EKSPLOITASI berujung kriminalisasi terhadap Penghuni itc mangga 2 sudah jatuh Tertimpa Tangga
para penghuni/pemilik kios. Penolakan ini berujung pada pemutusan aliran listrik ke sejumlah kios yang menolak kebijakan tersebut dan tetap membayar dengan harga lama. Aksi pemutusan aliran listrik ini berlangsung selama 3 (tiga) kali, yakni pada 18 Juli, 19 Juli dan 2 September 2013. Latar Belakang Eksploitasi Sengketa antara penghuni/pemilik kios ITC Mang- ga Dua dengan Perhimpunan Penghuni dan Pemilik Rumah Susun (PPPRS), pengembang, dan pihak pengelola ITC Mangga Dua lingkungan 1A sudah dimulai sejak 1994. Kebijakan Pengurus PPPRS dan pihak pengelola yang dirasa sewenang-wenang dan memberatkan para penghuni/pemilik kios ITC Mangga Dua menjadi salah satu pemicunya. Banyak kebijakan yang diambil secara sepihak tanpa meminta persetujuan dari para penghuni/pemilik kios ITC Mangga Dua. PPPRS ITC Mangga Dua yang berdiri sekarang ini, adalah bentukan dari perusahaan pengembang PT. Duta Pertiwi, anak perusahaan Sinar Mas Group. Kemudian, pihak pengembang menunjuk PT. Jakarta Sinar Intertrade yang merupakan kelompok usahanya untuk mengelola ITC Mangga Dua. PT. Jakarta Sinar Intertrade membentuk PPPRS dengan menempatkan para karyawannya sebagai pengurus. Adapun tugas perusahaan pengelola tersebut melakukan perawatan dan pemeliharaan terhadap tanah bersama, bagian bersama dan benda bersama. Puncak dari perselisihan antara pengurus PPPRS, pihak pengelola, dengan penghuni/pemilik kios ITC Mangga Dua 1A ialah ketika terjadi kenaikan service charge yang tinggi secara sepihak tanpa persetujuan Tindakan pemutusan aliran listrik tanggal 18 Juli 2013, membuat ratusan penghuni/pemilik kios menemui pengurus PPPRS, pengembang, dan pihak pengelola guna meminta penjelasan. Namun pihak PPPRS, pengembang, dan pengelola tidak mau bertemu tanpa alasan yang jelas. Akhirnya perwakilan penghuni/ pemilik kios sekaligus ketua koperasi pedagang ITC Mangga Dua yakni: Mardianta Pek mendatangi ke kantor pengelola guna mencari solusi atas insiden pemutusan aliran listrik. Pada saat yang bersamaan kaca kantor pengelola pecah, diduga sengaja dipecahkan oleh pihak keamanan [security]. Kemudian pihak pengelola melalui karyawannya - Benediktus Keban - melakukan kriminalisasi dengan memaksa adanya tindak pidana pasal 335 KUHP dan melaporkan Mardianta Pek, Haida Sutami, dan Suresh Karnani ke pihak Polresta Jakarta Utara dengan tuduhan melakukan ancaman yang berakibat pecahnya kaca kantor pengelola. Ketiga orang tersebut adalah pimpinan PPPRS ITC Mangga Dua lingkungan 1A bentukan para penghuni/ pemilik yang menempati wilayah tersebut. Ketiganya saat ini dijadikan tersangka dan akan menjalani proses hukum.
