I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAGIAN 3-2 KLASIFIKASI TANAH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

MODUL 4,5. Klasifikasi Tanah

KOMPOSISI TANAH. Komposisi Tanah 2/25/2017. Tanah terdiri dari dua atau tiga fase, yaitu: Butiran padat Air Udara MEKANIKA TANAH I

BAB III LANDASAN TEORI

MEKANIKA TANAH SIFAT INDEKS PROPERTIS TANAH MODUL 2. UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bintaro Sektor 7, Bintaro Jaya Tangerang Selatan 15224

KLASIFIKASI TANAH SI-2222 MEKANIKA TANAH I

PENGARUH PENAMBAHAN PASIR PADA TANAH LEMPUNG TERHADAP KUAT GESER TANAH

PERBAIKAN TANAH DASAR JALAN RAYA DENGAN PENAMBAHAN KAPUR. Cut Nuri Badariah, Nasrul, Yudha Hanova

Modul (MEKANIKA TANAH I)

BAB VI PLASTIS LIMIT DAN LIQUID LIMIT. a. Craig, RF. Mekanika Tanah. BAB I Klasifikasi Dasar Tanah : Plastisitas Tanah Berbutir Halus.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

MEKANIKA TANAH KLASIFIKASI DARI SIFAT TANAH MODUL 3. UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bintaro Sektor 7, Bintaro Jaya Tangerang Selatan 15224

TINJAUAN SIFAT PLASTISITAS TANAH LEMPUNG YANG DISTABILISASI DENGAN KAPUR ABSTRAKSI

PENENTUAN NILAI CBR DAN NILAI PENYUSUTAN TANAH TIMBUNAN (SHRINKAGE LIMIT) DAERAH BARITO KUALA

BAB III LANDASAN TEORI

III. METODE PENELITIAN. 2. Air yang berasal dari Laboratorium Mekanika Tanah Fakultas Teknik

BAB IV HASIL PEMBAHASAN DAN PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanah lanau

BAB III METODE PENELITIAN

PENGARUH PENAMBAHAN ABU AMPAS TEBU TERHADAP KUAT GESER TANAH LEMPUNG YANG DISTABILISASI DENGAN KAPUR

METODE PENELITIAN. 1. Sampel tanah yang digunakan merupakan tanah lempung lunak yang

III. METODE PENELITIAN. Sampel tanah yang diambil meliputi tanah tidak terganggu (undistrub soil).

STUDI SIFAT FISIK TANAH ORGANIK YANG DISTABILISASI MENGGUNAKAN CORNICE ADHESIVE. Iswan 1) Muhammad Jafri 1) Adi Lesmana Putra 2)

PENGARUH SIKLUS BASAH KERING PADA SAMPEL TANAH TERHADAP NILAI ATTERBERG LIMIT

Proses Pembentukan Tanah

DAFTAR ISI. TUGAS AKHIR... i. LEMBAR PENGESAHAN... ii. LEMBAR PENGESAHAN PENDADARAN... iii. PERNYATAAN... iv. PERSEMBAHAN... v. MOTTO...

METODE PENELITIAN. Sampel tanah yang digunakan berupa tanah lempung anorganik yang. merupakan bahan utama paving block sebagai bahan pengganti pasir.

BAB III LANDASAN TEORI. saringan nomor 200. Selanjutnya, tanah diklasifikan dalam sejumlah kelompok

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengujian sifat fisik tanah adalah sebagai pertimbangan untuk merencanakan dan

PENGARUH PENAMBAHAN PASIR PADA TANAH LEMPUNG TERHADAP KUAT GESER TANAH

BAB IV HASIL PEMBAHASAN DAN ANALISIS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

III. METODOLOGI PENELITIAN. ini seperti mengumpulkan hasil dari penelitian terdahulu yang berkaitan

gambar 3.1. teriihat bahwa beban kendaraan dilimpahkan ke perkerasan jalan

METODE PENELITIAN. 3. Zat additif yaitu berupa larutan ISS 2500 (ionic soil stabilizer).

