III. METODE PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
VI. EVALUASI TINGKAT PENCEMARAN MINYAK DI PERAIRAN SELAT RUPAT

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

VIII. STAKESHOLDER YANG BERPERAN DALAM PENGENDALIAN PENCEMARAN MINYAK. Kata kunci: Selat Rupat, pencemaran minyak, pengendalian pencemaran.

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

KAJIAN DAMPAK PENGEMBANGAN WILAYAH PESISIR KOTA TEGAL TERHADAP ADANYA KERUSAKAN LINGKUNGAN (Studi Kasus Kecamatan Tegal Barat) T U G A S A K H I R

V. KARAKTERISTIK LINGKUNGAN SELAT RUPAT ABSTRAK

I. PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

KARAKTERISTIK LINGKUNGAN PERAIRAN SELAT RUPAT

III. METODOLOGI PENELITIAN

Kimparswil Propinsi Bengkulu,1998). Penyebab terjadinya abrasi pantai selain disebabkan faktor alamiah, dikarenakan adanya kegiatan penambangan pasir

III. METODE PENELITIAN

2016, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik

pada akhirnya dapat mengganggu keseimbangan biogeokimia perairan laut terutama di areal sepanjang pantai. Bahkan sejalan dengan berbagai pemanfaatan

AMDAL. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan By Salmani, ST, MS, MT.

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai lebih dari pulau dan

BAB I PENDAHULUAN. besar sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil, disisi lain masyarakat yang sebagian

MODEL IMPLENTASI KEBIJAKAN PENGELOLAAN MANGROVE DALAM ASPEK KAMANAN WILAYAH PESISIR PANTAI KEPULAUAN BATAM DAN BINTAN.

IDENTIFIKASI POTENSI DAN PEMETAAN SUMBERDAYA PULAU-PULAU KECIL

BUPATI PACITAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PACITAN NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG

GUBERNUR SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

I. PENDAHULUAN. Bandar Lampung sebagai kota pesisir, terletak pada posisi 5º20-5º31 LS

I. PENDAHULUAN pulau dengan luas laut sekitar 3,1 juta km 2. Wilayah pesisir dan. lautan Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan dan

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. yang kaya. Hal ini sesuai dengan sebutan Indonesia sebagai negara kepulauan

BAB I PENDAHULUAN. maupun terendam air, yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut seperti pasang

BAB I PENDAHULUAN. dikembangkan menjadi lebih baik, wilayah pesisir yang memiliki sumber daya alam

PETUNJUK TEKNIS PENGAWASAN PENCEMARAN PERAIRAN

PENANGANAN TERPADU DALAM PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM DI WILAYAH PESISIR, LAUTAN DAN PULAU

PERENCANAAN PERLINDUNGAN

PENGANTAR SUMBERDAYA PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL. SUKANDAR, IR, MP, IPM

I. PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. membentang dari Sabang sampai Merauke yang kesemuanya itu memiliki potensi

BAB I PENDAHULUAN. Wilayah pesisir Indonesia memiliki luas dan potensi ekosistem mangrove

BERITA DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

termasuk manusia dan prilakunya

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara berkembang yang memiliki beragam masalah

KEGIATAN DITJEN PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN TAHUN Jakarta, 7 Desember 2016

VI ANALISIS DPSIR DAN KAITANNYA DENGAN NILAI EKONOMI

BAB I PENDAHULUAN. sampai sub tropis. Menurut Spalding et al. (1997) luas ekosistem mangrove di dunia

BAB I PENDAHULUAN. dari buah pulau (28 pulau besar dan pulau kecil) dengan

LAMPIRAN I CONTOH PETA RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH KABUPATEN L - 1

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN ATAU PERUSAKAN LAUT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Departemen Administrasi & Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Sumberdaya alam adalah unsur lingkungan yang terdiri atas sumberdaya alam

