9 BAB II LANDASAN TEORI A. Penelitian Relevan Sebelum melakukan penelitian ini, peneliti terlebih dahulu meninjau penelitian sebelumnya. Peninjauan pada penelitian lain sangat penting dilakukan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui relevansi antara penelitian dari peneliti dengan penelitian sebelumnya. Selain itu, peninjauan bertujuan untuk mengetahui perbedaan dan persamaan antara penelitian yang terdahulu dengan penelitian yang akan dilaksanakan sehingga dapat diketahui apakah penelitian ini sudah pernah dilakukan atau belum. Selain itu, dari segi orisinalitas penelitian juga dapat diketahui. Dari peninjauan tersebut, peneliti dapat melengkapi kekurangan penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya. Penelitian yang relevan dengan penelitian yang dilakukan peneliti adalah sebagai berikut. 1. Penelitian dengan Judul Meningkatkan Kemampuan Bercerita Anak melalui Media Gambar dengan Pendekatan BCCT. (Jurnal, oleh: Siti Nur Istianingsih) Jenis penelitian dengan judul di atas merupakan penelitian tindakan kelas. Penelitian tersebut dilakukan berdasarkan masih rendahnya kemampuan dan tingkat percaya diri anak pada saat berbicara di depan teman-temannya. Setelah menggunakan media gambar dengan pendekatan BCCT, kemampuan berbicara anak-anak pada kelompok bermain (TK) dapat meningkat. Persamaan penelitian yang dilakukan oleh Siti Nur Istianingsih dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah sama-sama bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbicara pada anak. Sedangkan 9
10 perbedaannya terletak pada subjek penelitian. Siti Nur Istianingsih mengambil subjek siswa taman kanak-kanak (TK), sedangkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti subjeknya adalah siswa MTs kelas VII B. Peneliti menggunakan media audio visual dalam menunjang kemampuan berbicara siswa. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Isti Nur Istianingsih menggunakan media gambar dengan pendekatan BCCT. 2. Penelitian dengan judul Peningkatan Keterampilan Bercerita dengan Media Gambar Berseri pada Siswa Kelas VII MTs Padureso Kebumen. (Skripsi, oleh: Dian Fitriani) Jenis penelitian dengan judul diatas merupakan penelitian tindakan kelas. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik tes dan teknik non tes. Perbedaan penelitian yang dilakakan oleh peneliti dengan penelitian yang dilakukan oleh Dian Fitriani yaitu terletak pada subjek penelitian. Penelitian Dian Fitriani mengambil subjek siswa kelas VII MTs Padureso. Sedangakan penelitian yang dilakukan oleh peneliti mengambil subjek siswa kelas VII B MTS Muhammadiyah 01 Purbalingga. Selain itu, media yang digunakan juga berbeda. Media yang digunakan oleh peneliti berupa media audio visual, sedangkan media yang digunakan oleh Dian Fitriani adalah gambar berseri. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti dengan penelitian yang dilakukan oleh Dian Fitriani sebenarnya terdapat juga persamaannya yang terletak pada objek penelitian. Peneliti menggunakan objek penelitian berupa peningkatan keterampilan berbicara, sedangkan Dian Fitriani objek penelitian berupa peningkatan kemampuan bercerita. Meski terlihat berbeda, namun pada dasarnya sama karena keterampilan bercerita masih termasuk dalam keterampilan berbicara.
