DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI MEMUTUSKAN :

dokumen-dokumen yang mirip
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI : KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR: KEP- 64/BC/1997 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 69/PMK.04/2009 TENTANG

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P - 29 /BC / 2010 TENTANG

KEPUTUSAN DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR : KEP-19 / BC / 1997 TENTANG PENETAPAN HARGA JUAL ECERAN HASIL TEMBAKAU

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN RI NOMOR 597/KMK.04/2001 TANGGAL 23 NOVEMBER 2001 TENTANG PENETAPAN TARIF CUKAI DAN HARGA DASAR HASIL TEMBAKAU

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 449 /KMK.04/2002 TENTANG PENETAPAN TARIF CUKAI DAN HARGA DASAR HASIL TEMBAKAU

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 96/PMK.04/2010 TENTANG

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR: KEP-09/BC/1996 TENTANG PENETAPAN HARGA JUAL ECERAN HASIL TEMBAKAU DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI,

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 89/KMK.05/2000 TENTANG PENETAPAN TARIF CUKAI DAN HARGA DASAR HASIL TEMBAKAU

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-26/BC/2009 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 70 / PMK.04 / 2009 TENTANG

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 179/PMK.011/2012 TENTANG TARIF CUKAI HASIL TEMBAKAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI TENTANG NOMOR : KEP-19/BC/1999 TENTANG PENETAPAN HARGA JUAL ECERAN HASIL TEMBAKAU

1 of 5 21/12/ :02

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER - 52/BC/2011 TENTANG

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI SALINAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER- 52 /BC/2012

181/PMK.011/2009 TARIF CUKAI HASIL TEMBAKAU

Sehubungan dengan diterbitkannya surat tagihan (STCK-1) nomor :...(6)... tanggal...(7)... (terlampir), kami yang bertanda tangan di bawah ini:

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P- 31/BC/2010

Pabrikan Rokok "A" dalam Masan Pajak November 2000 melakukan kegiatan sebagai berikut :

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P - 16 /BC/2008 TENTANG

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR : KEP-17/BC/1998 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20/PMK.04/2015 TENTANG

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 122/PMK.04/2017 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 122/PMK.04/2017 TENTANG PENUNDAAN PEMBAYARAN UTANG BEA MASUK, BEA KELUAR,

2017, No c. bahwa pada tanggal 4 Oktober 2017, Pemerintah bersama-sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia telah menyepakati tar

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 146/PMK.010/2017 TENTANG TARIF CUKAI HASIL TEMBAKAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

2017, No Melaksanakan Pelunasan dengan Cara Pembayaran; c. bahwa untuk lebih memberikan kepastian hukum, meningkatkan pelayanan di bidang cukai

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P - 17 /BC/2008 TENTANG

203/PMK.011/2008 TARIF CUKAI HASIL TEMBAKAU

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI SALINAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P 14/BC/2006 TENTANG

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-15/BC/2008 TENTANG

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P- 42 /BC/2010

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI

BUKTI PENERIMAAN JAMINAN (BPJ) NOMOR :...(3)

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN RI NOMOR 17/KMK

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER - 53/BC/2011 TENTANG

- 1 - PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 68/PMK.04/2009 TENTANG

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-27/BC/2009 TENTANG

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI SALINAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER - 57/BC/2012

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-46/BC/2010 TENTANG

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI

PERATURAN MENTERI KEUANGAN 203/PMK.011/2008 TENTANG TARIF CUKAI HASIL TEMBAKAU MENTERI KEUANGAN,

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

P - 48/BC/2009 DESAIN PITA CUKAI HASIL TEMBAKAU DAN MINUMAN MENGANDUNG ETIL ALKOHOL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN TENTANG TATA CARA PENGENAAN SANKSI ADMINISTRASI BERUPA DENDA DI BIDANG CUKAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER - 49 /BC/2011 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 47/PMK.04/2007 TENTANG PEMBEBASAN CUKAI MENTERI KEUANGAN,

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-36/BC/2010 TENTANG

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER - 1 /BC/2012 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 131/PMK.011/2013 TENTANG

