PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TAMIANG

dokumen-dokumen yang mirip
ATTN: PERATURAN DAERAH KABUPATEN MURUNG RAYA NOMOR 19 TAHUN 2003 TENTANG USAHA PERTAMBANGAN BAHAN TAMBANG GALIAN GOLONGAN C DI KABUPATEN MURUNG RAYA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUPANG NOMOR 2 TAHUN 2001 TENTANG RETRIBUSI IZIN USAHA PERTAMBANGAN BAHAN GALIAN GOLONGAN C

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MUSI RAWAS NOMOR 12 TAHUN 2003 TENTANG IZIN USAHA PERTAMBANGAN BAHAN GALIAN GOLONGAN C DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Keputusan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia N0. 32 Tahun 1991 Tentang : Pedoman Usaha Pertambangan Bahan Galian Golongan C

PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TAMIANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR NOMOR : 08 TAHUN 2006 TENTANG PENGELOLAAN USAHA PERTAMBANGAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 29 TAHUN 2000 TENTANG IZIN PENGAMBILAN DAN PENGOLAHAN BAHAN GALIAN GOLONGAN C DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 4 TAHUN 2003 TENTANG PAJAK PENGAMBILAN DAN PENGOLAHAN BAHAN GALIAN GOLONGAN C

PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI BARAT

PEMERINTAH KABUPATEN KOLAKA UTARA IZIN USAHA PERTAMBANGAN BAHAN GALIAN GOLONGAN C

PEMERINTAH KABUPATEN LAHAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAHAT NOMOR 05 TAHUN 2009 TENTANG PAJAK PENGAMBILAN BAHAN GALIAN GOLONGAN C

PEMERINTAH KABUPATEN LUMAJANG

PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI BARAT

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR 2 TAHUN 2006 TENTANG PAJAK PENGAMBILAN BAHAN GALIAN GOLONGAN C DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PATI NOMOR 108 TAHUN 2017 TENTANG HARGA PATOKAN PENJUALAN MINERAL BUKAN LOGAM DAN BATUAN

NOMOR : 36 TAHUN 2008

PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAIRI NOMOR 17 TAHUN 2008 TENTANG PAJAK PENGAMBILAN BAHAN GALIAN GOLONGAN C DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI DAIRI,

PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 29 TAHUN 2000 TENTANG IZIN PENGAMBILAN DAN PENGOLAHAN BAHAN GALIAN GOLONGAN C DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Menetapkan : QANUN TENTANG RETRIBUSI PENAMBANGAN BAHAN GALIAN GOLONGAN C.

PEMERINTAH KABUPATEN MUKOMUKO

QANUN KABUPATEN BIREUEN NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG IZIN USAHA PERTAMBANGAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK MINERAL BUKAN LOGAM DAN BATUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA,

BUPATI SITUBONDO PERATURAN BUPATI SITUBONDO NOMOR 56 TAHUN 2011 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 27 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK MINERAL BUKAN LOGAM DAN BATUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEBUMEN,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PELALAWAN NOMOR 13 TAHUN 2001 TENTANG PAJAK PENGAMBILAN BAHAN GALIAN GOLONGAN C DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA

PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TAMIANG

PEMERINTAH KABUPATEN KULON PROGO

PERATURAN BUPATI REJANG LEBONG NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG HARGA STANDAR PENGAMBILAN MINERAL BUKAN LOGAM DAN BATUAN BUPATI REJANG LEBONG,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 23 TAHUN 2001 TENTANG IZIN USAHA PERTAMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MAGELANG

Transkripsi:

1 PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TAMIANG QANUN KABUPATEN ACEH TAMIANG NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN USAHA PERTAMBANGAN BAHAN GALIAN GOLONGAN C DALAM KABUPATEN ACEH TAMIANG BISMILLAHIRRAHMANIRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA BUPATI ACEH TAMIANG, Menimbang : a. bahwa kegiatan usaha pertambangan Bahan Galian Golongan C merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting dalam rangka menunjang pembangunan daerah; b. bahwa untuk tertib dan lancarnya kegiatan usaha pertambangan Bahan Galian Golongan C dalam Kabupaten Aceh Tamiang, perlu diatur ketentuan bagi penyelenggaraan kegiatan usaha pertambangan Bahan Galian Golongan C dalam Kabupaten Aceh Tamiang; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b, perlu membentuk Qanun tentang Pedoman Usaha Pertambangan Bahan Galian Golongan C dalam Kabupaten Aceh Tamiang; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1967 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2831); 2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699); 3. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3888) sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara 2004 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4412); 4. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Aceh Barat Daya, Kabupaten Gayo Lues, Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Nagan Raya dan Kabupaten Aceh Tamiang di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 17, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4179); 5. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);

