BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Dana Pendidikan 2.1.1 Pengertian Dana Pendidikan Menurut Mulyasa (2011:167) menyatakan bahwa dana merupakan salah satu sumber daya yang secara langsung menunjang efektivitas dan efisiensi pengelolaan pendidikan. Thomas (1985) dalam Mulyasa (2011:168) menjelaskan bahwa: Dana pendidikan mencakup dana langsung dan tidak langsung, serta dana masyarakat dan dana pribadi. Lebih lanjut dijelaskan bahwa dana langsung merupakan dana yang secara langsung digunakan untuk kegiatan operasional sekolah, dana langsung meliputi dana pembangunan dan dana rutin. Dana tidak langsung merupakan dana yang berhubungan dengan kehadiran peserta didik di sekolah. Dana masyarakat merupakan dana yang dikeluarkan masyarakat untuk kepentingan pendidikan, dan dana pribadi merupakan dana yang bersumber dari rumah tangga. Dana pendidikan adalah sumber daya keuangan yang disediakan untuk menyelenggarakan dana mengelola pendidikan. Nilai besar dana yang diperkirakan akan disediakan untuk menandai berbagai kegiatan pendidikan. 12
13 2.1.2 Macam-macam Dana Pendidikan Dalam mengelola dana pendidikan pemerintah memiliki macam-macam dana pendidikan yang terdiri dari: 1. Biaya investasi adalah biaya penyelenggaraan pendidikan yang sifatnya lebih permanen dan dapat dimanfaatkan dalam jangka waktu relatif lama, lebih dari satu tahun. Biaya investasi meliputi: a. Biaya penyediaan sarana dan prasarana. b. Pengembangan sumber daya manusia. c. Modal kerja tetap. 2. Biaya operasi adalah biaya yang diperlukan sekolah untuk menunjang proses pendidikan. Biaya operasi meliputi: a. Biaya personalia seperti: Gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat pada gaji. b. Biaya non personalia seperti: Bahan atau peralatan pendidikan habis pakai, biaya air, jasa telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak, asuransi, dan lain sebagainya.
14 2.1.3 Pengelolaan Dana Pendidikan Kegiatan pengelolaan dana pendidikan termasuk dalam kegiatan administrasi yaitu administrasi keuangan, karena didalamnya terdapat kegiatan perencanaan, pengorganisasian, bimbingan dan pengarahan, kontrol, komunikasi, serta ketatausahaan. Penggunaan dana pendidikan agar mencapai tingkat efisiensi yang tinggi maka perlunya suatu proses penyusunan anggaran (budgeting). Anggaran merupakan alat perencanaan, pengendalian, dan alat bantu bagi manajemen dalam mengarahkan organisasi ke posisi yang kuat atau lemah. Dalam penyusunan anggaran terdapat proses dimulai dari fase perencanaan, fase pelaksanaan, hingga fase pertanggungjawaban. Pengelolaan keuangan bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) dan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) digunakan untuk biaya pendidikan yang dilakukan oleh legislatif dan lembaga yang ditunjuk. Pengawasan manajemen keuangan sekolah dilakukan berdasarkan aliran keluar masuk uang yang dilakukan oleh bendaharawan. Pengawasan ini dimulai dari proses keputusan pengeluaran anggaran, pembelanjaan, perhitungan, dan penyimpanan barang oleh pengawas yang ditunjuk. Semua dana yang dikelola oleh sekolah harus dipergunakan secara terarah dan bertanggungjawab
15 serta dapat dimanfaatkan secara efisien, sehingga semua kegiatan dapat terlaksana dengan baik. 2.1.4 Prinsip-prinsip Dana Pendidikan Pengelolaan dan pendidikan mempunyai beberapa prinsip sebagai berikut: 1. Transparansi Transparan berarti adanya keterbukaan sumber dana dan jumlah, rincian penggunaan, dan pertanggungjawaban harus jelas sehingga bisa memudahkan pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengetahuinya. 2. Akuntabilitas Akuntabilitas adalah kondisi seseorang yang dinilai oleh orang lain karena kualitas performansinya dalam menyelesaikan tugas untuk mencapai tujuan yang menjadi tanggung jawabnya. Penggunaan dana pendidikan dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan. 3. Efektivitas Pengelolaan dana pendidikan dikatakan memenuhi prinsip efektivitas. Jika kegiatan yang dilakukan dapat mengatur dana untuk membiayai aktivitas dalam rangka mencapai tujuan lembaga yang bersangkutan dengan rencana yang telah ditetapkan.
