HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
I PENDAHULUAN. banyak peternakan yang mengembangkan budidaya puyuh dalam pemenuhan produksi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian R. Mia Ersa Puspa Endah, 2015

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Hiperlipidemia atau hiperkolesterolemia termasuk salah satu abnormalitas fraksi

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. utama kematian di negara dengan pendapatan rendah dan menengah

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. bahan-bahan yang terkandung di dalamnya dalam jangka panjang.

PERBAIKAN KADAR LIPID DARAH PADA MENCIT

BAB I PENDAHULUAN. lemak oleh manusia, akhir-akhir ini tidak dapat dikendalikan. Hal ini bisa

DAFTAR ISI. Halaman KATA PENGANTAR... i ABSTRAK... iii DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... viii DAFTAR GAMBAR... x DAFTAR LAMPIRAN...

BAB I PENDAHULUAN. serat. Kurangnya aktivitas fisik dan mengkonsumsi makanan tinggi lemak termasuk

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. kadar HDL dalam darah (Linn et al., 2009). Dislipidemia sebagian besar (hingga

BAB I PENDAHULUAN. proses penuaan dan meningkatkan kualitas hidup. Proses menjadi tua memang

BAB 6 PEMBAHASAN. darah, mereduksi kadar kolesterol, trigliserida, gula darah, menyeimbangkan

Pada wanita penurunan ini terjadi setelah pria. Sebagian efek ini. kemungkinan disebabkan karena selektif mortalitas pada penderita

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. kardiovaskular yang diakibatkan karena penyempitan pembuluh darah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus L) JANTAN YANG TERBEBANI KOLESTEROL SETELAH PEMBERIAN KOMBUCHA COFFEE

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Rokok merupakan gulungan tembakau yang dirajang dan diberi cengkeh

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

repository.unimus.ac.id

TINJAUAN PUSTAKA. jantan maupun betina muda berumur 6-8 minggu yang dipelihara secara intensif,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Masyarakat zaman sekarang terpapar oleh banyaknya makanan tinggi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menyusun jaringan tumbuhan dan hewan. Lipid merupakan golongan senyawa

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

Kolesterol selain diperoleh dari makanan, juga diproduksi di hati dari lemak jenuh. Jadi, penurunan kadar kolesterol serum dapat dicapai dengan

BAB I PENDAHULUAN. hal dasar dalam kehidupan untuk menunjang semua aktivitas mahkluk hidup. Kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. pembunuh utama di negara-negara industri. Sebagian besar penyakit

BAB I PENDAHULUAN. dengan cara penggorengan.kebutuhan akan konsumsi minyak goreng meningkat

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENGARUH AROMATERAPI MINYAK ATSIRI JAHE TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA DAN KOLESTEROL DARAH TIKUS YANG DIBERI PAKAN TINGGI LEMAK AJI AGUNG CAHYAJI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. jaringan di dalam tubuh untuk memperbaiki diri secara perlahan-lahan dan

UNDERSTANDING CHOLESTEROL. Djadjat Tisnadjaja Puslit Bioteknologi-LIPI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. umum lipid ada yang larut dalam air dan ada yang larut dalam pelarut non. dan paha seiiring dengan bertambahnya usia 4.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Lipid adalah senyawa berisi karbon dan hidrogen yang tidak larut dalam air tetapi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Teori Pemeliharaan Kesehatan terhadap Penyakit

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

TERHADAP PERBAIKAN KADAR LIPID SERUM DARAH MENCIT

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. mementingkan defisit neurologis yang terjadi sehingga batasan stroke adalah. untuk pasien dan keluarganya (Adibhatla et al., 2008).

