Keywords: Rice Husk Ash, Geopolymer, Alkali Activator, dosage activator.

dokumen-dokumen yang mirip
PENGARUH PERAWATAN DAN UMUR TERHADAP KUAT TEKAN BETON GEOPOLIMER BERBASIS ABU TERBANG

PEMANFAATAN ABU SEKAM PADI DENGAN TREATMENT HCL SEBAGAI PENGGANTI SEMEN DALAM PEMBUATAN BETON

Keywords: Acid, Cement, Peat Water, Rice Husk Ash, Resistance.

KARAKTERISTIK MORTAR DAN BETON GEOPOLIMER BERBAHAN DASAR LUMPUR SIDOARJO

Analisa Kuat Tekan Mortar Geopolimer Berbahan Abu Sekam Padi dan Kapur Padam

BAB I PENDAHULUAN. dengan cara membakar secara bersamaan campuran calcareous ( batu gamping )

Agregat Buatan Geopolimer dengan Bahan Dasar Abu Terbang (Fly Ash) dan Abu Sawit (Palm Oil Fuel Ash)

BAB I PENDAHULUAN. konstruksi, khususnya dalam proses produksi Semen Portland (SP).

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

PENGARUH MOLARITAS AKTIFATOR ALKALIN TERHADAP KUAT MEKANIK BETON GEOPOLIMER DENGAN TRAS SEBAGAI PENGISI

PEMANFAATAN LUMPUR SIDOARJO SECARA MAKSIMAL DENGAN CAMPURAN FLY ASH DALAM PEMBUATAN MORTAR GEOPOLIMER

Keywords: palm oil fuel ash, geopolymer, paving block, modulus activator, dosage activator

Kuat Tekan dan Kuat Tarik Belah Beton OPC dan OPC Abu Sekam Padi di Lingkungan Gambut

BAB III LANDASAN TEORI

KETAHANAN DI LINGKUNGAN ASAM, KUAT TEKAN DAN PENYUSUTAN BETON DENGAN 100% FLY ASH PADA JANGKA PANJANG

Scanned by CamScanner

DURABILITAS BETON BUBUK KULIT KERANG DI LINGKUNGAN AIR LAUT

KARAKTERISTIK MORTAR PADA LIMBAH ABU KELAPA SAWIT. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Kampus Binawidya Km 12,5 Pekanbaru, 28293, Indonesia

PENGGUNAAN PASIR SILIKA DAN PASIR LAUT SEBAGAI AGREGAT BETON The Use of Sea and Silica Sand for Concrete Aggregate

STUDI AWAL PENGARUH PENAMBAHAN FOAM PADA PEMBUATAN BATA BETON GEOPOLIMER BERBAHAN DASAR LUMPUR SIDOARJO

FAKTOR - FAKTOR PENYEBAB PEMUAIAN DALAM PEMBUATAN AGREGAT RINGAN GEOPOLIMER BERBASIS LUMPUR SIDOARJO

PENGARUH PENAMBAHAN METAKAOLIN TERHADAP KUAT TEKAN DAN MODULUS ELASTISITAS BETON MUTU TINGGI

PENGARUH PENAMBAHAN BORAKS DAN KALSIUM OKSIDA TERHADAP SETTING TIME DAN KUAT TEKAN MORTAR GEOPOLIMER BERBAHAN DASAR FLY ASH TIPE C

EFEK PERAWATAN TERHADAP KARAKTERISTIK BETON GEOPOLIMER

PERBANDINGAN BEBERAPA PROSEDUR PEMBUATAN GEOPOLIMER BERBAHAN DASAR FLY ASH TIPE C

PERBANDINGAN PEMAKAIAN AIR KAPUR DAN AIR TAWAR SERTA PENGARUH PERENDAMAN AIR GARAM DAN AIR SULFAT TERHADAP DURABILITAS HIGH VOLUME FLY ASH CONCRETE

BAB III LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

PENGARUH VARIASI KADAR SUPERPLASTICIZER TERHADAP NILAI SLUMP BETON GEOPOLYMER

PENGARUH PENAMBAHAN SUPERPLASTICIZER PADA KINERJA BETON GEOPOLIMER

PENGARUH RASIO AGREGAT BINDER TERHADAP PERILAKU MEKANIK BETON GEOPOLIMER DENGAN CAMPURAN ABU SEKAM PADI DAN ABU AMPAS TEBU


PENGARUH SUBTITUSI ABU SERABUT KELAPA (ASK) DALAM CAMPURAN BETON. Kampus USU Medan

PENGARUH PENGGUNAAN SOLID MATERIAL ABU TERBANG DAN ABU SEKAM PADA KUAT TEKAN BETON GEOPOLIMER

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

STUDI BETON GEOPOLIMER SEBAGAI SUBSTITUSI BETON KONVENSIONAL

PENGARUH PENAMBAHAN WATERGLASS PADA SIFAT MEKANIK BETON. Oleh: Anita Setyowati Srie Gunarti, Subari, Guntur Alam ABSTRAK

PENGARUH KOMPOSISI SOLID MATERIAL ABU TERBANG DAN ABU SEKAM PADI PADA BETON GEOPOLIMER DENGAN ALKALINE ACTIVATOR SODIUM SILIKAT DAN SODIUM HIDROKSIDA

SIFAT MEKANIK BETON GEOPOLIMER BERBAHAN DASAR FLY ASH JAWA POWER PAITON SEBAGAI MATERIAL ALTERNATIF

BAB I PENDAHULUAN. pemerintah membuat program untuk membangun pembangkit listrik dengan total

TINJAUAN PUSTAKA. didukung oleh hasil pengujian laboratorium.