Sejak PPPRS yang dibentuk oleh PT. Duta Pertiwi pada tahun 1993, hingga saat ini tidak pernah ada transparansi yang jelas terkait laporan keuangan pengelolaan ITC Mangga Dua blok 1A. Pengurus PPPRS bentukan pengembang, bukan bentukan pemilik atau pedagang yang hanya mendapat kuasa dari pengembang. Padahal dalam Undang Undang No.20 tahun 2011 tentang Rumah Susun, tidak mengenal kuasa untuk bisa menjadi pengurus. Dan dalam pasal 74 ayat 2 bagian penjelasan, menyatakan: kuasa dari pemilik kepada penghuni terbatas pada hal penghunian, misalnya, dalam hal penentuan besaran iuran untuk keamanan, kebersihan, atau sosial kemasyarakatan, bukan diperuntukan menjadi pengurus apalagi menjadi ketua. s u d o M Eksploitasi 1. Pihak pengelola kerap sewenang-wenang dalam menetapkan tarif pengelolaan. Diantaranya tarif perawatan rumah susun yang dibebankan pada masing-masing pedagang baik penghuni/pemilik kios dan terhadap pemilik konter, ialah sebesar 50% dari service charge. Jumlah ini tidak sebanding dengan perawatan yang diberikan di ITC Mangga Dua blok 1A. Berikut ini adalah kondisi yang terjadi di ITC Mangga Dua blok 1A: a. Sejak tahun 2008 tidak ada penggantian AC b. Kondisi lantai sudah rusak dan tidak diperbaiki 3. Rapat PPPRS tidak pernah dihadiri keseluruhan penghuni/pemilik ITC Mangga Dua, dan 90 % kursi yang disediakan hanya diisi oleh karyawan pihak pengelola. Rapat dihadiri oleh preman-preman berambut cepak yang sewaktu-waktu memukul pedagang bila pedagang bertanya atau interupsi. Keputusan rapat oleh ketua bersifat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. 4. Lantai-lantai dan koridor disewakan oleh pihak pengelola kepada counter-counter untuk berjualan namun tanpa ada transparansi mengenai laporan keuangan. Lantai atau koridor yang seharusnya menjadi akses bagi pengunjung untuk berjalan dan melihat barang dagangan menjadi tertutup oleh counter tersebut dan membuat tata pengaturan ITC Mangga Dua terlihat berantakan. 5. Secara tanpa izin, persetujuan, dan pertanggungjawaban kepada penghuni/pemilik kios ITC Mangga Dua 1A, menambah dan membangun unit baru pada fasilitas umum dan fasilitas sosial yang merupakan milik penghuni/pemilik kios ITC Mangga Dua 1A 6. Memungut dan menaikkan iuran service charge dan sinking fund dengan sewenangwenang. 7. Memungut PPN 10 % atas listrik dan air. 8. Memungut biaya operator sepihak. 9. Memungut sewa parkir kepada penghuni/pemilik kios ITC Mangga Dua 1A, padahal lahan parkir adalah lahan bersama pemilik kios. 10. Me mark up tarif listrik. d. Springkle kebakaran bocor, sudah 20 tahun pipanya karatan dan tidak pernah diganti 11. Mengambil semua hasil pendapatan gedung ITC Mangga Dua untuk perusahaan outsourcing, seperti hasil pameran-pameran, pendapatan parkir, sewa Tower Seluler, iklan-iklan, air jetpump yang dijual kepada food court, dan pungutan atas sewa counter-counter. e. Kebersihan gedung tidak dilakukan dengan baik sehingga tampak kotor dan tidak teratur. 12. Membatasi dan mengatur penghuni/pemilik kios ITC Mangga Dua lingkungan 1A sebagai pemilik/penghuni untuk saling bersosialisasi. 2. Adanya kenaikan tarif dasar listrik secara sepihak diatas ketentuan PLN dan biaya perawatan yang dilakukan tanpa persetujuan para pedagang 13. Melarang penghuni/pemilik kios ITC Mangga Dua lingkungan 1A untuk melakukan pembayaran listrik langsung ke PLN. c. Plafon rusak
