PENGARUH ANGULAR DAN PARALLEL MISALIGNMENT TERHADAP KONSUMSI ENERGI PADA MOTOR LISTRIK

dokumen-dokumen yang mirip
Dampak Perubahan Putaran Terhadap Unjuk Kerja Motor Induksi 3 Phasa Jenis Rotor Sangkar

PERBANDINGAN PENGARUH TAHANAN ROTOR TIDAK SEIMBANG DAN SATU FASA ROTOR TERBUKA : SUATU ANALISIS TERHADAP EFISIENSI MOTOR INDUKSI TIGA FASA

Karakteristik Kerja Paralel Generator Induksi dengan Generator Sinkron

ANALISIS PENGARUH JATUH TEGANGAN TERHADAP KINERJA MOTOR ARUS SEARAH KOMPON

ANALISA PENGARUH BESAR NILAI KAPASITOR EKSITASI TERHADAP KARAKTERISTIK BEBAN NOL DAN BERBEBAN PADA MOTOR INDUKSI SEBAGAI

PENGEREMAN DINAMIK PADA MOTOR INDUKSI TIGA FASA

ANALISIS PERBANDINGAN EFEK PEMBEBANAN TERHADAP GGL BALIK DAN EFISIENSI PADA MOTOR DC PENGUATAN KOMPON PANJANG DAN MOTOR INDUKSI

STUDI PENGARUH ARUS EKSITASI PADA GENERATOR SINKRON YANG BEKERJA PARALEL TERHADAP PERUBAHAN FAKTOR DAYA

Analisis Pengaruh Perubahan Tegangan Terhadap Torsi Motor Induksi Tiga Fasa Menggunakan Simulasi Matlab

MODUL 3 TEKNIK TENAGA LISTRIK PRODUKSI ENERGI LISTRIK (1)

Jurnal Teknik Elektro Vol. 2, No. 1, Maret 2002: 22-26

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

MENGUBAH KUMPARAN MOTOR TIGA PHASA SATU KECEPATAN MENJADI EMPAT KECEPATAN

ANALISA PENGARUH SATU FASA ROTOR TERBUKA TERHADAP TORSI AWAL, TORSI MAKSIMUM, DAN EFISIENSI MOTOR INDUKSI TIGA FASA

BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN. Mulai

BAB III 3 METODE PENELITIAN. Peralatan yang digunakan selama penelitian sebagai berikut : 1. Generator Sinkron tiga fasa Tipe 72SA

Mesin Arus Bolak Balik

ANALISIS PERBANDINGAN UNJUK KERJA MOTOR INDUKSI SATU FASA SPLIT-PHASE

BAB II DASAR TEORI 2.1. Sistem Transmisi Motor Listrik

PENGARUH PEGATURAN KECEPATAN MENGGUNAKAN METODE PENGATURAN FLUKSI TERHADAP EFISIENSI PADA MOTOR ARUS SEARAH KOMPON

PENGARUH PENGATURAN TAHANAN SHUNT DAN SERI TERHADAP PUTARAN DAN EFISIENSI MOTOR ARUS SEARAH KOMPON

PENGUJIAN PERFORMANCE MOTOR LISTRIK AC 3 FASA DENGAN DAYA 3 HP MENGGUNAKAN PEMBEBANAN GENERATOR LISTRIK

LABSHEET PRAKTIK MESIN LISTRIK MESIN ARUS BOLAK-BALIK

BAB II DASAR TEORI. c) Untuk mencari torsi dapat dirumuskan sebagai berikut:

ANALISIS PENGARUH JATUH TEGANGAN TERHADAP KINERJA MOTOR INDUKSI TIGA FASA ROTOR BELITAN (Aplikasi pada Laboratorium Konversi Energi Listrik FT-USU)

RANCANGAN BANGUN PENGUBAH SATU FASA KE TIGA FASA DENGAN MOTOR INDUKSI TIGA FASA

PENGARUH POSISI SIKAT DAN PENAMBAHAN KUTUB BANTU TERHADAP EFISIENSI DAN TORSI MOTOR DC SHUNT

PENGARUH BENTUK GELOMBANG SINUS TERMODIFIKASI (MODIFIED SINE WAVE) TERHADAP UNJUK KERJA MOTOR INDUKSI SATU FASA

Generator arus bolak-balik dibagi menjadi dua jenis, yaitu: a. Generator arus bolak-balik 1 fasa b. Generator arus bolak-balik 3 fasa

