BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG BERJALAN

dokumen-dokumen yang mirip
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG

MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 08/M-DAG/PER/2/2016 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PERDAGANGAN

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 36 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

BAB 1 PENDAHULUAN. Kementrian Kehutanan Republik Indonesia. Instansi ini memiliki sekitar 150

- 1 - PERATURAN MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI

RINCIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI. Biro Organisasi dan Kepegawaian Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG

BKN. Organisasi. Tata Kerja. Pencabutan.

MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI CIAMIS NOMOR 61 TAHUN 2016 TENTANG

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KESEHATAN. Organisasi. Tata Kerja.

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23/PERMEN-KP/2015 TENTANG

MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM

PERATURAN BUPATI SUMBAWA NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA BADAN KEPEGAWAIAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KABUPATEN SUMBAWA

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN TENTANG

ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

RENCANA KINERJA TAHUNAN SEKRETARIAT JENDERAL TAHUN 2012

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR PER.15/MEN/2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 64 TAHUN 2015 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN KESEHATAN

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 43/Permentan/OT.010/8/2015 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PERTANIAN

PERATURAN MENTERI LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 07 TAHUN 2011 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN LUAR NEGERI

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2013 TENTANG

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 41 TAHUN TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : 123/Kpts-II/2001

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 20 TAHUN 2006 TENTANG. RINCIAN TUGAS UNIT KERJA Dl LINGKUNGAN INSPEKTORAT JENDERAL

BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR PER.15/MEN/2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

WALIKOTA PEKANBARU PROVINSI RIAU

BAB 3 ANALISA SISTEM YANG SEDANG BERJALAN

BUPATI WAY KANAN PROVINSI LAMPUNG

- 2 - MEMUTUSKAN: BAB I KEDUDUKAN, TUGAS DAN FUNGSI, DAN SUSUNAN ORGANISASI. Bagian Kesatu Kedudukan, Tugas dan Fungsi. Pasal 1

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA,

W A L I K O T A Y O G Y A K A R T A

WALIKOTA DEPOK PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN WALIKOTA DEPOK NOMOR 102 TAHUN 2016 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS UNIT KERJA DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT JENDERAL

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 50 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2005 TENTANG

Sekretariat Jenderal KATA PENGANTAR

PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PM.07/HK.001/MPEK/2012

Menteri Perindustrian Republik Indonesia

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR: KM 60 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Walikota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat

PERATURAN KEPALA BADAN PUSAT STATISTIK NOMOR 7 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PUSAT STATISTIK KEPALA BADAN PUSAT STATISTIK,

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2013 TENTANG. RINCIAN TUGAS UNIT KERJA Dl LINGKUNGAN INSPEKTORAT JENDERAL

BUPATI WAY KANAN PROVINSI LAMPUNG

ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL,

BAB IV GAMBARAN UMUM DAN LOKASI PENELITIAN. 4.1 Sejarah Singkat Kedudukan Tugas Pokok Dan Fungsi Badan. Badan Kepegawaian Daerah (BKD) merupakan unsur

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 72 Tahun : 2016

BERITA NEGARA. KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. Rincian Tugas. Unit Kerja. Inspektorat Jenderal PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PURBALINGGA NOMOR 99 TAHUN 2016 TENTANG

Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2015 tentang Organisasi Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 8);

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2015 TENTANG RINCIAN TUGAS UNIT KERJA DI LINGKUNGAN INSPEKTORAT JENDERAL

WALIKOTA BANDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BANDUNG, : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 15 ayat (1) Peraturan

WALIKOTA PROBOLINGGO PROVINSI JAWA TIMUR

LEMBARAN DAERAH KOTA CILEGON TAHUN : 2007 NOMOR : 3 PERATURAN DAERAH KOTA CILEGON NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 39 TAHUN 2006 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA SEKRETARIAT JENDERAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

