PRARANCANGAN PABRIK BUTYNEDIOL DARI ACETYLENE DAN FORMALDEHYDE

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. diolah menjadi produk intermediate atau produk jadi, sehingga mengurangi

NASKAH PUBLIKASI PRARANCANGAN PABRIK BUTINEDIOL DARI ASETILEN DAN FORMALDEHID KAPASITAS TON PER TAHUN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DESKRIPSI PROSES

PRARANCANGAN PABRIK DIMETIL ETER DARI METANOL KAPASITAS TON/TAHUN

Laporan Tugas Akhir Prarancangan Pabrik Monochlorobenzene dari Benzene dan Chlorine Kapasitas ton/tahun BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. 1 Prarancangan Pabrik Dietil Eter dari Etanol dengan Proses Dehidrasi Kapasitas Ton/Tahun Pendahuluan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pendirian Pabrik

Prarancangan Pabrik Isobutil palmitat dari Asam palmitat dan Isobutanol Kapasitas Ton / Tahun BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. Prarancangan Pabrik Dimetil Eter Proses Dehidrasi Metanol dengan Katalis Alumina Kapasitas Ton Per Tahun.

BAB I PENDAHULUAN. Prarancangan Pabrik Asetat Anhidrid dari Aseton dan Asam Asetat Kapasitas Ton/Tahun A. LATAR BELAKANG

III. SPESIFIKASI BAHAN BAKU DAN PRODUK

PRARANCANGAN PABRIK DIBUTYL PHTHALATE DARI PHTHALIC ANHYDRIDE DAN N-BUTANOL KAPASITAS TON/TAHUN BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. adalah produksi asam akrilat berikut esternya. Etil akrilat, jenis ester

Prarancangan Pabrik Sodium Silikat Dari Natrium Hidroksida Dan Pasir Silika Kapasitas Ton/Tahun BAB I PENDAHULUAN

Prarancangan Pabrik Alumunium Sulfat dari Asam Sulfat dan Kaolin Kapasitas Ton/Tahun BAB I PENDAHULUAN

Prarancangan pabrik isopropil asetat dari asam asetat dan propilen kapasitas ton / tahun

PRARANCANGAN PABRIK DIKLOROBUTANA DARI TETRAHIDROFURAN KAPASITAS TON PER TAHUN

Prarancangan Pabrik Kalsium Klorida dari Kalsium Karbonat dan Asam Klorida Kapasitas Ton/Tahun BAB I PENDAHULUAN

<Pra (Rancangan (pabri^ metil'klorida dari <MetanoCdan asam Florida ton/tafiun PENDAHULUAN

1 Prarancangan Pabrik n-butil Metakrilat dari Asam Metakrilat dan Butanol dengan Proses Esterifikasi Kapasitas ton/tahun Pendahuluan

Prarancangan Pabrik Asam Asetat dari Metanol dan Karbon Monoksida Kapasitas Ton per Tahun BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berdirinya Pabrik

Prarancangan Pabrik Asam Asetat dengan Proses Monsanto Kapasitas Ton Per Tahun BAB I PENDAHULUAN

Prarancangan Pabrik Isopropanolamin dari Propilen Oksida dan Amonia Kapasitas Ton/Tahun BAB I PENDAHULUAN

Prarancangan Pabrik Metil Akrilat Dari Metanol Dan Asam Akrilat Dengan Proses Esterifikasi Kapasitas Ton/Tahun BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. Prarancangan Pabrik Perkloroetilen dari Propana dan Klorin Kapasitas ton/tahun BAB I

BAB I PENDAHULUAN. Kiswari Diah Puspita D

BAB I PENDAHULUAN. Amar Ma ruf D

BAB I PENDAHULUAN. Perancangan Pabrik Mononitrotoluena dari Toluena dan Asam Campuran dengan Proses Kontinyu Kapasitas 25.

Prarancangan Pabrik Amil Asetat dari Amil Alkohol dan Asam Asetat Kapasitas Ton / Tahun BAB I PENDAHULUAN

Prarancangan Pabrik Trisodium Fosfat dari Asam Fosfat, Sodium Karbonat, dan Sodium Hidroksida dengan Kapasitas Ton/Tahun BAB 1 PENDAHULUAN

1.2 Kapasitas Pabrik Untuk merancang kapasitas produksi pabrik sodium silikat yang direncanakan harus mempertimbangkan beberapa faktor, yaitu:

BAB I PENDAHULUAN Kapasitas Pabrik Dalam pemilihan kapasitas pabrik acetophenone ada beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan yaitu:

BAB I PENDAHULUAN. Prarancangan Pabrik Bromopropiopenon dari Propiopenon dan Bromida Kapasitas ton/tahun