2 6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437); sebagaimana telah diubah untuk keduakalinya dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 7. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); 8. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4633); 9. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1969 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2816); 10. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 tentang Pengelolaan Bahan-bahan Galian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1980 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Repuiblik Indonesia Nomor 3174); 11. Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1986 tentang Penyerahan sebagian Urusan Pemerintah di Bidang Pertambangan kepada Pemerintah Daerah Tingkat I (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Repuiblik Indonesia Nomor 3340); 12. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3838); 13. Peraturan Pemerintah Nomor 75 Tahun 2001 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 141, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4154); 14. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2003 tentang Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4314); 15. Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor : 03/P/M/Pertamben/1981 tentang Pedoman Pemberian Surat Izin Pertambangan Daerah untuk Bahan Galian yang bukan Strategis dan bukan Vital (Bahan Galian Golongan C); 16. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 458/ Kpts/1986 tentang Pengamanan Sungai dalam Hubungan dengan Pertambangan Bahan Galian Golongan C; 17. Qanun Aceh Nomor 3 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pembentukan Qanun (Lembaran Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Tahun 2007 Nomor 03, Tambahan Lembaran Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 03);

3 18. Keputusan Gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 19 Tahun 1999 tentang Arahan Fungsi Hutan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam; Dengan Persetujuan Bersama, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT KABUPATEN ACEH TAMIANG Dan BUPATI ACEH TAMIANG MEMUTUSKAN : Menetapkan : QANUN TENTANG PEDOMAN USAHA PERTAMBANGAN BAHAN GALIAN GOLONGAN C DALAM KABUPATEN ACEH TAMIANG. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Qanun ini yang dimaksud dengan : 1. Kabupaten adalah Kabupaten Aceh Tamiang; 2. Pemerintah Daerah Kabupaten yang selanjutnya disebut Pemerintah Kabupaten adalah unsur penyelenggara pemerintahan daerah kabupaten yang terdiri atas Bupati dan Perangkat Daerah Kabupaten Aceh Tamiang; 3. Bupati adalah Bupati Aceh Tamiang; 4. Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten selanjutnya disingkat DPRK adalah Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Aceh Tamiang; 5. Satuan Kerja Perangkat Kabupaten yang selanjutnya disingkat SKPK adalah Satuan Kerja Perangkat Kabupaten yang membidangi urusan Pertambangan dan Energi Kabupaten Aceh Tamiang; 6. Kepala SKPK adalah Kepala SKPK yang membidangi urusan Pertambangan dan Energi Kabupaten Aceh Tamiang; 7. Bahan Galian Golongan C adalah bahan galian yang tidak termasuk Bahan Galian Golongan A (strategis) dan Bahan Galian Golongan B (vital) sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967, Juncto Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1986; 8. Usaha Penggalian Bahan galian Golongan C adalah segala kegiatan usaha pertambangan yang meliputi eksplorasi, eksploitasi, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan; 9. Wilayah Pertambangan adalah wilayah untuk melakukan kegiatan usaha pertambangan penggalian bahan galian golongan C; 10. Eksplorasi adalah segala penyelidikan geologi/pertambangan untuk menetapkan lebih teliti atau seksama adanya sifat letakan bahan galian; 11. Eksploitasi adalah kegiatan usaha pertambangan dengan maksud untuk menghasilkan dan memanfaatkan bahan galian; 12. Pengolahan dan pemurnian adalah pekerjaan untuk mempertinggi mutu bahan galian serta untuk memanfaatkan dan memperoleh unsur-unsur yang terdapat pada bahan galian; 13. Pengangkutan adalah segala usaha pemindahan galian dan hasil pengolahan/pemurnian bahan galian dalam wilayah eksplorasi, atau tempat pengolahan/pemurnian; 14. Penjualan adalah segala usaha penjualan bahan galian dan hasil pengolahan /pemurnian bahan galian; 15. Reklamasi adalah setiap pekerjaan yang bertujuan memperbaiki, mengembalikan kemanfaatan atau meningkatkan daya guna lahan yang diakibatkan oleh usaha pertambangan; 16. Konservasi sumber daya alam adalah pengelolaan sumber daya alam yang menjamin pemanfaatannya secara bijaksana dan menjamin keseimbangan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya;

