BAB III METODE PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 3 OBJEK DAN METODE PENELITIAN. (Ratna, 2004:34). Metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah, sehingga

2015 KRITIK TEKS DAN TINJAUAN KANDUNGAN ISI NASKAH WAWACAN PANDITA SAWANG

BAB III METODE DAN TEKNIK PENELITIAN

BAB 3 OBJEK DAN METODE PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. dulu sampai saat ini. Warisan budaya berupa naskah tersebut bermacam-macam

BAB III OBJEK, METODE, DAN TEKNIK PENELITIAN

DAFTAR ISI ABSTRAK KATA PENGANTAR UCAPAN TERIMA KASIH DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Zainal Arifin Nugraha, 2013

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. teks yang ditulis dengan huruf bahasa daerah atau huruf Arab-Melayu. Naskah

BAB I PENDAHULUAN. terbesar di dunia. Perkembangan Islam di Indonesia khususnya pulau Jawa sangat

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia

2014 SAJARAH CIJULANG

BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis Penelitian. sebuah penelitian diperlukan penggunaan metode yang tepat agar hasil penelitian

BAB I PENDAHULUAN. rakyat, sejarah, budi pekerti, piwulang, dll. (Nindya 2010:1). Manfaat dalam

2016 TEKS NASKAH SAWER PANGANTEN: KRITIK, EDISI, DAN TINJAUAN FUNGSI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. rangkaian dari kebudayaan-kebudayaan masa lalu. Tidak ada salahnya bila ingin

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SKRIPSI SERAT CARETA SAMA UN: SUNTINGAN TEKS DISERTAI ANALISIS RESEPSI. Oleh MUHAMMAD HASAN NIM

BAB I PENDAHULUAN. Naskah kuno merupakan warisan budaya masa lampau yang penting dan patut

KRITIK TEKS DAN TELAAH FUNGSI NASKAH WAWACAN BIDAYATUSSALIK

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. dipandang sebagai cipta sastra karena teks yang terdapat dalam teks mengungkapkan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

NASKAH KH ANWAR RANJI WETAN MAJALENGKA. (Kajian Filologis) Proposal Skripsi

BAB II KAJIAN TEORI. A. Pengertian Filologi. kebudayaan suatu bangsa melalui teks-teks tertulis di dalam naskah-naskah klasik

BAB II KAJIAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR. A. Kajian Pustaka

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Butir-butir mutiara kebudayaan Indonesia pada masa lampau sebagai

BAB I PENDAHULUAN. Karya sastra tulis terdiri dari dua bentuk, yaitu karya sastra tulis yang berbentuk

Wawacan Samun, Salah Satu Cerita dalam Kesenian Gaok di daerah Majalengka: Edisi Teks dan Terjemahan

BAB II KAJIAN TEORI. Filologi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu philos yang

KRITIK TEKS DAN TELAAH FUNGSI NASKAH WAWACAN BIDAYATUSSALIK. Septiyadi Sobar Barokah Saripin

KAJIAN SEMIOTIK SYAIR SINDHEN BEDHAYA KETAWANG PADA NASKAH SERAT SINDHEN BEDHAYA

BAB I PENDAHULUAN. yang luas yang mencakup bidang kebahasaan, kesastraan, dan kebudayaan

BAB I PENDAHULUAN. pikir manusia demi menunjang keberlangsungan hidupnya. Dalam Kamus Besar

KATA PENGANTAR. Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang senantiasa

BAB I PENDAHULUAN. rahmat Allah SWT karena leluhur kita telah mewariskan khazanah kebudayaan

BAB I PENDAHULUAN. yang tidak hanya berupa arca atau prasasti, tetapi juga dapat berasal dari naskahnaskah

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan bangsa yang sangat kaya. Salah satu kekayaan yang

BAB I PENDAHULUAN. bangunan besar, benda-benda budaya, dan karya-karya sastra. Karya sastra tulis

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

BAB I PENDAHULUAN. Kesusastraan Melayu klasik telah ada sebelum mesin cetak digunakan di

