45 III. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian ini adalah perairan laut Selat Rupat yang merupakan salah satu selat kecil di Selat Malaka dan secara geografis terletak di antara pesisir Kota Dumai dengan Pulau Rupat di Propinsi Riau. Selat ini memiliki panjang ±72.4 km dan lebar (dari garis Pantai Dumai hingga pantai Pulau Rupat) 3.8 8.0 km. Pulau Rupat merupakan sebuah pulau yang termasuk wilayah administrasi Kabupaten Bengkalis dan pada umumnya masih belum memiliki aktivitas selain perkebunan rakyat. Penetapan lokasi penelitian ini dipilih secara purposive (sengaja) dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut: 1 Letak geografis Selat Rupat yang sangat strategis karena berbatasan langsung dengan Selat Malaka. 2 Aktivitas transportasi laut yang tinggi karena merupakan pelabuhan internasional yang banyak disinggahi oleh kapal-kapal besar (kapal tanker, cargo maupun ferry). 3 Aksesibilitas di Daratan Dumai yang begitu tinggi karena memiliki dua industri minyak terbesar yaitu PT.CPI dan Pertamina UP II Dumai yang menggunakan Selat Rupat sebagai prasarana transportasi laut. 4 Selat Rupat merupakan perairan yang semi tertutup dengan waktu pasangsurut setiap enam jam sekali sehingga berpotensi terperangkapnya polutan minyak terutama yang resisten karena pengaruh pasang-surut air laut. 5 Perairan Selat Rupat rentan terhadap pencemaran minyak, karena memiliki kawasan konservasi mangrove. 6 Selat Rupat juga merupakan wilayah tangkapan ikan yang merupakan sumber matapencaharian bagi nelayan setempat. Penelitian ini telah dilaksanakan selama 8 bulan mulai dari bulan April hingga Nopember 2009. Lokasi penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6 Peta lokasi penelitian (lokasi sampling) 46
47 Lokasi pengumpulan data kandungan minyak di effluent industri, muara sungai dan perairan Selat Rupat dapat dilihat Tabel 4. Tabel 4 Lokasi pengumpulan data di sumber minyak dan perairan Selat Rupat No Lokasi Posisi Lintang Utara Bujur Timur I Sumber minyak dari daratan 1 Muara Sungai Buluhala 1 o 54' 40,58" 101 o 19' 47,49" 2 Muara Sungai Mampu 1 o 47' 35,58" 101 o 21' 17,12" 3 Muara Sungai Mesjid 1 o 42' 55,98" 101 o 23' 18,12" 4 Muara Sungai Dumai 1 o 42' 55,98" 101 o 23' 18,12" 5 Sungai Pelintung 1 o 38' 15,23" 101 o 32' 49,86" 6 Efluent industri migas 1 o 41' 18,27" 101 o 28' 11,36" II Sumber minyak dari laut 1 Pelabuhan umum (PELINDO) 01 o 41 25,0 101 o 27 20,2 2 Pelabuhan migas (PERTAMINA) 01 o 41 17,2 101 o 28 10,4 III Kandungan Minyak di Perairan sekitarnya 1 Perairan Pulau Ketam 1 o 53' 37,00" 101 o 21' 52,19" 2 Perairan Lubuk Gaung 1 o 48' 26,18" 101 o 22' 37,66" 3 Perairan Pelintung 1 o 39' 45,2" 101 o 39' 45,2" 3.2 Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel air outlet effluent (industri), muara sungai, dan air laut. Sampel yang diambil dianalisis di laboratorium. Alat-alat yang digunakan meliputi: kamera, water sampler, botol kaca gelap, kuesioner, GPS dan peta dasar. 3.3. Teknik Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan pada penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui survei lapangan dan wawancara langsung dengan stakesholders terkait (termasuk pakar) sedangkan data sekunder
48 diperoleh melalui studi pustaka. Uraian jenis data yang diperlukan dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5 Jenis dan sumber data yang diperlukan dalam penelitian Jenis Data Kondisi hidrooseanografi Kondisi mangrove Kandungan minyak di perairan Aktivitas di sekitar Selat Rupat Kondisi Biota Perairan Data efluent limbah industri Data konsentrasi minyak di muara sungai Jenis dan karakteristik Minyak bumi Instrumen pengendali pencemaran minyak Sarana pelabuhan Topografi Hidrologi Tata ruang dan tata guna lahan Data kapal keluar/ masuk pelabuhan Kondisi iklim dan cuaca Regulasi, undang-undang, Kependudukan Stakeholders yang berperan di perairan Sumber Data Literatur terkait Literatur terkait Data Primer dan Sekunder Literatur terkait Literatur terkait Bapedalda Data Primer dan Sekunder BP Migas Literatur/ BP Migas Pelindo, Dephub Badan Pertanahan Nasional Departemen Kimpraswil Bappeda Kota Dumai