14 PENDAHULUAN Latar Belakang Lak termasuk dalam kelompok resin yang diperoleh dari hasil sekresi insekta Laccifer lacca Kerr (kutu Lak) yang hidup pada tanaman inangnya. Hasil sekresi tersebut mengelilingi tubuh kutu lak yang kemudian mengeras dan berfungsi sebagai pelindung dari ancaman musuh alami dan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi kehidupan kutu lak. Tanaman inang kutu lak adalah tanaman Kesambi (Schleicera oleosa Merr.), Plosa (Butea sp.), Jamuju (Coscuta australis), Widoro/Kaliandra (Zizyphos jujuba), Acacia villosa, dan A. arabica. Di Indonesia, tanaman kesambi merupakan tanaman yang diprioritaskan untuk digunakan sebagai tanaman inang dalam budidaya kutu lak. Menurut Kalshoven (1981) kutu lak telah di import dari India pada tahun 1936 dan kemudian dikembangkan di Bogor dengan A. famesiana, A villosa, dan beberapa tanaman kehutanan lainnya sebagai inang. Khususnya di Pulau Jawa, budidaya kutu lak dikembangkan di Banyukerto, Probolinggo, Jawa Timur sejak tahun 1963 oleh Perum Perhutani. Pada tahun 1986, budidaya kutu lak juga mulai dikembangkan di Kabupaten Alor dan saat ini budidaya kutu lak sudah tersebar secara merata di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Awalnya, pemanfaatan lak hanya sebatas sebagai bahan pelitur, bahan segel pengaman surat berharga, pita kaset dan bahan isolasi. Saat ini, lak mempunyai kegunaan yang lebih luas lagi diantaranya sebagai bahan kosmetik, zat aditif makanan, bahan semi konduktor dan sebagai bahan kulit kapsul obat. Lak merupakan salah satu komoditi hasil hutan non kayu yang sangat potensial sebagai salah satu sumber penghasil devisa negara. India, Thailand, dan Cina merupakan negara-negara penghasil lak di dunia selain Indonesia yang merupakan pesaing dalam merebut pangsa pasar lak. Permintaan pasar dunia akan produk lak, dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada tahun 1998 sebanyak 20 ton lak butiran diekspor dari NTT ke Amerika Serikat dan itu hanya memenuhi 4% dari permintaan impor Amerika Serikat yaitu sebanyak 500 ton lak butiran (Wibowo 2003). Produksi lak Banyukerto sejak tahun 1982 mencapai kisaran produksi 1000 ton dan pada tahun 1990 mencapai puncak produksi yaitu sebesar
15 1700 ton. Sejak tahun 1991, produksi lak di Banyukerto mengalami penurunan produksi dan pada tahun 1993 dan 1994 masing-masing hanya 330 ton dan 148 ton. Penurunan produksi tersebut disebabkan oleh adanya serangan parasit (Wibowo 2003). Tingginya permintaan pasar menjadikan budidaya kutu lak memiliki prospek yang sangat baik untuk dikembangkan. Penelitian ini mengkaji mengenai peluang investasi dan strategi pengembangan usaha budidaya kutu lak, hal ini dimaksudkan agar dapat dijadikan motivasi untuk lebih mengembangkan budidaya kutu lak di Indonesia sehingga nantinya dapat dijadikan sebagai salah satu sumber pendapatan bagi masyarakat yang ada di sekitar hutan. Perumusan Masalah Sejak tahun 1960an, budidaya kutu lak sudah mulai dikembangkan di Indonesia dan Perum Perhutani sejak tahun 1963 telah mengembangkan usaha budidaya kutu lak di Probolinggo. Permintaan konsumen akan lak cukup tinggi dengan negara tujuan ekspor antara lain Amerika, Jepang, Thailand bahkan India. Pada tahun 2004, Perhutani memproduksi lak butiran sebanyak 66.6 ton. Namun, produksi ini belum juga dapat memenuhi permintaan pasar. Pada saat ini, negara-negara di Eropa sudah tidak menerima furniture yang dikilapkan dengan menggunakan pengkilap melamin. Mereka lebih menyukai furniture yang menggunakan pengkilap (pelitur) alami (serlak). Adanya gejala back to nature ini juga merupakan salah satu potensi dalam pengembangan budidaya kutu lak selain permintaan dan harga lak yang tinggi. Potensi produksi (lahan, teknologi, dan manajemen sumberdaya manusia) yang dimiliki oleh Perum Perhutani juga cukup besar. Namun dalam kenyataannya, budidaya kutu lak (khususnya di Perhutani) tidak berkembang. Padahal lak merupakan salah satu komoditi hasil hutan non kayu yang dapat memberikan peluang investasi yang besar. Tidak berkembangnya budidaya kutu lak ini, diduga disebabkan oleh :
