BEA MATERAI. Bea Materai

dokumen-dokumen yang mirip
BEA MATERAI. Bea Materai

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perubahan Tarif Bea Meterai dan Besarnya Batas Pengenaan Harga Nominal Yang Dikenakan Bea Meterai.

Menjelaskan Pengertian Bea Meterai. Menjelaskan Objek Pemungutan Bea Meterai. Menjelaskan Saat Terutangnya Bea Meterai

BEA MATERAI. Pengenaan pajak atas dokumen

Buku Panduan Perpajakan Bendahara Pemerintah BAB IX BEA METERAI

MAKALAH PAJAK BUMI DAN BANGUNAN BEA MATERAI

DASAR HUKUM, OBYEK DAN TARIF BEA MATERAI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

Bea meterai adalah pajak yang dikenakan atas dokumen berupa kertas yang menurut Undang- Undang Bea Meterai menjadi objek Bea Meterai

NOMOR 13 TAHUN 1985 TENTANG BEA METERAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 1985 TENTANG BEA METERAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Seluruh tulisan pada modul ini merupakan milik dari Pusdiklat Pajak BPPK, hasil tulisan dari Widyaiswara Pusdiklat Pajak, Hasanuddin Tatang

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK Direktorat Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK KANTOR WILAYAH... KANTOR PELAYANAN PAJAK... Jalan... Telepon :... Fax :...

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK KANTOR WILAYAH... KANTOR PELAYANAN PAJAK...

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70/PMK.03/2014 TENTANG TATA CARA PEMETERAIAN KEMUDIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER- 27 /PJ/2013 TENTANG

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 476/KMK.03/2002 TENTANG PELUNASAN BEA METERAI DENGAN CARA PEMETERAIAN KEMUDIAN

MATERI: Pajak Daerah, PBB, BPHTB, PPhTB, & Bea Meterai

NO. URUT WEWENANG DIREKTUR JENDERAL PAJAK DASAR HUKUM DILIMPAHKAN KEPADA KETERANGAN

Tabel 1: Sanksi Administrasi Berupa Denda, Bentuk pengenaan Denda, dan Besarnya Denda

SURAT PERNYATAAN KEPEMILIKAN MESIN TERAAN METERAI DIGITAL (MTMD) Nama/Nama Perusahaan :... Nomor Pokok Wajib Pajak :... Alamat :... Jenis Usaha :...

FORMULIR PERMOHONAN IZIN/PERPANJANGAN IZIN SEBAGAI PELAKSANA PEMBUBUHAN TANDA BEA METERAI LUNAS DENGAN TEKNOLOGI PERCETAKAN

I. PENDAHULUAN MAKSUD DAN TUJUAN

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 118/PMK.03/2016 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2016 TENTANG PENGAMPUNAN PAJAK

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

: PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG TATA CARA PENAGIHAN BEA MASUK DAN/ATAU CUKAI.

PER - 26/PJ/2010 TATA CARA PENELITIAN SURAT SETORAN PAJAK ATAS PENGHASILAN DARI PENGALIHAN HAK ATAS

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG RETRIBUSI PENGUJIAN KENDARAAN BERMOTOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEBUMEN,

PANITIA SUMPAH PEMUDA KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA KALIMANTAN TIMUR TAHUN 2014

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR 27/PJ/2008 TENTANG

: Pengajuan Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) Meterai dan ttd

PERPAJAKAN Gambar 15.1

BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO

BAB 4 PEMBAHASAN. atau saat melakukan kegiatan usaha atau memperoleh penghasilan. Tidak

Perpajakan Bendahara Pengeluaran

BAB III HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI

BAB VI JASA-JASA BANK

Pengendalian Kas Sistem pengendalian intern terhadap kas pada umumnya memisahkan fungsi-fungsi : - Penyimpanan - Pelaksana - Pencatatan