Prarancangan pabrik sikloheksana dari benzena Kapasitas ton/tahun BAB I PENDAHULUAN

PRARANCANGAN PABRIK ASAM FORMIAT DARI METIL FORMAT DAN AIR KAPASITAS TON/TAHUN

BAB I. PENDAHULUAN. adalah tricresyl phosphate yang merupakan senyawa organik ( ester) dengan

PRA RANCANGAN PABRIK ETHYL ACRYLATE DARI ETHYL 3-ETHOXY PROPIONATE KAPASITAS TON / TAHUN

PRARANCANGAN PABRIK DIBUTYL PHTHALATE DARI PHTHALIC ANHYDRIDE DAN BUTANOL PROSES ESTERIFIKASI KAPASITAS TON/TAHUN

Prarancangan Pabrik Etilen Glikol dari Etilen Oksida dan Air Kapasitas ton/tahun BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. Prarancangan Pabrik Mononitrotoluen dari Toluen dan Asam Campuran Dengan Proses Kontinyu Kapasitas 55.

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Pendirian Pabrik

PABRIK ACETALDEHYDE DARI ACETYLENE DENGAN PROSES HIDRASI PRA RENCANA PABRIK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Prarancangan Pabrik Etanolamin dengan Proses Non Catalytic Kapasitas ton/tahun Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN

Prarancangan Pabrik Monoethylamin dari Ethanol dan Amoniak Kapasitas ton/tahun BAB I PENDAHULUAN

Prarancangan Pabrik Kaprolaktam dari Asam Benzoat Kapasitas Ton/Tahun BAB I PENDAHULUAN

Prarancangan Pabrik Akrolein dari Propilen dengan Kapasitas Ton/Tahun BAB I PENDAHULUAN

Prarancangan Pabrik Asetanilida dari Anilin dan Asam asetat Kapasitas ton/tahun Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

Dalam pemilihan kapasitas rancangan pabrik DME memerlukan beberapa pertimbangan yang harus dilakukan, antara lain:

BAB I PENDAHULUAN. Prarancangan Pabrik Gliserol dari Epiklorohidrin dan NaOH Kapasitas Ton/Tahun Pendahuluan

Prarancangan Pabrik Propilen Glikol dari Proplilen Oksida dan Air dengan Proses Hidrasi Kapasitas Ton / Tahun BAB I PENDAHULUAN

Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. Prarancangan Pabrik Butil Akrilat dari Asam Akrilat dan Butanol Kapasitas Ton per Tahun. Pendahuluan

pembersih sepcrti pembersih Iantai, dan Iain-lain. (Kirk and Othmer, 1977;

Prarancangan Pabrik Formaldehida Dengan Proses Katalis Perak Kapasitas ton/tahun BAB I PENDAHULUAN

Prarancangan Pabrik Sodium Tetra Silikat (Waterglass) dari Sodium Karbonat dan Pasir Silika Kapasitas Ton per Tahun BAB I PENDAHULUAN

LAPORAN TUGAS PRARANCANGAN PABRIK PRARANCANGAN PABRIK BUTYNEDIOL DARI ACETYLENE DAN FORMALDEHYDE KAPASITAS TON PER TAHUN

BAB I PENDAHULUAN. Prarancangan Pabrik Ethyl Chloride dari Ethylene dan Hydrogen Chloride Kapasitas Ton/Tahun

Dari pertimbangan faktor-faktor diatas, maka dipilih daerah Cilegon, Banten sebagai tempat pendirian pabrik Aseton.

Prarancangan Pabrik Propilen Glikol dari Propilen Oksid Kapasitas ton/tahun BAB I PENGANTAR. A. Latar Belakang

PABRIK BEZALDEHIDE DARI TOLUENE DENGAN PROSES OKSIDASI PRA RENCANA PABRIK. Oleh : EDVIN MAHARDIKA

PRARANCANGAN PABRIK N-BUTIL METAKRILAT DARI ASAM METAKRILAT DAN BUTANOL DENGAN PROSES ESTERIFIKASI KAPASITAS TON/TAHUN

Perancangan Pabrik Metil klorida Dengan Proses Hidroklorinasi Metanol Kapasitas Ton/tahun

Prarancangan Pabrik Mononitrotoluena dari Toluena dan Asam Campuran Dengan Proses Kontinyu Kapasitas Ton/Tahun BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. Prarancangan Pabrik Asam Formiat dari Metil Format dan Air dengan Proses Bethlehem Kapasitas Ton/Tahun Pendahuluan

Prarancangan Pabrik Amonium Klorida dengan Proses Amonium Sulfat - Natrium Klorida Kapasitas Ton/ Tahun BAB I PENDAHULUAN

