MODEL MODEL DESAIN PEMBELAJARAN

dokumen-dokumen yang mirip
Jerols E. Kemp (1977)

MODEL PEMBELAJARAN GERLACH & ELLY

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

M A K A L A H MODEL-MODEL DESAIN PEMBELAJARAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA

KESIAPAN DOSEN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH DALAM PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DI UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG

BAB II LANDASAN TEORI. A. Keterlaksanaan Pembelajaran Matematika

Bagaimana memilih bahan ajar? Prinsip Kecukupan. Cakupan Bahan Ajar. Urutan Penyajian Bahan Ajar

PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN

MODEL-MODEL DESAIN PEMBELAJARAN

BAB I PENDAHULUAN. Kualitas pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah. Indikator paling nyata

Prinsip dan Langkah-Langkah Pengembangan Silabus

II. TINJAUAN PUSTAKA. Rosenberg (dalam Surjono, 2009: 3), mendefinisikan e-learning sebagai

I. PENDAHULUAN. bertujuan menghasilkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang terdidik

Penulisan Kegiatan Pembelajaran dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Bahasa Inggris SMP

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1. 5 Latar Belakang Permasalahan

Tri haryatmo LPPKS. Mengembangkan strategi pembelajaran dan Penyusunan Evaluasi. Deskripsi Tugas

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa kini telah melahirkan suatu

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PROSES PEMBELAJARAN DAN PENILAIAN SMA NEGERI 10 SAMARINDA TAHUN PEMBELAJARAN 2016/2017

BAB I PENDAHULUAN. Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya untuk mengarahkan siswa

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan PP 19 Tahun 2005 Pasal 20 dinyatakan bahwa: Perencanaan

Pemilihan dan Penggunaan Media Pembelajaran

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Muhamad Nurachim, 2015

BAB 1 PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di era globalisasi yang

BAB I PENDAHULUAN. Proses pendidikan berlangsung dalam suatu kegiatan sosial antara peserta

BAB I PENDAHULUAN. negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU No. 20, 2003, h. 4).

PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) UNIVERSITAS ESA UNGGUL JAKARTA

PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER UNIVERSITAS ESA UNGGUL JAKARTA. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 yang merupakan

II. TINJAUAN PUSTAKA. pembelajaran karena dalam model pembelajaran terdapat langkah-langkah

E-LEARNING PERENCANAAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA PERT-3. Oleh Nanang Khuzaini, S.Pd.Si

BAB III METODE PENELITIAN. di dalam kelas, maka penelitian ini disebut Penelitian Tindakan atau Action

KOMPONEN DESAIN INSTRUKSIONAL

MODEL & PENDEKATAN PEMBELARAN. (A. Suherman)

MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA MATERI GAYA MAGNET MELALUI METODE INKUIRI TERBIMBING

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MAHASISWA MELALUI DIRECT INSTRUCTIONAL PADA MATAKULIAH PENGANTAR AKUNTANSI

BAB II KAJIAN TEORITIS. mencapai tujuan yang telah ditetapkan. (Atmodiwiryo,2000:5). Selanjutnya

KONSEP DASAR PERENCANAAN PEMBELAJARAN. M. Nasir Tamalene (Dosen Universitas Khairun Ternate)

I. PENDAHULUAN. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) No.20 Tahun 2003

RAMBU-RAMBU PENYUSUNAN RPP

MULTIMEDIA INTERAKTIF BERBASIS MODEL ASSURE UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI STRUCTURED QUERY LANGUANGE (SQL)

I. PENDAHULUAN. Dalam pembelajaran Biologi, siswa dituntut tidak hanya sekedar tahu

BAB III BELAJAR TUNTAS

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN BERBASIS PENDIDIKAN KARAKTER OLEH MAHASISWA CALON GURU FISIKA

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISA DATA

adalah proses beregu (berkelompok) di mana anggota-anggotanya mendukung dan saling mengandalkan untuk mencapai suatu hasil

PENGEMBANGAN KEGIATAN PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM. Oleh: Ajat Sudrajat

BAB I PENDAHULUAN. seseorang kepada suatu organisasi tingkah laku yang lebih tinggi berarti

TEKNIK PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Oleh: Dr. Marzuki UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

SERI MATERI PEMBEKALAN PENGAJARAN MIKRO 2015 PUSAT PENGEMBANGAN PPL & PKL KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

BAB I PENDAHULUAN. pada suatu lingkungan belajar. Hal ini tertuang dalam Undang-Undang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

EDISI : 4 PENGEMBANGAN SILABUS. Modul : Pengembangan Silabus Soal-soal Pengembangan Silabus

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

RENCANA PEMBELAJARAN (GBPP/SILABUS/RPS, SAP/RPP) DENGAN PENDEKATAN SCL R. NETY RUSTIKAYANTI

DISAIN INSTRUCTIONAL (Perencanaan Pembelajaran)