UJI BATAS BATAS ATTERBERG ASTM D

HASIL DAN PEMBAHASAN. (undisturb) dan sampel tanah terganggu (disturb), untuk sampel tanah tidak

METODE PENELITIAN. Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini diantaranya : 1. Sampel tanah yang digunakan berupa tanah lempung yang berasal dari

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PENGUJIAN MATERIAL TANAH GUNUNG DESA LASOSO SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN TIMBUNAN PILIHAN PADA PERKERASAN JALAN

BAB IV HASIL PENELITIAN. dilakukan di laboratorium akan dibahas pada bab ini. Pengujian yang dilakukan di

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 3 LANDASAN TEORI 3.1. Stabilisasi Tanah 3.2. Analisis Ukuran Butiran 3.3. Batas-batas Atterberg

III. METODE PENELITIAN. Lokasi pengambilan sampel tanah lempung berpasir ini berada di desa

STUDI LABORATORIUM DALAM MENENTUKAN BATAS PLASTIS DENGAN METODE FALL CONE PADA TANAH BUTIR HALUS DI WILAYAH BANDUNG UTARA

III. METODE PENELITIAN. Bahan bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain : 1. Sampel tanah yang digunakan berupa tanah lempung Rawa Sragi,

III. METODE PENELITIAN. Sampel tanah yang diambil meliputi tanah terganggu (disturb soil) yaitu tanah

III. METODE PENELITIAN. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

BAB III LANDASAN TEORI

PENGUJIAN PARAMETER KUAT GESER TANAH MELALUI PROSES STABILISASI TANAH PASIR MENGGUNAKAN CLEAN SET CEMENT (CS-10)

SIFAT-SIFAT FISIS DAN MEKANIS TANAH TIMBUNAN BADAN JALAN KUALA KAPUAS

I. PENDAHULUAN. tanggul, jalan raya, dan sebagainya. Tetapi, tidak semua tanah mampu mendukung

BAB II HUBUNGAN FASE TANAH, BATAS ATTERBERG, DAN KLASIFIKASI TANAH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI. terhadap obyek yang akan diteliti, pengumpulan data yang dilakukan meliputi:

METODE PENELITIAN. 1. Sampel tanah yang digunakan berupa tanah lempung yang berasal dari. daerah Karang Anyar, Lampung Selatan.

Cara uji penentuan batas plastis dan indeks plastisitas tanah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Mulai

BAB III METODOLOGI. langsung terhadap obyek yang akan diteliti, pengumpulan data yang dilakukan meliputi. Teweh Puruk Cahu sepanajang 100 km.

Spesifikasi agregat untuk lapis fondasi, lapis fondasi bawah, dan bahu jalan

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR-DASAR ILMU TANAH ACARA III DERAJAT KERUT TANAH

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengujian sampel tanah asli di laboratorium didapatkan hasil :

III. METODE PENELITIAN. Lokasi pengambilan sampel tanah lempung lunak ini berada di Rawa Seragi,

ANALISA PENGGUNAAN TANAH KERIKIL TERHADAP PENINGKATAN DAYA DUKUNG TANAH UNTUK LAPISAN KONSTRUKSI PERKERASAN JALAN RAYA

TINJAUAN VARIASI DIAMETER BUTIRAN TERHADAP KUAT GESER TANAH LEMPUNG KAPUR (STUDI KASUS TANAH TANON, SRAGEN)

SIFAT-SIFAT FISIK TANAH 2

PEMANFAATAN LIMBAH PLASTIK UNTUK STABILITAS LERENG

BATAS SUSUT. Kadar air, w= 100% 89.63

Pengaruh Kandungan Material Plastis Terhadap Nilai CBR Lapis Pondasi Agregat Kelas S

TINJAUAN KUAT TEKAN BEBAS DAN PERMEABILITAS TANAH LEMPUNG TANON YANG DISTABILISASI DENGAN KAPUR DAN FLY ASH. Tugas Akhir

ANALISIS PENINGKATAN NILAI CBR PADA CAMPURAN TANAH LEMPUNG DENGAN BATU PECAH

BAB I PENDAHULUAN. dari bebatuan yang sudah mengalami pelapukan oleh gaya gaya alam.