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Glukosa. mempengaruhi kinerja sistem tubuh. Hasil pengamatan rataan kadar glukosa dari

I. PENDAHULUAN. Hiperkolesterolemia adalah suatu keadaan dimana kadar kolesterol serum

Mitos dan Fakta Kolesterol

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. sekaligus sebagai upaya memelihara kesehatan dan kebugaran. Latihan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Fenomena ini disambut baik sebagai wujud kemajuan. pembangunan dan perkembangan teknologi. Namun, di sisi lain

I. PENDAHULUAN. kadar kolesterol total terutama Low Density Lipoprotein (LDL) dan diikuti

BAB I PENDAHULUAN. dan mempertahankan kesehatan dan daya tahan jantung, paru-paru, otot dan sendi.

BAB I PENDAHULUAN. meningkat. Peningkatan asupan lemak sebagian besar berasal dari tingginya

BAB I PENDAHULUAN. Bawang putih (Allium sativum) adalah nama tanaman dari genus Allium

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. penyakit jantung koroner (Rahayu, 2005). Hiperkolesterolemia adalah suatu

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. darah merupakan penyebab utama kematian di rumah sakit dan menempati

ANTIHIPERLIPIDEMIA YENI FARIDA S.FARM., M.SC., APT

1 Universitas Kristen Maranatha

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. lama kelamaan plak kolesterol tersebut akan menyebabkan penyempitan

BAB I PENDAHULUAN. 2014). Penyakit metabolik dan degeneratif saat ini tidak hanya menyerang usia lanjut,

Transkripsi:

17 HASIL DAN PEMBAHASAN Pengamatan Perilaku Tikus terhadap Aroma Minyak Atsiri Jahe Dari hasil pengamatan perilaku dalam waktu 4 jam pengamatan, tikus mendatangi sumber air minum dan bahkan sengaja mendatangi sumber minyak atsiri sebanyak 36 kali. Jika diasumsikan dalam 24 jam tikus beraktivitas maka tikus mendatangi sumber minyak atsiri sebanyak 216 kali dalam sehari. Aroma yang ditimbulkan oleh minyak atsiri jahe menjadi sumber ketertarikan tikus yang ditandai dengan mendekati dan mencium sumber minyak atsiri tersebut. Tikus memiliki indera penciuman yang berkembang dengan baik. Hal ini ditunjukkan dengan aktivitas tikus menggerak-gerakkan kepala serta mendengus pada saat mencium bau pakan, tikus lain, atau musuhnya (predator). Penciuman tikus yang baik ini juga bermanfaat untuk mencium urin dan sekresi genitalia. Dengan kemampuan ini tikus dapat menandai wilayah pergerakan tikus lainnya, mengenali jejak tikus yang masih tergolong dalam kelompoknya, mendeteksi tikus betina yang sedang estrus (birahi) dan mendeteksi anaknya yang keluar dari sarang berdasarkan urin yang dikeluarkan oleh anaknya (Priyambodo 1995). Barnett dan Spencer (2001) menyatakan bahwa tikus memiliki 500 hingga 1000 jenis reseptor penciuman. Selain itu, tikus juga memiliki organ untuk membantu mendeteksi bau yang disebut organ vomeronasal. Fungsi utama organ vomeronasal adalah untuk mendeteksi feromon, namun organ ini dapat juga mendeteksi molekul volatil lain. Saat tikus mengendus, molekul bau dari lingkungan menempel pada mucus hidung kemudian disampaikan ke organ vomeronasal. Kadar Lipid Serum Hasil pengujian kadar lipid serum menunjukkan bahwa kadar kolesterol total, kadar trigliserida, kadar kolesterol LDL berbeda signifikan dari setiap kelompok perlakuan, sedangkan kadar kolesterol HDL tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Kadar lipid serum darah tikus setelah 5 minggu pada setiap kelompok perlakuan dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4 Kadar lipid serum darah tikus setelah 5 minggu perlakuan Kelompok perlakuan Kadar Kolesterol total Kadar Trigliserida Kadar kolesterol LDL Kadar kolesterol HDL K1 70.13 ± 11.62 a 46.56 ± 7.62 a 28.84 ± 10.50 a 31.97 ± 12.00 a K2 104.76 ± 9.28 b 74.00 ± 13.37 b 61.68 ± 8.92 b 28.28 ± 11.74 a K3 89.92 ± 9.24 c 43.65 ± 10.12 c 45.05 ± 11.65 c 36.18 ± 12.14 a