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 141/PMK.03/2016 TENTANG

PERSANDINGAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN BESERTA PERATURAN-PERATURAN PELAKSANAANNYA

KEWAJIBAN PERPAJAKAN ATAS PENGGUNAAN DANA HIBAH PENELITIAN KOPERTIS WILAYAH III JAKARTA TAHUN 2018

BUPATI BADUNG PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 69 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PEMUNGUTAN PAJAK REKLAME DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG,

KONTRAK INVESTASI KOLEKTIF EFEK BERAGUN ASET DANAREKSA SMF I KPR BTN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 259/PMK.04/2010 TENTANG JAMINAN DALAM RANGKA KEPABEANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN,

PP 4/1998, TATA CARA PENJUALAN BARANG SITAAN YANG DIKECUALIKAN DARI PENJUALAN SECARA LELANG DALAM RANGKA PENAGIHAN PAJAK DENGAN SURAT PAKSA

SE - 108/PJ/2009 PELAKSANAAN PEMBLOKIRAN HARTA KEKAYAAN PENANGGUNG PAJAK YANG TERSIMPAN PADA BANK M

Contoh Surat Pengajuan FPJP

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN NOMOR PER - 01 /PJ/2013 TENTANG

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-27/BC/2009 TENTANG

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN (UU KUP)

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 259/PMK.04/2010 TENTANG JAMINAN DALAM RANGKA KEPABEANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN,

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 66/PMK.03/2008 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 242/PMK.03/2014 TENTANG TATA CARA PEMBAYARAN DAN PENYETORAN PAJAK

P - 34/BC/2009 PETUNJUK PELAKSANAAN PEMBAYARAN DAN PENATAUSAHAAN PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK (PNBP

PEMERINTAH KOTA SURABAYA

FREQUENTLY ASKED QUESTIONS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 165/PMK.03/2017 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 118/PMK

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER - 7/PJ/2011 TENTANG TATA CARA PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

L2

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 135 TAHUN 2000 TENTANG TATA CARA PENYITAAN DALAM RANGKA PENAGIHAN PAJAK DENGAN SURAT PAKSA

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1961 TENTANG PENDAFTARAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KUP NPWP DAN SPT. Amanita Novi Yushita, M.Si

I. KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN (KUP)

AMNESTI PAJAK A. Pengertian Umum

Kewajiban yang harus dipenuhi oleh wajib pajak badan setelah memperoleh NPWP

Pendapatan denda keterlambatan diakui pada saat diterima oleh KIK EBA.

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 242/PMK.03/2014 TENTANG TATA CARA PEMBAYARAN DAN PENYETORAN PAJAK

PER - 39/PJ/2010 PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-160/PJ/2005 TENTANG TATA

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 16/PMK.03/2011 TENTANG TATA CARA PENGHITUNGAN DAN PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PARKIR DI TEPI JALAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG RETRIBUSI PERIZINAN DI BIDANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN DI KOTA TASIKMALAYA

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 69/PMK.04/2009 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG Nomor : 14 Tahun 2008 PEMERINTAH KABUPATEN MAGELANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG

BAB II KETENTUAN UMUM dan TATA CARA PERPAJAKAN

1

BUPATI TOLITOLI PERATURAN DAERAH KABUPATEN TOLITOLI NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG RETRIBUSI TERMINAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TOLITOLI,

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Menurut Prof. Dr. P.J.A. Adriani, Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara

Transkripsi:

BEA MATERAI Bea Materai 24 August 2013

DASAR HUKUM KETENTUAN BEA MATERAI UU UU No. 13 Tahun 1985 Tentang Bea Materai PP PP No. 28 Th. 1986 Pengadaan, Pengelolaan dan Penjualan Benda Materai PP No. 7 Th. 1995 stdd PP No. 24 Th. 2000 Perubahan Tarif BM an Besarnya Batas Harga Nominal Yang Dikenakan BM Atas Cek dan Bilyet Giro Peraturan Pelaksana No. 15/PMK.03/2005 stdd 90/PMK.03/2005 Bentuk, Ukuran, Warna dan Desain Materai Tempel Tahun 2005 No. 133a/KMK.04/2000 Pengadaan, Pengelolaan dan Penjualan Benda Materai No. 133b/KMK.04/2000 Pelunasan BM dengan Menggunakan Cara Lain No. 133c/KMK.04/2000 Pemusnahan Benda Materai No. 476/KMK.03/2002 Pelunasan BM Dengan Cara Pemateraian Kemudian