BAB I PENDAHULUAN. dipakai dalam pembangunan. Akibat besarnya penggunaan beton, sementara material

PEMERIKSAAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK PADA PASIR. Volume (cc) 1 Pasir Nomor 2. 2 Larutan NaOH 3% Secukupnya Orange

PENGARUH PENAMBAHAN KAPUR PADAM TERHADAP KUAT TEKAN DAN MODULUS ELASTISITAS BETON GEOPOLYMER

PENGARUH RASIO W/S TERHADAP KUAT TEKAN GEOPOLYMER MORTAR PADA KONDISI SS/SH 12 MOLAR 0,5 DAN 2,5

KUAT TEKAN MORTAR DENGAN MENGGUNAKAN ABU TERBANG (FLY ASH) ASAL PLTU AMURANG SEBAGAI SUBSTITUSI PARSIAL SEMEN

KONTRIBUSI SERAT SINTETIS PADA PENINGKATAN KUAT TARIK LENTUR BETON GEOPOLIMER

Efek Tipe Superplasticizer terhadap Sifat Beton Segar dan Beton Keras pada Beton Geopolimer Berbasis Fly Ash

KUAT TEKAN BETON GEOPOLIMER DENGAN VARIASI BERAT AGREGAT DAN BINDER PADA UMUR BETON 21 DAN 28 HARI

PENGARUH TREATMENT PADA BOTTOM ASH TERHADAP KUAT TEKAN BETON HIGH VOLUME FLY ASH

PENGGUNAAN BUBUK KULIT KERANG DARAH DAN LOKAN SEBAGAI BAHAN PENGGANTI SEMEN Revina Oktaviani 1), Monita Olivia 2), Ismeddiyanto 3) 1)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENGARUH SUBSTITUSI PARSIAL SEMEN DENGAN ABU TERBANG TERHADAP KARAKTERISTIK TEKNIS BETON

TUGAS AKHIR PEMANFAATAN LUMPUR BAKAR SIDOARJO UNTUK BETON RINGAN DENGAN CAMPURAN FLY ASH, FOAM, DAN SERAT KENAF

BAB III LANDASAN TEORI. Beton pada umumnya adalah campuran antara agregat. kasar (batu pecah/alam), agregat halus (pasir), kemudian

PEMANFAATAN BOTTOM ASH DAN FLY ASH TIPE C SEBAGAI BAHAN PENGGANTI DALAM PEMBUATAN PAVING BLOCK

PEMANFAATAN LIMBAH DEBU PELEBURAN BIJIH BESI (DEBU SPONS) SEBAGAI PENGGANTI SEBAGIAN SEMEN PADA MORTAR

STUDI PEMANFAATAN ABU SEKAM PADI SEBAGAI PENGISI DALAM PEMBUATAN BETON

KUAT TEKAN BETON GEOPOLIMER DENGAN BAHAN UTAMA BUBUK LUMPUR LAPINDO DAN KAPUR (155M)

Sodium sebagai Aktivator Fly Ash, Trass dan Lumpur Sidoarjo dalam Beton Geopolimer

PEMBUATAN AGREGAT RINGAN GEOPOLIMER BERBASIS LUMPUR SIDOARJO DAN FLY ASH DENGAN MENGGUNAKAN FOAM AGENT

KARAKTERISTIK BETON GEOPOLIMER BERDASARKAN VARIASI WAKTU PENGAMBILAN FLY ASH

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PENGARUH PENAMBAHAN FLY ASH PADA BETON MUTU TINGGI DENGAN SILICA FUME DAN FILLER PASIR KWARSA

Pasta Geopolimer Ringan Berserat Berbahan Dasar Lumpur Sidoarjo Bakar Dan Fly Ash Perbandingan 1 : 3 Dengan Pengembang Foam

BATAKO BERLUBANG GEOPOLIMER BERBAHAN DASAR LUMPUR SIDOARJO

BAB V HASIL PEMBAHASAN

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI

Sodium sebagai Aktivator Fly Ash, Trass dan Lumpur Sidoarjo dalam Beton Geopolimer

PASTA RINGAN GEOPOLIMER BERBAHAN DASAR LUMPUR BAKAR SIDOARJO DAN FLY ASH PERBANDINGAN 3:1 DENGAN TAMBAHAN ALUMINUM POWDER dan SERAT ALAM

PENGARUH RASIO AKTIVATOR TERHADAP PERFORMA BETON GEOPOLIMER FLY ASH

KAJIAN KORELASI RASIO-AIR-POWDER DAN KADAR ABU TERBANG TERHADAP KINERJA BETON HVFA

Spesifikasi lapis fondasi agregat semen (LFAS)

