PROSIDING SNTK TOPI 2012 ISSN Pekanbaru, 11 Juli 2012

dokumen-dokumen yang mirip
PROSIDING SNTK TOPI 2012 ISSN Pekanbaru, 11 Juli 2012

Penyisihan Kandungan Padatan Limbah Cair Pabrik Sagu Dengan Bioreaktor Hibrid Anaerob Pada Kondisi Start-up

Pengaruh Laju Pembebanan Organik terhadap Produksi Biogas dari Limbah Cair Sagu Menggunakan Bioreaktor Hibrid Anaerob

PENGARUH LAJU PEMBEBANAN ORGANIK TERHADAP PRODUKSI BIOGAS DARI LIMBAH CAIR SAGU MENGGUNAKAN BIOREAKTOR HIBRID ANAEROB

Kata kunci: Anaerob; Bioreaktor hibrid; Penyisihan COD; Waktu tinggal hidrolik

Penyisihan Chemical Oxygen Demand (COD) dan Produksi Biogas Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Dengan Bioreaktor Hibrid Anaerob Bermedia Cangkang Sawit

Penyisihan Kandungan Padatan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Dengan Bioreaktor Hibrid Anaerob Bermedia Cangkang Sawit

PENGARUH WAKTU TINGGAL HIDROLIK TERHADAP PENYISIHAN PADATAN PADA PENGOLAHAN SLUDGE IPAL PULP AND PAPER MENGGUNAKAN BIOREAKTOR HIBRID ANAEROBIK

KESTABILAN BIOREAKTOR HIBRID ANAEROB BERMEDIA BATU PADA KONDISI START-UP DALAM PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PABRIK SAGU

Kajian Aklimatisasi Proses Pengolahan Limbah Cair Pabrik Sagu Secara Anaerob

Agnita Febyanti, Adrianto Ahmad, Bahruddin Laboratorium Rekayasa Bioproses Jurusan Teknik Kimia-Universitas Riau

Fakultas Teknik Universitas Riau Kampus Binawidya Km 12,5 Simpang Baru Panam, Pekanbaru

Pengaruh Laju Alir Umpan Terhadap ph, Alkalinitas dan Asam Volatil Dalam Bioreaktor Hibrid Anaerob Dua Tahap Pada Pengolahan Limbah Cair Industri Sagu

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

HASIL DAN PEMBAHASAN

1 Security Printing merupakan bidang industri percetakan yang berhubungan dengan pencetakan beberapa

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR KELAPA SAWIT MENGGUNAKAN REAKTOR UAF (UPFLOW ANAEROBIC FILTER)

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI PERMEN

Pengaruh Waktu Detensi Terhadap Efisiensi Penyisihan COD Limbah Cair Pulp dan Kertas dengan Reaktor Kontak Stabilisasi ABSTRACT

Bab IV Data dan Hasil Pembahasan

BAB I PENDAHULUAN. industri kelapa sawit. Pada saat ini perkembangan industri kelapa sawit tumbuh

BAB I PENDAHULUAN. Limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS) merupakan salah satu produk

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH LAJU ALIR UMPAN TERHADAP EFISIENSI PENYISIHAN PADATAN DALAM LIMBAH CAIR PULP DAN KERTAS DENGAN REAKTOR KONTAK STABILISASI

KAJIAN AKLIMATISASI PROSES PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PABRIK SAGU SECARA ANAEROB

Adrianto Ahmad, Bahruddin, dan Nurhalim

Studi Atas Kinerja Biopan dalam Reduksi Bahan Organik: Kasus Aliran Sirkulasi dan Proses Sinambung

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PEMBENIHAN DAN AKLIMATISASI PADA SISTEM ANAEROBIK

Kombinasi Pengolahan Anaerob dan Membran Ultrafiltrasi Berbahan Polipropilen Untuk Proses Pengolahan Limbah Cair Kelapa Sawit

