LAPORAN AKHIR PROGRAM IPTEKS BAGI MASYARAKAT (I b M)

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN

BUPATI MALANG SAMBUTAN BUPATI MALANG PADA ACARA PENERIMAAN KUNJUNGAN KERJA DPR RI KOMISI X TANGGAL : 23 SEPTEMBER 2016

BAB I PENDAHULUAN. nusantara maupun wisatawan mancanegara. Hal ini dikarenakan. yang dapat dimanfaatkan sebagai kegiatan di bidang pariwisata.

Landasan Konseptual Perencanaan dan Perancangan. Pengembangan Kawasan Kerajinan Gerabah Kasongan BAB I PENDAHULUAN

I. PENDAHULUAN. untuk memotivasi berkembangnya pembangunan daerah. Pemerintah daerah harus berupaya

BAB V PENUTUP. Dari hasil penelitian sebagaimana disampaikan dalam bab-bab sebelumnya, terdapat beberapa kesimpulan yang dirumuskan sebagai berikut.

BAB I PENDAHULUAN. BAB I Pendahuluan. Youdastyo / Kompleks Wisata Perikanan Kalitirto I- 1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PEMBERDAYAAN PENGUSAHA JASA WISATA DAN KULINER DI KAWASAN CANDI CETO

PENERAPAN TEKNOLOGI IRAT BAMBU DALAM UPAYA PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN KUALITAS KIPAS PADA MASYARAKAT PENGRAJIN JIPANGAN BANGUNJIWO KASIHAN BANTUL

BAB V ARAHAN PENGEMBANGAN WISATA KAMPUNG NELAYAN KELURAHAN PASAR BENGKULU

WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

PROVINSI BANTEN PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 68 TAHUN 2016 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. ragam bentuk seni kerajinan yang sudah sangat terkenal di seluruh dunia. Sejak

BAB I PENDAHULUAN. menjangkau kalangan bawah. Masyarakat di sekitar obyek-obyek wisata

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. didasari oleh kebutuhan masyarakat Manding untuk hidup layak. Adanya

BAB I PENDAHULUAN. dapat dijadikan sebagai prioritas utama dalam menunjang pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kota Yogyakarta merupakan salah satu kota di Indonesia yang terus

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program D-III Usaha Perjalanan Wisata TUGAS AKHIR. Wulan Yuniarti C

PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG TIMUR NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG DESA WISATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

V GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. Sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang berupa keanekaragaman

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

banyaknya peninggalan sejarah dan kehidupan masyarakatnya yang memiliki akar budaya yang masih kuat, dalam kehidupan sehari-hari seni dan budaya

BAB 1 PENDAHULUAN. Sebagai negara yang berpaham walfare state, Negara Republik Indonesia

STUDI PERAN STAKEHOLDER DALAM PENGEMBANGAN SARANA PRASARANA REKREASI DAN WISATA DI ROWO JOMBOR KABUPATEN KLATEN TUGAS AKHIR. Oleh:

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan negara yang memiliki beraneka ragam potensi

BAB I PENDAHULUAN. berbagai faktor termasuk di dalamnya keberadaan penginapan (hotel, homestay,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. tersebut pada saat ini dikatakan sebagai era ekonomi kreatif yang

BAB IV PENUTUP. A. Kesimpulan

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Industri pariwisata saat ini semakin menjadi salah satu industri yang dapat

2015 STRATEGI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROWISATA DI PUNCAK DARAJAT DESA PASIRWANGI KABUPATEN GARUT

I. PENDAHULUAN. salah satunya didorong oleh pertumbuhan sektor pariwisata. Sektor pariwisata

BAB I PENDAHULUAN. untuk berkembang. Salah satunya dibuktikan oleh peningkatan jumlah wisatawan

T A Y O G R T A WALIKOTA YOGYAKARTA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNIVERSITAS DIPONEGORO LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN (LP3A)

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang

PEMERINTAH KABUPATEN SINTANG

BAB I PENDAHULUAN. Gejala Pariwisata telah ada semenjak adanya perjalanan manusia dari suatu

PUSAT RESTORAN MASAKAN TRADISIONAL YOGYAKARTA DENGAN KONSEP TROPIS MODERN BAB I PENDAHULUAN

WALIKOTA PROBOLINGGO PROVINSI JAWA TIMUR

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Pariwisata merupakan salah satu sektor penyumbang devisa negara serta

BAB I PENDAHULUAN. agar mampu berkompetisi dalam lingkaran pasar persaingan global. Tidak hanya dengan