4 17. Surat Izin Pertambangan Daerah untuk selanjutnya disingkat SIPD adalah Surat Izin Kuasa Pertambangan Daerah yang berisikan wewenang untuk melakukan semua kegiatan atau sebagian tahap usaha pertambangan bahan galian Golongan C. BAB II JENIS BAHAN GALIAN GOLONGAN C Pasal 2 Bahan galian yang termasuk Bahan Galian Golongan C adalah : a. Nitrat; b. Phospat; c. Garam batu; d. Asbes; e. Talk; f. Mika; g. Magnesit; h. Grafit; i. Larosit; j. Tawas (alum); k. Leusit; l. Oker; m. Kwarsa; n. Pasir Kwarsa; o. Kaolin; p. Feldspar; q. Gips; r. Bentonit; s. Batu Apung; t. Tras; u. Obsidian; v. Perlit; w. Diatome; x. Scrap; y. Marmer. aa. Batu Tulis; ab. Batu Kapur; ac. Batu Gamping; ad. Batu koral; ae. Dolomit; af. Kalsit; ag. Granit; 1. bubuk/pecah, andesit, basalt, trakhit, bahan bangunan; 2. blok. ah. Berbagai jenis tanah : 1. tanah liat (clay); 2. tanah urug (slit). ai. Pasir; aj. Kerikil; ak. Zeolit; al. Sepanjang bahan galian yang ditetapkan sebagai Bahan Galian Golongan C berdasarkan peraturan perundang-undangan. BAB III WILAYAH PERTAMBANGAN Pasal 3 (1) Bupati menetapkan wilayah pertambangan Bahan Galian Golongan C setelah mendapat analisa teknis dari Kepala SKPK yang membidangi urusan pertambangan dan energi.

5 (2) Bupati menentukan lokasi yang tertutup untuk pertambangan Bahan Galian Golongan C setelah mendapat analisa teknis dari Kepala SKPK yang membidangi urusan pertambangan dan energi. Pasal 4 Penentuan lokasi tertutup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) dapat berupa penutupan sebagian atau seluruh kawasan pertambangan. BAB IV WEWENANG DAN TANGGUNG JAWAB Pasal 5 Wewenang dan tanggung jawab usaha pertambangan Bahan Galian Golongan C dilakukan oleh Bupati melalui Kepala SKPK yang membidangi urusan pertambangan dan energi.. Pasal 6 Wewenang dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 meliputi: a. Membina dan mengkoordinasikan seluruh kegiatan usaha pertambangan Bahan Galian Golongan C yang mempunyai Surat Izin; b. Melakukan penertiban seluruh kegiatan pertambangan Bahan Galian Golongan C yang tidak mempunyai SIPD dan berkoordinasi dengan instansi terkait; c. Melakukan pengendalian dan pengawasan atas kegiatan usaha pertambangan sesuai ketentuan yang berlaku; d. Memberikan Izin Penambangan Bahan Galian Golongan C; e. Melakukan pemungutan retribusi dan/atau pajak usaha pertambangan Bahan Galian Golongan C. BAB V PERIZINAN Pasal 7 (1) Setiap usaha pertambangan Bahan Galian Golongan C hanya dapat dilaksanakan setelah mendapat SIPD. (2) SIPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari : a. SIPD Eksplorasi; b. SIPD Eksploitasi; c. SIPD Pengangkutan; d. SIPD Pengolahan/Pemurnian; e. SIPD Penjualan. (3) Khusus untuk badan usaha yang menggunakan fasilitas penanaman modal, SIPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Perundangundangan. Pasal 8 (1) Untuk memperoleh SIPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1), harus terlebih dahulu mengajukan permohonan kepada Bupati melalui Kepala SKPK yang membidangi urusan pertambangan dan energi dengan melampirkan syarat-syarat : a. Peta wilayah skala 1 : 1000 (satu banding seribu) diikat pada titik pengikat yang tetap dengan batas-batas dan koordinat yang berlaku dibidang pertambangan; b. Bukti pelunasan Pajak Eksploitasi Bahan Galian Golongan C. c. Salinan Akte Pendirian Perusahaan (kecuali usaha perorangan). d. Rekomendasi tidak keberatan dari Camat setempat. e. Rekomendasi tidak keberatan dari Datuk Penghulu setempat. f. Izin Lingkungan; g. Rencana Kerja.

