Asesmen Keterampilan Menulis dalam Pendidikan

dokumen-dokumen yang mirip
KARAKTERISTIK ANAK BERKESULITAN BELAJAR

SIKAP KEPALA SEKOLAH DAN GURU-GURU TERHADAP ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) YANG BELAJAR DI SD INKLUSI PUTERAKO BANDUNG. Oleh: Dra.

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Aktivitas berperan penting dalam proses pembelajaran, karena dengan

BAB I PENDAHULUAN. lancar. Keterampilan membaca memiliki peranan yang sangat penting. Dalam

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Momi Mahdaniar, 2013

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 1. Ketrampilan menulis tegak bersambung. pernyataan keinginan, atau pengungkapan perasaan dengan

Kegiatan Belajar 2 : Pembelajaran Individual bagi ABK

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA SIL. ORTOPEDAGOGIK UMUM SILABI MATA KULIAH

Pengembangan Panduan Metode Multisensori dalam Pembelajaran Pemahaman Makna Kata bagi Anak Tunagrahita Ringan

SILABUS MATA KULIAH. 1. Identitas Mata Kuliah Nama Mata Kuliah : Psikologi Diferensial dalam Pembelajaran Kode Mata Kuliah :

PENERAPAN PENDEKATAN PENGALAMAN BERBAHASA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA DI SEKOLAH DASAR KELAS RENDAH

BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Pengertian menulis 2.1.1Keterampilan Menulis nama sendiri bagi anak usia 5-6 Tahun

PENINGKATAN KETRAMPILAN ASESMEN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS UNTUK GURU SEKOLAH LUAR BIASA

BAB I PENDAHULUAN. pembagian kemampuan berbahasa, menulis selalu diletakkan paling. akhir setelah kemampuan menyimak, berbicara, dan membaca.

IDENTIFIKASI DAN ASESMEN KESULITAN BELAJAR ANAK

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Nera Insan Nurfadillah, 2013

S I L A B I BELAJAR DAN PEMBELAJARAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (KD 500)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam

Kompetensi Dasar : 1. IPS : Menunjukkan sikap hidup rukun dalam kemajemukan keluarga. 2. IPA : Membedakan lingkungan sehat dan tidak sehat.

PEMBELAJARAN MENULIS KARANGAN NARASI DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS VI

: Metode-metode Pembelajaran Bahasa Lisan pada Anak Tunagrahita Ringan di Sekolah Luar Biasa

LAPORAN PELAKSANAAN P2M TENTANG PEMBELAJARAN MEMBACA DAN MENULIS DENGAN METODE VAKT BAGI ANAK BERKESULITAN BELAJAR. Oleh: Ehan BAB I PENDAHULUAN

JASSI_anakku Volume 17 Nomor 1, Juni 2016

1. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR BAHASA INDONESIA SD/MI

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Assessment Kemampuan Merawat Diri

BAB I PENDAHULUAN. Anak usia 4 sampai 5 tahun memiliki rasa ingin tahu dan sikap antusias

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

Belajar dan Program Pembelajarannya

Mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :

RUANG LINGKUP ASESMEN PERKEMBANGAN

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan utama bagi manusia. Seiring

BAB I PENDAHULUAN. Pengajaran Bahasa Indonesia haruslah berisi usaha-usaha yang dapat

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN

31. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI)

Laporan Pembelajaran Anak Berkesulitan Belajar 1

oleh: Eka Yuli Astuti & Ranti Novianti Program Studi Pendidikan Luar Biasa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Nusantara, Bandung

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan di Indonesia merupakan suatu hal yang wajib ditempuh oleh semua warga negara.

BAB I PENDAHULUAN. mudah bosan, sulit memecahkan suatu masalah dan mengikuti pelajaran

BAB I PENDAHULUAN. didasarkan pada materi yang terdapat dalam kurikulum tersebut. Strandar

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

KESULITAN MENULIS PERMULAAN PADA ANAK USIA DINI DENGAN KELAINAN TUNAGRAHITA RINGAN

PENERAPAN TEKNIK TPS (THINK, PAIR, AND SHARE) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENENTUKAN KALIMAT UTAMA PARAGRAF DESKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. penggunaan struktur kebahasaannya dengan baik (penggunaan kosa kata, tatabahasa,

BAB II KAJIAN TEORI. A. Hakekat Pra Menulis. 1. Pengertian Pra Menulis. Kata lain dari pra menulis merupakan menulis permulaan.