Prarancangan Pabrik Linier Alkil Benzena dengan Proses Detal Kapasitas Ton/Tahun Pendahulan BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. Prarancangan Pabrik Asam Nitrat Dari Natrium Nitrat dan Asam Sulfat Kapasitas Ton/tahun

Prarancangan Pabrik Propilen Glikol dari Proplilen Oksida dan air dengan Proses Hidrasi Kapasitas Ton / Tahun BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Pendirian Pabrik

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. sektor industri telah menuntut semua negara ke arah industrialisasi. Indonesia

Tugas Prarancangan Pabrik Kimia Prarancangan Pabrik Aseton Sianohidrin dari Aseton dan HCN BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. Pendahuluan

Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN

PRARANCANGAN PABRIK PROPILEN OKSIDA DARI ISOBUTANA, UDARA DAN PROPILEN KAPASITAS TON/TAHUN

I. PENDAHULUAN. semakin banyaknya pabrik-pabrik kimia yang didirikan. Hal ini memacu

BAB I PENDAHULUAN. Bab I Prarancangan Pabrik Dimetil Eter Proses Dehidrasi Metanol Dengan Katalis Alumina Kapasitas Ton Per Tahun.

LAPORAN TUGAS PRARANCANGAN PABRIK PRA RANCANGAN PABRIK ASAM BENZOAT DENGAN PROSES HIDROLISIS BENZO TRIKLORIDA KAPASITAS 60.

BAB I PENDAHULUAN. Prarancangan Pabrik Asam Formiat Dari Metil Format dan Air dengan Proses Bethlehem Kapasitas Ton/Tahun Pendahuluan

BAB I PENDAHULUAN. Kain Akrilik

Laporan Tugas Akhir Prarancangan Pabrik Amil Asetat Dari Amil Alkohol dan Asam Asetat Kapasitas Ton/ Tahun BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. baik sebagai bahan baku maupun bahan penunjang. Benzil alkohol banyak. solvent, dan sebagai bahan untuk industri kimia yang lain.

BAB I PENDAHULUAN. Prarancangan Pabrik Sodium DodekilBenzena Sulfonat Dari DodekilBenzena Dan Oleum 20% dengan Kapasitas ton/tahun.

BAB I PENDAHULUAN D

BAB I PENDAHULUAN. Industri bahan intermediate (setengah jadi) di Indonesia sedang

BAB I PENDAHULUAN. desinfektan, insektisida, fungisida, solven untuk selulosa, ester, resin karet,

BAB I PENDAHULUAN. Paraldehida merupakan senyawa trimer yang dihasilkan dengan mereaksikan

BAB I PENGANTAR. Prarancangan Pabrik Asam Suksinat Dari Maleat Anhydride Dan Hidrogen dengan Kapasitas ton/tahun A.

BAB I PENDAHULUAN. ditumbuhkan dan dikembangkan dalam pembangunan sektor industri.

Prarancangan Pabrik Xylen dari Etil Benzen Kapasitas ton/tahun BAB I PENGANTAR

BAB I PENDAHULUAN. untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, pemanfaatan sumber daya alam yang

Perancangan Pabrik Acrylonitrile dari Ethylene Cyanohydrin Kapasitas ton/tahun Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. Prarancangan Pabrik Vinyl Chloride Monomer dari Ethylene Dichloride dengan Kapasitas Ton/ Tahun. A.

Perancangan Pabrik Benzyl Alkohol dari Benzyl klorida dan Natrium karbonat Kapasitas 5000 ton/tahun

Transkripsi:

LAPORAN TUGAS AKHIR PRARANCANGAN PABRIK BUTYNEDIOL DARI ACETYLENE DAN FORMALDEHYDE KAPASITAS 50.000 TON / TAHUN Oleh : Pajar Asmoro D 500 030 011 Dosen Pembimbing : 1. Ir. Haryanto AR, M.S 2. Kusmiyati, ST, MT, Ph.D JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA SURAKARTA 2008