Evaluasi Pembelajaran Bahasa Jerman

I. PENDAHULUAN. Pendidikan adalah usaha sadar dan sistematis yang dilakukan orang-orang

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 14 B. TUJUAN 14 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 14 D. UNSUR YANG TERLIBAT 14 E. REFERENSI 15 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 15

BAB II KAJIAN TEORETIS

MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR KENAMPAKAN PERMUKAAN BUMI MELALUI PEMBUATAN MINIATUR MUKA BUMI PADA SISWA KELAS 3 SD NEGERI SIDOMULYO 03

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Memilih Metode Pembelajaran Matematika

Sementara itu, Forrest W. Parkay dan Beverly Hardeastle Stanford dalam

II. TINJAUAN PUSTAKA. berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu kata efektif juga dapat

II. TINJAUAN PUSTAKA. Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku siswa akibat adanya

PENGEMBANGAN KEGIATAN PEMBELAJARAN MAPEl PAI. Oleh Dr. Marzuki FIS -UNY

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

KONSEP PENDEKATAN SCIENTIFIC

PEDOMAN SINGKAT PENYUSUNAN RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 yang merupakan

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN. A. Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Audio-Visual Terhadap

BAB I PENDAHULUAN. Dalam pembukaan UUD 1945 dijelaskan bahwa salah satu tujuan dari

Memilih Metode Pembelajaran Matematika

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Nur Inayah, 2013

RPP Theory A. Apakah RPP itu? Berdasarkan PP 19 Tahun 2005 Pasal 20 dinyatakan bahwa:

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Gunawan Wibiksana, 2013 Universitas Pendidikan Indonesia Repository.upi.edu Perpustakaan.upi.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Pendidikan Guru Agama (PGA) Muhammadiyah Sambi. PGA Muhamadiyah

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Menurut Sadiman (2006:6) media berasal dari bahasa latin merupakan bentuk

III. METODE PENELITIAN. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X-3 SMAN 2 Kalianda semester

guna mencapai tujuan dari pembelajaran yang diharapkan.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah pokok yang dihadapi dunia pendidikan di Indonesia adalah masalah yang berhubungan dengan mutu atau

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS) BERDASARKAN KURIKULUM 2013 KELAS VIII DI SMP NEGERI 31 PADANG JURNAL EFRIJONI

SILABUS DAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (Berdasarkan Permendiknas 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses)

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan pengalaman peneliti mengajar IPA di MTs Negeri Jeketro,

BAB V PEMBAHASAN. Siswa Kelas Unggulan di SMP Negeri 1 Gondang Tulungagung. berkaitan dengan indera pendengar, dimana pesan yang disampaikan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. menjadi manusia seutuhnya baik secara jasmani maupun rohani seperti yang

2016 PERBAND INGAN HASIL BELAJAR SISWA ANTARA MOD EL PEMBELAJARAN BERBASIS PORTOFOLIO D ENGAN MOD EL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK D I SMKN 1 SUMED ANG

Negeri 2 Teupah Barat Kabupaten Simeulue Tahun Pelajaran 2014/2015. Oleh: PARIOTO, S.Pd 1 ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

RPP. Pengertian RPP. Komponen RPP

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat saat ini telah

Transkripsi:

18 MODEL MODEL DESAIN PEMBELAJARAN Model desain pembelajaran pada dasarnya merupakan pengelolaan dan pengembangan yang dilakukan terhadap komponen-komponen pembelajaran. Beberapa model pengembangan pembalajaran antara lain : Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional), Model Jerold E.Kemp, Glasser,Bella Banathy, Rogers dan model- model pembelajaran lainnya. Adapun model- model pembelajaran yang akan dikaji pada buku ini adalah: Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional), Model Glasser. Model Gerlach & Elly dan Model Jerold E. Kemp. A. MODEL PPSI (PROSEDUR PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUKSIONAL) Munculnya model PPSI dilatarbelakangi oleh beberapa hal berikut : 1. Pemberlakuan Kurikulum 1975, metode penyampaian adalah Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI) untuk Pengembangan Satuan Pembelajaran (RPP). 2. Berkembangnya paradigma pendidikan sebagai suatu sistem, maka pembelajaran menggunakan pendekatan sistem (PPSI). 3. Pendidik/guru masih menggunakan paradigma Transfer of Knowledge belum pada pembelajaran yang profesional. 4. Tuntutan Kurikulum 1975 yang berorientasi pada tujuan, relevansi, efisiensi, efektivitas, dan kontinuitas. 5. Sistem Semester pada Kurikulum 1975 menuntut Perencanaan Pengajaran sampai satuan materi terkecil. Konsep dari PPSI ini adalah bahwa sistem instruksional yang menggunakan pendekatan sistem, yaitu satu kesatuan yang terorganisasi, yang terdiri atas sejumlah komponen yang saling berhubungan satu sama lainnya dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan. Sedangkan fungsi PPSI adalah untuk mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara

19 sistematik dan sistematis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi pendidik dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Ada lima langkah langkah pokok dari pengembangan model PPSI ini yaitu : 1. Merumuskan Tujuan Pembelajaran (menggunakan istilah yang operasional, berbentuk hasil belajar, berbentuk tingkah laku dan hanya satu kemampuan/ tujuan). 2. Pengembangan Alat Evakuasi (menentukan jenis tes yang akan digunakan, menyusun item soal untuk setiap tujuan). 3. Menentukan Kegiatan Belajar Mengajar, (merumuskan semua kemungkinan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan, menetapkan kegiatan pembelajaran yang akan ditempuh). 4. Merencanakan Program Kegiatan Belajar Mengajar, (merumuskan materi pelajaran, menetapkan metode yang digunakan, memilih alat dan sumber yang digunakan dan menyusun program kegiatan/jadwal). 5. Pelaksanaan, (mengadakan pretest, menyampaikan materi pelajaran, mrngadakan posttest dan revisi). B. MODEL GLASSER 1. Pendahuluan Model desain pembelajaran pada dasarnya merupakan pengelolaan dan pengembangan yang dilakukan terhadap komponen komponen pembelajaran. Adapun model pembelajaran yang akan dipaparkan adalah Model Glasser adalah model yang paling sederhana. 2. Langkah langkah Model R. Glasser Langkah langkah yang harus ditempuh dalam mengembangkan desain pembelajaran Model Glasser adalah sebagai berikut : a. Instructional Goals (Sistem Objektif) Pembelajaran dilakukan dengan cara langsung melihat atau menggunakan objek sesuai dengan materei pelajaran dan tujuan pembelajaran. Jadi, seorang

20 siswa diharapkan langsung bersentuhan dengan objek pelajaran. Dalam hal ini siswa lebih ditekankan pada praktik. b. Entering Behavior (Sistem Input) Pelajaran yang diberikan pada siswa dapat diperlihatkan dalam bentuk tingkah laku, misalnya siswa terjun langsung ke lapangan. c. Instructional Procedures (Sistem Operator) Membuat prosedur pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan materi pelajaran yang akan disampaikan kepada siswa, sehingga pembelajaran sesuai dengan prosedurnya. d. Performance Assessment (Output Monitor) Pembelajaran diharapkan dapat mengubah penampilan atau perilaku siswa secara tetap atau perilaku siswa yang menetap. Model Glasser adalah model yang paling sederhana. Ia menggambarkan suatu desain atau pengembangan pembelajaran ke dalam empat komponen, yaitu dapat digambarkan sebagai berikut: C. MODEL GERLACH DAN ELY 1. Pendahuluan Ada beberapa model pembelajaran yang digunakan, salah satunya adalah model pembelajaran Gerland dan Ely (1971). Gerlach dan Ely mendesain sebuah model pembelajaran yang cocok digunakan untuk segala kalangan termasuk untuk pendidikan tingkat tinggi, karena didalamnya terdapat penentuan strategi yang cocok digunakan oleh peserta didik dalam menerima materi yang akan disampaikan. Di samping itu, model Gerlach dan Ely menetapkan pemaikaian produk teknologi pendidikan sebagai media dalam menyampaikan materi. Model ini merupakan suatu upaya untuk menggambarkan secara grafis, suatu metode perencanaan pembelajaran yang sistematis. Model ini merupakansuatu pedoman atau suatu peta perjalanan dan hendaknya digunakan sebagai checklist dalam menbuat sebuah rencana untuk kegiatan pembelajaran. 2. Komponen komponen Model Pembelajaran Gerlach dan Ely a. Merumuskan Tujuan Pembelajaran (Specification of Objectives) Berikut petunjuk praktis merumuskan tujuan pembelajaran.

21 1) Formulasikan dalam bentuk yang operasional (mudah diukur). 2) Rumuskan dalam bentuk produk belajar. 3) Rumuskan dalam tingkah laku siswa, bukan tingkah laku guru. 4) Rumuskan sedemikian rupa sehingga menunjukkan dengan jelas tingkah laku yang dituju. 5) Usahakan hanya mengandung satu tujuan belajar (satu kemampuan). 6) Rumuskan tujuan dalam tingkah laku yang dikehendaki. 7) Rumuskan kondisi dari tingkah laku yang dikehendaki. 8) Catumkan standar tingkah laku yang dapat diterima. b. Menentukan Isi Materi (Specification of Content) Bahan / materi pada dasarnya adalah isi/konten dari kurikulum, yakni berupa pengalaman belajar dalam bentuk topik/subtopik dan rinciannya. Isi materi berbeda beda menurut bidang studi, sekolah, tingkatan, dan kelasnya. Namun, isi materi harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Oleh karena itu, apa yang akan diajarkan pada siswa hendaknya dipilih pokok bahasan yang lebih spesifik. Gunanya, selain untuk membatasi ruang lingkupnya juga apa yang akan diajarkan dapat lebih jelas dan mudah dibandingkan atau dipisahkan dengan pokok bahasan lain dalam satu mata pelajaran yang sama. c. Penilaian Kemampuan Awal Siswa (Assessment of Entering Behaviors) Pengumpulan data siswa dilakukan dengan dua cara : 1) Pretest. Dilakukan untuk mengetahui student achievement, yaitu apa yang sudah diketahui dan apa yang belum diketahui tentang rencana pokok bahasan yang akan diajarkan. Misalnya, dengan mengukur sampai di mana pengetahuan siswa tentang: Definisi: sampai dimana siswa dapat menerangkan istilah istilah pokok dalam pokok bahasan yang akan diajarkan; Konsep: apakah siswa mengerti dan dapat menerangkan konsep konsep dasar dari pokok bahasan yang akan diajarkan;