BUPATI SUMBAWA BARAT PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

jtä ~Éàt gtá ~ÅtÄtçt

PERATURAN GUBERNUR SUMATERA BARAT NOMOR : 33 TAHUN 2015

BUPATI SINJAI PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN BUPATI SINJAI NOMOR 82 TAHUN 2016 TENTANG

MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 86 / HUK / 2010 TENTANG

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA,

2013, No /Menhut-II/2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Kehutanan Tahun ; Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tent

RENCANA KINERJA TAHUN 2012 BIRO ORGANISASI DAN KEPEGAWAIAN. SEKRETARIAT JENDERAL KEMENTERIAN PERTANIAN JAKARTA, Juli 2011

BUPATI WAY KANAN PROVINSI LAMPUNG

BUPATI BANDUNG PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI BANDUNG NOMOR 76 TAHUN 2016 TENTANG

WALIKOTA BANDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BANDUNG, : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 15 ayat (1) Peraturan

Gubernur Jawa Barat GUBERNUR JAWA BARAT,

BAB III GAMBARAN UMUM PELAKSANAAN PENYESUAIAN IJAZAH PADA SEKRETARIAT JENDERAL DEPARTEMEN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

WALIKOTA PASURUAN SALINAN PERATURAN WALIKOTA NOMOR 64 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI BADAN KEPEGAWAIAN DAERAH

WALIKOTA PEKANBARU PROVINSI RIAU

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Bentuk, Bidang, dan Perkembangan Instansi Bentuk Instansi. Sejak jatuhnya Pemerintahan Orde Baru pada Bulan Maret

MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA

PROVINSI BANTEN PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN

BAB II DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN. Pada tanggal 1 Maret 1945 diumumkan pembentukan Badan

BUPATI GARUT PERATURAN BUPATI GARUT NOMOR 534 TAHUN 2012 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS DINAS KEHUTANAN KABUPATEN GARUT

BERITA DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2010 NOMOR : 19 PERATURAN WALIKOTA BANDUNG NOMOR : 329 TAHUN 2010 TENTANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KLATEN,

WALIKOTA BATAM PROPINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN WALIKOTA BATAM NOMOR 56 TAHUN 2016 TENTANG

WALIKOTA TASIKMALAYA

WALIKOTA BATU PERATURAN WALIKOTA BATU NOMOR 32 TAHUN 2013 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNGSI BADAN KEPEGAWAIAN DAERAH KOTA BATU

URAIAN TUGAS DAN FUNGSI BADAN KEPEGAWAIAN DAERAH KOTA MADIUN

WALIKOTA BATAM PROPINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN WALIKOTA BATAM NOMOR 55 TAHUN 2016 TENTANG

KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

BUPATI KULON PROGO DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN BUPATI KULON PROGO NOMOR 66 TAHUN 2016 TENTANG

WALIKOTA BATAM PROVINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN WALIKOTA BATAM NOMOR 59 TAHUN 2016 TENTANG

WALIKOTA TANGERANG SELATAN

BUPATI KAPUAS PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN BUPATI KAPUAS NOMOR 51 TAHUN 2016 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2015 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PARIWISATA

BUPATI WAY KANAN PROVINSI LAMPUNG

Transkripsi:

BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG BERJALAN 3.1 Riwayat Organisasi 3.1.1 Sejarah Organisasi Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967, mengamanatkan bahwa pengurusan hutan pada hakekatnya adalah untuk mendapatkan manfaat hutan yang sebesar-besarnya secara serbaguna dan lestari baik secara langsung maupun tidak langsung, bagi kemakmuran masyarakat. Pembangunan kehutanan sebagai suatu rangkaian usaha diarahkan dan direncanakan untuk memanfaatkan dan mendayagunakan sumber daya hutan secara maksimal dan lestari. Tujuannya adalah untuk memadukan dan menyeimbangkan manfaat hutan dengan fungsi hutan dalam keharmonisan yang dapat berlangsung secara paripurna. Dalam pelaksanaannya, yang sejalan dengan semakin berkembangnya usaha-usaha lain dalam pembangunan nasional, pembangunan kehutanan menghadapi berbagai masalah/hambatan yang sangat kompleks. Apabila masalah dan hambatan tersebut tidak ditangani secara menyeluruh, tujuan pembangunan kehutanan akan dapat terganggu. Terbentuknya Departemen Kehutanan memang sangat tepat, karena hutan dengan multi fungsinya tidak mungkin ditangani secara baik tanpa wadah yang mandiri. Demikian pula ketiga aspek pembangunan kehutanan (perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan) dapat 28

