DENTAL GYPSUM. By Astrid Yudhit

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL II

BAB 1 PENDAHULUAN. model gigitiruan dilakukan dengan cara menuangkan gips ke dalam cetakan rongga

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Manipulasi Bahan Cetak Alginat

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dalam bidang kedokteran gigi semakin beragam dan pesat. Terdapat berbagai jenis

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. dunia. Di alam gipsum merupakan massa yang padat dan biasanya berwarna abu-abu,

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I : SETTING TIME BAHAN CETAK ALGINAT BERDASARKAN VARIASI SUHU AIR (REVISI)

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I. : Recovery from Deformation Material Cetak Alginat

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAHAN CETAK ELASTOMERIK. Gatot Sutrisno

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL II

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL 1

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I : Recovery From Deformation Material Cetak Alginat

LILIN KEDOKTERAN GIGI. Yunita Fatmala

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS PADJADJARAN TEKNIK PENGECORAN DAN PEMBUATAN SEGI TUJUH

Universitas Gadjah Mada 1

Optimalisasi Variasi Komposisi Batu Kapur Lhoknga Aceh Besar sebagai Bahan Baku Material Dental Gipsum

STUDI EKSPERIMEN PENGARUH KOMPOSISI CERAMIC SHELL PADA INVESTMENT CASTING TERHADAP KEKASARAN PERMUKAAN DAN POROSITAS PRODUK TOROIDAL PISTON

2.2 Indikasi dan Kontra Indikasi Mahkota Jaket a. Indikasi Mahkota jaket dapat dipakai untuk memugar gigi gigi anterior yang :

Hydrocolloids Impression Materials

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

TI-2121: Proses Manufaktur

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. jaringan lunak dalam rongga mulut secara detail. Menurut Craig dkk (2004)

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL. Tgl. Praktikum : 12 Desember : Helal Soekartono, drg., M.Kes

LAPORAN PRAKTIKUM SKILL LAB REHABILITASI 1 GIGI TIRUAN JEMBATAN

PERUBAHAN BERAT HASIL CETAKAN BAHAN CETAK ALGINAT TIPE NORMAL SETTING YANG BERBEDA PADA MENIT-MENIT AWAL IMBIBISI

TINJAUAN PUSTAKA. Model gigitiruan merupakan replika dari permukaan rongga mulut, yaitu

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. berdasarkan pada cara bahan tersebut mengeras. Istilah ireversibel menunjukkan bahwa

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. material. Contoh bahan cetak elastomer adalah silikon, polieter dan polisulfida.

BAB I PENDAHULUAN. tinggi,menyebabkan pengembangan sifat dan karakteristik aluminium terus

PENGARUH METODE PENGERINGAN DENGAN TEMPERATUR RUANG DAN MICROWAVE

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I. : Setting Time Bahan Cetak Alginat Berdasarkan Variasi Suhu Air

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Cacat shrinkage. 1 1,0964 % Bentuk : merupakan HASIL DAN ANALISA DATA. 5.1 Hasil Percobaan

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB V KERAMIK (CERAMIC)

Proses Manufaktur (TIN 105) M. Derajat A

: Jl. Manggis 8 no 34 Kelurahan Pesanggrahan Kecamatan Pesanggrahan Jakarta Selatan

TUGAS PENGETAHUAN BAHAN TEKNIK II CETAKAN PERMANEN

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I

BAB 7 KERAMIK Part 2

BAB V PROSES PENGECORAN BAB V PROSES PENGECORAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh rasio w/p terhadap

Diagram TEKNIK MESIN ITS

MODUL 7 PROSES PENGECORAN LOGAM

1. Jelaskan cara pembuatan activator secara direct dan indirect. Melakukan pencetakan pada rahang atas dan rahang bawah.

PEMBUATAN POLA dan CETAKAN HOLDER MESIN UJI IMPAK CHARPY TYPE Hung Ta 8041A MENGGUNAKAN METODE SAND CASTING

BAB 5 HASIL PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. dibidang konstruksi. Dalam bidang konstruksi, material konstruksi yang paling disukai dan

VII. TEKNIK PENCETAKAN

BAB I I TINJAUAN PUSTAKA. direkatkan oleh bahan ikat. Beton dibentuk dari agregat campuran (halus dan

