BAB II LANDASAN TEORITIS A. Konsep Teoritis Laporan Keuangan Tujuan akhir dari proses akuntansi adalah menghasilkan informasi akuntansi dari suatu perusahaan kepada pihak-pihak yang berkepentingan, wujudnya berupa laporan keuangan. Dalam suatu proses akuntansi tersebut dilakukan identifikasi berbagai transaksi atau kejadian yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi suatu perusahaan. Transaksi suatu perusahaan agar dapat menjadi laporan keuangan harus diproses dengan beberapa tahap antara lain yaitu pencatatan, penggolongan, peringkasan, pelaporan, dan penganalisisan data keuangan. Dari tahap tersebut akan tersaji laporan keuangan yang relevan dan andal. 1. Pengertian Laporan Keuangan Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia dalam Standar Akuntansi Keuangan (2007 : 07), definisi dari laporan keuangan adalah : Laporan Keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan rugi-laba, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara seperti sebagai laporan arus kas, atau laporan arus dana), catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan. Dalam pengertian yang sederhana, laporan keuangan adalah laporan yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam suatu periode tertentu. Yang termasuk dalam unsur seperangkat laporan keuangan untuk tujuan umum 7
8 (set of general purpose financial statement) tersebut adalah laporan laporan yang akan menunjukkan : 1. Posisi keuangan pada akhir periode tertentu 2. Keuntungan atau laba bersih selama periode tertentu 3. Laba komprehensif (perubahan total dalam modal yang tidak berasal dari pemilik) 4. Aliran kas selama periode tertentu 5. Investasi oleh pemilik dan distribusi kepada pemilik selama periode tertentu Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari atas komponen komponen sebagai berikut : a. Neraca (balance sheet) b. Laporan laba rugi (income statement) c. Laporan perubahan ekuitas (capital statement) d. Laporan arus kas (cash flow statement) e. Catatan atas laporan keuangan. Neraca sering disebut juga laporan posisi keuangan, menurut Drs. Jumingan (2005 : 13) neraca adalah : suatu laporan yang sistematis tentang aktiva (asset), utang (liabilities), dan modal sendiri (owner equity) dari suatu perusahaan pada tanggal tertentu, biasanya pada saat buku ditutup yakni pada akhir bulan, akhir triwulan, dan akhir tahun. Neraca merupakan laporan yang menunjukkan jumlah aktiva (harta), kewajiban (utang), modal perusahaan (ekuitas). Aktiva adalah sumber sumber ekonomi yang dimiliki perusahaan yang biasa dinyatakan dalam satuan uang. Kewajiban adalah utang yang harus dibayar oleh perusahaan dengan uang atau jasa pada suatu saat tertentu di masa yang akan
9 datang. Dan modal atau ekuitas merupakan hak atas sisa aktiva setelah dikurangi kewajiban kepada para kreditur. Laporan laba rugi menunjukkan kondisi usaha dalam usaha dalam suatu periode tertentu. Laporan laba rugi perusahaan minimal disajikan dengan pos pos antara lain : pendapatan, laba rugi usaha, beban pinjaman, beban pajak, laba atau rugi dari aktivitas normal perusahaan, pos luar biasa, hak minoritas, laba atau rugi untuk periode berjalan. Laporan perubahan ekuitas menggambarkan jumlah modal yang dimiliki perusahaan pada saat ini. Laporan tersebut dipersiapkan setelah laporan laba rugi, karena laba bersih atau rugi bersih periode berjalan harus dilaporkan dalam laporan ini. Demikian juga, laporan ekuitas pemilik dibuat sebelum mempersiapkan neraca, karena jumlah ekuitas pemilik pada akhir periode harus dilaporkan di neraca. Oleh karena itu, laporan ekuitas pemilik seringkali dipandang sebagai