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN MEMBACA PERMULAAN BAGI ANAK KESULITAN MEMBACA DI MIN KOTO LUAR PADANG (Deskriptif Kualitatif)

BAB III METODE PENELITIAN

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Pelajaran 1

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

SATUAP ACARA PERKULIAHAN

BAB I PENDAHULUAN. bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Selain itu bahasa Indonesia juga

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pada dasarnya setiap orang yang belajar bahasa dituntut untuk menguasai

PETUNJUK TEKNIS 1. IDENTITAS MATA KULIAH. Nama Mata Kuliah : Bimbingan dan Konseling. Kode Mata Kuliah : KD 302

Membangun Budaya Literasi Bagi Anak Autis Memakai Media Kliping Bergambar

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 1. Pengertian Anak Tunagrahita Sedang. pula dengan terbelakang mental, lemah ingatan, feebleminded, mental

Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Bab II pasal 3 tentang

BAB I PENDAHULUAN. Banyak keterampilan yang harus dikuasai oleh manusia baik sebagai makhluk

BAB I PENDAHULUAN Desi Nurdianti, 2013

BAB I PENDAHULUAN. Membaca adalah suatu proses yang dilakukan untuk memperoleh pesan

Nama Sekolah : Kelas / Semester : 2 (Dua) / 2 (Dua) : Kesehatan Waktu : 2 Minggu

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

BAB I PENDAHULUAN. khususnya bahasa Indonesia sebagai salah satu mata pelajaran yang penting dan

EFEKTIFITAS TERAPI GERAK DALAM MENANGANI KESULITAN BELAJAR PADA PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR NEGERI 2 KRANJI PURWOKERTO.

Peningkatan Kemampuan Bercerita Melalui Media Gambar Siswa Kelas II SD Negeri Bariri

: Bimbingan dan Konseling Anak Berkebutuhan Khusus

adanya perkembangan ilmu pengetahuan Mengingat pentingnya membaca bagi

BAB I PENDAHULUAN. hubungan sesamanya dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Hartati (2006: 34)

SILABUS TEMATIK. Satuan Pendidikan : SD/ MI Kelas/ Semester : I/ 1 : Diri Sendiri

MENYUSUN INSTRUMEN YANG VALID Dalam menyusun dan menganalisis instrument non tes pada makalah ini, kami menggunakan Skala Likert supaya dalam

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

Upaya Meningkatkan Kemampuan Menulis Karangan Sederhana Siswa Kelas IV SDN Pembina Liang Melalui Strategi Aktivitas Menulis Terbimbing

BAB I PENDAHULUAN. suatu sistem persaingan bebas dalam segala kehidupan. Kita harus dapat

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa merupakan media berkomunikasi dengan orang lain. Tercakup semua

MODEL PEMBELAJARAN MENULIS KARANGAN PERSUASI DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS V

UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS PERMULAAN DALAM MELENGKAPI CERITA RUMPANG MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR DAN PAPAN BERGARIS

BAB I PENDAHULUAN. mengungkapkan berbagai keinginan maupun kebutuhannya, serta memungkinkan

BAB I PENDAHULUAN. saling berkaitan satu sama lain. pada dasarnya belajar bahasa diawali dengan

MODEL PEMBELAJARAN MEMBACA PERMULAAN DI SEKOLAH DASAR. Fahrurrozi

Peningkatan Kemampuan Siswa Kelas II SD dalam Menulis Kata dengan Menggunakan Media Gambar di SDN Wata Kecamatan Bungku Barat Kabupaten Morowali

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

Penerapan Latihan Graphomotor untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis terhadap Anak Berkesulitan Belajar

BAB I PENDAHULUAN. Menulis atau mengarang ialah kemampuan mengekspresikan pikiran, perasaan, pengalaman, dalam bentuk tulisan yang disusun secara

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Globalisasi saat ini telah melanda dunia. Dunia yang luas seolah-olah

Kata Kunci: kesiapan membaca awal; kartu huruf bergambar

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Transkripsi:

Telaah +Asesmen Keterampilan Menulis dalam Pendidikan # Tjutju Soendari Asesmen Keterampilan Menulis dalam Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Tjutju Soendari Universitas Pendidikan Indonesia ABSTRAK Dalam konteks pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), asesmen berfungsi untuk melihat kemampuan dan kesulitan yang dihadapi seorang siswa, sebagai bahan untuk menentukan apa yang sesungguhnya dibutuhkan dalam pembelajarannya. Dengan perkataan lain, asesmen digunakan untuk menentukan dan menetapkan dimana letak masalah yang dihadapi serta apa yang menjadi kebutuhan belajar seorang siswa saat ini. Kajian ini mendeskripsikan tentang asesmen keterampilan menulis bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Pembahasan difokuskan pada penetapan ruang lingkup keterampilan menulis, bagaimana mengases dan menganalisis hasil asesmen keterampilan menulis. Rata Kunci: Asesmen, keterampilan menulis PENDAHULUAN Ketika seorang siswa mengalami kesulitan dalam keterampilan menuliskan sesuatu, maka guru seyogianya mampu mengases kemampuan siswa tersebut untuk mengembangkan keterampilan yang diperlukan. Monroe (1973) mengemukakan mungkin metoda terbaik dan paling mudah untuk guru dalam mengases kesulitan menulis adalah melalui suatu pendekatan inspeksi visual (a visual inspection approach), yaitu guru hanya mengamati siswa ketika ia membuat bentuk-bentuk huruf dan menentukan tindakan tertentu yang dalam proses pembentukan tersebut menyebabkan siswa tersebut mengalami kesulitan (Payne & Payne,1981:216). Di Negara-negara yang sudah maju banyak alat ukur keterampilan menulis yang dapat digunakan, seperti: Writing Our Language, Wide Range Achievement Test, dan the Slingerland. Tes-tes tersebut digunakan untuk menggali kesalahan-kesalahan dalam menulis secara spesifik dan digunakan sebagai alat informasi diagnostik tentang diri siswa. Namun walaupun demikian, guru tetap harus meneliti secara visual tulisan tangan siswa yang bersangkutan yang kemudian merencanakan bagaimana strategi dalam melaksanakan remediasinya. Secara umum, tampaknya tidak ada test formal untuk mengases keterampilan menulis seorang siswa, terutama keterampilan menulis untuk anak berkebutuhan khusus. Suatu tes visual yang secara tertutup {a close visual examination) kelihatannya dapat memberikan informasi yang memadai kepada para guru untuk membantu para ABK dalam mengembangkan atau meremediasi keterampilan menulis yang lebih spesifik. \\IJ\_Anakku» Volume 9 : Nomor 1 Tahun 2010 97

Telaah Asesmen Keterampilan Menulis dalam Pendidikan Tjutju Soendari Pengembangan tentang keterampilanketerampilan pramenulis sangat memerlukan ketajaman indera pendengaran dan penglihatan yang memadai, juga koordinasi antara berbagai modalities dengan gerak-gerak motorik. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk memasuki sekolah formal, seorang ABK tidak diasumsikan memiliki ketajaman visual, auditory dan aktivitas motorik yang sama dengan anak-anak pada umumnya dimana mereka mungkin telah menguasainya pada saat masuk sekolah. Payne (1981:217) mengemukakan aktivitas yang sangat bermakna dalam program kesiapan (readiness program), di mana seorang siswa harus mampu memanipulasi berbagai obyek, seperti balok, manik-manik, kacangkacangan dan baut-baut, dan sebagainya yang memungkinkan siswa mampu mengembangkan gerakan-gerakan yang akan memudahkan dalam mengembangkan keterampilan menulisnya. Guru dapat mendorong siswa melalui manipulasi berbagai obyek untuk membantu mengembangkan atau memperkuat kemampuannya seperti: menyentuh, menjangkau, menggenggam, dan melepaskan obyek. Kajian asesmen keterampilan menulis dalam pendidikan ABK ini membahas tentang bagaimana menetapkan ruang lingkup materi keterampilan menulis, bagaimana menyusun kisi-kisi asesmen informal keterampilan menulis, dan bagaimana mengembangkan alat ukur asesmen informal keterampilan menulis berdasarkan kisi-kisi yang telah dibuat serta bagaimana melaksanakan dan menganalisis hasil asesmen informal keterampilan menulis dalam pendidikan ABK PEMBAHASAN Penetapan Ruang Lingkup Materi Keterampilan Menulis Yang dimaksud dengan asesmen keterampilan menulis adalah suatu proses dalam memperoleh informasi tentang penguasaan atau keterampilan menulis yang telah dimiliki siswa saat ini serta untuk menemukan kesulitan hambatan dalam mempelajari keterampilan menulis yang dialaminya. Adapun tujuan asesmen keterampilan menulis untuk mengetahui gambaran secara menyeluruh keterampilan menulis apa yang telah dikuasai siswa dan keterampilan menulis apa yang belum dikuasai siswa. Dengan demikian hasil asesmen akan menjadi landasan bagi penyusunan program pembelajaran menulis siswa yang bersangkutan. Untuk dapat melakukan asesmen keterampilan menulis dengan baik, maka perlu pemahaman tentang pengertian keterampilan menulis. Terdapat beberapa pendapat tentang pengertian menulis. Lerner (1985) mengemukakan bahwa menulis adalah menuangkan ide ke dalam suatu bentuk visual. Tarigan (1986) menjelaskan bahwa menulis adalah melukiskan lambanglambang grafts dari bahasa yang dipahami oleh penulisnya maupun orang-orang lain yang menggunakan bahasa yang sama dengan penulis tersebut. Sedangkan Hargrove & Poteet (1984) mengemukakan bahwa menulis merupakan penggambaran visual tentang pikiran, perasaan dan ide dengan menggunakan simbol-simbol sistem bahasa penulisnya untuk keperluan 98 \AJS\_Anakku» Volume 9 : Nomor 1 Tahun 2010