UNDANG-UNDANG NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI [LN 2007/105, TLN 4755]

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 585 /KMK.05/1996

KEPUTUSAN DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR : KEP-68 / BC / 1997 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN TENTANG TATA CARA PENGENAAN SANKSI ADMINISTRASI BERUPA DENDA DI BIDANG CUKAI

KOP PERUSAHAAN SURAT SANGGUP BAYAR (SSB) (PROMESSORY NOTE)

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 1996 TENTANG PENGENAAN SANKSI ADMINISTRASI DI BIDANG CUKAI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

NOMOR : KEP-03/BC/2003 NOMOR : 01/DAGLU/KP/I/2003 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN TERTIB ADMINISTRASI IMPORTIR

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR : KEP- 97 /BC/ 1997 TENTANG PENETAPAN HARGA JUAL ECERAN MINUMAN MENGANDUNG ETIL ALKOHOL

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL NOMOR : KEP -50 /BC/1999 TENTANG

FASILITAS PENUNDAAN PEMBAYARAN CUKAI HASIL TEMBAKAU DI KANTOR PELAYANAN BEA DAN CUKAI PANARUKAN LAPORAN PRAKTEK KERJA NYATA

No. Sifat Nomor dan Tanggal Kepada Perihal Surat. Und-306/BC.8/2015 tanggal 21 Desember 2015

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 128/KMK.05/2000 TENTANG TOKO BEBAS BEA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,

Transkripsi:

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR: KEP-58 / BC/ 1999 TENTANG PEMBERIAN PENUNDAAN PEMBAYARAN CUKAI ATAS PEMESANAN PITA CUKAI HASIL TEMBAKAU DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI Menimbang : a. bahwa berdasarkan pasal 3 dan 4 Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 240/ KMK.05/ 1996 tanggal 1 April 1996 tentang Pelunasan Cukai persyaratan untuk mendapatkan penundaan pembayaran cukai serta petunjuk pelaksanaan teknis keputusan tersebut diatur oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai: b. bahwa petunjuk pelaksanaan pemberian penundaaan pembayaran yang telah dikeluarkan sebelumnya dipandang perlu disempurnakan kembali guna kepentingan perencanaan penerimaan negara di bidang cukai; c. bahwa untuk melakukan penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada huruf b perlu ditetapkan suatu Keputusan Direktur Jenderal Bea Dan Cu kai ; Mengingat : 1. Undang undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan ( Lembaran Negara Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3612 ) ; 2. Undang undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai ( Lembaran Negara Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3613 ) ; 3. Keputusan Mentri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 240/KMK.05/1996 Tanggal 1 April 1996 tentang Pelunasan Cukai ; 4. Keputusan Mentri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 105/KMK.05/1997 tanggal 12 Maret 1997 tentang Penyempurnaan Keputusan Mentri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 240/KMK.05/1996 tanggal 1 April tentang Pelunasan Cukai ; MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI TENTANG PEMBERIAN PENUNDAAN PEMBAYARAN CUKAI ATAS PEMESANAN PITA CUKAI HASIL TEMBAKAU. Pasal 1 (1). Kepada Pengusaha Pabrik Hasil Tembakau yang termasuk sebagai Pengusaha Kena Pajak atau Importir hasil Tembakau dapat diberikan penundaaan pembayaran cukai atas pemesanan pita cukai selama lamanya dua bulan terhitung sejak dari tanggal dilakukan pemesanan pita cukai. (2). Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Pengusaha Pabrik hasil Tembakau yang termasuk sebagai Pengusaha Kena Pajak dapat diberikan penundaaan pembayaran cukai atas pemesanan pita cukai untuk produksi hasil tembakau selain dari jenis Sigaret Kretek Mesin (SKM ) dan Sigaret Putih (SPM) selama lamanya tiga bulan terhitung sejak dari tanggal dilakukan pemesanan pita cukai. Pasal 2 Pemberian penundaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 dilakukan oleh : a. Kepala Kantor Pelayanan Bea Dan Cukai a.n. Direktur Jenderal untuk jumlah maksimum penundaan sebesar Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah);