Pelindo Badan meterologi dan Geofisika Sekwilda Kabupaten dan Propinsi BPS Data Primer dan Sekunder Ruang lingkup pendataan ini mencakup beberapa aspek: 1 Sumber polutan minyak dari daratan berasal dari: a) Sumber aktivitas di daratan Polutan minyak dari aktivitas daratan (input) masuk melalui muara sungai. Untuk itu dikumpulkan data kandungan minyak di muara Sungai Buluhala, Sungai Mampu, Sungai Mesjid, Sungai Dumai dan Sungai Pelintung. b) Effluent industri. Polutan minyak dari industri masuk melalui saluran outlet setelah melalui proses pengolahan. Berdasarkan survei lapangan, industri yang memberikan pengaruh signifikan terhadap input minyak di perairan Selat Rupat adalah industri pengolahan bahan bakar minyak (BBM). Sumber minyak dari effluent dan perairan diperoleh dari Badan Lingkungan Hidup Propinsi Riau, Kantor Lingkungan Hidup Dumai, dan PPLH UNRI.
49 2 Sumber polutan minyak dari laut berasal dari aktivitas pelabuhan dan transportasi laut. Oleh sebab itu dikumpulkan data kandungan minyak di Pelabuhan Pelindo dan Pelabuhan Pertamina UP II Dumai. 3 Data aktual konsentrasi minyak di perairan sekitarnya yaitu perairan Pulau Ketam, Perairan Lubuk Gaung dan Perairan Pelintung. 4 Karakteristik lingkungan perairan, meliputi data hidro-oseanografi (kecepatan arus, pasang-surut, gelombang dan bathimetri), dispersi polutan minyak di perairan, data vegetasi mangrove dan aktivitas di sekitar perairan Selat Rupat. 5 Aspek stakesholders adalah institusi yang berperan dalam pengendalian pencemaran minyak. Stakeholders yang berperan meliputi, pemerintah, pengusaha migas, pengelola kapal (tanker, cargo dan ferry), nelayan, LSM, dan masyarakat sekitarnya. Pemilihan responden disesuaikan dengan kondisi lingkungan di sekitarnya dan jumlah responden yang diambil harus dapat mewakili dan memahami permasalahan yang diteliti. Penentuan responden dilakukan dengan menggunakan metode expert survey yang dibagi atas 2 cara: 1. Responden dari masyarakat selain pakar di lokasi penelitian dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling (Walpole, 1995). 2. Responden dari kalangan pakar Responden pakar dipilih secara sengaja (purposive sampling) dengan kriteria memiliki kepakaran sesuai dengan bidang yang dikaji. Beberapa pertimbangan dalam menentukan pakar yang akan dijadikan responden adalah sebagai berikut: a. Mempunyai pengalaman yang kompoten sesuai dengan bidang yang dikaji. b. Memiliki reputasi, kedudukan/jabatan dalam kompotensinya dengan bidang yang dikaji. c. Memiliki keredibilitas yang tinggi, bersedia, dan atau berada pada lokasi yang dikaji. 3.4 Metode Analisis Data Penelitian ini dirancang atas beberapa tahapan yang meliputi: 1)mempelajari karakteristik lingkungan Selat Rupat, 2)mengevaluasi tingkat pencemaran minyak di perairan Selat Rupat, 3)menentukan stakeholder yang dominan (faktor kunci) dalam pengendalian pencemaran minyak, 4)menentukan prioritas teknologi pengendalian pencemaran minyak di perairan Selat Rupat dan
50 5)merumuskan model pengendalian pencemaran minyak di perairan laut, khususnya Selat Rupat. Penelitian ini menggunakan berbagai metode analisis data yang meliputi analisis deskriptif, perbandingkan dengan referensi dan bakumutu, analisis interpretatif structural modeling (ISM), analisis perbandingan indeks kinerja (comparative performa index, CPI) dan analisis sistem dinamik. Tahapan dan metode analisis data dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 7. Mulai Studi pustaka & regulasi penyebab dan pengendalian pencemaran minyak Kondisi eksisting: aktivitas di daratan & di Selat Rupat sebagai sumber pencemar minyak 1) Karakteristik lingkungan Selat Rupat /tingkat kepekaan lingkungan. (Analisis destriptif ) 2) Evaluasi tingkat pencemaran minyak di Selat Rupat (Baku Mutu dan referensi) Pengendalian pencemaran minyak (Instrumen teknologi & regulasi) 4) Stakeholders yang dominan dalam pengendalian pencemaran minyak (ISM) 3) Prioritas teknik pengendalian pencemaran minyak (CPI) 5) Model pengendalian pencemaran minyak di Perairan Selat Rupat (Analisis Sistem) Selesai Gambar 7 Tahapan penelitian dan metode analisis data yang digunakan.
