3. METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan di PPN Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat (Gambar 2). Pengambilan data primer dilakukan selama tiga bulan dari tanggal 9 Maret 18 Mei 2010 dengan interval waktu pengambilan contoh dua minggu. Daerah penangkapan ikan cakalang bermula dari mulut teluk Palabuhanratu sampai perbatasan Pangandaran (area berwarna kuning). Pada daerah penangkapan tersebut terdapat rumpon sebagai alat bantu pengumpul ikan. Gambar 2. Peta lokasi penelitian 3.2. Pengumpulan Data 3.2.1 Pengumpulan data primer Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara pengambilan contoh jenis ikan cakalang yang di daratkan di PPN Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Metode yang digunakan yaitu dengan melakukan pengukuran panjang cagak dan bobot basah untuk pendugaan parameter pertumbuhan dan pola pertumbuhan ikan cakalang di Palabuhanratu. Panjang ikan diukur dari ujung terdepan bagian kepala sampai dengan lekuk cabang sirip ekor (panjang cagak). Panjang cagak digunakan untuk ikan yang sirip ekornya keras seperti tuna (Sparre & Venema 1999). Pengukuran panjang cagak dilakukan dengan menggunakan meteran kain yang mempunyai ketelitian 0,1 cm. Sedangkan bobot ikan cakalang yang ditimbang adalah bobot basah total yaitu bobot total jaringan tubuh ikan dan air yang
16 terdapat di dalamnya dengan menggunakan timbangan digital dengan ketelitian 1 gram. Ikan cakalang yang digunakan sebagai contoh diambil dari 3 kapal dari beberapa kapal yang mendaratkan ikan cakalang di PPN Palabuhanratu dengan cara meminjam. Pengambilan contoh 3 kapal tersebut dilakukan dengan metode campuran, berdasarkan waktu (kesamaan waktu pengambilan contoh dengan pendaratan 3 kapal tersebut), alat tangkap dan lokasi penangkapan (fishing ground). Kemudian dari 3 kapal diambil contoh ikan ±35 ekor secara acak oleh nelayan dari dalam drum plastik (blong) dengan jumlah seluruh contoh yang digunakan sebanyak ±100 ekor dalam setiap samplingnya, sehingga jumlah contoh yang diambil selama penelitian sebanyak 622 ekor (Gambar 3). Dalam melakukan pengambilan contoh, digunakan kapal-kapal yang sama selama penelitian. PPN Palabuhanratu Kapal pancing tonda Kapal 1 Kapal 2 Kapal 3 ± 100 contoh ikan cakalang Pengukuran panjang dan berat Gambar 3. Skema Pengambilan Contoh
17 Pengumpulan data primer dan informasi lainnya dengan cara mewawancarai nelayan ikan cakalang di Palabuhanratu. Informasi tersebut diantaranya berupa kegiatan operasi penangkapan, dan daerah penangkapan (fishing ground). 3.2.2 Pengumpulan data sekunder Pengumpulan data sekunder yaitu meliputi data produksi hasil tangkapan ikan cakalang di PPN Palabuhanratu pada tahun 2005-2008 sebagai data penunjang untuk analisis mortalitas dan laju eksploitasi serta pengumpulan data mengenai kondisi lingkungan Teluk Palabuhanratu termasuk data suhu yang akan digunakan untuk analisis mortalitas alami. 3.2.1. Analisis Data 3.3.1 Hubungan Panjang Bobot Bobot dapat dianggap sebagai suatu fungsi dari panjang. Hubungan panjang dan bobot dapat diketahui dengan rumus (Effendi 1997): W = al b Keterangan : W = bobot ikan (gram) L = panjang total ikan (milimeter) a, b = konstanta Jika rumus umum tersebut ditransformasikan ke dalam logaritma, maka akan didapatkan persamaan linier atau persamaan garis lurus sebagai berikut : Log W = log a + b log L Untuk mendapatkan nilai konstanta a dan b maka dilakukan analisis regresi dengan menggunakan nilai Log W sebagai y dan Log L sebagai x maka akan didapatkan persamaan sebagai berikut : y = a + bx Uji-t dilakukan untuk menguji b = 3 atau b 3, dengan hipotesis sebagai berikut : H 0 : b = 3, isometrik (pertambahan panjang seimbang dengan pertambahan bobot)