b. Kepala Kantor Wilayah Bea Dan Cukai a.n. Direktur Jenderal dalam jumlah diatas Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah ) sampai dengan Rp. 5.000.000.000,00 ( lima milyar rupiah ); c. Direktur Cukai a.n Direktur Jenderal Bea dan Cukai untuk jumlah diatas Rp.5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah) sampai dengan Rp.50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah) ; atau d. Direktur Jenderal untuk jumlah diatas Rp.50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah ) Pasal 3 (1). Untuk mendapatkan pemberian penundaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 huruf a, Pengusaha Pabrik atau Importir Hasil Tembakau mengajukan permohonan kepada Kepala Kantor Pelayanan setempat dengan menggunakan formulir sebagaimana bentuk contoh dalam Lampiran I keputusan ini. (2) Untuk mendapatkan pemberian penundaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 huruf b, Pengusaha Pabrik atau Importir hasil Tambakau mengajukan permohonan Kepada Kepala Kantor Wilayah Bea Dan Cukai setempat melalui Kantor Pelayanan Bea dan Cukai yang mengawasi dengan menggunakan formulir sebagaimana bentuk contoh dalam Lampiran II keputusan ini. (3) Untuk mendapatkan pemrian penundaaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 huruf c dan d, Pengusaha Pabrik atau Importir hasil tembakau mengajukan permohonan kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai u.p Direktur Cukai melalui Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai yang mengawasi dengan menggunakn formulir sebagaimana bentuk comtoh dalam Lampiran III keputusan ini. (4) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),ayat (2), dan ayat (3) wajib dilampiri dengan : a. Daftar asset/ kekayaan perusahaan yang dapat dibuktikan kepemilikannya oleh Pengusaha Pabrik atau Importir yang bersangkutan. b. Daftar pemesanan pita cukai tiap tiap jenis hasil tembakau dari perusahaan yang bersangkutan selama enam bulan terakhir. c. Perhitungan besarnya penundaan pembayaran cukai atas pemesanan pita cukai yang diminta sebagaimana contoh dalam Lampiran IV keputusan ini. d. Neraca Rugi Laba tahun buku terakhir, yang dapat dibuktikan berdasarkan pembukuan perusahaan yang diselenggarakan oleh Pengusaha Pabrik atau Importir Hasil Tembakau yang bersangkutan. (5). Neraca Rugi laba sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf d dari pengusaha Pabrik atau Importir hasil Tambakau yang melakukan pemesanan pita cukai dengan jumlah nilai cukai rata-rata melebihi Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah ) setiap bulannya, adalah Neraca Rugi Laba yang dibuat oleh akuntan publik. Pasal 4 Perhitungan besarnya penundaan pembayaran cukai atas pemesanan pita cukai sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 ayat (4) huruf c dilakukan dengan cara sebagai berikut : a. untuk Sigaret kretek Mesin (SKM) dan Sigaret Putih Mesin (SPM) sebanyak dua kali dari nilai cukai rata-rata per bulan yang dihitung dari pemesanan pita cukai dalam masa 6 bulan terakhir atau dua kali dari nilai cukai rata-rata per bulan yang dihitung dari pemesanan pita cukai 3 (tiga) bulan dalam masa 6 (enam) bulan terakhir.