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

A. BAHAN DAN ALAT B. WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN

3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

I. PENDAHULUAN. 2006), menjadi peluang besar bagi industri ini dalam pemanfaatan limbah untuk

SEMINAR TUGAS AKHIR KAJIAN PEMAKAIAN SAMPAH ORGANIK RUMAH TANGGA UNTUK MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN BIOGAS

III. METODE PENELITIAN

BAB I. PENDAHULUAN. bioetanol berbasis tebu, baik yang berbahan baku dari ampas tebu (baggase), nira

DEGRADASI BAHAN ORGANIK LIMBAH CAIR INDUSTRI PERMEN DENGAN VARIASI WAKTU TINGGAL

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Industri tahu mempunyai dampak positif yaitu sebagai sumber

Bab III Bahan, Alat dan Metode Kerja

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pemanfaatan Limbah Cair Industri Tahu sebagai Energi Terbarukan. Limbah Cair Industri Tahu COD. Digester Anaerobik

PENGARUH HRT DAN BEBAN COD TERHADAP PEMBENTUKAN GAS METHAN PADA PROSES ANAEROBIC DIGESTION MENGGUNAKAN LIMBAH PADAT TEPUNG TAPIOKA

BAB PENGOLAHAN AIR LIMBAH INDUSTRI TEPUNG BERAS

PROSIDING SNTK TOPI 2013 ISSN Pekanbaru, 27 November 2013

Bab I Pendahuluan. Tabel I.1. Perkembangan Luas Areal, Produksi dan Produktivitas Kakao di Indonesia. No Tahun Luas Areal (Ha)

Uji Pembentukan Biogas dari Sampah Pasar Dengan Penambahan Kotoran Ayam

BAB I PENDAHULUAN. Keberadaan sumber energi fosil yang semakin menipis, sedangkan

I. PENDAHULUAN. tanaman yang mengandung mono/disakarida (tetes tebu dan gula tebu), bahan

Mukhlis dan Aidil Onasis Staf Pengajar Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Padang

JURUSAN KETEKNIKAN PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

BAB I PENDAHULUAN. Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik -1- Universitas Diponegoro

ANALISIS PEMANFAATAN LIMBAH CAIR INDUSTRI KELAPA SAWIT UNTUK LAND APPLICATION

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

PIROLISIS CANGKANG SAWIT MENJADI ASAP CAIR (LIQUID SMOKE)

BAB I PENDAHULUAN. Semakin meningkatnya produksi minyak kelapa sawit di Indonesia sehingga

BAB I PENDAHULUAN. hidup. Namun disamping itu, industri yang ada tidak hanya menghasilkan

BAB I PENDAHULUAN. permintaan pasar akan kebutuhan pangan yang semakin besar. Kegiatan

BAB V ANALISA AIR LIMBAH

Pengolahan Limbah Cair Industri secara Aerobic dan Anoxic dengan Membrane Bioreaktor (MBR)

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengaruh Penambahan Kotoran Sapi Perah Terhadap Nilai ph

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB I. PENDAHULUAN. Statistik (2015), penduduk Indonesia mengalami kenaikan sebesar 1,4 %

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PEMBUATAN BIOGAS DARI LIMBAH CAIR INDUSTRI BIOETANOL MELALUI PROSES ANAEROB (FERMENTASI)

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

LAMPIRAN A DATA HASIL ANALISA

1. Limbah Cair Tahu. Bahan baku (input) Teknologi Energi Hasil/output. Kedelai 60 Kg Air 2700 Kg. Tahu 80 kg. manusia. Proses. Ampas tahu 70 kg Ternak

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Nama : Putri Kendaliman Wulandari NPM : Jurusan : Teknik Industri Pembimbing : Dr. Ir. Rakhma Oktavina, M.T Ratih Wulandari, S.T, M.