16 4. Efisiensi Efisiensi adalah perbandingan yang terbaik antara masukan (input) dan keluaran (out put) atau antara daya dan hasil. Daya yang dimaksud meliputi tenaga, pikiran, waktu, biaya. 2.2 Bantuan Operasional Sekolah (BOS) 2.2.1 Pengertian Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) nomor 69 Tahun 2009, BOS adalah program pemerintah yang pada dasarnya adalah untuk penyediaan pendanaan biaya operasi nonpersonalia bagi satuan pendidikan dasar sebagai pelaksana program wajib belajar. Menurut Peraturan Pemerintah No. 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan, biaya non personalia adalah biaya untuk bahan atau peralatan pendidikan habis pakai, dan biaya tak langsung berupa daya, air, jasa telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak dll. 2.2.2 Tujuan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Secara umum program BOS bertujuan untuk meringankan beban masyarakat terhadap pembiayaan pendidikan. Secara khusus program BOS bertujuan untuk:
17 1. Membebaskan pungutan bagi seluruh siswa SD/SDLB negeri dan SMP/SMPLB/SMPT (Terbuka) negeri terhadap biaya operasi sekolah. 2. Membebaskan pungutan seluruh siswa miskin dari seluruh pungutan dalam bentuk apapun, baik di sekolah negeri maupun swasta. 3. Meringankan beban biaya operasi sekolah bagi siswa di sekolah swasta. 2.2.3 Organisasi Pelaksana BOS Organisasi pelaksana BOS meliputi tim pengarah dan tim manajemen BOS pusat, provinsi dan kabupaten/kota serta tim manajemen BOS sekolah. 1. Tim Pengarah a. Tingkat Pusat 1) Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. 2) Menteri Perencanaan Pembangunan Negara/Kepala Bappenas (Badan Pendidikan Nasional). 3) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. 4) Menteri Keuangan. 5) Menteri Dalam Negeri. b. Tingkat Provinsi 1) Gubernur
18 2) Wakil Gubernur c. Tingkat Kabupaten/Kota Bupati/Walikota 1) Wakil Bupati/Walikota 2. Tim Manajemen BOS Kabupaten/Kota Tim Manajemen BOS Kabupaten/Kota pada jenjang pendidikan menengah akan diatur sebagai berikut: a. Penanggung Jawab 1) Kepala SKPD (Satuan Kerja Pemerintah Daerah) Pendidikan Kabupaten/Kota. b. Tim Pelaksana BOS (dari SKPD Pendidikan) 1) Manajer. 2) Unit Pendataan SD/SDLB. 3) Unit Pendataan SMP/SMPLB/SMPT/Satap. 4) Tim Dapodikdasmen (Data Pokok Pendidikan Dasar dan Menengah). 5) Unit Monitoring dan Evaluasi dan Pelayanan dan Penanganan Pengaduan Masyarakat. c. Tugas dan Tanggung Jawab Tim Manajemen BOS Kabupaten/Kota 1) Melatih, membimbing dan mendorong satuan pendidikan untuk memasukkan data. 2) Melakukan monitoring perkembangan pemasukan/ updating data secara online.
19 3) Memverifikasi kelengkapan data (jumlah peserta didik dan nomor rekening) di satuan pendidikan. 4) Memberikan sosialisasi/pelatihan tentang program BOS termasuk melalui pemberdayaan pengawas sekolah. 5) Mengupayakan penambahan dana satuan pendidikan dan manajemen program BOS dari sumber APBD. 6) Melakukan pembinaan terhadap satuan pendidikan dalam pengelolaan dan pelaporan dana BOS. 7) Memantau pelaporan pertanggung jawaban penggunaan dana BOS secara offline maupun online. 8) Menegur dan memerintahkan satuan pendidikan yang belum membuat laporan. 9) Mengumpulkan dan merekapitulasi laporan realisasi penggunaan dana BOS. 10) Melakukan monitoring pelaksanaan program BOS. 11) Memberikan pelayanan dan penanganan pengaduan masyarakat. d. Tata Tertib yang Harus Diikuti Oleh Tim Manajemen BOS Kabupaten/Kota 1) Tidak diperkenankan melakukan pungutan dalam bentuk apapun terhadap satuan pendidikan.