ANALISIS HASIL PENGECORAN SENTRIFUGAL DENGAN MENGGUNAKAN MATERIAL ALUMINIUM

PASI NA R SI NO L SI IK LI A KA

Metal Casting Processes. Teknik Pembentukan Material

BAB I PENDAHULUAN. mudah dalam proses pencampuran dan manipulasi, alat yang digunakan minimal,

BAB 1 PENDAHULUAN. rumput laut tertentu yang bernama Brown Algae bisa menghasilkan suatu ekstrak lendir,

PROSES MACHINING PEMBUATAN ZINC CAN BATTERY TYPE UM-1 DI PT. PANASONIC GOBEL ENERGI INDONESIA

STUDI SIMULASI DAN EKSPERIMEN PENGARUH KETEBALAN DINDING EXOTHERMIC RISER TERHADAP CACAT SHRINKAGE PADA PENGECORAN ALUMINIUM 6061 METODE SAND CASTING

Low Heat Concrete Sebuah Inovasi untuk Pengecoran Beton Massa di Indonesia

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. lunak dan merupakan tempat melekatnya anasir gigitiruan. 1 Berbagai macam bahan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. mulai menggunakan secara intensif bahan cetakan tersebut (Nallamuthu et al.,

Ajeng Rahmasari NIM 12/330087/TK/

PROSES MANUFACTURING

METALURGI SERBUK (POWDER METALLURGY) Metalurgi Serbuk : Teknologi pemrosesan logam dimana part-part diproduksi dari serbuk metal.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Latar Belakang Masalah Perubahan dimensi pada cetakan gigi dan mulut biasanya

BAB III PROSES PENGECORAN LOGAM

BAB VI BATTERY. Tujuan Pembelajaran : Menyebutkan jenis dan bahan Battery Memahami fungsi dan cara perawatan Battery

Gambar 1 Sistem Saluran

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Diagram Alir Penelitian Pada penelitian ini langkah-langkah pengujian mengacu pada diagram alir pada Gambar 3.1.

METODA GRAVIMETRI. Imam Santosa, MT.

PERUBAHAN KEKUATAN KOMPRESI DENTAL PLASTER YANG DICAMPUR DENGAN NACl DALAM BERBAGAI VARIASI KONSENTRASI

11 BAB II LANDASAN TEORI

VI. PREPARASI GIGI PEGANGAN (ABUTMENT)

LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM ANORGANIK PERCOBAAN 1 TOPIK : SINTESIS DAN KARAKTERISTIK NATRIUM TIOSULFAT

BAB 2 PROSES PENGECORAN

SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH TEKNIK PENGECORAN KODE / SKS : KK / 2 SKS. Sub Pokok Bahasan dan Sasaran Belajar

PABRIK KALSIUM SULFAT ANHIDRAT DARI GYPSUM ROCK DENGAN PROSES KALSINASI

2.1 Material Cetak Definisi dan Tujuan3,4

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB 2 DENTAL AMALGAM. Amalgam merupakan campuran dari dua atau beberapa logam (alloy) yang

Studi Penambahan Gula Tetes Pada Cetakan Pasir Terhadap Kuantitas Cacat Blow-hole

DENTAL AMALGAM. HENU SUMEKAR,drg., Sp.KG

KERUSAKAN REFRAKTORI

Sera Desiana - Pengaruh Variasi Waterglass terhadap Kadar Air dan Kadar Lempung...

LOGAM DAN PADUAN LOGAM

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Resin akrilik polimerisasi panas adalah salah satu bahan basis gigitiruan

JENIS JENIS REFRAKTORI JENIS REFRAKTORI

PENGARUH PERAWATAN TERHADAP DAYA TAHAN BETON

yang diterapkan. Peta topografi digunakan sebagai gambar desain karena memiliki

Transkripsi:

DENTAL GYPSUM By Astrid Yudhit

Kompetensi Khusus Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang: - Pengertian dan komposisi Dental gypsum - Setting time dan faktor yang mempengaruhi Dental gypsum - Accelerator dan retraders Dental gypsum - Setting reaksi dan W/P ratio Dental gypsum - Mixing time, working time dan setting time Dental gypsum - Sifat Dental gypsum - Strength Dental gypsum - Setting ekspansi dan kontrol setting ekspansi Dental gypsum - Type Dental gypsum