PENGARUH PEMAKAIAN ABU SEKAM PADI SEBAGAI CEMENTITIOUS TERHADAP PERKEMBANGAN KUAT TEKAN BETON. Abstract

STUDI AWAL PEMBUATAN HIGH VOLUME LIGHT WEIGHT SIDOARJO MUD CONCRETE BRICK

KUAT TARIK LENTUR BETON GEOPOLYMER BERBASIS ABU TERBANG (FLY ASH)

PEMANFAATAN ABU TERBANG (FLY ASH) SEBAGAI BAHAN SUBSTITUSI SEMEN PADA BETON MUTU NORMAL

KUAT TEKAN BETON GEOPOLYMER BERBAHAN DASAR ABU TERBANG (FLY ASH)

Penyisihan Kadar Logam Fe dan Mn Pada Air Gambut Dengan Pemanfaatan Geopolimer Dari Kaolin Sebagai Adsorben

PEMAKAIAN VARIASI BAHAN TAMBAH LARUTAN GULA DAN VARIASI ABU ARANG BRIKET PADA KUAT TEKAN BETON MUTU TINGGI

KUAT TEKAN BETON YANG MENGGUNAKAN PASIR KADAR LUMPUR TINGGI DENGAN MENAMBAHKAN FLY ASH

PENGARUH VARIASI BENTUK PAVING BLOCK TERHADAP KUAT TEKAN

BAB II STUDI PUSTAKA

PENAMBAHAN CaCO 3, CaO DAN CaOH 2 PADA LUMPUR LAPINDO AGAR BERFUNGSI SEBAGAI BAHAN PENGIKAT

PENGARUH PENAMBAHAN ABU SEKAM TERHADAP KUAT TEKAN DAN POROSITAS BETON DENGAN MENGGUNAKAN AGREGAT HALUS BATU KAPUR KRISTALIN TUGAS AKHIR PROGRAM SI

TINJAUAN KUAT TEKAN BETON GEOPOLYMER DENGAN FLY ASH SEBAGAI BAHAN PENGGANTI SEMEN

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

REAKTIVITAS BERBAGAI MACAM POZZOLAN DITINJAU DARI SEGI KEKUATAN MEKANIK

BATA BETON GEOPOLIMER DARI BAHAN FLY ASH LIMBAH PLTU TANJUNG JATI MEMILIKI BANYAK KEUNGGULAN

KUAT TEKAN BETON DAN WAKTU IKAT SEMEN PORTLAND KOMPOSIT (PCC)

PENGGUNAAN AKSELERATOR PADA BETON YANG MENGGUNAKAN PEREKAT BERUPA CAMPURAN SEMEN PORTLAND TIPE I DAN ABU TERBANG

STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH SUHU PERAWATAN PADA KEKUATAN MORTAR GEOPOLIMER BERBAHAN DASAR FLY ASH

PEMANFAATAN LUMPUR SIDOARJO PADA PEMBUATAN BATA RINGAN NON STRUKTURAL DENGAN METODE CELLULAR LIGHTWEIGHT CONCRETE (CLC)

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN. Agregat yang digunakan untuk penelitian ini, untuk agregat halus diambil dari

Transkripsi:

PERANCANGAN MORTAR GEOPOLIMER ABU SEKAM Januar Fitri 1), Monita Olivia 2), Iskandar Romey S. 2) 1) Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Riau 2) Dosen Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Riau Kampus Bina Widya J. HR Soebrantas KM 12,5 Pekanbaru, Kode Pos 28293 Email : Januar.Fitri@gmail.com Abstract This study present about geopolymer mortar with rice husk ash (RHA) as binder. Both material are used their silica element were activated by alkaline solution. Alkaline solution was prepared by combining sodium silicate and sodium hydroxide of 18 M. Compressive strength of geopolymer mortar that was studied based variation of modulus activator, dosage activator, curing time, and curing temperature. Research showed that optimum mix proportion of geopolymer mortar with Rice Husk Ash (RHA) which result the optimum compressive strength. The ratio of sodium silicate solution to sodium hydroxide solution by mass was 2.5:1. The mass ratio of alkaline solution to blended ashes was 9:10. Test specimens 5 5 5 cm cube were prepared and cured at room temperature (28ºC) for 3 days and heat-cured at 70ºC for 24 hours. The speciemens were cured at room temperature for 7 days until testing date. Result from this research represents compressive strength the mortar as according to variation molar of sodium hydroxide and used a little addition of water. Keywords: Rice Husk Ash, Geopolymer, Alkali Activator, dosage activator. A. PENDAHULUAN A.1 Latar belakang Beberapa dekade terakhir, kota-kota besar di dunia telah dipenuhi oleh bangunanbangunan beton dan infrastruktur yang memanfaatkan teknologi beton. Berkembang pesatnya teknologi beton bagi pembangunan infrastruktur di era modern berarti juga meningkatnya manufaktur semen (Susilorini dan Suryoatmono, 2007). Olivia (2011) menjelaskan bahwa produksi Ordinary Portland Cement (OPC) memberikan kontribusi sekitar 7-10% dari total karbon dioksida (CO2) secara global, dan telah ditemukan bahwa satu ton OPC yang diproduksi akan melepaskan satu ton CO2 ke atmosfer. Emisi karbon yang tinggi sangat berkontribusi terhadap pemanasan global dan perubahan iklim (Olivia, 2011). Upaya pengurangan pemakaian semen dapat dilakukan dengan memanfaatkan pozzolan sebagai campuran beton, salah satunya yaitu penggunaan abu sekam padi yang merupakan salah satu material geopolimer. Penggunaan abu sekam padi ini akan mengurangi limbah pada produksi padi. Bakri (2008) menjelaskan bahwa penggunaan bahan pengganti semen dengan komposisi campuran yang inovatif akan mengurangi jumlah semen yang digunakan sehingga secara ekologis dapat mengurangi emisi gas-gas rumah kaca dan penggunaan konsumsi energi fosil bumi pada industri semen. A.2 Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Mengkaji kuat tekan mortar yang menggunakan abu sekam padi pada umur 7 hari dengan variasi suhu dan alkali activator yang digunakan. 2. Mengetahui karateristik kandungan abu sekam padi. 3. Mengkaji faktor faktor yang mempengaruhi geopolimer. B. TINJAUAN PUSTAKA B.1 Mortar Geopolimer Mortar adalah suatu campuran yang terdiri dari semen, agregat halus dan air baik dalam keadaan dikeraskan ataupun tidak dikeraskan (SNI 15-2049-2004). Sedangkan Geopolimer merupakan bahan anorganik yang dikembangkan oleh Davidovits, seorang ilmuwan Perancis. Pada tahun 1978, Jom FTEKNIK Volume 3 No.2 Oktober 2016 1