18 Kadar Kolesterol Total Kadar kolesterol total merupakan gabungan dari semua kolesterol yang ada di dalam darah. Piliang dan Djojosoebagyo (2006) menyatakan bahwa kolesterol yang terdapat di dalam darah berasal dari makanan (kolesterol eksogen) dan dari sintesis di dalam tubuh (kolesterol endogen), meskipun di dalam tubuh tidak dapat dibedakan antara kolesterol eksogen dan endogen. Kadar kolesterol total pada kelompok tikus yang diberikan pakan standar masih berada dalam kadar normal yaitu 70.13 ± 11.62 mg/dl. Menurut Smith dan Mangkoewidjojo (1988), kadar normal kolesterol total pada tikus adalah 40-130 mg/dl. Kadar kolesterol total pada tikus yang diberikan pakan tinggi lemak (104.76 ± 9.28) lebih tinggi dibandingkan dengan tikus yang hanya diberikan pakan standar, meskipun masih dalam kadar normal. Peningkatan kadar kolesterol total tersebut sebesar 49,44% menunjukkan perbedaan yang signifikan. Cullen (2000) menyatakan bahwa diet tinggi lemak dapat meningkatkan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, dan trigliserida yang menyebabkan meningkatnya risiko kejadian penyakit jantung koroner. Kadar kolesterol total tikus yang diberikan pakan tinggi lemak dan juga diberikan inhalasi minyak atsiri kadarnya lebih rendah (89.92 ± 9.24) dibandingkan dengan tikus yang hanya diberikan pakan tinggi lemak (104.76 ± 9.28). Perbedaan kadar kolesterol total yang terjadi pada kedua perlakuan tersebut sebesar 16.52%. Perbedaan kadar kolesterol total setelah 5 minggu pada setiap kelompok perlakuan dapat dilihat pada Gambar 4. Kadar Kolesterol Total 140 120 100 80 60 40 20 0 pakan standar pakan tinggi lemak Kelompok Perlakuan pakan tinggi lemak dan minyak atsiri Gambar 4 Kadar kolesterol total darah tikus setelah 5 minggu perlakuan Menurut Tanabe et al. (1993), penurunan kadar kolesterol total terjadi karena komponen minyak atsiri jahe mempengaruhi sintesa asam empedu kolesterol di hati. Melalui penelitiannya Tanabe et al. (1993) menyatakan bahwa beberapa senyawa yang diisolasi dari jahe seperti (E)-8 beta, 17-epoxyllabed-12- ene-15, 16-dial mempengaruhi biosintesis kolesterol di hati pada mencit hiperkolesterolemik. Asam empedu dibuat dari kolesterol, rangsangan untuk eksresi asam empedu berarti semakin banyak kolesterol yang dimanfaatkan untuk dibuat asam empedu, sehingga kolesterol total menurun.

