BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. negara-negara Barat, istilah remaja dikenal dengan adolescence yang berasal

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. berbagai tantangan dan masalah karena sifatnya yang sensitif dan rawan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Remaja adalah masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa.

SKRIPSI. Proposal skripsi. Skripsi ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Ijazah S-1 Kesehatan Masyarakat

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 : PENDAHULUAN. produktif. Apabila seseorang jatuh sakit, seseorang tersebut akan mengalami

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Pada perkembangan zaman saat ini, perilaku berciuman ikut dalam

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa yang

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pemahaman masyarakat tentang seksualitas sampai saat ini masihlah kurang.

BAB I PENDAHULUAN. data BkkbN tahun 2013, di Indonesia jumlah remaja berusia tahun sudah

BAB 1 PENDAHULUAN. Statistik (BPS) Republik Indonesia melaporkan bahwa Indonesia memiliki

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Masa remaja merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak

BAB 1 PENDAHULUAN. Masa remaja adalah masa terjadinya perubahan-perubahan baik perubahan

SKRIPSI. Skripsi ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar S1 Kesehatan Masyarakat. Disusun oleh : DYAH ANGGRAINI PUSPITASARI

BAB I PENDAHULUAN. Menurut WHO, remaja adalah penduduk dalam rentang usia tahun,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. untuk memiliki. Pada masa ini, seorang remaja biasanya mulai naksir lawan

BAB I PENDAHULUAN. Remaja sebagai generasi penerus, calon orang tua dan sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. melalui perubahan fisik dan psikologis, dari masa kanak-kanak ke masa

BAB I PENDAHULUAN. menjadi yang terunggul dalam berbagai aspek kehidupan. Pembangunan sumber daya

BAB 1 PENDAHULUAN. jumlah remaja dan kaum muda berkembang sangat cepat. Antara tahun 1970 dan

BAB 1 PENDAHULUAN. remaja-remaja di Indonesia yaitu dengan berkembang pesatnya teknologi internet

BAB I PENDAHULUAN. kematangan mental, emosional, sosial dan fisik (Hurlock, 2007). World Health

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanan menuju masa dewasa.

HUBUNGAN ANTARA PERILAKU ASERTIF DENGAN PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH PADA REMAJA PUTRI. Skripsi

BAB I PENDAHULUAN. belahan dunia, tidak terkecuali Indonesia. Tahun 2000 jumlah penduduk

KARYA TULIS ILMIAH HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI DENGAN SIKAP REMAJA TENTANG

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak ke masa dewasa yang

BAB 1 PENDAHULUAN. menuju masyarakat modern, yang mengubah norma-norma, nilai-nilai dan gaya

BAB 1 PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan suatu masa dalam perkembangan hidup manusia. WHO

BAB I PENDAHULUAN. remaja awal/early adolescence (10-13 tahun), remaja menengah/middle

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. atau keinginan yang kuat tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada

BAB I PENDAHULUAN. survey BKKBN tahun 2010 terdapat 52 % remaja kota medan sudah tidak

BAB I PENDAHULUAN. Terjadinya kematangan seksual atau alat-alat reproduksi yang berkaitan dengan sistem

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa yang jangka

BAB I PENDAHULUAN A Latar Belakang Masalah Jelia Karlina Rachmawati, 2014

BAB I PENDAHULUAN. menyenangkan. Apalagi pada masa-masa sekolah menengah atas. Banyak alasan. sosial yang bersifat sementara (Santrock, 1996).

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa. reproduksi sehingga mempengaruhi terjadinya perubahan perubahan

BAB 1 PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak ke masa dewasa.

BAB 1 PENDAHULUAN. Konsep diri adalah cara individu dalam melihat pribadinya secara utuh,

BAB I PENDAHULUAN. dengan orang lain, perubahan nilai dan kebanyakan remaja memiliki dua

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang .

BAB 1 PENDAHULUAN. Y, 2009). Pada dasarnya pendidikan seksual merupakan suatu informasi

BAB I PENDAHULAN. Kasus kenakalan remaja semakin menunjukkan trend yang sangat. kelompok, tawuran pelajar, mabuk-mabukan, pemerasan, pencurian,

BAB I PENDAHULUAN. petualangan dan tantangan serta cenderung berani menanggung risiko atas

BAB 1 PENDAHULUAN. Perkembangan fisik remaja di awal pubertas terjadi perubahan penampilan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. aktivitas seksual remaja juga cenderung meningkat baik dari segi kuanitas

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Remaja merupakan salah satu tahap dalam kehidupan manusia. Tahap ini

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Remaja merupakan masa perubahan dari yang semula anak-anak menuju

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. ekonomi. Remaja akan mengalami transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Pada

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Remaja mengalami perkembangan begitu pesat, baik secara fisik maupun

BAB I PENDAHULUAN. dapat diabaikan dalam kehidupan manusia. Namun demikian, orang tua masih

BAB 1 PENDAHULUAN. Remaja merupakan masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa yang

BAB I PENDAHULUAN. A.Latar Belakang. Remaja adalah mereka yang berusia diantara tahun dan merupakan

BAB I PENDAHULUAN. depan. Keberhasilan penduduk pada kelompok umur dewasa sangat. tergantung pada masa remajanya (BKKBN, 2011).

BAB I PENDAHULUAN. Periode perkembangan manusia terdiri atas tiga yaitu masa anak-anak,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masa remaja dikatakan masa yang paling menyenangkan dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. Remaja yang dalam bahasa Inggris adolesence, berasal dari bahasa latin

BAB I PENDAHULUAN. Perilaku seksual khususnya kalangan remaja Indonesia sungguh

BAB I PENDAHULUIAN. A. Latar Belakang Masalah. meningkat. Remaja menjadi salah satu bagian yang sangat penting terhadap

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 1. Pengertian Perilaku Seksual Pranikah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. terjadinya peningkatan minat dan motivasi terhadap seksualitas. Hal ini dapat

BAB I PENDAHULUAN. tahun (Santrock, 2005). WHO (dalam Sarwono 2013) juga menetapkan batas

BAB I PENDAHULUAN. remaja. Kelompok usia remaja menurut WHO (World Health Organization) adalah kelompok umur tahun (Sarwono, 2008).

BAB I PENDAHULUAN. yang lebih dikenal dengan International Conference on Population and

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Remaja diidentifikasikan sebagai masa peralihan antara anak-anak ke masa

HUBUNGAN ANTARA PENALARAN MORAL DAN GAYA PACARAN DENGAN KECENDERUNGAN MEMBELI KONDOM PADA REMAJA SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. baik secara fisik maupun psikis. Menurut Paul dan White (dalam Santrock,

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa

BAB 1 : PENDAHULUAN. remaja tertinggi berada pada kawasan Asia Pasifik dengan 432 juta (12-17 tahun)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. ini sikap permisif tersebut lebih ditunjukkan secara terbuka dikarenakan pengaruh

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. pada masa remaja, salah satunya adalah problematika seksual. Sebagian besar

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dan dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan secara fisik, kematangan

BAB I PENDAHULUAN. seks mendorong remaja untuk memenuhi kebutuhan seksnya, mereka

, 2015 GAMBARAN KONTROL DIRI PADA MAHASISWI YANG MELAKUKAN PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH

BAB I PENDAHULUAN. dalam tubuh yang mengiringi rangkaian pendewasaan. Pertumbuhan organ-organ

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Perilaku seksual merupakan segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat

BAB I PENDAHULUAN. setiap individu yaitu merupakan periode transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa

BAB 1 PENDAHULUAN. harus menghadapi tekanan-tekanan emosi dan sosial yang saling bertentangan.

BAB I PENDAHULUAN. Remaja merupakan periode transisi antara masa anak-anak ke masa dewasa

BAB I PENDAHULUAN. tidak perawan. (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) BKKBN. menganut seks bebas. Yayasan (Diskusi Kelompok Terarah) DKT

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH. WHO mendefinisikan, masa remaja (adolence) mulai usia 10 tahun sampai 19

BAB I PENDAHULUAN. namun akan lebih nyata ketika individu memasuki usia remaja.