penghubung antara laporan laba rugi dengan neraca. Laporan arus kas disajikan bertujuan untuk melaporkan arus kas selama periode tertentu dan diklasifikasikan menurut aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan. Laporan arus kas terdiri dari atas kas masuk (cash in) dan kas keluar (cash out). Kas masuk terdiri dari uang yang masuk ke perusahaan, seperti hasil penjualan atau penerimaan lainnya, sedangkan kas keluar merupakan sejumlah jumlah pengeluaran dan jenis jenis pengeluarannya seperti pembayaran biaya operasional perusahaan. Menurut Ikatan Akuntan Indonesia dalam Standar Akuntansi Keuangan (2007 : 66) menyebutkan catatan atas laporan keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian
10 jumlah yang tertera dalam neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, dan laporan perubahan ekuitas serta informasi tambahan seperti kewajiban kontijensi dan komitmen. 2. Tujuan Laporan Keuangan Menurut Standar Akuntansi Keuangan yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan. Laporan keuangan disusun sebagai salah satu pertanggungjawaban pihak manajemen untuk memberikan informasi yang bermanfaat kepada investor dan kreditor dalam meramalkan, membandingkan, dan mengevaluasi kekuatan keuangan perusahaan guna mengmbil keputusan mencapai sasaran utama perusahaan dalam menciptakan kelangsungan hidup perusahaan. 3. Pemakai Laporan Keuangan Laporan keuangan yang disajikan lengkap sangat berguna bagi pihak-pihak yang berhubungan langsung dan memiliki suatu kepentingan dengan perusahaan yang digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Adapun pihak pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan, yaitu : a. Investor Untuk menilai prospek usaha tersebut kedepan, apakah mampu memberikan deviden dan nilai saham seperti yang diinginkan.
11 b. Pemilik Guna melihat perkembangan dan kemajuan perusahaan serta deviden yang diperolehnya. c. Manajemen Untuk menilai kinerjanya selama periode tertentu saja. d. Kreditor Untuk menilai suatu kelayakan perusahaan dalam memperoleh pinjaman dan kemampuan dalam membayar pinjaman. e. Pemerintah Mereka juga membutuhkan informasi untuk mengatur aktivitas perusahaan, menetapkan kebijakan pajak, dan sebagai dasar untuk menyusun statistik pendapatan nasional dan statistik lainnya. B. Market Value Added (MVA) 1. Definisi Market Value Added (MVA) Market Value Added (MVA) merupakan suatu metode yang mengukur kemampuan perusahaan untuk menciptakan kekayaan atau nilai tambah bagi para investornya. Dengan kata lain MVA menunjukkan selisih antara apa yang penyandang dana tanamkan dengan apa yang dapat mereka peroleh. Menurut steward (dalam Rahayu, 2007:32), Market Value Added (MVA) adalah suatu pengukur kinerja yang tepat untuk menilai sukses atau tidaknya perusahaan dalam menciptakan kekayaan bagi pemiliknya.
12 Sedangkan menurut S. David Young (2001:26; dalam Dwi Martiningrum 2007:38) mendefinisikan MVA sebagai berikut: MVA adalah perbedaan antara nilai pasar perusahaan (termasuk ekuitas dan utang) dan modal keseluruhan yang diinvestasikan dalam perusahaan. Tujuan utama semua perusahaan adalah memaksimalkan kesejahteraan (kekayaan) pemilik. Tujuan ini secara jelas menguntungkan pemegang saham dan semua itu mengharuskan pengalokasian sumber daya secara efisien. Menurut Brigham dan Houston (2006:68) menyatakan bahwa Kesejahteraan (kekayaan) pemegang saham akan dimaksimalkan dengan meminimalkan perbedaan antara nilai pasar dari saham perusahaan dengan jumlah modal ekuitas yang telah diberikan oleh pemegang saham. Perbedaan ini disebut Market Value Added (MVA). Jadi kekayaan atau