BAB I PENDAHULUAN. negara/wilayah baik alam maupun budaya ini, kini semakin berkembang pesat

BAB I PENDAHULUAN. besar untuk dikembangkan. Peluang itu didukung oleh kondisi kondisi alamiah

BAB III POTENSI OBYEK WISATA BATU SERIBU. A. Lokasi Obyek Wisata Batu Seribu. Kota Sukoharjo. Secara geografis sebagian besar merupakan wilayah

WALIKOTA TASIKMALAYA

BAB I PENDAHULUAN. pesat. Dengan semakin meningkatnya penyelenggaraan pariwisata yang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara negara di Asia Tenggara yang dilintasi garis khatulistiwa

BAB IV KONDISI UMUM DESA WUKIRSARI

PENGEMBANGAN PARIWISATA PERDESAAN (SUATU USULAN STRATEGI BAGI DESA WISATA KETINGAN)

3. Pelayanan terhadap wisatawan yang berkunjung (Homestay/Resort Wisata), dengan kriteria desain : a) Lokasi Homestay pada umumnya terpisah dari

PERATURAN DESA BANGUNJIWO NOMOR 02 TAHUN 2015

Tengah berasal dari sebuah kota kecil yang banyak menyimpan peninggalan. situs-situs kepurbakalaan dalam bentuk bangunan-bangunan candi pada masa

BUPATI MANDAILING NATAL PROVINSI SUMATERA UTARA PERATURAN BUPATI MANDAILING NATAL NOMOR 28 TAHUN 2015 TENTANG TANDA DAFTAR USAHA PARIWISATA

IV.C.5. Urusan Pilihan Kepariwisataan

BAB 1 PENDAHULUAN Kondisi Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi kreatif di Indonesia. Konsep Ekonomi Kreatif merupakan sebuah

BAB I PENDAHULUAN. adalah Kabupaten Bojonegoro. Terdapat suatu tempat wisata yang disebut

BAB I PENDAHULUAN. menjadi komoditas yang mempunyai peran penting dalam pembangunan

BAB III STRATEGI PROMOSI DAN KERJASAMA DINAS PARIWISATA KEBUDAYAAN PEMUDA DAN OLAHRAGA KABUPATEN SRAGEN

W A L I K O T A Y O G Y A K A R T A

BAB I PENDAHULUAN. npembangunan nasional. Hal ini dilakukan karena sektor pariwisata diyakini dapat

BAB I PENDAHULUAN. Pariwisata telah menjadi salah satu industri terbesar di dunia, dan ini merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Bali merupakan salah satu daerah tujuan wisata utama di Indonesia yang

KEPALA DESA PULUTAN KECAMATAN WONOSARI KABUPATEN GUNUNGKIDUL PERATURAN DESA PULUTAN KECAMATAN WONOSARI KABUPATEN GUNUNGKIDUL NOMOR 6 TAHUN 2017

LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA TIRTO ARGO DI UNGARAN

BUPATI KLATEN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLATEN NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN KLATEN TAHUN

BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1. Dalam keputusan ini yang dimaksud dengan: 1. Daerah adalah Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta;

I-1 BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. alam yang luar biasa yang sangat berpotensi untuk pengembangan pariwisata dengan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. Kebijakan Otonomi Daerah yang diterapkan oleh pemerintah

mempertahankan fungsi dan mutu lingkungan.

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN. penelitian yang telah dibahas oleh peneliti pada bab-bab sebelumnya mengenai

PERATURAN DESA BANGUNJIWO KECAMATAN KASIHAN, KABUPATEN BANTUL NOMOR 06 TAHUN 2015 T E N T A N G ORGANISASI DAN TATA KERJA PEMERINTAH DESA BANGUNJIWO

PARTISIPASI KELOMPOK USAHA SOUVENIR REBO LEGI DALAM SISTEM PARIWISATA DI KLASTER PARIWISATA BOROBUDUR TUGAS AKHIR. Oleh : GRETIANO WASIAN L2D

BAB I PENDAHULUAN. bermacam macam ras, suku, dan etnis yang berbeda-beda. Masing-masing daerah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam rangka pembangunan nasional di Indonesia, pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. negara ataupun bagi daerah objek wisata tersebut. antara lain unsur budaya, transportasi, akomodasi, objek wisata tersebut

KEPALA DINAS SEKRETARIS

PERENCANAAN LANSKAP KAWASAN WISATA BUDAYA BERBASIS INDUSTRI KERAJINAN GERABAH DI DESA BANYUMULEK, KECAMATAN KEDIRI, LOMBOK BARAT

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Pada bab ini penulis akan menyimpulkan dari berbagai uraian yang telah

Konsep Design Mikro (Bangsal)

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

BAB I PENDAHULUAN. kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi global. Dari tahun ke tahun, jumlah. kegiatan wisata semakin mengalami peningkatan.