Davidovits mengemukakan bahwa larutan alkali dapat digunakan untuk mereaksikan silicon (Si) dan aluminium (Al) yang terdapat pada sumber material alami atau buangan hasil sampingan industry seperti abu terbang dan abu sekam menjadi sebuah binder, yaitu suatu bahan yang memiliki sifat seperti semen. B.2 Material Penyusun Mortar Geopolimer B.2.1 Abu Sekam Padi Abu Sekam padi (RHA) adalah produk sampingan dari pembakaran sekam padi. Abu sekam padi (RHA) ini merupakan produk yang berpotensi besar untuk dimanfaatkan sebagai konstruksi dan bangunan bahan. Kandungan silika yang tinggi (> 80 wt.%) menjadikan abu sekam padi sebagai sumber potensi bahan untuk menghasilkan geopolimer (Part et al., 2015). Abu sekam padi yang digunakan pada penelitian ini adalah abu sekam yang lolos saringan no.200. B.2.4 Air Air dalam campuran mortar geopolimer lebih sedikit penggunaannya dibandingkan dengan mortar biasa. Penggunaan air dalam campuran geopolimer yang tidak terlalu banyak akan menghasilkan kuat tekan mortar yang tinggi. Pengurangan jumlah air ini berdampak pada rendahnya tingkat workability yang berakibat sulitnya proses pengadukan dan pencetakan. B.2.5 Bahan Tambah Penggunaan air dalam campuran mortar geopolimer yang sedikit sangat berpengaruh terhadap kemudahan pengerjaan (workability). Untuk itu digunakan bahan tambah kimia yang dapat mengurangi jumlah air dan meningkatkan workability. Jenis bahan tambah kimia ini dapat berupa superplastisizer. Jenis superplastisizer yang terdapat dipasaran adalah jenis Sikament-NN. Dosis yang digunakan biasanya berkisar antar 1%-2% dari berat binder. B.3 Faktor-Faktor yang mempengaruhi Geopolimer Gambar 1. Abu Sekam lolos Saringan no. 200 Sumber: Dokumentasi Penelitian, 2015 B.2.2 Larutan Aktivator Pada umumnya, larutan alkali yang digunakan dalam geopolimerisasi adalah kombinasi dari natrium hidroksida (NaOH) atau potassium hidroksida (KOH) dengan natrium silikat atau potassium silikat (Hardjito dan Rangan, 2005). Dari beberapa penelitian geopolimer, diketahui bahwa penggunaan campuran NaOH dan natrium silikat sebagai larutan alkali aktivator menghasilkan kekuatan yang terbaik (Adam, 2009). Pada penelitian ini digunakan kombinasi NaOH dan natrium silikat sebagai larutan activator. B.2.3 Agregat Halus Agregat halus adalah agregat yang semua butirannya menembus ayakan berlubang 4,75 mm. Agregat halus yang digunakan sebaiknya adalah agregat yang telah memenuhi standar yang berlaku (ASTM C33,1982). B.3.1 Bahan Dasar Bahan dasar yang digunakan pada geopolimer sangat mempengaruhi sifat geopolimer yang dihasilkan (Nazari et al., 2012). Bahan dasar geopolimer merupakan pozzolan. Pozzolan merupakan bahan yang mengandung senyawa silikon dan aluminium yang memiliki sedikit atau tidak sama sekali sifat seperti semen, namun pada keadaan halus dan kondisi lembab, bereaksi dengan kalsium hidroksida dan membentuk suatu campuran yang memiliki sifat perekat seperti semen (Maholtra dan Mehta, 1996).Tingkat kehalusan bahan dasar sangat mempengaruhi reaksi pozzolan. Semakin halus bahan dasar yang digunakan, maka akan semakin reaktif dalam proses geopolimerisasi. B.3.2 Suhu Perawatan Suhu pada saat proses perawatan (curing) berpengaruh terhadap kuat tekan. Suhu yang lebih tinggi menghasilkan kuat tekan yang lebih tinggi. Reaksi geopolimer akan cepat seiring penambahan suhu. Penelitian terdahulu menyatakan bahwa hasil yang diperoleh dari perawatan suhu oven menunjukkan bahwa suhu dapat meningkatkan kuat tekan (Chindaprasirt et al., 2007). Jom FTEKNIK Volume 3 No.2 Oktober 2016 2

