b. bahwa untuk pelaksanaan ketentuan sebagaimana ffiffi pati KA$Y&$ ffiert&rsffig&k&

dokumen-dokumen yang mirip
PERATURAN DAERAH BUPATI KUTAI TIMUR NOMOR 33 TAHUN 2001 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENGUSAHAAN SARANG BURUNG WALET KABUPATEN KUTAI TIMUR

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEBAK

PEMERINTAH KOTA PADANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKAMARA NOMOR 14 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN ATAU PENGUSAHAAN SARANG BURUNG WALET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN BUPATI BANGKA NOMOR TAHUN 2005 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MURUNG RAYA NOMOR 16 TAHUN T E N T A N G RETRIBUSI, IJIN PENGUSAHAAN SARANG BURUNG WALET DI KABUPATEN MURUNG RAYA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PASIR PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASIR NOMOR 17 TAHUN 2000 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENGUSAHAAN SARANG BURUNG WALET

BUPATI HULU SUNGAI TENGAH

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR

Menteri Kehutanan Dan Perkebunan,

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT KEPUTUSAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 13 TAHUN 2004 TENTANG

PEMERINTAH KABUPATEN KAPUAS HULU PERATURAN DAERAH KABUPATEN KAPUAS HULU NOMOR 11 TAHUN 2000


PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT NOMOR 44 TAHUN 2001 TENTANG PENGELOLAAN SARANG BURUNG WALET

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASIR NOMOR : 17 TAHUN 2000 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENGUSAHAAN SARANG BURUNG WALET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUP[ATEN LAMPUNG BARAT NOMOR 06 TAHUN 2001 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJAR NOMOR 02 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENGUSAHAAN SARANG BURUNG WALET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG TIMUR NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENGUSAHAAN SARANG BURUNG WALET

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BERAU

LEMBARAN DAERAH KOTA PEKANBARU PERATURAN DAERAH KOTA PEKANBARU NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : 100/Kpts-II/2003 TENTANG. PEDOMAN PEMANFAATAN SARANG BURUNG WALET (Collocalia spp) MENTERI KEHUTANAN,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BERAU

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG IZIN USAHA PENGELOLAAN DAN PENGUSAHAAN SARANG BURUNG WALET

BUPATI MUSI RAWAS, TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TABALONG TAHUN 2011 NOMOR 11 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TABALONG NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG

PEMERINTAH KABUPATEN EMPAT LAWANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MUSI RAWAS NOMOR 21 TAHUN 2001 T E N T A N G PAJAK PENGUSAHAAN SARANG BURUNG WALET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI BARITO KUALA PERATURAN BUPATI BARITO KUALA NOMOR 65 TAHUN 2011 TENTANG IZIN PENGELOLAAN DAN PENGUSAHAAN SARANG BURUNG WALET

LEMBARAN DAERAH KOTA PEKANBARU PERATURAN DAERAH KOTA PEKANBARU NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG IZIN USAHA PENGELOLAAN DAN PENGUSAHAAN SARANG BURUNG WALET

PENGELOLAAN DAN PENGUSAHAAN SARANG BURUNG WALET

PERATURAN DAERAH KOTA DUMAI NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK SARANG BURUNG WALET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA DUMAI,

BUPATI SIAK PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG IZIN PENGUSAHAAN PENANGKARAN SARANG BURUNG WALET

PERATURAN DAERAH KOTA BANJARBARU NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG IZIN PENGUSAHAAN DAN PENGELOLAAN SARANG BURUNG WALET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI LINGGA PROVINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN DAERAH KABUPATEN LINGGA NOMOR 2 TAHUN 2016

PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI BARAT

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BERAU

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TABALONG TAHUN 2011 NOMOR 07 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TABALONG NOMOR 07 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK SARANG BURUNG WALET

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG IZIN USAHA PENGELOLAAN DAN PENGUSAHAAN SARANG BURUNG WALET

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEBAK

LEMBARAN DAERAH KOTA DUMAI NOMOR : 7, TAHUN : 2004 SERI : B NOMOR : 2 PERATURAN DAERAH KOTA DUMAI NOMOR 6 TAHUN 2004 TENTANG

PERATURAN DAERAH KOTA PEKANBARU NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG IZIN USAHA PENGELOLAAN DAN PENGUSAHAAN SARANG BURUNG WALET