Telaah» Asesmen Keterampilan Menulis dalam Pendidikan» Tjutju Soendari komunikasi atau mencatat. Dari sekian banyak pendapat di atas Mulyono Abdurahman (1996:192) menyimpulkan bahwa menulis merupakan: (a) salah satu komponen system komunikasi, (b) penggambaran pikiran, perasaan, dan ide ke dalam bentuk lambang-lambang bahasa grafis, dan (c) dilakukan untuk keperluan mencatat dan komunikasi. Untuk dapat melaksanakan asesmen keterampilan menulis dan menyusun program yang baik, guru perlu mengetahui secara umum organisasi materi keterampilan menulis dan jenis-jenis keterampilan yang terkait. Pada dasarnya materi keterampilan menulis mencakup empat keterampilan, yaitu: (a) keterampilan pramenulis, (b) keterampilan menulis permulaan, (c) keterampilan mengeja, dan (d) keterampilan menulis lanjutan (mengarang) (Sunardi,1997). Selanjutnya Sunardi (1997:4) mengemukakan bahwa keterampilan pramenulis mencakup: (a) meraih, meraba, memegang, dan melepas benda, (b) mencari perbedaan dan persamaan berbagai benda, bentuk, warna, bangun, dan posisi, (c) menentukan arah kiri, kanan, atas, bawah, depan, dan belakang. Sedangkan keterampilan menulis dengan tangan (permulaan) meliputi: (a) memegang alat tulis, (b) menggerakkan alat tulis (atasbawah,kiri-kanan,melingkar), (c) menyalin huruf, kata, kalimat dengan huruf balok, (d) menulis namanya dengan huruf balok, (e) menyalin huruf balok dari jarak jauh, (f) menyalin huruf, kata, kalimat dengan tulisan bersambung, dan (g) menyalin tulisan bersambung dari jarak jauh. Adapun keterampilan mengeja mencakup: (a) mengenal huruf abjad, kata, (b) mengucapkan kata yang diketahuinya, (c) mengenal perbedaan/persamaan konfigurasi kata, (d) mengasosiasikan bunyi dengan huruf, (e) mengeja kata, (f) Menemukan aturan ejaan kata, dan (g) menuliskan kata dengan ejaan yang benar. Adapun keterampilan menulis lanjut atau ekspresif (mengarang) seperti yang dikemukakan Moh.Amin (1995) meliputi: (a) reproduksi, (b) deskripsi (uraian), (c) ciptaan dan (d) karangan Penjelasan. Selanjutnya dijelaskan bahwa dalam membuat karangan reproduksi, siswa menceriterakan kembali karangan yang telah dibuat oleh orang lain. Siswa tidak perlu menyebutkan kembali semua kata yang terdapat pada teks bacaan aslinya. Siswa boleh menggantinya dengan katakata yang dipilihnya dan boleh membuang bagian-bagian yang dianggap kurang penting atau menambahkan bagian-bagian yang dianggapnya lebih memperjelas maksud karangan. Karangan reproduksi ini penting, karena: (a) mengimbangi gagasan yang belum dapat siswa susun sendiri sehingga memberikan kesempatan berlatih menyatakan pikiran, perasaan, dan kehendak sekalipun mereka belum dapat menyusunnya sendiri, dan (b) waktu mereproduksikan karangan orang lain, siswa melihat bagaimana cara orang lain menyusun perasaan, pikiran dan kehendak. Pada karangan uraian (deskripsi) siswa berlatih mengemukakan sesuatu sebagaimana adanya. Disini siswa sudah tidak hanya menyatakan kembali pikiran, perasaan, dan kehendak orang lain lagi, melainkan merumuskan kenyataankenyataan menjadi kata-kata dan kalimat. Misalnya tentang apa yang dilakukannya sebelum pergi sekolah, apa yang dilihatnya di jalan, dan sebagainya. Jenis karangan ini lebih sulit dari pada karangan reproduksi. JAIIl_Anakku» Volume 9 : Nomor 1 Tahun 2010 99