I. PENDAHULUAN. Wilayah pesisir kota Bandar Lampung merupakan suatu wilayah yang mempunyai

REKLAMASI PANTAI DI PULAU KARIMUN JAWA

5.1. Analisis mengenai Komponen-komponen Utama dalam Pembangunan Wilayah Pesisir

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN. dan juga nursery ground. Mangrove juga berfungsi sebagai tempat penampung

DAMPAK AKTIVITAS PELABUHAN DAN SEBARAN PENCEMARAN LINGKUNGAN PELABUHAN TANJUNG EMAS SEMARANG DAN KAWASAN SEKITARNYA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Lokasi penelitian di UPPPP Muncar dan PPN Pengambengan Selat Bali (Bakosurtanal, 2010)

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM Nomor 09/PRT/M/2010 Tentang PEDOMAN PENGAMANAN PANTAI MENTERI PEKERJAAN UMUM,

IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 -

KONSEP-KONSEP DASAR DALAM HUKUM LINGKUNGAN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KULON PROGO

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN/ATAU PERUSAKAN LAUT

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN/ATAU PERUSAKAN LAUT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Definisi dan Batasan Wilayah Pesisir

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN

PEMERINTAH KABUPATEN MALANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN/ATAU PERUSAKAN LAUT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

MANAGEMENT OF THE NATURAL RESOURCES OF SMALL ISLAND AROUND MALUKU PROVINCE

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki kawasan pesisir sangat luas,

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

GUBERNUR SULAWESI BARAT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Analisis Kesesuaian Lahan Wilayah Pesisir Kota Makassar Untuk Keperluan Budidaya

KAJIAN POLA SEBARAN PADATAN TERSUSPENSI DAN UNSUR LOGAM BERAT DI TELUK UJUNG BATU, JEPARA

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PENGAWASAN SUMBER DAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP.59/DJ-PSDKP/2011 TENTANG

METODE PENELITIAN. Dalam beberapa tahun terakhir ini terdapat kecenderungan berupa

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia dikenal sebagai Negara Kepulauan (Archipilagic State) terbesar di

ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga BAB I PENDAHULUAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN/ATAU PERUSAKAN LAUT

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tata Ruang dan Konflik Pemanfaatan Ruang di Wilayah Pesisir dan Laut

KOMPOSISI BUTIRAN PASIR SEDIMEN PERMUKAAN SELAT BENGKALIS PROPINSI RIAU

I. PENDAHULUAN. mangrove. Sebagai salah satu ekosistem pesisir, hutan mangrove merupakan

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 3, No. 1, (2014) ISSN: ( Print) D-16

BAB II TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH PROVINSI BANTEN

TINJAUAN ASPEK GEOGRAFIS TERHADAP KEBERADAAN PULAU JEMUR KABUPATEN ROKAN HILIR PROPINSI RIAU PADA WILAYAH PERBATASAN REPUBLIK INDONESIA - MALAYSIA

BAB 1 PENDAHULUAN. memiliki pulau dengan garis pantai sepanjang ± km dan luas

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2016 TENTANG BATAS SEMPADAN PANTAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

3.2 Alat. 3.3 Batasan Studi

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI

Transkripsi:

45 III. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian ini adalah perairan laut Selat Rupat yang merupakan salah satu selat kecil di Selat Malaka dan secara geografis terletak di antara pesisir Kota Dumai dengan Pulau Rupat di Propinsi Riau. Selat ini memiliki panjang ±72.4 km dan lebar (dari garis Pantai Dumai hingga pantai Pulau Rupat) 3.8 8.0 km. Pulau Rupat merupakan sebuah pulau yang termasuk wilayah administrasi Kabupaten Bengkalis dan pada umumnya masih belum memiliki aktivitas selain perkebunan rakyat. Penetapan lokasi penelitian ini dipilih secara purposive (sengaja) dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut: 1 Letak geografis Selat Rupat yang sangat strategis karena berbatasan langsung dengan Selat Malaka. 2 Aktivitas transportasi laut yang tinggi karena merupakan pelabuhan internasional yang banyak disinggahi oleh kapal-kapal besar (kapal tanker, cargo maupun ferry). 3 Aksesibilitas di Daratan Dumai yang begitu tinggi karena memiliki dua industri minyak terbesar yaitu PT.CPI dan Pertamina UP II Dumai yang menggunakan Selat Rupat sebagai prasarana transportasi laut. 4 Selat Rupat merupakan perairan yang semi tertutup dengan waktu pasangsurut setiap enam jam sekali sehingga berpotensi terperangkapnya polutan minyak terutama yang resisten karena pengaruh pasang-surut air laut. 5 Perairan Selat Rupat rentan terhadap pencemaran minyak, karena memiliki kawasan konservasi mangrove. 6 Selat Rupat juga merupakan wilayah tangkapan ikan yang merupakan sumber matapencaharian bagi nelayan setempat. Penelitian ini telah dilaksanakan selama 8 bulan mulai dari bulan April hingga Nopember 2009. Lokasi penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6 Peta lokasi penelitian (lokasi sampling) 46

