BAB I PENDAHULUAN. bahkan menjadi tolak ukur kemajuan Negara. Secara umum, Indonesia merupakan

dokumen-dokumen yang mirip
"PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEREMPUANSEBAGAI KORBAN TINDAK PIDANA KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DI KABUPATEN LUWU TIMUR" BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. tegas dalam pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik

BAB I PENDAHULUAN. dialami perempuan, sebagian besar terjadi dalam lingkungan rumah. tangga. Dalam catatan tahunan pada tahun 2008 Komisi Nasional

ANGGARAN DASAR KOMNAS PEREMPUAN PENGESAHAN: 11 FEBRUARI 2014

BAB I PENDAHULUAN. pada era reformasi adalah diangkatnya masalah kekerasan dalam rumah tangga

Kekerasan fisik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Rumah tangga merupakan unit yang terkecil dari susunan kelompok

BAB I PENDAHULUAN. Masalah mengenai kependudukan merupakan aspek yang tidak dapat dipisahkan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dian Kurnia Putri, 2014

BAB III DESKRIPSI PASAL 44 AYAT 4 UU NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG KETENTUAN PIDANA KEKERASAN SUAMI KEPADA ISTERI DALAM RUMAH TANGGA

1 LATAR 3 TEMUAN 7 KETIDAKMAMPUAN

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di

BAB I PENDAHULUAN. proses saling tolong menolong dan saling memberi agar kehidupan kita. saling mencintai, menyayangi dan mengasihi.

BAB I PENDAHULUAN. anak-anak. Di Indonesia seringkali dalam rumah tangga juga ada sanak saudara

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. dan pengendalian diri setiap orang di lingkup rumah tangga tersebut. 1

BAB I PENDAHULUAN. juga merupakan masalah sosial yang perlu segera diatasi, secara kualitas maupun

BAB I PENDAHULUAN. yang didukung oleh umat beragama mustahil bisa terbentuk rumah tangga tanpa. berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

PEREMPUAN DAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA. Oleh: Chandra Dewi Puspitasari

BAB I PENDAHULUAN. panti tidak terdaftar yang mengasuh sampai setengah juta anak. Pemerintah

BAB I PENDAHULUAN. dalam dan terjadi di seluruh negara di dunia termasuk Indonesia. Kekerasan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

Peran dan Masalah yang Dihadapi Penyidik Polri dalam Proses Perkara Tindakan Kekerasan dalam Rumah Tangga

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia mengalami situasi darurat kekerasan. terhadap perempuan. Berdasarkan catatan tahunan dari

BAB II PENGATURAN HUKUM MENGENAI KEKERASAN YANG DILAKUKAN OLEH SUAMI TERHADAP ISTRI. A.Kajian Hukum Mengenai Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. Kekerasan terhadap perempuan merupakan suatu fenomena yang sering

NOTA KESEPAHAMAN ANTARA KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA DENGAN KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

Perkawinan Anak dan Kekerasan terhadap Perempuan di Indonesia

2012, No d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu membentuk Undang-Undang tentang Penang

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Perkawinan merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. yang bahagia dan kekal berdasarkan KeTuhanan Yang Maha Esa. Tujuan

-1- PENJELASAN ATAS QANUN ACEH NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG KOMISI KEBENARAN DAN REKONSILIASI ACEH

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. Tindak kekerasan di dalam rumah tangga (domestic violence) merupakan jenis

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN NEGARA PPdan PA. Perencanaan. Penganggaran. Responsif Gender.

BAB I PENDAHULUAN. yang bermacam-macam, seperti politik, keyakinan agama, rasisme dan ideologi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan baik fisik maupun mental untuk mencapai pemenuhan hak-hak

BAB I PENDAHULUAN. dan merupakan salah satu tempat pembentukan kepribadian seseorang. Dalam

BAB I PENDAHULUAN. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sebenarnya bukan hal yang baru

HUBUNGAN PENGETAHUAN SUAMI TERHADAP KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DI DESA KEPARAKAN KECAMATAN MERGANGSAN YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah suatu aset bangsa, karena pendidikan mencirikan pembangunan karakter bangsa.