29 dilaksanakan secara saling menunjang, sehingga tidak dapat dilaksanakan secara terpisah-pisah oleh berbagai departemen. Melihat pentingnya penanganan ketiga aspek pembangunan kehutanan itu maka eksistensi Departemen Kehutanan memang merupakan suatu kebutuhan yang mendasar sebagai sarana dalam rangka tinggal landas kehutanan. Untuk dapat menampung tugas dan fungsi pokok tersebut di atas maka sesuai dengan Surat Keputusan Presiden Nomor 15 tahun 1984 Struktur Organisasi Departemen Kehutanan ditetapkan sebagai berikut: 1. Menteri 2. Sekretariat Jenderal 3. Inspektorat Jenderal 4. Direktorat Jenderal Pengusahaan Hutan 5. Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan 6. Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam 7. Badan Inventarisasi dan Tata Guna Hutan 8. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan 9. Pusat Pendidikan dan Latihan Kehutanan 10. Kantor Wilayah Departemen Kehutanan di Wilayah. Di samping itu terdapat 12 UPT di lingkungan Departemen Kehutanan dan 24 Dinas Kehutanan Daerah Tingkat I. Pembentukan Departemen Kehutanan bukan merupakan restorasi dari Direktorat Jenderal Kehutanan, melainkan merupakan suatu pembangunan institusi kehutanan melalui pengembangan dan

30 pemanfaatan kondisi dan material yang dimiliki. Hal tersebut sekaligus merupakan jawaban atas kondisi dan permasalahan yang dihadapi selama itu, yang antara lain berupa keterbatasan masalah peraturan perundangan, kepemimpinan dan kebijaksanaan, keterbatasan sarana, personil dan lainlain. Atas dasar kondisi tersebut kemudian ditetapkan kembali tujuan, misi dan tugas pokok serta fungsi Departemen Kehutanan sebagai landasan pelaksanaan pembangunan kehutanan. 3.1.2 Visi dan Misi Visi yang hendak diwujudkan oleh Sekretariat Jenderal Tahun 2010-2014 adalah : Menjadi Lembaga Pendukung Tata Kelola Kehutanan Yang Handal. Tata kelola kehutanan yang handal didefinisikandalam bentuk tertib administrasi, tertib hukum dan tertib keuangan. Dengan demikian, pada Tahun 2014 diharapkan Setjen : 1. Menjadi lembaga yang tertib administrasi, tertib hukum dan tertib keuangan 2. Mendorong lingkungan Kemenhut untuk tertib administrasi, tertib hukum dan keuangan. Dari kedua peran tersebut, diharapkan Setjen mampu mendukung visi Kemenhut yaitu Hutan Lestari untuk Kesejahteraan Masyarakat yang Berkeadilan. Misi yang dijalankan untuk mencapai visi Setjen Tahun 2010-2014 tersebut adalah :

31 1. Menyelenggarakan perencanaan pembangunan kehutanan. Misi ini bertujuan untuk memastikan harmonisasi dan sinkronisasi perencanaan Kemenhut dalam pembangunan nasional. 2. Menyelenggarakan administrasi keuangan dan menyelesaikan piutang. Misi ini bertujuan mewujudkan laporan keuangan dengan Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). 3. Mengoptimalkan pelayanan Kemenhut dan pengelolaan BMN. Tujuan dari misi ini adalah mewujudkan terselenggaranya administrasi dan ketatausahaan pimpinan Kemenhut, serta pengelolaan BMN lingkup Kemenhut. 4. Mengelola administrasi kepegawaian dan pendayagunaan aparatur kehutanan, yang bertujuan untuk mewujudkan reformasi birokrasi di lingkup Kementerian Kehutanan. 5. Meningkatkan koordinasi perancangan, penelaahan dan bantuan hukum sertapemantapan kelembagaan dan ketatalaksanaan kehutanan. Tujuan misi ini adalahmewujudkan tata hukum dan kelembagaan yang mantap, serta penanganan perkara, pemulihan hak-hak negara di bidang kehutanan. 6. Meningkatkan hubungan dan kerjasama internasional. Misi ini bertujuan untukmeningkatkan peran strategis kehutanan Indonesia dalam forum Internasional.