11 B. Berbicara 1. Pengertian Berbicara Berbicara merupakan kegiatan yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Dalam memenuhi kehidupannya, seseorang pasti akan berkomunikasi dengan cara berbicara untuk mendapatkan informasi ataupun kepentingan tertentu. Selain dalam kehidupan sehari-hari, kegiatan berbicara juga selalu ada dalam seluruh pembelajaran yang dialami siswa di sekolah. Hal ini dikarenakan, hampir setiap pembelajaran siswa dituntut untuk aktif mengemukakan pendapatnya. Berbicara merupakan sebuah tingkah laku yang di pelajari. Berbicara sebagi tingkah laku, sudah dipelajari oleh siswa dilingkungan keluarga, tetangga, dan lingkungan lainnya. Walaupun siswa sudah mengekspresikan dirinya secara lisan, sebelum mereka diajar secara formal mereka tetap memerlukan bimbingan untuk mengembangkan keterampilan berbicara. Siswa memerlukan kesempatan berlatih dan belajar berbicara. Tidak ada orang yang terampil berbicara tanpa melalui latihan. Berbicara adalah tingkah laku yang dipelajari, baru dapat dikuasai. Tompkins 1991:143 dalam Novi, dkk (2006:191), mengungkapkan bahwa berbicara adalah bentuk bahasa ekspresif yang utama. Baik anak-anak maupun orang dewasa lebih sering menggunakan bahasa lisan dari pada tulisan, dan anak-anak belajar berbicara sebelum belajar membaca dan menulis. Berbicara juga merupakan keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan (Djago Tarigan, 1990:149 dalam Resmini, dkk 2006:193). Kaitan antara pesan dan bahasa lisan sebagai media informasi sangat erat. Pesan yang diterima oleh pendengar tidaklah dalam wujud asli, tetapi dalam bentuk lain yaitu bunyi bahasa.
12 Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas, maka peneliti menyimpulkan bahwa berbicara adalah suatu keterampilan lisan yang harus dimiliki manusia, yang digunakan sebagai alat komunikasi dan untuk menyampaikan ide dan gagasan seseorang. 2. Tujuan Berbicara Tujuan utama berbicara adalah untuk berkomunikasi, sehingga banyak yang mengungkapkan bahwa bahasa merupakan alat komunikasi. Agar dapat menyampaikan secara efektif, seyogyanya pembicara memahami makna segala sesuatu yang ingin disampaikan. Menurut Tarigan (2015:17), pada dasarnya berbicara mempunyai tiga maksud (tujuan) umum, diantaranya: a. Memberitahukan dan melaporkan (to inform) b. Menjamu dan menghibur (to entertain) c. Membujuk, mengajak, mendesak, dan meyakinkan (to persuade) Selain itu, Djago Tarigan dalam Novi, dkk (2006:193) juga mengemukakan tujuh tujuan berbicara, diantaranya : a. berbicara untuk menghibur b. berbicara untuk menginformasikan c. berbicara untuk menstimulasi d. berbicara untuk meyakinkan e. berbicara untuk menggerakkan. Dari pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa secara umum tujuan berbicara memang sama yaitu untuk menginformasikan. Namun tidak menutup kemungkinan dari beberapa tujuan diatas dapat bergabung menjadi satu, misalnya gabungan dari
13 tujuan berbicara menginformasikan dan menghibur. Dengan kata lain, dalam suatu kegiatan berbicara, pembicara tidak hanya memiliki satu tujuan melainkan beberapa tujuan. C. Bercerita 1. Pengertian Bercerita Bercerita merupakan salah satu bentuk dari keterampilan berbahasa yaitu berbicara. Kegiatan bercerita dapat digunakan oleh orang tua dan guru untuk melatih dan mengasah kemampuan berbicara anak. Melalui kegiatan bercerita, guru atau orang tua dapat memberikan pelajaran bagi anak-anak dan memberikan contoh yang baik melalui cerita-cerita yang menarik. Cerita yang disampaikanpun dapat berupa pengalaman pribadi, film/ video, buku dongeng, dan sebagainya. Dengan bercerita siswa dapat mengungkapkan apa yang pernah dialaminya baik pengalaman sendiri, pengalaman orang lain, ataupun pengalaman-pengalaman yang pernah didengar. Kegiatan bercerita menuntun dan melatih siswa untuk dapat berbicara baik karena lancar bercerita adalah lancar