PROSES PEMBENIHAN (SEEDING) DAN AKLIMATISASI PADA REAKTOR TIPE FIXED BED

SCIENTIFIC CONFERENCE OF ENVIRONMENTAL TECHNOLOGY IX

HASIL DAN PEMBAHASAN. ph 5,12 Total Volatile Solids (TVS) 0,425%

Pengaruh Pengaturan ph dan Pengaturan Operasional Dalam Produksi Biogas dari Sampah

Produksi Biogas Dari Limbah Peternakan Sapi

LAPORAN TAHUNAN HASIL PENELITIAN HIBAH BERSAING IX/1 TAHUN Bioreaktor Membran Anaerob Untuk Pengolahan Limbah Cair Industri Minyak Sawit

3 METODOLOGI 3.1 WAKTU DAN TEMPAT 3.2 BAHAN DAN ALAT 3.3 TAHAPAN PENELITIAN Pengambilan Bahan Baku Analisis Bahan Baku

BAB III PROSES PENGOLAHAN IPAL

PENGARUH RASIO WAKTU PENGISIAN : REAKSI PADA REAKTOR BATCH DALAM KONDISI AEROB

Pengolahan Limbah Cair Tahu secara Anaerob menggunakan Sistem Batch

I. PENDAHULUAN. Sagu (Metroxylon Spp) merupakan salah satu komoditi yang tinggi kandungan

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. sejauh mana tingkat industrialisasi telah dicapai oleh satu negara. Bagi

Anis Artiyani Dosen Teknik Lingkungan FTSP ITN Malang ABSTRAKSI

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

LAPORAN PENELITIAN BIOGAS DARI CAMPURAN AMPAS TAHU DAN KOTORAN SAPI : EFEK KOMPOSISI

Buku Panduan Operasional IPAL Gedung Sophie Paris Indonesia I. PENDAHULUAN

Transkripsi:

Efisiensi Penyisihan Chemical Oxygen Demand (COD) Limbah Cair Pabrik Sagu dan Produksi Biogas Menggunakan Bioreaktor Hibrid Anaerob Pada Kondisi Start Up Azian Lestari, Adrianto Ahmad, Ida Zahrina Laboratorium Rekayasa Bioproses, Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Riau Kampus Binawidya Km 12,5 Simpang Baru Panam, Pekanbaru 28293 Adriantounri@gmail.com Abstrak Perkembangan industri pati sagu diikuti dengan peningkatan limbah cair sagu yang dihasilkan. Dalam memproduksi pati sagu dibutuhkan 20.000 liter air per ton sagu, yang mana 94% air tersebut akan menjadi limbah cair sagu. Limbah cair sagu ini memiliki nilai COD (Chemical Oxygen Demand) mencapai 100.000 mg/l. Kondisi ini akan berdampak negatif terhadap lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Salah satu cara menurunkan kandungan COD yaitu dengan menggunakan bioreaktor hibrid anaerob. Kondisi Start up merupakan salah satu kondisi yang penting dalam pengolahan limbah cair menggunakan bioreaktor hibrid anaerob, karena pada kondisi ini terjadi pengembangbiakan mikroorganisme untuk mencapai tunak. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian terhadap kondisi start up bioreaktor hibrid anaerob dengan mengamati paramter COD dan biogas yang dihasilkan. Penelitian ini dilakukan dengan laju alir 2 l/hari pada suhu ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi penyisihan COD yang terbesar diperoleh 92% dengan ph operasi 6,2 serta produksi biogas sebesar 14982 ml/hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa start up bioreaktor hibrid anaerob berlangsung selama 57 hari. Kata kunci : Anaerobik, biogas, bioreaktor hibrid, COD, limbah cair sagu. 1 Pendahuluan Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat produksi sagu yang cukup besar, sekitar 60% area di Indonesia merupakan area produksi sagu [Adam et al, 2010]. Dalam memproduksi tepung sagu menghasilkan limbah berupa limbah cair, limbah cair sagu yang dihasilkan dari proses pengolahan tepung sagu biasanya langsung di buang ke sungai ataupun anak sungai [Amos, 2010]. Jika limbah cair yang memiliki kandungan bahan organik yang tinggi di buang ke badan air penerima maka akan menurunkan kualitas perairan dan lingkungan. Karakteristik limbah cair sagu dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 1 Karakteristik Limbah Cair Sagu No Parameters nilai 1 ph 7,2 2 COD (mgl -1 ) 5750 [Sumber: Banu et al, 2006] Karakteristik limbah cair sagu menunjukkan bahwa parameter lingkungan melebihi kadar maksimum baku mutu limbah cair yaitu untuk COD kadar maksimum yang diizinkan adalah 300 mg/l (KEP 51- /MENLH/10/1995). Salah satu upaya untuk menurunkan kandungan bahan organik dalam limbah cair sagu dilakukan secara anaerob yaitu dengan menggunakan bioreaktor hibrid anaerob yang merupakan pengolahan limbah cair yang memanfaatkan aktivitas mikroorganisme untuk menghilangkan atau mengurangi kadar COD di dalam limbah cair industri (Banu et al, 2006). Banu et al (2006) melakukan penelitian dengan menggunakan reaktor hibrid anaerob bermedia plastic rings dengan limbah cair sagu artifisial di daerah Talimandu, India dengan efisiensi penyisihan COD pada kondisi start-up 83%. Reaktor hibrid anaerob juga telah digunakan untuk limbah cair yang berbeda. Firdha (2010) melakukan penelitian dengan menggunakan bioreaktor hibrid anaerob bermedia batu tetapi dengan menggunakan limbah cair pabrik kelapa sawit dengan efisiensi penyisihan COD pada kondisi start-up sebesar 80%, sedangkan Atikalidia (2010) melakukan penelitian dengan menggunakan bioreaktor hibrid anaerob bermedia cangkang sawit menggunakan limbah cair kelapa sawit dengan efisiensi penyisihan COD pada kondisi start-up sebesar 87%. Pada penelitian ini akan digunakan reaktor hibrid anaerob bermedia batu dengan limbah cair sagu sebagai umpan. Tujuan dari dilakukannya penelitian ini yaitu Menentukan waktu