kesejahteraan pemilik perusahaan (pemegang saham) akan bertambah bila Market Value Added (MVA) bertambah. Indikator yang digunakan untuk mengukur Market Value Added (MVA) menurut Young da O Byrne (2001:31), yaitu : 1. Jika Market Value Added (MVA) > 0 bernilai positif, berarti perusahaan berhasil meningkatkan nilai modal yang diinvestasikan oleh penyandang dana. 2. Jika Market Value Added (MVA) < 0 bernilai negatif, berarti perusahaan tidak berhasil meningkatkan nilai modal yang diinvestasikan oleh penyandang dana. Market Value Added digunakan lebih kepada tujuan utama manajemen keuangan yaitu memaksimalkan kesejahteraan (kekayaan) para investor. Hal tersebut selaras dengan pendapat Fisher (1995; dalam Juniah, 2007:30) yang menyatakan bahwa MVA lebih didesain untuk menjawab pertanyaan mendasar dari para penanam modal, yaitu
13 Apakah manajemen telah melakukan penambahan atau pengurangan terhadap nilai dari modal yang telah diberikan para pemberi pinjaman maupun para pemegang saham?. MVA yang negatif menunjukkan bahwa perusahaan tersebut berkapasitas sebagai penurun dari kesejahteraan pemegang saham bukan pencipta kesejahteraan. Hal ini selaras dengan pendapat yang dikemukakan oleh Rashiwala (2006:1; dalam Juniah, 2007:30) bahwa MVA yang positif menunjukkan perusahaan telah melakukan pertumbuhan nilai atas modal yang dipercayakan dalam perusahaan tersebut sehingga terjadi penciptaan kesejahteraan pemegang saham, sementara MVA yang negatif mencerminkan penurunan terhadap tingkat kesejahteraan investor. Hal ini selaras dengan sistem pemberian peringkat yang digunakan Fisher (1995; dalam Juniah, 2007:30) dalam majalah Fortune terhadap perusahaan kaitannya dengan penciptaan kesejahteraan pemegang saham perusahaan berdasarkan perbandingan tingkat MVA. 2. Keunggulan dan Kelemahan Market Value Added (MVA) Kelebihan Market Value Added (MVA) menurut Zaky dan Ary (2005:129), MVA merupakan ukuran tunggal dan dapat berdiri sendiri yang tidak membutuhkan analisis trend maupun norma industry sehingga bagi pihak manajemen dan penyedia dana akan lebih mudah dalam menilai kinerja perusahaan. Sedangakan kelemahan MVA adalah, MVA hanya dapat diaplikasikan pada perusahaan yang sudah go public saja. 3. Menghitung Nilai Market Value Added (MVA) Market Value Added (MVA) merupakan selisih antara nilai pasar saham dengan modal sendiri yang disetor oleh pemegang saham. Nilai pasar adalah perkalian jumlah saham
14 beredar dengan harga saham. Harga saham didapat dari harga saham rata rata. Menurut Meita Rosi (2004), dapat dijelaskan rumus MVA sebagai berikut : MVA = Market Value of Equity Invested Capital = (closing price x Σ saham yang beredar) ((EPS/ROE) x Σ saham yang beredar). = (closing price (EPS/ROE)) x Σ saham yang beredar Dimana: Market Value of Equity = Number of share (Jumlah saham yang beredar) x Closing Price (Harga saham individual). Invested Capital = Total nilai modal yang diinvestasikan di dalam perusahaan. C. Pengertian Saham, Indeks Harga Saham dan Harga Saham 1. Saham adalah: Menurut Darmadji dan Fakhruddin (2006:5) yang dimaksud dengan saham Sebagai tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseorangan terbatas. Wujud saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut. Porsi kepemilikan ditentukan oleh seberapa besar penyertaan yang ditanamkan di perusahaan tersebut. Menurut Sunariyah (2006: 126-127) yang dimaksud dengan saham adalah: Surat berharga yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT) atau yang biasa disebut emitmen. Saham menyatakan bahwa pemilik saham tersebut adalah juga pemilik sebagian dari perusahaan tersebut.