Negara Punya Banyak PR untuk Atasi Labirin Kekerasan terhadap Perempuan

BUPATI SUKOHARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. dan menyenangkan bagi anggota keluarga, di sanalah mereka saling

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dewasa ini kemiskinan merupakan masalah yang belum sepenuhnya bisa

BAB I PENDAHULUAN. Pandangan tersebut didasarkan pada Pasal 28 UUD 1945, beserta

BAB I PENDAHULUAN. dampak kemajuan teknologi dan informasi, serta perubahan gaya hidup yang

Mewujudkan Payung Hukum Penghapusan Diskriminasi Gender di Indonesia Prinsip-Prinsip Usulan Terhadap RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. akses, bersifat privat dan tergantung kepada pihak lain (laki-laki). Perempuan

Lampiran Usulan Masukan Terhadap Rancangan Undang-Undang Bantuan Hukum

BAB I PENDAHULUAN. perempuan di Indonesia. Diperkirakan persen perempuan di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan kepribadian setiap anggota keluarga. Keluarga merupakan

KEDUDUKAN, TUGAS, FUNGSI & KEWENANGAN MENTERI PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK UU NO. 39 TAHUN 2008 TENTANG KEMENTERIAN NEGARA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN KORBAN KEKERASAN BERBASIS GENDER

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang masalah. Perkawinan merupakan hal yang sakral bagi manusia, tujuan

PERGESERAN PERAN WANITA KETURUNAN ARAB DARI SEKTOR DOMESTIK KE SEKTOR PUBLIK

BAB 7 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

PERLINDUNGAN KORBAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DI KABUPATEN SIDOARJO PASCA BERLAKUNYA UNDANG UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2004

I. PENDAHULUAN. pulau-pulau dan lebih kebudayaan, upaya menguraikan kondisi hubungan

- Secara psikologis sang istri mempunyai ikatan bathin yang sudah diputuskan dengan terjadinya suatu perkawinan

BAB I PENDAHULUAN. kita jumpai di berbagai macam media cetak maupun media elektronik. Kekerasan

BAB V PENUTUP. sebelumnya, dapat penulis ketengahkan beberapa kesimpulan sebagai berikut:

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. merumuskan kesimpulan yang bersifat umum yaitu UPT P2TP2A berperan

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu tujuan perkawinan sebagaimana tercantum dalam Undangundang

BAB 10 PENGHAPUSAN DISKRIMINASI DALAM BERBAGAI BENTUK

MENCERMATI PENERBITAN PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG PERLINDUNGAN PEKERJA RUMAH TANGGA

2016 FENOMENA CERAI GUGAT PADA PASANGAN KELUARGA SUNDA

PERSPEKTIF GENDER DALAM UNDANG-UNDANG KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA. Oleh: Wahyu Ernaningsih

Partisipasi Masyarakat dalam Pencegahan Pelanggaram HAM dan Pengingkaran Kewajiban

PEMERINTAH KABUPATEN BOJONEGORO

BAB 1 PENDAHULUAN. telah disepakati dalam Dokument Millennium Declaration yang dituangkan sebagai

PEMERINTAH KABUPATEN MADIUN

Kekerasan Terhadap Perempuan di Indonesia: Peta Persoalan dan refleksi peran CSO di Indonesia Yuniyanti Chuzaifah Ketua Komnas Perempuan ( )

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUKOHARJO,

BAB I PENDAHULUAN. kaum perempuan yang dipelopori oleh RA Kartini. Dengan penekanan pada faktor

BAB I PENDAHULUAN. Tiongkok merupakan negara dengan populasi penduduk terbesar di dunia.