14. Melarang penghuni/pemilik kios ITC Mangga Dua lingkungan 1A untuk mengadakan rapatrapat dengan para pemilik lainnya. 15. Mematikan listrik penghuni/pemilik kios ITC Mangga Dua lingkungan 1A jika tidak mengikuti perintah dan aturan yang diterapkan secara sepihak. 16. Mengenakan denda jika penghuni/pemilik kios ITC Mangga Dua lingkungan 1A terlambat melakukan dan membayar apa yang diperintahkan oleh pihak PPPRS. 17. Mempersulit izin, seperti izin domisili untuk usaha penghuni/pemilik kios ITC Mangga Dua lingkungan 1A. 18. Pengelolaan hanya bersifat formalitas 19. Asuransi gedung yang penghuni/pemilik kios ITC Mangga Dua lingkungan 1A bayar selama 20 tahun tidak jelas keberadaannya 20. Meminjam uang sebesar Rp.100.000.000.000 (seratus miliar rupiah) kepada perusahaan outsourcing tersebut yang mengatasnamakan dan seolah-olah telah disetujui oleh penghuni/pemilik kios ITC Mangga Dua lingkungan 1A. 21. Menyembunyikan dokumen-dokumen rumah susun seperti IMB, Pertelaan berikut uraian dan Akta Pemisahan, Perjanjian Kerjasama antara Pemda DKI dengan bekas pengembang, dan sebagainya, sehingga penghuni/pemilik kios ITC Mangga Dua lingkungan 1A. Tindakan Anarkis Selain itu, terdapat tindakan kekerasan berupa pemukulan oleh para satpam kepada penghuni/pemilik kuos ITC Mangga Dua lingkungan 1A. Kejadian serupa juga terjadi pada tahun 2010, ketika salah seorang penghuni/pemilik ITC Mangga Dua tengah melakukan demo kepada pihak pengelola terkait kenaikan tarif sepihak, kemudian dipukuli oleh para satpam dan spanduk miliknya dirampas. Pemenuhan Hak Ekonomi Sosial Budaya Berdasarkan apa yang telah diuraikan diatas, tindakan yang dilakukan oleh pihak PPPRS, pengembang, dan pihak pengelola telah melanggar pemenuhan hak ekonomi, sosial dan budaya. Berikut ini adalah bentuk hak-hak yang dilanggar: UUD 1945 Pasal 27 ayat (2) Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Kovenan Internasional Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya [EKOSOB]
Pasal 6 ayat (1) Negara Pihak dari Kovenan ini mengakui hak atas pekerjaan, termasuk hak semua orang atas kesempatan untuk mencari nafkah melalui pekerjaan yang dipilih atau diterimanya secara bebas, dan akan mengambil langkah-langkah yang memadai guna melindungi hak ini. Pasal 7 ayat (2) Negara Pihak pada Kovenan ini mengakui hak setiap orang untuk menikmati kondisi kerja yang adil dan menguntungkan, dan khususnya menjamin: Kehidupan yang layak bagi mereka dan keluarga mereka, sesuai dengan ketentuan-ketentuan Kovenan ini; (b) Kondisi kerja yang aman dan sehat; Tindakan PPPRS Pengembangan Pihak Pengelola Melawan Hukum Sebagaimana yang dijelaskan dalam pasal 6 ayat (1) Kovenan Internasional Hak Ekosob yang telah diratifikasi ke dalam UU No. 11 tahun 2005, bahwa negara pihak dari Kovenan mengakui hak atas pekerjaan, termasuk hak semua orang atas kesempatan untuk mencari nafkah. Tindakan PPPRS pengembang dan pihak pengelola yang mematikan aliran listrik secara sepihak membuat para pemilik/penghuni ITC Mangga Dua yang berprofesi sebagai pedagang, tidak dapat melakukan aktifitasnya berdagang. Akibat lain yang ditimbulkan ialah kerugian secara ekonomi yang diderita para pedagang. Hal ini karena dengan kondisi kios-kios yang mati, membuat akses yang menghubungkan pedagang (pemilik/penghuni rumah susun) dengan para konsumen menjadi terbatas. Sementara itu disisi yang lain, pengakuan hak setiap orang untuk menikmati kondisi kerja yang aman, sehat dan menguntungkan seolah menjadi terabaikan dengan terjadinya peristiwa diatas. Dengan kondisi lampu yang mati, tentu menimbulkan ketidaknyamanan sekaligus berpotensi menjadi kondisi yang tidak aman terhadap keselamatan para pedagang. Pemenuhan hak para pedagang dalam menyampaikan pendapat dan persetujuan terkait segala bentuk kebijakan di ITC Mangga Dua juga tidak terpenuhi. Padahal hal ini telah diatur didalam Pasal 77 UU No. 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun, dinyatakan bahwa Dalam hal PPPSRS memutuskan sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan penghunian rumah susun, setiap anggota berhak memberikan satu suara.
