BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dewasa ini, penyebab kematian di dunia telah mengalami pergeseran dari penyakit menular menjadi penyakit tidak menular. Menurut data American Heart Association (AHA) tahun 2013, penyakit tidak menular yang menjadi pembunuh nomor satu di dunia adalah penyakit kardiovaskuler. World Health Organization (WHO) sebagai badan kesehatan dunia memperkirakan sebanyak 29% atau 17.100.000 orang meninggal akibat penyakit kardiovaskular, 7.200.000 kematian disebabkan oleh Penyakit Jantung Koroner (PJK). Pada tahun 2030, diperkirakan 23.600.000 orang akan meninggal akibat penyakit kardiovaskular, terutama karena PJK dan stroke (WHO, 2010). Data AHA menunjukan bahwa kejadian penyakit kardiovaskular pada penduduk dewasa Amerika diestimasikan sebesar 8,36 juta (AHA, 2013). Prevalensi penyakit jantung koroner yang terdiagnosis dokter di Indonesia sebesar 1,5% dan stroke mengalami kenaikan menjadi 12,1% yang pada tahun 2007 hanya sebesar 8,3% (Balitbangkes, 2013). Dislipidemia merupakan faktor risiko terjadinya penyakit kardiovaskuler (Clearfield, 2003). Dislipidemia pada penderita PJK ditandai dengan lipoprotein yang abnormal, tidak terbatas pada meningkatnya kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein), akan tetapi juga terjadi penurunan kolesterol HDL (High Density Lipoprotein), peningkatan angka trigliserida, dan kolesterol total (Carey et al., 2010). Level LDL berkorelasi nyata dengan risiko penyakit jantung koroner. Penurunan LDL secara berkala akan menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat penyakit kardivaskular secara signifikan (Baigent, 2005). Penurunan setiap satu persen kolesterol LDL dapat menurunkan 2% risiko penyakit jantung koroner (Law & Thompson, 1994). Penurunan kolesterol LDL juga menurunkan risiko aterosklerosis. Risiko aterosklerosis dapat ditunjukkan dengan indeks aterogenik (IA) (Sihombing, 2003). 1
2 Peningkatan masalah kardiovaskuler terutama dislipidemia ini diduga berkaitan erat dengan gaya hidup (life style) masyarakat. Pola kehidupan masyarakat Indonesia pada penghujung abad ke 20 sedikit bergeser dari kehidupan masyarakat agraris ke masyarakat industri terutama di kota-kota besar. Hal tersebut bisa dilihat dari meningkatnya taraf hidup masyarakat dan perkembangan informasi mengenai pola dan gaya hidup yang mengakibatkan berbagai perubahan dalam masyarakat (Nainggolan, 2005). Bergesernya pola kehidupan di negara berkembang seperti Indonesia juga akan berdampak terhadap pergeseran pola makan. Perubahan pola konsumsi makanan masyarakat yang semula tinggi karbohidrat, tinggi serat dan rendah lemak menjadi rendah karbohidrat, tinggi lemak dan rendah serat yang merupakan salah satu faktor pemicu atau penyebab terjadinya penyakit jantung dan kardiovaskuler (Nainggolan, 2005). Hal ini akan berdampak terhadap meningkatnya penyakit hiperlipidemia, hiperkolesterolemia, aterosklerosis, penyakit jantung koroner, diabetes mellitus, dan lain-lain (Asj ari et al.,2000). Meningkatnya insidensi penyakit kardiovaskular tersebut terkait perubahan profil lipid yang erat kaitannya dengan konsumsi sumber bahan makanan tinggi asam lemak jenuh (Saturated Fatty Acid) (Hassanien, 2012). Hal tersebut melandasi konsumsi minyak dan lemak menjadi perhatian utama disetiap Diet Guideline negara-negara berkembang. Pengendalian dislipidemia atau kadar lipid darah sampai batas normal perlu untuk mencegah risiko penyakit kardiovaskular dan sebagai bagian pencegahan primer dislipidemia. Pencegahan yang biasa dilakukan adalah diet, olahraga dan penurunan berat badan. Masalah utama dalam penelitian ini adalah pencegahan dislipidemia. Sebagian besar penatalaksanaan dislipidemia bertujuan untuk menurunkan kadar kolesterol, trigliserida, dan LDL serta meningkatkan HDL. Selain mempertimbangkan keefektifan dan keamanan, faktor biaya juga perlu diperhitungkan. Oleh karena itu, diperlukan alternatif baru untuk mencegah kejadian dislipidemia dengan menggunakan bahan pangan alami yang berkhasiat dan bisa dijangkau oleh masyarakat (Hassanien, 2012).