PEMERINTAH KOTA PADANG

BUPATI POLEWALI MANDAR PROVINSI SULAWESI BARAT

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR 3 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK SARANG BURUNG WALET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI BULUNGAN PROVINSI KALIMANTAN UTARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG IZIN USAHA SARANG BURUNG WALET

Klik Dibatalkan dan Ditindaklanjuti dgn Instruksi Bupati No 8 Tahun 2006 PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 14 TAHUN 2002 TENTANG

GUBERNUR JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR

BUPATI ACEH TIMUR PERATURAN BUPATI ACEH TIMUR NOMOR 21 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGAWI NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK SARANG BURUNG WALET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI NGAWI,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KATINGAN NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG IZIN USAHA PENGELOLAAN DAN PENGUSAHAAN SARANG BURUNG WALET

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASER NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG IZIN USAHA PENGELOLAAN DAN PENGUSAHAAN SARANG BURUNG WALET

PERATURAN DAERAH KOTA PAREPARE NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN USAHA SARANG BURUNG WALET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PAREPARE,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG NOMOR 20 TAHUN 2011 TENTANG IZIN USAHA PENGELOLAAN DAN PENGUSAHAAN SARANG BURUNG WALET

TENTANG. yang. untuk. dalam. usaha

BUPATI ACEH TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN ACEH TENGAH NOMOR 07 TAHUN 2001 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENGUSAHAAN SARANG BURUNG WALET

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA NOMOR 3 TAHUN 2005 TENTANG PAJAK PENGAMBILAN SARANG BURUNG WALET DI WILAYAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

LEMBARAN DAERAH KOTA SAMARINDA SALINAN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERDANG BEDAGAI NOMOR 33 TAHUN 2008

W A L I K O T A B A N J A R M A S I N PERATURAN DAERAH KOTA BANJARMASIN NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG

PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI BARAT

BERITA DAERAH KOTA SAMARINDA SALINAN PERATURAN WALIKOTA SAMARINDA NOMOR 27 TAHUN 2011

PEMERINTAH KABUPATEN MUARO JAMBI

NOMOR 2 TAHUN 2006 SERI C

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 11 TAHUN 2003 TENTANG PAJAK SARANG BURUNG SRITI DAN ATAU WALET

PEMERINTAH KABUPATEN BENGKULU UTARA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK SARANG BURUNG WALET

PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK SARANG BURUNG WALET

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARANGASEM NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK SARANG BURUNG WALET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARANGASEM,

PEMERINTAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

PEMERINTAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

PERATURAN DAERAH KOTA PEKANBARU NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK SARANG BURUNG WALET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PEKANBARU,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 23 TAHUN

PERATURAN OAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU RETRIBUSI IZIN PENGELOLAAN DAN PENGUSAHAAN BURUNG WALET 01 LUAR HABITAT ALAMI

BUPATI BIMA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BIMA NOMOR 6 TAHUN 2012 T E N T A N G

PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI BARAT

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MUARO JAMBI NOMOR : 05 TAHUN 2012 TLD NO : 05

PEMERINTAH KABUPATEN MURUNG RAYA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MURUNG RAYA NOMOR : 33 TAHUN 2004 T E N T A N G RETRIBUSI IJIN TEMPAT USAHA DI KABUPATEN MURUNG RAYA

QANUN KABUPATEN BIREUEN NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK SARANG BURUNG WALET BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA KUASA

PEMERINTAH KABUPATEN LAMPUNG TIMUR

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANAH LAUT NOMOR 7 TAHUN 2012

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LANDAK NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK SARANG BURUNG WALET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LANDAK,

BUPATI KUDUS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 7 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK SARANG BURUNG WALET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KUDUS,

PEMERINTAH KABUPATEN MURUNG RAYA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 8 TAHUN 2002 TENTANG PAJAK ATAS PENGUSAHAAN BURUNG SRITI DAN ATAU WALET DI KABUPATEN JEMBRANA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA NOMOR 8 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PEMANFAATAN KAYU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH KABUPATEN GRESIK NOMOR 33 TAHUN 2000 TENTANG PAJAK PENGAMBILAN SARANG BURUNG WALET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI GRESIK

PEMERINTAH KABUPATEN NGAWI PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGAWI NOMOR 7 TAHUN 2002 TENTANG PAJAK PENGUSAHAAN SARANG BURUNG WALET

