128 Universitas Indonesia

dokumen-dokumen yang mirip
DAFTAR PERTANYAAN AUDIT KESELAMATAN KEBAKARAN GEDUNG PT. X JAKARTA

1 Universitas Indonesia

PEDOMAN WAWANCARA ANALISIS PENGELOLAAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN DI RSUP H ADAM MALIK MEDAN. (Kepala keselamatan dan kesehatan kerja di rumah sakit)

BAB 6 HASIL PENELITIAN

AUDIT KESELAMATAN KEBAKARAN DI GEDUNG PT. X JAKARTA TAHUN 2009 SKRIPSI

BAB V PEMBAHASAN. Hasil penelitian yang dilakukan di PT. Asahimas Chemical mengenai

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai risiko bahaya kesehatan, mudah terjangkit penyakit atau

IDENTIFIKASI FASILITAS SAFETY BUILDING SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN KEBAKARAN DI GEDUNG INSTITUSI PERGURUAN TINGGI

kondisi jalur di pusat perbelanjaan di jantung kota Yogyakarta ini kurang BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Lampiran 1 DENAH INSTALASI ICU. Universitas Sumatera Utara

BAB VIII PENUTUP. bahan bakar berasal dari gas berupa: LPG. generator, boiler dan peralatan masak di dapur.

KONDISI GEDUNG WET PAINT PRODUCTION

ANALISIS TIGA FAKTOR DOMINAN SISTEM PROTEKSI AKTIF DAN PASIF SERTA SISTEM TANGGAP DARURAT KEBAKARAN DI GEDUNG VOKASI UI TAHUN 2013

BAB I PENDAHULUAN. monoksida, atau produk dan efek lainnya (Badan Standar Nasional, 2000).

PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT JANTUNG HASNA MEDIKA NOMOR TENTANG PENANGGULANGAN KEBAKARAN DAN KEWASPADAAN BENCANA

BAB II LANDASAN TEORI

ANALISIS UPAYA PENANGGULANGAN KEBAKARAN DI GEDUNG BOUGENVILLE RUMAH SAKIT TELOGOREJO SEMARANG

BAB V PEMBAHASAN. PT. INKA (Persero) yang terbagi atas dua divisi produksi telah

PROSEDUR PEMADAM KEBAKARAN

BAB I PENDAHULUAN. Repository.Unimus.ac.id

TUGAS AKHIR EVALUASI DAN PERENCANAAN SISTEM PROTEKSI KEBAKARAN PADA GEDUNG KANTOR 5 LANTAI PT. RAKA UTAMA. Disusun oleh : PRILIAN YUSPITA

TUGAS AKHIR EVALUASI EMERGENCY RESPONSE PLAN DAN ALAT PEMADAM API RINGAN PADA PT. PHILIPS INDONESIA ADHITYA NUGROHO

PROSEDUR KEADAAN DARURAT KEBAKARAN B4T ( BALAI BESAR BAHAN & BARANG TEKNIK)

W A L I K O T A B A N J A R M A S I N

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Obyek Penelitian

Nama : Bekerja di bagian : Bagian di tim tanggap darurat :

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PERSETUJUAN SURAT PERNYATAAN TENTANG ORISINALITAS KATA PENGANTAR

BAB 1 PENDAHULUAN. Dalam era globalisasi saat ini perkembangan industri di Indonesia

Evaluasi Fungsi Tangga Darurat pada Gedung-gedung di Universitas Negeri Semarang

5/9/2014 Created by PNK3 NAKERTRANS 1

PEDOMAN INDUK PENANGGULANGAN DARURAT KEBAKARAN DAN BENCANA ALAM DI LINGKUNGAN BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

Tabel 5.14 Distribusi Frekuensi Tentang Perberdaan pengetahuan Responden Mengenai Emergency Preparedness Berdasarkan Masa Kerja...

Secara harfiah berarti keteraturan, kebersihan, keselamatan dan ketertiban

BAB I PENDAHULUAN.