Revisi SNI Daftar isi

KARAKTERISTIK TANAH LEMPUNG EKSPANSIF (Studi Kasus di Desa Tanah Awu, Lombok Tengah)

III. METODE PENELITIAN. yang berasal dari Sukarame, Bandar Lampung. Serta cornice adhesive atau

I. PENDAHULUAN. bangunan, jalan (subgrade), tanggul maupun bendungan. dihindarinya pembangunan di atas tanah lempung. Pembangunan konstruksi di

III. METODOLOGI PENELITIAN

kelompok dan sub kelompok dari tanah yang bersangkutan. Group Index ini dapat

III. METODE PENELITIAN. paralon sebanyak tiga buah untuk mendapatkan data-data primer. Pipa

STABILISASI TANAH LEMPUNG LUNAK MENGGUNAKAN KOLOM KAPUR DENGAN VARIASI JARAK PENGAMBILAN SAMPEL

POKOK BAHASAN II KLASIFIKASI TANAH DASAR (SUBGRADE) DENGAN CARA AASHTO

III. METODOLOGI PENELITIAN. Untuk memperoleh hasil penelitian yang baik dan sesuai, maka diperlukan

METODE PENELITIAN. Tanah yang akan diuji adalah jenis tanah lanau yang diambil dari Desa

PEMANFAATAN LIMBAH PABRIK GULA (ABU AMPAS TEBU) UNTUK MEMPERBAIKI KARAKTERISTIK TANAH LEMPUNG SEBAGAI SUBGRADE JALAN (059G)

BAB II LANDASAN TEORI

III. METODOLOGI PENELITIAN. Sampel tanah yang akan diuji adalah tanah yang diambil dari Desa Rawa

III. METODE PENELITIAN. Tanah yang akan diuji adalah jenis tanah berbutir halus dari Yoso Mulyo,

TINJAUAN KUAT DUKUNG, POTENSI KEMBANG SUSUT, DAN PENURUNAN KONSOLIDASI TANAH LEMPUNG PEDAN KLATEN. Abstraksi

PENGARUH PENAMBAHAN TANAH GADONG PADA STABILISASI TANAH LEMPUNG TANON DENGAN SEMEN (Studi Kasus Kerusakan Jalan Desa Jono, Tanon, Sragen)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengujian kadar air menggunakan tanah terganggu (disturbed), dilakukan

KAJIAN EFEKTIFITAS SEMEN DAN FLY ASH DALAM STABILITAS TANAH LEMPUNG DENGAN UJI TRIAXIAL CU DAN APLIKASI PADA STABILISASI LERENG ABSTRAK

Tanah dan Batuan. Definisi. TKS 4406 Material Technology I

TANYA JAWAB SOAL-SOAL MEKANIKA TANAH DAN TEKNIK PONDASI. 1. Soal : sebutkan 3 bagian yang ada dalam tanah.? Jawab : butiran tanah, air, dan udara.

III. METODE PENELITIAN. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanah lanau

Transkripsi:

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanah adalah material bumi yang menjadi media tempat hidupnya organisme. Tanah digunakan sebagai tempat berpijak dan tumbuh. Tanaman adalah contoh makhluk hidup yang langsung berinteraksi dan bergantung hidup pada keadaan tanah. Secara umum, bagi tanaman tanah berfungsi untuk menopang tumbuh dan berdiri tegak tanaman itu sendiri. Selain itu, tanah berfungsi sebagai penyedia bahan makanan seperti unsur hara, mineral dan air. Tanah terbentuk secara alami melalui pelapukan bahan induk, seperti batu-batuan induk. Ilmu yang pembelajarannya mengenai proses pembentukan tanah dan manfaatnya adalah pedologi. Sedangkan proses pembentukan tanah serta unsur-unsur yang mempengaruhinya disebut Pedogenesis. Unsur atau faktor yang mempengaruhi pembentukan tanah, antara lain; iklim, topografi, bahan induk, waktu dan jasad hidup. Bagian-bagian tanah antara lain lapisan-lapisan tanah yang terbentuk atau tingkatan tanah, profil tanah; yaitu topsoil (tanam tempat dimana organisme tumbuh dan berkembang), sobsoil (tanah muda yang masih dalam tahap perkembangan, dan bahan induk tanah). Dalam tanah dikenal istilah kadar lengas tanah, yaitu kandungan kadar air dalam tanah yang akan dimanfaatkan oleh tanaman, kadar lengar ini dipengaruhi oleh besar kecilnya pori tanah. Tanah itu sendiri terdiri dari 3 fraksi, antara lain; pasir (fraksi yang paling kasar dan memiliki porimakro), debu (fraksi berukuran sedang), lempung (fraksi paling halus dan didominasi pori mikro). Apabila pori makro dominan maka derasenya baik sedangkan drainasenya buruk, dan sebaliknya. Tekstur geluh adalah tanah yang kadar ketiga fraksinya (pasir, debu, lempung) dalam keadaan seimbang. Tanah yang baik untuk tanaman adalah tanah dengan tekstur geluh dan berkomposisi; 20-30% air, 20-30% udara, 45% mineral dan 5% bahan organik.