STUDI PENGARUH JUMLAH LILITAN DAN PANJANG KUMPARAN TERHADAP VOLTASE DAN ARUS BANGKITAN PADA MEKANISME PEMANEN ENERGI GETARAN

Kata Kunci: motor DC, rugi-rugi. 1. Pendahuluan. 2. Rugi-Rugi Pada Motor Arus Searah Penguatan Seri Dan Shunt ABSTRAK

METODE PERLAMBATAN (RETARDATION TEST) DALAM MENENTUKAN RUGI-RUGI DAN EFISIENSI MOTOR ARUS SEARAH

BAB II MOTOR INDUKSI TIGA PHASA

Hubungan Antara Tegangan dan RPM Pada Motor Listrik

Generator listrik adalah sebuah alat yang memproduksi energi listrik dari sumber energi mekanik, biasanya dengan menggunakan induksi elektromagnetik.

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

Studi Pengaruh Diameter Kawat dan Susunan Kumparan Terhadap Voltase Bangkitan pada mekanisme Pemanen Energi Getaran

Jurnal Ilmiah Mustek Anim Ha Vol.1 No.1, April 2012 ISSN

Modul Kuliah Dasar-Dasar Kelistrikan 1

BAB II DASAR TEORI 2.1 Sistem Transmisi 2.2 Motor Listrik

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK TENAGA LISTRIK NO LOAD AND LOAD TEST GENERATOR SINKRON EXPERIMENT N.2 & N.4

PRINSIP KERJA MOTOR. Motor Listrik

BAB II MOTOR INDUKSI 3 Ø

BAB II MESIN INDUKSI TIGA FASA. 2. Generator Induksi 3 fasa, yang pada umumnya disebut alternator.

BAB II DASAR TEORI 2.1 Konsep Perencanaan 2.2 Motor 2.3 Reducer

BAB II LANDASAN TEORI

Momentum, Vol. 10, No. 2, Oktober 2014, Hal ISSN

BAB III PERENCAAN DAN GAMBAR

BAB II MOTOR INDUKSI SATU PHASA. Motor induksi adalah motor listrik arus bolak-balik (ac) yang putaran

BAB II LANDASAN TEORI

MODUL 10 DASAR KONVERSI ENERGI LISTRIK. Motor induksi

BAB II LANDASAN TEORI. mobil seperti motor stater, lampu-lampu, wiper dan komponen lainnya yang

RANGKAIAN ARUS BOLAK-BALIK.

MOTOR LISTRIK 1 & 3 FASA

UJI KARAKTERISTIK MEKANISME PEMBANGKIT ENERGI LISTRIK PADA SPEED BUMP DENGAN MEKANISME FLY WHEEL

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Disusun oleh Muh. Wiji Aryanto Nasri ( ) Ryan Rezkyandi Saputra ( ) Hardina Hasyim ( ) Jusmawati ( ) Aryo Arjasa

BAB III PERANCANGAN SISTEM DAN PEMBUATAN ALAT

ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN ARUS EKSITASI TERHADAP ARUS JANGKAR DAN FAKTOR DAYA MOTOR SINKRON TIGA FASA. Elfizon. Abstract

BAB III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA. Dalam system tenaga listrik, daya merupakan jumlah energy listrik yang

LABSHEET PRAKTIK MESIN LISTRIK MESIN ARUS BOLAK-BALIK (MESIN SEREMPAK)

Transformator (trafo)

ANALISIS GENERATOR DAN MOTOR = V. SINKRON IÐf SEBAGAI PEMBANGKIT DAYA REAKTIF SISTEM

Pemodelan Dinamik dan Simulasi dari Motor Induksi Tiga Fasa Berdaya Kecil

BAB I PENDAHULUAN. Motor listrik dewasa ini telah memiliki peranan penting dalam bidang industri.