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR NOMOR : 03 TAHUN 2007 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH PADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LUWU TIMUR,

QANUN KABUPATEN ACEH BESAR NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK SARANG BURUNG WALET BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA

PAJAK SARANG BURUNG WALET

PEMERINTAH KABUPATEN KUDUS

PERATURAN DAERAH KOTA MATARAM NOMOR : 9 TAHUN 2008 TENTANG PAJAK PENGAMBILAN SARANG BURUNG WALET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MATARAM,

LEMBARAN DAERAH KOTA LUBUKLINGGAU. Nomor 11 Tahun 2010 PERATURAN DAERAH KOTA LUBUKLINGGAU NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK SARANG BURUNG WALET

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PESAWARAN NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK SARANG BURUNG WALET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PESAWARAN,

QANUN KABUPATEN ACEH SELATAN NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK SARANG BURUNG WALET BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH SUBHANAHU WA TA ALA

WALIKOTA PAREPARE PERATURAN DAERAH KOTA PAREPARE NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PAJAK SARANG BURUNG WALET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA NOMOR 8 TAHUN 2003 TENTANG RETRIBUSI IZIN PENGELOLAAN DAN PEMBUANGAN AIR LIMBAH

Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas

Transkripsi:

ffiffi pati KA$Y&$ ffiert&rsffig&k& PERATURAN BUPATI KUTAI KARTANEGARA NOMOR 18 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENGAMBILAN SARANG BURUNG WALET DI WILAYAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA BUPATI KUTAI KARTANEGARA, Menimbang : a. bahwa berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara Nomor 3 Tahun 2O0S tentang pajak Pengambilan Sarang Burung Walet sebagaimana tercantum dalam BAB XVI Pasal 35 Hal- hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini, sepanjang mengenai teknis pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut dengan peraturan Bupati; b. bahwa untuk pelaksanaan ketentuan sebagaimana ciimaksud pada huruf a, perlu ditetapkan Tata Cara Pengambilan Sarang Burung Walet di Wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara dengan Peraturan Bupati. Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Rl Tahun 1981 NomorT6; Tambahan Lembaran Negara Rl Nomor 3209); 2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Rl Tahun 1990 Nomor 49; Tambahan Lembaran Negara Rl Nomor 3419); 3. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1g97 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Rl Tahun 2000 Nomor 246; Tambahan Lembaran Negara Rl Nomor 4048); 4. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 1g Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa (Lembaran Negara Rl Tahun 2000 Nomor 129; Tambahan Lembaran Negara Rl Nomor 3987 );

; --"'- 5.Undang-UndangNomor23Tahunl99Ttentang Pengel-otrrn Llngkungan Hidup (Lembaran Negara R! TahIn 1gg7 Nomor O8; tam6ahan Lembaran Negara Rl Nomor 3699 ); 6. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehuta-nan (Lembaran Negara Rl Tahun 1999 Nomor 167; Tambahan Lembaran Negara Rl Nomor 3888); 7. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Rl Tahun 2004 Nomor125;TambahanLembaranNegaraRlNomor 4a3D; 8. Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 1998 tentang Penyerahan sebagian urusan Pemerintahan di Bidang Kehutanan Kepada Daerah (Lembaran Negara Rl Tahun 1gg8 Nomor 1bO; Tambahan Lembaran Negara Rl Nomor 376e); g. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai baerah Otonom (Lembaran Negara Rl Tahun 2000 Nomor 206); 10. Peraturan Pemerintah Nomor 135 Tahun 2000 tentang Tata cara Penyitaan Dalam Rangka Penagihan Pajak Dengan surat Paksa (Lembaran Negara RI Tahun 2000 Nomir 135;Tambahan Lembaran Negara Rl Nomor a0a9; 11. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Dekonsentrasi (Lembaran Negara ll Tahun zobt ruom or 62; Tambahan Lembaran Negara Rl Nomor 4096); 12. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Tugas Pembantuan (Lembaran Negara Rl Tahun-iOOt ftomor 77', Tambahan Lembaran Negara Rl Nomor 4106); 13. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah (Lembaran Negara Rl Tahun 2001 Nomor 11b; Tambahan Lembaran Negara Rl Nomora138); 14. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2002 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasaan Hutan (Lembaran Negara RI Tahun 2002 Nomor 66 Tambahan Lembaran Negara Rl Nomor 4206); 15. Peraturan Daerah Kabupaten Kutai Nomor 27 rahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah Kabupaten Kutai;