20 2) Tidak diperkenankan melakukan pemaksaan dalam pembelian barang dan jasa dalam pemanfaatan dana BOS. 3) Dilarang bertindak menjadi distributor atau pengecer buku/ barang. 2.2.4 Prosedur Pelaksanaan BOS 1. Pendataan Tahapan pendataan Data Pokok Pendidikan Dasar dan Menengah (Dapodikdasmen) merupakan langkah awal dalam proses pengalokasian dan penyaluran dana BOS. Tahapan pendataan Dapodikdasmen yang dilakukan oleh satuan pendidikan adalah sebagai berikut: a. Menggandakan (fotocopy) formulir data pokok pendidikan. b. Melakukan sosialisasi tentang cara pengisian formulir pendataan. c. Membagi formulir kepada individu yang bersangkutan untuk diisi secara manual dan mengumpulkan formulir yang telah diisi. d. Memverifikasi kelengkapan dan kebenaran/ kewajaran data. e. Memasukkan/meng-update data kemudian mengirim ke server Kemdikbud secara online. f. Mem-backup secara lokal data yang telah dientri.
21 g. Formulir yang telah diisi secara manual harus disimpan untuk keperluan monitoring dan audit. h. Melakukan update data secara reguler ketika ada perubahan data, minimal satu kali dalam satu semester. i. Konsultasi dengan dinas pendidikan dan memastikan data yang di-input sudah masuk kedalam server Kemdikbud. j. Memastikan data yang masuk dalam Dapodikdasmen sudah sesuai dengan kondisi riil di satuan pendidikan. 2. Penetapan Alokasi BOS untuk Penganggaran Dalam APBD Tim manajemen BOS Kabupaten/Kota melakukan penetapan alokasi BOS untuk keperluan anggaran adalah sebagai berikut: a. Rekonsiliasi progres update data jumlah peserta didik tiap satuan pendidikan yang ada pada Dapodikdasmen. b. Mengkontrol data jumlah peserta didik yang ada di Dapodikdasmen berdasarkan data yang ada. c. Pengambilan data jumlah peserta didik pada Dapodikdasmen untuk membuat usulan alokasi dana BOS. d. Rekapitulasi dari data jumlah peserta didik di tiap satuan pendidikan yang ada di Dapodikdasmen. e. Pemerintah menetapkan alokasi BOS tiap provinsi/kabupaten/kota melalui peraturan yang berlaku.
22 3. Penyaluran Dana BOS Dana BOS disalurkan dari Rekening Kas Umum Negara (RKUN) ke Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) secara triwulanan (tiga bulanan) dengan ketentuan sebagai berikut: a. Triwulan 1 (Januari-Maret) dilakukan paling lambat pada minggu ketiga di bulan Januari. b. Triwulan 2 (April-Juni) dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja pada awal bulan April. c. Triwulan 3 (Juli-September) dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja pada awal bulan Juli. d. Triwulan 4 (Oktober-Desember) dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja pada awal bulan Oktober. Dana BOS untuk wilayah yang secara geografis sangat sulit (wilayah terpencil) disalurkan dari RKUN ke RKUD semesteran (6 bulanan) dengan ketentuan sebagai berikut: a. Semester 1 (Januari-Juni) dilakukan paling lambat pada minggu ketiga di Januari. b. Semester 2 (Juli-Desember) dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja pada awal bulan Juli. Selanjutnya BUD harus menyalurkan dana BOS ke satuan pendidikan paling lambat 7 hari kerja setelah dana diterima di RKUD.