51 3.5. Definisi Operasional 1 Wilayah laut merupakan bentang alam yang ditempati oleh berbagai macam ekosistem mangrove, terumbu karang dan padang lamun yang menjadi habitat bagi biota untuk hidup dan merupakan sumber nutrien bagi organisme perairan termasuk ikan (Odum 1993). 2 Pencemaran laut diartikan sebagai masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke lingkungan laut oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan laut tidak sesuai lagi dengan baku mutu dan/atau fungsinya (PP No.19 Tahun 1999). Pencemaran laut juga didefinisikan sebagai perubahan dalam lingkungan laut termasuk muara sungai (estuaries) yang menimbulkan akibat yang buruk sehingga dapat merugikan sumber daya laut hayati (marine living resources), membahayakan kesehatan manusia, gangguan terhadap kegiatan di laut termasuk perikanan dan penggunaan laut secara wajar, menurunkan kualitas air laut, mutu kegunaan dan manfaatnya (UNCLOS 2007). 3 Pengendalian pencemaran laut merupakan salah satu wujud pelestarian lingkungan dan sumberdaya alam yang dikandungnya (Clark 2003). 4 Air ballast adalah air laut yang dimasukkan ke dalam kapal tanker atau tanki bahan bakar yang berguna untuk menjaga stabilitas kapal (Mukhtasor 2007). 5 Minyak adalah istilah umum untuk menyatakan produk petroleum yang penyusun utamanya terdiri dari hidrokarbon (BP Migas 2002). 6 Sistem adalah suatu kesatuan usaha yang terdiri dari bagian-bagian yang berkaitan satu sama lain yang berusaha mencapai suatu tujuan dalam lingkungan kompleks (Marimin 2004). Sistem merupakan suatu kombinasi dari dua atau lebih elemen yang saling terkait dan memiliki ketergantungan antar komponen (Ford 1999). 7 Persisten mengandung arti bahwa minyak tersebut, yang karena komposisi kimiawinya, umumnya lambat terdegradasi secara alami ketika terpapar di dalam lingkungan laut dan cenderung untuk menyebar serta memerlukan pembersihan (UU No 23 Tahun 1997).
52 8 Model adalah suatu abstraksi dari keadaan sesungguhnya atau merupakan pernyataan sistem nyata untuk memudahkan pengkajian suatu sistem (Pramudya, 1989). 9 SHE (sibernetic, holistic dan effective). Sibernetic dapat diartikan bahwa dalam penyelesaian masalah tidak berorientasi pada permasalahan (problem oriented) tetapi berorientasi pada tujuan (goal oriented). Holistic adalah lebih menekankan pada penyelesaian permasalahan secara utuh dan menyeluruh. Effective berarti bahwa sistem yang telah dikembangkan tersebut harus dapat dioperasikan (Hardjomidjojo 2006). 10 Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain (UU No.32 Tahun 2009). 11 Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuhmenyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup (UU No.32 Tahun 2009). 12 Sumber daya alam adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri atas sumber daya hayati dan nonhayati yang secara keseluruhan membentuk kesatuan ekosistem (UU No.32 Tahun 2009). 13 Daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia, makhluk hidup lain, dan keseimbangan antar keduanya (UU No.32 Tahun 2009). 14 Pembangunan berkelanjutan adalah upaya sadar dan terencana yang memadukan lingkungan hidup termasuk sumberdaya kedalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan (UU No.32 Tahun 2009).