BAB IV PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 4 PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA

KARAKTERISTIK PEMBAKARAN DARI VARIASI CAMPURAN ETHANOL-GASOLINE (E30-E50) TERHADAP UNJUK KERJA SEPEDA MOTOR 4 LANGKAH FUEL INJECTION 125 CC

BAB III METODE PENELITIAN. Daya motor dapat diketahui dari persamaan (2.5) Torsi dapat diketahui melalui persamaan (2.6)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH PENAMBAHAN ADITIF PADA PREMIUM DENGAN VARIASI KONSENTRASI TERHADAP UNJUK KERJA ENGINE PUTARAN VARIABEL KARISMA 125 CC

BAB IV HASIL DAN ANALISA. 4.1 Perhitungan konsumsi bahan bakar dengan bensin murni

ANALISA PERFORMA SEPEDA MOTOR 4 LANGKAH 1 SILINDER FUEL INJECTION 125 CC TERHADAP VARIASI CAMPURAN PERTAMAX-ETANOL (E10-E30) SKRIPSI

Ahmad Nur Rokman 1, Romy 2 Laboratorium Konversi Energi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Riau 1

Spesifikasi Bahan dan alat :

Seminar Nasional (PNES II), Semarang, 12 Nopember 2014

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA

Uji Eksperimental Pertamina DEX dan Pertamina DEX + Zat Aditif pada Engine Diesel Putaran Konstan KAMA KM178FS

Pengaruh Penggunaan Bahan Bakar Premium, Pertamax, Pertamax Plus Dan Spiritus Terhadap Unjuk Kerja Engine Genset 4 Langkah

ANALISA KINERJA MESIN OTTO BERBAHAN BAKAR PREMIUM DENGAN PENAMBAHAN ADITIF OKSIGENAT DAN ADITIF PASARAN

Andik Irawan, Karakteristik Unjuk Kerja Motor Bensin 4 Langkah Dengan Variasi Volume Silinder Dan Perbandingan Kompresi

KATA PENGANTAR. Fakultas Teknik Jurusan Teknik Mesin Universitas Medan Area. Dalam hal ini Tugas Sarjana yang penulis buat dengan judul ANALISA

BAB III PROSES MODIFIKASI DAN PENGUJIAN. Mulai. Identifikasi Sebelum Modifikasi: Identifikasi Teoritis Kapasitas Engine Yamaha jupiter z.

PENGARUH VARIASI ELEKTROLIT KALIUM HIDROKSIDA (KOH) PADA GENERATOR HHO TERHADAP UNJUK KERJA & EMISI GAS BUANG MESIN SUPRA X PGMFi 125 cc

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH PENGGUNAAN FREKUENSI LISTRIK TERHADAP PERFORMA GENERATOR HHO DAN UNJUK KERJA ENGINE HONDA KHARISMA 125CC

SFC = Dimana : 1 HP = 0,7457 KW mf = Jika : = 20 cc = s = 0,7471 (kg/liter) Masa jenis bahan bakar premium.

Bagaimana perbandingan unjuk kerja motor diesel bahan bakar minyak (solar) dengan dual fuel motor diesel bahan bakar minyak (solar) dan CNG?

STUDI KOMPARASI KINERJA MESIN BERBAHAN BAKAR SOLAR DAN CPO DENGAN PEMANASAN AWAL SKRIPSI

UJI EKSPERIMENTAL PENGARUH PENAMBAHAN BIOETANOL PADA BAHAN BAKAR PERTALITE TERHADAP UNJUK KERJA MOTOR BAKAR BENSIN

Abstract. Keywords: Performance, Internal Combustion Engine, Camshaft

LAMPIRAN A PERHITUNGAN DENGAN MANUAL. data data dari tabel hasil pengujian performansi motor diesel. sgf = 0,845 V s =

PENGARUH KATALITIK KONVERTER KUNINGAN TERHADAP PENURUNAN EMISI HC DAN CO MESIN OTTO MULTI SILINDER. Oleh, Samuel P.

PERBANDINGAN VARIASI DERAJAT PENGAPIAN TERHADAP EFISIENSI TERMAL DAN KONSUMSI BAHAN BAKAR OTTO ENGINE BE50

Pengaruh Variasi Durasi Noken As Terhadap Unjuk Kerja Mesin Honda Kharisma Dengan Menggunakan 2 Busi

PERFORMANSI MESIN SEPEDA MOTOR SATU SILINDER BERBAHAN BAKAR PREMIUM DAN PERTAMAX PLUS DENGAN MODIFIKASI RASIO KOMPRESI

LEMBAR PERSETUJUAN ABSTRAK ABSTRACT KATA PENGANTAR

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Analisis Penggunaan Venturi..., Muhammad Iqbal Ilhamdani, FT UI, Universitas Indonesia