6 h. Fotocopy KTP. i. Pas Foto warna ukuran 3 x 4 sebanyak 2 (dua) lembar. j. Foto lokasi pertambangan dari tiga sudut pandang. (2) Peta wilayah kerja dan peta situasi menyesuaikan luas dengan batas-batas koordinat sesuai kaidah kartografi; Pasal 9 Pengusahaan pertambangan Bahan Galian Golongan C dapat dilakukan oleh : a. Badan Usaha Milik Negara (BUMN); b. Badan Usaha Milik daerah (BUMD) / Perusahaan Daerah; c. Koperasi; d. Badan Hukum Swasta yang didirikan sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan, berkedudukan di Indonesia, mempunyai pengurus yang berkewarganegaraan Indonesia serta bertempat tinggal di Indonesia dengan mengutamakan mereka yang bertempat tinggal di daerah dan mempunyai lapangan usaha di bidang pertambangan; e. Perorangan yang berkewarganegaraan Indonesia dan bertempat tinggal di Indonesia, dengan mengutamakan mereka yang bertempat tinggal di daerah terdapatnya Bahan Galian Golongan C yang bersangkutan; f. Perusahaan dengan modal bersama antara Negara/Badan Usaha Milik Negara di satu pihak dengan Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten atau Perusahaan Daerah dipihak lain; g. Perusahaan dengan modal bersama antara Negara/Badan Usaha Milik Negara, Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten di satu pihak dengan Koperasi, badan hukum swasta atau perorangan dipihak lain. BAB VI INVENTARISASI DATA WILAYAH PERTAMBANGAN Pasal 10 (1) Kepala SKPK yang membidangi urusan pertambangan dan energi berdasarkan pelimpahan wewenang Bupati melakukan inventarisasi dan pemetaan atas pemanfaatan dan penggalian Bahan Galian Golongan C serta potensi Bahan Galian Golongan C yang belum dimanfaatkan. (2) Inventarisasi dan pengukuran potensi atas usaha pertambangan Bahan Galian Golongan C dilakukan terhadap orang/badan usaha yang sudah mempunyai SIPD maupun terhadap wilayah pertambangan yang belum diusahakan. BAB VII PENGENDALIAN DAN PENGAWASAN Pasal 11 (1) Pengendalian dan pengawasan pengusahaan pertambangan Bahan Galian Golongan C dilaksanakan oleh Bupati melalui SKPK yang membidangi urusan pertambangan dan energi. (2) Tata cara pengendalian dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Bupati. (3) Untuk kepentingan pengendalian dan pengawasan, setiap orang, instansi dan/atau badan usaha yang mengusahakan pertambangan Bahan Galian Golongan C wajib memberikan kesempatan kepada petugas untuk melakukan pemeriksaan, penelitian baik yang bersifat administratif maupun bersifat teknis operasional.

7 BAB VIII KETENTUAN PIDANA Pasal 12 (1) Setiap orang/badan hukum yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 7 ayat (1) dan Pasal 11 ayat (3), diancam pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling tinggi Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah). (2) Pelanggaran terhadap Qanun ini merupakan tindak pidana pelanggaran. BAB IX KETENTUAN PENYIDIKAN Pasal 13 (1) Penyidikan terhadap tindak pidana pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1), selain dilakukan oleh Pejabat Penyidik Umum dapat juga dilakukan oleh Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu dilingkungan Pemerintah Daerah yang diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang berlaku. (2) Dalam melaksanakan tugas penyidikan, Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1), berwenang : a. Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang mengenai adanya tindak pidana atas pelanggaran Qanun; b. Melakukan tindakan pertama dan pemeriksaan ditempat kejadian ; c. Menyuruh berhenti seseorang dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka; d. Melakukan penyitaan benda atau surat; e. Mengambil sidik jari dan memotret seseorang; f. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi ; g. Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara ; h. Mengadakan penghentian penyidikan setelah mendapat petunjuk dari penyidik bahwa tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut bukan merupakan tindak pidana dan selanjutnya melalui penyidik memberitahukan hal tersebut kepada penuntut umum, tersangka atau keluarganya.; i. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang dapat dipertanggungjawabkan. (3) Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada penuntut umum melalui penyidik pejabat Polisi Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang berlaku. BAB X KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 14 Biaya untuk inventarisasi wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) dan pengendalian dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) Aceh Tamiang. BAB XI KETENTUAN PERALIHAN Pasal 15 (1) SIPD yang dimiliki oleh Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, Koperasi, Badan Hukum Swasta dan perorangan yang memperoleh hak berdasarkan peraturan yang ada sebelum berlakunya Qanun ini dinyatakan tetap berlaku sampai habis masa berlakunya.

8 (2) Dengan berlakunya Qanun ini, segala ketentuan yang bertentangan dengan Qanun ini dinyatakan tidak berlaku. BAB XII KETENTUAN PENUTUP Pasal 16 Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Qanun ini, sepanjang mengenai peraturan pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati. Pasal 17 Qanun ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Qanun ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Aceh Tamiang. Ditetapkan di Karang Baru pada tanggal 24 Desember 2008 M 26 Dzulhijjah 1429 H Diundangkan di Karang Baru pada tanggal 24 Desember 2008 M 26 Dzulhijjah 1429 H SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN ACEH TAMIANG, BUPATI ACEH TAMIANG, ABDUL LATIEF SYAIFUL ANWAR LEMBARAN DAERAH KABUPATEN ACEH TAMIANG TAHUN 2008 NOMOR 13