BAB II. Kajian Pustaka. Studi Kesetaraan dan Keadilan Gender Dalam Pembangunan 9

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Abad 21 yang sedang berlangsung menjadikan kehidupan berubah dengan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Kekerasan adalah perbuatan yang dapat berupa fisik maupun non fisik,

KEKERASAN BERBASIS GENDER: BENTUK KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA. Oleh: Khoirul Ihwanudin 1. Abstrak

BAB III PENUTUP. maka pada bab ini penulis menyimpulkan sebagai rumusan terakhir dengan

BUPATI BANGKA TENGAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA TENGAH NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG

Bentuk Kekerasan Seksual

PEMERINTAH KABUPATEN LUMAJANG

Tindak pidana adalah kelakuan manusia yang dirumuskan dalam undang-undang, melawan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kekerasan secara umum sering diartikan dengan pemukulan,

I. PENDAHULUAN. Perserikatan Bangsa-Bangsa setelah perang dunia ke-2 tanggal 10 Desember

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pendidikan merupakan aspek yang penting dalam kehidupan suatu negara dan bahkan menjadi tolak ukur kemajuan Negara. Secara umum, Indonesia merupakan negara yang mutu pendidikannya masih tergolong rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Bahkan sesama negara anggota ASEAN pun kualitas SDM Indonesia masih masuk dalam peringkat yang paling rendah. Hal ini terjadi karena pendidikan di Indonesia belum berjalan secara ideal. Oleh karena itu, pendidikan di Indonesia harus segera diperbaiki agar mampu melahirkan generasi yang memiliki keunggulan dalam berbagai bidang sehingga bangsa Indonesia dapat bersaing dengan bangsa lain dan agar tidak tertinggal karena arus global yang berjalan cepat. Indonesia dan Malaysia merupakan dua negara yang memiliki rumpun yang sama, wilayah yang berdekatan, bahasa yang hampir sama, serta berbagai budaya yang juga hampir sama. Namun, pendidikan Malaysia dengan Indonesia sangat berbeda jauh. Pada permulaan tahun 2010, Malaysia telah memiliki lebih dari 80,000 orang mahasiswa internasional yang berasal dari lebih dari 100 negara yang berbeda. Beberapa alasan yang menjadikan Malaysia sebagai tujuan kuliah karena kualitas pendidikan di Malaysia diakui secara internasioanal. Dalam hal ini banyak universitas luar negeri yang melakukan kerjasama dengan berbagai universitas di Malaysia. Selain itu, kurikulum pendidikan di Malaysia mengikuti standar industri yang meningkatkan prospek kerja mahasiswa sehingga banyak institusi pendidikan tinggi Malaysia yang bekerjasama dengan industri dan universitas luar negeri untuk menjamin bahwa program yang ditawarkan mengadopsi kurikulum terbaru dan 14

relevan dengan perkembangan pasaran kerja terkini. Program-program tersebut tidak hanya menekankan pengetahuan teoritis, tetapi juga mengajarkan keahlian praktikal yang dibutuhkan di dunia kerja yang sesungguhnya. Tujuannya adalah untuk menghasilkan para lulusan yang siap kerja, suatu kriteria yang dicari-cari oleh berbagai perusahaan (http://www.hotcourses.co.id/study-in-malaysia/destinationguides/7-alasan-malaysia-populer-sebagai-negara-destinasi-kuliah/ diakses tanggal 10 Agustus 2015 pukul 14: 35 wib ). Sedangkan Potret pendidikan tanah air saat ini tergolong gawat darurat, karena data Kemendikbud mencatat bahwa pendidikan di Indonesia menunjukan hasil buruk. Hal tersebut diungkapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, jumlah institusi pendidikan dasar dan menengah di Indonesia terus meningkat. Demikian pula dengan jumlah anak Indonesia yang mendapatkan akses pendidikan dasar dan menengah. Sebanyak 75 persen sekolah di Indonesia tidak memenuhi standar minimal. Menurut lembaga The Learning Curve untuk pemetaan kualitas pendidikan, uji kompetensi guru yang diharapkan memiliki standar minimal 70, masuk dalam peringkat 40. Di dalam pemetaan di bidang pendidikan tinggi, Indonesia berada di peringkat 49 dari 50 negara yang diteliti. Menurut lembaga Programme for International Study Assessment (PISA), kecenderungan kinerja pendidikan Indonesia pada tahun 2000, 2003, 2006, 2009, dan 2012, cenderung stagnan. Akibatnya pendidikan Indonesia masuk kedalam peringkat 64 dari 65 negara. Sedangkan minat membaca di Indonesia hanya 0,001 persen menurut data UNESCO pada 2012 (http://news.metrotvnews.com/read/2014/12/01/326124/pendidikan-indonesia-gawatdarurat, diakses tanggal 10 Agustus pukul 23: 14 wib). 15

Untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia diperlukan sistem pendidikan yang responsif terhadap perubahan dan tuntutan zaman. Perbaikan itu dilakukan mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Namun, ini merupakan permasalahan sosial yang menyangkut tentang ekonomi yang menjadi penghalang dalam meningkatkan pendidikan. Hal ini dikarenakan kondisi sosial ekonomi sebagian besar masyarakat indonesia termasuk rendah, atau dengan kata lain masih banyak orang miskin di Indonesia yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari ditambah lagi dengan biaya pendidikan yang mahal tidak sesuai dengan pendapatan mengakibatkan banyak masyarakat Indonesia tidak dapat menikmati dunia pendidikan. Sehingga ini menjadi faktor penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia. Pendidikan yang rendah akan berpengaruh terhadap pendapatan yang rendah juga, sehingga kepala keluarga yang bertanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Desakan biaya hidup yang tinggi menimbulkan pertengkaran antar anggota keluarga yang menjadi tindak kekerasan di dalam rumah tangga. Dalam tindak kekerasan yang sering menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga adalah perempuan dan anak. Dimana korban kekerasan tidak mengetahui hukum yang berlaku tentang tindakan kekerasan yang terjadi di dalam rumah tangga dan pelaku juga tidak mengetahui sanksi yang akan di terima jika perbuatan tersebut dilaporkan kepada pihak berwenang. Ini merupakan akibat dari minimnya pengetahuan tentang kekerasan dalam rumah tangga. Sehingga korban kekerasan tetap bertahan karena merasa bahwa istri harus tunduk kepada suami. Faktor lain adalah karena adanya perasaan malu terhadap orang lain sehingga tidak berniat untuk memberitahukan kepada pihak keluarga lain karena merasa itu merupakan aib dari keluarga yang harus ditutupi. 16

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari Gumelar, mengungkapkan dalam tiga tahun terakhir kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) termasuk kasus anak yang berhadapan dengan hukum (ABH) mengalami peningkatan. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) mencatat data kasus KDRT pada 2009 berjumlah 143.586 kasus, 105.103 (2010), dan 119.107 (2011). Menurut data Polri kasus anak bermasalah dengan hukum dalam tiga tahun terakhir juga mengalami peningkatan. Pada tahun 2007 berjumlah 3.145, tahun 2008 berjumlah 3.380, tahun 2009 berjumlah 4.213 (http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4f9a5527a4556/tigatahun-terakhir-kasus-kdrt-meningkat, diakses tanggal 6 Agustus 2015 pukul 16 :23 wib). Berdasarkan data Komnas Perempuan, pada tahun 2012, sedikitnya ada 8.315 kasus kekerasan dalam rumah tangga dalam setahun. Jumlah tersebut mengalami peningkatan di tahun 2013 yang mencapai 11.719 kasus atau naik 3.404 kasus dari tahun sebelumnya. Aktivis Perempuan asal Yogyakarta, Vera Kartika Giantari mengatakan, meningkatnya kasus itu disebabkan karena banyak faktor. Salah satunya dari dalam keluarga itu sendiri, seperti masalah-masalah pribadi dan antara anggota keluarga. Faktor lainnya adalah masih adanya rasa memiliki sepenuhnya yang tertanam pada jiwa kaum laki-laki. Rasa memiliki sepenuhnya itu memicu kaum laki-laki untuk meminta istrinya melakukan hal yang sesuai dengan kemauan mereka (http://daerah.sindonews.com/read/919676/22/angka-kdrt-di-indonesia-meningkatini-sebabnya-1415099048, diakses tanggal 8 Agustus 2015 pukul 19:23 wib). Kekerasan pada perempuan terjadi karena adanya relasi atau hubungan yang tidak seimbang antara perempuan dan laki- laki yang disebut sebagai ketimpangan atau ketidakadilan gender. Ketimpangan gender adalah perbedaan peran dan hak 17