Batas plastis adalah batas antara tanah dengan keadaan semi plastis dan tanah dengan keadaan plastis. Metode penentuan batas plastis dikembangkan oleh Casagrade (1932). Terdapat empat bentuk tanah yaitu padat, semi-padat, plastis dan cair. Pada setiap bantuk terdapat perbedaan perilaku dan sifat-sifat mekanisnya. Batas yang menunjukan perbedaan bantuk ini dinyatakan berdasarkan perubahan perilaku atau sifat tanah. Tanah liat dan lanau bereaksi terhadap perubahan kandungan air. Reaksi terlihat dari perubahan gaya geser, pemadatan dan pemanjangan partikel tanah. Dengan metode batas plastis dapat ditentukan batas antara tanah liat dan lanau maupun tipe-tipe lain yang merupakankombinasi keduanya. Batas plastis dikenal juga dengan Attenberg Limits, yang digunakan untuk membedakan bentuk-bentuk tanah. Batas atau metode ini dikembangkan oleh seorang ilmuwan Kimia asal Swedia bernama Albert Atterberg. Metode ini kemudian disempurnakan oleh Artur Casagrande. Metode pengujian ini berguna untuk menguji gaya geser tanah dan perubahan pada tanah berupa pemadatan maupun penggemburan karena perubahan kelembapan. Uji ini digunakan khususnya dalam bidang struktur dan pekerjaan sipil untuk memastikan daya dukung tanah tidak berubah. A. Tujuan Praktikum uji plastisitas ini bertujuan untuk mengetahui dan menetapkan batas plastis dalam suatu contoh tanah. II. TINJAUAN PUSTAKA

Tanah merupakan hasil transformasi zat zat mineral dan organic dii muka daratan bumi. Tanah terbentuk di bawah pengaruh factor factor lingkungan yang bekerja dalam masa yang sangat panjang. Tanah mempunyai organisasi dan morfologi. Tanah merupakan media bagii tumbuhan tingkat tinggi dan pangkal hidup bagi hewan dan manusia. Tanah merupakan system ruang, waktu, bermakna empat (Sutanto, 2005). Tanah merupakan hasil transformasi zat zat mineral dan organic dii muka daratan bumi. Tanah terbentuk di bawah pengaruh factor factor lingkungan yang bekerja dalam masa yang sangat panjang. Tanah mempunyai organisasi dan morfologi. Tanah merupakan media bagii tumbuhan tingkat tinggi dan pangkal hidup bagi hewan dan manusia. Tanah merupakan system ruang, waktu, bermakna empat (Sutanto, 2005). Batas plastisitas adalah kadar air minum dimana suatu tanah masih dalam keadaan plastis. Batas plastis suatu tanah merupakan kadar air dimana suatu tanah berubah sifatnya dari keadaan plastis menjaadi seri paralel. Berdasarkan besaran batas plastis biasanya yang digunakan: Menentukan jenis taah Menentukan sifat tanah Klasifikasi tanah Batas plastisitas dihitung berdasarkan presentasi berat air terhadap berat tanah. (Prawirohartono.1994) Pengujian plastisitas atau batas plastisitas bertujuan untuk menentukan batas terendah kadar air ketika tanah tersebut dalam keadaan plastis.pengujian batas plastis bertujuan untuk menentukan nilai dan baats cair suatu sampel tanah uji, nilai dari batas plastis dan bahan cair ini digunakan untuk mendapatkan nilai indeks plastis tanah sehingga akan dapat diketahui bagaimana keadaan tanah tersebut apakah baik atau tidak.(mader,s.s.2004). Konsistensi tanah menunjukkan tahanan daya kohesi atau adhesi butir-butir tanah dengan benda lain. Hal ini ditunjukkan oleh daya tahan tanah terhadap gaya yang akan merubah bentuk (deformasi). Gaya tersebut misalnya pencangkulan, pembajakkan dan sebagainya. (Hardjowigeno, 1995).