SYAIR NEGERI PATANI : Suntingan Teks dan Analisis Semiotik

BAB I PENDAHULUAN. terutama kesaksian tangan pertama yang disusun oleh bangsa yang bersangkutan

ANALISIS SEMIOTIK TEKSKIDUNG RUMEKSA ING WENGI

BAB I PENDAHULUAN. Suatu negara atau kerajaan tentu mempunyai sistem hirarki dalam

PANDUAN PENULISAN LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN JURUSAN TEKNIK ELEKTRO POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

BAB I PENDAHULUAN. Tradisi tulis yang berkembang di masyarakat Jawa dapat diketahui melalui

BAB III CARA PENULISAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. belum pernah dilakukan kegiatan transliterasi teks atas naskah Wawacan Rawi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

SERAT MUMULEN (SUNTINGAN TEKS DAN KAJIAN SEMIOTIK)

BAB II DESKRIPSI NASKAH

BAB I PENDAHULUAN. dapat berupa benda (tangible culture) atau budaya-budaya non-benda (intangible

SYAIR IBADAT : Suntingan Teks, Analisis Ajaran Tauhid dan Konsep Ekskatologi

PANDUAN PENULISAN LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL)

BAB 3 METODE DAN TEKNIK PENELITIAN. Di dalam melakukan penelitian sebuah teori selalu disertai dengan metode.

Tata Cara Penulisan Laporan Praktikum

WAWACAN SAPRI: KRITIK TEKS DAN TINJAUAN KANDUNGAN

TINJAUAN FILOLOGI DAN AJARAN MORAL DALAM SÊRAT DRIYABRATA

BAB IV WAWACAN RAWI MULUD

BAB I PENDAHULUAN. Kesenian tradisional pada akhirnya dapat membangun karakter budaya

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

FORMAT PEMBUATAN BUKU LAPORAN PROYEK AKHIR MAHASISWA D3 TEKNIK INFORMATIKA

BAB II KAJIAN TEORI. Filologi adalah suatu ilmu yang objek penelitiannya naskah-naskah lama

TATA TULIS BUKU TUGAS AKHIR. Fakultas Teknik Elektro 1

BAB I PENDAHULUAN. dipegang yang menyimpan berbagai ungkapan pikiran dan perasaan sebagai hasil

MENULIS FIKSI DENGAN MODEL PEMBELAJARAN EFEKTIF UNTUK SISWA SEKOLAH DASAR KELAS TINGGI. Nurmina 1*) ABSTRAK

TATA TULIS KARYA TULIS ILMIAH

PEDOMAN PENULISAN TUGAS AKHIR MAHASISWA PROGRAM STUDI ADMINISTRASI BISNIS JURUSAN ADMINISTRASI NIAGA POLITEKNIK NEGERI MEDAN MEDAN 2015

FILOLOGI HUKUM SEBAGAI PIRANTI AWAL UNTUK MENENTUKAN YAMIN

FORMAT PENULISAN PKL UNTUK MAHASISWA

INTERNSHIP & CAREER DEVELOPMENT (ICD) FE UNS 1

Kelas XII MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA. Sekolah Menengah Atas, Sekolah Menengah Kejuruan, Madrasah Aliyah, dan Madrasah Aliyah Kejuruan

METODE EDISI: STEMMA

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Indonesia 1

TRANSLITERASI. Pengertian Transliterasi. Manfaat Transliterasi. Metode Transliterasi. Masalah-Masalah Transliterasi

BAB I PENDAHULUAN. dapat dibaca dalam peningglan-peninggalan yang berupa tulisan.

PATHISARI. Wosing těmbung: Sěrat Pangracutan, suntingan lan jarwanipun teks, kalěpasan.

Kawruh warnining udheng-udhengan (suatu tinjauan filologis) Budi Kristiono C UNIVERSITAS SEBELAS MARET BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. mampu menentramkan kehidupan manusia terlebih dalam hal kerohanian.