Kompetensi. - Pengertian Impression Plaster ( type 1 ) - Pengertian Model Plaster ( type II ) - Pengertian Dental Stone ( type III ) - Pengertian Dental Stone High Strength ( type IV ) - Pengertian Dental Stone, High Strength, High Expansion ( type V ) - Penggunaan Dental gypsum di kedokteran gigi - Cara pengisian model ( study model dan work model ) - Cara pemanipulasian pembuatan study model dan work model ) - Cara pemanipulasian bahan tanam dan cara penanaman okludator/artikulator - Pengertian bahan tanam dan cara penanaman cuvet/flasking - Kontrol infeksi Dental gypsum

Kompetensi - Pengertian dan klasifikasi Casting investment - Pengertian dan komposisi Gypsum-bonded investment - W/P ratio, setting reaksi, setting time dan setting ekspansi Gypsumbonded investment - Pengertian Hygroscopic setting ekspansi Gypsum-bonded investment - Termal ekspansi dan kontraksi termal Gypsum-bonded investment - Strength, porosity, dan shelf life Gypsum-bonded investment - Pengertian dan komposisi Phosphate-bonded Investment - Setting reaksi, setting dan thermal expansion Phosphate-bonded Investment - Working dan setting time Phosphate-bonded Investment - Sifat sifat Phosphate-bonded Investment - Pengertian Ethyl Silicate-bonded Investment - Cara menanam dalam moffel dari Ethyl Silicate-bonded Investment

GYPSUM suatu mineral Ca Sulfat de-hydrat (Ca SO4 2H2O), yang hampir murni

GYPSUM Proses pembuatan : Ca SO4 2H2O (Ca SO4) 2H2O Ca SO4 Gypsum 110 O 130 O C 130 O 200 O C Plaster of Paris ----------------- Ca SO4 200 O 1000 O C Natural anhydrida (Orthorhombic)

GYPSUM Gypsum alam (Calcination) Ca SO4 2H2O Ketel terbuka Hemihydrate Autoclave α Hemihydrate

GYPSUM DENTAL STONE LEBIH KUAT DIBANDING PLASTER OF PARIS - α Hemihydrate lbh sdkt mengambil air dlm reaksinya - α Hemihydrate mempunyai kristal2 yg lbh teratur dan tdk poreus dr Hemihydrate

GYPSUM Setting Gypsum Products Reaksi pembekuan gyps adalah sebagai berikut : Ca SO4 2H2O + 3H2O Ca SO4 2H2O + panas/heat (3900 cal/gr mole)

Setting Time. Faktor-faktor yang mempengaruhi Setting Time : 1. Proses pembuatan 2. W/P ratio 3. Mixing/Spatulation 4. Temperatur 5. Retarders dan Accelerators (Zat-zat yang memperlambat dan mempercepat reaksi)

Setting Time. 1. Proses pembuatan lbh banyak kristal gyps yg tertinggal dalam bahan sesudah proses pembuatan, mk disitu lbh banyak terdapat nucleus kristalisasi ST lbh pendek

Setting Time. 2. W/P ratio lbh banyak air yang dicampurkan menyebabkan ST lbh panjang. Dalam hal ni inti kristalisasi tdk cukup banyak utk bereaksi dgn seluruh air yg dicampurkan.

Setting Time. 3. Mixing/Spatulation Lebih lama dan lbh cepat mengaduk bhn ini akan memperpendek ST. 4.Temperatur makin rendah temp., ST akan bertambah panjang.

Setting Time. 5. Retarders dan Accelerators zat2 yg memperlambat atau mempercepat reaksi. Biasanya accelerator yg dipakai adalah Potasium Sulfat (K2SO4) dan sebagai retarders Borax (Na2B4O7.10H2O) dan Sodium Sitrat.

Setting Expansion : berekspansi selama proses pengerasan. Normal Setting Expansi : ± 0,3 0,4 %. Kontrol Setting Expansion : Setting Ekspansi. W/P ratio yang rendah akan memperbesar setting expansi mixing time yang panjang K2SO4 sbg accelerator mengurangi setting expasin. Borax (Retarders) mengurangi setting expansi.