optimum terhadap penyisihan COD dan produksi biogas. 2 Metodologi Metoda penelitian yang diuraikan di bawah ini mencakup karakteristik limbah cair, bioreaktor hibrid anaerob dan tahapan penelitian yakni start-up bioreaktor. 2.1 Karakteristik Limbah Cair Limbah cair sagu yang digunakan pada penelitian ini berasal dari limbah cair pabrik sagu PT. Siberida Wahana Sejahtera (SWS) yang terletak di Desa Lalang Tanjung, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti dengan karakteristik seperti yang ditampilkan dalam Tabel 2. Tabel 2. Karakteristik Limbah Cair Sagu PT.SWS Parameter Satuan Nilai Baku Mutu *) ph - 5,6 6,0-9,0 COD mg/l 50.000 350 *) KepMen LH No.KEP 51-/MENLH/10/1995 2.2 Bioreaktor Hibrid Anaerob Instalasi Pengolahan Limbah Cair pabrik sagu terdiri dari rangkaian bioreaktor dengan tangki umpan serta sebuah pompa centrifugal sebagai controller laju alir umpan. Gambar rangkaian bioreaktor hibrid anaerob dapat dilihat pada Gambar 1. Leher Angsa Gelas Ukur Tangki Influent Pompa controller Bioreaktor Hibrid Anaerob Tangki effluent Larutan Garam Jenuh Gambar 1. Rangkaian Peralatan PengolahanLimbah Cair Dari Gambar 1. dapat dilihat bahwa batu sebagai media melekat mikroorganisme dimasukkan ¾ tinggi cairan pada bagian yang tidak bersekat. Pada kolom tersuspensi dan melekat diisi kultur campuran yang telah diaklimitasi sehingga volume reaktor efektif cairan 10 L. Kemudian diinjeksikan gas nitrogen ke dalam sistem yang bertujuan untuk mengusir oksigen yang terlarut dalam cairan. Sistem didiamkan selama 3 hari dengan tujuan untuk mengendapkan biomassa dari kultur campuran. Kemudian dialirkan limbah cair sagu dengan laju alir 2 L/hari dan diresirkulasi. Pola aliran mengikuti rezim aliran didalam bioreaktor hibrid anaerob. Aliran limbah cair sagu di dalam bioreaktor hibrid anaerob mengikuti sekat yang ada di dalam bioreaktor yaitu pola aliran naik dan turun yang kemudian aliran tersebut keluar menuju tangki effluent. Pada bagian atas bioreaktor hibrid anaerob terdapat pipa dan selang yang menuju ke tabung penampung biogas. 2.3 Start-up Bioreaktor Hibrid Anaerob Selama proses start-up limbah cair pabrik sagu ditambahkan sebagai umpan sebanyak 2 L/hari. Kondisi operasi bioreaktor selama start-up dilakukan pada temperatur ruang. Sampel hasil keluaran bioreaktor diambil setiap 2 hari, dan dianalisa ph, temperatur dan kandungan COD. Proses start-up dihentikan jika tercapai keadaan tunak (steady state) dengan nilai COD dengan fluktuasi 10%. 3 Hasil dan Pembahasan Hasil penelitian yang dipaparkan antara lain : hubungan antara nilai COD, ph dan produksi biogas terhadap waktu start-up, serta melihat hubungan antara nilai COD beserta persentase efisiensi penyisihannya dan produksi biogas terhadap waktu start-up maupun pada kondisi tunak. Hasil ditampilkan dalam bentuk grafik. 150

COD (mg/l) ph PROSIDING SNTK TOPI 2012 ISSN. 1907-0500 3.1 Perubahan ph Selama Proses Start-up Nilai ph yang diukur pada tahap start-up dapat dilihat pada Gambar 2. 8 7 6 5 4 3 2 1 0 10 20 30 40 50 60 70 waktu (hari) Gambar 2. Perubahan ph Selama Start-up Gambar 2. menunjukkan bahwa nilai ph relatif konstan selama proses start-up, yaitu berkisar 6.2-7.1. Kestabilan ph ini disebabkan karena harga ph dalam bioreaktor dikendalikan oleh terbentuknya buffer bikarbonat hasil reaksi antara karbondioksida yang berasal dari biogas dengan unsur alkali yang terkandung di dalam limbah [Hamanongan, 2001]. Bakteri Metanogen merupakan bakteri yang sensitif terhadap perubahan ph. Bakteri metanogen dapat hidup pada rentang ph 6,4-7,8 [Firdha, 2010]. Rentang ph bioreaktor ini berada dalam rentang ph hidup bakteri metanogen. Selama proses start-up bioreaktor, fluktuasi nilai ph tidak dipengaruhi oleh peningkatan pembebanan organik [Ahmad, 1999]. Menurut Luturkey [2011] yang telah melakukan penelitian dengan. menggunakan bioreaktor yang sama dengan limbah cair industri minyak sawit dan media yang digunakan tandan kosong sawit didapatkan rentang ph pada kondisi startup berkisar 6,3-8,1, sedangkan untuk media pelepah sawit didapatkan rentang ph pada kondisi start-up berkisar 6,4-7,5. 3.2 Nilai COD Pada Tahap Start-up Hubungan antara perubahan nilai COD efluen pada bioreaktor hibrid anaerob terhadap waktu start-up ditampilkan dalam Gambar 3. Pada tahap start-up digunakan limbah cair sagu dari pabrik pengolahan sagu dengan kadar COD sebesar 60.000 mg/l setiap hari 100000 90000 80000 70000 60000 50000 40000 30000 20000 10000 0 0 10 20 30 40 50 60 70 Waktu (hari) Gambar 3. Hubungan Antara WaktuTerhadap Nilai COD Pada Tahap Start-up Bioreaktor Gambar 3. dapat dilihat bahwa perubahan nilai COD cenderung menurun dan berfluktuasi. Menurut [Ahmad, 1992] bahwa selama masa start-up bioreaktor anaerob tetap dalam keadaan non tunak sampai biofilm berkembang secara penuh. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kondisi non tunak diperlihatkan dengan berfluktuasinya konsentrasi COD mulai dari hari pertama hingga hari ke-53. Setelah hari ke-53 fluktuasi konsentrasi COD relatif kecil. Menurunnya nilai COD pada tahap start-up dari 67.000 mg/l menjadi 5.200 mg/l terjadi dalam waktu 2 bulan. Penurunan ini membuktikan bahwa pembentukan lapisan mikroorganisme pada media melekat berlangsung diikuti dengan degradasi senyawa-senyawa 151