DASAR HUKUM KETENTUAN BEA MATERAI Peraturan Pelaksana KEP- 448/PJ./2000 Besarnya Provisi Penjualan Benda Materai KEP- 02/PJ/2003 TC Pemateraian Kemudian KEP- 122a/PJ./2000 TC Pelunasan BM Dengan Menggunakan Benda Materai KEP- 122b/PJ./2000 TC Pelunasan BM Dengan Membubuhkan Tanda Bea Materai Lunas Dengan Mesin Teraan KEP- 122c/PJ./2000 TC Pelunasan BM Dengan Membubuhkan Tanda Bea Materai Lunas Dengan Teknologi Percetakan KEP- 122d/PJ./2000 TC Pelunasan BM Dengan Membubuhkan Tanda BM lunas Dengan Sistem Komputerisasi SE- 07/PJ.5/2001 Pembubuhan Tanda BM Lunas Dengan Mesin Teraan SE- 29/PJ.5/2000 Dokumen Perbankan Yang Dikenakan BM SE- 23/PJ.53/1996 BM Atas Nota Tagihan, Segi hitung Sebagai Tanda Terima Uang SE- 05/PJ.5/2001 Pembubuhan Tanda BM Lunas Dengan Sistem Komputerisasi

Pajak yang dikenakan atas : Dokumen kertas yang berisikan tulisan yang mengandung arti dan maksud tentang - perbuatan, - keadaan atau - kenyataan bagi seseorang dan/atau pihak-pihak yang berkepentingan

a. Surat perjanjian dan surat-surat lainnya yang dibuat dengan tujuan untuk digunakan sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan, kenyataan atau keadaan yang bersifat perdata; b. akta-akta notaris termasuk salinannya; c. akta-akta yang dibuat oleh PPAT termasuk rangkap-rangkapnya; d. surat yang yang memuat jumlah uang > Rp.1.000.000,- yang : 1. menyebutkan penerimaan uang; 2. menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dlm rek. di bank; 3. berisi pemberitahuan saldo rekening di bank; 4. berisi pengakuan bahwa hutang uang seluruhnya atau sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan; Tarif Bea Materai : Rp 6.000,- UU BM Pasal 2 & 3 PP No. 24 Th. 2000

e. surat berharga seperti wesel, promes & aksep yang harga nominalnya > Rp.1.000.000,- f. efek dan sekumpulan efek (tercantum dalam surat kolektif) dengan nama dan dalam bentuk apapun, sepanjang harga nominalnya > Rp.1.000.000,- g. dokumen yang akan digunakan sebagai alat pembuktian di muka Pengadilan: 1. surat-surat biasa dan surat-surat kerumahtanggaan; 2. surat-surat yang semula tidak dikenakan Bea Meterai berdasarkan tujuannya, jika digunakan untuk tujuan lain atau digunakan oleh orang lain, lain dari maksud semula Tarif Bea Materai : Rp 6.000,- UU BM Pasal 2 & 3 PP No. 24 Th. 2000

a. surat yang yang memuat jumlah uang > Rp 250.000, - s.d Rp 1.000.000,- yg : 1. menyebutkan penerimaan uang; 2. menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dlm rek. di bank; 3. berisi pemberitahuan saldo rekening di bank; 4. berisi pengakuan bahwa hutang uang seluruhnya atau sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan; b. surat berharga seperti wesel, promes & aksep yang harga nominalnya > Rp 250.000,- s.d. Rp.1.000.000,- c. Cek dan Bilyet Giro (dengan nilai berapapun) d. efek dan sekumpulan efek (tercantum dalam surat kolektif) dengan nama dan dalam bentuk apapun, dengan harga nominalnya sampai dgn Rp.1.000.000,- Tarif Bea Materai : Rp 3.000,- UU BM Pasal 2 & 3 PP No. 24 Th. 2000