Telaah»Asesmen Keterampilan Menulis dalam Pendidikan» Tjutju Soendari Disamping harus merumuskan kenyataan menjadi kata-kata dan kalimat, dalam karangan ini siswa harus juga menentukan dari mana akan memulai dan di mana akan berakhir. Dalam karangan ciptaan, siswa harus merumuskan pikiran, perasaan, dan kehendak yang tidak dirumuskan dahulu oleh orang lain. Kenyataan-kenyataan mungkin masih dipergunakannya sebagai bahan, akan tetapi harus diberinya wama baru. Dalam membuat karangan ciptaan, siswa harus merumuskan apa yang sebenarnya sedang tidak terjadi. Misalnya membuat surat permisi karena sakit padahal dalam keadaan sehat, menyatakan apa yang akan dikerjakannya kalau sudah besar padahal masih kanak-kanak, dan sebagainya. Dalam karangan penjelasan, siswa menjelaskan mengapa sesuatu dikerjakan atau harus dikerjakan, bagaimana cara mengerjakan pekerjaan itu, dan sebagainya. Judul karangan ada yang menarik minat siswa ada juga yang tidak. Judul menarikpun ada yang sukar dikarang apalagi yang tidak menarik. Menurut hasil penelitian hal-hal yang menarik perhatian anak usia 7-10 tahun ialah pengalaman pribadi, peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan perubahan musim, dongeng, permainan, hal-hal yang berkenaan dengan anak dan orang tuanya, hal-hal mengenai binatang, dan ceritera tentang orang-orang istimewa atau terkenal. Selanjutnya hal-hal yang menarik perhatian anak usia 11 tahun atau lebih ialah pengalaman sendiri, pengalaman pergi dan petualangan, olah raga dan kelakuan di luar ruang kesusasteraan, ceritera binatang, kehidupan di rumah, hobi, peristiwa-peristiwa hangat, cerita orang-orang ternama, dan khayal; sedangkan hal-hal yang jarang menarik perhatian anak adalah pembicaraan mengenai kesehatan, kemasyarakatan, kenegaraan, penjelasan-penjelasan tentang peribahasa dan kata-kata mutiara, penjelasan-penjelasan yang sering menge nai benda-benda seperti payung, kaos kaki, dan sebagainya. Asesmen Informal Keterampilan Menulis Keterampilan menulis bersifat multidiensi, sehingga tidak dapat diukur secara tepat hanya dengan menghitung skor atau kualitas komposisi tulisan siswa. Seperti halnya keterampilan membaca, sebenarnya dapat dikembangkan tes-tes yang berstandar untuk mengukur keterampilan menulis. Namun demikian, di Indonesia masih sulit dicari tes-tes semacam itu. Oleh karena itu, guru harus mengadakan asesmen secara informal. Artinya, guru itu sendiri yang menyusun, memberikan, dan menafsirkan hasil asesmen sendiri. Dengan pengetahuan guru tentang ruang lingkup materi keterampilan menulis, guru dapat dengan mudah menyusun asesmen informal baik dalam bentuk daftar atau tabel. Berikut dikemukakan contoh kisi-kisi asesmen informal keterampilan menulis berdasarkan ruang lingkup materi di atas. - 100 \AJS\_Anakku» Volume 9 : Nomor 1 Tahun 2010