BUPATI MALANG BUPATI MALANG,

IDENTIFIKASI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DAN EVALUASI PEMENUHAN PERSYARATAN HUKUM YANG BERLAKU

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB VI PEMBAHASAN. perawatan kesehatan, termasuk bagian dari bangunan gedung tersebut.

BAB IV HASIL DAN ANALISIS Prosedur Perencanaan Sistem Proteksi Kebakaran

BAB I PENDAHULUAN. Pada era globalisasi, sektor industri mengalami perkembangan pesat

ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 : PENDAHULUAN. potensial dan derajat terkena pancaran api sejak dari awal terjadi kebakaran hingga

Ari Wibisono

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang. Bangunan gedung menurut UU RI No. 28 Tahun 2002 adalah wujud fisik hasil

PERSYARATAN BANGUNAN UNTUK PENANGGULANGAN BAHAYA KEBAKARAN

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit pada Pasal 1 ayat

EVALUASI SISTEM PENGAMANAN GEDUNG TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN PADA PROYEK RUMAH SAKIT ST.BORROMEUS

MANAJEMEN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN KEBAKARAN PADA KAPAL PENUMPANG MELALUI UPAYA PERANCANGAN DETEKTOR

gedung bioskop berbeda tingkat kerawanannya dibandingkan dengan perumahan. Jika

6 PEMBAHASAN. 6.1 Kelembagaan Penanggulangan Kebakaran di PPS Nizam Zachman Jakarta. Bagian Tata Usaha. Bidang Tata Operasional

Prosedur Penanggulangan Darurat Kebakaran dan Bencana Alam

MATERI PENUNJANG KULIAH MK UTILITAS: SISTEM PENCEGAH BAHAYA KEBAKARAN JAFT UNDIP. MK UTL BGN : Gagoek.H

TINJAUAN PELAKSANAAN PROGRAM TANGGAP DARURAT KEBAKARAN DI KANTOR SEKTOR DAN PUSAT LISTRIK PAYA PASIR PT PLN (PERSERO) SEKTOR PEMBANGKITAN MEDAN TAHUN

AUDIT SARANA PRASARANA PENCEGAHAN PENANGGULANGAN DAN TANGGAP DARURAT KEBAKARAN DI GEDUNG FAKULTAS X UNIVERSITAS INDONESIA TAHUN 2006

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

BAB VI HASIL PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Dengan adanya kemajuan teknologi yang sangat pesat pada saat ini, hampir

BAB 1 PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia

SISTEM PENANGGULANGAN BAHAYA KEBAKARAN I

EVALUASI SISTEM PENCEGAHAN KEBAKARAN DAN EVAKUASI PADA BANGUNAN ADMINISTRASI TINJAUAN TERHADAP BEBAN API

K3 KEBAKARAN. Pelatihan AK3 Umum

STANDARD OPERATING PROCHEDURE (SOP) KEDARURATAN DI TEKNIK KELAUTAN ITB

DESAIN KESELAMATAN TERHADAP RISIKO KEBAKARAN (FIRE SAFETY ENVIRONMENT AREA) PADA LINGKUNGAN PERUMAHAN & PERMUKIMAN DI DKI JAKARTA.

BAB I PENDAHULUAN. sebuah pemikiran dan upaya dalam menjamin keutuhan baik jasmani maupun

BAB 1 : PENDAHULUAN. industri penyedia jasa angkutan laut seperti pelayaran kapal laut. (1)

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR NOMOR TAHUN 2013 TENTANG PENANGGULANGAN BAHAYA KEBAKARAN

IDENTIFIKASI TINGKAT KEANDALAN ELEMEN-ELEMEN PENANGGULANGAN BENCANA KEBAKARAN GEDUNG PD PASAR JAYA DI DKI JAKARTA

SISTEM DETEKSI DAN PEMADAMAN KEBAKARAN

BUPATI KOTABARU PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTABARU NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN BAHAYA KEBAKARAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB IV INSTALASI SISTEM DETEKSI KEBAKARAN

Lampiran 1 Hasil Penilaian

WALIKOTA BANDAR LAMPUNG PROVINSI LAMPUNG

DAFTAR ISI. SURAT KETERANGAN TUGAS AKHIR...i. SURAT KETERANGAN SELESAI TUGAS AKHIR...ii. ABSTRAK...iii. PRAKATA...iv. DAFTAR ISI...