22 2) Mengumpulkan data pribadi siswa (personal data) untuk mengukur potensi siswa dan mengelompokkannya ke dalam kategori siapa siapa yang termasuk slow learners. Caranya dapat dengan mengadakan intelligency test. Misalnya, mengukur kesanggupan siswa dalam : Membuat alasan/ sanggahan; Kemampuan mengungkapkan kembali; Keterampilan mengolah data, dan sebagainya. d. Menetukan Strategi (Determination of Strategy) Strategi pembelajaran merupakan pendekatan ynag dipakai pengajar dalam memanipulasi informasi, memilih sumber sumber dan menentukan tugas / peranan siswa dalam kegiatan belajar mengajar (Gerlach dan Ely). 1) Bentuk ekspose (expository) yang lazim dipergunakan dalam kuliah kuliah tradisional, biasanya lebih bersifat komunikasi satu arah. Pada expository, pengajar lebih besar peranannya. Biasanya guru berdiri di depan kelas dan menerangkan dengan metode ceramah. Siswa diharapkan memperoleh informasi dari ceramah pengajar di deapan kelas. Metode lain yang biasanya diguanakan adalah metode diskusi. 2) Bentuk inquiry lebih mengutamakan partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar. Pengajar hanya menampilkan demontrasi. e. Pengelompokan Belajar (organization of groups) Pendekatan yang menghendaki kegiatan belajar secara mandiri dan bebas memerlukan pengorganisasian yang berbeda dengan pendekatan yang memerlukan banyak diskusi dan partisipasi aktif siswa dalam ruangan kecil, untuk mendengarkan ceramah dalam ruang kelas. Beberapa pengelompokan siswa antara lain: 1. Pengelompokan berdasarkan jumlah siswa (groping by size) yaitu belajar mandiri, kelompok kecil dan kelompok besar 2. Pengelompokan campuran (ungraded grouping) yaitu pengelompokan yang tidak memandang kelas (tingkat) maupun usia, tetapi mereka mempunyai tingkat pengetahuan yang sama dalam satu mata pelajaran.

23 3. Gabungan beberapa kelas (multiclass grouping), yaitu gabungan dari beberapa kelas yang sama dalam satu ruangan besar. Mereka mendapat pelajaran dengan bermacam-macam kegiatan pada saat yang bersamaan dalam satu ruangan yang sama. 4. Sekolah dalam sekolah (school within school), yaitu satu kompleks yang besar yang terdiri dari beberapa gedung sekolah. Pengelompokan ini berdasarkan atas pengelompokan kemapuan maupun hasil-hasilyang dicapai oleh siswa, tetapi hanya untuk memudahkan pengaturan administrative karena besarnya jumlah siswa yang mendaftar. 5. Taman kependidikan (educational park), yaitu kampus yang terdiri dari TK samapai perguruan tinggi dengan pemusatan sarana, pelayanan, dan informasi. f. Pembagian Waktu (allocation of time) Pemilihan strategi dan teknik untuk ukuran kelomok yang ada berbedabeda tersebut mau tidak mau akan memaksa pengajar memikirkan penggunaan waktu. Apakah sebagaian besar waktunya akan dialokasikan untuk persentasi atau pemberian informasi, untuk praktik laboratorium atau untuk diskusi. Rencana penggunaan waktu akan berbeda berdasarkan pokok permasalahan, tujuan-tujuan yang dirumuskan, ruangan yang tersedia, pola-pola administrasi serta abilitas dan minat-minat para siswa. g. Menentukan Ruangan (allocation of space) Ada tiga alternative ruangan belajar, agar proses belajar mengajar dapat terkondisikan, yaitu: 1. Ruangan-ruangan kelompok besar 2. Ruangan-ruangan kelompok kecil 3. Ruangan untuk belajar mandiri. h. Memilih Media (allocation of resources) Memilih media ditentukan menurut tanggapan siswa yang disepakati, sehingga fungsinya tidak hanya sebagai stimulus rangsangan belajar siswa semata. Gerlach dan Ely membagi media sebagai sumber belajar ini ke dalam lima kategoro yaitu:

24 1. Manusia dan benda nyata 2. Media visual proyeksi 3. Media audio 4. Media cetak 5. Media display i. Evaluasi hasil belajar (evaluation of permance) Yang dievalusi dalam proses belajar mengajar sebenarnya bukan hanya siswa, tetapi justru system pengajarannya. Oleh karena itu dalam proses belajar mengajar terdapat rangkaian tes yang dimulai dari tes awal untuk mengetahui mutu/isi pelajaran apa yang sudah diketahui oleh siswa dan apa yang belum, terhadap rencana yang akan diajarkan. Entering behavior untuk mengukur kemampuan siswa dan mengelompokan ke dalam kelompok kemampuan yang kurang, sedang dan pandai. j. Menganilis Umpan Balik (Analysis Of Feedback) Umpan balik merupakan tahap terakhir dari pengembangan system instruksional ini. Data umpak balik yang diperoleh dari evaluasi, tes, observasi maupun tanggapan-tanggapan tentang usaha-usaha intruksional ini menentukan apakah system, metode, maupun media yang dipakai dalam kegiatan instruksional tersebut sudah sesuai untuk tujuan ynag ingin dicapai atau masih perlu disempurnakan. 3. Kelebihan Model Belajar Gerlach Dan Ely Model pembelajaran gerlach dan ely memiliki perbedaan tersendiri dibandingkan dengan model pembejaran yang lainnya. Perbedaan yang paling kentara adalah diadakannya pre test (tes awal) sebelum kegiatan belajar mengajar dilaksanakan. Di samping itu model Gerlach dan Ely sangat teliti sekali dalam melaksanakan atau merencanakan pembelajaran, terbukti dengan diadakannya tahapan pengelompokan belajar, penghitungan pembagian waktu, serta peraturan ruanagn belajar. Hal ini merupakan kelebihan tersendiri dari model gerlach dan ely yang telah dikenal dan dikembangkan sejak 1971. 4. Kekurangan Model Belajar Gerlach Dan Ely

25 Model pembelajaran gerlach dan ely memiliki sedikit kekurangan di antaranya tidak adanya tahapan pengenalan karakteristiksiswa sehingga sedikitnya akan membuat guru kewalahan dalam menganalisis kebutuhan belajar siswa selam proses pembelajaran. Bahkan mungkin lebih jauhnya akan membuat guru salah dalam memberikan dosis pelajaran karena tidak mengenal latar belakang keluarga, psikologis, pendidikan social serta budaya dari siswa tersebut. D. MODEL JEROLD E. KEMP 1. Pendahuluan Model Kemp memberikan bimbingan kepada para siswanya untuk berpikir tentang masalah-masalah umum dan tujuan-tujuan pembelajaran. Model ini juga mengarahkan para pengembang desain instruksional untuk melihat karakteristik para siswa serta menentukan tujuan-tujuan belajar yang tepat. Langkah berikutnya adalah spesifikasi isi pelajaran dan mengembangkan pretes dari tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Selanjutnya adalah menetapkan strategi dan langkah-langkah dalam kegiatan belajar-mengajar serta sumber-sumber belajar yang akan digunakan. Selanjutnya materi/isu kemudian dievaluasi atas dasar-dasar tujuan-tujuan yang telah dirumuskan. Langkah berikutnya adalah melakukan identifikasi dan revisi didasarkan atas hasil-hasil evaluasi. Desain pembelajaran model Kemp ini dirancang untuk menjawab tiga pertanyaan yakni: 1. Apa yang harus dipelajari siswa 2. Apa/bagaimana prosedur, dan sumber-sumber belajar apa yang tepat untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan (kegiatan, media, dan sumber belajar yang digunakan. 3. Bagaimana kita tahu bahwa hasil belajar yang diharapkan telah tercapai (evaluasi) Langkah-langkah pengembangan desain pembelajaran model Kemp terdiri dari delapan langkah yakni:

26 a. Menentukan tujuan instruksional umum (TIU) atau kompetensi dasar, yaitu tujuan umum yang ingin dicapai dalam mengajarkan masing-masing pokok bahasan b. Membuat analisis tentang karateristik siswa. Analisis ini diperlukan antara lain untuk mengetahui apakah latar belakang pendidikan dan social budaya siswa memungkinkan untuk mengikuti program, serta langkah-langkah apa yang perlu diambil. c. Menentukan tujuan instruksional spesifik, operasional dan terukur (dalam KTSP adalah indicator). Dengan demikian, siswa akan tahu apa yang harus dikerjakan, bagaimana mengerjakannya dan apa ukurannya bahwa ia telah berhasil. Bagi guru, rumusan itu akan bergunu dalam menyusun tes kemampuan/keberhasilan dan pemilihan materi/bahan belajar yang sesuai d. Menentukan materi/bahan ajar yang sesuai dengan tujuan instrusional khusus (indicator) yang telah dirumuskan. Masalah yang seringkali dihadapi guru-guru adalah begitu banyaknya materi pelajaran yang harus diajarkan dengan waktu yang terbatas. Demikian juga, timbuk kesulitan dalam mengorganisasikan materi/bahan ajar yang akan disajikan kepada para siswa. Dalam hal ini diperlukan ketepatan guru dalam memilih dan memilah sumber belajar, materi, media dan prosedur pembelajaran yang akan digunakan. e. Menetapkan penjajagan atau tes awal. Ini diperlukan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan awal siswa dalam memenuhi prasyarat belajar yang dituntut untuk megikuti program pembelajaran yang akan dilaksanakan. Dengan demikian, guru dapat memilih materi yang diperlukan tanpa harus menyajikan yang tidak perlu, sehingga siswa tidak menjadi bosan. f. Menentukan strategi belajar mengajar, media dan sumber belajar. g. Mengoordinasikan sarana penunjang yang diperlukan meliputi biaya, fasilitas, peralatan, waktu dan tenaga. h. Mengadakan evaluasi.