b. Untuk Sigaret Kretek Tangan (SKT),Sigaret Kelembak Kemenyan (KLM), Sigaret Klobot (KLB), Tembakau Iris (TIS), Cerutu dan hasil Tembakau lainnya sebanyak tiga kali dari nilai cukai rata-rata per bulan yang dihitung dari pemesanan pita cukai dalam masa 6 (enam) bulan terakhir atau tiga kali dari nilai cukai rata-rata per bulan yang dihitung dari pemesanan pita cukai 3 (tiga) bulan dalam masa 6 (enam) bulan terakhir. c. Hasil penju mlahan perhitungan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan/ atau huruf b ditambah dengan separuh (50%) dari hasil penjumlahan tersebut. Pasal 5 (1). Kepala Kantor Pelayanan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai berkewajiban,dalam jangka waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal diterimanya permohonan secara lengkap dan benar, memberi keputusan atas permohonan tersebut. Dalam hal jangka waktu 14 (empat belas) hari dilampaui, permohonan yang bersangkutan dianggap diterima. (2). Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai berkewajiban, dalam jangka waktu selambat-lambatnya 21 (dua puluh satu) hari terhitung sejak tanggal diterimanya permohonan secara lengkap dan benar, memberi keputusan atas permohonan tersebut. Dalam hal jangka waktu 21 (dua puluh satu) hari dilampui, permohonan yang bersangkutan dianggap diterima. (3). Direktur Jenderal Bea dan Cukai atau Direktur Cukai memberi keputusan selambatlambatnya 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal diterimanya permohonan secara lengkap dan benar. Dalam hal jangka waktu 30 (tiga puluh) hari dilampui, permohonan yang bersangkutan dianggap diterima. (2). Setiap persetujuan pemberian penundaan pembayaran atas pemesanan pita cukai diberikan untuk jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun terhitung sejak tanggal diterbitkannya. Pasal 6 (1). Bagi Importir Hasil Tembakau yang telah mendapat persetujuan penundaan pembayaran sebagaimana dimaksud dalam pasal 1, wajib menyerahkan jaminan bank atau jaminan asuransi yang masing-masing berlaku tersendiri untuk setiap dokumen pemesanan pita cukai (CK-1) yang diajukannya. (2). Jaminan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikeluarkan oleh bank atau perusahaan asuransi yang berlokasi di wilayah pengawasan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai setempat. Pasal 7 Persetujuan pemberian penundaaan pembayaran cukai atas pemesanan pita cukai sebagaimana dimaksud dalam pasal 2: a. dibekukan, dalam hal pengusaha yang bersangkutan tidak melunasi pembayaran cukai pada tanggal jatuh tempo sebagaimana dimaksud pada pasal 8 dan pasal 9, sampai dengan pengusaha yang bersangkutan melunasinya; b. dibekukan untuk jangka waktu enam bulan, terhitung sejak tanggal pencabutan, dalam hal pengusaha yang bersangkutan melanggar ketentuan larangan penjualan hasil tembakau berhadiah; c. dibekukan selama enam bulan dalam hal pemeriksaan atau hasil audit yang dilakukan Pejabat Bea dan Cukai kedapatan selisih kurang jumlah pita cukai yang seharusnya ada, sesuai Buku Daftar Pita Cukai (BDCK-4); d. dicabut, dalam hal dari hasil pemeriksaan atau audit yang dilakukan oleh Pejabat Bea dan Cukai terbukti bahwa lampiran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (4) ternyata