berbicara. Menurut Musfiroh (2005:24), bercerita adalah alat pendidikan yang mudah dicerna anak dsamping teladan yang di lihat anak setiap hari. Sedangkan menurut Bachir (2005:10) bercerita adalah menuturkan sesuatu yang mengisahkan tentang perbuatan atau suatu kejadian yang disampaikan secara lisan dengan tujuan membagikan pengalaman dan pengetahuan kepada orang lain. Dengan demikian bercerita dalam konteks komunikasi dapat dikatakan sebagai upaya mempengaruhi orang lain melalui ucapan dan penuturan tentang sesuatu (ide). Musfiroh juga mengungkapkan bererita menjadi sesuatu yang penting bagi anak karena:
14 a. Bercerita merupakan metode dan materi yang dapat diintegrasikan dengan keterampilan lainnya, yakni berbicara, menulis, membaca, menyimak (tidak terkecuali untuk anak Taman Kanak-kanak). b. Bercerita memberi ruang lingkup yang bebas pada anak untuk mengembangkan kemampuannya. c. Bercerita memberi contoh bagi anak bagaimana menyikapi suatu permasalahan dengan baik. d. Bercerita memberikan barometer sosial pada anak, nilai-nilai apa saja yang diterima oleh masyarakat sekitar. e. Bercerita memberikan ruang gerak pada anak, kapan suatu nilai berhasil ditangkap dan diaplikasikan. f. Bercerita membangkitkan rasa tahu anak akan peristiwa. Dalam pembelajaran, kegiatan bercerita menjadi ajang tersendiri bagi peserta didik karena mereka dituntut untuk dapat mengeksplor dan mengasah kemampuan bicaranya didepan teman-temannya. Dari beberapa pengertian bercerita diatas, dapat disimpulkan bahwa bercerita merupakan suatu kegiatan pemaparan kejadian, peristiwa, tokoh, atau hal lainnya yang disampaikan dengan menarik dengan tujuan memberi tahu dan membagikan pengalaman. 2. Tujuan dan Manfaat Bercerita Kegiatan bercerita memberikan sumbangan besar pada perkembangan anak secara keseluruhan, karena sebagai implikasi dari perkembangan bahasanya sehingga anak memiliki kemampuan mengembangkan aspek perkembangan yang lain dengan modal kemampuan berbahasa yang sudah baik. Bachir (2005:11), mengungkapkan
15 bahwa kegiatan bercerita dilakukan dengan tujuan mengembangkan ranah kemampuan perkembangan berbahasa diantaranya: a. kemampuan dan keterampilan mendengarkan b. kemampuan dan keterampilan berbicara c. kemampuan dan keterampilan berasosiasi d. kemampuan dan keterampilan berekspresi e. kemampuan dan keterampilan berimajinasi f. kemampuan dan keterampilan berfikir/ logika Kegiatan bercerita memang memiliki peranan penting untuk melatih komunikasi peserta didik. Melalui kegiatan bercerita, peserta didik dapat menyampaikan berbagai cerita, dapat mengungkapkan perasaan sesuai yang (dialami, dilihat, dirasakan, dibaca), mengungkapkan keinginan dan pengalaman yang dialami oleh pencerita. Salah satu manfaat bercerita adalah melatih dan mengasah peserta didik dalam mengingat, merangkai kalimat, dan kelancaran berbicara. Adapun manfaatnya, Musfiroh (2005:95) meninjau dari beberapa aspek, diantaranya: a. Membantu membentuk pribadi dan moral anak b. Menyalurkan kebutuhan imajinasi dan fantasi c. Merangsang minat baca anak d. Membuka cakrawala pengetahuan anak e. Meningkatkan kemampuan berbicara anak Sedangkan menurut Bachir (2005: 11), manfaat bercerita adalah dapat memperluas wawasan dan cara berfikir anak, sebab dalam bercerita anak mendapat tambahan pengalaman yang bisa jadi merupakan hal baru baginya. Dari pendapat diatas peneliti menyimpulkan bahwa tujuan bercerita secara umum adalah