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Seksualitas merupakan bagian integral dari kepribadian yang tidak dapat

BAB I PENDAHULUAN. tampak pada pola asuh yang diterapkan orang tuanya sehingga menjadi anak

BAB I PENDAHULUAN. saat usia remaja terjadi peningkatan hormon-hormon seksual. Peristiwa

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Di seluruh dunia, lebih dari 1,8 miliar. penduduknya berusia tahun dan 90% diantaranya

BAB I PENDAHULUAN. dewasa. Dalam masa ini remaja mengalami pubertas, yaitu suatu periode

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan yang pesat baik secara fisik, psikologis maupun intelektual. Pada

BAB I PENDAHULUAN.

BAB I PENDAHULUAN. Dalam proses kehidupannya manusia melewati tahap-tahap perkembangan,

BAB I PENDAHULUAN. dewasa yang meliputi semua perkembangannya yang dialami sebagai. persiapan memasuki masa dewasa (Rochmah, 2005). WHO mendefinisikan

Transkripsi:

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Remaja sebagai periode tertentu dari kehidupan manusia (Desmita, 2012). Di negara-negara Barat, istilah remaja dikenal dengan adolescence yang berasal dari kata dalam bahasa Latin adolescere (kata bendanya adolescentia, artinya remaja), yang berarti tumbuh menjadi dewasa atau dalam perkembangan menjadi dewasa (Desmita, 2012). Masa remaja adalah suatu periode transisi dalam rentang kehidupan manusia, yang menjembatani masa kanak-kanak dengan masa dewasa (Santrock, 2012). Hurlock (1980) mengatakan bahwa, masa remaja adalah periode yang penting. Pada masa remaja, individu mengalami perubahan fisik dan mental yang cepat, terutama pada awal masa remaja. Hurlock (1980) juga mengatakan bahwa, masa remaja adalah masa yang penuh dengan goncangan, taraf mencari identitas diri, dan merupakan periode yang paling berat dalam perjalanan hidup manusia. Awal masa remaja berlangsung kira-kira dari usia tiga belas tahun sampai enam belas atau tujuh belas tahun, dan akhir masa remaja bermula dari usia enam belas atau tujuh belas sampai delapan belas tahun (Hurlock, 1980). Monks, dkk. (dalam Desmita, 2012) membedakan masa remaja atas empat bagian, di antaranya: 1. Masa pra-remaja atau pra-pubertas, yang berlangsung kira-kira usia sepuluh sampai dua belas tahun. 1

2 2. Masa remaja awal atau pubertas, yang berlangsung kira-kira usia dua belas sampai lima belas tahun. 3. Masa remaja pertengahan, yang berlangsung kira-kira usia lima belas sampai delapan belas tahun. 4. Masa remaja akhir, yang berlangsung kira-kira usia delapan belas sampai dua puluh satu tahun. Masa remaja ditandai dengan perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang berhubungan langsung dengan kepribadian, seksual, dan peran sosial remaja. Perubahan fisik terjadi secara biologis yang ditandai dengan kematangan organ seks primer dan sekunder yang dipengaruhi oleh kematangan hormon seksual. Perubahan psikologis meliputi keadaan emosi remaja cenderung labil dan lebih mendominasi daripada pikiran yang logis dan realistis. Kehidupan sosial, ciri khas kematangan sosial remaja ditandai dengan mulai munculnya ketertarikan terhadap lawan jenis, yang mana perilaku tersebut biasanya dimanifestasikan dalam bentuk yang salah satunya adalah remaja lebih senang bergaul dengan lawan jenis mereka (Mansur, 2009). Pada masa remaja beberapa pola perilaku individu remaja mulai terbentuk, termasuk identitas diri, kematangan seksual, dan keberanian untuk melakukan perilaku yang berisiko (Widyastuti, 2009). Perilaku berisiko pada remaja mengacu pada segala sesuatu yang berkaitan dengan perkembangan kepribadian dan adaptasi sosial dari remaja (WHO, 1993). Beberapa perilaku berisiko yang berkaitan dengan masalah kesehatan yang terjadi pada remaja salah satunya adalah perilaku seksual pranikah (Smet, 1994).