tidak benar. Atas pencabutan ini pengusaha yang bersangkutan dapat mengajukan permohonan kembali setelah 6 (enam) bulan, terhitung sejak tanggal pencabutan; atau e. dicabut, dalam hal terhadap pengusaha yang bersangkutan berdasarkan putusan tetap dari pengadilan dijatuhi sanksi pidana karena melakukan pelanggaran peraturan perundangundangan di bidang Cukai. Pasal 8 (1). Jatuh tempo atau kewajiban pembayaran cukai atas pemberian penundaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 ayat (1) ditetapkan selambat-lambatnya pada tanggal yang sama dengan tanggal pengajuan dokumen pemesana pita cukai (CK-1) dari bulan kedua setelah bulan pengajuan CK-1. (2). Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terhadap : a Dokumen pemesanan pita cukai (CK -1) dari setiap tanggal 31, kecuali yang ditentukan pada huruf b dan c ayat ini, ditetapkan tanggal jatuh tempo atau kewajiban pelunasannya dilakukan selambat-lambatnya pada akhir bulan kedua setelah bulan pengajuan CK-1 yang bersangkutan. b. Dokumen pemesan pita cukai (CK-1) dari setiap tanggal 29 sampai dengan tanggal 31 dalam bulan Desember ditetapkan tanggal jatuh tempo atau kewajiban pembayarannya dilakukan selambat-lambatnya pada akhir bulan Pebuari tahun berikutnya. (3). Jatuh tempo atau kewajiban pembayaran cukai atas pemberian penundaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 ayat (2) ditetapkan selambat-lambatnya pada tanggal yang sama dengan tanggal pengajuan do kumen pemesanan pita cukai (CK-1) dari bulan ketiga setelah bulan pengajuan CK-1. (4). Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), terhadap: a. Dokumen pemesanan pita cukai (CK-1) dari setiap tanggal 31, kecuali yang ditentukan pada huruf b dan c ayat ini, ditetapkan tanggal jatuh tempo atau kewajiban pembayarannya dilakukan selanbat-lambatnya pada akhir bulan ketiga setelah bulan pengajuan CK-1 yang bersangkutan. b. Dokumen pemesanan pita cukai (CK -1) dari setiap tanggal 29 sampai dengan tanggal 30 dalam bulan November ditetapkan tanggal jatuh tempo atau kewajuban pembayarannya dilakukan selambat-lambatnya pada akhir bulan Pebruari tahun berikutnya. c. Dokumen pemesanan pita cukai (CK-1) dari setiap tanggal 26 sampai dengan tanggal 31 dalam bulan Desember ditetapkan tanggal jatuh tempo atau kewajiban pembayarannya dilakukan selambat-lambatnya pada tanggal 25 Maret tahun berikutnya. Pasal 9 Dalam hal tanggal jatuh tempo sebagaimana dimaksud pasal 8 jatuh pada hari minggu, hari libur atau bukan hari kerja dari Bank Persepsi atau PT. (Persero) Pos Indonesia, maka pembayaran cukainya, wajib dilakukan selambat-lambatnya pada hari kerja dari Bank Persepsi atau PT. (Persero) Pos Indonesia sebelum tanggal jatuh tempo tersebut. Pasal 10 (1) Dengan berlakunya Keputusan ini, maka Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai omor KEP -64/BC/1997 tanggal 29 Juli 1997 berserta petunjuk pelaksanaannya dinyatakan tidak berlaku lagi.

(2). Keputusan ini berlaku terhintung sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan apabila dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam keputusan ini akan diperbaiki dan diadakan pembetulan sebagaimana mestinya. Salinan Keputusan ini disampaikan kepada : 1 Menteri Keuangan ; 2 Sekretaris Jenderal Republik Indonesia; 3 Inspertur Jenderal Republik Indonesia ; 4 Kepala Biro Hukum dan Humas Republik Indonesia ; 5 Sekretaris Direktur dan Jenderal Bea dan Cukai; 6 Para Direktur dan Kepala Pusat di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; 7 Para Kepala Kantor Wilayah Direktorat Bea dan Cukai diseluruh Indonesia ; 8 Para Kepala Kantor Pelayanan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai di seluruh Indonesia; Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 17 September 1999 Direktur Jenderal, DR. Permana Agung D., Msc NIP.060044475

Lampiran I Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor : KEP 58/BC/1999 Tanggal : 17 September 1999,.. Nomor :.... Kepada : Lampiran :. Yth. Kepala Kantor Pelayanan Perihal : Permohonan Penundaan Pembayaran Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Cukai Atas Pemesanan Pita Cukai Hasil Tembakau Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Jabatan Alamat NPWP :. :. :. :. Dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama Berkedudukan di Dengan ini mengajukan permohonan Penundaan Pembayaran Cukai Atas Pemesanan Pita Cukai dengan melampirkan data -data sebagai berikut : 1. Daftar asset / kekayaan perusahaan 2. Daftar pemesanan pita cukai selama 6 (enam) bulan terakhir 3. Neraca Rugi Laba 4. Kalkulasi Penundaan Demikian surat permohonan ini dibuat dengan sebenarnya dan kami menyatakan sanggup menerima sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku apabila di kemudian hari ternyata permohonan ini tidak benar. Pemohon (Materai) (.)