47 Lokasi pengumpulan data kandungan minyak di effluent industri, muara sungai dan perairan Selat Rupat dapat dilihat Tabel 4. Tabel 4 Lokasi pengumpulan data di sumber minyak dan perairan Selat Rupat No Lokasi Posisi Lintang Utara Bujur Timur I Sumber minyak dari daratan 1 Muara Sungai Buluhala 1 o 54' 40,58" 101 o 19' 47,49" 2 Muara Sungai Mampu 1 o 47' 35,58" 101 o 21' 17,12" 3 Muara Sungai Mesjid 1 o 42' 55,98" 101 o 23' 18,12" 4 Muara Sungai Dumai 1 o 42' 55,98" 101 o 23' 18,12" 5 Sungai Pelintung 1 o 38' 15,23" 101 o 32' 49,86" 6 Efluent industri migas 1 o 41' 18,27" 101 o 28' 11,36" II Sumber minyak dari laut 1 Pelabuhan umum (PELINDO) 01 o 41 25,0 101 o 27 20,2 2 Pelabuhan migas (PERTAMINA) 01 o 41 17,2 101 o 28 10,4 III Kandungan Minyak di Perairan sekitarnya 1 Perairan Pulau Ketam 1 o 53' 37,00" 101 o 21' 52,19" 2 Perairan Lubuk Gaung 1 o 48' 26,18" 101 o 22' 37,66" 3 Perairan Pelintung 1 o 39' 45,2" 101 o 39' 45,2" 3.2 Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel air outlet effluent (industri), muara sungai, dan air laut. Sampel yang diambil dianalisis di laboratorium. Alat-alat yang digunakan meliputi: kamera, water sampler, botol kaca gelap, kuesioner, GPS dan peta dasar. 3.3. Teknik Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan pada penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui survei lapangan dan wawancara langsung dengan stakesholders terkait (termasuk pakar) sedangkan data sekunder

48 diperoleh melalui studi pustaka. Uraian jenis data yang diperlukan dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5 Jenis dan sumber data yang diperlukan dalam penelitian Jenis Data Kondisi hidrooseanografi Kondisi mangrove Kandungan minyak di perairan Aktivitas di sekitar Selat Rupat Kondisi Biota Perairan Data efluent limbah industri Data konsentrasi minyak di muara sungai Jenis dan karakteristik Minyak bumi Instrumen pengendali pencemaran minyak Sarana pelabuhan Topografi Hidrologi Tata ruang dan tata guna lahan Data kapal keluar/ masuk pelabuhan Kondisi iklim dan cuaca Regulasi, undang-undang, Kependudukan Stakeholders yang berperan di perairan Sumber Data Literatur terkait Literatur terkait Data Primer dan Sekunder Literatur terkait Literatur terkait Bapedalda Data Primer dan Sekunder BP Migas Literatur/ BP Migas Pelindo, Dephub Badan Pertanahan Nasional Departemen Kimpraswil Bappeda Kota Dumai Pelindo Badan meterologi dan Geofisika Sekwilda Kabupaten dan Propinsi BPS Data Primer dan Sekunder Ruang lingkup pendataan ini mencakup beberapa aspek: 1 Sumber polutan minyak dari daratan berasal dari: a) Sumber aktivitas di daratan Polutan minyak dari aktivitas daratan (input) masuk melalui muara sungai. Untuk itu dikumpulkan data kandungan minyak di muara Sungai Buluhala, Sungai Mampu, Sungai Mesjid, Sungai Dumai dan Sungai Pelintung. b) Effluent industri. Polutan minyak dari industri masuk melalui saluran outlet setelah melalui proses pengolahan. Berdasarkan survei lapangan, industri yang memberikan pengaruh signifikan terhadap input minyak di perairan Selat Rupat adalah industri pengolahan bahan bakar minyak (BBM). Sumber minyak dari effluent dan perairan diperoleh dari Badan Lingkungan Hidup Propinsi Riau, Kantor Lingkungan Hidup Dumai, dan PPLH UNRI.

