II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. TEORI BELAJAR Menurut Lindgren (1976) fokus sistem pendidikan mencakup tiga aspek yaitu: 1. Mahasiswa, merupakan sasarandari proses pembelajaran 2. Proses pembelajaran meliputi, mahasiswa, dosen, dan metoda pembelajaran. 3. Situasi belajar, yaitu lingkungan dimana terjadi proses pembelajaran, mencakup semua faktor yang mempengaruhi mahasiswa atau proses pembelajaran. Belajar-mengajar merupakan suatu proses panjang, maka untuk mendapatkan hasil pembelajaran yang baik ke tiga faktor di atas harus di perhatikan dan diletakkan pada proporsinya masing-masing. Mahasiswa yang menjadi objek belajar-mengajar harus didorong dan diarahkan untuk lebih proaktif dalam setiap kegiatan dalam proses pembelajaran. Sebagai motivator, dosen harus mampu menciptakan suasana belajar-mengajar yang kondusif dan dapat memacu minat mahasiswa untuk berkreasi sesuai dengan kemampuannya. Oleh karena itu, di dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengelola proses belajar-mengajar, dosen perlu mengingat beberapa prinsip belajar, sebagai berikut: 1. Yang belajar adalah mahasiswa, imtuk itu mahasiswalah yang harus berifat aktif 2. Setiap mahasiswa akan belajar sesuai dengan tingkat kemampuannya 3. Seorang mahasiswa akan dapat belajar dengan lebih baik apabila memperoleh penguatan lansung pada setiap langkah yang dilakukan selama proses belajamya 4. Penguasaan yang sempuma dari setiap langkah yang dilakukan mahasiswa akan membuat proses belajar lebih berarti 5
5. Seorang mahasiswa akan lebih meningkat motivasinya untuk belajar apabila ia diberi tanggung jawab serta kepercayaan penuh atas belajamya (Davies, 1971) Disamping itu, sebagai pengelola proses pembelajaran dosen melaksanakan empat macam tugas, yaitu: juga 1. Merencanakan, baik untuk jangka pendek (satu pertemuan) maupun jangka panjang (satu semester). Keberhasilan proses pembelajaran sangat bergantung kepada kemampuan dosen merencanakan proses pembelajaran tersebut termasuk disini penentuan tujuan pembelajaran, cara untuk mencapai tujuan, dan sarana yang dibutuhkan. Oleh karena itu untuk mendapatkan hasil yang baik maka perencanaan ini memerlukan suatu pemikiran yang matang. 2. Mengatur (dilakukan pada waktu implementasi). Pengaturan ini menjadi penting dan mencakup pengetahuan tentang bentuk dan macam kegiatan yang hams dilaksanakan, serta pengaturan agar semua komponen dapat bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. 3. Mengarahkan termasuk memberi motivasi dan inspirasi kepada mahasiswa untuk belajar. Pengarahan yang baik akan menyebabkan proses pembelajaran akan dapat berjalan dengan lancar. 4. Mengevaluasi, untuk mengetahui apakah perencaneian, pengaturan dan pengarahan dapat berjalan dengan baik atau masih perlu diperbaiki. Untuk itu dosen hams mempunyai patokan mengenai penampilan mahasiswa yang dianggap telah memadai. Terlihat disini bahwa setiap tahap dosen perlu mengadakan keputusankeputusan, misalnya tentang metode yang hams digunakan, alat yang dipakai, dan cara mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Keputusan yang diambil selalu mencakup pemberian nilai atau pertimbangan serta pemilihan antara beberapa altematif yang jarang sekali bersifat benar dan salah, tetapi lebih bersifat "manakah yang akan memberikan hasil lebih baik?". Dalam proses 6