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejalan dengan berkembangnya industri di Indonesia, semakin banyak diversifikasi usaha telah dilakukan. Banyak bahan mentah atau setengah jadi diolah menjadi produk intermediate atau produk jadi, sehingga mengurangi ketergantungan kita pada produk impor. Dalam usaha ini pemerintah memprioritaskan pada pembangunan industri yang dapat merangsang pertumbuhan industri yang lain, sehingga diharapkan pertumbuhan tersebut akan semakin pesat. Pertumbuhan industri kimia di Indonesia patut dibanggakan. Tentu saja banyak alasan mengapa pemerintah begitu bersemangat untuk mengembangkan industri tersebut. Bukan hanya karena jumlah bahan baku yang cukup memadai di tanah air maupun wilayah pemasaran yang luas melainkan prospek dan kelanjutan industri kimia di Indonesia cukup cerah. Salah satu industri yang mempunyai kegunaan penting dan mempunyai prospek yang bagus adalah industri Butynediol. Butynediol dengan rumus molekul HOCH 2 C=CCH 2 OH mempunyai nama IUPAC adalah But-2-yne-1,4-diol dan sering juga disebut dengan nama 1,4-Butynediol, 1,4-Dihydroxy-2butyne, 2-butyne-1,4-diol, 2-Butynediol, Bis (hydroxymethyl) acetylene, But-2-in-1,4-diol, dan Butyndiol. Pertimbangan utama yang melatarbelakangi berdirinya pabrik Butynediol ini, pada prinsipnya adalah sama dengan sektor-sektor lain yaitu untuk melakukan usaha yang secara sosial-ekonomi cukup menguntungkan. Karena sifatnya yang prospektif dimasa yang akan datang, dalam pengertian potensi pasar, mudah diperoleh bahan baku, yakni Acetylene dan Formaldehyde, teknologi yang dibutuhkan dapat terpenuhi dan terdapatnya tenaga pelaksana, maka keuntungan dapat dicapai dengan adanya pendirian 1

2 pabrik Butynediol, namun sifat prospektif ini akan terlaksana dengan kemampuan modal yang memadai. Disamping itu dengan mendirikan pabrik Butynediol yang merupakan pabrik padat modal dan padat teknologi, diharapkan dapat memacu tumbuhnya industri-industri baru yang memakai Butynediol, seperti industri Butanediol, Tetrahydrofuran, dan Pyrolidone. Dengan memproduksi Butynediol diharapkan dapat memenuhi kebutuhan Butynediol didalam negeri. Selama ini untuk memenuhi kebutuhan Butynediol pemerintah mengimpor dari luar negeri, seperti dari negara Jepang, Taiwan, Cina, Brazil, German, dsb. Berdasarkan pertimbangan-pertimbanagan tersebut diatas maka pabrik ini layak dipertimbangkan untuk didirikan di Indonesia. 1.2 Kapasitas Perancangan Dalam pemilihan kapasitas pabrik Butynediol ada beberapa pertimbanganpertimbangan, yaitu : 1.2.1 Prediksi kebutuhan dalam negeri Kapasitas pabrik Butynediol ditentukan berdasarkan kebutuhan impor Butynediol dalam negeri yang berasal dari negara-negara lain. Kebutuhan Butynediol di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 1. Kebutuhan Butynediol di Indonesia No Tahun Kebutuhan Impor (ton / tahun) 1 1998 1758 2 1999 1768 3 2000 1986 4 2001 3247 5 2002 3155 6 2003 5154 7 2004 8617 8 2005 10.150 Sumber : Badan Pusat Statistik 1998-2005

3 Impor Butynediol dari tahun 1998 ke tahun tahun berikutnya mengalami kenaikan rata-rata sebesar 17,8 %. Dengan menggunakan perhitungan Regresi Linear dari data diatas dapat diperkirakan kebutuhan impor Butynediol pada tahun 2012 sebesar 17.360,84 ton/ tahun. 1.2.2 Ketersediaan bahan baku Bahan baku Formaldehyde dan Acetylene telah banyak diproduksi di Indonesia. Mengingat persediaan bahan baku yang memadai dan kebutuhan Butynediol yang besar, maka sangat prospektif bila mendirikan pabrik Butynediol. 1.2.3 Kapasitas minimal Dari pabrik yang sudah beroperasi dibeberapa negara dapat diketahui bahwa kapasitas minimal perancangan lebih dari 1.000 ton/tahun, dengan kapasitas maksimalnya sebesar 100.000 ton/tahun. Sampai saat ini sekitar 200.000 ton/tahun Butynediol diproduksi di Eropa. Salah satu pabrik yang sudah berdiri di Cina memproduksi Butynediol sebesar 50.000 ton/tahun. (Ullman,1989) Berdasarkan pertimbangan diatas maka dalam perancangan pabrik Butynediol yang akan didirikan pada tahun 2012 ditentukan kapasitas sebesar 50.000 ton/tahun. Kapasitas ini ditetapkan dengan beberapa tujuan antara lain : 1. Dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri. 2. Dapat diekspor sehingga menghasilkan devisa bagi negara. 3. Dapat merangsang berdirinya industri kimia lain yang menggunakan Butynediol sebagai bahan baku seperti industri butanediol, dan tetrahydrofuran.

