Volume 11 Nomor 1 Maret 2014 ISSN 0216-8537 9 7 7 0 2 1 6 8 5 3 7 2 1 11 1 Hal. 1-102 Tabanan Maret 2014 Kampus : Jl. Wagimin No.8 Kediri - Tabanan - Bali 82171 Telp./Fax. : (0361) 9311605
PENYERAHAN WEWENANG PEMERINTAHAN DARI PEMERINTAH PUSAT KEPADA DAERAH DALAM PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH I WAYAN SUARDANA I DEWA GEDE BUDIARTA Fakultas Hukum Universitas Tabanan ABSTRAK Pemberian otonomi kepada pemerintah daerah dimaksudkan untuk mengurangi beban pemerintah pusat dan campur tangan yang terlalu besar mengenai masalah-masalah yang sebetulnya bisa diselesaikan oleh masyarakat setempat, mendidik masyarakat untuk megurus urusannya sendiri serta mendorong masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan terutama di daerahnya. Hal ini dimungkinkan karena masyarakat ikut terlibat secara langsung dalam pengambilan keputusan, dan memperkuat rasa persatuan dan kesatuan nasional. Hal ini didasarkan dengan diberikannya kewenangan yang lebih luas kepada daerah, maka terjadi saling percaya antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah sehingga tidak ada keinginan untuk memisahkan diri. Pelaksanaan desentralisasi akan membawa efektifitas dalam pemerintahan, sebab wilayah negara itu pada umumnya terdiri dari berbagai satuan daerah yang masing-masing memiliki sifat-sifat khusus tersendiri yang disebabkan oleh faktor-faktor geografis. Dengan melaksanakan desentralisasi maka pemerintahan akan menjadi lebih demokratis dan efektif. Hal ini disebabkan karena dalam Negara yang menganut paham demokrasi, seharusnya diberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada rakyatnya untuk ikut berpartisipasi dalam pemerintahan. Dalam UU No. 32 Tahun 2004, Pasal 10 ayat 3, pemerintah pusat mempunyai kewenangan bidang: Politik Luar Negeri, Pertahanan, Keamanan, Yustisi, Moneter dan fiskal nasional, dan Agama. Dengan demikian pemerintah pusat hanya memiliki kewenangan 6 bidang urusan pemerintahan. Sedangkan kewenangan selain 6 bidang yang telah disebutkan tersebut menjadi kewenangan daerah: provinsi dan kabupaten/kota. Kewenangan yang dipegang pusat adalah kewenangan yang bersifat nasional. Sedangkan kewenangan yang diserahkan adalah kewenangan yang bersifat lokalitas (merupakan kepentingan dan kebutuhan masyarakat setempat). Daerah diberi kebebasan untuk menemukan kewenangan yang bersifat lokalitas tersebut menurut prakarsanya sendiri. Kata kunci :Penyerahan wewenang, Pemerintah Pusat Kepada Daerah, Otonomi Daerah PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Negara Republik Indonesia sebagai negara kesatuan menganut asas desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan dengan memberikan kesempatan dan keleluasaan kepada daerah untuk menyelenggarakan otonomi daerah. Asas-asas pemerintahan daerah ada tiga yaitu desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas pembantuan telah berjalan kurang sesuai karena semakin besarnya dominasi pelaksanaan asas dekonsentrasi yang mencerminkan sentralistiknya pemerintahan. (Kaloh, 2002, 25). Tujuan pemberian otonomi daerah adalah mengurangi beban pemerintah pusat dan campur tangan yang terlalu besar 30 mengenai masalah-masalah yang sebetulnya bisa diselesaikan oleh masyarakat setempat, mendidik masyarakat untuk megurus urusannya sendiri, mendorong masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan. Hal ini terjadi karena masyarakat ikut terlibat langsung dalam pengambilan keputusan, dan memperkuat persatuan dan kesatuan nasional. Hal ini didasarkan dengan diberikannya kewenangan yang lebih luas kepada daerah, maka terjadi saling percaya antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah sehingga tidak ada keinginan untuk memisahkan diri. (Hanif Nurcholis, 2005, 33). Dalam pemerintahan menurut asas desentralisasi, hubungan Negara (Pusat) dan Pemerintah Daerah harus dilakukan menurut cara yang telah digariskan dalam peraturan perundang-undangan yang bersangkutan, Majalah Ilmiah Untab, Vol. 11 No. 1 Maret 2014