UJI PERFORMANSI MESIN OTTO SATU SILINDER DENGAN BAHAN BAKAR PREMIUM DAN PERTAMAX PLUS

Dosen Pembimbing Dr. Bambang Sudarmanta, ST, MT

BAB IV ANALISA DAN PERHITUNGAN PENINGKATAN PERFORMA MESIN YAMAHA CRYPTON. Panjang langkah (L) : 59 mm = 5,9 cm. Jumlah silinder (z) : 1 buah

PENGARUH PENGGUNAAN CETANE PLUS DIESEL DENGAN BAHAN BAKAR SOLAR TERHADAP PERFORMANSI MOTOR DIESEL

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. t 1000

PERBANDINGAN PERUBAHAN DERAJAT PENGAPIAN TERHADAP EMISI GAS BUANG MOTOR BENSIN BE50

BAB IV PERHITUNGAN. 4.1 Siklus Gabungan (dual combustion Cycle) Pada Turbocharger ini memakai siklus gabungan yang disebut juga

BAB II LANDASAN TEORI

PENGUJIAN STANDARD CAMSHAFT DAN AFTER MARKET CAMSHAFT TERHADAP UNJUK KERJA SEPEDA MOTOR 4 LANGKAH 110 CC

Fahmi Wirawan NRP Dosen Pembimbing Prof. Dr. Ir. H. Djoko Sungkono K, M. Eng. Sc

Analisis emisi gas buang dan daya sepeda motor pada volume silinder diperkecil

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA. 4.1 Pengujian Torsi Mesin Motor Supra-X 125 cc

Performansi Sepeda Motor Empat Langkah Menggunakan Bahan Bakar dengan Angka Oktan Lebih Rendah dari Yang Direkomendasikan

PENGARUH VARIASI SUDUT BUTTERFLY VALVE PADA PIPA GAS BUANG TERHADAP UNJUK KERJA MOTOR BENSIN 4 LANGKAH

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 2, (2014) ISSN:

Jurnal Teknik Mesin UMY

ANALISA VARIASI BENTUK JET NEEDLE KARBURATOR PADA MOTOR4 TAK 125 CC BERBAHAN BAKAR E 100 DENGAN SISTEM REMAPPING PENGAPIAN CDI

UJI EKSPERIMENTAL PERBANDINGAN UNJUK KERJA MOTOR BAKAR BERBAHAN BAKAR PREMIUM DENGAN CAMPURAN ZAT ADITIF-PREMIUM (C1:80, C3:80, C5:80)

BAB IV PERHITUNGAN DAN ANALISA

Edi Sarwono, Toni Dwi Putra, Agus Suyatno (2013), PROTON, Vol. 5 No. 1/Hal

PENGARUH VARIASI PERBANDINGAN BAHAN BAKAR SOLAR-BIODIESEL (MINYAK JELANTAH) TERHADAP UNJUK KERJA PADA MOTOR DIESEL

ANALISIS PERFORMANSI MOTOR BAKAR DIESEL SWD 8FG PLTD AYANGAN TAKENGON ACEH TENGAH

SKRIPSI MOTOR BAKAR. Disusun Oleh: HERMANTO J. SIANTURI NIM:

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

KARAKTERISTIK PERFORMA MOTOR BENSIN PGMFI (PROGAMMED FUEL INJECTION) SILINDER TUNGGAL 110CC DENGAN VARIASI MAPPING PENGAPIAN TERHADAP EMISI GAS BUANG

PENGHEMATAN BAHAN BAKAR SERTA PENINGKATAN KUALITAS EMISI PADA KENDARAAN BERMOTOR MELALUI PEMANFAATAN AIR DAN ELEKTROLIT KOH DENGAN MENGGUNAKAN METODE

BAB IV HASIL DAN ANALISA

DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2016

Gambar 4.1 Grafik percobaan perbandingan Daya dengan Variasi ECU Standar, ECU BRT (Efisiensi), ECU BRT (Performa), ECU BRT (Standar).

PENGARUH JENIS BAHAN BAKAR TERHADAP UNJUK KERJA SEPEDA MOTOR SISTEM INJEKSI DAN KARBURATOR

I.PENDAHULUAN. Kata kunci: Biodiesel minyak jelantah, Start of Injection dan Durasi Injeksi, Injeksi bertingkat

KAJIAN EKSPERIMENTAL TENTANG PENGGUNAAN PORT FUEL INJECTION (PFI) SEBAGAI SISTEM SUPLAI BAHAN BAKAR MOTOR BENSIN DUA-LANGKAH SILINDER TUNGGAL

Pengaruh Suhu dan Tekanan Udara Masuk Terhadap Kinerja Motor Diesel Tipe 4 JA 1

M.Mujib Saifulloh, Bambang Sudarmanta Lab. TPBB Jurusan Teknik Mesin FTI - ITS Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya

I. PENDAHULUAN. Katakunci : Electronic Control Unit, Injection Control, Maximum Best Torque (MBT), Ignition Timing, Bioetanol E100.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Indonesia

PEMBUATAN BIODIESEL DARI MINYAK BIJI KARET DENGAN PENGUJIAN MENGGUNAKAN MESIN DIESEL (ENGINE TEST BED)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL UJI DAN PERHITUNGAN MENGETAHUI KINERJA MESIN MOTOR PADA KENDARAAN GOKART

ANALISA PENGARUH CAMPURAN PREMIUM DENGAN KAPUR BARUS (NAPTHALEN) TERHADAP EMISI GAS BUANG PADA MESIN SUPRA X 125 CC

PENGUJIAN PENGARUH MUTU BAHAN BAKAR BENSIN TERHADAP KEMAMPUAN KERJA MOTOR BENSIN

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

KAJIAN UNJUK KERJA MESIN BENSIN TOYOTA TIPE KE20F DENGAN VARIASI PENAMBAHAN TEKANAN DAN SUHU UDARA MASUK PADA KARBURATOR

Grafik bhp vs rpm BHP. BHP (hp) Putaran Engine (rpm) tanpa hho. HHO (plat) HHO (spiral) Poly. (tanpa hho) Poly. (HHO (plat)) Poly.

BAB III PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN

Unjuk Kerja Motor Bakar Bensin Dengan Turbojet Accelerator

STUDI SIMULASI KONVERSI MOTOR BAKAR OTTO MENGGUNAKAN BAHAN BAKAR CNG DENGAN VARIASI AIR FUEL RATIO DAN IGNITION TIMING

UNJUK KERJA MESIN BENSIN 4 SILINDER TYPE 4G63 SOHC 2000 CC MPI

PENGARUH PENGGUNAAN BAHAN BAKAR SOLAR, BIOSOLAR DAN PERTAMINA DEX TERHADAP PRESTASI MOTOR DIESEL SILINDER TUNGGAL

BAB II DASAR TEORI Motor Bakar Empat Langkah [4].

UJI EKSPERIMENTAL PERBANDINGAN UNJUK KERJA MOTOR OTTO BERBAHAN BAKAR PERTALITE DENGAN CAMPURAN PERTALITE-ZAT ADITIF CAIR

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

I. PENDAHULUAN. Motor bensin dan diesel merupakan sumber utama polusi udara di perkotaan. Gas

Seminar Nasional IENACO 2016 ISSN:

Pengaruh Ignition Timing Mapping Terhadap Unjuk Kerja dan Emisi Engine SINJAI 650 CC Berbahan Bakar Pertalite RON 90

PENGARUH PENGGUNAAN BAHAN BAKAR MINYAK KELAPA SAWIT DENGAN CAMPURAN SOLAR DAN BIOSOLAR TERHADAP PERFORMANSI MESIN DIESEL

KARAKTERISASI PERFORMA MESIN DIESEL DUAL FUEL SOLAR-CNG TIPE LPIG DENGAN PENGATURAN START OF INJECTION DAN DURASI INJEKSI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PENGARUH INJEKSI GAS HIDROGEN TERHADAP KINERJA MESIN BENSIN EMPAT LANGKAH 1 SILINDER

BAB IV PENGOLAHAN DAN PERHITUNGAN DATA

I. PENDAHULUAN. Kata kunci - Bioetanol, Electronic Control Unit, Honda CB150R, rasio kompresi, RON.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar 1. Motor Bensin 4 langkah

PENGARUH PERUBAHAN SAAT PENYALAAN (IGNITION TIMING) TERHADAP PRESTASI MESIN PADA SEPEDA MOTOR 4 LANGKAH DENGAN BAHAN BAKAR LPG

BAB 4 HASIL & ANALISIS

Transkripsi:

BAB IV PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA 4.1 Data Hasil Penelitian Mesin Supra X 125 cc PGM FI yang akan digunakan sebagai alat uji dirancang untuk penggunaan bahan bakar bensin. Mesin Ini menggunakan sistem pengapian Full transistorized. Adapun waktu pengapian yang dianalisa yakni pada kondisi 5 o, 7 o dan 9 o Before Top Dead Center (BTDC). Data lengkap hasil pengujian untuk bahan bakar bensin premium, E30, E40 dan E50 dapat dilihat pada lampiran. 4.1.1. Spesifikasi data alat uji Untuk menghitung unjuk kerja diperlukan data-data sebagai berikut : Data Engine: 1. Jumlah silinder : 1 silinder 2. Diameter silinder : 52,4 mm 3. Langkah, s : 57,9 mm 4. Rasio kompresi, r : 9,0 : 1 5. Volume langkah : 124 cc 4.1.2. Data Bahan bakar [9] 1. Bahan bakar bensin premium Lower Heat value, LHV : 10746 kkal/kg Density, ρ (15, 1,013 bar) : 0,74 kg/l Stoich Air/fuel Ratio, A/F : 14,7 2. Bahan bakar E30 Lower Heat value, LHV : 9522,6 kkal/kg Density, ρ (15, 1,013 bar) : 0,79 kg/l