32 7. Meningkatkan pemahaman para pihak dan citra positif Kemenhut. Misi ini bertujuanmembentuk citra positif dan dukungan publik terhadap pembangunan kehutanan. 8. Memandu dan mengendalikan standardisasi, pengelolaan lingkungan dan penanganan perubahan iklim bidang kehutanan. Misi ini bertujuan untuk mewujudkan pengembangan standardisasi, fasilitasi pengelolaan lingkungan serta penangananadaptasi dan mitigasi perubahan iklim bidang kehutanan. 9. Menyelenggarakan pelayanan prima dalam pembiayaan pembangunan hutan tanaman,bertujuan untuk merealisasikan penyaluran dan pengembalian pinjaman untukpembangunan hutan tanaman. 10. Menyelenggarakan koordinasi dan evaluasi pelaksanaan rencana kehutanan (kawasan dan pembangunan) serta fasilitasi penyelesaian permasalahan kehutanan di tingkat regional. Misi ini bertujuan untuk meningkatkan harmonisasi dan sinkronisasi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan kehutanan di tingkat regional. 3.2 Struktur Organisasi 3.2.1 Struktur Organisasi Kemenhut Agar tujuan kementrian dapat tercapai, diperlukan kerjasama antara pemimpin dengan karyawan. Kerjasama yang baik antara anggota kementrian dapat tercapai jika memiliki struktur organisasi yang baik dan jelas. Berikut ini merupakan struktur Sekretariat Jenderal

Kementrian Kehutanan Republik Indonesia yang digambarkan dari tingkat atas sampai tingkat bawah. 33 Gambar 3.1 Struktur Organisasi Sekretariat Jenderal Gambar 3.2 Struktur Organisasi Biro Kepegawaian

34 3.2.2 Wewenang dan Tanggung Jawab Biro Kepegawaian mempunyai tugas melaksanakan koordinasi, pembinaan, perencanaan, pengembangan, tata usaha, dan pengelolaan sistem informasi kepegawaian di lingkungan Kementerian. Dalam melaksanakan tugasnya, Biro Kepegawaian menyelenggarakan fungsi: 1. Penyusunan rencana dan program serta evaluasi dan pelaporan, pembinaan dan pengembangan pegawai. 2. Penyiapan bahan koordinasi dan pengembangan sistem penilaian kompetensi pengembangan karir analisis kebutuhan pendidikan dan pelatihan pegawai, serta penyusunan formasi, pengadaan pegawai di lingkungan Kementrian. 3. Pelaksanaan administrasi kepangkatan, pemberhentian dan pemensiunan pegawai di lingkungan Kementrian. 4. Pengelolaan sistem informasi kepegawaian di lingkungan Kementrian. 5. Penyiapan bahan koordinasi, pembinaan dan pelaksanaan administrasi jabatan fungsional di lingkungan Kementrian. 6. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Biro. Biro Kepegawaian terdiri atas: 1. Bagian Perencanaan dan Pengembangan Kepegawaian. 2. Bagian Mutasi Kepegawaian. 3. Bagian Tata Usaha Kepegawaian.