sebab Negara dan Daerah kedua-duanya merupakan badan hukum publik, yang masingmasing mempunyai badan pemerintahannya sendiri-sendiri dengan hak, kewenangan dan kewajiban sendiri-sendiri. Jadi bila digolongkan secara garis besarnya maka hubungan antara Pusat dan Daerah ini akan mencakup hal-hal yang menyangkut hubungan wewenang, keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam, dan sumber daya lainnya. Oleh Pemerintah Pusat, masingmasing Daerah akan diberikan hak Otonomi yaitu hak dan wewenang untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Sedangkan Daerah-daerah yang mendapatkan hak tersebut disebut Daerah Otonom. Daerah Otonom itu terdiri dari pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota yang dibentuk dan disusun dalam rangka pelaksanaan asas desentralisasi. Asas desentralisasi ini merupakan salah satu asas dalam penyelenggaraan Pemerintahan di Daerah disamping asas yang lainnya yaitu asas dekonsentrasi dan tugas pembantuan (medebewind). Dipihak lain persoalan tentang otonomi bukan hanya persoalan hukum dan pemerintahan saja, akan tetapi ia juga menyangkut aspek sosial, politik, budaya, ekonomi, dan lain sebagainya sehingga persoalannya tidak mungkin dikaji secara monodisipliner. Selain itu juga pengertian mengenai otonomi adalah juga merupakan konsep yang dinamis yang senantiasa mengalami perkembangan sejalan dengan perkembangan pemikiran yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Prof. Nasroen mengemukakan, soal otonomi Daerah ini selain dari soal teknik ketatanegaraan kita, adalah juga soal praktisch beleid sebab banyak syarat-syarat yang harus dipenuhi supaya hak mengurus rumah tangga itu jangan merupakan khayalan belaka. Karena itu pembicaraan tentang Otonomi Daerah ini tidak mungkin kita melepaskan dari ketentuan perundangundangan yang mengatur tentang Pemerintahan di Daerah yang berlaku dewasa ini. Pada prinsipnya otonomi itu adalah sebagai suatu hak dan kewenangan dari suatu Daerah untuk mengatur Daerahnya sendiri. Daerah yang mendapat hak Otonom disebut Daerah Otonom. Daerah Otonom adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada dasarnya, ada dua cara penyerahan kekuasaan. Yang pertama yaitu wewenang atribusi, yaitu wewenang yang melekat pada suatu jabatan. Yang kedua adalah wewenang delegasi, yaitu dalam hal ada pemindahan / pengalihan suatu kewenangan yang ada. Ini harus didasarkan pada undangundang formal. Sehingga tanggung jawab ada pada pemegang delegasi dan atribusi tersebut. Dan dalam hal mandat tidak ada penyerahan wewenang. Karena tanggung jawab masih melekat pada yang meyerahkan mandat tersebut. (Philipus M. Hadjon et al, 2002, 130). RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, maka rumusan masalah yang dapat diangkat adalah: 1. Kriteria apakah yang dipergunakan oleh pemerintah Pusat dalam hal penyerahan wewenang kepada Pemerintah? 2. Bolehkah Pemerintah Daerah menolak urusan yang diserahkan oleh Pemerintah Pusat kepada daerah? PEMBAHASAN 1. Kriteria Normatif Penyerahan wewenang Pemerintahan dari Pemerintah Pusat Kepada Pemerinbtah daerah. Dalam menguraikan tentang hubungan Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah, perlu diperhatikan bahwa Negara Republik Indonesia adalah Negara Kesatuan dan karena itu Negara Republik Indonesia tidak akan mempunyai daerah-daerah di dalam lingkungannya yang bersifat negara pula. Disamping itu dalam membahas hubungan ini perlu juga diperhatikan bahwa di daerah Negara Republik Indonesia didapatkan dua jenis pemerintahan yakni pemerintah dari daerah otonomnya diadakan sebagai pelaksanaan asas desentralisasi dan pemerintah dari wilayah administratif yang diadakan sebagai pelaksanaan asas dekonsentrasi. Sebagai pelaksanaan asas dekonsentrasi maka Pemerintah Pusat dengan alat-alat Pemerintah Pusat yang ditugaskan di I Wayan Suardana, I Dewa Gede Budiarta, Penyerahan Wewenang... 31