27 2. Pokok Bahasan Dan Tujuan Umum (Goals, Topics, And General Purposes) a. Pokok bahasan Pokok bahasan menjadi dasar dalam pembelajaran dan menggambarkan ruang lingkup pembelajaran itu sendiri. Pada sekolah dasar kelas tendah, tema/topic bahasan biasanya lebih sederhana umum nyta pada pengalaman kehidupan siswa sehari-hari, sedangkan di SD kelas tinggi sampai SMA biasanya pokok bahasan disesuaikan dengan SK/KD yang telah dikeluarkan oleh BNSP. b. Tujuan Pembelajaran Umum Tujuan pembelajaran umum adalah tujuan pembelajaran yang sifatnya masih umum dan belum dapat menggambarkan tingkah laku yang lebih spesifik. Tujuan pembelajaran umum ini dapat dilihat dari tujuan setiap pokok bahasan suatu mata pelajaran yang ada di dalam silabus atau kurikulum. 3. Karakteristik Siswa (Learner Characteristic) Tujuan mengetahui karateristik siswa adalah untuk mengukur apakah siswa akan mampu mencapai tujuan belajar atau tidak. Hal-hal yang perlu diketahui dari siswa bukan hanya dari factor akademisnya, tetapi juga dilihat factor-faktor sosialnya, sebab kedua hal tersebut mempengaruhi proses belajar. 4. Tujuan Pembelajaran Khusus (Learning Objegtive) Tujuan pembelajaran khusus merupakan penjabaran dari tujuan pembelajaran umum. Tujuan ini dirumuskan oleh guru dengan maksid agar tujuan pembelajaran umum tersebut dapat lebih dispesifikasikan dan mudah diukur tingkat ketercapaiannya. a. Klasifikasi Tujuan Pembelajaran Menurut Bloom dan Krathwohl dan Bloom dan Maria (dalam Rusman, 2009:24-25) klasifikasi tujuan terdiri dari tiga domain atau schemata, yaitu: 1. Domain kognitif 2. Domain afektif 3. Domain psikomotorik

28 b. Pemisahan dan Penggabungan Tujuan Dengan adanya pemisahan tujuan menjadi tiga domain tersebut, pertanyaan yang mungkin timbul adalah apakah dalam merumuskan saja atau tujuan afektif saja secara terpisah, rasanya lebih mudah, tetapi tujuan kognitif dan kedua tujuan yang lainnya tampak sukar dipisahkan. c. Tahapan-tahapan Tujuan Tujuan itu bertahap dari yang mudah, sedang dan sulit. Menurut Gagne, tahap-tahap atau tingkatan belajar itu adalah pertama, belajar tentang fakta, kemudian konsep, dilanjutkan dengan belajar prinsip dan akhirnya pemecahan masalah. Fakta digunakan untuk mengindentifikasi suatu konsep, kemudian menggabungkan beberapa konsep untuk mengindentifikasi prinsip dan akhirnya prinsip dipergunakan untuk memecahkan masalah. d. Kelebihan dan Keterbatasan tujuan 1. Kelebihan a. Membentuk kerangkan tiap program instruksional yang dibangun atas kompetensi dasar. b. Member tahu siswa tentang apa yang diharapkan daripadanya. c. Menolong guru (penyusun desain pembelajaran) untuk berpikir lebih spesifik, mempermudah, mengatur dan menyusun sistematika pelajaran. d. Menunjukkan macam dan ragam dari kegiatan yang diharapkan dari keberhasilan belajar. e. Menjadi dasar evaluasi, baik terhadap hasil belajar siswa maupun untuk mengukur keefektifan program instruksional. f. Merupakan sarana komunikasi yang terbaik terhadap sesama pengajar, wali murid, maupun pihak lain dari apa yang diajarkan dan apa yang harus dipelajari. 2. Keterbatasan a. Kebanyakan tujuan hanya bertujuan untuk tingkat penguasaan pengetahuan saja (tingkat kognitif) yang rendah.