15 Menurut Darmadji dan Fakhruddin (2006:6-7) jenis-jenis saham diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Jenis saham dilihat dari segi kemampuan dalam hak tagih atau klaim dibedakan dapat dibedakan menjadi : a. Saham biasa: saham yang menampatkan pemiliknya paling yunior terhadap pembagian dividen, hak atas kekayaan perusahaan apabila perusahaan tersebut dilikuidasi. b. Saham preferen: saham yang memiliki karakteristik gabungan antara obligasi dan saham biasa, karena bisa menghasilkan pendapatan tetap (seperti bunga obligasi), tetapi juga bisa tidak mendatangkan hasil seperti yang dikehendaki investor. Saham preferen dipandang sebagai surat berharga dengan pendapatan tetap. 2. Indeks Harga Saham Keputusan investor untuk memilih suatu saham sebagai obyek investasinya membutuhkan data historis terhadap pergerakan saham yang beredar dibursa. Semua kejadian-kejadian dan fakta historis tersebut, harus disajikan dengan system tertentu agar dapat menghasilkan suatu informasi yang sederhana namun dapat mewakili suatu kondisi tertentu. Fakhrudin (2011:24) adalah sebagai berikut : Indeks harga saham merupakan suatu indikator yang menunjukkan pergerakan harga saham. Indeks harga saham berfungsi sebagai indikator tren pasar, artinya pergerakan indeks yang menggambarkan kondisi pasar pada saat pasar sedang aktif atau lesu. Di pasar modal, sebuah indeks diharapkan memiliki 5 fungsi yaitu :
16 1). Sebagai indikator tren pasar 2). Sebagai indikator tingkat keuntungan 3). Sebagai tolak ukur kinerja suatu portofolio 4). Mefasilitasi pembentukan dengan strategi pasif 5). Memfasilitasi berkembangnya produk derivatif Indeks harga saham tersebut merupakan catatan terhadap perubahan-perubahan maupun pergerakan harga saham sejak mulai pertama kali beredar sampai pada suatu saat tertentu. Indeks harga saham dijadikan ukuran dalam mengukur kesehatan pasar modal yang dapat menggambarkan kondisi efek yang terjadi. Apabila indeks harga saham naik maka dapat dikatakan bahwa keadaan pasar modal sedang baik, bursa sedang maju, dan situasi pasar modal yang seperti ini menunjukkan kondisi perekonomian, sosial, politik yang stabil. a. Jenis-Jenis Indeks Harga Saham Indeks harga saham memiliki variasi bentuk penyajian yang berbeda sesuai dengan tujuan penyajiannya. Beberapa diantaranya antara lain : 1. Indeks harga saham individual Indeks harga saham individual menggambarkan suatu rangkaian informasi historis mengenai pergerakan harga saham, sampai pada tanggal tertentu. Biasanya pergerakan saham tersebut disajikan setiap hari, berdasarkan harga penutupan dibursa pada hari tersebut. Indeks tersebut disajikan untuk periode tertentu, yang dalam hal ini mencerminkan nilai yang berfungsi sebagai pengukuran kinerja suatu saham di bursa efek.
17 2. Indeks harga saham gabungan 3. Harga Saham Indeks harga saham gabungan menggambarkan suatu rangkaian informasi historis mengenai pergerakan saham gabungan, sampai pada tanggal tertentu. Biasanya pergerakan harga saham tersebut disajikan setiap hari, berdasarkan harga penutupan dibursa pada hari tersebut. Indeks tersebut disajikan untuk periode tertentu. Indeks harga saham gabungan menceriminkan suatu nilai yang berfungsi sebagai pengukuran kinerja suatu saham gabungan di bursa efek. Harga saham menurut Anoraga (2006 : 59) adalah sebagai berikut : Harga saham (market price) adalah harga pada pasar riil dan merupakan harga yang paling mudah ditentukan karena merupakan harga dari suatu saham pada pasar yang sedang berlangsung atau jika pasar sudah tutup, maka harga pasar adalah harga penutupan (closing price) dari suatu saham. Suatu harga saham mengalami perubahan naik turun dari satu waktu ke waktu yang lain. Perubahan tersebut tergantung kepada kekuatan permintaan dan penawaran. Apabila suatu saham mengalami kelebihan permintaan, maka harga saham akan cenderung naik. Sebaliknya apabila kelebihan penawaran, maka harga saham cenderung turun. 4. Faktor faktor yang Mempengaruhi Harga Saham Faktor faktor yang mempengaruhi harga saham dapat dibedakan atas faktor internal dan eksternal, yaitu : a. Faktor Internal Menurut Sunariyah (2006 : 86), hal hal penting yang merupakan faktor internal yang menyebabkan fluktuasi harga saham :
18 1). Pendapatan perusahaan 2). Deviden 3). Arus kas perusahaan 4). Perubahan dalam perilaku investasi 5). Perubahan yang mendasar dalam industri atau perusahaan b. Faktor Eksternal Menurut Sunariyah (2006 : 42), hal hal penting yang merupakan faktor eksternal yang menyebabkan fluktuasi harga saham adalah : 1). Tingkat suku bunga 2). Kebijakan moneter dan fiscal 3). Situasi perekonomian 4). Situasi bisnis internasional D. Pasar Modal dan Go Publik 1. Pasar Modal a. Pengertian Pasar Modal Pengertian pasar modal menurut Samsul (2006 : 43) adalah sebagai berikut : Pasar modal adalah tempat atau sarana bertemunya permintaan dan penawaran atas instrumen keuangan jangka panjang, umumnya lebih dari 1 (satu) tahun. Berdasarkan Undang Undang Pasar Modal No. 8 tahun 1995, yaitu : Kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan Efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek.