B.3.3 Waktu Perawatan Waktu perawatan berpengaruh terhadap kuat tekan yang dihasilkan. Penelitian yang dilakukan oleh Hardjito dan Rangan (2005) menunjukkan bahwa semakin lama perawatan maka kuat tekan beton semakin tinggi. B.3.3 Larutan Aktivator Jenis alkali aktivator yang sering digunakan dan mudah di dapatkan adalah larutan natrium hidroksida (NaOH) dan larutan natrium silikat (Na 2SiO 3). Modulus aktivator merupakan perbandingan massa SiO 2 dan Na 2O pada larutan alkali aktivator. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa dosis aktivator menunjukkan peningkatan kuat tekan yang drastis seiring meningkatnya konsentrasi hingga mencapai konsentrasi optimum. Setelah melewati konsentrasi maksimum, kekuatan tidak terlalu meningkat kemudian mengalami penurunan (Putri, 2013). C. METODOLOGI PENELITIAN C.1 Persiapan Penelitian Pada tahan ini dilakukan analisis pendahuluan terhadap abu sekam padi (Rice Husk Ash) dan analisa material yang digunakan. Analisis yang dilakukan terhadap abu sekam padi adalah analisis kandungan kimia untuk mengetahui karateristik kimia dari abu sekam tersebut. Analisis material yang dilakukan terhadap bahan pembuat mortar geopolimer yaitu agregat halus (pasir) didapat melalui hasil dari pengujian karakteristik agregat halus, yaitu pengujian analisa saringan, pengujian berat volume, pengujian berat jenis, pengujian kadar air, pengujian kadar lumpur, danpengujian kadar organik agregat halus. C.2 Pelaksanaan Penelitian Pada tahap ini dilakukan pembuatan mortar geopolimer abu sekam dengan dimensi 5x5x5cm. Pembuatan mortar geopolimer dilakukan terhadap 9 mix design. Larutan alkali yang digunakan adalah kombinasi dari Natrium Hidroksida (NaOH) dan Natrium Silikat (Na 2SiO 3). NaOH yang digunakan adalah NaOH 18M dan Na 2SiO 3 2,3 mol. Bahan-bahan penyusun mortar geopolimer abu sekam diperoleh dengan perhitungan berdasarkan perbandingan sesuai tabel berikut. Tabel 1. Mix Design Mortar geopolimer Abu Sekam Trial NaSiO 3 /NaOH Alkali/ Abu Waktu perawatan Suhu perawatan ( o C) (jam) T1 1,5 0,3 8 25 T2 1,5 0,35 12 70 T3 1,5 0,4 24 90 T4 2 0,3 12 90 T5 2 0,35 24 25 T6 2 0,4 8 70 T7 2,5 0,3 24 70 T8 2,5 0,35 8 90 T9 2,5 0,4 12 25 Sumber : Data Penelitian, 2015 Proses pencampuran dilakukan dengan mencampur bahan kering (abu sekam dan agregat halus) dan aktivator alkali secara manual. Bahan-bahan kering dicampur lebih dulu kemudian larutan alkali (natrium silikat, natrium hidroksida, air) dituangkan sedikit demi sedikit dan dicampur terus menerus sampai campuran dapat dikombinasikan dengan baik membentuk mortar segar dan siap untuk di cetak. Rest Period untuk mortar geopolimer ini adalah 3 hari dan perawatan mortar dilakukan dengan mengoven sesuai suhu dan waktu yang telah ditentukan. Setelah perawatan, mortar dibiarkan di suhu ruang hingga umur pengujian. C.3 Tahap Pengujian Pada tahap ini dilakukan pengujian mortar geopolimer abu sekam sesuai umur rencana yaitu 7 hari. Pengujian yang dilakukan adalah pengujian kuat tekan untuk mengetahui ketahanan. Setiap variasi memiliki 3 buah benda uji, kemudian data kuat tekan diolah dengan merata-ratakan ketiga hasil benda uji tersebut. Gambar 2. Pengujian Kuat Tekan Mortar Sumber: Dokumentasi Penelitian, 2015 Jom FTEKNIK Volume 3 No.2 Oktober 2016 3