BAB I PENDAHULUAN I.1. Pengertian Judul Penataan dan Pengembangan Wisata Kampung Rebana di Tanubayan, Bintoro, Demak. I.1.1.

BAB I PENDAHULUAN. sumber daya nasional yang berkeadilan, serta perimbangan keuangan pusat dan

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, diperoleh kesimpulan

1 PENDAHULUAN. Tabel 1. Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha, ** (Miliar Rupiah)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Transkripsi:

LAPORAN AKHIR PROGRAM IPTEKS BAGI MASYARAKAT (I b M) I b M MANAJEMEN DESA WISATA JIPANGAN (Mono Tahun) Oleh: Yohana Ari Ratnaningtyas, S.E., M.Si. NIDN 00 050273 04 Agnes WidyasmoroS.Sn., M.A.. NIDN 00 060578 06 Dibiaya oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Sesuai Surat Perjanjian Penugasan Program Pengabdian Nomor: 072/SP2H/PPM/DIT.LITABMAS/II/2015, tanggal 5 Februari 2015 INSTITUT SENI INDONESIA YOGYAKARTA LEMBAGA PENGABDIAN PADA MASYARAKAT November 2015 1

HALAMAN PENGESAHAN 2

RINGKASAN Sasaran kegiatan ini adalah pengelola desa wisatadan ketua-ketua kelompok yang terkait serta masyarakat sekitar. Setelah peserta mendapatkan materi pelatihan, diharapkan terjadi peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dengandemikiantarget yang diharapkan dapat tercapai, yakni:1) meningkatnya kemampuan dan pengetahuan pengelola desa wisata dalam hal manajemen dan pemasaran 2)tersedianya brosur dan company profile sebagai sarana promosi yang berisi informasi tentang produk Desa Wisata Jipangan Metode yang akan dipakai dalam pencapaian tersebut didahului dengan sosialisasi programuntuk menciptakan komunikasi serta membantu meningkatkan pemahaman pengelola tentang pentingnya program pengembangandesa wisata. Dalam proses ini pengelola desa wisata bersama-sama dengan tim pengusul mengidentifikasi dan mengkaji permasalahan, potensi serta peluangnya.setelah teridentifikasi disusun rencana kegiatan yang konkrit dan realistis dalam bentuk program pelatihan yang bertujuanuntuk meningkatkan kemampuan peserta dalam memahami masalah-masalah yang menjadi kendala bagi pengembangan desa wisata dan memberikan pengalaman praktis sesuai dengan perkembangan terkini. Materi yang akan diberikan adalahseni Pertunjukan, Manajemen Seni, Pelatihan Pariwisata dan Pelatihan Pemasaran.Kemudian diadakanmonitoring dan evaluasi yangmerupakan suatu proses penilaian, pengkajian dan pemantauan kegiatan ini, baik prosespelaksanaan maupun hasil dan dampaknyayangdilakukan agar sesuai dengan tujuan semula. Kata kunci : manajemen, desa wisata 3

PRAKATA Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan Berkat dan RahmatNya sehingga Laporan Pengabdian Masyarakat dengan judul IbM Manajemen Desa Wisata Jipangan dapat terlaksana dengan baik dan lancar. Laporan ini dibuat sebagai bentuk pertanggungjawaban atas pengabdian yang telah dilakukan. Pada kesempatan ini, diucapkan terimakasih kepada: 1. Lembaga Pengabdian Pada masyarakat ISI Yogyakarta; 2. Dekan Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta; 3. Desa Wisata Jipangan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul; 4. Semua pihak yang telah bekerja sama dan memberikan bantuan hingga selesainya laporan pengabdian pada masyarakat ini. Semoga laporan ini dapat memberikan bermanfaat bagi masyarakat.kritik dan saran sangat diharapkan untuk perbaikan dan pengembangan di masa mendatang.apabila terdapat kekurangan dalam penulisan laporan ini mohon dimaafkan. Yogyakarta, November 2015 Pelaksana 4