a. dokumen yang berupa : 1. surat penyimpanan barang; 2. konosemen; 3. surat angkutan penumpang dan barang; 4. keterangan pemindahan yang dituliskan di atas dokumen sebagaimana dimaksud dalam angka 1), angka 2), dan angka 3); 5. bukti untuk pengiriman dan penerimaan barang; 6. surat pengiriman barang untuk dijual atas tanggungan pengirim; 7. surat-surat lainnya yang dapat disamakan dengan surat-surat sebagaimana dimaksud dalam angka 1) sampai angka 6). b. segala bentuk Ijazah; c. tanda terima gaji, uang tunggu, pensiun, uang tunjangan, dan pembayaran lainnya yang ada kaitannya dengan hubungan kerja serta surat-surat yang diserahkan untuk mendapatkan pembayaran itu; d. tanda bukti penerimaan uang Negara dari kas Negara, Kas Pemerintah Daerah, dan bank; UU BM Pasal 4 PP No. 24 Th. 2000

e. kuitansi untuk semua jenis pajak dan untuk penerimaan lainnya yang dapat disamakan dengan itu dari Kas Negara, Kas Pemda dan bank; f. tanda penerimaan uang yang dibuat untuk keperluan intern organisasi; g. dokumen yang menyebutkan tabungan, pembayaran uang tabungan kepada penabung oleh bank, koperasi, dan badan-badan lainnya yang bergerak di bidang tersebut; h. surat gadai yang diberikan oleh Perusahaan Jawatan Pegadaian; i. tanda pembagian keuntungan atau bunga dari efek, dengan nama dan dalam bentuk apapun. j. surat yang yang memuat jumlah uang dan surat berharga seperti wesel, promes & aksep dengan nilai nominal sampai dengan Rp 250.000,- UU BM Pasal 4 PP No. 24 Th. 2000

pihak yang menerima atau pihak yang mendapat manfaat dari dokumen, kecuali pihak atau pihak-pihak yang bersangkutan menentukan lain Saat terhutang Bea Meterai ditentukan dalam hal : dokumen yang dibuat oleh satu pihak = pada saat dokumen itu diserahkan; dokumen yang dibuat oleh lebih dari salah satu pihak = pada saat selesainya dokumen itu dibuat; dokumen yang dibuat di luar negeri = pada saat digunakan di Indonesia UU BM Pasal 5 & 6

Pelunasan Bea Materai menggunakan benda meterai Kertas Materai (Tidak berlaku lagi) Materai Tempel menggunakan cara lain Mesin Teraan Teknologi Percetakan Sistem Komputerisasi Pemateraian Kemudian, dilakukan dalam hal: Dokumen yang semula tidak terutang Bea Meterai namun akan digunakan sebagai alat pembuktian di muka pengadilan. Dokumen yang BMnya tidak/kurang dilunasi Dokumen yang dibuat di luar negeri yang akan digunakan di Indonesia UU BM Pasal 7, 8, 9, 10

Pelunasan Bea Materai menggunakan benda meterai a. Membubuhkan Meterai Tempel kopur Rp 3.000,- atau kopur Rp 6.000,- b. Meterai tempel direkatkan seluruhnya dengan utuh dan tidak rusak di atas dokumen yang dikenakan Bea Meterai c. Meterai tempel direkatkan di tempat dimana tanda tangan akan dibubuhkan d. Pembubuhan tanda tangan disertai dengan pencantuman tanggal, bulan, dan tahun dilakukan dengan tinta atau yang sejenis dengan itu, sehingga sebagian tanda tangan ada di atas kertas dan sebagian lagi di atas meterai tempel. e. Jika digunakan lebih dari satu meterai tempel, tanda tangan harus dibubuhkan sebagian di atas semua meterai tempel dan sebagian di atas kertas. f. Jika isi dokumen yang dikenakan Bea Meterai terlalu panjang untuk dimuat seluruhnya di atas meterai yang digunakan, maka untuk bagian isi yang masih tertinggal dapat digunakan kertas tidak bermeterai. g. Apabila ketentuan di atas tidak dipenuhi, dokumen yang bersangkutan dianggap tidak bermeterai UU BM Pasal 7; KEP- 122a/PJ./2000