BAB I PENDAHULUAN. Bangsa Indonesia mempunyai dokumentasi sastra lama yang. berkualitas setara dengan hasil sastra peradaban lain. Semua sastra daerah

Teks, Tekstologi, dan Kritik Teks

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Rizwan, 2013

KAJIAN FILOLOGI NASKAH PIWULANG PATRAPING AGÊSANG SKRIPSI

DAFTAR ISI. Hal I. FORMAT PENULISAN SECARA UMUM... 1 II. BAGIAN-BAGIAN TUGAS AKHIR... 6

BAB 2 DESKRIPSI NASKAH

BAB I PENDAHULUAN. perpustakaan umum. Perpustakaan umum merupakan tempat atau lokasi yang

TATA CARA PENULISAN BUKU LAPORAN PROYEK AKHIR

Kumpulan Artikel Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat

MERANCANG PENELITIAN NASKAH

FORMAT PEMBUATAN BUKU LAPORAN PROYEK AKHIR MAHASISWA D4 / D3 TEKNIK INFORMATIKA A. BAGIAN AWAL

SKRIPSI BABAD DEMAK: SUNTINGAN TEKS DAN TINJAUAN UNSUR SASTRA SEJARAH

BAB I PENDAHULUAN. yang terdapat pada kertas, lontar, kulit kayu atau rotan (Djamaris, 1977:20). Naskah

BAB III METODE PENCIPTAAN

Transkripsi:

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Objek penelitian ini adalah naskah Wawacan Pandita Sawang yang beraksara Arab (Pegon) dan berbahasa Sunda, teks di dalamnya berbentuk puisi/wawacan. Naskah WPS dibangun oleh empat jenis pupuh, pupuh Sinom, Kinanti, Asmarandana, dan Dangdanggula. Pupuh Asmarandana dan Sinom frekuensinya dua kali dalam membangun cerita. Pada bagian pertama pupuh Asmarandana, mengisahkan seorang Pandita yang sangat terkenal, Pandita Sawang yang sedang memberikan petuah kepada anaknya, Ki Mar at. Ki Mar at merupakan putra satu-satunya yang sangat disayangi Pandita Sawang. Pandita Sawang memberikan petuah untuk bekal anaknya kelak karena tidak mempunyai barang dan harta untuk diwariskan. Pandita Sawang menceritakan bagaimana Ki Mar at bisa lahir, kemudian ditiupkan ruh saat dalam kandungan, dan kembali lagi ke Sang Pencipta (meninggal). Di sela-sela petuah yang diberikan kepada Ki mar at, datang Waruga Alam bersama Istrinya bertamu ke rumah Pandita Sawang. Waruga Alam menanyakan bagaimana siksa manusia saat di dalam alam kubur. Kemudian Pandita Sawang bertanya kepada Waruga Alam yang terkenal dengan patékadan, Pandita Sawang bertanya mengenai konsep Rukun Islam dan kaitan pasal-pasalnya pada diri manusia. 3.2 Deskripsi dan Ringkasan Cerita Isi Naskah 3.2.1 Deskripsi Naskah Objek penelitian yang diteliti adalah naskah Wawacan Pandita Sawang. Naskah ini merupakan salah satu naskah yang menjadi koleksi di bagian perpustakaan Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang. Berikut di bawah ini adalah deskripsi naskah yang diteliti. Judul naskah yang terdapat dalam sampul berjudul Ieu Wawacan Pandita Sawang, sedangkah untuk judul umum naskah ini merupakan Wawacan Pandita Sawang yang diberi nomor koleksi R/054/LB 090. Naskah ini tersimpan di tempat 25