BAB III PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Dasar Konversi Energi Listrik Motor Arus Searah

Analisis Pengaruh Harmonisa terhadap Pengukuran KWh Meter Tiga Fasa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENGGUNAAN MOTOR INDUKSI SEBAGAI GENERATOR ARUS BOLAK BALIK. Ferdinand Sekeroney * ABSTRAK

PEMILIHAN MOTOR LISTRIK SEBAGAI PENGGERAK MULA RUMAH CRANE PADA FLOATING DOCK DI PT. INDONESIA MARINA SHIPYARD GRESIK

BAB I PENDAHULUAN. Pada suatu kondisi tertentu motor harus dapat dihentikan segera. Beberapa

1 BAB I PENDAHULUAN. energi alternatif yang dapat menghasilkan energi listrik. Telah diketahui bahwa saat

Perancangan Soft Starter Motor Induksi Satu Fasa dengan Metode Closed Loop Menggunakan Mikrokontroler Arduino

ANALISA PENENTUAN AIR GAP TERHADAP PERFORMANCE MOTOR AC APLIKASI MARINE USE OLEH : AGUNG GINANJAR M ( )

NASKAH PUBLIKASI DESAIN PROTOTIPE MOTOR INDUKSI 3 FASA

RANCANG BANGUN DRAFT TUBE,TRANSMISI DAN PENGUJIAN TURBIN AIR FRANCIS DENGAN KAPASITAS 500 L/MIN DAN HEAD 3,5 M

SMA/MA IPA kelas 12 - FISIKA IPA BAB 7 GAYA GERAK LISTRIK INDUKSILatihan Soal 7.1

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB II DASAR TEORI. searah. Energi mekanik dipergunakan untuk memutar kumparan kawat penghantar

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

1BAB I PENDAHULUAN. contohnya adalah baterai. Baterai memberikan kita sumber energi listrik mobile yang

Studi Komparatif Arus Asut Motor Induksi Tiga Fasa Standar NEMA Berdasarkan Rangkaian Ekivalen Dan Kode Huruf

FORMULIR RANCANGAN PERKULIAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK

BAB II MOTOR INDUKSI TIGA PHASA. dengan putaran medan pada stator terdapat selisih putaran yang disebut slip.

9/10/2015. Motor Induksi

2.1 Pengertian Umum Mesin Pemipil Jagung. 2.2 Prinsip Kerja Mesin Pemipil Jagung BAB II DASAR TEORI

PERANCANGAN MINI GENERATOR TURBIN ANGIN 200 W UNTUK ENERGI ANGIN KECEPATAN RENDAH. Jl Kaliurang km 14,5 Sleman Yogyakarta

JURUSAN TEKNIK SISTEM PERKAPALAN FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

ELECTRICAL MOTOR HASBULLAH, ST, MT. Bandung, Februari 2009

STUDI PENGATURAN KECEPATAN MOTOR DC SHUNT DENGAN METODE WARD LEONARD (Aplikasi pada Laboratorium Konversi Energi Listrik FT-USU)

BAB II MOTOR SINKRON. 2.1 Prinsip Kerja Motor Sinkron

MAKALAH ANALISIS SISTEM KENDALI INDUSTRI Synchronous Motor Derives. Oleh PUSPITA AYU ARMI

Universitas Medan Area

LEMBAR KERJA SISWA (LKS) /TUGAS TERSTRUKTUR - - INDUKSI ELEKTROMAGNET - INDUKSI FARADAY DAN ARUS

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang vibration vibration unbalance air gap

PEMANFAATAN TENAGA MEKANIK MOTOR INDUKSI PADA MESIN PRESS SEBAGAI PENGGERAK GENERATOR

PENGARUH KECEPATAN PUTAR PENGGERAK MULA MIKROHIDRO TERHADAP KELUARAN GENERATOR INDUKSI 1 FASE 4 KUTUB ABSTRAKSI

COS PHI (COS φ) METER

Transkripsi:

PENGARUH ANGULAR DAN PARALLEL MISALIGNMENT TERHADAP KONSUMSI ENERGI PADA MOTOR LISTRIK Satworo Adiwidodo JurusanTeknik Mesin, Politeknik Negeri Malang satworo.adiwidodo@polinema.ac.id, Abstrak Misalignment menyebabkan unbalance pada poros sehingga memperbesar kerugian energi pada sistem transmisi. Penelitan ini bertujuan mengetahui pengaruh parallel dan angular misalignment terhadap besaran kerugian konsumsi energi pada motor listrik. Pengujian dilakukan menggunakan motor induksi (3,7 KW) yang dihubungkan ke generator sinkron (3KW) menggunakan trensmisi belt dan pulley. Variasi untuk parallel misalignment( 2, 4, 6, dan 8 mm serta untuk angular misalignment( 0.1, 0.2, 0.3, 0.4 rad. Di gunakan 3 variasi pembebanan yaitu mode tanpa beban (0 watt), beban sedang (650 watt) dan beban tinggi (1300 watt). Untuk menentukan pengaruh misalignment poros terhadap konsumsi energi motor listrik, dilakukan pengukuran komponen daya masukan motor berupa arus, tegangan dan faktor daya.hasil pengujian menunjukkan pada kondisi parallel misalignment 8 mm tanpa pembebana, kenaikan daya mencapai 19,88% (tertinggi dibandingkan pembebanan yang lain). Pada angular misalignment 0.4 rad tanpa pembebanan, kenaikan daya mencapai 16,72 %. Kenaikan daya tertinggi akibat angular misalignment terjadi pada pembebanan 650 watt mencapai 20,29%. Kata kunci : konsumsi energi, alignment, parallel misalignment, angular misalignment, belt, pulley, unbalance. 1. Pendahuluan Peralatan rotating machinery yang menggunakan transmisi beltdanpulley banyak dipakai dalam kegiatan produksi. Usaha meningkatkan reliabilitas mesin, memperpanjang umur, mengurangi waktu maintenance, mengurangi breakdown mesin dan meningkatkan produksi memerlukan upaya untuk mengeliminasi dan mendeteksi adanya misalignment. Misalignment adalah kondisi tidak sejajar atau tidak satu sumbu antara transmisi penggerak dan transmisi yang digerakkan.ada dua tipe dasar misalignment pada sambungan poros, yaitu parallel misalignment (offset) dan angular misalignment(sudut) [Piotrowsky,1995].Misalignment menyebabkan dua permasalahan pokok, yaitu kerusakan pada elemen mesin (bearing, seal, poros, belt, pulley) dan peningkatan konsumsi energi akibat kerugian transmisi. Penelitian ini menitikberatkan pengaruh terhadap konsumsi energi akibat misalignment. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Budiono [2003] yang melakukan penelitian misaligment pada poros dengan tansmisi coupling menemukan bahwa angular misalignment memberikan kerugian energi yang hampir sebanding dengan besar sudut angular yang dibentuk. Parallel misalignment memberikan kerugian energi secara kuadratik. Penambahan beban memberikan kontribusi peningkatan kerugian gesekan akibat misalignment. B-29 Pada penelitian ini ingin diketahui pengaruh misalignment yaitu parallel misalignment dan angular misalignmentpadatransmisi beltdanpulley terhadap konsumsi daya yang diperlukan untuk menggerakkan motor listrik. 2. Tinjauan Pustaka 1. Alignment dan Misalignment Alignment adalah kesejajaran sumbu pemutar dan terhadap sumbu yang diputar. Proses alignment dilakukan pada saat bagian mesin yang berputar tidak sejajar dan tidak sebaris dengan sumbu porosnya. Misalignment adalah ketidak sejajaran antara pulley penggerak dan pulley yang digerakkan. Jika mesin yang dijalankan menggunakan transmisi dalam kondisi misalignment akan mengakibatkan gesekan berlebihan antara shaft dengan bearing, shaft dengan packing atau mechanical seal, dan pada bagian belt dan pulley [Gaberson,1998]. Semua gesekan tersebut menimbulkan panas, dan tentu memerlukan tenaga tambahan yang berarti tenaga listrik yang diperlukan bertambah. Akibat lain dari misalignment adalah terjadinya getaran yang belebihan pada sistem transmisi [Wowk, 2000]. 2. Belt Panjang sabuk (L) yang diperlukan dipengaruhi oleh diameter kedua pulley dan jarak kedua poros ( C ). Untuk jenis sabuk V, sabuk gilir, panjang sabuk digunakan untuk memilih tipe dan