29 b. Menyusun struktur (tahap-tahap) pelajaran tertentu seperti matematika, ilmu pengetahuan alam dan pelajaran bahasa lebih mudah dibandingkan seni, ilmu-ilmu social dan humanities. c. Bila tujuan belajar hanya diarahkan khusus untuk tujuan yang telah ditentukan (pada tujuan instruksional khusus) saja, tampak program akan berjalan sangat kaku. d. Dengan menetapkan ukuran suatu tujuan, rasanya pendekatan belajar kurang manusisawi, dan menganggap bahwa prosedur pendidikan teralu mekanis dan tidak personal. 5. Materi/Bahan Pelajaran (subject content) Subject content adalah materi atau isis pokok bahasan. Ini harus spesifik dan erat hubungannya dengan tujuan (learning objectives) yang telah ditetapkan. Jadi, bila kepada siswa diajarkan fakta dan konsep, tentu tidak hanya berhenti sampai prinsip, tetapi harus diadakan pula penerapan prinsip tersebut. Untuk menyusun materi pokok bahan biasanya kita buat pertanyaanpertanyaan seperti berikut ini: a. Apakah spesifik pokok bahasan? b. Fakta-fakta, konsep-konsep, dan prinsip-prinsip apa yang berhubungan dengan pokok bahasan? c. Langkah-langkah apa yang ditempuh dari prosedur yang berkaitan dengan pokok bahasan? d. Teknik apa yang diperlukan dalam melakukan suatu keterampilan? 6. Penjajakan Terhadap Siswa (preassessment) Tujuan dari kegiatan penjajakan terhadap kemampuan siswa adalah untuk menguji, apakah kepercayaan yang telah disusun pada empat langkah sebelumnya dapat diteruskan ke langkah selanjutnya, yaitu kegiatan pembelajaran (teaching/learning activities and resource. Apakah siswa sudah siap dan mampu mempelajari pokok bahasan yang akan diajarkan. Jadi, preassesment adalah menguji coba rencana pokok bahasan, tujuan belajar dari rencana isi. Tidak dipergunakan untuk mengukur kemampuan

30 siswa dilakukan pada assessment of entering behavios dalam systematic approach to instruction (ely, 1957), sebab kemampuan segala sesuatu yang menjadi latar belakang siswa yang berlaku untuk system perencanaan desain instruksional ini. 7. Kegiatan Belajar-Mengajar Dan Media (Teachin/Learning Activities And Recource) Prinsip-Prinsip Belajar Menurut B.F. Skinner dan kawan-kawan ada sepuluh prinsip sebagai berikut: 1. Persiapan belajar (prelearning preparation) minimal sebelum belajar kita tahu tujuan belajar itu apa, apa yang akan menjadi pendahuluan belajar atau syarat-syarat sehingga nanti akan dicapai tujuan maksimal 2. Motivasi (motivasion) berdasarkan pengalaman siswa, mana yang disukai siswa agar perhatian belajar dapat meningkat. 3. Perbedaan individual (individual differences), membuat desain berdasarkan pengalaman belajar siswa yang menyangkut empat segi, yaitu penentuan kecepatan belajar, penentuan tingkat, penentuan kemampuan, bahan pelajaram apa (materi) yang paling tepat. 4. Kondisi pembelajaran (instructional condition), belajar akan berhasil apabila tujuan belajar sudah jelas, dan belajar juga akan lebih mudah apabila materi yang dipelajari juga teratur mulai dari yang mudah dipelajari hingga ke hal yang kompleks. 5. Keaktifan sepenuhnya ada pada siswa dan guruhanya menyediakan bahan dan menunjukkan cara belajar yang baik. 6. Penyampaian hasil belajar siswa (successful achievement), perlu diatur sedemikian rupa sehingga tetap meransang siswa belajar dan menyenangkan mereka sehingga ma uterus mengikuti kegiatan belajar karena setiap usaha diberikan penghargaan yang proporsional. 7. Hasil yang sudah diperoleh (knowledge of result) 8. Latihan (practice) 9. Kadar bahan yang diberikan (rate of presenting material) 10. Sikap mengajar (intructor s attitude)

31 Kegiatan belajar-mengajar Tiga jenis kegiatan belajar-mengajar adalah: 1. Pembelajaran klasikal (group presentation) Pembelajaran klasikal adalah kegiatan penyampaian pelajaran kepada sejumlah siswa. Kegaiatan ini akan dianggap baik apabila siswa aktif berpartisipasi selama pengajaran berlangsung. Partisipasi dimaksudkan digolongkan dalam tiga kategori yakni: a. Active interaction with the instructor yaitu siswa bertanya dan pengajae menjawab atau siswa lebih berkonsultasi sesuadah pengajaran. b. Working at the student s seat yaitu siswa mencatat apa yang diajarkan atau mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. c. Other mental participation yaitu siswa juga berpikir tentang apa yang dikemukakan dan mempersiapkan bahan pertanyaan yang akan ditanyakan. 2. Belajar mandiri (individual learning) Bentuk-bentuk belajar mandiri yang kita kenal adalah self instruction (semacam modul), independent study, individual prescribed instruction (IPI), dan self paced learning. Selain itu, ada pula bentuk-bentuk program belajar mandiri, seperti student contracts, textbook/workshett, self-learning module (SLM) atau minicourse. 3. Pertemuan tatap muka Pertemuan tatap muka antara beberapa siswa dalam satu kelompok dan pengajar menjadi tekanan di sini, seperti berdiskusi, tukar menukar, pengajaran klasikal, memecahkan masalah bersama tentang hasil belajar dari pengajaran klasikal, dan belajar mandiri. Semuanya dapat diperbincangkan bersama dalam kegiatan belajar-mengajar. Kegiatan Pembelajaran 1. Pendahuluan Pendahuluan merupakan kegiatan awaldalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan untuk membangkitkan motivasi dan