35 4. Bagian Administrasi Jabatan Fungsional. Bagian Perencanaan dan Pengembangan Kepegawaian mempunyai tugas melaksanakan penyusunan rencana dan program kepegawaian, penyiapan bahan koordinasi dan pembinaan serta penyusunan formasi, pengadaan pegawai, dan pengembangan kepegawaian. Dalam melaksanakan tugasnya, Bagian Perencanaan dan Pengembangan Kepegawaian menyelenggarakan fungsi: 1. Penyusunan rencana, program, serta evaluasi dan pelaporan kepegawaian. 2. Penyiapan bahan koordinasi dan pengembangan sistem penilaian kompetensi, pengembangan karier, analisis kebutuhan pendidikan dan pelatihan pegawai. 3. Penyiapan bahan koordinasi dan penyusunan formasi, pengadaan pegawai. Bagian Perencanaan dan Pengembangan Kepegawaian terdiri atas: 1. Subbagian Rencana Formasi dan Pengadaan. 2. Subbagian Rencana Karier. 3. Subbagian Pengembangan Kepegawaian. Subbagian Rencana Formasi dan Pengadaan mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan koordinasi penyusunan rencana dan program kepegawaian, rencana pengadaan, penempatan dan pembekalan calon pegawai, dan pemantauan pasca penempatan pegawai.

36 Subbagian Rencana Karier mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan koordinasi pengembangan karier, pengembangan standar kompetensi kerja kepegawaian serta penyelenggaraan Personal Assessment Centre (PAC). Subbagian Pengembangan Kepegawaian mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan penyusunan rencana pengembangan pegawai, penyelenggaraan ujian dinas, dan penyesuaian ijazah. Bagian Mutasi Kepegawaian mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan koordinasi dan pelaksanaan administrasi mutasi, pengangkatan, kepangkatan, dan pemberhentian serta pemensiunan pegawai. Dalam melaksanakan tugasnya, Bagian Mutasi Kepegawaian menyelenggarakan fungsi: 1. Penyiapan bahan koordinasi pelaksanaan administrasi kepangkatan. 2. Penyiapan bahan koordinasi pelaksanaan administrasi alih jabatan dan pemindahan pegawai. 3. Penyiapan bahan koordinasi pelaksanaan administrasi pengangkatan, pemberhentian, dan pemensiunan pegawai. Bagian Tata Usaha Kepegawaian mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan koordinasi dan pelaksanaan pengelolaan sistem informasi kepegawaian dan kesejahteraan pegawai.

37 Dalam melaksanakan tugasnya, Bagian Tata Usaha Kepegawaian menyelenggarakan fungsi: 1. Penyiapan bahan koordinasi penyusunan tata naskah pegawai. 2. Penyiapan bahan koordinasi dan pengelolaan sistem informasi kepegawaian. 3. Penyiapan bahan koordinasi pelaksanaan administrasi hukuman dan disiplin serta kesejahteraan dan pelayanan kesehatan pegawai. Bagian Tata Usaha Kepegawaian terdiri atas: 1. Subbagian Tata Naskah Pegawai. 2. Subbagian Data dan Informasi Kepegawaian. 3. Subbagian Disiplin dan Kesejahteraan Pegawai. Subbagian Tata Naskah Pegawai mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan koordinasi pelaksanaan administrasi penyusunan dan pemeliharaan naskah kepegawaian, penyusunan DP3, daftar riwayat pekerjaan, arsip pegawai serta pengurusan kartu pegawai, kartu istri dan kartu suami pegawai serta pengurusan laporan kekayaan penyelenggara negara. Subbagian Data dan Informasi Kepegawaian mempunyai tugas melakukan pemeliharaan dan pengembangan sistem informasi kepegawaian dan basis data kepegawaian, serta penyajian data kepegawaian.

38 Subbagian Disiplin dan Kesejahteraan Pegawai mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan koordinasi pelaksanaan administrasi pemberian penghargaan dan hukuman disiplin, serta kesejahteraan dan pelayanan kesehatan pegawai. Bagian Administrasi Jabatan Fungsional mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan koordinasi pelaksanaan administrasi jabatan fungsional. Dalam melaksanakan tugasnya, Bagian Administrasi Jabatan Fungsional menyelenggarakan fungsi: 1. Penyiapan bahan koordinasi pelaksanaan administrasi penilaian angka jabatan fungsional. 2. Penyiapan bahan koordinasi pelaksanaan evaluasi jabatan fungsional. 3. Pelaksanaan pengelolaan urusan tata usaha dan rumah tangga biro. Bagian Administrasi Jabatan Fungsional terdiri atas: 1. Subbagian Administrasi Penilaian Angka Kredit mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan telaahan usul pengangkatan, pembebasan, dan pemberhentian jabatan fungsional, serta administrasi angka kredit. 2. Subbagian Evaluasi Jabatan Fungsional mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan koordinasi pelaksanaan