standar sabuk yang akan digunakan. Selain daripada itu panjang sabuk sebagai dasar untuk menentukan jarakpengaturan pengendoran dan pengencangan (speling). Rumusan panjang sabuk untuk pasangan terbuka [Sularso,1983] adalah sebagai berikut : 2 ( d 1 d 2 ) L 2C 1,57( d d ) (1) 1 2 4 C Penyetelan kekencangan sabuk V sangat perlu dilakukan untuk mengatasi terjadinya selip dan dengan adanya perbedaan kebutuhan panjang sabuk dan panjang sabuk standar maka jarak pulley perlu disesuaikan. Jika panjang sabuk V standar yang dipilih L dan panjang sabuk hasil perhitungn Lc, maka jarak sumbu pulley dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut : Lc Lc C L (2) 2 C = jarak poros pengambilan (m) 3. Karakteristik Motor Listrik Torsi dihasilkan motor induksi oleh interaksi antara fluks stator dan rotor. Fluks yang dihasilkan oleh arus stator berputar pada kecepatan sinkron. Arus rotor dapat dapat diinduksi bilarotor berputar pada kecepatan yang lebih rendah daripada kecepatan sinkron. Pada kondisi tersebut, slip rotor sangat kecil sehingga frekuensi rotor rendah. Tegangan rotor yang terinduksi pada kondisi tersebut kecil, sehingga menghasilkan arus stator yang rendah. Frekuensi rotor yang sedemikian rendah menyebabkan reaktansi rotor menjadi rendah sekali. Arus rotor hampir sefase dengan tegangan rotor. Arus rotor menghasilkan medan magnetik rotor B R yang kecil dan fesenya tertinggal 90 dari arus rotor. Stator memberikan arus pemagnetan yang cukup besar untuk menghasilkan B S walaupun dalam keadaan tanpa beban. Sudut antara B R dan B S disebut power angel [Sen,1998]. T ind = k. B R. B S. sin (3) Harga B R tanpa beban kecil, sehingga torsi yang dihasilkan motor tanpa beban tidak besar.peningkatan beban menyebabkan slip motor membesar, sehingga tegangan rotor meningkat. Akibatnya, arus rotor meningkat dan menghasilkan medan magnetik rotor B R yang lebih besar. Peningkatan frekuensi rotor menyebabkan reaktansi rotor ( RL R ) menjadi besar, akibatnya fase arus rotor jauh tertinggal dari tegangan rotor. Pada kondisi ini, arus rotor dan power angle) meningkat. Perhitungan daya motor listrik [Theraja,1998] dapat dilakukan menggunakan persamaan berikut: P V eff I eff cos (4) dimana : P = daya listrik ( Watt ) V eff = tegangan efektif ( Volt ) I eff = arus efektif ( Ampere ) = beda sudut fase antara arus dan tegangan bolak balik Alat ukur menyatakan nominal tegangan dan arus dalam harga RMS (Root Mean Square) atau harga efektifnya. Daya listrik pada rangkaian satu fase dapat dihitung dengan persamaan P V eff I eff cos, dan untuk rangkaian tiga fase daya listrik dihitung dengan persamaan: P. V I eff cos (5) 3 eff Persamaan di atas berlaku dengan syarat ketiga kawat pada rangkaian tiga fase memiliki harga V eff dan I eff yang sama. Atau dengan kata lain harga sudut antar fase ( line ) berharga sama sebesar 120 o. Hal tersebut terjadi bila masing masing fase memiliki beban induksi yang sama besar. 3. Metode Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode laboratory experimental, yaitu metode penelitian dengan membandingkan antara hasil percobaan kelompok kontrol dengan kelompok uji dengan memakai sarana eksperimen laboratorium sebagai basis dalam mencari data. Independence variablepada penelitian ini adalah; (a). tipe belt menggunakan V-belt, (b). besar misalignment, yaitu parallel misalignment( : 2, 4, 6, dan 8 (mm) serta angular misalignment( ): 4, 8,12, 16 rad, (c). besar pembebanan ( Pout ): tanpa beban (0 watt), beban sedang (650 watt), dan beban tinggi (1300 watt). Sedangkan dependence variable, yaitubesar tegangan (volt), arus (ampere) dan beda fase (cos motor. Eksperiment set updan peralatan uji disajikan pada Gambar 1 dan Gambar 2. LAMPU BEBAN GENERATOR SINKRON Pulley FLEXIBLE COUPLING V-Belt DUDUKAN MESIN Pulley Gambar 1.Eksperiment set up MOTOR INDUKSI 3 FASA 3 FASA PENGATUR KEDUDUKAN MOTOR B-30