26 naskah bagian perpustakaan Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang. Tempat penyimpanan naskah di dalam lemari naskah dengan teknik perawatan menggunakan silica jel dan cengkih untuk menjaga kualitas kertas naskah (tidak cepat rusak). Naskah Wawacan Pandita Sawang ini beraksara Arab (Pegon), menggunakan bahasa (dominan) Sunda, ada beberapa kosakata bahasa Jawa dan beberapa kata serapan dari bahasa Arab. Bentuk karangan merupakan Wawacan/ Pupuh, dengan pupuh yang membangun teks adalah pupuh Asmarandana, Sinom, Dangdanggula, dan Kinanti. Pupuh Asmarandana dan Sinom, keduanya muncul dua kali dalam membangun teks Wawacan Pandita Sawang, sehingga jumlah keseluruhan pupuh yang membangun teks Wawacan Pandita Sawang berjumlah 6 pupuh. Dari titimangsa yang ditemukan dalam kolofon naskah ini, penyalinan naskah dilakukan oleh Muhammad Janabiri tahun 1356 H/1935 M (tetulis di hlm. 51 naskah WPS). Naskah ini merupakan hibah dari Rd. Fatimah, sebelum menjadi koleksi bagian perpustakaan Museum Prabu Geusan Ulun. Naskah ini mempunyai ukuran lebar 21 cm dan panjang 16 cm, sedangkan ruang tulisan pada naskah ini berukuran 13,5 x 8,7 cm. Penulisan naskah ini sesuai dengan kaidah penulisan bahasa Arab, dari kanan ke kiri. Cara penulisan dilakukan bolak-balik dan terdapat nomor halaman di tengah atas menggunakan pensil dengan angka latin (diduga dilakukan penomoran baru). Bahan naskah berwarna kuning kusam dan terdapat garis pembatas tulisan, sehingga tulisan pada naskah terlihat baik dan lurus. Teks ditulis dengan warna tinta hitam, terdapat tanda satu untuk pergantian (pungtuasi) padalisan/larik, sedangkan tanda tiga untuk pergantian pada/bait, keduanya menggunakan tinta warna merah. Untuk pergantian pupuh, ditulis dengan menggunakan tinta warna merah. Naskah ini mempunyai tebal 57 halaman (diberi halaman sampai halaman 51, sisanya teks lain/pelengkap), setiap halaman berjumlah 12-13 baris. Tulisan masih jelas dan dapat terbaca, karena kondisi kertas masih baik, hanya saja terdapat beberapa halaman yang sobek yang menyebabkan cerita korup. Halaman yang rompang dalam naskah pada halaman 8 dan 9. Dalam (teks) naskah terdapat coretan-coretan pada beberapa larik, hal itu bisa saja terjadi

27 karena penulis/penyalin sudah menyadari kesalahan-kesalahan baik makna atau kaidah pupuh dalam menulis teks WPS. Di halaman 34 terdapat gambar/tulisan kaligrafi yang bertuliskan Allah, Muhammad, Alhamdu, dan Alif Lam-mim. Tulisan-tulisan tersebut dijelaskan (dalam teks) terdapat keterkaitan satu sama lain. 3.2.2 Ringkasan Cerita Naskah ini mengisahkan seorang Pandita Sawang yang memberikan nasihat-nasihat kepada anak satu-satunya yang sangat dia sayangi, Ki mar at untuk bekal untuk dia kelak. Pandita Sawang menjelaskan bagaimana terciptanya manusia, ciri-ciri mulai dewasa, baligh dan sebagainya termasuk proses bagaimana manusia hidup dan kembali lagi kepada Sang Khalik. Pandita Sawang juga menjelaskan sifat dua puluh beserta bagian-bagian yang menyertainya, penciptaan manusia pertama kali diciptakan dari warna-warna mani, dan alam. Kemudian datang Waruga Alam yang bertamu ke rumah Pandita Sawang. Pandita Sawang dan Waruga Alam kemudian berdiskusi dan saling bertanya satu sama lain. Pandita Sawang menjelaskan alam dan siksa kubur kepada Waruga Alam dan Pandita Sawang mulai bertanya tentang rukun Islam. Kemudian Waruga alam pun menjelaskan rukun Islam satu-persatu kepada Pandita Sawang dengan bukti yang ada di dalam diri (manusia). Dalam proses penciptaan dan kembalinya manusia, Pandita Sawang menjelaskan kepada Ki Mar at bahwa umur manusia berbeda-beda. Ada yang meninggal saat masih bayi, ada yang sudah bisa jalan, ada yang sudah besar, ada yang di tengah-tengah umur, dan yang sudah tua. Dari semua itu yang membuat umur tidak sama adalah saat bertemunya alam sagir dan alam kabir. Pandita Sawang menjelaskan kembali asal-usul manusia sejak dari dalam kandungan dan sifat dua puluh yang dibagikan ke dalam kelompok ma ani, ma nawiyyah, Nafsiyyah, dan Salbiyyah. Kemudian datang Waruga Alam yang bertamu bersama Istrinya ke kediaman Pandita Sawang, Waruga Alam ingin bertanya kepada Pandita Sawang mengenai siksa kubur dan bumi langit. Pandita Sawang kemudian menjelaskan mengenai alm kabir dan alam sagir dan bagaimana manusia dipisahkan di dalam kubur.