daerah-daerah otonom akan melaksanakan pemerintahan sentral di daerah-daerah dan berwenang mengambil keputusan sendiri sampai tingkat tertentu berdasarkan kewenangannya. (Amrah Muslimin, 1982, 5). Ditinjau dari sudut hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dapat dilihat dari adanya hubungan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Kebijakan desentralisasi dimaksudkan untuk memberikan kewenangan kepada daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bahwa tanggung jawab akhir dari penyelenggaraan urusan-urusan pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah adalah menjadi tanggung jawab Pemerintah Nasional (Pusat) karena externalities (dampak) akhir dari penyelenggaraan urusan tersebut akan menjadi tanggung jawab negara. Peran Pusat dalam kerangka otonomi Daerah akan banyak bersifat menentukan kebijakan makro, melakukan supervisi, monitoring, evaluasi, kontrol dan pemberdayaan (capacity building) agar Daerah dapat menjalankan otonominya secara optimal. Sedangkan peran daerah akan lebih banyak pada tatanan pelaksanaan otonomi tersebut. Dalam melaksanakan otonominya Daerah berwenang membuat kebijakan Daerah. Kebijakan yang diambil Daerah adalah dalam batas-batas otonomi yang diserahkan kepadanya dan tidak boleh bertentangan dengan Peraturan Perundangan yang lebih tinggi yaitu norma, standar dan prosedur yang ditentukan Pusat. Dalam pasal 2 angka 4 UU No.32 Tahun 2004 menyatakan bahwa Pemerintahan Daerah dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan memiliki hubungan dengan Pemerintah dan dengan pemerintahan daerah lainnya. Dan pada pasal 2 angka 5 UU tersebut dinyatakan hubungan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) meliputi hubungan wewenang, keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. Aspek hubungan wewenang memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Aspek hubungan keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya dilaksanakan secara adil dan selaras. Agar mampu menjalankan perannya tersebut, daerah diberikan kewenangan yang seluas-luasnya dengan disertai pemberian hak dan kewajiban 32 menyelenggarakan otonomi daerah dalam kesatuan sistem penyelenggaraan pemerintahan daerah. Daerah Otonom diberi wewenang untuk mengelola urusan pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah. Seluas apapun Otonomi Daerah, tetap ada dalam batas dan ruang lingkup wewenang Pemerintah. Pemerintah Pusat yang mengatur hubungan antara Pusat dan Daerah yang dituangkan dalam Peraturan Perundangan yang bersifat mengikat kedua belah pihak. Namun dalam pengaturan hubungan tersebut haruslah memperhatikan aspirasi Daerah sehingga tercipta sinerji antara kepentingan Pusat dan Daerah. Pemberian kewenangan kepada Daerah untuk mengurus suatu urusan pemerintahan janganlah sampai menciptakan in-efisiensi atau high cost economy. Untuk mencapai efisiensi maka diperlukan skala ekonomi dalam pelaksanaannya. Pencapaian skala ekonomi terkait dengan luasan cakupan wilayah dimana urusan pemerintahan tersebut dilaksanakan. Untuk mencapai skala ekonomi tersebut, maka perlu dilakukan kerjasama antar daerah untuk optimalisasi pembiayaan dari penyelenggaraan urusan tersebut. Dalam penyelenggaraan urusan-urusan pemerintahan tersebut terdapat adanya interkoneksi dan inter-dependensi karena keterkaitan dari urusan pemerintahan tersebut sebagai suatu system. Urusan yang menjadi kewenangan Pusat tidak akan berjalan optimal apabila tidak terkait (inter-koneksi) dengan Provinsi dan Kabupaten/ Kota, demikian juga sebaliknya. Untuk itu maka diperlukan adanya koordinasi untuk menciptakan sinerji dalam melaksanakan kewenangan mengelola urusanurusan tersebut. Namun demikian setiap tingkatan pemerintahan mempunyai kewenangan penuh (independensi) untuk mengelola urusan pemerintahan yang menjadi domain kewenangannya. Sebagai ilustrasi: jalan negara yang menjadi kewenangan Pusat tidak akan optimal apabila tidak terkait dengan jalan Provinsi yang menjadi kewenangan Provinsi mengelolanya. Jalan Provinsi juga tidak akan optimal apabila tidak terkait dengan jalan Kabupaten/Kota. Secara keseluruhan jaringan jalan tersebut merupakan suatu sistem jalan yang didukung oleh sub sistem jalan Negara, jalan Provinsi dan jalan Kabupaten/Kota. Setiap tingkatan pemerintahan tersebut mempunyai Majalah Ilmiah Untab, Vol. 11 No. 1 Maret 2014