19 Pasar modal merupakan tempat bagi investor untuk menanamkan investasinya dengan risiko yang ditanggung untuk mendapatkan keuntungan yang diharapkan. Pasar modal juga merupakan tempat bagi perusahaan yang ingin mendapatkan dana segar dari masyarakat untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Tingkat risiko pasar modal relatif rendah dan sebagai kompensasi pasar modal adalah dividen dan capital gain. b. Para Pelaku Pasar Modal 1. Emiten Suatu perusahaan yang akan melakukan penjualan surat surat berharga atau melakukan emisi bursa. 2. Investor Pemodal yang akan membeli atau menanamkan modalnya diperusahaan yang melakukan emisi. Sebelum membeli surat berharga yang ditawarkan, investor biasanya melakukan penelitian dan analisis tertentu. 3. Lembaga Penunjang Lembaga penunjang ini antara lain turut serta mendukung beroperasinya pasar modal, sehingga mempermudah baik untuk emiten maupun investor dalam melakukan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pasar modal. 4. Peminjam Emisi Lembaga yang menjamin terjualnya saham atau obligasi sampai batas waktu tertentu dan dapat memperoleh dana yang diinginkan. 5. Perantara Perdagangan Efek (Broker atau Pialang) Perantara antara si penjual (emiten) dengan si pembeli (investor).
20 6. Perdagangan Efek Berfungsi sebagai pedagang dalam jual beli efek dan sebagai perantara dalam terjadinya jual beli efek. 7. Penanggung (Guarantor) Lembaga penengah antara si pembeli kepercayaan dengan si penerima kepercayaan. Suatu lembaga yang dipercaya oleh investor sebelum menanamkan modalnya. 8. Wali Amanat (Trustee) Suatu jasa wali amanat diperlukan sebagai wali dari si pembeli amanat (investor). 9. Perusahaan Surat Berharga (Securities Company) Mengkhususkan diri dalam perdagangan surat berharga di bursa efek. 10. Perusahaan Pengelola Dana (Investment Company) Mengelola surat surat berharga yang akan menguntungkan sesuai dengan keinginan investor yang terdiri dari 2 unit, yaitu sebagai pengelola dana dan sebagai penyimpan dana. 11. Kantor Administrasi Efek Suatu kantor yang membantu para emiten maupun investor dalam rangka memperlancar administrasinya. 2. Go Public a. Pengertian Go Public Menurut Raplh Estes dalam bukunya Kamus tentang penjelasan akuntansi (2005 : 45) mendefinisikan: Go Public adalah penerbitan surat surat berharga kepada masyarakat.