39 pemantauan, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan jabatan fungsional di lingkungan Kementrian. 3. Subbagian Tata Usaha mempunyai tugas melakukan pengelolaan urusan ketatausahaan, kepegawaian, keuangan, kerumahtanggaan, dan pelaporan Biro.

40 3.3 Tata Laksana/Prosedur yang Berjalan 3.3.1 Prosedur Absensi Gambar 3.3 Prosedur Absensi Di Sekretariat Jenderal Kementerian Kehutanan

41 Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Bagian Tata Usaha Kepegawaian Biro Kepegawaian, pada Sekretariat Jenderal Kementerian Kehutanan terdapat suatu sistem absensi pegawai yang masih berjalan secara manual. Sekretariat Jenderal Kementerian Kehutanan menggunakan kartu absensi yang dimasukkan ke dalam mesin pencetak yang akan menuliskan jam masuk dan jam keluar pegawai ke dalam kartu. Setiap dua bulan sekali, Bagian Tata Usaha Kepegawaian akan mengumpulkan kartu-kartu tersebut dan merekapitulasi data absensi masing-masing pegawai. Data absensi tersebut akan diproses menjadi laporan presensi yang kemudian akan dikirimkan ke Sekretariat Jenderal.

42 3.3.2 Prosedur Pengajuan Izin dan Sakit Gambar 3.4 Prosedur Pengajuan Izin dan Sakit

43 Prosedur pengajuan izin dan sakit yang berlaku di Sekretariat Jenderal Kementerian Kehutanan menurut peraturan perundang-undangan sah dilakukan melalui media apapun selama ada bukti tertulis. Pegawai yang ingin izin atau sakit wajib mengajukannya terlebih dahulu ke bagian Tata Usaha. Kemudian bagian Tata Usaha akan memberikan konfirmasi terhadap pengajuan izin atau sakit tersebut. Penerapan Disiplin Pegawai Negeri Sipil menurut Peraturan Pemerintah Nomor 53 tahun 2010 tentang Disipilin PNS: 1. Pegawai di Kementerian Kehutanan yang sakit lebih dari dua sampai dengan empat belas hari berhak atas cuti sakit. Yang bersangkutan harus mengajukan permintaan secara tertulis kepada pejabat yang berwenang, dengan melampirkan surat keterangan dari dokter. 2. Pegawai yang sakit lebih dari empat belas hari berhak atas cuti sakit dengan cara mengajukan permintaan secara tertulis kepada yang berwenang dengan melampirkan surat keterangan dari dokter yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan. Cuti sakit dapat diperpanjang sampai dengan enam bulan berdasarkan surat keterangan dari dokter yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan. 3. Pegawai yang tidak sembuh dari sakitnya dalam jangka waktu yang ditentukan harus diuji kembali kesehatannya oleh dokter yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan. Apabila yang bersangkutan masih belum sembuh dari penyakitnya, maka yang bersangkutan

44 dapat diberhentikan dengan hormat dari jabatannya karena sakit dengan mendapat uang tunggu. 4. Pegawai wanita yang mengalami keguguran berhak atas cuti sakit paling lama satu setengah bulan. 5. Pegawai berhak atas cuti alasan penting untuk keluarganya yang sakit keras, atau keluarganya ada yang meninggal dunia untuk mengurus hak-hak dari anggota yang meninggal dunia, dan juga untuk melangsungkan pernikahan pertama.