49 2 Sumber polutan minyak dari laut berasal dari aktivitas pelabuhan dan transportasi laut. Oleh sebab itu dikumpulkan data kandungan minyak di Pelabuhan Pelindo dan Pelabuhan Pertamina UP II Dumai. 3 Data aktual konsentrasi minyak di perairan sekitarnya yaitu perairan Pulau Ketam, Perairan Lubuk Gaung dan Perairan Pelintung. 4 Karakteristik lingkungan perairan, meliputi data hidro-oseanografi (kecepatan arus, pasang-surut, gelombang dan bathimetri), dispersi polutan minyak di perairan, data vegetasi mangrove dan aktivitas di sekitar perairan Selat Rupat. 5 Aspek stakesholders adalah institusi yang berperan dalam pengendalian pencemaran minyak. Stakeholders yang berperan meliputi, pemerintah, pengusaha migas, pengelola kapal (tanker, cargo dan ferry), nelayan, LSM, dan masyarakat sekitarnya. Pemilihan responden disesuaikan dengan kondisi lingkungan di sekitarnya dan jumlah responden yang diambil harus dapat mewakili dan memahami permasalahan yang diteliti. Penentuan responden dilakukan dengan menggunakan metode expert survey yang dibagi atas 2 cara: 1. Responden dari masyarakat selain pakar di lokasi penelitian dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling (Walpole, 1995). 2. Responden dari kalangan pakar Responden pakar dipilih secara sengaja (purposive sampling) dengan kriteria memiliki kepakaran sesuai dengan bidang yang dikaji. Beberapa pertimbangan dalam menentukan pakar yang akan dijadikan responden adalah sebagai berikut: a. Mempunyai pengalaman yang kompoten sesuai dengan bidang yang dikaji. b. Memiliki reputasi, kedudukan/jabatan dalam kompotensinya dengan bidang yang dikaji. c. Memiliki keredibilitas yang tinggi, bersedia, dan atau berada pada lokasi yang dikaji. 3.4 Metode Analisis Data Penelitian ini dirancang atas beberapa tahapan yang meliputi: 1)mempelajari karakteristik lingkungan Selat Rupat, 2)mengevaluasi tingkat pencemaran minyak di perairan Selat Rupat, 3)menentukan stakeholder yang dominan (faktor kunci) dalam pengendalian pencemaran minyak, 4)menentukan prioritas teknologi pengendalian pencemaran minyak di perairan Selat Rupat dan

50 5)merumuskan model pengendalian pencemaran minyak di perairan laut, khususnya Selat Rupat. Penelitian ini menggunakan berbagai metode analisis data yang meliputi analisis deskriptif, perbandingkan dengan referensi dan bakumutu, analisis interpretatif structural modeling (ISM), analisis perbandingan indeks kinerja (comparative performa index, CPI) dan analisis sistem dinamik. Tahapan dan metode analisis data dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 7. Mulai Studi pustaka & regulasi penyebab dan pengendalian pencemaran minyak Kondisi eksisting: aktivitas di daratan & di Selat Rupat sebagai sumber pencemar minyak 1) Karakteristik lingkungan Selat Rupat /tingkat kepekaan lingkungan. (Analisis destriptif ) 2) Evaluasi tingkat pencemaran minyak di Selat Rupat (Baku Mutu dan referensi) Pengendalian pencemaran minyak (Instrumen teknologi & regulasi) 4) Stakeholders yang dominan dalam pengendalian pencemaran minyak (ISM) 3) Prioritas teknik pengendalian pencemaran minyak (CPI) 5) Model pengendalian pencemaran minyak di Perairan Selat Rupat (Analisis Sistem) Selesai Gambar 7 Tahapan penelitian dan metode analisis data yang digunakan.