3 Makanan fungsional kini menjadi semakin populer. Makanan fungsional yang bersifat menurunkan kolesterol (The cholesterol lowering-functional foods) dapat menjadi terapi alternatif untuk menurunkan total plasma kolesterol, terutama bagi penderita yang memiliki level kolesterol yang tinggi akan tetapi tidak cukup menjangkau terapi pengobatan (Chen et al., 2011). Salah satu makanan fungsional adalah dari jenis kacang-kacangan. Hasil meta analisis menunjukkan bahwa konsumsi kacang jenis leguminosa (polong-polongan) di negara barat menurunkan kolesterol total dan LDL tanpa efek pada kadar HDL laki-laki usia muda yang mengidap hiperkolesterolemia (Bazzano, 2011). Penelitian lainnya oleh Kris-Etherton (2000), menyatakan bahwa semakin sering seseorang mengkonsumsi kacang-kacangan, maka risiko terkena penyakit jantung koroner akan semakin berkurang. Kandungan asam lemak tidak jenuh yang ada dalam kacang-kacangan, terbukti sangat tinggi dan profil asam lemak dalam kacang-kacangan tersebut merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan risiko penyakit jantung koroner. Makanan fungsional dapat berupa makanan dari bahan pangan tumbuhan atau makanan turunan dari tumbuhan (plant-derived foods). Makanan ini semakin digemari dan total konsumsi bisa mencapai rata-rata 5%-10% dari total konsumsi per tahun (Tham et al., 1998). Salah satu makanan plant-derived foods yang memiliki potensi besar untuk kesehatan adalah kecambah kacang hijau. Kecambah dari kacang hijau sebagai salah satu makanan fungsional memiliki kandungan nutrisi yang seimbang, termasuk protein dan serat makanan, dan mengandung jumlah fitokimia aktif yang signifikan (Kanatt, 2011). Fitokimia tersebut dapat digunakan untuk sumber antioksidan dan regulasi metabolisme lipid. Kandungan alami yang dimiliki oleh kacang hijau sebelum digerminasi sangat rendah, seperti kandungan serealia yang dilaporkan hanya 1-5 mg/g. Kandungan tersebut tidak cukup untuk mendapatkan manfaat fungsional (Seung et al., 2009). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kecambah kacang hijau setelah perkecambahan memiliki aktivitas biologis yang lebih tinggi dan mengalami metabolisme sekunder karena biosintesis enzim yang relevan diaktifkan selama
4 tahap awal perkecambahan. Oleh karena itu, perkecambahan dapat meningkatkan nilai gizi dari kacang hijau (El-Adawy, 2003). Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kecambah kacang hijau memiliki aktivitas antioksidan dalam level menengah dan level tinggi pada aktivitas pengikat ion logam (Shusama, 2009). Kecambah kacang hijau mengandung 44 jenis flavonoid yang dapat dimanfaatkan untuk menurunkan serum kolesterol darah. Kecambah kacang hijau mengandung 12 jenis asam fenol (Tang et al., 2014). Penelitian yang dilakukan Huang et al. (2014) menunjukkan bahwa total fenolik kecambah kacang hijau dengan 1 hari germinasi jauh lebih tinggi dibandingkan kecambah kacang kedelai. Total fenol kecambah kacang hijau sebesar 1,2 mg GAE/g dw dan kecambah kacang kedelai sebesar 0,4 mg GAE/g. Jika dibandingkan keduanya dalam keadaan utuh, kecambah kacang hijau lebih tinggi kandungan total fenoliknya. Berdasarkan studi epidemiologi, konsumsi antioksidan dapat mengurangi risiko terjadinya penyakit jantung koroner. Antioksidan dapat melindungi lipoprotein khususnya LDL dan VLDL dari reaksi oksidasi (Marguerite et al., 2003). Kecambah kacang hijau mengandung vitamin E tinggi. Pada penelitian yang dilakukan oleh Rukmasari (2005) didapatkan hasil bahwa pemberian suplementasi vitamin C dan E dapat menurunkan kadar kolesterol