DAFTAR ISI Table of Contents I b M MANAJEMEN DESA WISATA JIPANGAN... 1 HALAMAN PENGESAHAN... 2 RINGKASAN... 3 PRAKATA... 4 DAFTAR ISI... 5 BAB 1... 6 PENDAHULUAN... 6 A. Analisis Situasi... 6 B. Permasalahan Mitra... 9 BAB 2... 11 TARGET DAN LUARAN... 11 BAB 3... 12 METODE PELAKSANAAN... 12 BAB 4... 14 KELAYAKAN PERGURUAN TINGGI... 14 BAB 5... 16 PELAKSANAANKEGIATAN... 16 DAFTAR PUSTAKA... 18 LAMPIRAN... 19 Foto foto Kegiatan... 19 Rekapitulasi Anggaran... 22 Log Book... 24 5

BAB 1 PENDAHULUAN A. Analisis Situasi Upaya pengembangan desa wisata secara terpadu oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Bantul merupakan langkah yang strategis dan memiliki prospek yang bagus. Keberhasilan pengembangan Desa Wisata tergantung pada kesan baik dan menyenangkan yang diperoleh wisatawan setelah mengunjungi desa wisataitu. Kesan yang baik/menyenangkan akan terbentuk jika para wisatawan merasa mendapatkan apa yang diharapkan, mulai dari kebutuhan akan makan minum, akomodasi serta kebutuhan untuk cinderamata. Sebaliknya jika kesan yang diperoleh wisatawan adalah tidak baik / tidak menyenangkan dapat dipastikan bahwa pengembangan desa wisata tidak akan berhasil yang berarti wisatawan yang datang tidak dapat terpenuhi harapannya atau kebutuhannya. Salah satu desa wisata yang saat ini menjadi perhatian dari Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul adalah Desa Wisata Jipangan.Desa wisata ini berada di dusun Jipangan yang merupakan salah satu dusun di desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.Desa Bangunjiwo berjarak sekitar 11km ke arah Selatan dari Ibukota Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dan dari Ibukota Kabupaten Bantul berjarak 6 km. Daerah ini mudah dicapai oleh semua jenis kendaraan dan telah dihubungkan dengan jalan beraspal serta merupakan desa wisata yang berada disebelah selatan desa wisatakasongan yang merupakan salah satu pusat industri gerabah yang mulai berkembang di Kabupaten Bantul. Secara geografis Pedukuhan Jipangan merupakan daerah pegunungan dan berupa hamparan sawah. Luas wilayah Pedukuhan Jipangan 71.489 Ha, jumlah penduduk ± 1680 jiwa, terbagi atas 10 Rukun Tetangga dan terdiri dari 455 Kepala Keluarga.Menggarap lahan pertanian dan pembuatan produk 6

kerajinan bambu merupakan penghasilan pokok warga demi kelangsungan hidupnya.produk kipas bambu (souvenir) yang dirintas sejak tahun 1985 hingga sekarang mampu mendobrak perekonomian dan merupakan penghasilan andalan warga Jipangan. Desa Kerajinan Jipangan mempunyai rintisan atau gagasan untuk mempromosikan hasil produk industri kerajinan sebagai desa tujuan wisata baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara dimana pedukuhan-pedukuhan penghasil produk kerajinan tersebut diberi nama KAJIGELEM yangmerupakan singkatan dari: - Pedukuhan Kasongan, sentra industri kerajinan gerabah - Pedukuhan Jipangan, sentra industri kerajinan kipas bambu - Pedukuhan Gendeng, sentra kerajina tatah dan sungging kulit perkamen - Pedukuhan Lemahdadi, sentra industri kerajinan patung batu Desa WisataJipanganyang berada di dusun Jipangan merupakan salah satu aset desa yang saat ini sedang difokuskan untuk berkembang. Secara administratif dusun ini berbatasan dengan Desa Kasongan di sebelah Utara, Pendowoharjodan sungai Bedog di sebelah Timur, Kalangandi sebelah Selatan dan Bibis di sebelah Barat. Desa WisataJipangan ini masih merupakan desa wisata yang baru karena baru mulai terbentuk di tahun 2013, atas prakarsa para warga masyarakat dan pemuda yang sadar akan wisata. Hal ini didasarkan pada komitmen dan dorongan yang kuat untuk menggali potensi yang dimiliki dan berupaya untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan warga sekitar. Desa wisata ini mulai dapat perhatian dan dicanangkan sebagai desa wisata baru pada 15 Maret 2014 dan diprediksi dapat berkembang dengan cepat karena tekat dan komitmen yang kuat dari para penggerak sadar wisata.desa Wisata Jipangan memiliki beberapa potensi diantaranya suasana khas pedesaan yang masih tradisional lengkap dengan kultur budayanya. Lokasi desa yang dekat dengan persawahan dan sungai sehingga sangat potensial untuk dapat dikembangkan wisata air dan pengembangan 7

