PENDAHULUAN Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. ancaman musuh alami dan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi kehidupan kutu lak.

PELUANG INVESTASI USAHA BUDIDAYA KUTU LAK (Laccifer lacca Kerr): STUDI KASUS DI KPH PROBOLINGGO PERUM PERHUTANI UNIT II JAWA TIMUR

PENGARUH WAKTU DAN INTERVAL PENGASAPAN TERHADAP KUALITAS LAK CABANG (Laccifer lacca Kerr) SKRIPSI

PELUANG INVESTASI DAN STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA BUDIDAYA KUTU LAK

I. PENDAHULUAN. Latar Belakang

ISSN No Media Bina Ilmiah 73

BAB I PENDAHULUAN. KAWASAN HUTAN/Forest Area (X Ha) APL TOTAL HUTAN TETAP PROPINSI

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

ANALISIS STRATEGI PEMASARAN OBAT HERBAL BIOMUNOS PADA PT. BIOFARMAKA INDONESIA, BOGOR

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1. Pertumbuhan PDB Kelompok Pertanian di Indonesia Tahun

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang mempunyai peranan

BAB I PENDAHULUAN. angka tersebut adalah empat kali dari luas daratannya. Dengan luas daerah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Neraca perdagangan komoditi perikanan menunjukkan surplus. pada tahun Sedangkan, nilai komoditi ekspor hasil perikanan

1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. kompetitif dan semakin sengit. Persaingan diantara perusahaan-perusahaan

V. TINJAUAN UMUM RUMPUT LAUT DI INDONESIA

I. PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Globalisasi perdagangan internasional memberi peluang dan tantangan bagi

BAB I PENDAHULUAN. hutan. Kegiatan budidaya tersebut diperkirakan akan dapat membawa keuntungan

I PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. perkembangan industrialisasi modern saat ini. Salah satu yang harus terus tetap

I. PENDAHULUAN. penyediaan lapangan kerja, pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, bahan

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR PROVINSI BENGKULU

PENDAHULUAN. Latar Belakang Sarang burung walet yang wujudnya kurang menarik ini merupakan

I. PENDAHULUAN. Pertanian dan sektor-sektor yang terkait dengan sektor agribisnis

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR PROVINSI BENGKULU

I. PENDAHULUAN. ini adalah industri pulp dan kertas. Ada tiga alasan utama yang melatarbelakangi

I. PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR PROVINSI BENGKULU

BAB I PENDAHULUAN. komparatif karena tersedia dalam jumlah yang besar dan beraneka ragam serta dapat

I. PENDAHULUAN. menjadi pemasok hasil pertanian yang beranekaragam yaitu rempah-rempah

BAB I PENDAHULUAN. bumbu penyedap makanan serta obat tradisonal. Komoditas ini juga merupakan

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR PROVINSI BENGKULU

I. PENDAHULUAN. maupun sebagai sumber mata pencaharian sementara penduduk Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. barang (good product) maupun jasa (services product) dan konservasi. Produk

BAB I PENDAHULUAN. Diversifikasi pangan merupakan program alternatif yang digunakan dalam

Pi sang termasuk komoditas hortikultura yang penting dan sudah sejak. lama menjadi mata dagangan yang memliki reputasi internasional.

HASIL DAN PEMBAHASAN. Teknik Tanaman Inang Dan Budidaya Kutu Lak Teknik kultur lak terdiri dari budidaya tanaman inang dan budidaya kutu

I. PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

Pemanfaatan jenis sumberdaya hayati pesisir dan laut seperti rumput laut dan lain-lain telah lama dilakukan oleh masyarakat nelayan Kecamatan Kupang

Evaluasi Produktivitas Kutu Lak, Laccifer lacca Kerr. (Hemiptera: Kerridae) pada Tiga Jenis Tanaman Inang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tabel 1. Hortikultura

IDQAN FAHMI BUDI SUHARDJO

Perkembangan Nilai Ekspor dan Impor Industri Pengolahan Tahun 2016

I. PENDAHULUAN. Karet di Indonesia merupakan salah satu komoditas penting perkebunan. selain kelapa sawit, kopi dan kakao. Karet ikut berperan dalam