a. Indeks Plastisitas (Plasticity Indeks) Indeks plastisitas (PI),adalah selisih batas cair dan batas plastis. PI = LL PL Indeks plastisitas (PI) merupakan interval kadar air dimana tanah masih bersifat plastis. Karena itu, indeks plastisitas menunjukkan sifat keplastisan tanah. Jika tanah mempunyai (PI) tinggi, maka tanah mengandung banyak butiran lempung dan jika tanah mepunyai (PI), rendah,seperti lanau, sedikit penurangan kadar air berakibat tanah menjadi kering. b. Indeks Cair (Liquidity Indeks) Kadar air tanah asli relative pada kedudukan plastis dan cair dapat didefinisikan oleh indeks cair (liquidity indeks),li, dan dinyatakan menurut persamaan : wn PL wn PL LI = = LL PL PI Dengan : Wn = Kadar air dilapangan Jika Wn = LL, maka LI = 1,sedangkam jika Wn = PL,maka LI = 0. Jadi untuk lapisan tanah asli yang didalam kedudukan plastis. nilai LL >Wn > PL.Jika kadar air bertambah dari PL menuju LL,maka LI bertambah dari 0 sampai 1. lapisan tanah asli dengan wn > LI,akan mempunyai LL > 1. Tapi jika wn kurang dari PL,LI akan negative. c. Klasifikasi tanah Hasil penyelidikan sifat-sifat ini kemudian dapat digunakan untuk mengevaluasi masalah-masalh tertentu seperti : 1. Penentuan penurunan bangunan, yaitu dengan menentukan kompresibilitas tanah. Drai sini, selanjutnya digunakan dalam persamaan penurunan berdasarkan pada teori konsolidasi, misalnya teori terzaqhi 2. Penentuan kecepatan air yang mengalir lewat benda uji guna menghitung koefisien permeabilitas, dari sini kemudian dihubungkan dengan hokum DarCy dan jarring arus (flow net),untuk menentukan debit aliran yang lewat pada struktur tanah.

3. Untuk mengevaluasi stabiitas tanah yang miring, yaitu dengan menentukan kuat gaser tanah, dari sini kemudian disubtitusikan dalam rumus statiska (Stabilitas lereng). Klasifikasi tanah sangat membantu perancang dalam memberikan pengarahan melalui cara empiris yang tersedia dari hasil pengalaman yang telah lalu. Tetapi, perancang harus berhati-hati dalam penerapannya, karena penyesuaian stabilitas, kompresi (penurunan), aliran air yang didasarkan pada klasifikasi tanah sering menimbulkan kesalahan. Umumnya klasifikasi tanah didasarkan atas ukuran partikel yang diperoleh dari analisis saringan dan uji sedimentasi kemudian juga plastisitas. Terdapat dua system klasifikasi yang sering digunakan, yaitu Unifield Soil Clasification Sistem dan AASHTO (American Assoction Of State Highway And Transfortation Officials). Sistem-sistem ini mnggunakan sifat-sifat indeks tanah yang sederhana seperti distribusi ukuran butiran, batas air cair dan indeks plastisitas. d. Sistem Klasifikasi Unifield Pada system unifield, tanah diklasifikasikan kedalam tanah berbutir kasar (kerikil dan pasir), jika kurang dari 50 % lolos saringan nomor 200, dan sebagai tanah berbutir halus (lanau/lempung), jika lebih dari 50% lolos saringan nomor 200. Selanjutnya, tanah diklasifikasikan dalam sejumlah kelompok atau sub kelompok. Simbol-simbol yang dapat digunakan : G = Kerikil (gravel) S = Pasir (Sand) C = Lempung (Clay) M = Lanau (Silt) O = Lanau atau lempung organik (Organik Silt Or Clay) Pt = Tanah gambut dan tanah organic tinggi (Peat And Highly Organiks Soil) W = Gradasi baik (Well-Graded) P = Gradasi buruk (Poorly-Graded) H = Plastisitas tinggi (High-Plasticity)