Lampiran II Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor : KEP 58/BC/1999 Tanggal : 17 September 1999,..... Nomor Kepada : Lampiran Yth. Kepala Kantor Wilayah Perihal : Permohonan Penundaan Pembayaran Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Cukai Atas Pemesanan Pita Cukai Hasil Tembakau Melalui : Kepala Kantor Pelayanan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Yang bertanda tanggan di bawah i ni : Nama Jabatan Alamat NPWP. Dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama Berkedudukan di Dengan ini mengajukan permohonan Penundaan Pembayaran Cukai Atas Pemesanan Pita Cukai dengan melampirkan data -data sebagai berikut : 1. Daftar asset / kekayaan perusahaan 2. Daftar pemesanan pita cukai selama 6 (enam) bulan terakhir 3. Neraca Rugi Laba 4. Kalkulasi Penundaan Demikian surat permohonan ini dibuat dengan sebenarnya dan kami menyatakan sanggup menerima sanksi sesuai dengan ketentuaan yang berlaku apabila di kemudian hari ternyata permohonan ini tidak benar. Pemohon (Materai) (..}

Lampiran III Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor : KEP 58/BC/1999 Tanggal : 17 September 1999,.. Nomor Kepada : Lampiran Yth. Kepala Kantor Wilayah Perihal : Permohonan Penundaan Pembayaran Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Cukai Atas Pemesanan Pita Cukai up. Direktur Cukai Hasil Tembakau di Jakarta Melalui : Kepala Kantor Pelayanan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Melalui : Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Yang bertanda tanggan di bawah ini : Nama Jabatan Alamat NPWP. Dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama berkedudukan di dengan ini mengajukan permohonan Penundaan Pembayaran Cukai Atas Pemesanan Pita Cukai dengan melampirkan data -data sebagai berikut : 1. Daftar asset / kekayaan perusahaan 2. Daftar pemesanan pita cukai selama 6 (enam) bulan terakhir 3. Neraca Rugi Laba 4. Kalkulasi Penundaan Demikian surat permohonan ini dibuat dengan sebenarnya dan kami menyatakan sanggup menerima sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku apabila di kemudian hari ternyata permohonan ini tidak benar. Pemohon (Materai) (..}

Lampiran IV Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor : KEP 58/BC/1999 Tanggal : 17 September 1999 KALKULASI PENUNDAAN Nama Pengusaha/Importir Nama Perusahaan Nomor NPPBKC Alamat Perusahaan :. :. :. :. Data pesanan pita cukai dalam enam bulan terakhir : Pebruari SKM = Rp. 214.500.000,00 SKT = Rp. 79.920.000,00 + Rp. 294.420.000,00 Maret SKM = Rp. 534.900.000,00 SKT = Rp. 152.820.000,00 + Rp. 687.720.000,00 April SKM = Rp. 218.700.000,00 SKT = Rp. 75.600.000,00 + Rp. 294.300.000,00 Mei SKM = Rp. 187.200.000,00 SKT = Rp. 71.280.000,00 + Rp. 258.480.000,00 Juni SKM = Rp. 624.000.000,00 SKT = Rp. 71.280.000,00 + Rp. 695.280.000,00 Juli SKM = Rp. 468.000.000,00 SKT = Rp. 118.320.000,00 + Rp. 586.320.000,00 + Rp.2.816.520.000,00 1) Pesanan Pita cukai rata-rata per bulan : a. dalam 6 (enam) bulan terakhir Sigaret Kretek Mesin (SKM) sebesar Rp. 374.550.000,00 Sigaret Kretek Tangan (SKT) sebesar Rp. 94.870.000,00 b. dalam 3 (tiga) bulan terakhir Sigaret Kretek Mesin (SKM) sebesar Rp. 426.400.000,00 Sigaret Kretek Tangan (SKT) sebesar Rp. 86.960.000,00 2) Kredit maksimum + cadangan 50 % diperhitungkan sebagai berikut : a. untuk SKM/SPM : (2 x Rp. 426.400.000,00) x 150% = Rp. 1.279.200.000,00 b. untuk SKT : (3 x Rp. 86.960.000,00) x 150% = Rp. 391.320.000,00 + c. plafon kredit diperhitungkan a + b sebesar Rp. 1.670.520.000,00 Pengusaha Pabrik/Importir