Kadar Trigliserida Kadar trigliserida pada kelompok tikus yang diberikan pakan standar masih berada dalam kadar normal yaitu 46.56 ± 7.62 mg/dl. Menurut Smith dan Mangkoewidjojo (1988) serta Suckow et al. (2006), kadar normal trigliserida pada tikus adalah 25-145 mg/dl. Kadar trigliserida pada tikus yang diberikan pakan tinggi lemak (74.00 ± 13.37) lebih tinggi dibandingkan dengan tikus yang hanya diberikan pakan standar. Perbedaan kadar trigliserida tersebut sebesar 58.93% dan menunjukkan perbedaan yang signifikan. Peningkatan kadar trigliserida dapat terjadi pada pemberian pakan tinggi lemak. Menurut Damron (2003), kadar trigliserida dalam darah dipengaruhi oleh kadar lemak yang dicerna dari makanan atau banyaknya lemak yang masuk dari luar tubuh. Selain itu Katan et al. (1997) dan Connor (1997) menyatakan bahwa kandungan karbohidrat yang tinggi dalam pakan dapat meningkatkan kadar trigliserida dalam darah. Kadar trigliserida tikus yang diberikan pakan tinggi lemak dan juga diberikan inhalasi minyak atsiri kadarnya lebih rendah (43.65 ± 10.12) dibandingkan dengan tikus yang hanya diberikan pakan tinggi lemak (74.00 ± 13.37). Perbedaan kadar trigliserida yang terjadi pada kedua perlakuan tersebut sebesar 69.53% dan menunjukkan perbedaan yang signifikan. Perbedaan kadar trigliserida setelah 5 minggu pada setiap kelompok perlakuan dapat dilihat pada Gambar 5. 19 Kadar Trigliserida 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 pakan standar pakan tinggi lemak Kelompok Perlakuan pakan tinggi lemak dan minyak atsiri Gambar 5 Kadar trigliserida darah tikus setelah 5 minggu perlakuan Penurunan kadar trigliserida terjadi karena adanya pengaruh minyak atsiri jahe terhadap sistem saraf. Menurut Matsuoka dan Mitsunaga (2011), aromaterapi meningkatkan kerja saraf simpatik pada reseptor olfaktori hingga mengeluarkan noradrelanin pada hipotalamus. Kemudian trigliserida akan diubah menjadi asam lemak bebas oleh beta reseptor akibat gertakan dari noradrenalin hingga melepaskan panas. Penurunan kadar trigliserida sejalan dengan penurunan kadar kolesterol total serum darah setelah pemberian inhalasi minyak atsiri jahe. Hal ini dapat terjadi karena kadar trigliserida dan kolesterol saling berhubungan dimana trigliserida merupakan salah satu pembentuk kolesterol. Piliang dan Djojosoebagio (2006)

20 menyatakan bahwa selain dapat dipakai sebagai energi, trigliserida dapat dihidrolisis dan disintesis kembali untuk membentuk fosfolipid dan kolesterol. Kadar Kolesterol LDL LDL adalah lipoprotein yang berfungsi mengirim kolesterol dari hati ke jaringan periferal dan ditimbun dalam jaringan tersebut. Kadar kolesterol LDL pada kelompok tikus yang diberikan pakan standar yaitu 28.84 ± 10.50 mg/dl. Kadar kolesterol LDL pada tikus yang diberikan pakan tinggi lemak (61.68 ± 8.92) lebih tinggi dibandingkan dengan tikus yang hanya diberikan pakan standar. Peningkatan kadar kolesterol LDL tersebut sebesar 113.86% menunjukkan pebedaan yang signifikan antara kedua perlakuan. Kadar kolesterol LDL darah bergantung pada konsumsi lemak dari pakan. Grundy (1991) menyatakan bahwa pakan tinggi lemak dapat menghambat dan menekan pembentukan reseptor LDL, sehingga kadar LDL meningkat dalam darah. Peningkatan kadar LDL memiliki arti penting bagi kesehatan yaitu sebagai penyebab terjadinya atherosklerosis. Kadar kolesterol LDL yang tinggi dalam peredaran darah dapat menumpuk atau menempel pada dinding pembuluh darah arteri baik yang menuju ke otak maupun ke jantung. Akibat yang ditimbulkan dari hal tersebut adalah terbentuknya plak yang tebal dan mengeras serta dapat mempersempit arteri dan membuatnya tidak fleksibel. Kadar kolesterol LDL tikus yang diberikan pakan tinggi lemak dan juga diberikan inhalasi minyak atsiri kadarnya lebih rendah (45.05 ± 11.65) dibandingkan dengan tikus yang hanya diberikan pakan tinggi lemak (61.68 ± 8.92). Perbedaan kadar kolesterol LDL antara kedua perlakuan tersebut sebesar 36.91% dan menunjukkan perbedaan signifikan. Perbedaan kadar kolesterol LDL setelah 5 minggu pada setiap kelompok perlakuan dapat dilihat pada Gambar 6. Kadar Kolesterol LDL 80 70 60 50 40 30 20 10 0 pakan standar pakan tinggi lemak Kelompok Perlakuan pakan tinggi lemak dan minyak atsiri Gambar 6 Kadar kolesterol LDL darah tikus setelah 5 minggu perlakuan Penurunan kadar kolesterol LDL setelah pemberian inhalasi minyak atsiri karena penurunan kadar kolesterol total. Hubungan LDL dan total kolesterol akan bersifat searah karena 65% kolesterol berada dalam bentuk LDL. Penurunan