L = Plastisitas rendah (Low-Plastisitas) e. Sistem Klasifikasi AASHTO Sistem klasifkasi AASHTO (American Association Of State Highway And Transportation) Berguna untuk menentukan kwalitas tanah untuk perencanaan timbunan jalan, Subbase dan Subgrade. Sistem klasifikasi AASTHO membagi tanah kedalam 8 kelompok, A-1 sampai A-8 termasuk sub-sub kelompok. Tanah-tanah dalam tiap kelompoknya dievaluasi terhadap indeks kelompoknya yang dihitung dengan rumus-rumus empiris. Pengujian yang digunakan adalah analisis saringan batas-batas Atterberg. Indeks kelompok (Group indeks)(gi) Digunakan untuk mengevaluasi lebih lanjut tanah-tanah dalam kelompoknya. Indeks kelompok dihitung dengan persamaan : GI = (F-35)[0,2 + 0,005)(LL-40)]+0,01 (F-15)(PI-10) Dengan: GI = Indeks kelompok (group indeks) F = Persen butiran lolos saringan no.200(0,75 mm) LL = Batas cair Pi = Indeks plastisitas f. batas cair (liquid limit) Batas cair (LL),didefiisikan sebagai kadar air tanah pada batas antara keadan cair dan keadan plastis, yaitu baas atas dari daerah plastis, Batas cair biasanya ditentukan dari uji Casagrand test (1948). g. Batas Plastis (Plastic Limit)

Batas plastis (PL), didefinisikan sebagai kadar air pada kedudukan antara daerah plastis dan semi padat, yaitu persentase kadar air dimana tanah dengan diameter selinder 3,2 mm mulai retak-retak ketika digulung. h. Batas Susut (Shringkage Limit) Batas susut (SL), didefinisikan sebagai kadar air pada kedudukan antara daerah semi padat dan padat, yaitu persentase kadar airdimana pengurangan kadar air selanjutnya tidak mengakibatkan perubahan volume tanah. Percobaan batas susut dilaksanakan dalam laboratorium dengan cawan porselin diameter 44,4 mm dengan tinggi 12,7 mm. Bagian dalam cawan dilapisi dengan pelumas dan diisi dengan tanah jenuh sempurna. Kemudian dikeringkan dalam oven, volume ditentukan dengan mencelupkannya dengan air raksa. Batas susut dinyatakan dalam persaman : SL = { ( M1 M 2) M 2 ( V1 V 2). γw M 2 } 100% Dengan : m1 = Berat tanah basah dalam cawan percobaan (g) m2 = Bert tanah kering dalam oven (g) v1 = Volume tanah basah dalam cawan (cm 3 ) v2 = Volume tanah kering dalmam oven (cm 3 ) γ w = Berat volume air (g/cm 3 ) Hubungan variasi kadar dan volume total tanah pada kedudukan batas cair, batas plastis dan batas susut. Batas-batas atterberg sanagat berguna untuk identifikasi dan klasifikasi tanah. Batas-batas ini sering digunakan secara langsung dalam spesifikasi, guna mengontrol tanah yang akan digunakan untuk membangun stuktur urugan tanah. III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