16. Peraturan Daerah Kabupaten Kutai Nomor 39 Tahun 2000 tentang Pembentukan Lembaga Perangkat Daerah Kabupaten Kutai; 17. Peraturan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara Nomor 3 Tahun 2005 tentang Pajak Pengambilan Sarang Burung Walet diwilayah Kabupaten Kutai Kartanegara. Memperhatikan : 1. Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA) Nomor 73lKpts/DJ-Vl/1998 tanggal 8 Mei 1998 tentang Pengelolaan Burung Walet di Habitat Alaminya; 2. Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 449lKpts-ll/1999 tanggal 17 Juni 1999 tentang Pengelolaan Burung Walet (collocalia) di habitat alami (in-situ) dan Habitat Buatan (ex-situ). MEMUTUSKAN Menetapkan : PERATURAN BUPATI TENTANG TATA CARA PENGAMBILAN SARANG BURUNG WALET DI WILAYAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan: 1. Daerah adalah Kabupaten Kutai Kartanegara; 2. Bupati adalah Bupati Kabupaten Kutai Kartanegara; 3. Dinas Kehutanan yang selanjutnya disebut Dishut adalah Dinas Kehutanan Kabupaten Kutai Kartanegara; 4. Kepala Dinas Kehutanan yang selanjutnya disingkat Kadishut adalah Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Kutai Kartanegara; 5. Pengusaha adalah orang pribadi atau badan yang melakukan pengusahaan sarang burung walet; 6. Badan adalah sekumpulan orang dan atau badan modal yang merupakan kesatuan, baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi Perseroan Terbatas, Perseroan Komanditer, perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan nama dan bentuk apapun, Firma, Kongsi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, Yayasan, Organisasi Massa, Organisasi Sosial Politik atau organisasi sejenis lembaga, bentuk usaha tetap dan bentuk usaha lainnya;

7. Kehutanan adalah sistem pengurusan yang bersangkut paut dengan hutan, kawasan hutan dan hasil hutan yang 8. 9. d iselenggarakan secara terpad u ; Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan; Kawasan Hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap; 10. Burung Walet adalah satwa liar yang tidak dilindungi, yang termasuk dalam marga Collocalia, yaitu Collocalia Fuchiaphaga, Collocalia Maxima, Collocalia Esculenta, dan Collocalia Linchi. 11. Sarang Burung Walet adalah hasil produksi burung walet yang berfungsi sebagai tempat untuk bersarang dan bertelur serta menetaskan anakan burung walet; 12. Pengambilan Sarang Burung Walet adalah suatu kegiatan pengelolaan burung walet dalam rangka memanfaatkan sarang burung walet; 13. 14. Habitat Alami (ln-situ) Burung Walet adalah goa-goa alam, tebing/lereng bukit yang curam beserta lingkungannya sebagai tempat burung walet hidup dan berkembang biak secara alami, baik yang berada dalam kawasan hutan maupun diluar kawasan hutan; Diluar Habitat Alami (Ex-Situ) Burung Walet adalah bangunan sebagai tempat burung walet hidup dan berkembang biak. BAB II PERIJINAN Pasal 2 (1) Setiap orang atau badan yang melakukan pengambilan sarang burung walet wajib mempunyai ijin pengambilan sarang burung walet dari Bupati. (2) Pengambilan sarang burung walet sebagaimana dimaksud pada Ayat (1)terdiri dari : a. pengambilan sarang burung walet di habitat alami, meliputi : kawasan hutan negara, goa alam dan lain-lain; b. pengambilan sarang burung walet di luar habitat alami, meliputi bangunan, rumah/gedung.