23 2.2.5 Prinsip Penggunaan Dana BOS Penggunaan dan pertanggung jawaban keuangan dana BOS dimaksudkan untuk memberikan acuan/pedoman bagi pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota dan satuan pendidikan. Prinsip dalam pelaksanaan penggunaan dana BOS meliputi: 1. Efisien, yaitu harus diusahakan dengan menggunakan dana dan daya yang ada untuk mencapai sasaran yang ditetapkan dalam waktu sesingkat-singkatnya dan dapat dipertanggung jawabkan. 2. Efektif, yaitu kebutuhan yang telah ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya sesuai dengan sasaran yang ditetapkan. 3. Transparan, yaitu menjamin adanya keterbukaan yang memungkinkan masyarakat dapat mengetahui dan mendapatkan informasi mengenai pengelolaan dana BOS. 4. Akuntabel, yaitu pelaksanaan kegiatan dapat dipertanggung jawabkan. 5. Kepatutan, yaitu penjabaran program/kegiatan harus dilaksanakan secara realistis dan proporsional. 2.2.6 Pengambilan Dana BOS Ketentuan yang harus diikuti terkait pengambilan dana BOS oleh satuan pendidikan adalah sebagai berikut:
24 1. Dana BOS harus diterima secara utuh oleh satuan pendidikan dan tidak diperkenankan adanya pemotongan atau pungutan biaya apapun dengan alasan apapun dan oleh pihak manapun. 2. Pengambilan dana BOS dilakukan oleh bendahara sekolah atas persetujuan Kepala Sekolah. 3. Dana BOS dalam suatu periode tidak harus habis dipergunakan pada periode tersebut. Besar penggunaan dana tiap bulan disesuaikan dengan kebutuhan satuan pendidikan dalam Rencana Kegiatan Anggaran Sekolah (RKAS). 2.2.7 Penggunaan Dana BOS 1. Komponen Pembiayaan Penggunaan dana BOS di satuan pendidikan harus didasarkan pada kesepakatan dan keputusan bersama antara Tim Manajemen BOS Sekolah, Dewan Guru dan Komite Sekolah. Dana BOS yang diterima oleh sekolah, dapat digunakan untuk membiayai komponen kegiatan sebagai berikut: a. Pengembangan perpustakaan. b. Kegiatan penerimaan peserta didik baru. c. Kegiatan pembelajaran dan ekstrakulikuler. d. Kegiatan ulangan dan ujian. e. Pembelian bahan habis pakai. f. Langganan daya dan jasa.
25 g. Perawatan sekolah/ rehab ringan dan sanitasi sekolah. h. Pemberian honorarium bulanan. i. Pengembangan profesi guru dan tenaga kependidikan. j. Membantu peserta didik miskin. k. Pembiayaan pengelolaan sekolah. l. Pembelian perawatan perangkat komputer. 2. Larangan Penggunaan Dana BOS Dana BOS yang diterima oleh sekolah tidak boleh digunakan untuk hal-hal berikut: a. Disimpan dengan maksud dibungakan. b. Dipinjamkan kepada pihak lain. c. Membiayai kegiatan yang tidak menjadi prioritas sekolah. d. Mambayar bonus dan transpormasi rutin untuk guru. e. Digunakan untuk rehabilitas sedang dan berat. f. Menanamkan saham. g. Membayar kegiatan penunjang yang tidak ada kaitannya dengan kegiatan sekolah. h. Membangun gedung/ ruangan baru. 3. Mekanisme Pembelian Brang/Jasa di Sekolah Pembelian barang/jasa dilakukan oleh tim manajemen BOS sekolah dengan ketentuan berikut: a. Menggunakan prinsip keterbukaan dan ekonomis. b. Menggunakan mekanisme pembayaran secara non tunai.
26 c. Memperhatikan kualitas barang/jasa. d. Membuat laporan singkat tertulis. e. Diketahui oleh komite sekolah. 4. Pencatatan Barang Inventaris Barang inventaris yang telah dibeli, sekolah wajib melakukan pencatatan terhadap hasil pembelian tersebut. Ada 2 (dua) tahap pencatatan yang harus dilakukan oleh sekolah yaitu sebagai berikut: a. Penerimaan Barang inventaris yang diterima oleh sekolah harus dicatat dalam buku penerimaan. Barang yang diterima atas pembelian harus dicocokan dengan surat perintah kerja atau surat pemesanan yang ditandatangani kepala sekolah. b. Penyimpanan dan Penggunaan Seluruh barang inventaris yang telah dicatat penerimaannya oleh sekolah, pada tahap selanjutnya harus dicatatkan dalam buku inventaris barang. Buku inventaris ini berfungsi untuk melihat kuantitas barang yang diterima dan dipinjamkan ke peserta didik apabila ada disekolah. 5. Serah Terima Aset a. Sekolah melaporkan setiap hasil pembelian barang inventaris kepada dinas pendidikan kabupaten/kota dengan rincian jumlah dan harga setiap barang yang dibeli.