perempuan dan laki-laki di masyarakat yang menempatkan perempuan dalam status lebih rendah dari laki-laki. Hak istimewa yang dimiliki laki-laki ini seolah-olah menjadikan perempuan sebagai barang milik laki-laki yang berhak untuk diperlakukan semena-mena, termasuk dengan cara kekerasan. Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat kasus kekerasan terhadap perempuan meningkat sepanjang tahun 2011. Dalam laporan catatan tahunan Komnas Perempuan, jumlah kasus kekerasan yang ditangani lembaga pengadaan layanan yang berada di 33 provinsi, mencapai 119.107 kasus. Dibandingkan dengan tahun 2010, yang mencapai 105.103 kasus. Tidak hanya perempuan saja yang banyak mengalami kekerasaan dalam rumah tangga, anak pun turut serta menjadi korban. Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, salah satu faktor yang berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak adalah kekerasan pada anak. Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP-PA) bekerjasama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2008, menyebutkan bahwa prevalensi kekerasan terhadap anak 3,02%. Artinya, di antara 100 anak terdapat 3 anak yang mengalami kekerasan. Kekerasan seksual merupakan jenis kekerasan terbanyak yang ditemukan. Ketua Komnas Perempuan, Yuniyanti Chuzaifah, mengatakan sebagian besar kasus yang dilaporkan adalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) 95,61 %. Sebanyak 4,3 % kasus terjadi di ranah publik dan sisanya 0.03% atau 42 kasus terjadi di ranah negara seperti pengambilan lahan, penahanan, penembakan dan lain-lain (http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2012/03/120307_komnasperempua n.shtml, diakses tanggal 7 Agustus 2015 pukul 14:39). 18

Sedangkan pengaduan Komnas Perempuan dari 2011 hingga juni 2013 menunjukkan bahwa 60% korban kekerasan dalam rumah tangga mengalami kriminalisasi, 10 persen diantaranya dikriminalkan melalui Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga (UU PKDRT). Sepanjang 2012 saja, tercatat 8.315 kasus KDRT terhadap istri, atau 66 persen dari kasus yang ditangani. Hampir setengah atau 46 persen, dari kasus tersebut adalah kekerasan psikis, 28 persen kekerasan fisik, 17 persen kekerasan seksual dan 8 persen kekerasan ekonomi (http://www.voaindonesia.com/content/komnasperempuan-60-persen-korban-kdrt-hadapi-kriminalisasi/1750372.html, diakses pada tanggal 6 Agustus 2015 pukul 23:00 wib). Kasus kekerasan dalam rumah tangga semakin hari semakin meningkat, untuk mencegah dan menanggulangi kekerasan dalam rumah tangga diperlukan suatu perangkat hukum yang lebih terakomodir, yang ditanggapi Pemerintah dengan mengeluarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga yang disahkan tanggal 14 september 2004. Dengan adanya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga diharapkan dapat menjadikan solusi untuk mencegah dan menanggulangi tindak kekerasan dalam rumah tangga dalam upaya penegakan hukum. Sesuai dengan asas yang diatur dalam pasal 3, yakni penghormatan hak asasi manusia, keadilan kesetaraan gender, non diskriminasi dan perlindungan korban (Yulia, 2010: 5-6). Namun penetapan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tidak dapat diatasi oleh Pemerintah dalam penegakan hukum karena pelaku kekerasan dalam rumah tangga masih banyak terjadi dan korban kekerasan juga semakin banyak mengalami kekerasan baik fisik maupun psikologisnya. Dalam hal ini tidak bisa 19