BAB IlI TATA CARA PERMOHONAN IJIN Pasal 3 (1) Permohonan ijin pengambilan sarang burung walet ditandatangani diatas materai Rp. 6.000 (enam ribu rupiah) ditujukan kepada Bupati dengan tembusan disampaikan kepada Kadishut. (2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) pada habitat alami, dilengkapi persyaratan : a. proposal kegiatan usaha; b. foto copy akte pendirian (untuk yang berbadan hukum); c. foto copy KTP; d. letak lokasi goa sarang burung walet; e. pas foto ukuran 4 xg = 2 lembar; f. rekomendasi Kepala Desa/Lurah setempat; g. rekomendasi Camat setempat. (3) Permohonan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) diluar habitat alami, dilengkapi persyaratan : a. proposal kegiatan usaha; b. foto copy akte pendirian (untuk yang berbadan hukum); c. foto copy KTP; d. pas foto ukuran 4 x 6 = 2 lembar; e. foto copy ljin Mendirikan Bangunan (lmb) dan atau ljin Perubahan Penggunaan Bangunan (IPPB) dan atau ljin Peralihan Fungsi Bangunan; f. foto copy ljin Gangguan (HO); g. khusus untuk permohonan pengusahaan sarang burung walet di luar habitat alami yang baru (bangunannya belum ada pada saat ditetapkannya Peraturan Bupati ini) harus dilengkapifoto copy ijin lokasi; h. rekomendasi Kepala Desa/Lurah setempat; i. rekomendasi Camat setempat. BAB IV PROSES PERIJINAN Pasal 4 (1) Berdasarkan tembusan permohonan ijin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 Ayat (1), Kadishut memberikan advis teknis/persetujuan ljin Pengambilan Sarang Burung Walet kepada Bupati sebagai bahan pertimbangan penerbitan ijin.

(2) Apabila permohonan tidak dilengkapi salah satu persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 Ayat (2) dan (3), Bupati dapat menolak permohonan tersebut dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari sejak diterimanya permohonan. (3) Apabila permohonan telah dilengkapi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 Ayat (2) dan (3), maka Bupati dapat menerbitkan ljin Pengambilan Sarang Burung Walet dengan memperhatikan advis teknis/persetujuan Kadishut. (a) ljin Pengambilan Sarang Burung Walet berlaku selama 3 (tiga) tahun dan dapat diperpanjang setelah dilakukan penilaian dan pemeriksaan lapangan oleh Tim Dishut dan instansi terkait, dengan melampirkan : a. Laporan Hasil Produksi 1 (satu) tahun terakhir. b. ljin Pengambilan Sarang Burung Walet yang telah berakhir masa berlakunya. BAB V KEWAJIBAN DAN LARANGAN Pasal 5 (1) Pemegang ljin Pengambilan Sarang Burung Waletwajib: a. membuat laporan kegiatan usahanya setiap 6 (enam) bulan sekali yang disampaikan kepada Bupati dengan tembusan kepada Kadishut dan Kepala Bagian Ekonomi Setkab Kutai Kartanegara. b. melaporkan kepada Bupati dan Kadishut apabila : 1. terjadi perubahan letak tempat usaha atau perubahan kepemilikan; 2. tidak lagi melakukan usaha pengambilan sarang burung walet c. membayar pungutan terhadap sarang burung walet yang telah dipanen sesuai tarif yang telah ditentukan; d. menjaga kesehatan, keselamatan, kebersihan dan keindahan tempat pengusahaan sarang burung walet beserta lingkungannya, serta mencegah timbulnya penyakit- penyakit yang disebabkan atau disebarkan oleh burung walet atau tempat pengusahaan sarang burung walet; e. dalam rangka kelestarian, maka pemanenan sarang burung walet diperbolehkan maksimal 3 (tiga) kali dalam setahun, dan dilakukan pada siang hari (pukul 09'00-16.00); f. mentaati ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(2) Pemegang ljin Pengambilan Sarang Burung Walet dilarang untuk: a. memindahkan kepemilikan usahanya kepada pihak lain tanpa persetujuan tertulis dari Bupati; b. mengubah, menambah, mengurangi bentuk bangunan yang telah disetujuitanpa seijin Bupati; c. mengubah fungsi usaha tanpa seijin Bupati. (3) Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) dan (2) Pasal ini, ljin Pengambilan Sarang Burung Walet dapat dicabut dan dapat dikenakan sanksi lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. BAB VI KETENTUAN PERALIHAN Pasal 6 ljin pengambilan sarang burung walet yang telah diterbitkan sebelum ditetapkannya peraturan ini tetap berlaku sampai berakhirnya batas waktu yang telah ditentukan. BAB IV KETENTUAN LAIN.LAIN Pasal 15 (1) Dengan ditetapkannya Peraturan Bupati ini, maka Tata Cara Pengambilan Sarang Burung Walet terlepas dari pengaturan Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kutai Nomor 28.A Tahun 1998 tanggal 19 Desember 1998 tentang Tata Cara Pemberian lzin Pemungutan dan Pengumpulan Hasil Hutan lkutan. (2) Petunjuk Teknis penerbitan lzin Pengambilan Sarang Burung Walet oleh Bupati berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku.