3 Masalah seksualitas pada remaja merupakan salah satu permasalahan yang krusial di kalangan remaja dan selalu menjadi hal yang menarik untuk dibicarakan. Hasil survai yang dilakukan oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) menyebutkan bahwa, 66 persen siswa SMP dan SMA di Indonesia sudah tidak perawan (Tribun Kesehatan, 2010). Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Maria Ulfah Anshor mengatakan bahwa, perilaku seksual remaja saat ini semakin permisif. Sebanyak 92 persen remaja berpegangan tangan, 82 persen berciuman, dan 63 persen rabaan petting (Tempo, 2012). Selain itu, Survai Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) 2012 mengungkapkan beberapa perilaku seksual yang dilakukan oleh remaja yang belum menikah, dari hasil survai terungkap sebanyak 79,6 persen remaja putra dan 71,6 persen remaja putri pernah berpegangan tangan dengan pasangannya, sebanyak 48,1 persen remaja putra dan 29,3 persen remaja putri pernah berciuman bibir, sebanyak 29,5 persen remaja putra dan 6,2 persen remaja putri pernah meraba atau merangsang pasangannya. Perilaku seksual, seperti berpelukan dan berciuman seolah-olah sudah merupakan hal yang wajar dilakukan oleh remaja. Perilaku-perilaku seksual yang demikian ekstrim dapat menjadi pemicu remaja untuk melakukan hubungan seksual pranikah atau kontak seksual yang dilakukan berpasangan tanpa ikatan pernikahan yang sah, contohnya intercourse. Ada beberapa bentuk perilaku seksual remaja yang dilakukan secara berturut-turut, yaitu kissing, necking, petting, dan intercourse, atau seks oral (Santrock, 2012).

4 Hasil Survai Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) pada tahun 2002-2003, menyebutkan bahwa, sebanyak 57,5 persen laki-laki berusia 20-24 tahun dan 43,8 persen yang berusia 15-19 tahun memiliki teman yang pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Sedangkan sebanyak 63 persen perempuan berusia 20-24 tahun dan 42,3 persen perempuan berusia 15-19 tahun memiliki teman yang pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah (Gobel, 2010). Survai yang dilakukan BKKBN menyebutkan bahwa, sebanyak 5.912 remaja putri di usia 15-19 tahun secara nasional pernah melakukan hubungan seksual. Sedangkan sebanyak 6.578 atau 3,7 persen remaja putra di usia yang sama pernah melakukan hubungan seksual (Okezone, 2010). Hasil survai yang dilakukan oleh DKT Indonesia pada tahun 2011, menunjukkan 69,9 persen remaja Indonesia telah berhubungan seksual yang ratarata dimulai pada usia 19 tahun. Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Boyke Dian Nugraha juga mengungkapkan bahwa, dari tahun ke tahun data remaja yang melakukan hubungan seksual pranikah semakin meningkat, dari sekitar 5 persen pada tahun 1980-an, menjadi 20 persen pada tahun 2000 (Rama, 2011). Youth Center PILAR PKBI Jawa Tengah mencatat sejak tahun 2010-2014, setiap tahun terdapat 65-85 kasus yang berkonsultasi dengan keluhan kehamilan yang tidak diinginkan, dan sebagian besar kasus yang datang adalah siswa SLTA dengan usia antara 15-18 tahun (PKBI Jawa Tengah, 2015). Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan, sebanyak 32 persen remaja usia 14 hingga 18 tahun di kota-kota besar di Indonesia (Jakarta, Surabaya, dan Bandung) pernah berhubungan seks (Depok News, 2015). Hasil