4 1.3 Pemilihan Lokasi Pemilihan lokasi pabrik akan sangat menentukan kelangsungan dan perkembangan pabrik yang akan didirikan, baik secara teknis, geografis, maupun ekonomis. Secara teoritis pemilihan lokasi pabrik dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu faktor utama dan faktor pendukung. 1.3.1 Faktor utama dalam pemilihan lokasi pabrik a. Sumber bahan baku Banyak industri Formaldehyde dan Acetylene sebagai bahan baku Butynediol yang telah didirikan di Indonesia. Salah satunya PT. Arjuna Utama Kimia di surabaya yang memproduksi Formaldehyde (CH 2 O), dan juga Acetylene (C 2 H 2 ) yang diproduksi PT Samator Gas di Gresik Jawa Timur. b. Letak pasar Butynediol merupakan bahan baku yang digunakan secara luas dalam bidang industri, antara lain : Industri farmasi Industri pestisida, yaitu dapat digunakan sebagai bahan pembuatan herbisida dan insektisida. Industri bahan pembersih, yaitu sebagai pembersih kaca, dan penghambat karat. Industri kimia lain (butanediol,, pyrolidine, tetrahydrofuran). Pemasaran Butynediol tersebar diseluruh wilayah Indonesia, khususnya wilayah Jawa dan Kalimantan. c. Fasilitas transportasi Tersedianya sarana transportasi yang memadai yang meliputi : Transportasi darat

5 Di Jawa Timur terdapat 2 jalan poros yaitu poros utara dan poros selatan. Poros utara meliputi jalan yang menghubungkan kota Surabaya Lamongan Gresik - Babat Tuban dan Bulu. Poros selatan meliputi jalan yang mengubungkan Mantingan Ngawi Nganjuk Kertosono Jombang Mojokerto Surabaya Pasuruan Probolinggo Banyuwangi. Dalam tahun-tahun pelaksanaan Repelita IV secara regional, Propinsi Jawa Timur melakukan peningkatan jalan, termasuk pembangunan jalan baru Surabaya-Gresik, dan Surabaya- Gempol. Selain itu juga dibangun jalan lingkar Surabaya Timur, Malang, Probolinggo, Ngawi, Bangkalan dan Gresik. Selain Jalan Raya, angkutan kereta api juga menduduki peranan yang cukup penting, oleh sebab itu pemerintah Jawa Timur juga melakukan rehabilitasi jalan kereta api, penambahan gerbong lintas Surabaya - Banyuwangi, Surabaya Solo. Transportasi Laut Berkat usaha pembangunan yang dilakukan selama beberapa periode (Pelita I s/d III) pelayanan jasa angkutan laut di Jawa Timur terus meningkat. Terutama kegiatan beberapa pelabuhan yang ada di Jawa Timur antara lain : Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Meneng (Banyuwangi), Panarukan (Madura), Probolinggo, Pasuruan, Kalianget, Gresik dan Tuban. Transportasi Udara Di Jawa Timur terdapat Landasan Udara yang cukup besar yaitu Bandara Juanda. Bandara ini merupakan Bandara Internasional dan merupakan bandara Ekspor. Dengan adanya sarana transportasi yang memadai baik untuk transportasi darat, laut, dan udara maka pemasaran produk dan pemasokan bahan baku tidak mengalami kesulitan.

6 d. Tenaga kerja Kawasan Gresik, Jawa Timur merupakan daerah industri yang tingkat kepadatan penduduknya cukup tinggi, sehingga dapat menjamin tersedianya tenaga kerja. Mengingat padatnya penduduk Jawa Timur dan makin langkanya lahan pertanian maka pembangunan industri merupakan kunci bagi perluasan lapangan kerja bagi pencari kerja yang senantiasa bertambah. Tingkat pertambahan tenaga kerja di Jawa Timur tiap tahun cenderung bertambah rata-rata 5,03%. Untuk mendapatkan tenaga kerja yang memenuhi kualitas dan kuantitas, dapat diperoleh dari lulusan perguruan tinggi UMS, perguruan tinggi laiinya didaerah tersebut, dan dari daerah lain disekitarnya. Berdasarkan itulah semua program-program pembagunan baik yang bersifat regional maupun sektoral selalu diarahkan mampu menciptakan lapangan kerja, agar dapat menyerap tenaga kerja yang setiap tahun selalu bertambah.