Setting Ekspansi. Strength : W/P ratio bertambah besar kekuatannya akan bertambah kecil. Oleh karena jarak antara nucleus kristalisasi satu sama lain bertambah jauh hubungan/ikatan kristal tersebut berkurang.

PRODUK GIPSUM PLASTER OF PARIS Macam2 Gypsum Product : 1. Plaster of Paris = Hemihydrate. * Bentuk partikelnya tidak teratur, kasar dan poreus. * W/P ratio 0,5 atau 0,6 1 : 2 * Strength : Max. Compressive Strength : ± 2000 kg/in2. * Setting time

PRODUK GIPSUM PLASTER OF PARIS Material W/P Ratio (ml/gr) Plaster 0,4 0,50 0,55 Spatulati on 100/mnt Initial ST (menit) 8 11 14

PRODUK GIPSUM PLASTER OF PARIS Kegunaannya : 1. Sbg bahan study model. 2. Sbg bahan tanam (Imbedden/Cuveteren). 3. Bahan tanam pd okludator/arthic.

2. Dental Stone Secara khemis disebut juga α Hemihydrate (Hydrocal). Bentuk partikelnya : - halus dan - non poreus. W/P ratio Type I 0,28 0,30 Strength Type II max 0,25 Type I 3000 4250 kg/in2 Type II ± 5000 kg/in2

Setting time Material W/P Ratio (ml/gr) Spatulation Initial ST (menit) Dental Stone 0,22 0,30 0,33 100/mnt 4 7 8

Setting Expansion Pada bahan ini setting expansion dapat ditekan sampai 0,1 0,14% untuk Type I dan untuk type II ± 0,06. Penggunaan Pada umumnya dipakai sebagai bahan work model. Tapi bila kita membutuhkan perbaikan satu-satu gigi misalnya pembuatan Crown atau Bridge yang modelnya disebut Die dimana dibutuhkan kekuatan yang besar, lebih baik dipakai Dental Stone Type II. Pengisian Hasil Cetakan/Die Sama dengan pengisian cetakan model.

3. Investment Gyps/Casting Investment Casting Investment diperlukan sebagai bahan tanam untuk mendapatkan mold (ruangan) dalam pengecoran logam. Bahan ini digunakan dalam pembuatan : - Inlay - Crown - Bridge

KOMPOSISI 1. Refractory Material Biasanya dipakai untuk silicone dioxyde (silica). Misal : - Quartz, - Tridymite, - Cristobalite. Atau campuran ketiganya (60 65%). 2. Binder Material Disini dipakai Hydrocal sebagai bahan perobah Refractory Material menjadi massa yang solid dan cohesive (30 35%).

3. Bahan-bahan lain/modifiers Yang berguna untuk memperbaiki keadaan-keadaan fisicalnya sebanyak 5%. Bahan yang dipakai biasanya : - Sodium Chloride - Boric Acid - Potassium Sulfat - Graphite - Copper Powder - Mg Oxyde Silica (SiO2) ditambahkan untuk 2 (dua) alasan yaitu : - Menjaga pecahnya bahan investment selama pemanasan - Mengatur thermal expansion.

Pemanasan Temperatur yang dibutuhkan dalam mencairkan bahan-bahan logam biasanya lebih dari 1300 O F.

Syarat-syarat Investment Gyps 1. Mudah memanipulasikannya. 2 Mempunyai permukaan yang licin untuk mendapatkan detail dan tepi casting yang baik. 3. Tidak menjadi corrosive oleh temperatur yang tinggi sehingga menjadikan permukaan casting berbintikbintik. 4. Harus cukup poreus agar gas-gas dapat keluar selama pengecoran. 5. Setelah pengecoran dapat pecah dengan mudah. 6. Cukup kuat untuk tidak pecah pada temperatur yang tinggi. 7. Cukup mempunyai ekspansi untuk mengimbangi mengerutnya bahan shrinkage logam setelah dingin. 8. Murah harganya.

Setting time Setting time untuk Investment Gyps berkisar antara 7 12 menit. Hygroskopic Setting Expansion (H. S. E) Hygroskopic Setting Expansion adalah expansion yang terjadi apabila gyps berkontak atau berada dalam air sewaktu pembekuan (setting). Hygroskopic Setting Expansion ini dapat 6 (enam) kali atau lebih, lebih besar dari normal setting expansion. Dalam hal ini berkontak dengan air dapat terjadi sewaktu memasukkan pattern dekat dengan tempat air atau penggunaan asbes yang basah (asbestos liner).