Stoich Air/fuel Ratio, A/F : 12,9 3. Bahan bakar E40 Lower Heat value, LHV : 8839,5 kkal/kg Density, ρ (15, 1,013 bar) : 0,79 kg/l Stoich Air/fuel Ratio, A/F : 12,4 4. Bahan Bakar E50 Lower Heat value, LHV : 8247,8 kkal/kg Density, ρ (15, 1,013 bar) : 0,79 kg/l Stoich Air/fuel Ratio, A/F : 11,8 4.2. Perhitungan data 4.2.1. Brake Horse Power (Bhp) Untuk mengetahui daya efektif digunakan persamaan sebagai berikut : 2. π. n. T Daya (Bhp) = 60.75 [HP]. Dimana: BHP = Brake Horse Power (HP) T n = Torsi Mesin (kgf.m) = Putaran motor [rpm]. Dimana T = BHP.65.75 2π. n misalkan pada putaran 4000 rpm daya yang terbaca 3.8HP maka torsinya adalah : 3.8HP 65 75 Torsi = 2π 4000 [kgf.m]. = 0.74 kgf.m

4.2.2. Fuel Consumption (FC) Untuk mengetahui fuel consumption digunakan persamaan sebagai berikut : FC = Dimana: V f 3600 t 1000 [L/h]. FC V f t = Fuel Consumption (L/h) = Volume konsumsi (ml) = Waktu konsumsi [s]. misalkan pada putaran 4000 rpm untuk volume premium 10 ml waktu yang dibutuhkan 192.7 s maka fuel consumption nya adalah : FC = 10ml 3600 192.7s 1000 [L/h]. = 0.19 L/h 4.2.3. Specific Fuel Consumption (SFC) Untuk mengetahui specific fuel consumption digunakan persamaan sebagai berikut : SFC = FC BHP [L/HP.h]. SFC = Specific Fuel Consumption (L/h) FC = Fuel Consumption (L/h) BHP = Brake Horse Power (HP) misalkan pada putaran 4000 rpm untuk fuel consumption 0.19 L/h dan daya yang dihasilkan 3.8 HP maka specific fuel consumption nya adalah : SFC = 0.19L / h 3.8HP [L/HP.h]. SFC = 0.049 L/HP.h

4.2.4. Effisiensi Thermal (η th ) Untuk menghitung effisiensi thermal (η th ) digunakan persamaan yaitu : BHP η th = x632x100 FC. Q ρ (%) HV f misalkan pada putaran 4000 rpm untuk fuel consumption 0.19 L/h dan daya yang dihasilkan 3.8 HP maka specific fuel consumption nya adalah : Note: Q HV = 8247,8 kkal/kg f = 0.79 kg/l 3.8HP η th = x632x100 0.19L / h.8247,8kkal / kg.0,79kg / L (%) η th = 16.1 % 4.3. Analisa unjuk kerja Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya untuk mengetahui karakteristik pembakaran dari suatu motor pembakaran dalam diperlukan beberapa parameter unjuk kerja, antara lain Daya, Fc, SFC dan Effisiensi thermal. Untuk mempermudah analisa data-data hasil penelitian dimodelkan dalam bentuk grafik 4.3.1. Analisa Daya, SFC, FC dan Effisiensi Thermal terhadap Waktu Pengapian. 4.3.1.1. Premium a. Daya, bhp. Dari hasil pengujian dan perhitungan dapat diketahui besarnya pengaruh waktu pengapian terhadap parameter-parameter unjuk kerja yang optimal dari bahan bakar premium.

Premium Daya (HP) 9.0 8.0 7.0 6.0 5.0 4.0 3.0 2.0 1.0 0.0 s Gambar 4.1 Daya mesin pada variasi waktu pengapian terhadap kecepatan putar dengan bahan bakar bensin premium. Grafik di atas menunjukkan bahwa dengan memajukan waktu pengapian maka daya yang dihasilkan akan semakin turun dan pada saat waktu pengapian dimundurkan maka semakin turun pada rpm 4000 sampai 6000 dan daya mulai naik pada rpm 6000 sampai rpm 7000. Daya maksimum dicapai saat waktu pengapian 5 BTDC pada rpm 7000 dan minimum ketika waktu pengapian 9 BTDC pada rpm 4000. b. Fuel Consumption (FC) Kecenderungan data konsumsi bahan bakar ditunjukkan pada gambar 4.2.