PROCEDURE PENANGGULANGAN KEADAAN DARURAT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. umumnya, hasil karya dan budaya menuju masyarakat adil dan makmur. Sedangkan secara

BAB I PENDAHULUAN. bangunan kesehatan diklasifisikan bahaya kebakaran ringan, mengingat bahanbahan

ANALISIS RISIKO KEBAKARAN DALAM PEMENUHAN SISTEM TANGGAP DARURAT KEBAKARAN DI UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO SEMARANG TAHUN 2014

WALIKOTA BANDAR LAMPUNG PROVINSI LAMPUNG

- Mengurangi dan mengendalikan bahaya dan resiko - Mencegah kecelakaan dan cidera, dan - Memelihara kondisi aman

WALIKOTA BANDAR LAMPUNG PROVINSI LAMPUNG

Ajeng Wulan Apriyanti 1 Ridwan Zahdi Sjaaf 2

PROCEDURE PENANGGULANGAN KEADAAN DARURAT

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA NOMOR : 16 TAHUN 2012 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN BAHAYA KEBAKARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

FIRE ALARM SYSTEM. Fire alarm menjadi. fire safety pada. prasyarat. gedung (khususnya. High Rise). Alarm haruslah. agar dapat berfungsi.

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2016 TENTANG STANDAR KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PERKANTORAN

INFORMASI TENTANG PROSEDUR PERINGATAN DINI DAN EVAKUASI KEADAAN DARURAT

MITIGASI DAMPAK KEBAKARAN

ANALISA SISTEM PENCEGAHAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN DI FASILITAS INTENSIVE CARE UNIT (ICU) RSUP H. ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2014 TESIS.

BAB III METODE PENELITIAN. untuk mengetahui lebih jelas bagaimana pelaksanaan program tanggap darurat

Perancangan Emergency Response Plan di PT E-T-A Indonesia

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

KEPUTUSAN KEPALA, UPT KEAMANAN, KESEHATAN, KESELAMATAN KERJA DAN LINGKUNGAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG Nomor : 145/K01.2.6/SK/2010

BAB 1 : PENDAHULUAN. sakit juga merupakan pusat pelatihan bagi tenaga kesehatan dan pusat penelitian medik.

PENCEGAHAN KEBAKARAN. Pencegahan Kebakaran dilakukan melalui upaya dalam mendesain gedung dan upaya Desain untuk pencegahan Kebakaran.

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB IV KONSEP PERANCANGAN. Tujuan dari perancangan Pusat Gerontologi di Jawa Barat merupakan

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR,

DAFTAR STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) BIDANG BAHAN KONSTRUKSI BANGUNAN DAN REKAYASA SIPIL

Transkripsi:

BAB 8 PENUTUP 8.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan terhadap audit keselamatan kebakaran di gedung PT. X Jakarta, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Bangunan gedung PT. X merupakan bangunan umum dan perdagangan karena dipakai untuk segala kegiatan kerja, yaitu aktivitas pekerjaan dalam laboratorium dan perkantoran. Potensi bahaya kebakaran pada gedung PT. X termasuk jenis ancaman bahaya kebakaran sedang. Sumber potensi bahaya kebakaran di gedung ini berasal dari instalasi listrik, peralatan laboratorium, panas dari reaksi kimia, bahan kimia yang mudah terbakar, dan tabung gas bertekanan. 2. Gedung PT. X Jakarta telah dilengkapi dengan sistem pencegahan dan penanggulangan kebakaran yang terdiri dari sarana proteksi aktif, sarana penyelamatan jiwa dan manajemen penanggulangan kebakaran. a. Sarana proteksi aktif yang dimiliki oleh gedung PT. X Jakarta antara lain: - Detektor kebakaran. PT. X telah memiliki sistem detektor kebakaran sesuai dengan Perda DKI No. 3 Tahun 1992, Kepmen PU No. 10/KPTS/2000 dan NFPA 72. Jenis detektor kebakaran yang terpasang di area gedung PT. X keseluruhan adalah jenis detektor asap. Tidak terdapat detektor panas sesuai dengan ketentuan NFPA 72. - Alarm Kebakaran PT. X telah memiliki sistem alarm sesuai dengan ketentuan Perda DKI No. 3 Tahun 1992, Kepmen PU No. 10 Tahun 1992 dan NFPA 72. Sistem alarm kebakaran yang terdapat di gedung PT. X terpusat pada master control fire alarm. Alarm terdiri dari 128

129 sistem otomatis dan manual yang dilengkapi dengan suara (audible) dan lampu (visible). Untuk alarm otomatis terhubung dengan sistem detektor panas dan sprinkler. Sedangkan untuk alarm manual tersedia titik panggil manual yang dilengkapi dengan break glass dan ditempatkan di lintasan jalan keluar. Namun, alarm otomatis belum terhubung dengan pos pemadam kebakaran atau suku dinas kebakaran setempat sesuai ketentuan Perda DKI No. 3 Tahun 1992 pasal 29 ayat 2. - Alat Pemadam Api Ringan (APAR) Di seluruh ruangan baik area office maupun laboratorium telah tersedia APAR yang jenis dan klasifikasinya sesuai dengan jenis kebakaran. Hal tersebut telah sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam Perda DKI No. 3 Tahun 1992, Kepmen PU No. 10/KPTS/2000 dan NFPA 10. Pada saat dilakukan penelitian didapatkan 4 buah tabung pemadam yang penempatannya kurang sesuai yaitu terhalang oleh benda lain sehingga sulit untuk menjangkaunya dan juga ada yang belum dilengkapi dengan tanda petunjuk penempatan. - Sprinkler Di semua area gedung PT. X telah dilengkapi oleh instalasi sprinkler. Secara umum sistem sprnkler yang tersedia di area gedung PT. X telah sesuai dengan standar Perda DKI No. 3 Tahun 1992, Kepmen PU No. 10/KPTS/2000 dan NFPA 13. Namun, untuk instalasi sistem sprinkler yang ada di gedung ini belum ada prosedur tertulis untuk rencana pemeriksaan dan pengecekannya seperti yang tercantum dalam NFPA 13. b. Sarana penyelamat jiwa yang terdapat di gedung PT. X terdiri dari: - Sarana Jalan Keluar Gedung PT. X telah memiliki sarana jalan keluar, walaupun tidak secara khusus dipergunakan sebagai jalur evakuasi keadaan darurat karena jalan ini juga biasa dilalui oleh penghuni gedung untuk beraktivitas, namun keberadaannya telah sesuai dengan