5 survai lain mengenai perilaku seksual pranikah remaja yang telah dilakukan oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada tahun 2007, hasilnya sangat mengejutkan, yakni sekitar 63 persen remaja putri Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Indonesia pernah berhubungan seksual. Sebanyak 21 persen diantaranya melakukan aborsi. Penelitian LSM Sahabat Anak dan Remaja Indonesia (Sahara) Bandung antara tahun 2000-2002 mengungkapkan bahwa, remaja putri yang telah melakukan hubungan seksual pranikah, sebanyak 72,9 persen hamil dan 91,5 persen mengaku telah melakukan aborsi lebih dari satu kali. Aborsi dilakukan sebagai jalan keluar dari akibat perilaku seksual remaja yang telah mencapai tahap paling berat, yaitu melakukan hubungan seksual pranikah atau intercourse. Hasil survai dan penelitian tersebut menunjukkan bahwa, perilaku seksual pranikah pada remaja sangat memprihatinkan dan banyak menimbulkan kerugian, terutama bagi remaja putri. Dampak yang mungkin terjadi akibat dari perilaku seksual pranikah pada remaja putri adalah kehamilan yang tidak diinginkan dan belum merasa siap secara fisik, mental, dan sosial ekonomi, sehingga calon ibu merasa tidak ingin dan tidak siap untuk hamil, sulit mengharapkan adanya kasih sayang yang tulus dan kuat, sehingga masa depan anak bisa saja terlantar dan cenderung mengakhiri kehamilannya dengan cara aborsi (Suara, 2011). Kehamilan yang terjadi akibat seks pranikah bukan saja mendatangkan malapetaka bagi bayi yang dikandung, hal tersebut juga menjadi beban mental yang sangat berat bagi ibunya, mengingat kandungan tidak bisa disembunyikan, dan dalam keadaan kalut seperti itu biasanya terjadi depresi, terlebih lagi jika ayah

6 dari sang bayi pergi dan enggan untuk bertanggung jawab (Wilson, dalam Ghifari, 2003). Perilaku seksual pranikah merupakan persoalan yang multidimensional. Perilaku tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor yang berasal dari dalam diri remaja itu sendiri maupun faktor yang berasal dari luar diri remaja. Berkaitan dengan hal tersebut, secara umum Green, dkk. (dalam Ashwell, 2009) menyatakan bahwa, model preced-proceed dapat menjelaskan perilaku manusia yang dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu faktor predisposisi, faktor penguat, dan faktor pemungkin. Faktor predisposisi merupakan faktor internal atau faktor yang berasal dari dalam diri remaja yang terdiri atas pengetahuan, kepercayaan, dan sikap. Faktor penguat dan pemungkin merupakan faktor eksternal atau faktor yang berasal dari luar diri remaja. Faktor penguat berasal dari keluarga, teman sebaya, dan lain sebagainya. Adapun faktor pemungkin merupakan karakteristik lingkungan yang memfasilitasi tindakan dan keterampilan atau sumber yang dibutuhkan untuk mencapai perilaku tertentu yang meliputi aksesibilitas, ketersediaan fasilitas, dan lain sebagainya. Soetjiningsih (2008) menyatakan bahwa, harga diri terbukti merupakan salah satu faktor predisposisi atau personal yang mempengaruhi perilaku seksual pranikah pada remaja. Hal ini senada dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Jempormasse (2015) yang menyatakan bahwa, harga diri juga mempengaruhi munculnya perilaku seksual pranikah pada remaja. Harga diri merupakan variabel psikologis yang memegang peranan penting dalam perkembangan sikap dan perilaku individu. Hal tersebut sebagian

7 dikarenakan manusia memang sangat memperhatikan berbagai hal tentang diri, termasuk siapa dirinya, seberapa positif atau negatif seorang individu memandang dirinya, bagaimana citra yang ditampilkan pada orang lain, dan lain sebagainya (Baron & Byrne, 2004). Terlebih lagi para remaja yang pada dasarnya masih dalam situasi peralihan dan krisis dalam menemukan identitas dirinya sehingga perasaan berharga dan bernilai sangatlah dibutuhkan oleh remaja (Santrock, 2003). Selain harga diri yang merupakan faktor personal yang mempengaruhi munculnya perilaku seksual pranikah pada remaja, faktor dari luar diri remaja yang juga mempengaruhi munculnya perilaku seksual pranikah pada remaja adalah faktor dukungan sosial keluarga. Keluarga merupakan faktor yang besar pengaruhnya terhadap perilaku seksual pranikah pada remaja. Soetjiningsih (2008) dalam penelitiannya mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual pranikah pada remaja membuktikan bahwa, keluarga adalah faktor yang paling tinggi mempengaruhi perilaku seksual pranikah pada remaja, diikuti oleh faktor tekanan teman sebaya, religiusitas, dan eksposur media pornografi. Menurut Green (dalam Notoatmodjo, 2007), dukungan sosial merupakan salah satu faktor penguat dari munculnya perilaku. Umumnya, perilaku, baik positif maupun negatif, tidak akan terjadi tanpa adanya keinginan yang kuat dari individu itu sendiri untuk bertindak sebagaimana dukungan yang diperolehnya dari masing-masing pihak yang ada di sekeliling mereka. Dukungan sosial yang berasal dari keluarga, khususnya orang tua, merupakan suatu hal yang dibutuhkan untuk terjadinya perubahan perilaku dalam diri individu.