27 b. Dinas Pendidikan kabupaten/kota membuat rekapitulasi hasil pembelian barang inventaris di seluruh sekolah dengan rincian jumlah dan harga barang yang dibeli (format BOS- 10) untuk disampaikan kepada dinas pendidikan provinsi. c. Dinas Pendidikan provinsi membuat Berita Acara Serah Terima Aset yang ditandatangani kepala dinas pendidikan provinsi dan kepala Dinas Pendidikan kabupaten/kota. 2.2.8 Monitoring dan Supervisi BOS Bentuk kegiatan monitoring dan supervisi meliputi pemantauan, pembinaan, dan penyelesaian masalah terhadap pelaksanaan program BOS. Secara umum kegiatan ini bertujuan untuk meyakinkan bahwa dana BOS diterima oleh yang berhak dalam jumlah, waktu, cara, dan penggunaan yang tepat. Komponen utama yang dimonitor antara lain: 1. Alokasi dana sekolah penerima bantuan. 2. Penyaluran dan penggunaan dana. 3. Pelayanan dan penanganan pengaduan. 4. Administrasi keuangan. 5. Pelaporan serta pemanjangan rencana penggunaan dan pemakaian dana BOS. 2.2.9 Pelaporan dan Pertanggungjawaban BOS Sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban dalam pelaksanaan program BOS, masing-masing pengelola program di
28 tiap tingkatan (pusat, provinsi, kabupaten/kota, sekolah) diwajibkan untuk melaporkan hasil kegiatannya kepada pihak terkait. 1. Tingkat Kabupaten/Kota(Formulir BOS-K8) Hal-hal yang perlu dilaporkan oleh Tim Manajemen BOS Kabupaten/Kota kepada Tim Manajemen BOS Propinsi adalah sebagai berikut: a. Rekapitulasi penggunaan dana BOS yang diperoleh dari Tim Manajemen BOS Sekolah dengan menggunakan Formulir BOS-K8. b. Penanganan Pengaduan Masyarakat, yang antara lain berisi informasi tentang jenis kasus, skala kasus, kemajuan penanganan, dan status penyelesaian. 2. Perpajakan Kewajiban perpajakan yang terkait dengan penggunaan dana BOS untuk: a. Pembelian ATK/bahan/penggandaan dan lain-lain pada kegiatan penerimaan peserta didik baru. b. Pembelian/penggandaan buku teks pelajaran dan/atau mengganti buku teks yang sudah rusak. c. Pemberian honor pada pengembangan profesi guru, penyusunan laporan BOS dan kegiatan pembelajaran pada SMP Terbuka.
29 d. Penggunaan dana BOS dalam rangka membayar honorarium guru dan tenaga kependidikan honorer satuan pendidikan yang tidak dibiayai dari Pemerintah Pusat dan atau Daerah yang dibayarkan bulanan. 2.3 Laporan Keuangan 2.3.1 Kewajiban Pemerintah Daerah Menyusun Laporan Keuangan Keuangan daerah yang dikelola oleh pemerintah daerah harus dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundangundangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung jawab. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 tahun 2013 tentang penerapan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) berbasis akrual pada pemerintah daerah. Basis akrual adalah basis akuntansi dimana transaksi ekonomi atau peristiwa akuntansi diakui, dicatat, dan disajikan dalam laporan keuangan pada saat terjadinya transaksi tersebut. penerapan akuntansi berbasis akrual menghasilkan 7 laporan keuangan pokok, yakni Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Laporan Perubahan Saldo Anggaran (LPSA), Laporan Operasional (LO), Neraca, Laporan Arus Kas (LAK), Laporan Perubahan Ekuitas (LPE), dan Catatan Atas Laporan Keuangan (CaLK).