kolesterol terjadi karena terhambatnya atau terganggunya proses penyerapan kolesterol di usus dan eksresi asam empedu yang lebih besar. Oleh karena asam empedu terbuat dari kolesterol, maka rangsangan untuk eksresi asam empedu berarti meningkatkan laju metabolisme kolesterol sehingga menurunkan total kolesterol dan kadar LDL. Turunnya kadar kolesterol LDL ini dapat menurunkan risiko terjadinya atherosklerosis. Fuhrman et al. (2000) melalui penelitiannya menyatakan bahwa ekstrak etanol jahe dapat menurunkan kadar kolesterol darah dan menghambat oksidasi LDL pada kejadian atherosklerosis. Komponen ekstrak minyak esensial jahe yang berperan dalam menghambat oksidasi LDL adalah gingerol, shogaol dan zingerone. Kemungkinan lain yang terjadi seperti yang dinyatakan oleh Neess et al. (1996) bahwa penurunan kadar LDL terjadi karena penurunan sintesis LDL itu sendiri dan penginduksian reseptor hepatik. Akibatnya banyak LDL yang ditangkap reseptor hepatik sehingga konsentrasinya dalam darah menurun. Kadar Kolesterol HDL Kadar kolesterol HDL pada kelompok tikus yang diberikan pakan standar yaitu 31.97 ± 12.00 mg/dl. Kadar kolesterol HDL pada tikus yang diberikan pakan tinggi lemak (28.28 ± 11.74) lebih rendah dibandingkan dengan tikus yang hanya diberikan pakan standar, namun tidak berbeda signifikan. Perbedaan kadar kolesterol HDL antara kedua perlakuan tersebut hanya sebesar 13.04%. Kadar kolesterol HDL tikus yang diberikan pakan tinggi lemak dan juga diberikan inhalasi minyak atsiri kadarnya lebih tinggi (36.18 ± 12.14) dibandingkan dengan tikus yang hanya diberikan pakan tinggi lemak, namun perbedaan ini tidak terjadi secara signifikan. Perbedaan kadar kolesterol HDL antara kedua perlakuan tersebut sebesar 27,93%. Perbedaan kadar kolesterol HDL setelah 5 minggu pada setiap kelompok perlakuan dapat dilihat pada Gambar 7. 21 Gambar 7 Kadar kolesterol HDL darah tikus setelah 5 minggu perlakuan

22 Peningkatan kadar HDL disebabkan oleh turunnya kadar LDL dalam darah karena meningkatkannya reseptor LDL di hati (Neess et al. 1996). Turunnya konsentrasi LDL akan berdampak peningkatan konsentrasi HDL, hal ini terjadi karena penurunan LDL akan menyebabkan organ hati kekurangan kolesterol untuk membuat asam empedu. Kondisi demikian akan merangsang sintesis kolesterol HDL dalam hati dan menyebabkan kadar HDL darah meningkat. Peningkatan kadar HDL yang terjadi sangat bermanfaat dalam menurunkan risiko atherosklerosis. HDL yaitu lipoprotein yang mengangkut kolesterol dari jaringan periferal ke hati. HDL mengangkut kolesterol bebas dari pembuluh darah dan jaringan lain menuju hati, kemudian hati mengekresikannya melalui empedu (Dalimartha 2003). Selain itu menurut Moeliandari dan Wijaya (2002), HDL memiliki efek antioksidan yang dapat mencegah oksidasi LDL, sehingga kolesterolnya tidak menempel di dinding pembuluh darah arteri.