A = Normal Setting Expansion B = Hygroskopic Setting Expansion Air ditambah setelah 5 (lima) menit pencampuran W/P ratio = 0,30 (B lebih besar 6 (enam) kali dari A).

Faktor-faktor yang Mengontrol Hygroskopic Setting Expansion 1. Komposisi Hygroskopic Setting Expansion lebih banyak dipengaruhi oleh silica dari bahan-bahan lain. Lebih halus partikel-partikelnya, Hygroskopic Setting Expansion akan menjadi lebih besar. Juga α Hemihydrate menghasilkan Hygroskopic Setting Expansion yang lebih besar daripada Hemihydrate. 2. W/P ratio W/P ratio yang lebih besar akan menyebabkan Hygroskopic Setting Expansion yang lebih kecil.

3. Spatulation Mixing time yang pendek akan memperkecil Hygroskopic Setting Expansion. Sebenarnya hal ini berhubungan langsung dengan Setting Expansion. 4. Shelf Life Investment yang lama akan menyebabkan Hygroskopic Setting Expansion akan lebih kecil. 5. Temperatur Peninggian temperatur Hygroskopic Setting Expansion sampai 40 O C akan menyebabkan pembesaran Hygroskopic Setting Expansion.

6. Waktu perendaman/kontak dengan air Bila ini terjadi sebelum initial setting selesai Hygroskopic Setting Expansion akan menjadi lebih kecil. 7. Batas/Tempat Besar Hygroskopic Setting Expansion akan dibatasi oleh tempat bahan investment ini. Dalam hal ini lebih besar pengaruhnya terhadap Hygroskopic Setting Expansion daripada terhadap Setting Expansion.

8. Jumlah Air yang Ditambahkan Makin banyak air yang ditambahkan/ yang kontak dengan bahan ini selama proses setting akan memperbesar Hygroskopic Setting Expansion, tapi bila proses setting telah selesai penambahan air tidak begitu berpengaruh.

Teory Hygroskopic Setting Expansion Ada banyak teori mengenai terjadinya Hygroskopic Setting Expansion ini. Sebenarnya agak sukar untuk membedakan antara Setting Expansion dengan Hygroskopic Setting Expansion, oleh karena keduanya terjadi hampir pada saat yang sama. Dan dapat dikatakan H. S. E adalah merupakan kelanjutan daripada Setting Expansion. Walaupun begitu secara teori kristalisasi dapat dikatakan bahwa hal ini terjadi oleh karena air yang ditambahkan akan menambah volume dan menyebabkan kristal dari Hemihydrate akan bertambah terus. Catatan : teori-teori yang lain menghubungkan hal ini dengan teori : - Swelling Gel. - Semi Solid. - Surface Film Thickness. - Hydrasi dari Ca Sulfate.

Thermal Expansion Expansi oleh karena penambahan temperatur ini berhubungan langsung dengan type Silica dan jumlahnya dalam bahan tersebut. Disini terjadi inversion bentuk silica dari bentuk yang low menjadi bentuk yang high. ( α ------------ ) ( Low Quartz ------------- High Quartz) ( Low Cristobalite --------------- High Cristobalite) Bila dipakai Silica Cristobalite, Thermal Expansionnya akan lebih besar dibandingkan bila dipakai Quartz. Juga jumlah yang lebih banyak silica akan memperbesar thermal expansionnya. W/P ratio yang lebih besar akan menyebabkan thermal expansion menjadi lebih kecil. Juga pemakaian modifiers seperti sodium, potassium atau lithium chloride dapat menghilangkan kontraksi dari gypsum dan akan menambah expansion tanpa perlu adanya silica yang berlebih-lebihan. Ketiga Expansion (Setting Expansion, Hygroskopic Setting Expansion, dan Thermal Expansion) yang terdapat pada bahan ini diperlukan untuk memperbesar mould yang ada agar dapat mengimbangi pengerutan logam yang dicor setelah pendinginan (23%).