28 Pandita Sawang balik bertanya kepada Waruga Alam mengenai pasal Rukun Islam dan bukti dari setiap pasalnya pada diri (manusia). Waruga Alam menjelaskan kepada Pandita Sawang kelima Rukun Islam dengan perumpamaan yang dapat dimengerti, misalakan pada rukun Islam salat, Waruga Alam menjelaskan kelima waktu solat karena berhubungan dengan kejadian-kejadian yang dialami oleh Nabi dan Rasul. Salat merupakan cara untuk beribadah dan mencari petunjuk saat itu oleh para Nabi dan Rasul. 3.3 Metode Penelitian Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode deskriptif analisis. Metode deskriptif analisis dilakukan dengan cara mendeskripsikan faktafakta yang terdapat dalam objek penelitian, kemudian melakukan analisis terhadap hasil temuan-temuan dalam objek (Ratna, 2012, hlm. 53). Untuk tahapan analisis teks naskah WPS menggunakan kajian filologi kritik teks, dengan tujuan untuk mengembalikan sebuah teks ke bentuk asalnya. Langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini meliputi; transliterasi dan suntingan teks WPS, sehingga menghasilkan edisi teks yang mudah dibaca dan mudah dipahami oleh pembaca. Setelah memudahkan pembacaan, selanjutnya menghadirkan/mendeskripsikan tinjauan kandungan isi dalam naskah WPS. 3.4 Metode Kajian Filologi Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian standar untuk naskah tunggal. Peneliti menggunakan penelitian standar untuk naskah tunggal karena hanya mengunakan satu objek naskah saja, naskah Wawacan Pandita Sawang. Metode standar digunakan apabila isi naskah itu dianggap biasa saja, bukan cerita yang dianggap suci dan penting dari sudut agama dan sejarah, sehingga tidak perlu diperlakukan secara khusus atau istimewa (Djamaris, 2002, hlm. 24). Menurut Barried (1985, hlm. 69) edisi standar yaitu membetulkan kesalahan-kesalahan kecil dan ketidakajegan, sedang ejaannya disesuaikan dengan yang berlaku. Diadakan pembagian kata, pembagian kalimat dan diberikan komentar mengenai kesalahan-kesalahan teks. Pembetulan yanng tepat dilakukan atas dasar pemahaman yang tepat. Semua perubahan yang dilakukan dicatat di