Motor Generator 1) Motor listrik 2) Generator synkron 3) Puli motor 4) Puli generator 5) Sabuk V 6) Dudukan motor 7) Dudukan generator 8) Display Pembebanan 9) Saklar motor > 0 Gambar 5.Anggular misaligment( >0, 0) C Gambar 2. Peralatan uji Prosedur reverse indikator digunakan dalam eksperimen ini. Setting awal adalah membuat instalasi alignment, kemudian merubah instalasi secara bertahap menjadi parallel misalignment dan angular misalignment. Pengatur kedudukan motor membantu proses setting peralatan.gambar 3 sampai dengan Gambar 5 menjelaskan proses reverse indikator yang dilakukan. Motor Generator Mulai Setting: 1. Alignment 2. Parallel misalignment 3. Angular misalignment Running instalasi Setting Pembebanan C Gambar 3.Alignment( =0, =0) Tdk Pengukuran: 1.Beban 2. V rms, I rms (Input) 3. V rms, I rms (Output) Pembebanan Selesai Motor Generator Ya Setting dan Selesai Tdk Ya C > 0 Gambar 4.Parallel misalignment( >0, 0) B-31 Selesai 6. Langkah - langkah pengambilan data Gambar 4. Hasil dan Pembahasan Misalignment menyebabkan peningkatan daya input motor. Sub-bab ini akan membahas hubungan beberapa parameter yang menjelaskan fenomena tersebut.

Kebutuhan torsi rotor akibat pembebanan merupakan penyebab peningkatan daya input. Peningkatan torsi dapat terjadi bila medan magnet rotor membesar akibat penambahan arus rotor. Penambahan arus rotor dapat terjadi bila medan magnet stator bertambah. Peningkatan medan magnet stator dapat dipenuhi bila arus input (arus stator) bertambah. Di bawah ini disajikan grafik kenaikan arus input sebagai efek misalignment. Gambar 9.Faktordaya input terhadapvariasiparallelmisalignment Gambar 7. Arus input motor terhadap variasi parallel misalignment Gambar 10.Faktordaya input terhadapvariasiangularmisalignment Beda fase antara arus dan tegangan input ( ) mengecil bila arus input mengalami peningkatan. Perubahan arus input yang kecil menyebabkan perubahan yang kecil. Peningkatan akibat misalignment tidak signifikan. Harga relatif konstan pada berapa pembebanan. Gambar 8.Arus input motor denganvariasiangularmisalignment Gambar 7 dan 8memperlihatkan pada semua pembebanan, semakin besar nilai misalignment maka semakin besar pula kebutuhan arus input. Peningkatan arus input angular misalignment hampir linier, berbeda dengan apa yang diperlihatkan pada percobaan dengan variasi parallel misalignment. 4.2 Kenaikan Daya Input Akibat Misalignment Daya input dihitung dengan asumsi pada kumparan motor terjadi pembeban yang seimbang pada masing-masing fase. Perhitungan daya input perfase mengikuti persamaan P in/fase = V rms.i rms Cos. Motor yang digunakan dihubungkan dengan input tiga fase, maka perhitungannya mengikuti persamaan P in/fase = 3.V rms.i rms Cos. Gambar 11dan 12 menunjukkan hubungan antara daya input dengan misalignment. 4.1 Faktor Daya Sebagai Salah Satu Parameter Kenaikan Beban Faktor daya ( cos ) pada variasi beban 0 1300 Watt meningkat, namun efek misalignment terhadap kenaikan faktor daya dari grafik 9 dan 10 menunjukkan kurang begitu signifikan. B-32 Gambar 11. Daya input terhadap parallel misalignment