8 Pernyataan tersebut didukung oleh hasil penelitian Handayani, dkk. (2010) yang menunjukkan bahwa, dukungan sosial keluarga, khususnya orang tua, berpengaruh terhadap perilaku seksual pranikah pada remaja. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Irmawaty (2013) juga menunjukkan hasil yang serupa, bahwa peranan keluarga berpengaruh terhadap munculnya perilaku seksual pranikah pada remaja, bahwa semakin tinggi peran keluarga, maka perilaku seksual pranikah pada remaja semakin baik, dan sebaliknya. Penelitian mengenai hubungan antara dukungan sosial keluarga dan perilaku seksual pranikah remaja juga dilakukan oleh Andriani (2015), hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara dukungan sosial keluarga dengan perilaku seksual pranikah pada remaja. Permasalahan yang berkaitan dengan perilaku seksual pranikah pada remaja saat ini sudah banyak terjadi di hampir seluruh daerah di Indonesia, terutama di kota-kota besar. Salah satu daerah yang berpotensi tinggi terhadap tingginya tingkat perilaku seksual pranikah pada remaja adalah Klaten yang secara geografis posisi daerah tersebut berada diantara dua kota besar yang juga didominasi oleh permasalahan remaja yang berkaitan dengan perilaku seksual pranikah, yaitu Surakarta dan Yogyakarta. Perilaku seksual remaja di Klaten sudah dalam taraf yang memprihatinkan. Kasus kehamilan pranikah pada remaja di Klaten menduduki persentase ketiga setelah penyakit anemia dan infeksi kulit sebagai masalah remaja pada tahun 2010. Kumulatif angka kejadian kehamilan pranikah pada remaja di Klaten mengalami kenaikan yang cukup tajam, yaitu dari 2 kasus menjadi 45 kasus

9 (Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten, 2010). Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Klaten mencatat tiap bulan jumlah kasus remaja hamil sebelum menikah mencapai puluhan pasangan. Hal tersebut terkuak dalam rapat koordinasi dan evaluasi Kota Layak Anak (KLA) di Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Klaten (Wahyudi, 2011). Permasalahan yang berkaitan dengan perilaku seksual pranikah pada remaja dapat dialami oleh remaja dari kalangan mana pun dan usia berapa pun, tidak terkecuali para remaja yang sedang mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Di Klaten sendiri telah berdiri beberapa SMK, baik negeri maupun swasta, dengan kualitas yang beragam. SMK Negeri X Klaten adalah salah satu SMK Negeri berkualitas baik yang banyak diminati dan merupakan salah satu sekolah unggulan yang letaknya strategis di pusat kota. Di SMK Negeri X Klaten terdapat lima program keahlian, yaitu akomodasi perhotelan, jasa boga, tata busana, kecantikan kulit, dan kecantikan rambut. SMK Negeri dengan lima program keahlian ini 92 persen peserta didiknya adalah remaja putri dengan usia rata-rata 15 hingga 18 tahun. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti pada bulan Oktober 2015 secara langsung di SMK Negeri X Klaten, dengan mewawancarai dua orang siswi SMK Negeri X Klaten terkait permasalahan yang berkaitan dengan perilaku seksual pranikah pada siswi di sana, didapatkan informasi bahwa ada beberapa siswi yang berperilaku seksual pranikah hingga mengalami kehamilan yang tidak diinginkan.