32 menfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. 2. Inti Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar. Kegiatan pembelajaran dilakukan secara interakti, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan ini dilakukan secara sistematis melalui proses eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi. 3. Penutup Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktrivitas pembelajaran yang dapat dialkukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut. Kesimpulan dari hal di atas adalah: Hal-hal apa saja yang perlu diajarkan kepada sekelompok siswa. Hal-hal apa saja yang perlu dipelajari oleh siswa untuk belajar mandiri sesuai kemampuan siswa Media Pembelajaran (Instruksional Resource) Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan media yaitu: Apakah media itu akan dipergunakan klasikal atau belajar sendiri? Apakah media yang dibuat memerlukan presentasi grafis, seperti desai, flowcart, atau caption? Apakah medial visual yang akan ditampilkan diam atau bergerak? Jika media visual diam, apakah di display atau diproyeksikan? Jika bergerak, apakah berupa film 16mm, 8mm, tau video tape? Apakah media visual akan dilengkapi dengan rekaman suara yang terpisah atau terpadu tetapi dalam bentuk variasi? Jika mempergunakan lebih dari satu media sekaligus bagaiman cara mempergunakan?

33 Apakah media tersebut akan dipergunakan oleh pengajar atau oleh siswa? Jika akan memutar film, proyektor yang akan dipergunakan film 8mm atau 16mm? Juga perhatikan biaya? 8. Pelayanan Penunjang (support Service) Adapun petugas yang menunjang mulai dari peencanaan desain sampai dengan tuntasnya pelaksanaan program secara menyeluruh dan lengkap adalah: a. Tenaga ahli dan pembantu Tenaga ahli seperti 1 orang pengajar, 1 orang perancang (instructional designer), 1 orang ahli media. Tenaga pembantu seperti asisten pengajar, juru foto, graphic artist, kepala bagian perpustakaan, teknisi, asisten laboratorium, tenaga administrasi, pesuruh. b. Pengadaan bahan, bahan-bahan tersebut berupa bahan untuk grafis, rekaman suara, cetak, pratikum laboratorium, buku teks, fotografi, dan lain-lain. c. Ruangan d. Peralatan, pemilihan peralatan hendaknya berdasarkan efisiensi dan diusahakan semurah-murahnya. Peralatan bias berupa proyektor, tape recorder, kamera, alat-alat laboratorium, alat-alat tulis kantor, dan lainlain. e. Penjadwalan waktu Jadwal pengajaran atau jadwal belajar termasuk asisten Jadwal pemakaian ruangan Jadwal dan daftar/pemesanan/peminjaman alat-alat dan buku teks, untuk melayani pengajar atau siswa. Pemasangan atau instalasi peralatan, display, dan lain-lain. 9. Ukuran Pencapaian (Standard of Achievement) Ada dua macam cara mengukur pencapaian hasil belajar siswa, yaitu dengan:

34 Norm referenced testing, yaitu dikategorikan orang sebagai cara lama karena pencapaian siswa ukurannya sangat relative, kurang ada alasan yang kuat untuk dikatakan baku karena hasil belajar seorang siswa hanya dibedakan dengan hasil yang dicapai oleh teman sekelasnya atau rata-rata pada satu sekolah dibandingkan dengan hasil rata-rata sekolah lain. Criterion referenced testing, yaitu cara yang dikehendaki dalam rangka proses belajar mengajar dengan menggunakan desain system instruksional. Penguasaan belajar tuntas pada dasarnya adalah demikian, yaitu tiap siswa diharapkan dapat mencapai seluruh tujuan belajar yang telah ditentukan sebelumnya dengan jelas dan rinci. Menilai tujuan belajar kognitif Tes tertulis bias berbentuk tes objektif dan esay. Macam tes objektif biasanya berupa: benar salah, menjodohkan, mengisi jawaban pendek, dan multiple choice. Menilai tujuan belajar psikomotor Tujuan belajar psikomotorik bersifat keterampilan (motor skill). Jadi tujuan belajarnya adalah siswa dapat/terampil mengerjakan sesuatu. Menilai tujuan belajar afektif Menilai tujuan belajar siswa yang berhubungan dengan sikap dan nilai, perlu dikumpulkan data siswa dengan berbagai cara, misalnya dengan: Meneliti tingkah laku siswa Mendengarkan pendapat dan komentar siswa Mengajukan pertanyaan tertulis dengan jawaban rentangan