BAB VII PENUTUP Pasal 7 (1) Segala biaya yang timbul akibat ditetapkannya Peraturan Bupati ini dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Kutai Kartanegara. (2) Peraturan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam penetapannya maka akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya. Ditetapkan di Tenggarong pada tanggal 7 Juni 2006 BUPATI KUTAI r

q t PERATURAN BUPATT KUTAI KARTANEGARA NOMOR 18 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENGAMBILAN SARANG BURUNG WALET DI WILAYAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA BUPAT! KUTAI KARTANEGARA,,d*' fl Menimbang Mengingat : a. bahwa berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara Nomor 3 Tahun 2005 tentang Pajak Pengambilan Sarang Burung Walet sebagaimana tercantum dalam BAB XVI Pasal 35 Hal- hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini, sepanjang mengenai teknis pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati; b. bahwa untuk pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu ditetapkan Tata Cara Pengambilan Sarang Burung Walet di Wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara dengan Peraturan Bupati. : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Rl Tahun 1981 NomorT6; Tambahan Lembaran Negara Rl Nomor 3209); 2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Rl Tahun 1990 Nomor 49; Tambahan Lembaran Negara Rl Nomor 3a19); 3. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Rl Tahun 2000 Nomor 246; Tambahan Lembaran Negara Rl Nomor 4048); 4. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa (Lembaran Negara Rl Tahun 2000 Nomor 129;Tambahan Lembaran Negara Rl Nomor 3987 );

5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Rl Tahun 1997 Nomor 68; Tambahan Lembaran Negara Rl Nomor 3699 ); 6. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Rl Tahun 1999 Nomor 167; Tambahan Lembaran Negara Rl Nomor 3888); 7. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Rl Tahun 2004 Nomor 125 Tambahan Lembaran Negara Rl Nomor 4437); 8. Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 1998 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan di Bidang Kehutanan Kepada Daerah (Lembaran Negara Rl Tahun 1998 Nomor 106; Tambahan Lembaran Negara Rl Nomor 3769); 9. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai -Daerah otonom (Lembaran Negara Rl Tahun 2000 Nomor 206); 10. Peraturan Pemerintah Nomor 135 Tahun 2000 tentang Tata Cara Penyitaan Dalam Rangka Penagihan Pajak Dengan surat Paksa (Lembaran Negara Rl Tahun 2000 Nomir 13s;Tambahan Lembaran Negara Rl Nomor 40a9; 11. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Dekonsentrasi (Lembaran Negara R! Tahun ZObt Uom or 62; Tambahan Lembaran Negara Rl Nomor 4096); 12. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2001 tentang PenyelenggaraanTugasPembantuan(LembaranNegara Rl Tahun-20gt Nomor 77; Tambahan Lembaran Negara Rl Nomor 4106); 13. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah (Lembaran Negara Rl Tahun 2001 Nomor 1 1b; Tambahan Lembaran Negara Rl Nomor 4138); 14. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2002 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, pemanfaatan Huian dan Penggunaan Kawasaan Hutan (Lembaran Negara Rl Tahun 2002 Nomor 66 Tambahan Lembaran Negara Rl Nomor 4206); 15. Peraturan Daerah Kabupaten Kutai Nomor 27 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah Kabupaten Kutai;