Telaah»Asesmen Keterampilan Menulis dalam Pendidikan + Tjutju Soendari Tabel 1 Contoh Kisi-kisi Asesmen Informal Keterampilan Menulis Ruang lingkup Pramenulis a. b. Penjabaran Materi Meraih, meraba, memegang, dan melepas benda Mencari perbedaan/persamaan berbagai obyek,bentuk, warna, ukuran Menulis Permulaan a. b. c. d. e. f. g- Memegang alat tulis Menggerakkan alat tulis(atas-bawah,kiri-kanan,melingkar) Menyalin huruf, kata, kalimat dengan huruf balok Menulis namanya dengan hurufbalok Menyalin huruf balok dari jarakjauh Menyalin huruf, kata, kalimat dengan tulisan bersambung Menyalin tulisan bersambung dari jarak jauh Keterampilan Mengeja Keterampilan (Menulis Lanjut) Mengarang a. Mengenal huruf abjad, kata (misalnya,dari namanya sendiri) b. Menuliskan kata yang diketahuinya c. Mengenal perbedaan/persamaan konfigurasi/bentuk kata d. Mengasosiasikan bunyi dengan huruf e. Mengeja kata f. Menemukan aturan ejaan kata g. Menuliskan kata dengan ejaan yang benar a. Reproduksi b. Deskripsi (uraian) c. Ciptaan d. Penjelasan Selain yang dikemukakan di atas, guru dikemukakan contoh kisi-kisi instrumen dapat pula membuat kisi-kisi asesmen asesmen keterampilan menulis berdasarkan informal keterampilan menulis berdasarkan KTSP PP No.22 dan 23 Tahun 2006. kurikulum yang berlaku saat ini. Berikut jasi\_anakku» Volume 9 : Nomor 1 Tahun 2010 101

Telaah Asesmen Keterampilan Menulis dalam Pendidikan» Tjutju Soendari Tabel2 Contoh Kisi-kisi Asesmen Informal Keterampilan Menulis (Kls 1/Smt 1 SD/MI Berdasarkan KTSP PP No.22 dan 23 Tahun 2006) Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Menulis 1.1 Mempersiapkan diri 1. permulaan untuk belajar dasar- 2. dengan dasar menulis 3. menj iplak, (Melemaskan otot 4. menebalkan, tangan) 5. mencontoh, 6. melengkapi, dan menyalin 1.2. Menebalkan berbagai 1. bentuk gambar, 2. bentuk huruf, dan 3. kata 1.3.Mencontoh huruf, 1. kata, atau kalimat 2. sederhana dari buku 3, atau papan tulis 4. 1.4. Menebalkan gambar, 1 mencontoh huruf, 2. kata, atau kalimat 3 sederhana 1.5. Mencontoh huruf, 1 kata, atau kalimat 2 sederhana dari buku 3 atau papan tulis 4 1.6 Menyalin kalimat 1. sederhana dengan 2. huruf lepas 3. 6 5 Meniru gerakan Menulis di udara Indikator Menebalkan bentuk benda Menirukan gerakan (naik, turun, berkelok) Membentuk gambar benda Menebalkan gambar Menebalkan huruf Menebalkan kata Melengkapi suku kata menjadi kata Menebalkan huruf Mencontoh tulisan huruf dengan menyalin Mencontoh tulisan kata dengan menyalin Mencontoh tulisan kalimat sederhana dengan menyalin Melengkapi kata dengan huruf yang tepat Melengkapi kalimat sesuai dengan gambar Menulis huruf dengan rapi Menulis dan menyalin kata dengan rapi Melengkapi kalimat Menebalkan dan mencontoh kalimat Mencontoh kalimat Melengkapi kata Melengkapi kalimat Menyusun kalimat acak Menulis kata sesuai gambar Menyalin kalimat Melengkapi kalimat Pengembangan Alat UkurAsesmen Informal Keterampilan Menulis Pengembangan alat ukur asesmen informal keterampilan menulis dibuat berdasarkan kisi-kisi yang telah disusun. Dengan demikian kisi-kisi yang telah tersusun akan menjadi landasan dalam pembuatan alat ukur tersebut. Alat ukur dikembangkan berdasarkan indikatorindikator yang telah dijabarkan dari subkomponen keterampilan menulis yang telah dipahami baik pengertiannya maupun ruang lingkupnya. Terdapat beberapa bentuk asesmen informal keterampilan menulis (Resmini,N, 2010:813), yaitu: portofolio, rubrik, cuplikan kerja, diskusi, catatan anekdotal, jurnal, contoh tulisan, observasi dan checklist (penandaan). Sunardi (1997:7) mengemukakan bahwa untuk keterampilan menulis terkecuali asesmen keterampilan pramenulis, asesmen yang paling praktis adalah menganalisis 102 }Ajn_Anakku» Volume 9 : Nomor 1 Tahun 2010