Premium FC (L/h) 1.20 1.00 0.80 0.60 0.40 0.20 0.00 Gambar 4.2 FC pada variasi waktu pengapian terhadap putaran dengan bahan bakar bensin premium. Hasil pengujian menunjukkan pada konsumsi bahan bakar terjadi peningkatan yang cukup besar dari RPM 6000 dan RPM 7000 ini dikarenakan sistem yang mengatur penyemprotan pada ruang bakar yang dibuat kaya. c. Spesific Fuel Consumption (SFC) Dari hasil perhitungan specific fuel consumption berbanding dengan daya yang dihasilkan maka dapat dilihat pada bahan bakar premium mengalami penurunan konsumsi bahan bakar,sebanyak 20% terutama pada waktu pengapian 9D BTDC pada 7000 RPM. Hal ini dikarenakan perbandingan antara kenaikan spesific fuel consumption tidak sebanding dengan daya yang dihasilkan.

Premium SFC (L/Hp.h) 0.160 0.140 0.120 0.100 0.080 0.060 0.040 0.020 0.000 Gambar 4.3 SFC pada variasi waktu pengapian terhadap putaran dengan bahan bakar bensin premium. d. Efisiensi Thermal, η t Effisiensi thermal merupakan ukuran besarnya pemanfaatan energi yang terkandung di dalam bahan bakar untuk dirubah menjadi daya efektif. Tingginya nilai effisiensi thermal dihasilkan oleh pembakaran di dalam ruang bakar yang semakin sempurna. Hasil percobaan dengan bahan bakar bensin untuk semua waktu pengapian ditunjukkan pada gambar 4.4. sebagai berikut:

Premium 25.0 Eff thermal (%) 20.0 15.0 10.0 5.0 0.0 Gambar 4.8 Effisiensi thermal pada variasi waktu pengapian terhadap putaran dengan bahan bakar premium. Terlihat secara umum bahwa dengan bahan bakar bensin effisiensi thermal maksimum didapat pada waktu pengapian 9 BTDC dan minimum pada 5 BTDC. Artinya pada waktu pengapian 9 BTDC bahan bakar yang dikonsumsikan ke ruang bakar efektif digunakan untuk mengbangkitkan tenaga (menghasilkan daya). Dengan waktu pengapian yang mendekati TDC berarti mengurangi jumlah gas yang terbakar selama langkah kompresi sehingga heat loss rendah. 4.3.1.2. Campuran 30% Ethanol (E30) a. Daya, Bhp Pengaruh variasi waktu pengapian terhadap daya untuk bahan bakar E30 ditunjukkan oleh grafik hubungan antara daya dengan putaran pada pada gambar 4.5 berikut ini:

Ethanol 30% Daya (HP) 10.0 8.0 6.0 4.0 2.0 0.0 Gambar 4.5 Daya mesin pada variasi waktu pengapian terhadap kecepatan putar dengan campuran bahan bakar premium-ethanol 30%, dibandingkan Bensin premium. Kenaikan daya optimal pada bahan bakar E30 dicapai pada waktu pengapian 9 BTDC. Dengan rata-rata kenaikan 0,99% dibandingkan bensin premium. Ini disebabkan pada pengapian 9 BTDC merupakan waktu pembakaran yang tepat sehingga dayanya lebih meningkat meskipun nilai kalor E30 lebih rendah daripada premium. Untuk pengapian 5 BTDC E30 terjadi penyimpangan. Dayanya semakin meningkat dan mencapai puncak pada 7000 rpm. Ini disebabkan oleh pengaruh bahan bakar bensin yang lebih banyak konsentrasinya didalam campuran ketika masuk ruang bakar

b. Fuel Consumption (FC) Kecenderungan data konsumsi bahan bakar ditunjukkan pada gambar 4.6 Ethanol 30% 0.80 FC (L /h) 0.60 0.40 0.20 0.00 Gambar 4.6 FC pada variasi waktu pengapian terhadap putaran dengan campuran bahan bakar premium ethanol 30%.. Dari hasil pengujian campuran bahan bakar premium ethanol 30 % menunjukkan pada konsumsi bahan bakar terjadi peningkatan yang cukup besar pada waktu pengapian 5 BTDC dan terendahnya pada 9 BTDC. Rata-rata kenaikan pada setiap waktu pengapian 0,02 %. Sedangkan jika dibandingkan dengan bensin maka campuran 40% ethanol dengan waktu pengapian 5 BTDC memiliki Fuel Consumption yang lebih rendah (0,39 L/h).