A. Tempat dan Waktu Tempat dilaksanakan percobaan uji plastisitas di Laboratorium Jurusan Teknologi Pertanian, Universitas Sriwijaya pada tanggal 7 November 2013 pukul 14.00 WIB hingga selesai. B. Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam praktikum adalah: 1) Kaca, 2) Oven, 3) Cawan, 4) Loyang, 5) Spidol, 6) Timbangan Digital, 7) Desikator, 8) Sprayer, 9) Saringan, dan 10) Tempayan. Bahan yang digunakan dalam praktikum kadar air ini adalah sample tanah dan air. C. Cara Kerja Cara kerja dalam praktikum plastisitas adalah sebagai berikut : 1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan. 2. Keluarkan sampel/contoh tanah dari dalam oven. 3. Timbang berat cawan kosong. 4. Hancurkan dan haluskan sampel/contoh tanah per lapisan tanah sehingga menjadi serbuk. 5. Saring dengan menggunakan saringan untuk memisahkan antara agregat kasar dan agregat halus. 6. Sampel/contoh tanah yang telah menjadi serbuk (agregat halus) dibasahi air dengan cara diseprotkan dengan menggunakan sprayer sampai homogen. 7. Metode menggeleng dilakukan dengan tangan, geleng benda uji dengan telapak tangan atau jari pada plat kaca dengan tekanan yang cukup untuk menggeleng benda uji menjadi beberapa gelengan kecil dengan diameter dan panjang yang sama. Dengan diameter 3 mm. Penggelengan berhenti dilakukan jika terjadi retakan.

8. Timbang berat basah hasil gelengan tersebut yaitu per lapisan dengan tiga buah sampel tanah. 9. Oven pada suhu 110 o C selama 24 jam. 10. Keluarkan dari oven lalu dinginkan di desikator. Masukkan ke dalam desikator ± 15 menit. 11. Timbang berat kering hasil gelengan tersebut yaitu per lapisan dengan tiga buah sampel. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil

A. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Sampel Berat Cawan BTB BTK 1 BTK 2 BTK 3 Rata-rata BTK 1 5.4620 5.8496 5.8472 5.8448 5.8424 5.8448 2 5.4925 5.6940 5.6868 5.6796 5.6724 5.6896 3 5.6072 5.6739 5.6708 5.8677 5.8648 5.8010 4 5.3322 5.7704 5.7676 5.7641 5.7613 5.7643 5 5.5346 5.8445 5.8415 5.8385 5.8355 5.6963 Perhitungan Sampel 1 Kadar Air Basis Basah = KA = x 100% = 1.892744 % Sampel 2 KA = x 100% = 12.00667 % Sampel 3 KA = x 100% = -74.1071 % Sampel 4 KA = x 100% = 2.120718 % Sampel 5 KA = x 100% = 2.991027 % B. Pembahasan

Batas cair merupakan salah satu titik perubahan / transisi dari keadaan tanah yang digolongkan oleh sifat mekanik dan tergantung kepada kadar airnya (Asep, 1990). Definisi lain dari batas cair adalah kadar air minimum di mana sifat suatu tanah berubah dari keadaan cair menjadi plastis. Besaran batas cair digunakan untuk menentukan sifat dan klasifikasi tanah ( Lexono, 2009). Menurut Panduan SNI (Standar Nasional Indonesia ) 1967:2008 tentang Cara Pengujian Batas Cair Tanah, batas cair tanah adalah kadar air ketika sifat tanah pada batas dari keadaan cair menjadi plastis. Nilai batas cair tanah merupakan besaran kadar air dalam persen yang ditentukan dari 25 ketukan pada pengujian batas cair. Batas plastis merupakan batas antara tanah dengan keadaan semi plastis dan tanah dengan keadaan plastis ( Asep, 1990). ). Menurut Panduan SNI (Standar Nasional Indonesia ) 1967:2008 tentang Cara Pengujian Batas Cair Tanah, batas plastis tanah adalah batas terendah kadar air ketika tanah masih dalam keadaan plastis. Batas Lekat (BL) tanah yang tidak plastis, misal pasir berkadar lengas lebih kecil dari Bcnya. Sebaliknya pada tanah yang plastik misal lempung, akibatnya tanah pasiran bersurplus ( S ) = BL BC = positif, artinya mudah diterusi air. Pada tanah yang plastik, S = negatif, sukar diterusi air. Tapal tanah yang kadar lengasnya diupkan tahap demi tahap, bila ditusuk tepat tidak melekati si alat, dikatakan tanah itu telah mencapai BL-nya. JO = BL BG, bagi tanah pasiran nilainya > JO tanah lempungan. Artinya tanah lempungan lebih sukar bila dicangkul atau dibajak ( WIRJODIHARJO, loc.cit, diubah ). Sedangkan menurut pengertian lain batas lekat adalah kadar air di mana tanah mulai tidak dapat melekat pada benda lain. Bila kadar air lebih rendah dari batas melekat, maka tanah tidak dapat melekat,telah mencapai batas mengalir atau batas melekat tersebut dapat membentuk gulungan atau pita yang tidak mudah patah bila digolek-golekan lagi maka dikatakan bahwa tanah itu plastis. Bila tanah tidak dapat dibentuk pita atau gulungan ( selalu patah ) maka tanah itu disebut tidak plastis ( Hardjowigeno, 2010 ).Berdasarkan percobaan yang dilakukan kadar air yang paling tinggi terdapat pada sample tanah II yaitu 12.00667 %. Dapat diambil kesimpulan bahwa pada sample tersebut tanah memeliki sifat plastis yang baik. V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan 1. batas lekat adalah kadar air di mana tanah mulai tidak dapat melekat pada benda lain 2. Indeks plastisitas (PI) merupakan interval kadar air dimana tanah masih bersifat plastis. 3. Pengujian plastisitas atau batas plastisitas bertujuan untuk menentukan batas terendah kadar air ketika tanah tersebut dalam keadaan plastis 4. Data hasil kadar air terbesar dari sampel V yaitu 47,82 %. 5. Jika tanah mempunyai (PI) tinggi, maka tanah mengandung banyak butiran lempung dan jika tanah mepunyai (PI), rendah,seperti lanau, sedikit penurangan kadar air berakibat tanah menjadi kering. 6. Tanah merupakan hasil transformasi zat zat mineral dan organic dii muka daratan bumi. B. Saran Sebaiknya praktikum mengenai plastisitas ini lebih di jelaskan kepada praktikan sehingga lebih memahaminya dan pada saat memasukkan sampel tanah, seluruh sample bertumpuk-tumpuk sehingga bisa membuat semua tidak tersusun rapi. VI. DAFTAR PUSTAKA