Agregat Halus Uji Material Mulai Persiapan Bahan dan Alat Air Abu Sekam Mix Design dan Pencampuran Mortar Perawatan Benda Uji Pengujian Kuat Tekan Hasil dan Pembahasan Kesimpulan n Selesai Gambar 3. Bagan Alir Penelitian D. ANALISIS DAN PEMBAHASAN D.1 Analisis Karateristik Abu Sekam Larutan Alkali Tabel 2. Komposisi Kimia Abu Sekam Parameter % Berat Silikon dioksida (SiO 2) 88,96 Aluminium oksida (Al 2O 3) 1,48 Feroksida (Fe 2O 3) 0,24 Kalsium oksida (CaO) 1,31 Magnesium oksida (MgO) 0,68 Natrium oksida (Na 2O) 0,07 Pottasium oksida (K 2O) 1,18 Sulfur trioksid (SO 3) 0,44 Kadar air 2,32 Sumber: Balai Riset dan Standarisasi Industri Padang Dari tabel 3 diketahui bahwa abu sekam padi dari Air Tiris memiliki kandungan silika yang sangat tinggi, yaitu sebesar 88,96% dan cocok digunakan sebagai bahan dasar penyusun mortar geopolimer. Kandungan kimia abu sekam ini memperlihatkan bahwa abu sekam telah memenuhi syarat kimia pozzolan, sehingga dapat digunakan sebagai bahan dalam pembuatan mortar geopolimer. D.2 Analisis Propertis Pasir D.2.1 Ukuran Partikel Pasir Pengujian analisa saringan menghasilkan modulus kehalusan sebesar 2,83. Hal ini telah memenuhi standar spesifikasi modulus kehalusan untuk agregat halus pada SNI-03-1968-1990 yaitu sebesar 1,5-3,8. Dengan demikian agregat halus ini dapat digunakan sebagai material pembentuk mortar. Dari hasil pemeriksaan ukuran butiran pasir yang dilakukan menunjukkan sebagian besar hasil ayakan berada pada range grafik gradasi dan batas gradasi agregat halus zona 2. D.2.2 Analisis Kandungan Lumpur pasir Kadar lumpur agregat halus sebesar 4,12% telah memenuhi standar spesifikasi kadar lumpur yaitu <5% sehingga agregat ini dapat digunakan sebagai material pembentuk mortar. Lumpur yang menempel pada permukaan agregat menandakan kandungan lempung atau kotoran pada agregat yang dapat menghalangi terjadinya lekatan antara agregat dan pasta. Pengujian kadar lumpur dihitung dengan perbandingan antara tinggi pasir dan tinggi lumpur. D.2.3 Analisis Kandungan Organik Pasir Pengujian kadar organik dilakukan dengan memasukkan sampel pasir ke dalam wadah bening dan mencampurkan larutan NaOH sebanyak 3%. Hasil pengujian kadar organik agregat halus yang diperoleh adalah warna no.2. Hal ini telah memenuhi standar spesifikasi dengan syarat yang minimal warna yang dihasilkan yaitu nomor 3 berdasarkan SNI 03-2816-1992. D.2.4 Analisis Kadar Air Pasir Pemeriksaan kadar air pasir dilakukan dalam kondisi SSD. Hasil kadar air agregat halus sebesar 4,11% telah memenuhi standar spesifikasi kadar air pada SNI 03-1971-1990, yaitu 3% - 5% sehingga agregat ini dapat digunakan sebagai material pembentuk mortar. Kadar air menandakan kandungan air yang terdapat pada agregat. Jom FTEKNIK Volume 3 No.2 Oktober 2016 4

D.2.5 Analisis Berat Jenis dan Berat Volume Pasir Tabel 3. Hasil Pemeriksaan Berat Jenis dan Berat Volume Analisis Kondisi SSD Berat Jenis 2,60 kg/dm³ Berat Isi Padat 1,76 kg/dm³ Berat Isi Gembur 1,58 kg/dm³ Sumber : Hasil Analisis laboratorium, 2015 perhitungan awal. Semakin sedikit jumlah air yang digunakan maka akan semakin tinggi kuat tekan yang dihasilkan. Hasil variasi add water yang diperoleh dapat dilihat pada gambar 4 dan gambar 5. Hasil pemeriksaan terhadap berat jenis dan berat volume pasir telah memenuhi standar spesifikasi SNI 03-1969-1990 (berat jenis) dan SNI 03-4804-1998 (berat volume). D.3 Hasil Pengujian Mortar Geopolimer Abu Sekam D.3.1 Jumlah Larutan Alkali Aktivator Pada Pengujian ini dilakukan perubahan jumlah larutan alkali aktivator karena pada saat pencampuran tidak terbentuk campuran mortar segar dalam bentuk pasta. Campuran yang dihasilkan terlalu kering, Sehingga dilakukan perubahan jumlah larutan alkali aktivator yang digunakan. Jumlah larutan alkali aktivator dikali 3 dari komposisi semula mengikuti penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Putri (2013) sehingga rasio larutan alkali dan abu sekam berubah menjadi 0,9, 1,05, dan 1,2. Saat pengadukan, campuran yang dihasilkan masih kering dan belum membentuk campuran mortar segar. Oleh karena itu, dilakukan beberapa modifikasi kembali terhadap jumlah air (add water) yang digunakan. D.3.2 Variasi Add Water Pada Pengujian ini dilakukan Variasi penambahan air. Variasi penambahan air yitu sebanyak 100 gr, 70 gr, dan jumlah air yang dikali 2 dari komposisi semula. Pencampuran ini dilakukan karena campuran yang masih kering dan membutuhkan waktu yang lama untuk membentuk campuran mortar segar. Pada variasi penambahan air ini, NaOH yang digunakan adalah NaOH 14M dan jumlah alkali dikali 3 dari komposisi semula. Pengujian kuat tekan dilakukan pada umur 7 hari. Hasil yang didapat yaitu campuran mortar segar yang tidak terlalu kering maupun cair pada penambahan air menjadi dua kali dari Gambar 4. Grafik Hasil Kuat Tekan Variasi Add Water 100 gr Variasi Add Water 100 gr dilakukan pada campuran T1 dan T2, namun hasil kuat tekan yang didapat masih sangat rendah meskipun perawatan yang dilakukan yang dilakukan sudah mulai pada perawatan suhu yang tinggi, yaitu pada suhu 70 o C. Oleh karena itu, untuk campuran selanjutnya dilakukan pengurangan jumlah air menjadi 70 gr. Gambar 5. Grafik Hasil Kuat Tekan Variasi Add Water 70 gr Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa variasi Add Water 70 gr yang dilakukan menghasilkan kuat tekan yang tinggi pada campuran T7. Namun, kuat tekan yang dihasilkan masih rendah. Variasi add water selanjutnya dilakukan pada campuran T7 dengan penambahan air yang dikali 2 dari komposisi semula. Hasil kuat tekan yang didapat masih rendah, yaitu sebesar 11,73 MPa. Oleh karena Jom FTEKNIK Volume 3 No.2 Oktober 2016 5