45 3.3.3 Prosedur Penilaian dan Penetapan Angka Kredit Gambar 3.5 Prosedur Penilaian dan Penetapan Angka Kredit

46 Setiap pejabat fungsional di Sekretariat Jenderal Kementerian Kehutanan bisa mendapatkan kenaikan jabatan. Syaratnya, setiap pejabat fungsional tersebut harus melakukan sejumlah kegiatan-kegiatan. Untuk mengukur jumlah kegiatan yang dilakukan oleh pejabat fungsional digunakan angka kredit. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Bagian Administrasi Jabatan Fungsional jenis-jenis kegiatan yang dapat dijadikan angka kredit antara lain: 1. Kegiatan Rutin Kegiatan rutin yang sudah menjadi pekerjaan rutinnya di kementerian. Perlu diketahui bahwa pejabat fungsional tidak mengerjakan pekerjaan yang sama setiap bulannya. Pekerjaan para pejabat fungsional bisa berbeda dari bulan-bulan sebelumnya tergantung perintah dari atasannya. Bukti bahwa para pejabat fungsional telah mengerjakan pekerjaan rutinnya didapat dari SPT PNS (Surat Perintah Tugas Pegawai Negeri Sipil). 2. Pengembangan profesi Pengembangan profesi yang dilakukan oleh para pejabat fungsional bisa dalam bentuk pembuatan karya tulis dan diklat. Bukti bahwa para pejabat fungsional telah melakukan pengembangan profesi adalah karya tulis dan ijazah. 3. Pendidikan formal Jika pejabat fungsional ingin menambah jumlah angka kreditnya dapat dilakukan melalui pendidikan formal seperti Diploma, S1, S2

atau S3. Bukti bahwa pejabat fungsional telah melakukan pendidikan formal adalah ijazah. 47 Jika sejumlah kegiatan kementerian telah dilkakukan, pejabat fungsional hanya perlu mengajukan DUPAK-nya (Daftar Usulan Penetapan Angka Kredit) kepada Bagian Administrasi Jabatan Fungsional. Lalu Sekretariat Bagian Administrasi Jabatan Fungsional akan memproses pengajuan DUPAK tersebut dan memberikannya ke Sekretariat Tim Penilai. Penentuan diterima atau tidak diterimanya DUPAK ditentukan oleh anggota Tim Penilai Angka Kredit. Setelah itu Ketua Tim akan melakukan rapat penetapan angka kredit dan mengeluarkan surat Hasil Penetapan Angka Kredit (HPAK). HPAK ini akan dikirimkan kembali ke Pejabat Fungsional pengusul dan dapat dijadikan salah satu syarat untuk kenaikan pangkatnya. 3.4 Permasalahan yang Dihadapi Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Sub Bagian Data dan Informasi Kepegawaian Kemenhut didapat beberapa masalah yang dihadapi di lingkup Biro Kepegawaian Kementerian Kehutanan. Beberapa diantaranya adalah: 1. Pengelolaan dan pemanfaatan data dan informasi belum optimal. Faktanya, Simpeg sudah bisa diakses oleh pegawai. Idealnya para pegawai seharusnya sudah bisa menggunakan akses langsung Simpeg untuk memenuhi tuntutan pekerjaan rutinitas mereka di kementerian.

48 Kenyataan yang terjadi, Simpeg belum digunakan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan para pegawai. Para pegawai dan para kepala bagian masih harus menghubungi Kepala Sub Bagian Data dan Informasi Kepegawaian untuk membantu mereka dalam hal pengelolaan dan pemanfaatan data. Hal ini disebabkan Simpeg terlalu rumit untuk diakses sementara mereka hanya membutuhkan data yang sederhana misalnya biografi pegawai. 2. Keabsahan data absensi yang kurang bisa dipertanggungjawabkan dan proses pembuatan laporan presensi yang lambat Biro Kepegawaian Kementerian Kehutanan mencatat data kehadiran dengan kartu absen dan pencetak waktu Amano (check clock). Sistem ini memiliki kelemahan dalam keabsahan data yang kurang terjamin. Tindak kecurangan titip absen merupakan kelemahan yang tidak dapat diatasi oleh sistem ini. Tindak kecurangan titip absen merupakan kelemahan yang tidak dapat diatasi oleh sistem ini. Untuk persiapan renumerasi pegawai, Biro Kepegawaian memerlukan data absensi yang 100 persen akurat. Pengumpulan data juga dirasa lambat karena diperlukan staf untuk membaca kartu satu persatu sehingga pengumpulan laporan data kehadiran pegawai ke Sekretariat Jenderal hanya dilakukan setiap dua bulan sekali. 3. Prosedur Pengembangan Jabatan Fungsional belum optimal Hal ini terjadi karena lamanya waktu yang diperlukan untuk memproses kenaikan pangkat jabatan fungsional. Sistem pengajuan angka kredit