Porosity Bahan investment ini harus cukup poreus agar logam cor yang dimasukkan ke dalam mould melalui sprue dapat berjalan lancar. Hal ini sehubungan dengan gas-gas yang terperangkap dalam mould dapat keluar melalui lobanglobang poreus.

Strength Bahan ini harus cukup kuat sehingga bagian-bagian mould tidak fraktur (pecah, patah) sewaktu logam dicor atau menjadi kasar permukaannya sehingga logam yang diperoleh menjadi cacat. Pemakaian α Hemihydrate memperbesar sifat strength bahan ini dibandingkan dengan Hemihydrate. Mempebesar W/P ratio akan memperkecil strength ini. Sewaktu pengecoran, pemanasan sampai 700OC tidak banyak mengurangi strength. Selama pendinginan (temperatur menurun) kekuatan umumnya berkurang, agaknya karena terjadi keretakan pada bahan tersebut. Jadi dengan alasan inilah mould yang telah dipanaskan tidak boleh dibiarkan mendingin kembali sebelum logam dicor.

4. Casting Investment untuk Chrom Cobalt Base Alloy Bahan-bahan ini hampir sama dengan casting investment untuk alloyalloy seperti diatas, hanya disini diperlukan bahan yang tahan sampai 2000 O F. Oleh karena itu bahan ini memerlukan binder materials yang lain typenya seperti silica bonded investments atau phosphate bonded investments.

5. Soldering Investment Bahan ini juga hampir sama dengan casting investment tetapi disini dibuat agar bahan tersebut mempunyai setting time yang lebih pendek dan thermal expansion yang lebih kecil daripada casting investments. Hal ini perlu agar bagian-bagian yang dikerjakan tidak berubah dalam ukuran maupun posisinya selama pengerasan dan pemanasan. 6. Impression Plaster (lihat bab Impression Materials)

MANIPULASI Pembuatan Model/Cast Model adalah suatu reproduksi suatu benda/objek yang diperoleh dengan mengisi bentuk negatifnya. Ada 2 (dua) macam model, yaitu : - Study model atau model pemeriksaan. - Work model atau model kerja. Study model dibuat dengan gyps biasa (Plaster of Paris) dipergunakan untuk mempelajari keadaan diluar mulut penderita. Work model dibuat dengan gyps keras (Dental Stone) dan dipergunakan untuk tempat mengerjakan pembuatan gigi palsu/pesawat. Kalau bahan cetak yang dipergunakan Impression Plaser (gyps cetak) maka sebelum diisi dengan gyps atau dental stone, cetakan harus diberi separating medium misalnya air sabun. Semua cetakan harus diisi secepat mungkin untuk menghindarkan tejadinya perubahan dimensi dari cetakan.

MANIPULASI Cara Mengisi Cetakan Untuk Rahang Atas Setelah gyps dicampur dengan air dan diaduk sampai homogen kemudian dituangkan pada bagian yang paling tinggi (daerah palatum), sambil mengetok-ngetokkan sendok cetak diatas rubber bowl untuk mencegah terjadinya gelembung-gelembung udara yang meyebabkan poreus. Untuk Rahang Bawah Pengisian dilakukan dari satu sisi gigi kanan atau kiri pada bagian distal, sambil diketok-ketok seperti pada rahang atas, supaya mengalir ke bagian-bagian yang lain. Bila seluruh cetakan sudah diisi dengan gyps maka cetakan dibalik dan ditempatkan diatas setumpukan gyps yang sudah ditaruh diatas meja yang beralaskan kertas besar. Dengan demikian diperoleh dasar model dengan tebal secukupnya (± 0,5 1 cm).

MANIPULASI

MANIPULASI Cara Mengeluarkan Model dari Cetakan Setelah gyps keras model dapat dikeluarkan dari cetakan dengan jalan, Jika bahan cetak yang dipakai adalah Stanz maka model dapat dikeluarkan dari cetakan dengan melunakkan Impression Compound-nya dalam air panas ± 60OC. Kemudian dilepaskan dengan pisau mulai dari daerah vestibulum semua sisi, bagian okklusal dan incisal. Jika bahan cetaknya gyps (Imperssion Plaster) dapat dilepaskan dengan membuat parit dibagian processus alveolaris dan dicungkil dari bagian bukkal dan labial pada pinggir cetakan. Sedangkan pada bagian palatum dapat dengan sendirinya dikeluarkan keseluruhannya. Jika cetakan dengan bahan cetak alginate dapat dibuka dengan menyiramkan air dari kran ke bagian distal cetakan, sambil menggerak-gerakkan model agar lepas dari bahan cetak.