Telaah + Asesmen Keterampilan Menulis dalam Pendidikan» Tjutju Soendari sampel hasil tulisan siswa. Disarankan terbaik, dan tulisan tercepat Untuk lebih paling tidak tiga sampel tulisan siswa, yaitu jelasnya, perhatikan contoh berikut ini. tulisan dalam kondisi normal, tulisan Tabel3 Contoh Pengembangan Alat Ukur Asesmen Informal Keterampilan Pramenulis IDENTITAS SISWA Nama Usia/jenis kelamin Kelas Sekolah Pokok Bahasan 1. Pra menulis Sub Pokok Bahasan a. Meraih, meraba, memegang, dan melepaskan benda Alat Ukur 1) Siswa diminta untuk mengambil obyek-obyek kecil yang disediakan asesor/guru 2) Siswa diminta untuk meraba obyekobyek kecil yang disediakan asesor/guru 3) Siswa diminta untuk memegang obyek-obyek kecil yang disediakan asesor/guru 4) Siswa diminta untuk melepas/menjatuhkan/membuang obyek-obyek kecil yang disediakan asesor/guru Kemampuan Ketera Dpt Tdk ngan Tabel 4 Contoh Pengembangan Alat Ukur Asesmen Informal Keterampilan Mengeja IDENTITAS SISWA Nama : Usia/jenis kelamin : Kelas Sekolah SAMPEL Tugas ]1. Mengenal huruf abjad, kata TULISAN Kondisi normal Tulisan terbaik Tulisan tercepat a. Tulislah namamu sendiri! JAfH_Anakku» Volume 9 : Nomor 1 Tahun 2010 103

Telaah»Asesmen Keterampilan Menulis dalam Pendidikan» Tjutju Soendari Tabel 5 Contoh Pengembangan Alat Ukur Asesmen Informal Keterampilan Menulis Lanjut (Mengarang) IDENTITAS SISWA Nama Usia/jenis kelamin Kelas Sekolah Tugas (karangan reproduksi): Tulislah apa yang kamu pahami dari teks bacaan yang tersedia di bawah ini! (Guru/asesor menyediakan teks bacaan sesuai dengan tingkat/kelas siswa yang bersangkutan) Pelaksanaan dan Analisis Hasil Asesmen Keterampilan Menulis Seperti yang dikemukakan sebelumnya bahwa untuk keterampilan menulis, terkecuali asesmen keterampilan pramenulis, asesmen yang paling praktis adalah menganalisis sampel hasil tulisan siswa. Oleh karena itu prosedur pelaksanaan asesmen keterampilan menulis yang pertama adalah meminta sampel hasil tulisan siswa. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan sebelum siswa melakukan tugas yang diminta, yaitu: a) berikan pengarahan yang jelas, b) berikan Lembar Kerja Siswa (LKS), dan c) bubuhkan identitas siswa. Kedua, Guru/asesor mengamati proses menulis siswa. Ada beberapa komponen yang dapat diamati dalam pelaksanaan asesmen keterampilan menulis (Sunardi, 1997), di antaranya: a) memegang pensil dengan benar, b) arah menulis (dari kiri ke kanan), c)posisi kertas/buku, d) posisi duduk siswa, e) jarak mata dengan kertas/buku, f) kondisi siswa saat menulis (tegang, frustrasi, emosional), dan g) sikap yang ditunjukkan siswa (negatif, bosan, mengganggu). Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel pengamatan proses menulis siswa berikut ini. Tabel 6 Komponen yang Dapat Diamati dalam Pelaksanaan Asesmen Keterampilan Menulis (Sunardi, 1997) Komponen yang diamati 1. Memegang pensil dengan benar 2. Arah menulis (dari kiri ke kanan) 3. Posisi kertas/buku 4. Posisi duduk siswa 5. Jarak mata dengan kertas/buku 6. Kondisi siswa saat menulis frustrasi, emosional) 7. Sikap yang ditunjukkan siswa bosan, mengganggu). (tegang, (negatif, Hasil Tepat Kurang Tidak tepat tepat Keterangan 104 i&jj\_anakku» Volume 9 : Nomor 1 Tahun 2010