c. Spesific Fuel Consumption (SFC) Kecenderungan perubahan konsumsi bahan bakar spesifik terhadap kecepatan putar mesin padacampuran bahan bakar premium-ethanol 30% ditunjukkan pada gambar 4.7. Ethanol 30% 0.120 0.100 S F C (L/H p.h ) 0.080 0.060 0.040 0.020 0.000 Gambar 4.7 SFC pada variasi waktu pengapian terhadap putaran dengan campuran bahan bakar premium- ethanol 30%. Hasil pengujian menunjukkan peningkatan yang cukup besar pada rpm 5500 sampai rpm 6500. Pada waktu pengapian 5 BTDC SFC meningkat sekitar 0,003L/Hp.h dari pengapian 7 BTDC. Sedangkan pada waktu pengapian 9 BTDC SFC menurun sekitar 0,002L/HP.h.dengan waktu pengapian 7 BTDC. Bila dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar premium pada waktu pengapian 5 BTDC menurun sekitar 0,056 L/Hp.h.

d. Efisiensi Thermal, η t Effisiensi thermal hasil pengujian dengan campuran bahan bakar premium-ethanol 30% untuk semua waktu pengapian ditunjukkan pada gambar 4.8 30.0 Ethanol 30% Eff thermal (%) 25.0 20.0 15.0 10.0 5.0 0.0 Gambar 4.8 Effisiensi thermal pada variasi waktu pengapian terhadap putaran dengan campuran bahan bakar premium ethanol 30%. Effisiensi thermal maksimum dicapai dimana daya yang dihasilkan maksimum, yaitu 9 BTDC dan minimum pada 5 BTDC. Pada waktu pengapian 9 BTDC harga effisiensi maksimum adalah 22,9% pada putaran 5000 rpm sedangkan minimum pada waktu pengapian 5 BTDC adalah 17,1% pada putaran 5000 rpm atau terjadi penurunan sebesar 5,8%. Sedangkan jika dibandingkan dengan bensin maka campuran 30% ethanol dengan waktu pengapian 9 BTDC (kondisi optimal) memiliki effisiensi thermal yang lebih tinggi (2,71%) padahal daya yang dihasilkan lebih rendah. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan energi dengan bahan bakar E30 yang lebih rendah daripada bensin.

4.3.1.3.Campuran 40% Ethanol (E40) a. Daya Pengaruh variasi waktu pengapian terhadap daya untuk percobaan pada campuran bahan bakar premium-ethanol 40% ditunjukkan dengan grafik pada gambar 4.9. 10.0 8.0 Ethanol 40% D aya (H P) 6.0 4.0 2.0 0.0 Gambar 4.9 Daya mesin pada variasi waktu pengapian terhadap putaran dengan campuran bahan bakar premium-ethanol 40%. Dari grafik di atas diketahui bahwa daya maksimum dicapai dengan waktu pengapian 9 BTDC sebesar 8 hp dan minimum pada 5 BTDC sebesar 7,8 hp pada putaran 7000 rpm. Hal ini terjadi karena pada waktu pengapian 9 BTDC awal penyalaan yang tepat. Piston pada langkah ekspansi terbentuk tekanan yang tinggi sehingga tenaga yang dihasilkan maksimal. Sedangkan perbandingan terhadap daya pengujian dengan bahan bakar bensin pada waktu pengapian 9 BTDC menunjukkan tidak terjadi penurunan dan kenaikan..

b. Fuel Consumption (FC) Effisiensi thermal hasil pengujian dengan campuran bahan bakar premium-ethanol 40% untuk semua waktu pengapian ditunjukkan pada gambar 4.10. Ethanol 40% FC (L/h) 0.80 0.70 0.60 0.50 0.40 0.30 0.20 0.10 0.00 Gambar 4.10 FC pada variasi waktu pengapian terhadap putaran campuran bahan bakar premium-ethanol 40%. Hasil pengujian menunjukan campuran bahan bakar premium ethanol 40% pada konsumsi bahan bakar terjadi peningkatan yang cukup besar pada waktu pengapian 5 BTDC dan terendahnya pada 9 BTDC. Rata-rata kenaikan pada setiap waktu pengapian 3,75 %. Jika dibandingkan dengan bensin maka campuran 40% ethanol dengan waktu pengapian 5 BTDC memiliki konsumsi bahan bakar yang lebih rendah (37%).