MANIPULASI TRIMMING Membentuk Model Setelah pengisian rahang atas dan rahang bawah selesai perlu lagi kita bentuk dasar dari model itu menjadi bentuk : - 7 (tujuh) sisi untuk rahang atas. - 6 (enam) sisi untuk rahang bawah. Tebal dasar model ± 0,5 1 cm. Model dalam keadaan okklusi harus dapat berdiri pada semua sisi.

MANIPULASI TRIMMING

Pengisian Cuvet/Flask MANIPULASI PENANAMAN KUVET Cuvet bagian bawah diberi gyps yang telah diaduk kemudian model ditekankan dengan menjaga agar okklusal gigi geligi sedikit lebih tinggi dari permukaan cuvet. Gyps yang menutupi wax dibuang dan permukaan gyps dilicinkan sehingga bagian tepi cuvet tidak tertutupi oleh gyps. Setelah gyps kering permukaannya diberi Vaseline dan cuvet lawan/antagonis (bagian atas ditangkupkan tanpa tutupnya). Kemudian dimasukkan gyps yang sedikit encer kedalamnya dengan tidak lupa mengetokgetoknya (agar tidak terjadi poreus) sampai penuh dan dipasang tutupnya lalu dipress tanpa tekanan.

MANIPULASI PENANAMAN KUVET

Cara Memasang Model pada Okludator/Artikulator Permukaan dasar/basis model dikasarkan dengan lecron mass/was mass dan dibasahi. Model rahang atas dan bawah dioklusikan kemudian diikat dengan karet gelang. Okludator disetel sehingga bagian dasar dari basis model rahang atas dan rahang bawah tepat pada basis dan bagian atas okludator. Gyps diaduk dan ditaruh diatas kertas yang dibasahkan sebagai alas. Okludator ditekankan diatasnya sampai mengenai kertas dan model ditekankan diatas basis okludator. Gyps yang berlebihan (ikuti bentuk model) dibuang dengan was mass. Bagian atas okludator ditangkupkan pada basis model rahang atas dan gyps ditaruh diatasnya. Gyps bagian atas dibuat sedikit membola yang gepeng dan dipolish. Kunci dari okludator disetel sampai mengenai dasarnya dan kemudian diberi gyps sehingga tidak dapat bergesar lagi. Meletakkan model pada okludator harus diperhatikan dan dibuat agar : - Median line model tepat pada median line okludator. - Permukaan oklusal gigi geligi sejajar dengan lantai.

Glossary Calcining : pembakaran/pemanasan bahan solid untuk mendekomposisikan bahan tersebut tanpa meleleh Setting expansion : perubahan dimensi yang berkaitan dengan setting reaksi Refractory material : suatu bahan yang tahan terhadap perubahan, terutama panas Binder material : suatu bahan yang mengikat massa partikel pada saat proses setting terjadi Hygroskopic setting exp : ekspansi yang terjadi pada saat bahan berkontak dengan air Retarder : bahan yang memperlambat reaksi Accelerator : bahan yang mempercepat reaksi

REFERENSI Anusavice KJ.: Philip s Science of Dental Materials.11 th edition.st.louis Missouri : W.B. Saunders Company. 2003 :255 280 O Brien JW.: Dental Materials and Their Selection, 3 rd edition,chicago Berlin Tokyo : Quintessence Publishing,Co.Inc., 2002 : 37 61 Phillips RW.: Skinner s Science of Dental Materials, 7 th edition, W.B.Saunders Company.Philadelphia.1973 ; 55 72 Craig RG.:Restorative Dental Materials, 9 th edition, St.Louis London : Mosby.Inc,1993 ; 336 358 Philips RW. : Elements of Dental Materials : for dental hygienists and dental assistances,5 th edition, W.B. Saunders Company, 1994 ; 40 56 Craig RG. & Powers JM. : Restorative Dental Materials. 11 th edition. St.Louis London : Mosby.Inc., 2002 ; 391 416