Biogas (ml) PROSIDING SNTK TOPI 2012 ISSN. 1907-0500 organik kompleks yang menghasilkan gas metan dan CO2. Pendegradasian tersebut akan mempengaruhi terhadap nilai COD yang dihasilkan, berarti jika nilai COD rendah menunjukkan kandungan senyawa organik didalam air buangan akan rendah juga. Proses dapat dikatakan telah selesai apabila kondisi tunak (steady state) telah tercapai yakni nilai COD menunjukkan fluktuasi 10%. Pada hari ke-57, ke-58, dan ke-59, nilai COD menunjukkan fluktuasi 10 %, yaitu sebesar 7500 mg/l, 6750 mg/l dan 5200 mg/l. Bila ditinjau efisiensi penyisihan COD selama proses start-up akan didapatkan hasil sebesar 92,24 %. Menurut Banu et al [2006] yang telah mengolah limbah cair sagu sintetik dengan media plastic rings didapatkan nilai COD terendah sebesar 2033 mg/l dengan lama waktu start-up yaitu 120 hari. Sementara itu, Luturkey [2011] mengolah limbah cair industri minyak sawit didapatkan nilai COD terendah untuk media tandan kosong sawit dan media pelepah sawit sebesar 10.000 mg/l dengan lama waktu start-up 32 hari. Berbeda dengan Atikalidia [2010] yang mengolah limbah cair pabrik kelapa sawit dengan media cangkang sawit didapatkan nilai COD terendah sebesar 7.000 mg/l dengan proses start-up 45 hari. Firdha [2010] menggunakan media batu dan limbah cair sawit sebagai substrat didapatkan nilai COD terendah sebesar 8000 mg/l dengan lama waktu start up 10 hari. 3.3 Produksi Biogas Pada Tahap Start-up Hubungan antara waktu start-up terhadap produksi biogas pada bioreaktor hibrid anaerob ditampilkan dalam Gambar 4. 20000 15000 10000 5000 0 0 20 40 60 80 Waktu (hari) Gambar 4. Hubungan antara Waktu Terhadap Produksi Biogas Start-up Bioreaktor Dari Gambar 4. menunjukkan bahwa produksi biogas pada tahap start-up cenderung mengalami kenaikan yang berfluktuasi. Pada awal pengolahan (hari 1-30 start-up) relatif rendah karena degradasi senyawa organik berlangsung sedikit, ini digambarkan dengan rendahnya nilai COD. Hari ke-5 sampai ke-10, peningkatan biogas relatif konstan. Produksi biogas pada keadaan tunak dicapai sebesar 16015 ml/hari. Bila dibandingkan bioreaktor hibrid anaerob dengan bioreaktor unggun fluidisasi Ahmad, (1992) menghasilkan produksi biogas sebesar 20,9 L/hari dalam waktu 70 hari. Sementara dengan menggunakan bioreaktor berpenyekat anaerob Ahmad, (2001) menghasilkan produksi biogas sebesar 1800 ml/hari dalam waktu 47 hari. Jika dibandingkan dengan bioreaktor yang sama tetapi limbah dan medianya berbeda, Banu et al [2006] menggunakan media plastic rings dan limbah cair sagu sebagai substrat mendapatkan produksi biogas sebesar 30 L/hari dalam waktu 120 hari, sementara itu Atikalidia [2010] menggunakan limbah cair sawit dengan media cangkang sawit mendapatkan produksi biogas sebesar 567 ml/hari. Ini membuktikan bahwa degradasi senyawa-seyawa organik oleh bakteri metanogenik akan menghasilkan biogas (CH4 dan CO2). 3.4 Kondisi Tunak Proses start-up dianggap selesai setelah harga ph dan konsentrasi COD pada bioreaktor realtif stabil. Keadaan ini dapat dikatakan telah mencapai keadaan tunak (steady state). Berikut ini akan ditampilkan tabel nilai kondisi tunak pada ph, COD dan biogas. Tabel 3. Nilai Kondisi Tunak ph, COD dan Biogas No Parameter nilai rata-rata 1 ph 7,1 2 COD 6483,33 3 Biogas 14981,66 Dari hasil pengamatan menunjukkan bahwa proses start-up berlangsung selama 59 hari. Pada kondisi ini, efisiensi penyisihan COD didapatkan sebesar 92% dengan rentang ph 6,2 hingga 7,1. 152