49 yang sekarang digunakan oleh Sekretariat Jenderal Kementerian Kehutanan juga menyebabkan pemborosan kertas dan harus melalui banyak pintu. Proses pengiriman berkas juga lambat karena berkas perlu diduplikasi dan hal ini cukup menyita waktu. 4. Prosedur pengajuan izin dan sakit belum satu pintu dan terintegrasi. Prosedur yang sah menurut peraturan perundang-undangan Kementerian Kehutanan menyatakan bahwa proses pengajuan izin dan sakit boleh dilakukan melalui media apapun selama ada bukti tertulisnya. Belum ada format standar dalam pengajuan izin sehingga data sulit diarsipkan. 3.5 Alternatif Pemecahan Masalah Dari permasalahan yang dihadapi, dapat disimpulkan bahwa Biro Kepegawaian Kementerian Kehutanan membutuhkan solusi pemecahan masalah, antara lain: 1. Penggunaan data yang tersimpan dalam Simpeg sebagai basis master data pegawai yang digunakan dalam ehrm. Hal ini dilakukan untuk mencegah redudansi data dan kesalahan referensi data. 2. Integrasi sistem absensi ke dalam ehrm sehingga pengelolaan data absensi menjadi satu pintu dan menggunakan sumber data referensi yang akurat karena terhubung langsung ke database Simpeg. Sistem juga menangani perizinan pegawai secara online. Untuk penanganan kasus luar biasa seperti rusaknya alat pembaca sidik jari ehrm juga menyediakan fasilitas pencatatan absensi darurat.

50 3. Penyediaan fasilitas data interface untuk sistem absensi sidik jari melakukan input data absensi pegawai. Sistem absensi sidik jari mutlak diperlukan karena data kehadiran perlu dijamin 100 persen akurat. Penyediaan hanya sebatas interface data karena organisasi belum memutuskan merek dan tipe alat pembaca sidik jari yang akan digunakan. 4. Proyek uji coba (pilot project) administrasi jabatan fungsional secara online. Sistem akan dimulai dari pelayanan administrasi untuk bidang jabatan Analis Kepegawaian. Bidang ini dipilih karena demografis penggunanya yang masih di daerah Jabotabek dan proses penilaian angka kredit sepenuhnya dilakukan oleh Bagian Administrasi Jabatan Fungsional. Sistem akan melayani proses penyusunan DUPAK, legalisasi SPT, pengiriman Daftar Usulan Penetapan Angka Kredit (DUPAK), penilaian angka kredit dan pembuatan surat Hasil Penetapan Angka Kredit (HPAK) 3.6 Analisa Kebutuhan User 3.6.1 Kebutuhan Input Berdasarkan hasil wawancara dan diskusi dengan para pemangku kepentingan (stakeholder) dapat diketahui bahwa sistem harus dapat menginput data-data berikut:

51 1. Data Kehadiran Pegawai 2. Data Perizinan Pegawai 3. Data Absensi Darurat 4. Data Angka Kredit 5. Data Angka Kredit yang dijadikan DUPAK 6. Data Hasil Penetapan Angka Kredit (HPAK) 3.6.2 Kebutuhan Output Produk keluaran yang dibutuhkan dari implementasi ehrm di Biro Kepegawaian Kemenhut adalah: 1. Laporan Presensi Pegawai 2. Laporan Perizinan Pegawai 3. Laporan Absensi Luar Biasa 4. Laporan DUPAK 5. Hasil Penetapan Angka Kredit