Bentuk Tindakan Krim inalisasi Oleh PPPRS ak dan Pih Pengelola ITC Mangga Dua Berikut ini adalah beberapa contoh respon yang dilakukan para pedagang terhadap tindakan PPPRS dan pihak pengelola ITC Mangga Dua beserta bentuk kriminalisasi yang dihadapi: 1. Kho Seng Seng yang menyampaikan keluhan atas tindakan PPPRS dan pihak pengelola di Surat Pembaca Harian Suara Pembaruan (21 November 2006) yang kemudian dituduh melakukan pencemaran nama baik (Pasal 310 dan 311 KUHP); 2. Winny yang menyampaikan keluhan atas tindakan PPPRS dan pihak pengelola di Surat Pembaca, kemudian dituduh melakukan pencemaran nama baik oleh PT. Duta Pertiwi; 3. Fifi Tanang yang dituduh mencemarkan nama baik PT. Duta Pertiwi (pihak pengembang/developer) setelah mengungkap status hak atas tanah ITC Mangga Dua; 4. Kasus Haida Sutami, Mardianta Pek, dan Suresh Karnani yang dituduh melakukan perbuatan tidak menyenangkan terkait insiden tanggal 18 Juli 2013, ketika menyampaikan keluhan atas pemutusan aliran listrik. Mereka juga dilaporkan dengan pasal 372, 378 dan 167 KUHP.
Kewajiban Institusi Negara Dalam perkara ini, pihak yang memiliki peran paling sentral ialah Pemerintah. Negara adalah penanggungjawab akhir untuk menjamin pemenuhan Hak Ekonomi Sosial dan Budaya. Dikaitkan dengan kasus di ITC Mangga Dua diatas, dibutuhkan peran Negara yang tegas untuk memberikan batasan hak dan kewajiban yang jelas antara pihak-pihak yang bersengketa. Negara harus memastikan bahwa pihak-pihak yang terlibat didalamnya mau dan mampu menjalankan kewajiban serta kewenangannya sebagaimana yang telah diatur dalam ketentuan masing-masing. melakukan melaksanakan penyiapan bahan perumusan kebijakan, bahan koordinasi pelaksanaan kebijakan, pemantauan, analisis, evaluasi dan penyusunan laporan di bidang perumahan susun (Ps. 323 Permenpera No. 21/2010) 3. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta a. Sebagaimana diatur dalam Ps. 5 ayat (1) UU No. 20/2011) bahwa Gubernur dan Walikota wajib melakukan pembinaan terhadap rumah susun. Gubernur ditingkat Provinsi dan Walikota di tingkat kabupaten. b. Pembinaan ini meliputi : Perencanaan, pengaturan, pengendalian, dan pengawasan (Ps. 6 ayat (1) UU No. 20/2011) c. Tindakan pengawasan ini meliputi tindakan pemantauan, evaluasi dan tindakan koreksi sesuai undang-undang (Ps. 10 UU No. 20/2011) 1. Badan Pertanahan Nasional (BPN) a. Dalam hal ini BPN bertanggung jawab atas diterbitkannya Sertifikat Hak atas Tanah, yakni didasarkan pada tugasnya untuk mengatur dan menetapkan hak atas tanah (Pasal 3 huruf g Perpres No. 10/2006) b. BPN wajib melakukan pengkajian terhadap masalah, sengketa, perkara dan konflik di bidang pertanahan (Ps. 3 huruf n Perpres No. 10/2006) c. Karena dalam faktanya status hak tanah tenyata bukan HGB murni tetapi HGB diatas HPL. Sehingga dapat dikatakan bahwa BPN telah lalai dalam menerbitkan status hak atas tanah tersebut. Padahal sudah sepatutnya BPN mengetahui hal ini. 2. Kementerian Perumahan Rakyat a. Kemenpera bertugas melaksanakan pembinaan pelaksanaan perumahan dan kawasan permukiman (Ps. 12 ayat (1) UU No.1/2011) b. Memberikan bantuan hukum dan membantu penyelesaian sengketa di bidang perumahan rakyat (Ps. 34 ayat (1) Permenpera No.21/2010) c. Asisten Deputi Rumah Susun yang berada dibawah Deputi Perumahan Formal wajib
ww www. kontras. org