16. Peraturan Daerah Kabupaten Kutai Nomor 39 Tahun 2000 tentang Pembentukan Lembaga Perangkat Daerah Kabupaten Kutai; lt.peraturan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara Nomor 3 Tahun 2005 tentang Pajak Pengambilan Sarang Burung Walet diwilayah Kabupaten Kutai Kartanegara. Memperhatikan : 1. Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA) Nomor 73lKpts/DJ-Vl/1998 tanggal 8 Mei 1998 tentang Pengelolaan Burung Walet di Habitat Alaminya; 2. Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 449/Kpts-ll/1999 tanggal 17 Juni 1999 tentang Pengelolaan Burung Walet (collocalia) di habitat alami (in-situ) dan Habitat Buatan (ex-situ). MEMUTUSKAN Menetapkan : PERATURAN BUPATI TENTANG TATA CARA PENGAMBILAN SARANG BURUNG WALET DI WILAYAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Bupdti ini yang dimaksud dengan: 1. Daerah adalah Kabupaten Kutai Kartanegara; 2. Bupati adalah Bupati Kabupaten Kutai Kartanegara; 3. Dinas Kehutanan yang selanjutnya disebut Dishut adalah Dinas Kehutanan Kabupaten Kutai Kartanegara; 4. Kepala Dinas Kehutanan yang selanjutnya_disingkat Kadishut adalah Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Kutai Kartanegara; 5. Pengusaha adalah orang pribadi atau badan yang melakukan pengusahaan sarang burung walet; 6. Badan adalah sekumpulan orang dan atau badan modal yang merupakankesatuan,baikyangmelakukan.usahamaupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi Perseroan tersatas, Perseroan Komanditer, perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan nama dan bentuk apapun,firma,kongsi,danapensiun,persekutuan' pbrfrrprlan, yayasan,brganisasi Massa, Organisasi Sosial Politik atau organisasi sejenis lembaga, bentuk usaha tetap dan bentuk usaha lainnya;

7. B. 9. Kehutanan adalah sistem pengurusan yang bersangkut paut dengan hutan, kawasan hutan dan hasil hutan yang d iselenggarakan secara terpad u ; Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan; Kawasan Hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap; 10. Burung Walet adalah satwa liar yang tidak dilindungi, yang termasuk dalam marga Collocalia, yaitu Collocalia Fuchiaphaga, Collocalia Maxima, Collocalia Esculenta, dan Collocalia Linchi. 11. Sarang Burung Walet adalah hasil produksi burung walet yang berfungsi sebagai tempat untuk bersarang dan bertelur serta menetaskan anakan burung walet; 12. Pengambilan Sarang pengelolaan burung sarang burung walet; Burung Walet adalah suatu kegiatan walet dalam rangka memanfaatkan 13. Habitat Alami (ln-situ) Burung walet adalah goa-goa alam, tebing/lereng bukit yang curam beserta lingkungannya sebalai teripat burung walet hidup dan berkembang biak re"ari alami, baik yang berada dalam kawasan hutan maupun diluar kawasan hutan; 14. Diluar Habitat Alami (Ex-Situ) Burung Walet adalah bangunan sebagai tempat burung walet hidup dan berkembang biak. BAB II PERIJINAN Pasal 2 (1) Setiap orang atau badan yang melakukan pengambilan ' 'sarang burung walet wajib mempunyai ijin pengambilan sarang burung walet dari BuPati. (2) Pengambilan sarang burung walet sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) terdiri dari : a'pengambilansarangburungwalet.dihabitatalami, ineli-puti : kawasan hutan negara, goa alam dan lain-lain; b. pengambilan sarang burung walet di luar habitat alami, meliputi bangunan, rumah/gedung'

rara.ara FIF^i'froNAN rjrn Pasal 3 (1) Permohonan ijin pengambilan sarang burung walet ditandatangani diatas materai Rp. 6.000 (enam ribu rupiah) ditujukan kepada Bupati dengan tembusan disampaikan kepada Kadishut. (2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) pada habitat alami, dilengkapi persyaratan : a. proposal kegiatan usaha; b. foto copy akte pendirian (untuk yang berbadan hukum); c. foto copy KTP; d. letak lokasi goa sarang burung walet; e. pas foto ukuran 4 x 6 = 2 lembar; f. rekomendasi Kepala Desa/Lurah setempat; g. rekomendasi Camat setempat. (3) Permohonan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) diluar habitat alami, dilengkapi persyaratan : a. proposal kegiatan usaha; b. foto copy akte pendirian (untuk yang berbadan hukum); c. foto copy KTP; d. pas foto ukuran 4 x 6 = 2 lembar; e. foto copy ljin Mendirikan Bangunan (lmb) dan atau ljin Perubahan Penggunaan Bangunan (IPPB) dan atau ljin Peralihan Fungsi Bangunan; f. foto copy ljin Gangguan (HO); g. khusus untuk permohonan pengusahaan sarang burung walet di luar habitat alami yang baru (bangunannya belum ada pada saat ditetapkannya Peraturan Bupati ini) harus dilengkapifoto copy ijin lokasi; h. rekomendasi Kepala Desa/Lurah setempat; i. rekomendasi Camat setempat. BAB IV PROSES PERIJINAN Pasal 4 (1) Berdasarkan tembusan permohonan uin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 Ayat (1), Kadishut memberikan advis teknis/persetujuan ljin Pengambilan sarang Burung walet kepada Bupati sebagai bahan pertimbangan penerbitan ijin.