29 tempat yang khusus agar selalu dapat diperiksa dan diperbandingkan dengan bacaan naskah, sehingga masih memungkinkan penafsiran lain oleh pembaca. Segala usaha perbaikan harus disertai pertanggungjawaban dengan metode rujukan yang tepat. Berdasarkan naskah yang ditemui peneliti, maka naskah Wawacan Pandita Sawang yang diteliti menggunakan metode penelitian naskah tunggal. Jika dilihat dari naskah yang dianggap suci secara keagamaan dan penting dalam sejarah, naskah WPS tidak demikian. Meskipun dapat ditemui banyak naskah di daerah Jawa Barat bukan karena dianggap suci atau penting secara sejarah, akan tetapi karena kesusastraan sunda dengan wawacan yang sangat di gemari sekitar abad 19-an (Danasasmita, 2001, hlm. 172). Langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam melakukan metode edisi naskah standar menurut Djamaris (2002, hlm. 24), adalah sebagai berikut: Langkah pertama setelah membaca keseluruhan naskah adalah berusaha mentransliterasikan teks naskah dengan menggunakan pedoman transliterasi, termasuk menyesuaikan dengan ejaan yang kini dipakai. Langkah selanjutnya adalah memunculkan kesalahan-kesalahan yang ada dalam teks, kesalahan jumlah kata dalam setiap larik atau lebih menjadi hal yang harus diperhatikan dengan jeli karena teks naskah WPS berbentuk wawacan/pupuh. Langkah selanjutnya membuat catatan perbaikan atau perubahan dan memberikan tafsiran. Langkah selanjutnya membagi teks dalam beberapa bagian, dalam langkah ini pembagian teks bertujuan untuk memisahkan jenis-jenis pupuh sesuai dengan hasil identifikasi pembacaan terhadap naskah, setelah itu menyusun kata sukar yang terdapat di dalam naskah. Melalui penerapan metode edisi naskah standar ini, diharapkan dapat menghasilkan edisi teks naskah WPS yang bersih dari kesalahan tulis. Melakukan perbaikan terhadap kesalahan-kesalahan tulis, kemudian memberikan komentar (perbaikan), dan menghadirkan edisi teks seperti aslinya. Diharapkan pembaca dapat memahami naskah secara utuh tanpa mengalami permasalahan (dalam membacanya). Hasil pengolahan data tersebut bagi peneliti, dapat membantu untuk memudahkan langkah selanjutnya, menganalisis tinjauan kandungan isi naskah WPS.

30 3.5 Teknik Penelitian Teknik penelitian data dilakukan dengan berbagai instrumen penelitian seperti pengumpulan data dan pengolahan data. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara inventarisasi naskah, dengan menggunakan metode studi pustaka. Studi pustaka dilakukan dengan cara mencari sumber penelitian, katalogus naskah, artikel, atau jurnal yang menunjang penelitian. Teknik pengumpulan data pada suatu penelitian dapat dilakukan dengan dua cara yaitu metode studi pustaka dan metode studi lapangan (Djamaris, 2002;10). Metode studi pustaka naskah mempunyai sumber penelitian berdasarkan katalogus naskah yang tersimpan di berbagai Perpustakaan, Museum, dan Universitas yang menyimpan banyak naskah. Selain metode studi pustaka juga terdapat metode studi lapangan, karena masih banyak naskah yang tersebar di masyarakat, bahkan tidak jarang ditemui banyak kelompok/golongan yang menyimpan naskah dengan upaya pengeramatan terhadap naskah. Tidak hanya itu saja bahkan masih banyak juga yang melakukan upacara dalam pembukaan naskah dan pembersihan naskah. Naskah yang diteliti kali ini merupakan naskah yang sudah berada di Museum. Oleh karena itu Peneliti tidak mendapatkan keterangan mengenai naskah secara rinci dari petugas di Museum. Akan tetapi peneliti mendapatkan informasi umum dengan jelas dan baik dari petugas Museum, karena naskah yang sudah menjadi koleksi museum tidak digunakan lagi oleh masyarakat. Peneliti mendapatkan informasi tertulis lain terkait naskah WPS, lebih tepatnya hasil penelitian oleh Agus Suherman (2011) yang berbentuk Tesis. Adapun langkah-langkah yang dilakikan dalam penelitian ini yaitu, pertama-tama untuk mendapatkan naskah yang ada di Museum dengan membaca katalogus naskah yang tersebar di tiap Museum, kemudian melakukan studi pustaka langsung ke Museum tempat penyimpanan naskah. Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang bagian perpustakaan yang menyimpan naskah WPS yang akan diteliti oleh peneliti. Dibantu oleh kepala bagian perpustakaan Museum, Hj. Fetty K.S, peneliti mendapatkan informasi mengenai kondisi naskah keseluruhan di Museum. Permasalahan yang hadir adalah naskah asli tidak dapat dibawa atau