Pelunasan Bea Materai Menggunakan Mesin Teraan a. Penerbit dokumen dgn rata-rata minimal sebanyak 50 dokumen per hari b. Mengajukan permohonan ijin tertulis kepada Kepala KPP setempat dengan : Mencantumkan jenis/merk dan tahun pembuatan mesin teraan meterai, Melampirkan surat pernyataan tentang jumlah rata-rata dokumen yang harus dilunasi Bea Meterai setiap hari c. Menyetor Bea Meterai di muka minimal sebesar Rp 15.000.000,- dgn SSP d. Menyampaikan laporan ke Kepala KPP setempat : Laporan Bulanan paling lambat tanggal 15 setiap bulan. Plg lambat 1 bulan setelah: mesin teraan meterai tidak dipergunakan lagi, atau terjadi perubahan alamat/tempat kedudukan pemilik/pemegang ijin penggunaan mesin teraan meterai e. Ijin berlaku selama 2 tahun sejak tanggal ditetapkannya, dan dapat diperpanjang f. Sanksi : Denda 200% dan/atau Pencabutan izin serta sanksi pidana. UU BM Pasal 7; KEP - 122b/PJ./2000

Pelunasan Bea Materai Menggunakan Teknologi Percetakan a. diperkenankan untuk dokumen yang berbentuk cek, bilyet giro, dan efek dengan nama dan dalam bentuk apapun b. Mengajukan permohonan ijin tertulis kepada Dirjen Pajak dengan mencantumkan jenis dokumen dan jumlah Bea Meterai yang telah dibayar c. Menyetor Bea Meterai di muka sebesar jumlah dokumen yang harus dilunasi dgn SSP d. Perum Peruri dan perusahaan sekuriti yang melakukan pembubuhan tanda Bea Meterai Lunas pada cek, bilyet giro, atau efek dengan nama dan dalam bentuk apapun menyampaikan Laporan Bulanan kepada Dirjen Pajak plg lambat tgl 10 setiap bulan. e. Sanksi : Denda 200% dan/atau Pencabutan izin dan Sanksi Pidana UU BM Pasal 7; KEP 122c/PJ./2000

Menggunakan Sistem Komputerisasi Pelunasan Bea Materai a. Dokumen berbentuk surat yang memuat jumlah uang dgn rata-rata minimal sebanyak 100 dokumen per hari b. Mengajukan permohonan ijin tertulis kepada Dirjen Pajak dengan : dengan mencantumkan jenis dokumen, dan perkiraan jumlah rata-rata dokumen yang akan dilunasi Bea Meterai setiap hari c. Menyetor Bea Meterai di muka minimal sebesar perkiraan jumlah dokumen yang harus dilunasi setiap bulan dgn SSP d. Menyampaikan laporan ke Dirjen Pajak Plg lambat tgl 15 setiap bulan: Laporan bulanan tentang realisasi penggunaan dan saldo Bea Meterai. e. Saldo Bea Meterai kurang dari estimasi kebutuhan 1 bulan, harus mengajukan permohonan ijin baru dengan menyetor lagi minimal sebesar kekurangan yang harus dipenuhi untuk mencukupi kebutuhan 1 bulan f. Sanksi : Denda 200% dan/atau Pencabutan izin serta sanksi pidana. UU BM Pasal 7; KEP 122d/PJ./2000

Tidak Melunasi Bea Materai? Dikenakan Sanksi Denda 200% Dilunasi dengan menggunakan mekanisme Pemateraian Kemudian Termasuk dokumen yang dibuat di luar negeri pada saat digunakan di Indonesia harus telah dilunasi bea Meterai yang terhutang dengan cara pemeteraian-kemudian UU BM Pasal 8 & 9

TERIMA KASIH ATAS PERHATIANNYA 24 August 2013