belajar-mengajar dosen selalu dihadapkan kepada pemilihan apa yang harus dilakukan, siapa yang melakukan, bagaimanakah melakukannya dan yang lebih penting mengapa hal tersebut perlu dilakukan. Untuk dapat mengambil keputusan-keputusan yang tepat dosen perlu mempunyai landasan pengetahuan yang memadai tentang mahasiswa serta karakteristiknya, teori-teori tentang prinsip belajar, perancangan d in pengembangan sistem intruksional, pemilihan metode mengajar.yang efektif, penilaian hasil belajar mahasiswa, masalah masalah yang mungkin akan dihadapi di dalam pengelolaan proses belajar-mengajar serta cara penanggulangaimya. Bekal ini sangat penting artinya bagi dosen karena akan memberikan landasan ilmiah tentang langkah-langkah dan keputusankeputusan yang diambilnya dalam usaha membantu mahasiswa mengembangkan diri, mengarahkan dan memperlancar proses belajar mahasiswa, mendeteksi adanya masalah pendidikan serta mencari altematif pemecahannya. Pemikiran-pemikiran, persiapan sistematik, pengaturan penyajian yang baik, semua ini menunjukkan karakteristik mengajar yang baik dan sehamsnya didasarkan atas teori dan hasil-hasil penelitian yang ilmiah. 2.2. MODEL PEMBELAJARAN Model pembelajaran adalah suatu kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar-mengajar. Dengan demikian aktivitas belajar-mengajar benarbenar mempakan kegiatan bertujuan yang tertata secara sistematis.digunakan secara sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan. Joyce dan Weil (1986) mengelompokkan model pembelajaran kedalam empat kategori, yaitu: 1. Kelompok model pengolahan informasi 2. Kelompok model personal 3. Kelompok model sosial 7
4. Kelompok model sistem perilaku Kelompok model pengolahan informasi pada dasamya menitikberatkan pada cara-cara memperkuat dorongan-dorongan internal manusia untuk memahami dunia dengan cara menggali dan mengorganisasikan data, merasakan adanya masalah dan mengupayakan jalan pemecahannya, serta mengembangkan bahasa untuk mengungkapkanriya. Secara umum model pengolahan informasi ini dapat diterapkan kepada sasaran belajar dari berbagai usia. Kelompok ini terdiri dari beberapa model antara lain: pencapaian konsep, berfikir induktif, latihan penelitian, pemandu awal, memorisasi, pengembangan intelek, dan penelitian ilmiah. Kelompok model personal beranjak dari pandangan kedirian dari individu. Proses pendidikan sengaja diusahakan untuk memungkinkan dapat memahami diri sendidri dengan baik, memikul tanggimg jawab untuk pendidikan, dan lebih kreatif untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Kelompok ini memusatkan perhatian pada pandangan perseorangan dan berusaha menggalakkan kemandirian yang produktif, sehingga manusia menjadi semakin sadar diri dan bertanggung jawab atas tujuannya. Termasuk ke dalam kelompok model ini, model-model belajar-mengajar sebagai berikut: pengajaran tanpa arahan, sinektiks, latihan kesadaran, dan pertemuan kelas. Kelompok model sosial dirancang untuk memanfaatkan fenomena kerjasama. Model ini banyak diteliti dalam rangka pengetesan keberlakukannya. Kelompok model ini meliputi sejumlah model, sebagai berikut: investigasi kelompok, bermain peran, penelitian yurisprudensial, latihan laboratoris, dan penelitian ilmu sosial. Kelompok model sistem perilaku didasarkan pada konsep bagaimana seseorang memberikan respon terhadap tugas dan umpan balik. Oleh karena itu model ini memusatkan perhatian pada perilaku yang terobservasi dengan metode dan tugas yang diberikan dalam rangka mengkomunikasikan keberhasilan. Yang termasuk dalamkelompok ini yaitu: belajar tuntas. S
pembelajaran lansung, belajar kontrol diri, latihan pengembangan, dan latihan asertif. Contoh beberapa model belajar-mengajar dimanfaatkan di perguruan tinggi: 1. Model pencapaian konsep 2. Model latihan penelitian 3. Model sinektiks 4. Model pertemuan kelas 5. Model investigasi kelompok 6. Model j urisprudensial yang diperkirakan dapat 7. Model latihan laboratoris 8. Model penelitian ilmu sosial 9. Model kontrol diri 10. Model simulasi Setelah mempelajari model-model diatas, maka model pertemuan kelas dan model investigasi kelompok diperkirakan cocok untuk perkuliahan penentuan struktur organik. 9