c. Spesific Fuel Consumption (SFC) Kecenderungan perubahan konsumsi bahan bakar spesifik terhadap kecepatan putar mesin pada campuran bahan bakar premium-ethanol 40% ditunjukkan pada gambar 4.11. Ethanol 40% 0.100 SFC (L/Hp.h) 0.080 0.060 0.040 0.020 0.000 Gambar 4.11 SFC pada variasi waktu pengapian terhadap putaran dengan campuran bahan bakar premium-ethanol 40%. Hasil pengujian menunjukkan peningkatan yang cukup besar pada rpm 5500 sampai rpm 6500. Pada waktu pengapian 5 BTDC SFC meningkat sekitar 4,2% dari pengapian 7 BTDC. Sedangkan pada waktu pengapian 9 BTDC SFC menurun sekitar 6,3%.dengan waktu pengapian 7 BTDC. Bila dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar premium pada waktu pengapian 5 BTDC menurun sekitar 37,5%. d. Efisiensi Thermal, η t Effisiensi thermal hasil pengujian dengan campuran bahan bakar premium-ethanol 30% untuk semua waktu pengapian ditunjukkan pada gambar 4.12

Ethanol 40% Eff thermal (%) 30.0 25.0 20.0 15.0 10.0 5.0 0.0 Gambar 4.12 Effisiensi thermal pada variasi waktu pengapian terhadap putaran dengan campuran bahan bakar premium-ethanol 40%. Effisiensi thermal maksimum dicapai dimana daya yang dihasilkan maksimum, yaitu 9 BTDC dan minimum pada 5 BTDC. Pada waktu pengapian 9 BTDC harga effisiensi maksimum adalah 2,9% pada putaran 5000 rpm sedangkan minimum pada waktu pengapian 5D BTDC adalah 17,1% pada putaran 5000 rpm atau terjadi penurunan sebesar 5,8%. Sedangkan jika dibandingkan dengan bensin maka campuran 30% ethanol dengan waktu pengapian 9 BTDC (kondisi optimal) memiliki effisiensi thermal yang lebih tinggi (2,71%) padahal daya yang dihasilkan lebih rendah. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan energi dengan campuran bahan bakar premium-ethanol 30% yang lebih rendah daripada bensin. 4.3.1.4. Campuran 50% Ethanol (E50) a. Daya Pengaruh variasi waktu pengapian terhadap daya untuk percobaan pada campuran bahan bakar premium-ethanol 50% ditunjukkan dengan grafik pada gambar 4.13.

Ethanol 50% Daya (HP) 10.0 8.0 6.0 4.0 2.0 0.0 Gambar 4.13 Daya mesin pada variasi waktu pengapian terhadap putaran dengan campuran bahan baker premium-ethanol 50%. Dari grafik di atas diketahui bahwa daya maksimum dicapai dengan waktu pengapian 7 BTDC sebesar 7.9 hp dan minimum pada 9 BTDC sebesar 7,7 hp pada putaran 7000 rpm. Untuk kenaikan daya pada E50 dan premium cenderung sama yaitu 7.9 HP b. Fuel Consumption (FC) Fuel consumption hasil pengujian dengan campuran bahan bakar premium-ethanol 50% untuk semua waktu pengapian ditunjukkan pada gambar 4.14.

Ethanol 50% FC (L/h) 0.70 0.60 0.50 0.40 0.30 0.20 0.10 0.00 Gambar 4.14 FC pada variasi waktu pengapian terhadap putaran campuran bahan bakar premium-ethanol 50%. Hasil pengujian menunjukan campuran bahan bakar premium ethanol 50 % pada konsumsi bahan bakar terjadi peningkatan yang cukup besar pada waktu pengapian 5 BTDC dan terendahnya pada 9 BTDC. Rata-rat kenaikan pada setiap waktu pengapian 6.1 %.

c. Spesific Fuel Consumption (SFC) Kecenderungan perubahan konsumsi bahan bakar spesifik terhadap kecepatan putar mesin pada bahan bakar E50 ditunjukkan pada gambar 4.15. Gambar 4.15 SFC pada variasi waktu pengapian terhadap putaran bahan bakar bensin E50. Hasil pengujian menunjukkan peningkatan yang cukup besar pada rpm 6000. Pada waktu pengapian 5 BTDC SFC meningkat sekitar 3.2% dari pengapian 7D BTDC. Sedangkan pada waktu pengapian 9 BTDC SFC menurun sekitar 1.1%.dengan waktu pengapian 7 BTDC. Bila dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar premium pada waktu pengapian 5 BTDC menurun sekitar 38% d. Efisiensi Thermal, η t Effisiensi thermal hasil pengujian dengan bahan bakar E50 untuk semua waktu pengapian ditunjukkan pada gambar 4.16

Gambar 4.16 Effisiensi thermal pada variasi waktu pengapian terhadap putaran dengan campuran bahan bakar premium-ethanol 50%. Effisiensi thermal maksimum dicapai dimana daya yang dihasilkan maksimum pada 5000 RPM, yaitu 9 BTDC dan minimum pada 5 BTDC yaitu 5.1%. Sedangkan jika dibandingkan dengan bensin maka campuran 50% ethanol dengan waktu pengapian 9 BTDC (kondisi optimal) memiliki effisiensi thermal yang lebih tinggi (20%). 4.4 Emisi Gas Buang 4.4.1. Konsentrasi emisi karbon monoksida, CO 4.4.1.1. CO pada pengapian 5 Rangkuman kecenderungan perubahan konsentrasi emisi CO terhadap putaran mesin pada bahan bakar E30, E40 dan E50 dibandingkan bahan bakar bensin premium masing-masing disajikan pada gambar 4.17