7 e. Utilitas Fasilitas utilitas yang meliputi penyediaan air, bahan bakar dan listrik. Kebutuhan listrik dapat memanfaatkan listrik PLN yang sudah masuk ke lokasi pabrik dan untuk sarana lain seperti air juga banyak tersedia didaerah Gresik, Jawa Timur. Tersedianya sumber air dari aliran Sungai Brantas dan sungai Bengawan Solo sangat mendukung untuk mendirikan pabrik didaerah Gresik, Jawa Timur. (Anonim, 2001) 1.3.2 Faktor pendukung dalam pemilihan lokasi pabrik: 1. Harga tanah dan gedung. Dibanding dengan kota-kota besar lainnya termasuk Surabaya, harga tanah dan bangunan di Gresik relatif murah. Hal ini dikarenakan banyaknya terdapat lahan-lahan pertanian yang kosong karena keadaan tanah yang tidak begitu cocok untuk melakukan usaha di bidang pertanian. 2. Kemungkinan perluasan pabrik. Perluasan pabrik memungkinkan untuk dilakukan karena di Gresik banyak terdapat lahan kosong yang tidak prospektif bila digunakan untuk pertanian, untuk itu perluasan pabrik memungkinkan untuk dilakukan. 3. Tersedianya fasilitas servis Kawasan Gresik dekat dengan Surabaya yang merupakan salah satu kota besar di Indonesia, sehingga sangatlah mudah untuk mencari fasilitas servis, seperti bengkel atau fasilitas lainnya. 4. Tersedianya air yang cukup. Tersedianya sumber air dari aliran Sungai Brantas dan sungai Bengawan Solo, dapat dimanfaatkan untuk keperluan pabrik. 5. Peraturan pemerintah daerah setempat. Pemerintah menekankan pembangunan sektor industri untuk menyerap tenaga kerja. Selain itu pembangunan industri juga

8 diarahkan untuk meningkatkan produksi barang-barang untuk memenuhi keperluan masyarakat dan juga keperluan ekspor. Pada Pelita I dan II program pembangunan Industri dilaksanakan dalam 3 program utama : a. Program pengembangan wilayah industri yang mampu merangsang pembangunan industri sektor swasta. b. Program pembinaan industri kecil dan kerajinan rakyat yang bersifat padat modal untuk masalah-masalah penyuluhan, penelitian, pendidikan, penyediaan bahan baku, mekanisma dan lain-lain. c. Program pencukupan prtasarana dalam usaha menuju modernisasi industri. 6. Iklim Wilayah-wilayah di Jawa Timur termasuk Gresik memiliki iklim Tropis dengan musim hujan berlangsung selama bulan Oktober- April dan musim kemarau berlangsung selama bulan April- Oktober. Diantara kedua musim tersebut terdapat musim peralihan yang terjadi sekitar bulan April Mei dan Oktober November. 7. Keadaan tanah Jenis tanah yang ada di Gresik biasanya merupakan jenis grumasol yang merupakan struktur tanah yang penyebarannya sangat meluas terutam didaerah Barat, Utara, Selatan, dan Pulau Madura. Di daerah Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Surabaya, Madiun,dan Gresik terdapat jenis tanah ini yang berasal dari batu endapan dan batu bekuan yang yang berwarna kelabu tua. Tanah ini merupakan jenis tanah yang kurang subur, namun sangat cocok untuk didirikan bangunan karena strukturnya yang kuat. (Anonim, 1988)

9 Dari pertimbangan-pertimbangan diatas maka lokasi yang cocok untuk pendirian pabrik Butynediol adalah kawasan industri Gresik-Jawa Timur. 1.4 Tinjauan Pustaka 1.4.1 Proses Pembuatan Pada prinsipnya proses pembuatan Butynediol secara komersial dilaksanakan dengan cara ethynylation, yaitu dengan mereaksikan Acetylene dan Formaldehyde dengan katalisator CuC 2. ( Kirk Othmer, 1980 ) Secara stoikiometri pembentukan Butynediol mengikuti persamaan : C 2 H 2 + 2 CH 2 O HOCH 2 CCCH 2 OH...(1.1) Acetylene Formaldehyde Butynediol Proses ini disebut dengan proses Reppe. Reaksi lain yang mungkin terjadi, yaitu : C 2 H 2 + CH 2 O C 3 H 4 O...(1.2) Acetylene Formaldehyde Propargyl Alcohol (Speight, 2002) Reaksi ini dapat dilakukan di dalam reaktor fixed bed ( memakai tumpukan katalis padat ). Reaksi berlangsung pada kondisi suhu 115 C sampai 135 C dan tekanan 2 sampai 8 atmosfer. ( Moore, 1964 ) Dalam pembuatan Butynediol, Formaldehyde yang digunakan berupa gas, katalis berupa padatan, dan Acetylene berupa gas. Katalis yang biasa digunakan adalah metal acetylide, terutama yaitu Cuprous Acetylide / Copper Acetylide (CuC 2 ). Jika Acetylene yang diumpankan dalam reaktor berupa cairan maka akan mempengaruhi laju reaksi yang terjadi, karena katalis yang ada akan terlarut dalam Acetylene cair tersebut dan tidak dapat tercampur menjadi larutan yang homogen