16 menyampaikan informasi kepada orang lain. Sedangkan manfaatnya, peneliti menyimpulkan bahwa manfaat bercerita adalah untuk melatih cara berpikir dan berkomunikasi anak dalam menyampaikan ide-ide atau gagasannya. D. Media Pembelajaran Audio Visual 1. Pengertian Media Pembelajaran Media pembelajaran merupakan aspek yang penting dalam proses pembelajaran selain metode atau pendekatan yang digunakan oleh pendidik. Bahkan dapat dikatakan bahwa media akan menunjang pimilihan metode atau pendekatan yang telah didesain. Media pembelajaran merupakan perantara untuk menyampaikan pesan atau informasi yang sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran agar memudahkan guru dalam penyampaian materi pembelajaran dan memudahkan siswa untuk menerima materi pembelajaran. Menurut Arsyad (2014:3), dalam bahasa arab media adalah perantara atau pengantar pesan dan pengirim pesan kepada penerima pesan. Dengan demikian media pembelajaran merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan pendidikan di sekolah pada khususnya (Arsyad, 2014:4). National Education Association (NEA) mendefinisikan media sebagai suatu benda yang dapat dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta instrumen yang dipergunakan untuk kegiatan tersebut (Mukminan, 2009: 97). Heinich (1996: 8) menyatakan: A medium (plural media) is channel of communication. Derivered from the Latin word meaning between, the refers to anything that carries information between a source and receiver. Pernyataan tersebut mengandung makna bahwa media merupakan segala sesuatu yang membantu atau memfasilitasi sampainya
17 sebuah pesan dari pengirim atau penyampai pesan kepada penerima pesan. Pada konteks ini, media pembelajaran menjadi sebuah alat komunikasi yang berfungsi dan digunakan untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran merupakan bentuk peralatan yang berfungsi merangsang pemikiran dan pengantar pesan kepada sasaran yang dituju. Jika media tersebut tidak dapat berfungsi sebagai penyalur pesan berarti media tersebut tidak mampu mengkomunikasikan isi pesan yang ingin disampaikan sumber ke penerima. Televisi, film, foto, radio, rekaman audio, gambar yang diproyeksikan, bahan-bahan cetakan, dan sejenisnya adalah media komunikasi. Apabila media itu membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran maka media itu disebut media pembelajaran. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran dapat memberikan tekanan pada posisi media sebagai wahana penyalur pesan atau informasi belajar untuk mengondisikan seseorang belajar. 2. Fungsi Media Pembelajaran Dalam suatu proses belajar mengajar ada dua unsur yang sangat penting dan saling berkaitan yaitu metode mengajar dan media pembelajaran. Pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pembelajaran yang akan digunakan, walaupun masih ada beberapa aspek lain yang perlu diperhatikan diantaranya tujuan pembelajaran, jenis tugas, dan respon siswa. Meski demikian, dapat dikatakan bahwa salah satu fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi kondisi dan lingkungan belajar yang di tata dan diciptakan oleh guru.
18 Menurut (Hamalik 1986 dalam Azhar Arsyad 2014:19) mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Fungsi utama media pembelajaran menurut (Kemp & Dayton 1985:28 dalam Azhar Arsyad 2014:23) diantaranya : a. Memotivasi minat atau tindakan Untuk memenuhi fungsi motivasi, media pembelajaran dapat direalisasikan dengan teknik drama atau hiburan. Hasil yang diharapkan dapat melahirkan minat dan merangsang siswa untuk bertindak. Pencapaian tujuan ini akan mempengaruhi sikap, nilai, dan emosi siwa. b. Menyajikan Informasi Untuk tujuan informasi, media pembelajaran dapat digunakan dalam rangka penyajian informasi dihadapan sekelompok siswa. Isi dan bentuk penyajian bersifat sangat umum, berfungsi sebagai pengantar dan ringkasan laporan. Penyajian dapat pula berbentuk hiburan, drama, atau bentuk motivasi. c. Memberi instruksi Media berfungsi untuk tujuan instruksi di mana informasi yang terdapat dalam media itu harus melibatkan siswa, baik mental siswa ataupun dalam bentuk aktivitas yang nyata sehingga pembelajaran dapat terjadi. Materi harus dirancang secara lebih sistematis dan psikologis, dilihat dari prinsip-prinsip belajar agar dapat menyiapkan instruksi yang efektif.