21 Di negara-negara maju maupun berkembang, salah satu indikator keberhasilan perusahaan adalah apabila perusahaan tersebut dicatat dan diperdagangkan di pasar modal. Dengan kata lain perusahaan tersebut telah Go Public, istilah tersebut tidak asing lagi didengar oleh para pebisnis karena dengan go public suatu perusahaan akan memberikan keuntungan tersendiri. b. Alasan Perusahaan Ingin Go Public Menurut Sunariyah (2006 : 20), ada beberapa alasan mengapa perusahaan ingin go public dan menjual sahamnya kepada masyarakat antara lain : 1. Meningkatkan modal dasar perusahaan 2. Memungkinkan pendiri untuk diversifikasi usaha 3. Mempermudah usaha pembelian perusahaan lain (ekspansi) 4. Memungkinkan masyarakat maupun manajemen mengetahui nilai perusahaan. c. Konsekuensi Go Public 1. Keharusan untuk keterbukaan (full disclosure) 2. Keharusan untuk wajib memberi laporan 3. Perubahan hubungan dari informal ke formal 4. Kewajiban membayar dividen 5. Berusaha meningkatkan pertumbuhan
22 E. Kinerja Perusahaan Kinerja perusahaan adalah kondisi perusahaan secara menyeluruh yang diukur dengan kriteria tertentu sesuai dengan maksud, tujuan, dan penggunaannya. Secara umum, kinerja dapat didefinisikan sebagai prestasi yang dicapai oleh suatu perusahaan selama jangka waktu tertentu, prestasi yang dimaksud adalah efektifitas operasi perusahaan baik dilihat dari segi ekonomi (laporan keuangan) maupun manajemennya. Definisis penilaian kinerja adalah penentuan secara periodik efektivitas operasional suatu organisasi dan karyawannya berdasarkan sasaran, standar, dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya (Slamet S. 2007:410). 1. Tujuan Penilaian Kinerja Perusahaan Tujuan pokok penilaian kinerja perusahaan adalah untuk memotivasi karyawan dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam memenuhi standar perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya agar membuahkan hasil dan tindakan yang diinginkan. 2. Manfaat Penilaian Kinerja Perusahaan Penilaian kinerja perusahaan dapat dimanfaatkan oleh manajemen untuk : a. Mengelola operasi organisasi secara efektif dan efisien melalui pemotivasian karyawan secara optimal. b. Membantu pengambilan keputusan yang bersangkutan dengan karyawan seperti promosi, transfer, dan pemberhentian. c. Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan karyawan serta untuk menyediakan kriteria seleksi dan evaluasi program pelatihan karyawan.
23 d. Menyediakan umpan balik bagi karyawan mengenai bagaimana atasan mereka menilai kinerja mereka. e. Menyediakan suatu dasar bagi distribusi penghargaan. 3. Penelitian Terdahulu Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu NO NAMA PENELITI 1 Widiastuti (2002) JUDUL PENELITIAN VARIABEL HASIL PENELITIAN Pengaruh EVA dan MVA Terhadap Harga Saham pada perusahaan manufaktur di bursa Efek Indonesia periode 1998-2001 Independen: EVA, MVA Dependen : Harga Saham Bahwa variabel EVA tidak berpengaruh terhadap harga saham tapi hanya variabel MVA yang berpengaruh signifikan terhadap harga saham. 2 Meita Rosi ( 2004 ) Analisis Pengaruh Antara market value added (MVA) dan profitabilitas terhadap Independen: EVA, MVA Dependen : Harga saham Bahwa market value added (MVA) terdapat pengaruh parsial terhadap harga saham. harga saham pada Perusahaan sektor LQ 45 di bursa efek Indonesia periode 2007 2008
24 3 Aristya Shakti Kinasih (2012) Analisis kinerja keuangan dengan pendekatan market value added (MVA) Independen: MVA Dependen: Harga Saham Bahwa market value added (MVA) berpengaruh terhadap harga saham. terhadap harga saham pada sub sektor property and real estate yang listing di bursa efek Indonesia Indikator yang menjadi pengukuran kinerja adalah MVA dan Harga Saham. Sampel penelitian terdiri dari perusahaan di mulai dari tahun 2009 2011. Yang dijadikan variable terikat adalah variabel X 1. Metode analisis data yang digunakan adalah dapat di metode deskriptif. Sampel yang dipakai oleh peneliti meliputi periode waktu 3 tahun, dari tahun 2009 hingga 2011. Semua data yang mereka peroleh didapakan dari data di www.idx.co.id yang telah disediakan oleh BEI Jakarta.
25 4. Kerangka Pemikiran Berdasarkan pada telaah hasil penelitian terdahulu dan landasan teoritis di atas, maka dapat dibentuk kerangka pemikiran sebagai berikut : Tabel 2.2 Konsep Kerangka Pemikiran X 1 (MVA) Y (Harga Saham) Informasi akuntansi dalam bentuk laporan keuangan banyak memberikan manfaat kepada pengguna terutama para investor sebagai sebagai bahan pertimbangan dan membuat keputusan investasi. Analisis kinerja keuangan perusahaan antara lain dapat diamati melalui serangkaian analisis terhadap laporan keuangan dengan menggunakan analisis regresi linear berganda. Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. Dalam penelitian akan digunakan beberapa rumus yang akan digunakan untuk perhitungan penelitian ini, yaitu MVA (Market Value Added) dan Harga Saham.