diabaikan mengingat semakin meningkatnya korban kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi setiap tahunnya. Oleh karena itu, kekerasan yang terjadi semakin meningkatkan kekhawatiran. Padahal di dalam hidup berkeluarga, keutuhan dan kerukunan rumah tangga yang bahagia, aman tentram, dan damai merupakan dambaan setiap orang dalam rumah tangga. Untuk mewujudkan keutuhan dan kerukunan tersebut, sangat tergantung pada setiap orang dalam lingkup rumah tangga, terutama kadar kualitas perilaku dan pengendalian diri setiap orang dalam lingkup rumah tangga. Keutuhan dan kerukunan rumah tangga dapat terganggu jika kualitas dan pengendalian diri tidak dapat dikontrol, yang pada akhirnya dapat terjadi kekerasan dalam rumah tangga sehingga timbul ketidakamanan atau ketidakadilan terhadap orang yang berada dalam lingkup rumah tangga tersebut (Yulia, 2010: 5). Desa Saribu Asih merupakan desa yang masih memiliki tingkat ekonomi yang rendah, dengan sedikitnya masyarakat memiliki pekerjaan tetap seperti PNS dan karyawan, sedangkan yang lainnya adalah petani dan pedagang. Perkembangan sosial budaya cukup baik dengan masih dilaksanakannya pesta-pesta adat hingga saat ini. Perikehidupan masyarakat di Desa Saribu Asih tertata sesuai dengan adat istiadat dan kebiasaan leluhurnya, sehingga setiap pertikaian dan perselisihan paham diupayakan akan dimusyawarahkan atau diselesaikan oleh penatua adat, dan jika tidak terpecahkan selanjutnya diserahkan pada pihak berwajib. Sesuai dengan pengamatan peneliti, sebagian besar kepala rumah tangga di Desa Saribu Asih merupakan tamatan SMP, selebihnya tamatan SMA dan SD. Dan hanya beberapa orang saja tamatan sarjana. Namun untuk saat ini, tingkat pendidikan di Desa Saribu Asih sudah mulai meningkat dengan banyaknya anak-anak 20

bersekolah hingga tamat SMA dan bahkan menempuh pendidikan di jenjang perguruan tinggi. Seperti yang kita ketahui, bahwa sebagian besar kepala rumah tangga di Desa Saribu Asih adalah tamatan SMP dan tidak memiliki pekerjaan tetap. Hal inilah yang dapat menimbulkan konflik dalam rumah tangga karena latar belakang pendidikan dan ekonomi rendah. Suatu rumah tangga dapat harmonis dan rukun apabila suami dan istri memiliki pendidikan yang baik ditambah lagi memperoleh pekerjaan tetap hingga dapat menghasilkan pendapatan yang cukup untuk biaya kehidupan keluarganya dalam sehari-hari. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka penulis tertarik untuk meneliti sejauh mana pengaruh pendidikan dan sosial ekonomi terhadap kekerasan yang terjadi di dalam rumah tangga. Penelitian ini di rangkum dalam skripsi dengan judul: Pengaruh Pendidikan Dan Sosial Ekonomi Terhadap Tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Di Desa Saribu Asih Kecamatan Hatonduhan Kabupaten Simalungun. 1.2. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana pengaruh pendidikan dan sosial ekonomi terhadap tindakan kekerasan dalam rumah tangga di Desa Saribu Asih Kecamatan Hatonduhan Kabupaten Simalungun? 21

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pendidikan dan sosial ekonomi terhadap tindakan kekerasan dalam rumah tangga di Desa Saribu Asih Kecamatan Hatonduhan Kabupaten Simalungun. 1.3.2. Manfaat Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam rangka : 1. Pemecahan masalah tindakan kekerasan dalam rumah tangga. 2. Pengembangan teori yang berkaitan dengan konsep pendidikan dan sosial ekonomi dalam keterkaitannya dengan kekerasan dalam rumah tangga. 1.4. Sistematika Penelitian Adapun sistematika penulisan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: BAB I : PENDAHULUAN Bab ini berisikan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian serta sistematika penulisan. BAB II : TINJAUAN PUSTAKA Bab ini berisikan uraian dan teori-teori yang berkaitan dengan masalah dan objek yang akan di teliti, kerangka penelitian, hipotesa, defenisi konsep dan defenisi operasional. BAB III : METODE PENELITIAN Bab ini berisikan tipe penelitian, lokasi penelitian, populasi dan sampel penelitian, teknik pengumpulan data serta teknik analisis data. BAB IV : DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN Bab ini berisikan sejarah singkat dan gambaran umum lokasi 22

penelitian yang berhubungan dengan masalah objek yang akan diteliti. BAB V : ANALISIS DATA Bab ini berisikan tentang uraian data yang diperoleh dari hasil penelitian dan analisisnya. BAB VI : PENUTUP DAFTAR PUSTAKA Bab ini berisikan kesimpulan dan saran penulis yang penulis berikan sehubungan dengan penelitian yang telah dilakukan. 23