Waktu Pengapian 5 Derajat CO (%) 1.6 1.4 1.2 1 0.8 0.6 0.4 0.2 0 0% E30 E40 E50 Gambar 4.17 Konsentrasi CO pada variai bahan bakar Bensin-Ethanol terhadap kecepatan putar di 5 Hasil pengujian menunjukkan bahwa kecenderungan nilai HC naik sebanding dengan putarannya dan maksimal di E30 pada 7000 RPM yaitu 77% sedangkan pada 40 dan E50 naik hanya 39% dan 59%. 4.4.1.2. CO pada pengapian 7 Rangkuman kecenderungan perubahan konsentrasi emisi CO terhadap putaran mesin pada bahan bakar E30, E40 dan E50 dibandingkan bahan bakar bensin premium masing-masing disajikan pada gambar 4.18

Waktu Pengapian 7 Derajat CO (%) 4 3.5 3 2.5 2 1.5 1 0.5 0 0% E30 E40 E50 Gambar 4.18 Konsentrasi CO pada variai bahan bakar Bensin Ethanol terhadap kecepatan putar di 7 Hasil pengujian menunjukkan bahwa kecenderungan nilai HC naik sebanding dengan putarannya dan maksimal di E30 pada 7000 RPM yaitu 79% sedangkan pada 40 dan E50 turun sampai 8% dan 32%. 4.4.1.2. CO pada pengapian 9 Rangkuman kecenderungan perubahan konsentrasi emisi CO terhadap putaran mesin pada bahan bakar E30, E40 dan E50 dibandingkan bahan bakar bensin premium masing-masing disajikan pada gambar 4.19

Waktu Pengapian 9 Derajat 0.5 CO (%) 0.4 0.3 0.2 0.1 0% E30 E40 E50 0 Gambar 4.19 Konsentrasi CO pada variai bahan bakar Bensin Ethanol terhadap kecepatan putar di 9 Hasil pengujian menunjukkan bahwa kecenderungan nilai HC naik sebanding dengan putarannya dan maksimal di E50 pada 6500 RPM yaitu 27% sedangkan pada 300 naik 28% dan E50 turun 5%. 4.4.2. Konsentasi Emisi Hidrokarbon, HC 4.4.2.1. HC pada pengapian 5 Kecenderungan perubahan konsentrasi emisi HC terhadap kecepatan putar pada bahan bakar premium, E30, E40 dan E50 ditunjukkan pada gambar 4.20.

Waktu Pengapian 5 Derajat HC (ppm) 500 400 300 200 100 0 Premium E30 E40 E50 4000 4500 5000 5500 6000 6500 7000 Gambar 4.20 Konsentrasi HC pada Bensin Ethanol terhadap kecepatan putar di 5 Hasil pengujian menunjukkan bahwa kecenderungan nilai HC turun pada E30 di 4500 rpm yaitu 15% dan kemudian naik lagi pada 5500 RPM yaitu 2% dan ini terlihat juga pada campuran ethanol lainnya. Tetapi untuk premium murni nilai HC cenderung turun sampai 50% di 7000 RPM. 4.4.2.2. HC pada pengapian 7 Kecenderungan perubahan konsentrasi emisi HC terhadap kecepatan putar pada bahan bakar premium, E30, E40 dan E50 ditunjukkan pada gambar 4.21. Waktu Pengapian 7 Derajat 300 HC (ppm) 250 200 150 100 50 Premium E30 E40 E50 0 Gambar 4.21 Konsentrasi HC pada Bensin Ethanol terhadap kecepatan putar di 7

Hasil pengujian menunjukkan bahwa kecenderungan nilai HC turun pada E40 di 7000 rpm yaitu 44% dan ini terlihat juga pada premium dan campuran ethanol lainnya. 4.4.2.3. HC pada pengapian 9 Kecenderungan perubahan konsentrasi emisi HC terhadap kecepatan putar pada bahan bakar premium, E30, E40 dan E50 ditunjukkan pada gambar 4.22. Waktu Pengapian 9 Derajat 300 HC (ppm) 250 200 150 100 50 0 244 164 138 109 110 115 103 Premium E30 E40 E50 Gambar 4.22 Konsentrasi HC pada Bensin Ethanol terhadap kecepatan putar di 9. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kecenderungan nilai HC turun pada E50 di 7000 rpm yaitu 15% dan ini terlihat juga pada premium dan campuran ethanol lainnya.