itu, perlu dilakukan variasi terhadap larutan NaOH yang digunakan. D.3.3 Variasi Natrium Hidroksida (NaOH) Pada pengujian ini dilakukan variasi molar NaOH yaitu 10M, 12 M, 14M, 16M untuk campuaran T7. Semakin tinggi nilai molar NaOH maka makin banyaknya ketersediaan ion OH- untuk bereaksi dengan Si dan Al. Tingginya jumlah molar yang digunakan maka kuat tekan yang dihasilkan akan semakin tinggi. Hasil yang diperoleh dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4. Hasil Kuat Tekan Variasi Molar NaOH Nomor Benda Kuat Tekan (MPa) Variasi Molar NaOH Uji 12M 14M 16M 18M 1 9,6 12 12,8 14,8 2 10,8 11,2 10,4 14 3 9,2 12 12,8 13,2 Rerata 9,87 11,73 12,00 14,00 Sumber : Data Penelitian Hasil kuat tekan yang dihasilkan dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 5. Hasil Pengujian Kuat Tekan Mix Design Trial NaSiO 3/ NaOH Ms Waktu (jam) Suhu ( o C) Kuat Tekan (MPa) T1 1,5 0,9 8 25 9.73 T2 1,5 1,05 12 70 10,27 T3 1,5 1,2 24 90 7,47 T4 2 0,9 12 90 13,60 T5 2 1,05 24 25 10,00 T6 2 1,2 8 70 9,33 T7 2,5 0,9 24 70 14,00 T8 2,5 1,05 8 90 12,93 T9 2,5 1,2 12 25 10,27 Sumber : Data Penelitian, 2015 Gambar 7. Grafik Hasil Pengujian Kuat Tekan Variasi Campuran Gambar 6. Grafik Hasil Kuat Tekan Variasi M NaOH Dari tabel dan grafik diatas, dapat disimpulkan bahwa campuran yang menggunakan larutan NaOH 18 M memiliki kuat tekan yang tinggi. Maka, untuk 9 campuran ini digunakan larutan NaOH 18 M. D.3.4 Mix Design Dengan pengujian variasi yang dilakukan, maka komposisi mortar geopolimer menggunakan NaOH 18M, jumlah alkali yang dikali 3, dan jumlah air yang dikali 2 dari komposisi sebelumnya, Pengujian kuat tekan dilakukan pada saat mortar geopolimer berumur 7 hari pada 9 mix design untuk melihat perbedaan dari hasil yang didapatkan. Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa kuat tekan mortar geopolimer tertinggi adalah pada variasi campuran T7 sebesar 14 MPa dengan rasio Ms 2,5, rasio larutan alkali dan abu sekam 0,9, dan perawatan suhu 70 o C selama 24 jam. Sedangkan Kuat tekan terendah adalah variasi campuran T3 sebesar 7,47 MPa dengan rasio Ms 1,5, rasio larutan alkali dan abu sekam 1,2, dan perawatan suhu 90 o C selama 24 jam. Untuk pengujian kuat tekan umur 7 hari, suhu terlalu tinggi dan terlalu rendah tidak terlalu baik untuk mortar geopolimer abu sekam. Waktu perawatan oven yang paling baik untuk mortar geopolimer abu sekam ini adalah selama 24 jam. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya, bahwa semakin lama perawatan maka kuat tekan beton semakin tinggi (Hardjito dan Rangan, 2005). Jom FTEKNIK Volume 3 No.2 Oktober 2016 6