10 melainkan akan menyebabkan hilangnya substansi dalam katalis, sehingga fungsi katalis untuk mempercepat laju reaksi akan hilang. (Moore,1964) 1.4.2 Kegunaan Produk Butynediol banyak digunakan pada industri pembuatan butanediol, tetrahydrofuran, pyrrolidone dan beberapa produk lain. Butynediol juga dapat digunakan untuk konversi eter dengan etylene oxida pada proses brominasi, bahan-bahan pelindung untuk alat pabrik, pestisida, bahan tambahan pada industri cat dan textil. Butynediol juga digunakan untuk bahan pencerah warna, bahan pengawet, bahan pembersih, bahan anti karat, dan manghambat pelapisan nikel. (Chemicalland21.com) 1.4.3 Sifat Fisika dan Sifat Kimia Bahan Baku dan Produk 1. Acetylene ( C 2 H 2 ) Sifat Fisika Molekul Formula : H C C H Rumus Kimia : C 2 H 2 Berat Molekul : 26,04 Kg/Kmol Titik Didih : -83,80 C Titik leleh : -80,75 C Temperatur kritis : 35,15 C Tekanan kritis : 60,59 atm Volume kritis : 1,809446 ft 3 /lbmol f : 97.484,57 Btu/lbmol G f : 89.939,46 Btu/lbmol Densitas ( 0 C ) : 1,1747 g/l Viskositas ( 20 C ) : 0,010 cp Fase : gas warna : tidak berwarna

11 Sifat : berbau Kemurnian : 99,40 % w C 2 H 2 0,5 % w N 2 0,1 % w H 2 Spesifik gravity 60 F : 0,7906 Kelarutan dalam air ( 25 C ) : 0,94 % w Pelarut organik : aceton, benzene,chloroform, eter Sinonim : Acetylen, Ethyne, Welding Gas, Narcylen, Vinylene (Yaws,1993) Sifat Kimia a. Hidrasi Hidrasi adalah proses penambahan air kedalam suatu larutan. Acetylene bereaksi dengan Air dengan bantuan katalis garam mercurie akan membentuk Acetaldehyde (C 2 H 4 O). H H O C = C + H 2 O H 3 C C H H H Acetaldehyde Reaksi: HC CH H 2 O CH 3CHO...(1.3) b. Hydrogen Chloride direaksikan dengan Acetylene akan menghasilkan Vinil chlorida yang dapat dipolimerisasi menjadi polyvynyl chloride yang dapat digunakan untuk membuat pipa, lantai, dan jas hujan.

12 H Cl C = C H H Vynyl chloride Reaksi: HC CH HCl CH 2 CHCl...(1.4) c. Hydrogen Cianaide direkasikan dengan Acetylene akan menghasilkan Acrilonitril. H CN C = C H H Acrilonitril HC CH HCN CH 2 CHCN...(1.5) d. Asam Asetat direksikan dengan Acetylene akan membentuk Vinil Asetat. Vynyl Acetat Reaksi: HC CH CH...(1.6) 3COOH CH 2 CHOOCCH 3 e. Chlorine direaksikan dengan Acetylene akan membentuk 1,2 dichloroetene (DCE) dichloroetene (DCE)

13 HC CH Cl...(1.7) 2 CH 2 Cl2 f. Formaldehyde direaksikan dengan Acetylene akan menghasilkan 1,4 Butynediol dan Propargyl Alcohol yang dapat dihidrogenasi menjadi 1,4 Butanediol. HC CH 2CH 2O HOCH 2C CCH 2OH...(1.8) Butynediol HC CH 2CH 2O HOCH 2C CCH 2OH...(1.9) Propargyl alcohol g. Hydrogen Fluoride direaksikan dengan Acetylene akan membentuk Vinil Fluorid. HC CH HF CH 2 CHF...(1.10) ( Kirk Othmer, 1995 ) 2. Formaldehyde Sifat Fisika Molekul Formula : H \ C = O / H Rumus Kimia : CH 2 O Berat Molekul : 30,03 Kg/Kmol Titik Didih : -19,15 C Titik leleh : -92,00 C Temperatur kritis : 134,85 C Tekanan kritis : 64,9999 atm Volume kritis : 1,681939 ft 3 /lbmol