Menurut Bannu et al (2006) bioreaktor hibrid anaerob dengan limbah cair sagu memiliki waktu start-up selama 120 hari. 3.5 Studi Komparatif Efisiensi Penyisihan COD dalam Bioreaktor Hibrid Anaerob Studi komparatif ditinjau dengan membandingkan hasil efisiensi penyisihan COD terbaik dan produksi biogas terbanyak dengan menggunakan bioreaktor yang sama yakni hibrid anaerob namun berbeda media melekat dalam mengolah limbah cair industrisawit [Atikalidia, 2010]. Perbandingan efisiensi penyisihan COD disajikan dalam Tabel 4. Tabel 4. Perbandingan Efisiensi penyisihan COD Bioreaktor Hibrid Anaerob dengan Media Imobilisasi lainnya COD Efisiensi Media Limbah efluent Penyisihan COD Imobilisasi (mg/l) start up (%) Pustaka Batu Molase 40.000 55 (Syafila et al, 2003) Batu Sawit 50.000 80 (Firdha, 2010) Pelepah Sawit Sawit 50.000 77 (Luturkey, 2011) Tandan kosong sawit Sawit 50.000 73,3 (Luturkey, 2011) Cangkang sawit Sawit 50.000 87 (Atikalidia, 2010) Plastic rings Sagu 5750 83 (Banu et al, 2006) Batu Sagu 60.000 92,24 (Penelitian ini, 2012) Tabel 4. menunjukkan bahwa efisiensi penyisihan COD tertinggi dengan bioreaktor hibrid anaerob mencapai 92 % pada WTH 5 hari (penelitian ini) yakni dengan menggunakan batu sebagai media imobilisasi. Pada penelitian ini dihasilkan efisiensi mencapai 92,24 % pada WTH 5 hari. Hal ini dikarenakan media batu yang merupakan bahan non organik bila dibandingkan pada penelitian lain, kemungkinan limbah cair sagu yang merupakan bahan organik dapat terurai dalam jangka waktu yang lama sehingga akan membentuk lapisan biofilm. Namun dengan hasil yang tidak berbeda secara signifikan, media cangkang membutuhkan waktu yangrelatif lebih singkat dari media batu. 4. Kesimpulan Dari hasi peneiltian dan pembahasan dapat diambil kesimpulan yaitu : 1. Selama proses start-up terbentuk biogas yang jumlahnya semakin meningkat. 2. Mikroorganisme yan hidup dalam biorekator hibrid anaerob bermedia batu adalah kelas mesofilik dengan rentang temperatur sistem selama start-up adalah 25-29,5 0 C. 3. Selama kondisi start-up terjadi penurunan COD yang menunjukkan bahwa mikroorganisme anaerobik dapat beraktifitas dengan baik dalam limbah cair sagu. 4. ph operasi berkisar antara 6,8-7,1 dengan efisiensi COD yang didapatkan sebesar 92%. 5. Kondisi tunak (steady state) tercapai setelah 59 hari. Daftar Pustaka Adam, P. G. Arismoyo, dan I. M. I. Syihab, 2009, Pemanfaatan Limbah Produksi Sagu Sebagai Pupuk Kompos Herbisida, Program Kreatif Mahasiswa, http://www. http://www.scribd.com/doc/49684951/pemanfaata n-limbah-produksi-sagu-sebagai-pupuk- Kompos-Herbisida.pdf, 18 Oktober 2011. Ahmad, A, 1992, kinerja Bioreaktor Unggun Fluidisasi Anaerobik Dua Tahap Dalam Mengolah Limbah Cair Pabrik Minyak Kelapa Sawit, Laporan Magang Pusat Antar Universitas Bioteknologi ITB, Bandung. Ahmad, A, T. Setiadi, M. Syafila dan O.B. Liang, 1999, Bioreaktor Berpenyakat Anaerob untuk Pengolahan Limbah Cair Industri yang Mengandung Minyak dan Lemak, Prosiding Teknik Kimia, Bioteknologi ITB, Bandung. Ahmad, A, 2009, Dasar-dasar Teknologi Pengolahan Limbah Cair, Diktat Kuliah, UR, Pekanbaru. Amos, 2010, Dampak Limbah Pengolahan Sagu Skala Kecil Terhadap Mutu Air Anak Sungai Di Kelurahan Cibuluh Bogor, Jurnal Industri Hasil Perkebunan, 20(3), 45-50. Atikalidia, M, Penyisihan Chemical Oxygen Demand (COD) dan Produksi Biogas Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit dengan Bioreaktor Hibrid Anaerob bermedia Cangkang Sawit,Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia, http://www.resptitory.upynk.ac.id, 22 Februari 2012. Banu, J.R., S. Kaliappan, dan D. Beck, 2006, Treatment of Sago Wastewater Using Hybrid Anaerobic 153