Telaah» Asesmen Keterampilan Menulis dalam Pendidikan» Tjutju Soendari Langkah selanjutnya adalah menganalisis sampel hasil tulisan siswa. Adapun aspek-aspek yang dianalisis antara lain adalah bentuk huruf/kata, ukuran, letak dan proporsi huruf, konsistensi jarak antar huruf, konsistensi tebal-tipis huruf, konsistensi tegak-miring huruf, dan kecepatan dalam menulis. Adapun aspekaspek untuk menganalisis hasil asesmen keterampilan mengarang, diantaranya adalah aspek kelancaran, kosakata, struktur dan tanda baca, dan isi karangan yang meliputi: ketepatan, kekayaan ide, dan organisasi. KESIMPULAN Secara garis besar organisasi materi keterampilan menulis mencakup empat keterampilan besar, yaitu: keterampilan pramenulis, keterampilan menulis permulaan, keterampilan mengeja, dan keterampilan menulis lanjutan (mengarang). Terdapat empat jenis karangan, yaitu karangan reproduksi, karangan uraian, karangan ciptaan, dan karangan penjelasan. Ada beberapa hal yang dapat diamati pada saat pelaksanaan asesmen keterampilan menulis, di antaranya adalah: Memegang pensil dengan benar, arah menulis (dari kiri ke kanan), posisi kertas/buku, posisi duduk siswa, jarak mata dengan kertas/buku, kondisi siswa saat menulis (tegang, frustrasi, emosional), sikap yang ditunjukkan siswa (negatif, bosan, mengganggu). DAFTAR PUSTAKA Abdurahman, Mulyono, (2001).Pendidikan bagi Anak berkesulitan Belajar, Jurusan PLB UNJ Jakarta. Abdurahman, Mulyono dan Estiningsih, E.(\991).Menangani Kesulitan Belajar Berhitung, Jakarta: Depdikbud. Amin, Moh. (\995).Ortopedagogik anak tunagrahita, Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Depdiknas (2006).Standar Isi, Standar kompetensi Lulusan, dan Panduan Penyusunan KTSP Sekolah Dasar, Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan-Dikti. Hargove, Linda J & Poteet, James A. (\9%4)Assesment in Special Education, The Education Evaluation, Hall, Inc. New Jersey, Prentice Hargove, Linda J and Poteet, James A (1984), Assesment children, introduction to special education, Boston : Alyn Bacon. Lerner, Janet,W. (1989).Learning Disabilities, Teories, Diagnosis, and teaching Strategies, USA: Houghton Mifflin Company. McLoughlin,James,A. & Lewis, Rena,B (l98l).assessing Special StudentsStrategies and Procedures, USA: Merril Publishing Company. Mercer Cecil D & Mercer, Ann,R (1989), Teaching student with Learning Problems,, USA: Merill Publishing Company. jam_anakku» Volume 9 : Nomor 1 Tahun 2010 105

Telaah Asesmen KeterampilanMenulis dalam Pendidikan Tjutju Soendari Myers, Patricia (1986). Methods for Learning disorder, New York: John Wiley and Sons Payne & Payne (\9%\).Strategies for Teaching Mentally Retarded 2nd, USA: Charles E.Merrill Publishing Company. Resmini, N.(20\0)Asesmen dalam Pengajaran Menulis di Sekolah Dasar, dalam Proceeding 2nd International Seminar 2010 Practice Pedagogic in Global Education Perspective, Bandung: UPI Rochyadi & Alimin, Z (2005).Pengembangan Program Individual Bagi Anak Tunagrahita, Jakarta: Depdiknas. Rochyadi & Soendari (200\).Tingkat Penerapan dan pemahaman Program Individualisasi Pendidikan (IEP) Oleh Guru-guru SLB di Kodya Bandung, Jakarta: Proyek Pengkajian dan Penelitian Ilmu Pengetahuan, Dikti. Soendari, T (1996).Penerapan Program Individualisasi dalam Pengajaran Berhitung bagi Anak Luar Biasa, (Makalah disajikan dalam P2M pada Guru-guru SLB di Kodya Bandung). Suaheri, HN. (1987).Ortodidaktik Anak Tunagrahita III, Jurusan PLB- FIP- IKIP Bandung. Sunardi & Muchlisoh (\997).Menangani Kesulitan Belajar Membaca, Jakarta: Depdikbud. Yusuf, Munawir, dkk (1997).Mengenal Siswa Berkesulitan Belajar, Jakarta: Depdikbud. 106 }AISl_Anakku» Volume 9 : Nomor 1 Tahun 2010