total, LDL, dan trigliserida pada pasien penyakit jantung koroner. Penelitian lainnya mengemukakan bahwa kelinci dengan hiperlipidemia yang diberikan 70% campuran kacang hijau dan bubuk kecambah kacang hijau dalam makanan mempengaruhi kolesteroltotal dan kadar beta lipoprotein dan menghambat tanda-tanda penyakit jantung koroner (Tang etal., 2014). Penelitian selanjutnya menggunakan tikus normal dengan pemberian ekstrak kacang hijau selama 7 hari berdampak pada penurunan kolesterol total secara signifikan (Zhang& Cai, 1995). Hal di atas juga sejalan yang dikemukakan oleh peneliti lainnya bahwa protein yang dikandung oleh kacang hijau memiliki sifat hipolipidemik dengan menggunakan tikus yang diberi diet normal (Tachibana et al., 2013). Hal ini dapat menjadi landasan penggunaan kecambah kacang hijau dalam pencegahan terkait peningkatan kolesterol dalam tubuh. Berdasarkan latar belakang, maka penelitian
5 ini ingin melihat efek pemberian kecambah kacang hijau terhadap profil lipid pada hewan coba yang diberi diet tinggi lemak. B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diperoleh perumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana pengaruh pemberian kecambah kacang hijau terhadap kadar LDL (Low Density Lipoprotein) tikus yang diberi diet tinggi lemak? 2. Bagaimana pengaruh pemberian kecambah kacang hijau terhadap kadar HDL (High Density Lipoprotein) tikus yang diberi diet tinggi lemak? 3. Bagaimana pengaruh pemberian kecambah kacang hijau terhadap kadar trigliserida tikus yang diberi diet tinggi lemak? 4. Bagaimana pengaruh pemberian kecambah kacang hijau terhadap kadar kolesterol totaltikus yang diberi diet tinggi lemak? 5. Bagaimana pengaruh pemberian kecambah kacang hijau terhadap Indeks Aterogenik (IA) tikus yang diberi diet tinggi lemak? 6. Bagaimana pengaruh dosis kecambah terhadap perbaikan profil lipid tikus yang diberi diet tinggi lemak? C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kecambah kacang hijau terhadap profil lipid tikus yang diberi diet tinggi lemak. 2. Tujuan khusus Tujuan khusus dilakukannya penelitian ini adalah: 1. Mengetahui efek pemberian kecambah kacang hijau terhadap kadar LDL (Low Density Lipoprotein) tikus yang diberi diet tinggi lemak. 2. Mengetahui efek pemberian kecambah kacang hijau terhadap kadar HDL (High Density Lipoprotein) tikus yang diberi diet tinggi lemak.
6 3. Mengetahui efek pemberian kecambah kacang hijau terhadap kadar trigliserida tikus yang diberi diet tinggi lemak. 4. Mengetahui efek pemberian kecambah kacang hijau terhadap kadar kolesterol total tikus yang diberi diet tinggi lemak. 5. Mengetahui efek pemberian kecambah kacang hijau terhadap Indeks Aterogenik (IA) tikus yang diberi diet tinggi lemak. 6. Mengetahui dosis kecambah yang efektif terhadap perbaikan profil lipid tikus yang diberi diet tinggi lemak. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis sebagai berikut: 1. Memberikan sumbangan pemikiran terkait pemanfaatan bahan pangan untuk memperbaiki profil lipid sebagai usaha mengatasi kejadian dislipidemia yang berimplikasi pada menurunnya insidensi penyakit jantung koroner. 2. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis sebagai berikut: 1. Hasil penelitian ini dapat menjadi landasan dalam pengembangan produk berbasis pangan fungsional tinggi vitamin E dan antioksidan untuk tujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. 2. Menjadi landasan penelitian selanjutnya untuk pengembangan nutrasetikal berbasis kecambah kacang hijau bagi penderita dislipidemia dengan keadaan tertentu.