Anonimc. 2013. Lexono.2009. Metode Pengujian Batas Cair. http://lexonos.blogspot.com/2009/03/metode-pengujian-batas-cairdenganalat.html (. Online (diakses pada 10 november 2013). Anonimc.Dede, 2013.Pengamatan Tanah Dengan Indra. http://de-dehouse.blogspot.com/2012/04/laporan-pengamatan-tanah-denganindra.html. online (diakses pada 10 november 2013). Anonomc.Pipit. 2013. Ilmu Tanah (Struktur, tekstur dan warna tanah), http://pipitchan2905.blogspot.com/2011/11/laporan-praktikum-ilmu-tanahstruktur.html.online (di ases pada 10 november 2013). Das BM.1995.Mekanika Tanah (Prinsip-PrinsipRekayasa Geoteknis).Penerbit Erlangga. Jakarta. Hardjowigeno, Sarwono. 2010. Ilmu Tanah. Akademika Presindo : Jakarta Hardjowigeno, Sarnono. 1992. Ilmu Tanah. Jakarta : Maduatama Sarana Pratama. Lembaga Penelitian Tanah. 1979. Penuntun Analisa Fisika Tanah. Bogor : Lembaga Penelitian Tanah. http://cukipz.blogspot.com/2011/01/pengaruh-tegangan-overburden-efektif.html, diakses tanggal 4 November 2011. Sarief Saifudin.1985.Ilmu Tanah Pertanian. Penerbit CV Pustaka Buana. Bandung. Soedarmo, Herujip dan Prayoto Djojoprawiro. 1988. Fisika Tanah Dasar. Jurusan Konservasi Tanah dan Air. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Wirustyastuko, Dandi. 2009. Laporan praktikum fisika mekanika tanah plastic limit. http://id.scribd.com/doc/83421933/38410399-fismektan-plastic-limit. Online (diakses pada 3 desember 2012). LAPORAN PRAKTIKUM BIOFISIKA DAN MEKANIKA TANAH

PLASTISITAS OLEH: AGUS LEO SARAGIH 05121002012 TEKNIK PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA Lampiran INDRALAYA 2013

Sampel Tanah Sprayer Kaca Pengayakan tanah Ayakan Penggulungan tanah