PENDAHULUAN. Gambir adalah sejenis getah yang dikeringkan. Gambir berasal dari. (Uncaria gambir Roxb.). Menurut Manan (2008), gambir merupakan tanaman

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

Perkembangan Nilai Ekspor dan Impor Industri Pengolahan Tahun 2016

I. PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

PROSPEK TANAMAN PANGAN

I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris dengan keanekaragaman sumberdaya hayati yang tinggi. Sektor pertanian merupakan

I. PENDAHULUAN. Saat ini perikanan tangkap di Indonesia telah mengalami gejala padat tangkap

V. GAMBARAN UMUM RUMPUT LAUT. Produksi Rumput Laut Dunia

I. PENDAHULUAN. Perekonomian merupakan salah satu indikator kestabilan suatu negara. Indonesia

I. PENDAHULUAN , , , ,3 Pengangkutan dan Komunikasi

INVENTARISASI PARASITOID PADA BUDIDAYA KUTU LAK (Laccifer lacca Kerr) DI KPH PROBOLINGGO PERUM PERHUTANI UNIT II JAWA TIMUR MOHAMAD SUHERI

I. PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia terkenal dengan sebutan Negara Agraris. Hal ini dapat

BAB I PENDAHULUAN. Pada awal masa pembangunan Indonesia dimulai, perdagangan luar negeri

Perkembangan Ekspor Indonesia Biro Riset LMFEUI

I. PENDAHULUAN. penyumbang devisa, kakao (Theobroma cacao) juga merupakan salah satu

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Nilai Ekspor Sepuluh Komoditas Rempah Unggulan Indonesia

OPTIMASI KEKUATAN BENDING DAN IMPACT KOMPOSIT BERPENGUAT SERAT RAMIE BERMATRIK POLYESTER BQTN 157 TERHADAP FRAKSI VOLUME DAN TEBAL SKIN

BAB I PENDAHULUAN. perdagangan sangat berarti dalam upaya pemeliharaan dan kestabilan harga bahan pokok,

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Nilai PDB Hortikultura Berdasarkan Harga Berlaku Pada Tahun Kelompok

I. PENDAHULUAN. sektor pertanian yang memiliki nilai strategis antara lain dalam memenuhi

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Industri TPT merupakan penyumbang terbesar dalam perolehan devisa

BAB I PENDAHULUAN. yang memiliki arti penting dalam bidang pertanian karena letaknya yang strategis.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Subsektor perkebunan merupakan salah satu sektor pertanian yang

KARYA ILMIAH BISNIS DAN BUDIDAYA KEPITING SOKA. Di susun oleh : NAMA :FANNY PRASTIKA A. NIM : KELAS : S1-SI-09

BAB 1 PENDAHULUAN. Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam

Sektor kehutanan merupakan sektor yang memberikan kontribusi pang

Tabel 1.1. Konsumsi Beras di Tingkat Rumah Tangga Tahun Tahun Konsumsi Beras*) (Kg/kap/thn)

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang. Sektor pertanian Indonesia memiliki peranan penting dalam pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. Produk Domestik Bruto (PDB) yang cukup besar, yaitu sekitar 14,43% pada tahun

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Perkembangan Ekspor Buah-Buahan Indonesia Tahun Volume (Kg) Nilai (US $) Volume (Kg)

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SULAWESI TENGAH

1.1. Latar Belakang. dengan laju pertumbuhan sektor lainnya. Dengan menggunakan harga konstan 1973, dalam periode

I. PENDAHULUAN. perekonomian nasional bagi banyak negara di dunia. Semakin terbuka suatu

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki areal perkebunan yang luas.

BAB I PENDAHULUAN. tidak asing bagi masyarakat di Indonesia karena dapat menghasilkan minyak kayu

BAB I PENDAHULUAN. Industri pertekstilan merupakan industri yang cukup banyak. menghasilkan devisa bagi negara. Tahun 2003 devisa ekspor yang berhasil

I. PENDAHULUAN. peningkatan ekonomi masyarakat melalui produk yang dihasilkan. Perlebahan juga merupakan komponen penting di dalam strategi

KISI KISI UJIAN SEKOLAH TAHUN PELAJARAN 2017/2018

Transkripsi:

14 PENDAHULUAN Latar Belakang Lak termasuk dalam kelompok resin yang diperoleh dari hasil sekresi insekta Laccifer lacca Kerr (kutu Lak) yang hidup pada tanaman inangnya. Hasil sekresi tersebut mengelilingi tubuh kutu lak yang kemudian mengeras dan berfungsi sebagai pelindung dari ancaman musuh alami dan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi kehidupan kutu lak. Tanaman inang kutu lak adalah tanaman Kesambi (Schleicera oleosa Merr.), Plosa (Butea sp.), Jamuju (Coscuta australis), Widoro/Kaliandra (Zizyphos jujuba), Acacia villosa, dan A. arabica. Di Indonesia, tanaman kesambi merupakan tanaman yang diprioritaskan untuk digunakan sebagai tanaman inang dalam budidaya kutu lak. Menurut Kalshoven (1981) kutu lak telah di import dari India pada tahun 1936 dan kemudian dikembangkan di Bogor dengan A. famesiana, A villosa, dan beberapa tanaman kehutanan lainnya sebagai inang. Khususnya di Pulau Jawa, budidaya kutu lak dikembangkan di Banyukerto, Probolinggo, Jawa Timur sejak tahun 1963 oleh Perum Perhutani. Pada tahun 1986, budidaya kutu lak juga mulai dikembangkan di Kabupaten Alor dan saat ini budidaya kutu lak sudah tersebar secara merata di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Awalnya, pemanfaatan lak hanya sebatas sebagai bahan pelitur, bahan segel pengaman surat berharga, pita kaset dan bahan isolasi. Saat ini, lak mempunyai kegunaan yang lebih luas lagi diantaranya sebagai bahan kosmetik, zat aditif makanan, bahan semi konduktor dan sebagai bahan kulit kapsul obat. Lak merupakan salah satu komoditi hasil hutan non kayu yang sangat potensial sebagai salah satu sumber penghasil devisa negara. India, Thailand, dan Cina merupakan negara-negara penghasil lak di dunia selain Indonesia yang merupakan pesaing dalam merebut pangsa pasar lak. Permintaan pasar dunia akan produk lak, dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada tahun 1998 sebanyak 20 ton lak butiran diekspor dari NTT ke Amerika Serikat dan itu hanya memenuhi 4% dari permintaan impor Amerika Serikat yaitu sebanyak 500 ton lak butiran (Wibowo 2003). Produksi lak Banyukerto sejak tahun 1982 mencapai kisaran produksi 1000 ton dan pada tahun 1990 mencapai puncak produksi yaitu sebesar

15 1700 ton. Sejak tahun 1991, produksi lak di Banyukerto mengalami penurunan produksi dan pada tahun 1993 dan 1994 masing-masing hanya 330 ton dan 148 ton. Penurunan produksi tersebut disebabkan oleh adanya serangan parasit (Wibowo 2003). Tingginya permintaan pasar menjadikan budidaya kutu lak memiliki prospek yang sangat baik untuk dikembangkan. Penelitian ini mengkaji mengenai peluang investasi dan strategi pengembangan usaha budidaya kutu lak, hal ini dimaksudkan agar dapat dijadikan motivasi untuk lebih mengembangkan budidaya kutu lak di Indonesia sehingga nantinya dapat dijadikan sebagai salah satu sumber pendapatan bagi masyarakat yang ada di sekitar hutan. Perumusan Masalah Sejak tahun 1960an, budidaya kutu lak sudah mulai dikembangkan di Indonesia dan Perum Perhutani sejak tahun 1963 telah mengembangkan usaha budidaya kutu lak di Probolinggo. Permintaan konsumen akan lak cukup tinggi dengan negara tujuan ekspor antara lain Amerika, Jepang, Thailand bahkan India. Pada tahun 2004, Perhutani memproduksi lak butiran sebanyak 66.6 ton. Namun, produksi ini belum juga dapat memenuhi permintaan pasar. Pada saat ini, negara-negara di Eropa sudah tidak menerima furniture yang dikilapkan dengan menggunakan pengkilap melamin. Mereka lebih menyukai furniture yang menggunakan pengkilap (pelitur) alami (serlak). Adanya gejala back to nature ini juga merupakan salah satu potensi dalam pengembangan budidaya kutu lak selain permintaan dan harga lak yang tinggi. Potensi produksi (lahan, teknologi, dan manajemen sumberdaya manusia) yang dimiliki oleh Perum Perhutani juga cukup besar. Namun dalam kenyataannya, budidaya kutu lak (khususnya di Perhutani) tidak berkembang. Padahal lak merupakan salah satu komoditi hasil hutan non kayu yang dapat memberikan peluang investasi yang besar. Tidak berkembangnya budidaya kutu lak ini, diduga disebabkan oleh :