14 Fase : gas f : - 49827,84 Btu/lbmol G f : -47248,31 Btu/lbmol Kemurnian : 30 % CH 2 O 55 % H 2 O 15 % CH 3 OH Specific gravity : 0,815 Kelarutan dalam air ( 20 C ) : 0,55 % Densitas ( -20 C ) : 0,815 g/ml Pelarut organik : Ether, alcohol, azeton, benzene Sinonim : Formic aldehyde, methanal, aldehyde, methylene oxide (Yaws,1993) Sifat Kimia a. Reaksi dengan air Formaldehyde dengan asetaldehid dalam larutan dapat membentuk metylen glicol. Dengan reaksi : CH 2 = O + H 2 O HO CH 2 OH...(1.11) b. Reaksi dengan acetaldehyde Formaldehyde dengan acetaldehyde dalam larutan NaOH dapat membentuk Pentaerethytritol dan sodium formate. Dengan reaksi : HCHO+C(CH 2 OH) 3 CHO+NaOH C(CH 2 OH) 4 + HCOONa...(1.12) ( Kirk Othmer, 1995 )

15 3. 1,4 Butynediol Sifat Fisika Molekul Formula : H H HO C C = C C OH H H Rumus Kimia : C 4 H 6 O 2 Berat Molekul : 86,09 Kg/Kmol Titik Didih : 238 C Titik leleh : 57,84 C Temperatur kritis : 421,85 C Tekanan kritis : 57,8499 atm Volume kritis : 4,100707 ft 3 /lbmol Fase : cair f C 4 H 6 O 2 : - 50730,86 Btu/lbmol G o C 4 H 6 O 2 : -18056,75 Btu/lbmol Kemurnian : 55 % C 4 H 6 O 2 40 % H 2 O 5 % CH 3 OH Daya larut dalam 100 gr air : 374 gr Specific gravity ( 60 F ) : 1,0691 Sinonim : 1,4 dihydroxy 2 butyne,2butyne 1,4diol,2butynediol,bis( hidroxy methyl ) acetylene, butindiol (Yaws,1993) Sifat Kimia a. Proses hidrogenasi butynediol akan membentuk butanediol, seperti pada reaksi : HOCH 2 C = CCH 2 OH + 2H 2 HOCHCHCHCHOH...(1.13)

16 b. Aldehide atau acetal direaksikan dengan butynediol akan menghasilkan polymer acetal. HOCH 2 C=CCH 2 OH + CH 2 O HO(CH 2 C=CCH 2 OCH 2 O) n H c. Asam Khlorida direaksikan dengan butynediol akan menghasilkan 2,4-dikhloro-2-buten-1-ol. HOCH 2 C=CCH 2 OH + 2HCl ClCH 2 CH=CClCH 2 OH+H 2 O ( Kirk Othmer, 1995 ) 4. Methanol ( Hasil Samping ) Sifat Fisika Rumus Kimia : CH 3 OH Berat Molekul : 32,04 Kg/Kmol Titik Didih : 64,65 C Titik Leleh : -97,68 C Fase : cair Kemurnian : > 99 % CH 3 OH < 1 % H 2 O Specific gravity : 0,712 Temperatur kritis : 239,49 C Tekanan kritis : 79,9111 atm Volume kritis : 118 liter/kmol (Yaws,1993) Sifat Kimia a. Reaksi oksidasi Reaksi oksidasi methanol akan menghasilkan formaldehyde dan air. CH 3 OH + ½ O 2 HCHO + H 2 O...(1.16)

17 b. Methanol bereaksi dengan isobutylene akan membentuk MTBE. CH 3 CH 3 CH 3 OH + C = CH 2 CH 3 O C CH 3 CH 3 CH 3 c. Methanol dapat didehidrasi membentuk dimethil eter dan air. 2CH 3 OH CH 3 OCH 3 + H 2 O...(1.17) d. Methanol direaksikan dengan amonia akan membentuk methilamine. CH 3 CH 3 CH 2 =CCOOH+ CH 3 OH CH 2 =CCOOCH 3 + H 2 O ( Kirk Othmer, 1995 ) 1.4.4 Tinjauan Proses Secara Umum Bahan baku Formaldehyde dan Acetylene bereaksi membentuk butynediol dengan bantuan katalis padat Copper Acetylide pada suhu antara 115 o C sampai 135 o C dan tekanan antara 2 sampai 8 atm. Jika Acetylene yang diumpankan dalam reaktor berupa cairan maka akan mempengaruhi laju reaksi yang terjadi, karena katalis yang ada akan terlarut dalam Acetylene cair tersebut dan tidak dapat tercampur menjadi larutan yang homogen melainkan akan menyebabkan hilangnya substansi dalam katalis, sehingga fungsi katalis untuk mempercepat laju reaksi akan hilang. Pemisahan hasil reaksi bekerja pada kondisi normal sehingga gas yang tersisa dapat langsung dibuang menjadi gas buang. Produk Butynediol akan diperoleh dari proses pemisahan ini. Produk lain

18 dari proses pemisahan akan dipisahkan kembali untuk memperoleh produk samping berupa methanol. (Moore, 1964)