16 Budidaya lak belum mendapat perhatian yang khusus bila dibandingkan hasil hutan kayu sehingga kontribusi seedlak masih sangat kecil bila dibandingkan hasil hutan lainnya (kurang dari 1% dibanding hasil hutan kayu). Manajemen dalam pengelolaan budidaya lak yang kurang. Adanya musuh alami kutu lak yang menyebabkan produksi lak batang menurun. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk : 1. Menguraikan cara budidaya kutu lak dan tanaman inangnya: Bagaimana biologi kutu lak dan tanaman inangnya Teknik budidaya kutu lak yang sekarang ini telah dikembangkan. 2. Menguraikan peluang dalam bisnis lak : Prospek pasar (peluang pasar, pangsa pasar dan struktur pasar) dari lak. Mengetahui dan menganalisis peluang investasi dalam pengembangan budidaya kutu lak. 3. Menyusun dan merumuskan strategi pengembangan yang harus dilakukan dalam budidaya kutu lak. Manfaat Penelitian Hasil akhir dari penelitian ini diharapkan dapat menguraikan bagaimana cara mengembangkan budidaya kutu lak, peluang investasi dalam pengembangan budidaya kutu lak, serta dapat menyusun strategi pengembangan usaha budidaya kutu lak. Pengembangan usaha budidaya kutu lak nantinya dapat dijadikan salah satu peluang bisnis komoditi hasil hutan non kayu baik bagi masyarakat disekitar hutan maupun bagi perusahaan yang berminat untuk menanamkan investasi di bidang ini. Kerangka Pemikiran Penelitian ini dilakukan untuk merancang / merumuskan bagaimana peluang investasi dan strategi dalam pengembangan budidaya kutu lak. Hal pertama yang akan dilakukan adalah menganalisis teknik budidaya kutu lak yang
17 sekarang ini dikembangkan di Perum Perhutani dalam upaya peningkatan produksi dan kualitas lak yang dihasilkan. Tahapan kedua adalah menganalisis kelayakan investasi dalam pengembangan budidaya kutu lak dengan melihat aspek pasar, keuntungan dan tempat usaha bila ditinjau pada kondisi saat ini dan kondisi setelah dilakukan perubahan. Tahapan ketiga adalah melakukan analisis sensitivitas kondisi kelayakan investasi yang dilakukan. Selanjutnya pada tahapan terakhir, dengan menggunakan analisis SWOT yaitu salah satu teknik yang digunakan menyusun perencanaan strategi bisnis (strategic business planning) mencoba untuk menyusun strategi-strategi jangka panjang sehingga arah dan tujuan perusahaan dapat dicapai dengan jelas dan dapat segara diambil keputusan, berikut semua perubahannya dalam menghadapi pesaing. (Rangkuti 2000). Analisis SWOT digunakan dalam memformulasikan strategi pengembangan budidaya kutu lak. Secara singkat langkah-langkah ini dapat dilihat pada bagan alur kerangka pemikiran pada Gambar 1.
18 Budidaya Kutu Lak Budidaya Tanaman Inang Budidaya Kutu Lak Pengelolaan Lak Cabang Kondisi Sekarang Kondisi Perubahan Analisis dan Peluang Investasi Budidaya Kutu Lak Analisis dan Peluang Investasi Budidaya Kutu Lak Aspek Pasar Keuntungan Tempat Usaha Aspek Pasar Keuntungan Tempat Usaha Analisis Sensitivitas dari Teknik dan Biologi Budidaya Kutu Lak serta Kondisi Kelayakan Investasi Strategi Pengembangan Gambar 1 Kerangka pemikiran : proses penelitian peluang investasi dan stategi pengembangan budidaya kutu lak.