kewenangan penuh (independent) untuk mengelola jalan yang menjadi domain kewenangannya. Namun dalam menjalankan kewenangannya masing-masing, harus ada koordinasi diantara ketiga tingkatan pemerintahan tersebut, agar jalan sebagai suatu sistem dapat berfungsi secara optimal. Hubungan kewenangan antara daerah otonom Provinsi dengan daerah otonom Kabupaten/Kota tidaklah hierarkis. Provinsi mempunyai kewenangan mengurus urusanurusan pemerintahan yang bersifat antar Kabupaten/Kota (regional) yang berdampak regional, sedangkan Kabupaten/Kota mempunyai kewenangan menangani urusanurusan pemerintahan yang berskala lokal yang dampaknya lokal. Keterkaitan antara kewenangan dan dampak adalah untuk menjamin akuntabilitas dari penyelenggaraan otonomi daerah tersebut. Pemerintah Daerah Kabupaten/ Kota akan bertanggung jawab atas urusan-urusan pemerintahan yang berdampak lokal. Pemerintah Daerah Provinsi akan bertanggung jawab atas urusan-urusan pemerintahan yang berdampak regional. Pemerintah Pusat bertanggung jawab secara nasional untuk menjamin agar otonomi daerah dapat berjalan secara optimal. Konsekwensinya Pemerintah bertanggung jawab untuk mengawasi, memonitor, mengevaluasi dan memberdayakan Daerah agar mampu menjalankan otonominya secara efektif, efisien, ekonomis dan akuntabel. Untuk supervisi dan fasilitasi terhadap pelaksanaan otonomi di tingkat Provinsi dilakukan langsung oleh Pemerintah. Sedangkan untuk melakukan kegiatan supervisi dan fasilitasi terhadap pelaksanaan otonomi di tingkat Kabupaten/Kota, mengingat kondisi geografis Indonesia yang sangat luas, tidak akan efektif dan efisien kalau dilakukan langsung oleh Pemerintah. Untuk itu Pemerintah berdasarkan prinsip dekonsentrasi menugaskan Gubernur selaku wakil Pemerintah di Daerah untuk melakukan kegiatan supervisi dan fasilitasi tersebut. 2. Kriteria Normatif Penyerahan Urusan Pemerintahan oleh Pemerintah Pusat Kepada Daerah Pelaksanaan desentralisasi akan membawa efektifitas dalam pemerintahan, sebab wilayah negara itu pada umumnya terdiri dari berbagai satuan daerah yang masing-masing memiliki sifat-sifat khusus tersendiri yang disebabkan oleh faktor-faktor geografis. Dikatakan oleh Mariun bahwa dengan melaksanakan desentralisasi maka pemerintahan akan menjadi lebih demokratis. Hal ini disebabkan karena dalam Negara yang menganut paham demokrasi, seharusnya diberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada rakyatnya untuk ikut serta dalam pemerintahan. (Josef Riwu Kaho, op.cit, h. 11). Semboyan demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Kalau semboyan ini hendak direalisasi, maka tidaklah cukup dengan melaksanakan pada tingkat nasional atau Pusat saja, tetapi juga pada tingkat daerah. Hal ini berhubungan langsung dengan kenyataan bahwa di dalam wilayah negara itu terdapat masyarakat-masyarakat setempat yang masingmasing diliputi oleh keadaan khusus setempat, sehingga masing-masing masyarakat mempunyai kebutuhan/kepentingan khusus yang berbeda-beda dari daerah ke daerah. Sesuai dengan pasal 1 angka (1) UU No. 32 Tahun 2004, Pemerintah Pusat selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dalam UU No. 32 Tahun 2004, Pasal 10 ayat 3, pemerintah pusat mempunyai kewenangan bidang: Politik Luar Negeri, Pertahanan, Keamanan, Yustisi, Moneter dan fiskal nasional, dan Agama. Dengan demikian pemerintah pusat hanya memiliki kewenangan 6 bidang urusan pemerintahan. Sedangkan kewenangan selain 6 bidang yang telah disebutkan