PROLOG Dua tahun sudah perjalanan kisah kita, melangkahkan kaki kita menapaki setiap mimpi yang kita rajut demi masa depan bersama. Setiap detik yang kita lalui selalu tampak semakin nyata, menggapai apa yang kita harapkan untuk membangun rumah tangga yang indah. Bukankah kita selalu membayangkan tinggal dalam sebuah atap rumah yang sederhana sambil membesarkan anak-anak kita berdua, melihat mereka berlarian di halaman rumah kita yang sederhana. Melihat mereka melangkahkan kaki pertama kali, memanggil dirimu dengan sebutan Bunda dan memanggil diriku dengan sebutan Ayah. Bukankah semua ini menjadi mimpi indah? Lalu mengapa dirinya harus hadir dalam kehidupan cinta kita? Merusak kebahagiaan yang seharusnya hanya menjadi milik kita. Kemana mimpi yang harusnya hanya menjadi milik kita, bukan milik aku, kamu dan dirinya. Lalu, mengapa harus aku yang berselingkuh dengan dirinya. Dia yang selama ini menjadi sahabat terbaikmu. Yah, dia adalah cinta yang terbagi dalam kehidupan aku. Menjadi pedang yang melukai mimpi indah kita. Ah sial aku selingkuh!
Bagian Satu Perempuan itu bernama... Dia adalah sosok angkuh yang tak pernah melihat keberadaanku, sesosok perempuan dingin yang masuk ke dalam ruang kelas dengan celana jeans dan kaos polos berwarna biru cerah. Rambutnya dibiarkan terurai dengan indahnya, tanpa ada senyuman yang tampak di wajahnya. Sosok dinginnya membuai aku terhadap perasaan yang tak dapat diuraikan lewat kata. Aku terpesona akan paras cantiknya dan angkuh sifatnya. Siapa kamu yang menjadi sosok yang begitu angkuh, menjadi sesuatu di dalam mimpi yang tak terjemahkan dalam ruang sadarku. Kenapa pula aku harus jatuh cinta terhadap dirimu, perempuan yang tak aku tahu siapa namanya hingga saat ini. Perempuan yang duduk di hadapanku menjadi tanda tanya besar dalam benakku. Siapa namamu wahai perempuan yang datang secara tiba-tiba dalam hidupku? Menggugurkan pertahananku selama ini, yang tak pernah percaya akan cinta pada pandangan pertama. Lalu mengapa harus kamu yang membuat aku jatuh, jatuh cinta terhadap kamu. 2
Ternyata kamu, perempuan yang bernama Aria, perempuan yang sempat menjadi selalu menjadi tanda tanya dalam hatiku, akhirnya aku tahu siapa namamu. Nama indah itu akhirnya menjadi satu yang terukir dalam hatiku, menjadi cinta dalam hidupku. Dua tahun berlalu tanpa kita sadari, hari-hari yang dilalui menjadi semakin indah ketika kita mencoba menapaki mimpi indah bersama. Membayangkan hidup dalam keluarga kecil yang bahagia dalam atap sederhana. Membayangkan bagaimana kita membesarkan anak-anak kecil yang lucu, melihat langkah pertamanya, mendengarkan mereka memanggil dirimu dengan sebutan Bunda atau berteriak memanggil aku dengan sebutan Ayah dan merenggek meminta dibelikan mainan yang mereka inginkan. Bagaimana bisa aku tak bahagia bersama dengan dirimu, yang selalu tampak indah dalam pesona dirimu. Tempat aku bersandar di kala aku lelah, tempat aku mencurahkan segala rasa yang dalam hati. Dalam diamnya kamu, dalam dinginnya pesonamu aku terhanyut. Meskipun kamu yang selama ini tak pernah mempertanyakan bagaimana aku, tapi cintamu begitu teramat besar bagiku. Dua tahun sudah kita menapaki cerita indah berdua, menjadikan aku dan kamu sebagai kita. Melingkarkan cincin di jari manis kita bersama seperti aku yang melingkarkan cinta di dalam hatimu. Inilah cinta yang mempesonakan aku pada 3
pandangan pertama di dua tahun yang lalu, perempuan dengan sosok angkuh yang menjadi tambatan terakhir aku, yang akan menjadi ibu bagi anak-anakku kelak. Dear Aria, yang tak pernah menjadi penyesalan dalam hariku. Aku merindukan hadirmu yang saat ini sedang pergi jauh, meninggalkan aku demi kerinduanmu terhadap keluargamu. Sampaikan salamku pada kedua orang tuamu, sampaikan rasa hormatku kepada ibu serta ayahmu yang jauh di sana. Semoga suatu saat nanti aku akan mengantarkanmu kesana, meminta izin bagi aku meminang dirimu. Dear Aria, dua minggu sudah kamu meninggalkan aku sendiri di sini dalam sepi. Menikmati senja sendirian yang hanya ditemani secangkir kopi yang biasanya kita bagi bersama. Seketika aku terdiam, terpaku tanpa kata bersama secangkir kopi yang kian mendingin. Kemana sapamu yang biasa hadir dan berubah menjadi peluk bagiku, apakah kamu tak pernah tahu bahwa rindu semakin menggebu tanpa hadirmu. Aku tak menemukan hadirmu yang biasa hangatkan jiwaku seperti matahari pagi yang hangatkan dunia. Aku merindu lagi, karena kesendirian ini menjadi kawanan bagiku. 4
Kesendirian ini menyiksa aku pada akhirnya, biasanya kamu yang hadir dalam setiap detik hidupku. Dalam pagi yang masih dingin ada kamu yang selalu menyapa aku, dalam malam setiap aku akan terlelap ada dirimu tempat aku merebahkan lelahku. Kemudian kamu pergi, pulang dalam peluk Ibumu meninggalkan aku di sini begitu lama. Kenapa kamu tak pulang ke hatiku saat ini, menghangatkan kopi yang semakin lama menjadi kian dingin. 5