7 E. Keaslian Penelitian Penelitian mengenai kecambah kacang hijau telah banyak diteliti, namun demikian terdapat beberapa perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan lebih menekankan pada aspek kuratif sedangkan penelitian yang akan dilakukan fokus pada upaya preventif dengan mempertimbangkan aksesibilitas masyarakat terhadap bahan intervensi yang akan diberikan. Perbedaan dan persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian ini secara singkat dijelaskan pada Tabel 1.
8 Tabel 1. Keaslian penelitian No Nama/Tahun Judul penelitian Metode penelitian Hasil Persamaan penelitian yang akan dilakukan 1 Azham Purwandono (2013) Pengaruh pemberian ekstrak tauge terhadap kadar kolesterol LDL dan perkembangan aterosklerosis pada tikus wistar jantan hiperkolesterol 25 tikus wistar jantan yang terbagi menjadi 5 kelompok. Kelompok intervensi diberi tambahan 50, 100, dan 200 mg/ kg BB/hari ekstrak kecambah kacang hijau selama 6 minggu. Kelompok kontrol dibuat hiperkolestrolemi menggunakan adrenalin intra vena dan diet kuning telur Pemberian ekstrak kacang hijau tidak berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan LDL, tetapi berpengaruh nyata pada ketebalan tunika intima Variabel terikat yang diteliti merupakan salah satu parameter dalam penelitian ini Perbedaan penelitian yang akan dilakukan 1. Tujuan dari penelitian yang menekankan dari aspek kuratif 2. Strain hewan coba yang akan digunakan. 3. Variabel bebas yang digunakan 4. Umur kecambah yang akan digunakan 5. Diet hiperkolesterolemia kelompok intervens 6.
9 2 Tachibana et al. (2013) Intake Of Mungbean Protein Isolate Reduces Plasma Triglyceride Level In Rats 10 tikus jenis wistar berumur 6 minggu diberikan 20% isolat protein kacang hijau pada pakan standar AIN93 selama 4 minggu. Kelompok kontrol diberikan pakan standar dengan kasein. Isolat protein kacang hijau menurunkan plasma trigliserida secara signifikan pada kelompok intervensi. Jenis pakan standar yang diberikan dan variabel terikat yang diteliti merupakan salah satu parameter dalam penelitian ini 1. Tujuan dari penelitian yang menekankan dari aspek kuratif 2. Variabel bebas penelitian 3. Berbeda strain hewan coba yang akan digunakan 3 Citra Maruliyananda (2014) Pengaruh ekstrak etanolik kecambah kacang hijau terhadap jumlah dan morfologi spermatozoa mencit yang terpapar 2 methoxy-etanol 30 mencit dibagi menjadi 5 kelompok, 2 kelompok kontrol dan 3 kelompok intervensi. Kelompok intervensi diberikan methoxyetanol 200 mg/kg selama 5 hari lalu diberikan ekstrak kecambah kacang hijau masing-masing 0,5; 1; 2 gram/kg BB Pemberian ekstrak kecambah kacang hijau 2 gram/kgbb akan meningkatkan jumlah dan morfologi spermatozoa Menggunakan bahan alami yang digunakan untuk menghasilkan ekstrak nutrasetikal 1. Tujuan dari penelitian yang menekankan dari aspek kuratif 2. Variabel bebas pada penelitian yang akan dilakukan 3. Dosis ekstrak kecambah kacang hijau yang akan diberikan
10 4 Arif Hartoyo et al. (2011) Pengaruh ekstrak protein kacang komak (Lablab purpureus (L.) Sweet) pada kadar glukosa dan profil lipid serum tikus diabetes 20 tikus Sprague Dawley jantan yang terbagi menjadi 4 kelompok. Kelompok intervensi diberi tambahan protein kacang komak selama 42 hari. Pemberian kacang komak mampu menurunkan kadar kolesterol total, trigliserida, dan LDL pada tikus percobaan Menggunakan jenis hewan coba dan variabel terikat yang sama 1. Variabel bebasyang digunakan 2. Desain penelitian yang dilakukan