tersebut menjadi kewenangan daerah: provinsi dan kabupaten/kota. Kewenangan yang dipegang pusat adalah kewenangan yang bersifat nasional. Sedangkan kewenangan yang diserahkan adalah kewenangan yang bersifat lokalitas (merupakan kepentingan dan kebutuhan masyarakat setempat). Daerah diberi kebebasan untuk menemukan kewenangan yang bersifat lokalitas tersebut menurut prakarsanya sendiri. Dalam hal kewenangan pusat ini perlu diingat kembali bahwa dalam negara kesatuan selalu terdapat kewenangan yang sepenuhnya menjadi kewenangan pusat. Keenam bidang tersebut 100% diselenggarakan pusat. I Wayan Suardana, I Dewa Gede Budiarta, Penyerahan Wewenang... 33
Sedangkan kewenangan selain 6 bidang tersebut diserahkan kepada daerah. Meskipun selain enam bidang kewenangannya tersebut diserahkan kepada daerah bukan berarti pusat menyerahkan sepenuhnya (100%). Pusat masih memegang kewenangan yang diserahkan tersebut khususnya bidang pengawasan dan pembinaan. Dengan demikian, daerah tidak bisa bebas sepenuhnya dalam menyelenggarakan kewenangan yang diserahkan tersebut. Provinsi sebagai wilayah administrasi hanya menerima kewenangan adminitrasi, bukan kewenangan politik, dari pemerintah pusat. Kepala wilayah administrasi adalah wakil pemerintah pusat di daerah. Wilayah administrasi hanya melaksanakan apa yang diputuskan oleh pemerintah pusat. Ia tidak mempunyai wewenang membuat keputusan politik/kebijakan sendiri. Dalam UU No. 32 Tahun 2004 kewenangan provinsi telah ditetapkan secara jelas pada Pasal 13 ayat 1. Pasal ini menjelaskan bahwa urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah provinsi merupakan urusan dalam skala provinsi. Disamping urusan wajib, provinsi juga mempunyai urusan yang bersifat pilihan. Urusan pemerintahan provinsi yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan, dan potensi daerah yang bersangkutan. Dalam hal provinsi sebagai daerah otonom maka pemerintah kabupaten/kota dan desa bukanlah bawahan propinsi, tetapi propinsi dalam kedudukannya sebagai wilayah administrasi maka pemerintah kabupaten/kota adalah bawahannya, pemerintah kabupaten/kota merupakan subordinat wilayah administrasi provinsi. Dalam hal provinsi sebagai daerah otonom, maka pemerintah kabupaten/kota adalah samasama daerah otonom. Hubungan provinsi dengan kabupaten/kota sebagai daerah otonom adalah hubungan koordinasi. Jadi bukan hubungan hierarki antara atasan dan bawahan. Dalam Pasal 14 UU No. 32 Tahun 2004 menetapkan urusan pemerintahan, pemerintah kabupaten/kota yang bersifat wajib mencakup urusan-urusan di bawah yang berskala kabupaten/kota, adapun urusan yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai 34 dengan kondisi, kekhasan dan potensi unggulan daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. Tugas pembantuan yang diberikan oleh propinsi sebagai daerah otonom kepada kabupaten/kota meliputi sebagian tugas dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas kabupaten dan kota serta sebagian tugas pemerintahan dalam bidang tertentu lainnya, termasuk juga sebagian tugas pemerintahan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan oleh kabupaten/kota. Adapun tugas pembantuan yang diberikan provinsi sebagai wilayah administrasi kepada kabupaten/kota mencakup sebagian tugas dalam bidang pemerintahan yang dilimpahkan kepada gubernur sebagai wakil pemerintah. Jadi, tugas pembantuan yang diberikan kepada kabupaten/kota adalah kewenangan yang merupakan kompetensi pemerintah pusat dan pemerintah propinsi baik sebagai daerah otonom maupun sebagai wilayah administrasi. Secara normatif pemerintah daerah tidak boleh menolak urusan yang diserahkan oleh pemerintah pusat. Karena pembagian urusan pemerintahan dilaksanakan berdasarkan beberapa kriteria, antara lain kriteria eksternalitas, kriteria akuntabilitas dan kriteria efisiensi. Urusan wajib menurut Pasal 7 ayat 1 PP No. 38 Tahun 2007 adalah urusan pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintahan daerah propinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota yang berkaitan dengan pelayanan dasar. Penyelenggaraan urusan wajib berpedoman pada standar pelayanan minimal yang ditetapkan pemerintah dan dilaksanakan secara bertahap. Pemerintahan daerah yang melalaikan penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat wajib, penyelenggaraannya dilaksanakan oleh pemerintah dengan pembiayaan bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja daerah yang bersangkutan. Sebelum penyelenggaraan urusan pemerintahan ini, pemerintah melakukan langkah-langkah pembinaan terlebih dahulu berupa teguran, instruksi, pemeriksaan sampai dengan penugasan pejabat pemerintah ke daerah yang bersangkutan untuk memimpin penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat wajib tersebut. Pemerintah berkewajiban melakukan pembinaan kepada pemerintahan daerah untuk mendukung kemampuan pemerintahan daerah dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan Majalah Ilmiah Untab, Vol. 11 No. 1 Maret 2014
yang menjadi kewenangannya. Apabila pemerintahan daerah belum juga mampu menyelenggarakan urusan pemerintahan setelah dilakukan pembinaan, maka untuk sementara penyelenggaraannya dilaksanakan oleh pemerintah. Pemerintah menyerahkan kembali penyelenggaraan urusan pemerintahan apabila pemerintahan daerah telah mampu menyelenggarakan urusan pemerintahan. KESIMPULAN Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik kesimpulan yaitu: 1. Kriteria normatif penyerahan wewenang pemerintah Pusat kepada Daerah yaitu apabila: (1) urusan tersebut lebih efisien dan efektif kalau dilaksanakan oleh pemerintah daerah, (2). urusan itu apabila ditangani oleh Pemerintah daerah dapat mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat, (3). apabila urusan tersebut dapat mempercepat terlaksananya proses demokrasi dari bawah. 2. Secara normatif pemerintah daerah tidak bisa menolak urusan yang bersifat wajib, hanya saja di dalam penyelenggaraannya didasarkan pada kemampuan daerah itu sendiri, sehingga urusan yang belum mampu dilaksanakan oleh pemerintah daerah, untuk sementara penyelenggaraannya dilaksanakan oleh Pemerintah sampai pemerintah daerah yang bersangkutan dinyatakan telah mampu menyelenggarakan urusan pemerintahan tersebut. Saran Pemerintah hendaknya selalu mempertimbangkan kemampuan dan kesiapan daerah baik dari segi dana maupun sumber daya manusianya, agar nantinya tidak terjadi ketidakmampuan daerah dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan, atau dengan kata lain tujuan pemberian otonomi tidak tercapai. DAFTAR BACAAN Bagir Manan, 2001, Meyongsong Fajar Otonomi Daerah, Pusat Studi Hukum (PSH) Fakultas Hukum UII, Yogyakarta. H. Siswanto Sunarno, 2005, Hukum Pemerintahan Daerah Di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta. Hanif Nurcholis, 2005, Teori dan Praktik Pemerintahan Otonomi Daerah, PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta. Josef Riwu Kaho, 2002, Prospek Otonomi Daerah di Negara Republik Indonesia, Raja Grafindo Persada. Kaloh, 2002, Mencari Bentuk Otonomi Daerah, Rineka Cipta, Jakarta. Krisna D. Danumurti, Umbu Rauta, 2000, Otonomi Daerah Perkembangan Pemikiran dan Pelaksanaan, Citra Aditya Bakti, Bandung. Philipus M. Hadjon et al, 2002, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Sarundajang, 1999, Arus Balik Kekuasaan Pusat ke Daerah, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta. Syamsuddin Haris, 2007, Desentralisasi dan Otonomi Daerah, LIPI Press, Jakarta. Widjaja, HAW, 2001, Pemerintahan Desa atau marga Berdasarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah, Raja Grafindo Persada, Jakarta. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 38 Tahun 2007 Tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, Dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. I Wayan Suardana, I Dewa Gede Budiarta, Penyerahan Wewenang... 35