19 3. Media Audio Visual Media merupakan suatu ekstensi manusia yang memungkinkan mempengaruhi orang lain yang tidak mengadakan kontak langsung dengan manusia. Media audio visual berasal dari kata media dan audio visual. Kata media berarti bentuk perantara yang digunakan manusia untuk menyampaikan atau menyebarkan ide, gagasan atau pendapat sehingga ide, pendapat atau gagasan yang dikemukakan itu sampai pada penerima yang dituju. Sedangkan audio berarti suara, dan visual berarti gambar. Jadi dapat disimpulkan bahwa media audio visual merupakan media pengajaran dan media pendidikan yang mengaktifkan mata dan telinga peserta didik dalam waktu proses belajar mengajar berlangsung. Selain mengandung unsur suara, audio visual juga mengandung unsur-unsur lain seperti gambar, rekaman video, dan berbagai ukuran film. Kemampuan media ini dianggap lebih baik dan lebih menarik, sebab mengandung ketertarikan tersendiri bagi peserta didik. Menurut (Chunning 2001 in international journal, 2016:238), states that video provides stimuli to learners, as it gives learners an opportunity to get a background schema of the subject. Dari pendapat di atas dapat diartikan bahwa media audio visual dapat memberikan rangsangan kepada siswa, kerena siswa diberikan kesempatan untuk mengetahui latar belakang seseorang. Selain itu, (Dale dalam Arsyad 2014:27) juga menyebutkan bahwa media audio visual dapat memberikan banyak manfaat asalkan guru berperan aktif dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini guru dan siswa merupakan elemen yang sangat penting dalam system pendidikan. Guru harus selalu hadir untuk menyajikan materi pelajaran dengan bantuan media apapun yang nantinya dapat membuahkan hasil belajar yang maksimal. Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa media audio visual adalah sebuah media yang dapat
20 mempengaruhi seseorang dalam mengungkapkan ide dan gagasannya karena secara tidak langsung terdapat stimulus yang ditujukkan untuk penerima. 4. Manfaat Media Audio Visual Menurut (Dale dalam Arsyad 2014:27), menjelaskan bahwa penggunaan media audio visual memiliki banyak manfaat dalam proses pembelajaran, diantaranya: a. Meningkatkan rasa saling pengertian dan simpati dalam kelas b. Membuahkan perubahan signifikan pada tingkah laku siswa c. Menunjukkan antara mata pelajaran, kebutuhan, dan minat siswa dengan meningkatnya motivasi belajar siswa d. Membawa kesegaran dan variasi bagi pengalaman belajar siswa e. Membuat hasil belajar lebih bermakna bagi kemampuan siswa f. Mendorong pemanfaatan yang bermakna dari mata pelajaran dengan jalan melibatkan imajinasi dan partisipasi yang mengakibatkan meningkatnya hasil belajar g. Memberikan umpan balik yang diperlukan yang dapat membantu siswa menemukan seberapa banyak yang sudah mereka pelajari h. Melengkapi pengalaman yang kaya dengan pengalaman konsep-konsep yang bermakna dan dapat dikembangkan i. Memperluas wawasan dan pengalaman siswa yang mencerminkan pembelajaran nonverbalistik j. Meyakinkan diri bahwa urutan dan kejelasan pikiran yang siswa butuhkan membangun struktur konsep dan sistem gagasan yang bermakna.
21 E. Kerangka Berpikir Perencanan Pelaksanaan Kondisi Awal Keamampuan siswa dalam menceritkan tokoh idola masih rendah. Penyebab: 1. Guru belum menggunakan media audio visual dalam pembelajaran menceritakan tokoh idola. 2. Siswa kesulitan dalam mengungkapkan ide dan gagasannya. TINDAKAN Pembelajaran menggunakan media audio visual Refleksi Observasi Kondisi Akhir Kemampuan berbicara siswa meningkat F. Hipotesis Tindakan Berdasarkan kajian tepri yang telah diuraikan, maka sebuah hipotesis dapat diajukan. Hipotesis tindakan ini yaitu jika kemampuan berbicara dalam kompetensi dasar menceritakan tokoh idola dilakukan dengan menggunakan media audio visual, maka kemampuan berbicara siswa kelas VII B MTs Muhammadiyah 01 Purbalingga tahun pelajaran 2016-2017 meningkat.