18 H 1 : b 3, allometrik (pertambahan panjang tidak sama dengan pertambahan bobot) dimana : Bilamana nilai b = 3 menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan tidak berubah bentuknya, pertambahan panjang ikan seimbang dengan pertambahan bobotnya (isometrik). Sedangkan apabila b > menunjukkan pertambahan bobot lebih cepat dari pertambahan panjangnya (allometrik positif), dan jika b < 3 menunjukkan pertambahan panjang lebih cepat dari pertambahan bobotnya (allometrik negatif) (Effendi 1997). Keterangan : b 1 : Nilai b (dari analisis regresi hubungan panjang bobot) b 0 : 3 Sb 1 : Simpangan koefisien b Setelah didapatkan nilai t hit dari perhitungan diatas lalu bandingkan dengan nilai t tab pada selang kepercayaan 95% kemudian untuk mengetahui pola pertumbuhan ikan, kaidah keputusan yang diambil adalah : t hit > t tab : tolak H 0 (Hipotesis nol) t hit < t tab : gagal tolak H 0 (Hipotesis nol) 3.3.2 Faktor Kondisi Faktor kondisi yaitu keadaan atau kemontokan ikan yang dinyatakan dalam angka-angka. Perhitungan faktor kondisi didasarkan pada panjang dan bobot ikan. Faktor kondisi dapat dihitung dengan rumus (Effendie 1979) sebagai berikut : Jika nilai b = 3 (isometrik), maka faktor kondisi ditentukan dengan rumus : W10 K (t,s,f) = 3 L Jika nilai b 3 (allometrik), maka faktor kondisi ditentukan dengan rumus : K (t,s,f) = W b al 5
19 Keterangan : K = faktor kondisi W = bobot ikan (gram) L = panjang total ikan (milimeter) a, b = konstanta 3.3.3 Sebaran Frekuensi Panjang Dalam metode sebaran frekuensi panjang data yang digunakan adalah data panjang cagak dari ikan cakalang. Dilakukan pengukuran ikan cakalang dengan menggunakan meteran kain yang memiliki ketelitian 0,1 cm. Adapun langkah-langkah untuk membuat sebaran frekuensi panjang adalah sebagai berikut (Walpole 1992) : Langkah 1 : Menentukan banyaknya selang kelas yang diperlukan Langkah 2 : Menentukan wilayah data tersebut Langkah 3 : Bagilah wilayah tersebut dengan banyaknya kelas untuk menduga lebar selang kelasnya Langkah 4 : Menentukan limit bawah kelas bagi selang yang pertama dan kemudian batas bawah kelasnya, kemudian tambahkan lebar kelas pada batas bawah kelas untuk mendapatkan batas atas kelasnya Langkah 5 : Mendaftarkan semua limit kelas dan batas kelas dengan cara menambahkan lebar kelas pada limit dan batas selang sebelumnya Langkah 6 : Menentukan titik tengah kelas bagi masing-masing selang dengan merata-ratakan limit kelas atau batas kelasnya Langkah 7 : Menentukan frekuensi bagi masing-masing kelas Langkah 8 : Menjumlahkan kolom frekuensi kemudian periksa apakah hasilnya sama dengan banyaknya total pengamatan 3.3.4 Pertumbuhan Model pertumbuhan yang berhubungan dengan panjang ikan yang rumusnya dikemukaan oleh Von Bertalanffy yang kemudian disebut Model Von Bertalanffy adalah (Sparre & Venema 1999) : L t = L (1-e -K(t-to) ) atau L t = L (1-e -Kt )+ L 0 e -Kt
20 Keterangan : L t = panjang ikan pada waktu t (milimeter) L = panjang maksimum (milimeter) L 0 = panjang ikan pada waktu t=0 (milimeter) K = koefesien pertumbuhan (per tahun) = umur ikan pada waktu panjang nol t 0 Untuk nilai L dan K didapatkan dari hasil perhitungan dengan metode ELEFAN 1 yang terdapat dalam program FiSAT II. Sedangkan nilai t 0 (umur teoretis ikan pada saat panjang sama dengan nol) dapat diduga dengan persamaan empiris Pauly (Pauly 1984) sebagai berikut : Log (-t 0) = 0,3922 0,2752 (Log L ) 1,0380 (Log K) 3.3.5 Mortalitas dan laju eksploitasi (E) Laju mortalitas total (Z) diduga dengan menggunakan metode Jones & Van Zalinge yang dikemas dalam program FiSAT II. Sedangkan untuk menduga laju mortalitas alami (M) menggunakan rumus empiris Pauly (1984). Untuk memperhitungkan jenis ikan yang memiliki kebiasaan bergerombol dikalikan dengan nilai 0,8 sehingga untuk spesies yang bergerombol seperti ikan cakalang nilai dugaan menjadi 20% lebih rendah. ln M = -0,0152 0,279 ln + 0,6543 ln K + 0,463 ln T M = 0,8 e (lnm) Keterangan : M = mortalitas alami L = panjang asimtotik pada persamaan pertumbuhan Von Bartalanffy K = koefisien pertumbuhan pada persamaan pertumbuhan Von Bertalanffy T = rata-rata suhu permukaan air ( 0 C) Laju mortalitas penangkapan (F) dapat ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut : F = Z M
21 Laju eksploitasi ditentukan dengan membandingkan mortalitas panangkapan (F) terhadap mortalitas total (Z) (Pauly 1984) : E = F F M = Z F Keterangan : F = Mortalitas penangkapan Z = Mortalitas total M = Mortalitas alami