Reactor, Water Qual. Res. J. Canada, 2006 Volume 41, No. 1, 56 62 Firdha, I, 2010, Penentuan Waktu Tinggal Hidrolik Terhadap Penyisihan COD (Chemical Oxygen Demand) Limbah Cair Pabrik Minyak Sawit dengan Biorekator Hibrid Anaerob bermedia Batu, Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia, Universitas Riau. Hamonangan, S., 2001, Pengolahan Limbah Cair Minyak Kelapa Sawit dengan Gabungan Proses Anaerob-Membran Tesis Magister, Institut Teknologi Bandung, Bandung. Luturkey, Y.A., 2011, Uji Kinerja Bioreaktor Hibrid Anaerob Bermedia Tandan Kosong dan Pelepah Sawit Dalam Penyisihan Chemical Oxygen Demand (COD) Limbah Cair Industri Minyak Sawit, Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia, Universitas Riau. Nugrahini, P, T. M. R. Habibi, dan A. D. Safitri, 2008, Penentuan Parameter Kinetika Proses Anaerobik Campuran Limbah Cair Pabrik Menggunakan Reaktor UASB, Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II, http://www.scribd.com/doc/39177121/53, 17 Oktober 2011. Syafila, M, A. H. Djadjadiningrat, dan M. Handajani, 2003. Kinerja Bioreaktor Hibrid Anaerob dengan Media Batu untuk Pengolahan Air Buangan yang Mengandung Molase, Prosiding ITB Sains dan Teknik Vol. 35 A No. 1 (2003) 19-31. 154