16 Budidaya lak belum mendapat perhatian yang khusus bila dibandingkan hasil hutan kayu sehingga kontribusi seedlak masih sangat kecil bila dibandingkan hasil hutan lainnya (kurang dari 1% dibanding hasil hutan kayu). Manajemen dalam pengelolaan budidaya lak yang kurang. Adanya musuh alami kutu lak yang menyebabkan produksi lak batang menurun. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk : 1. Menguraikan cara budidaya kutu lak dan tanaman inangnya: Bagaimana biologi kutu lak dan tanaman inangnya Teknik budidaya kutu lak yang sekarang ini telah dikembangkan. 2. Menguraikan peluang dalam bisnis lak : Prospek pasar (peluang pasar, pangsa pasar dan struktur pasar) dari lak. Mengetahui dan menganalisis peluang investasi dalam pengembangan budidaya kutu lak. 3. Menyusun dan merumuskan strategi pengembangan yang harus dilakukan dalam budidaya kutu lak. Manfaat Penelitian Hasil akhir dari penelitian ini diharapkan dapat menguraikan bagaimana cara mengembangkan budidaya kutu lak, peluang investasi dalam pengembangan budidaya kutu lak, serta dapat menyusun strategi pengembangan usaha budidaya kutu lak. Pengembangan usaha budidaya kutu lak nantinya dapat dijadikan salah satu peluang bisnis komoditi hasil hutan non kayu baik bagi masyarakat disekitar hutan maupun bagi perusahaan yang berminat untuk menanamkan investasi di bidang ini. Kerangka Pemikiran Penelitian ini dilakukan untuk merancang / merumuskan bagaimana peluang investasi dan strategi dalam pengembangan budidaya kutu lak. Hal pertama yang akan dilakukan adalah menganalisis teknik budidaya kutu lak yang

17 sekarang ini dikembangkan di Perum Perhutani dalam upaya peningkatan produksi dan kualitas lak yang dihasilkan. Tahapan kedua adalah menganalisis kelayakan investasi dalam pengembangan budidaya kutu lak dengan melihat aspek pasar, keuntungan dan tempat usaha bila ditinjau pada kondisi saat ini dan kondisi setelah dilakukan perubahan. Tahapan ketiga adalah melakukan analisis sensitivitas kondisi kelayakan investasi yang dilakukan. Selanjutnya pada tahapan terakhir, dengan menggunakan analisis SWOT yaitu salah satu teknik yang digunakan menyusun perencanaan strategi bisnis (strategic business planning) mencoba untuk menyusun strategi-strategi jangka panjang sehingga arah dan tujuan perusahaan dapat dicapai dengan jelas dan dapat segara diambil keputusan, berikut semua perubahannya dalam menghadapi pesaing. (Rangkuti 2000). Analisis SWOT digunakan dalam memformulasikan strategi pengembangan budidaya kutu lak. Secara singkat langkah-langkah ini dapat dilihat pada bagan alur kerangka pemikiran pada Gambar 1.

18 Budidaya Kutu Lak Budidaya Tanaman Inang Budidaya Kutu Lak Pengelolaan Lak Cabang Kondisi Sekarang Kondisi Perubahan Analisis dan Peluang Investasi Budidaya Kutu Lak Analisis dan Peluang Investasi Budidaya Kutu Lak Aspek Pasar Keuntungan Tempat Usaha Aspek Pasar Keuntungan Tempat Usaha Analisis Sensitivitas dari Teknik dan Biologi Budidaya Kutu Lak serta Kondisi Kelayakan Investasi Strategi Pengembangan Gambar 1 Kerangka pemikiran : proses penelitian peluang investasi dan stategi pengembangan budidaya kutu lak.