Gambar 12. Daya input terhadap angular misalignment Gambar 11 dan 12 menampilkan kondisi tanpa beban, beban sedang (650 Watt) dan beban tinggi (1300 Watt). Daya input menunjukkan peningkatan terhadap parallel atau angular misalignment. Pada kondisi parallel misalignment 8 mm dan tanpa pembebanan kenaikan daya mencapai 19,88% (tertinggi dibandingkan pembebanan yang lain). Pada angular misalignment 0.4 rad tanpa pembebanan, kenaikan daya mencapai 16,72%. Kenaikan daya tertinggi pada pembebanan 650 watt mencapai 20,29%. Peningkatan daya input hampir tidak nampak pada kondisi tanpa beban, sehingga grafiknya mendekati konstan. Pembebanan yang lebih tinggi menyebabkan peningkatan daya input lebih kentara. Peningkatan beban menyebabkan torsi yang dibutuhkan lebih tinggi. Peningkatan torsi menyebabkan gaya normal yang bekerja pada permukaan kontak membesar, sehingga gaya gesek yang terjadi meningkat. Penampakan pengaruh misalignment terhadap daya input motor akan ditunjukkan dengan grafik perubahan arus input motor ( I mis.). I mis I alignment I mis x100% (6) I alignment Perubahan arus input untuk setiap variasi misalignment dapat dilihat pada grafik di bawah ini. Gambar 14.Perubahan arus input motorterhadap angular misalignment Hasil pengujian menunjukkan pada pembebanan 1300 W dan parallel misalignment 8 mm, meningkatkan arus input sebesar 3,09%. Pada kasus angular 0.4 rad dan beban 1300W, meningkatkan arus input terbesar mencapai 2,32 persen. Arus input merupakan salah satu parameter yang menentukan daya input (konsumsi energi). Faktor daya dan tegangan merupakan parameter lain yang menentukan besar daya input. Faktor daya yang telah dibahas terdahulu menunjukkan peningkatan yang kecil terhadap variasi misalignment, bahkan cenderung konstan. Tegangan input motor induksi pada beberapa literatur dapat dianggap konstan terhadap kenaikan beban karena efek penurunan tegangan akibat pembebanan sangat kecil [Piotrovsky,1995]. 5. Kesimpulan dan Saran 5.1 Kesimpulan Kesimpulan yang bisa diambil dari penelitian ini: 1. Peningkatan arus input akibat parallel misalignment 8 mm lebih besar daripada angularmisalignment 0.4 rad. 2. Peningkatan arus input akibat parallel misalignment 8 mm 3.09% dan angularmisalignment 0.4 rad. sebesar 2.32% 3. Kerugian energi akibat angular misalignment sebanding dengan sudut angularnya. Kerugian energi akibat parallel misalignment naik secara kuadratik (polynomial). 4. Penambahan beban memberikan kontribusi peningkatan kerugian gesekan akibat misalignment. Dari hasil penelitian daya input menunjukkan peningkatan beban berakibat peningkatan daya input baik pada parallel maupun angular misalignment. Gambar 13.Perubahan arus input motorterhadap parallel misalignment B-33 5.2 Saran Pengaruh misalignment poros terhadap kerugian energi motor listrik mungkin tidak signifikan dibandingkan dengan kerugian lain berupa umur

operasi elemen mesin seperti bearing, poros atau seal. Penelitian mengenai pengaruh misalignment terhadap vibrasi yang ditimbulkan dan umur operasi elemen mesin akan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai dampak misalignment terhadap kerugian instalasi mesin. Daftar Pustaka: Piotrowski, John (1995):Shaft Alignment Hand Book, 2nd edition, Marcel Dekker Inc, New York. Budiono, Teguh (2003):Studi Eksperimental Pengaruh Misalignment Poros Terhadap Konsumsi Energi Motor Listrik, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya Gaberson A Howard., Cappillino Ray (1998):Rotating Machinery Energy Loss Due To Misalignment, US Naval Facilities Engineering Service Center. Wowk, Victor (2000):Machine Vibration : Alignment, 1st edition, Mc Graw Hill Companies Inc., New York. Sularso & Kiyokatsu Suga (1983):Dasar Perencanaan dan Pemeliharaan Elemen Mesin, Jakarta. Sen P. C (1998)Electric Machines And Power Electronics, John Wiley & Sons, New York. Theraja B.L., Theraja A.K (1997):A text Book of Electrical Technology Volume 1, S. Chand & Company LTD., Ram Nagar, New Delhi. B-34