pertanian.disamping itu terdapat beberapa pengembangan homeindustry baik kerajinan maupun kuliner ditambah dengan tekat dan semangat pemuda yang ingin bersama-sama memajukan desanya. Sampai saat ini Desa WisataJipangan telah memiliki beberapa fasilitas diantaranyamushola, area lahan sebagai wahana out bound yang rencananya untuk berbagai macam permainan air dan darat, pembangunan pendopo limasan, lengkap dengan fasilitas kamar mandi, homestay, tempat pelatihan kerajinan dan showroom Selain kelompok pengrajin kipas bambu MAS PANJI yang menjadi unggulan, Jipangan juga kaya akan atraksi kesenian dan budaya, seperti : jathilan, karawitan, gejok lesung,dan sebagainya. Salah satunya adalah kelompok Kudho Kencono. Disamping dapat menikmati atraksi budaya, wisatawan juga berkesempatan untuk berlatih secara langsung menabuh gamelan maupun gejok lesung, sehingga mereka akan mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan berkesenian di Jipangan. Fasilitas yang adaini akan terus dikembangkan lagi sehingga dapat memberikan kenyamanan serta kepuasan bagi wisatawan yang datang menikmati suasana pedesaan yang asri. Potensi dan semangat dari pengelola desa wisata ini saja tidak cukup, perlu diimbangi dengan adanya tambahan pengetahuan dan ketrampilan untuk mengelola dan memasarkan desa wisata ini dengan lebih optimal agar terjadi kunjungan wisatawan yang terus meningkat dan selalu diakhiri dengan kepuasan atas penggunaan produk dan jasa layanan dari Desa Wisata Jipangan.Disamping itu masyarakat di desa tersebut juga harus dibina dan disiapkan menjadi warga yang sadar wisata agar bisa menerima kunjungan wisatawan sebagai tamu yang harus dihormati sehingga wisatawan merasa nyaman dan diharapkan menjadi pendukung meningkatkan sumber penghasilan bagi mereka. 8

B. Permasalahan Mitra Berdasarkan pengamatan lebih lanjut terhadap kondisi internal, ditemukan beberapa permasalahan yang dihadapi antara lain: 1. Keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) Pada umumnya desa wisata mengalami keterbatasan SDM, dengan ciri sebagai berikut: 1) Rendahnya jiwa wirausaha 2). Kemampuan dan ketrampilan mengelola yang masih sangat terbatas 3).Kurang berani mengambil tindakan yang dirasa berisiko, sebuah tindakan hanya akan diambil jika mereka yakin bahwa tindakan tersebut pasti aman dan tidak memerlukan pemikiran yang rumit. 4). Sudah merasa cukup puas dengan yang dijalani dan dicapai. Kondisi SDM demikian ini diharapkan segera dapat diminimalkan sehingga pengelolaan desa wisataini dapat berkembang dengan lebih optimal.dengan berbagai pelatihan diharapkan mereka dapat segera mengadopsi perkembangan teknologi baru untuk meningkatkan daya saing produk yang dihasilkannya. 2. Lemahnya Manajemen Bisnis Dengan keterbatasan sumberdaya yang dimiliki, pada umumnya masih lemah dalam hal pengelolaan usahanya, antara lain dengan ciri sebagai berikut: 1). Pengelolaan usaha kurang professional 2). Manajemen usaha bersifat tradisional dan kekeluargaan 3). Manajemen keuangan: tidak ada pemisahan antara keuangan keluarga dengan kelompok 4).Tidak ada perencanaan menyeluruh atas proses produksi dan pemasaran 5). Dokumentasi kegiatan dan arsip kegiatan yang belum tertata dengan baik. 3. Lemahnya Teknik Pemasaran Dengan berbagai keterbatasan yang dimiliki, desa wisata ini juga masih mempunyai berbagai kelemahan dalam hal pemasaran, ditandai dengan ciri sebagai berikut: 1). Jaringan pemasaran belum luas 2). Kurangnya 9

event promosi 3). belum mempunyai kesempatan untuk mengikuti pameran maupun promosi 4). Pemasaran yang dilakukan masih bersifat konvensional karena keberadaan sebagai desa wisata masih tergolong baru, sehingga masih sangat dibutuhkan pendampingan, baik material maupun sumber daya manusia yang mengelolanya. 10