(2) Apabila permohonan tidak dilengkapi salah satu persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 Ayat (2) dan (3), Bupati dapat menolak permohonan tersebut dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari sejak diterimanya permohonan. (3) Apabila permohonan telah dilengkapi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 Ayat (2) dan (3), maka Bupati dapat menerbitkan ljin Pengambilan Sarang Burung Walet dengan memperhatikan advis teknis/persetujuan Kadishut. (a) ljin Pengambilan Sarang Burung Walet berlaku selama 3 (tiga) tahun dan dapat diperpanjang setelah dilakukan penilaian dan pemeriksaan lapangan oleh Tim Dishut dan instansi terkait, dengan melampirkan : a. Laporan Hasil Produksi 1 (satu) tahun terakhir. b. ljin Pengambilan sarang Burung walet yang telah berakhir masa berlakunya. BAB V KEWAJIBAN DAN LARANGAN Pasal 5 (1) Pemegang ljin Pengambilan Sarang Burung Walet wajib: a. membuat laporan kegiatan usahanya setiap 6 (enam) bulan sekali yang disampaikan kepada Bupati dengan tembusan kepadj Kadishut dan Kepala Bagian Ekonomi Setkab Kutai Kartanegara. b. melaporkan kepada Bupati dan Kadishut apabila : 1. terjadi perubahan letak tempat usaha atau perubahan kepemilikan; 2,tidaklagimelakukanusahapengambilanSarang burung walet c, membayar pungutan terhadap Sarang burung walet yang teiah dipanen sesuai tarif yang telah ditentukan; d. menjaga kesehatan, keselamatan, kebersihan dan keindahan tempat pengusahaan sarang burung walet beserta lingkungannya, serta mencegah timbulnya penyakit- penyaxit yang disebabkan atau disebarkan oleh burung walet atau tempat pengusahaan sarang burung walet; e. dalam rangka kelestarian, maka pemanenan sarang burung walet diperbolehkan maksimal 3 (tiga) kali dalam setahun, dan dilakukan pada siang hari (pukul 09.00-16.00); t. mentaati ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(2) Pemegang ljin Pengambilan Sarang Burung Walet dilarang untuk: a. memindahkan kepemilikan usahanya kepada pihak lain tanpa persetujuan tertulis dari Bupati; b. mengubah, menambah, mengurangi bentuk bangunan yang telah disetujuitanpa seijin Bupati; c. mengubah fungsi usaha tanpa seijin Bupati. (3) Pelanggaran terhailap ketentuan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) dan (2) Pasal ini, ljin Pengambilan Sarang Burung Walet dapat dicabut dan dapat dikenakan sanksi lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. BAB VI KETENTUAN PERALIHAN Pasal 6 ljin pengambilan sarang burung walet yang telah diterbitkan iebelum ditetapkannya peraturan ini tetap berlaku sampai berakhirnya batas waktu yang telah ditentukan. BAB IV KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 15 (1) Dengan ditetapkannya Peraturan Bupati ini, mak.a Tata Cara ' ' Pengambilan sarang Burung walet terlepas dari pengaturan Kepltusan Bupati Kepala Daerah Tingkat ll Kutai Nomor 28'A Tahun 1gg8 tanggal 19 Desember 1998 tentang Tata Cara Pemberian lzin Pemungutan dan Pengumpulan Hasil Hutan lkutan. (2) Petunjuk Teknis penerbitan lzin Pengambilan Sarang Burung walet oleh Bupati berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku'

BAB VII PENUTUP Pasal 7 (1) Segala biaya yang timbul akibat ditetapkannya Peraturan Bupati ini dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Kutai Kartanegara. (2) Peraturan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam penetapannya maka akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya. Ditetapkan di Tenggarong pada tanggal 7 Juni 2006 /" ' BUPATI KUTAI AUKANI HR.,