130 standar Perda DKI No. 3 Tahun 1992, Kepmen PU No. 10/KPTS/2000 dan NFPA 101. - Tangga Darurat Secara khusus bangunan gedung PT. X tidak dilengkapi dengan tangga darurat, yang terdapat disana merupakan tangga biasa namun keberadaannya dapat dimanfaatkan sebagai tangga darurat. - Petunjuk Arah Keluar Area gedung PT. X telah dilengkapi dengan tanda petunjuk keluar berupa tulisan EXIT berwarna putih dalam boks dengan warna dasar hijau dan tulisan putih dan dilengkapi dengan lampu penerangan dan petunjuk arah sehingga memudahkan saat evakuasi sesuai dengan standar Perda DKI No. 3 Tahun 1992, Kepmen PU No. 10/KPTS/2000 dan NFPA 101. - Pintu Darurat Di gedung PT. X terdapat pintu keluar darurat yang berhubungan langsung dengan area terbuka, hal ini telah sesuai dengan standar Perda DKI No. 3 Tahun 1992, Kepmen PU No. 10/KPTS/2000 dan NFPA 101. - Penerangan Darurat Di setiap ruangan dan lintasan jalan keluar telah dilengkapi dengan lampu penerangan darurat yang menggunakan energi cadangan dari baterai kering sesuai dengan standar Perda DKI No. 3 Tahun 1992, Kepmen PU No. 10/KPTS/2000 dan NFPA 101. - Muster Point Gedung PT. X memiliki area berkumpul berupa area terbuka seseuai dengan ketentuan NFPA 101. Area berkumpul ini berada di halaman depan gedung PT. X. Namun lokasi berkumpul ini terlalu dekat dengan lokasi gedung sehingga bila terjadi keadaaan darurat kebakaran dapat menimbulkan bahaya bagi penghuni.

131 c. PT. X telah memiliki sistem manajemen penanggulangan kebakaran yang terdiri dari organisasi tanggap darurat, prosedur tanggap darurat, dan latihan tanggap darurat yang dilakukan secara rutin berupa latihan pemadam kebakaran dan fire dril sesuai dengan standar NFPA 101. 3. Pihak manajemen PT. X telah memiliki program pemeriksaan dan pemeliharaan sarana kebakaran. Program ini dijalankan oleh departemen HSE PT. X. Untuk pengecekan kondisi master control fire alarm dan tekanan air pada sistem pompa sprinkler dilakukan setiap hari, dan pemeriksaan kondisi APAR dilakukan setiap satu bulan sekali. Hasil pemeriksaan sarana kebakaran ini dicatat dan disimpan sebagai dokumentasi. Pemeriksaan dan pemeliharaan sarana kebakaran yang dilaksanakan oleh PT. X telah sesuai dengan standar NFPA 101. 8.2 Saran Saran yang dapat peneliti sampaikan untuk pihak manajemen PT. X terkait dengan sistem pencegahan dan penanggulangan kebakaran antara lain: 1. Untuk area kerja atau laboratorium yang proses kerjanya banyak menghasilkan asap, sebaiknya jenis detektor asap yang terpasang di area tersebut diganti dengan detektor panas sehingga bila asap yang dihasilkan dari proses analisa di ruang tersebut banyak tidak akan memicu alarm berbunyi. 2. Sebaiknya menambah jumlah alarm di beberapa area termasuk area terbuka (yard/storage) karena di lokasi tersebut belum terdapat alarm kebakaran. Dan juga menambahkan lampu alarm emergency di area slabbing karena di area tersebut memiliki tingkat kebisingan yang cukup tinggi sehingga bunyi alarm tidak terdengar jelas. Penambahan alarm ini dimaksudkan untuk memperingatkan penghuni gedung akan adanya kondisi darurat sehingga dapat melakukan tindakan evakuasi. 3. Sebaiknya pintu keluar darurat dibuat dari bahan yang tidak mudah terbakar supaya akses jalan keluar aman, tidak ikut terbakar sehingga

132 orang tidak terperangkap dalam bangunan dan pintu darurat ini harus dapat dibuka dari arah dalam dengan didorong untuk memudahkan saat evakuasi. Pintu darurat ini tidak boleh dibuka dari arah luar. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan saat evakuasi dan untuk mengamankan jalur evakuasi agar tidak ada orang yang masuk dari arah luar. 4. Anak tangga yang licin sebaiknya ditutup dengan karpet untuk menghindari bahaya jatuh atau terpeleset dan memasang rambu peringatan agar berhati-hati saat menggunakan tangga. 5. Sebaiknya dibuat prosedur kerja pemeriksaan dan pengecekan untuk tiap sarana kebakaran agar lebih optimal dalam mengelola dengan lebih baik semua sarana keselamatan kebakaran yang ada di PT. X termasuk sistem pendokumentasiannya.