10 Salah seorang siswi mengungkapkan tentang perilaku seksual siswi SMK Negeri X Klaten yang sering dilihatnya di lingkungan sekolah, berikut cuplikan wawancaranya: Di sini banyak mbak, apalagi siswi-siswi yang pacaran. Ada juga beberapa yang kalo berangkat atau pulang sekolah dijemput pacarnya. Kalo ketemu pegangan tangan, malah ada juga yang rangkulan, mbak. Salah seorang siswi lainnya mengungkapkan bahwa setiap tahunnya ada beberapa siswi yang berperilaku seksual pranikah (hingga tahap intercourse) hingga mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, berikut cuplikan wawancaranya: Banyak mbak, yang aku tau ada beberapa kakak-kakak kelas setelah PKL atau magang trus pada hamil. Kayaknya setiap tahun mbak itu. Tahun lalu ada lima orang mbak kakak tingkat yang gitu. Peneliti juga melakukan studi pendahuluan dengan mewawancarai guru Bimbingan Konseling (BK) SMK Negeri X Klaten terkait perilaku seksual pranikah pada siswi SMK Negeri X Klaten yang dilaksanakan pada tanggal 16 Oktober 2015. Guru BK SMK Negeri X Klaten membenarkan bahwa perilaku seksual pranikah siswi di SMK Negeri X Klaten memang dapat dikatakan memprihatinkan, bahkan ada beberapa siswi yang diketahui sampai mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, dan hal tersebut mengalami peningkatan pada setiap periode. Berdasarkan uraian di atas tentang harga diri dan dukungan sosial keluarga yang berhubungan dengan perilaku seksual pranikah pada remaja, dengan mempertimbangkan fenomena terkait perilaku seksual pranikah pada remaja di SMK Negeri X Klaten, maka penulis merasa perlu untuk mengadakan

11 penelitian berjudul: Hubungan antara Harga Diri dan Dukungan Sosial Keluarga dengan Perilaku Seksual Pranikah Remaja Putri pada Siswi SMK Negeri X Klaten. B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas makan dirumuskan masalah penelitian ini adalah: 1. Apakah ada hubungan antara harga diri dan dukungan sosial keluarga dengan perilaku seksual pranikah remaja putri pada siswi SMK Negeri X Klaten? 2. Apakah ada hubungan antara harga diri dengan perilaku seksual pranikah remaja putri pada siswi SMK Negeri X Klaten? 3. Apakah ada hubungan antara dukungan sosial keluarga dengan perilaku seksual pranikah remaja putri pada siswi SMK Negeri X Klaten? C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini sebagai berikut: a. Untuk mengetahui hubungan antara harga diri dan dukungan sosial keluarga dengan perilaku seksual pranikah remaja putri pada siswi SMK Negeri X Klaten. b. Untuk mengetahui hubungan antara harga diri dengan perilaku seksual pranikah remaja putri pada siswi SMK Negeri X Klaten. c. Untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial keluarga dengan perilaku seksual pranikah remaja putri pada siswi SMK Negeri X Klaten.

12 2. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini sebagai berikut: a. Manfaat Teoritis Dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi kemajuan ilmu pengetahuan psikologi pada umumnya, serta psikologi sosial dan psikologi perkembangan khususnya. b. Manfaat Praktis 1) Bagi siswi Dapat memberikan sumbangan informasi mengenai pentingnya menjaga harga diri yang merupakan faktor dari dalam diri remaja agar terhindar dari perilaku seksual pranikah. 2) Bagi orang tua Dapat memberikan sumbangan informasi serta meningkatkan kesadaran orang tua akan pentingnya dukungan sosial keluarga bagi anak-anak mereka terutama pada masa remaja. 3) Bagi kepala sekolah Dapat digunakan sebagai masukan dalam mengambil suatu kebijakan yang bermanfaat bagi semua peserta didik serta berfungsi secara efektif, agar terhindar dari perilaku seksual pranikah. 4) Bagi guru Sebagai staf penanganan berbagai permasalahan peserta didik di sekolah, khususnya guru bimbingan konseling, diharapkan mampu berperan aktif dalam membina, mengendalikan, dan mengarahkan

13 peserta didik ke hal-hal yang positif, terkait dengan pemberian bimbingan pada peserta didik agar terhindar dari perilaku seksual pranikah. 5) Bagi peneliti selanjutnya Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan perbandingan bagi penelitian selanjutnya, khususnya penelitian mengenai perilaku seksual pranikah dengan pengembangan variabelvariabel lain yang lebih kompleks dan penelitian dalam bidang psikologi sosial dan perkembangan pada umumnya.