E. KESIMPULAN DAN SARAN E.1 Kesimpulan 1. Abu sekam padi merupakan salah satu material yang memiliki sifat pozzolan karena memiliki kandungan silika yang sangat tinggi. 2. Kuat tekan mortar geopolimer abu sekam dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti variasi NaOH yang digunakan, rasio Natrium Silikat dan NaOH, rasio larutan alkali dan abu sekam, suhu perawatan, dan waktu perawatan. 3. Kuat tekan tertinggi pada umur pengujian 7 hari didapat pada campuran dengan rasio Natrium Silikat dan NaOH 2,5, rasio larutan alkali dan abu sekam 0,9, dan perawatan suhu 70 o C selama 24 jam. 4. Peningkatan molar NaOH yang digunakan dalam campuran geopolimer abu sekam akan meningkatkan kuat tekan mortar geopolimer. 5. Waktu perawatan oven yang paling baik untuk mortar geopolimer abu sekam ini adalah selama 24 jam. E.2 Saran 1. Perlu adanya pengujian tambahan untuk mengetahui karakteristik mortar geopolimer abu sekam serta umur pengujian yang lebih lama agar hasil penelitian lebih lengkap. 2. Pembuatan mortar sebaiknya dilakukan dalam satu adukan untuk memperoleh hasil yang seragam. 3. Perlu adanya penelitian lanjutan dengan menggunakan abu sekam yang diambil dari beberapa tempat yang berbeda. 4. Perlu adanya penelitian lanjutan mengenai durabilitas mortar geopolimer abu sekam di lingkungan asam. DAFTAR PUSTAKA Adam, A. A. 2009. Strength and durability properties of alkali activated slag and fly ashbased geopolymer concrete. PhD Thesis of Civil, Environmental and Chemical Engineering. Melbourne: RMIT University. ASTM C 33, 1982. Standard Spesification for Concrete Aggregates. American Society for Testing and Material. West Conshohocken, PA: ASTM International. ASTM C 642. 2006. Standard Test Methods Density, Absorption, and Voids in Hardened Concrete. United States: ASTM. Bakri. 2008. Komponen Kimia dan Fisik Abu Sekam Padi Sebagai Scm Untuk Pembuatan Komposit Semen. perennial, 5, 9-14. Chindaprasirt, P. et al. 2007. Sulfate resistance of blended cements containing fly ash and rice husk ash. Construction and Building Materials, 21(6), 1356-1361. Davidovits, J. 1994. Properties of geopolymer cements. Proceedings First International Conference on Alkaline Cements and Concretes. 131-149. Hardjito, D. dan Rangan, B.V. 2005. Development and Properties of Low-Calcium Fly Ash Based Geopolimer Concrete. Research Report GC1 Faculty of Engineering. Perth : Curtin University of Technology. Maholtra, V. M., & Mehta, P. K. 1996. Pozzolanic and Cementitious Materials. Taylor & francis. Nazari, A., et al. 2012. Production geopolymers by Portland cement : Designing the main parameters effects on compressive strength by Taguchi method. Journal of Materials & Design, 41, 43 49. Olivia, M. 2011. Durability related properties of low calcium fly ash based geopolymer concrete. Tesis Sarjana School of Civil and Mechanical Engineering Department of Civil Engineering. Perth : Curtin University of Technology. Part, W. et al. 2015. An overview on the influence of various factors on the properties of geopolymer concrete derived from industrial by-products. Construction and Building Materials, 77, 370-395. Putri, W.A.H. 2013. Karakteristik Mortar Geopolimer Abu Sawit. Skripsi Sarjana, Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil, Universitas Riau, Pekanbaru. Riahi, S. et al. 2012. Compressive strength of ash-based geopolymers at early ages designed Jom FTEKNIK Volume 3 No.2 Oktober 2016 7

by Taguchi method. Materials & Design, 37, 443-449. SNI 03-1968-1990. 1990. Metode Pengujian Tentang Analisis Sarungan Agregat Halus Dan Kasar. Bandung: Badan Standarisasi Nasional. SNI 03-1970-1990. 1990. Metode Pengujian Berat Jenis dan Penyerapan Agregat Halus. Bandung: Badan Standarisai Nasional. SNI 03-1971-1990. 1990. Metode Pengujian Kadar Air Agregat. Bandung: Badan Standarisasi Nasional. SNI 03-2816-1992. 1990. Metode Pengujian Kotoran Organik Dalam Pasir untuk Campuran Mortar atau Beton. Bandung: Badan Standarisasi Nasional. SNI 03-6825-2002. 2002. Metode Pengujian Kekuatan Tekan Moertar Semen Portland untuk Pekerjaan Sipil. Bandung: Badan Standarisai Nasional. Suprasman, & Ermiyati. 2006. Kuat Tekan mortar dengan Penambahan Abu Sekam Padi Sebagai Pengganti Sebagian semen. SPEKTRUM, 4(2), 1693-9573. Susilorini, R., & Suryoatmono, B. 2007. Trass, Masa Depan Bagi Pozolan Alam Sebagai Agregat Alternatif Untuk Campuran Beton. Jom FTEKNIK Volume 3 No.2 Oktober 2016 8