31 dipinjam, oleh karena itu dilakukan reproduksi dengan cara menfoto lembar demi lembar naskah, sehingga peneliti hanya membawa foto naskahnya untuk diteliti lebih lanjut. Setelah studi pustaka dirasa cukup, kemudian dilanjutkan dengan pengolahan data berdasarkan objek bahan penelitian. Langkah-langkah yang ditempuh dalam mengolah data terhadap naskah WPS, adalah sebagai berikut; 1. Melakukan transliterasi aksara naskah WPS (Arab-Pegon) ke dalam aksara Latin. 2. Melakukan proses penyuntingan dan kritik teks terhadap naskah WPS, sesuai dengan metode edisi naskah tunggal standar. 3. Menghasilkan edisi teks WPS yang bersih dari kesalahan tulis serta mudah dibaca dan dipahami. 4. Melakukan tinjauan kandungan isi naskah WPS. 3.6 Prosedur/Langkah Penelitian Dalam melakukan penelitiani ini, beberapa langkah kerja dalam penelitian akan diuraikan dengan lengkap di bawah ini; 1. Mencari informasi tempat penyimpaan naskah, khususnya Museum yang menjadi rujukan. 2. Observasi langsung ke bagian perpustakaan Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang-Jawa Barat. 3. Menggali informasi dengan bagian kepustakaan Museum Prabu Geusan Ulun (Ibu Hj. Fetty K.S) mengenai situasi naskah di Museum. 4. Memfokuskan satu objek naskah yang akan diteliti, karena tidak hanya satu naskah yang belum diteliti. 5. Meminta data-data naskah WPS yang diperlukan, dengan cara memfoto/mereproduksi naskah, karena WPS tidak bisa dibawa keluar dari Museum. 6. Melakukan transliterasi naskah WPS ke dalam bahasa yang mudah dipahami oleh peneliti.

32 7. Melakukan penyuntingan terhadap naskah WPS, untuk mendapatkan teks yang bersih dari kesalahan. 8. Membaca ulang naskah WPS secara menyeluruh. 9. Memisahkan larik per-larik dan bait per-bait teks naskah WPS, bahkan pupuh per-pupuh dalam naskah ini. 10. Meringkas cerita yang terdapat dalam teks WPS. 11. Melakukan tinjauan terhadap kandungan isi naskah WPS. 12. Menyusun laporan. 3.7 Definisi Operasional Untuk memperjelas pokok-pokok permasalahan yang terdapat dalam naskah yang akan diteliti, maka variabel-variabel dalam penelitian yang akan dilakukan akan dioperasionalkan sebagai berikut; 1. Naskah Wawacan Pandita Sawang merupakan naskah salinan yang ditulis tangan yang menjadi salah satu koleksi bagian perpustakaan Museum. 2. Kajian filologis merupakan kajian terhadap naskah kuna dengan tujuan untuk menghasilkan edisi teks yang bersih dari kesalahan tulis. 3. Suntingan teks merupakan hasil proses kritik teks, yaitu edisi teks yang sudah bersih dari kesalahan-kesalahan dan dianggap telah bersih dari kesalahan tulis. 4. Analisis tinjauan kandungan isi naskah merupakan proses kajian terhadap isi naskah Wawacan Pandita Sawang, untuk mengetahui nilai-nilai apa saja yang ada di dalam isi naskah.

33 3.8 Kerangka Berpikir Penelitian Melakukan studi pustaka dan observasi langsung terhadap naskah WPS ke bagian perpustakaan Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang 1. Aksara Arab (Pegon) yang digunakan dalam teks WPS kini sudah jarang digunakan. 2. Terdapat beberapa halaman naskah yang korup/mengalami kerusakan dikarenakan dimakan rayap atau karena usia naskah yang sudah tidak muda lagi. 3. Naskah WPS menggunakan bahasa Sunda, Jawa, dan serapan dari bahasa Arab. Metode: - Penelitian deskriptif analisis. - Kajian filologi (metode naskah tunggal edisi standar). Prosedur Penelitian: 1. Transliterasi 2. Kritik tekks 3. Edisi Teks 4. Penerjemahan 5. Memberikan keterangan/komentar kosa kata 6. Tinjauan kandungan isi teks WPS Pengolahan dan analisis data Kritik Teks dan Tinjauan Kandungan Isi Naskah Wawacan Pandita Sawang