51 3.5. Definisi Operasional 1 Wilayah laut merupakan bentang alam yang ditempati oleh berbagai macam ekosistem mangrove, terumbu karang dan padang lamun yang menjadi habitat bagi biota untuk hidup dan merupakan sumber nutrien bagi organisme perairan termasuk ikan (Odum 1993). 2 Pencemaran laut diartikan sebagai masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke lingkungan laut oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan laut tidak sesuai lagi dengan baku mutu dan/atau fungsinya (PP No.19 Tahun 1999). Pencemaran laut juga didefinisikan sebagai perubahan dalam lingkungan laut termasuk muara sungai (estuaries) yang menimbulkan akibat yang buruk sehingga dapat merugikan sumber daya laut hayati (marine living resources), membahayakan kesehatan manusia, gangguan terhadap kegiatan di laut termasuk perikanan dan penggunaan laut secara wajar, menurunkan kualitas air laut, mutu kegunaan dan manfaatnya (UNCLOS 2007). 3 Pengendalian pencemaran laut merupakan salah satu wujud pelestarian lingkungan dan sumberdaya alam yang dikandungnya (Clark 2003). 4 Air ballast adalah air laut yang dimasukkan ke dalam kapal tanker atau tanki bahan bakar yang berguna untuk menjaga stabilitas kapal (Mukhtasor 2007). 5 Minyak adalah istilah umum untuk menyatakan produk petroleum yang penyusun utamanya terdiri dari hidrokarbon (BP Migas 2002). 6 Sistem adalah suatu kesatuan usaha yang terdiri dari bagian-bagian yang berkaitan satu sama lain yang berusaha mencapai suatu tujuan dalam lingkungan kompleks (Marimin 2004). Sistem merupakan suatu kombinasi dari dua atau lebih elemen yang saling terkait dan memiliki ketergantungan antar komponen (Ford 1999). 7 Persisten mengandung arti bahwa minyak tersebut, yang karena komposisi kimiawinya, umumnya lambat terdegradasi secara alami ketika terpapar di dalam lingkungan laut dan cenderung untuk menyebar serta memerlukan pembersihan (UU No 23 Tahun 1997).

52 8 Model adalah suatu abstraksi dari keadaan sesungguhnya atau merupakan pernyataan sistem nyata untuk memudahkan pengkajian suatu sistem (Pramudya, 1989). 9 SHE (sibernetic, holistic dan effective). Sibernetic dapat diartikan bahwa dalam penyelesaian masalah tidak berorientasi pada permasalahan (problem oriented) tetapi berorientasi pada tujuan (goal oriented). Holistic adalah lebih menekankan pada penyelesaian permasalahan secara utuh dan menyeluruh. Effective berarti bahwa sistem yang telah dikembangkan tersebut harus dapat dioperasikan (Hardjomidjojo 2006). 10 Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain (UU No.32 Tahun 2009). 11 Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuhmenyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup (UU No.32 Tahun 2009). 12 Sumber daya alam adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri atas sumber daya hayati dan nonhayati yang secara keseluruhan membentuk kesatuan ekosistem (UU No.32 Tahun 2009). 13 Daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia, makhluk hidup lain, dan keseimbangan antar keduanya (UU No.32 Tahun 2009). 14 Pembangunan berkelanjutan adalah upaya sadar dan terencana yang memadukan lingkungan hidup termasuk sumberdaya kedalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan (UU No.32 Tahun 2009).