-jawaban atas rumusan masalah yang telah penulis susun sebelumnya. Pemaparan yang akan dijelaskan dalam bab ini diantaranya: Pertama, mengenai gambaran umum daerah Kabupaten Majalengka yang mencakup keadaan geografis dan wilayah administratif Kabupaten Majalengka, jumlah penduduk, tingkat pendidikan dan mata pencaharian masyarakat Desa Sinarjati. Kedua, pemaparan mengenai latar belakang munculnya upacara adat Mapag Sri di Kampung Leuwi Panas Kabupaten Majalengka. Ketiga, pemaparan mengenai proses pelaksanaan upacara Mapag Sri yang meliputi kegiatan awal upacara adat

17 sampai proses akhir pelaksanaan upacara adat. Keempat, pembahasan mengenai perkembangan yang terjadi dalam upacara adat Mapag Sri dari tahun 1983-2005. Kelima, pembahasan mengenai upaya pelestarian upacara adat Mapag Sri. Bab V Kesimpulan. Pada bab terakhir penulis menuangkan kesimpulan dari hasil pembahasan, yang berisi mengenai interpretasi penulis terhadap kajian yang menjadi bahan penulisan yang disertai dengan analisis penulis dalam membuat sebuah kesimpulan atas jawaban-jawaban dari rumusan masalah.