Mengenal Otoritas Jasa Keuangan
1. LATAR BELAKANG PEMBENTUKAN OJK Perkembangan Industri Keuangan Konglomerasi Jasa Keuangan Perlindungan Konsumen Amanat UU Proses globalisasi dalam sistem keuangan dan pesatnya kemajuan di bidang teknologi informasi serta inovasi keuangan telah menciptakan industri keuangan yang sangat kompleks, dinamis, dan saling terkait Saat ini terdapat kecenderungan lembaga jasa keuangan yang besar memiliki beberapa anak perusahaan di bidang keuangan yang berbedabeda kegiatan usahanya (konglomerasi). Konglomerasi lembaga keuangan tersebut mendorong terciptanya kompleksitas kegiatan usaha lembaga jasa keuangan Permasalahan di industri jasa keuangan yang semakin beragam, antara lain meningkatnya pelanggaran di bidang jasa Keuangan dan belum optimalnya perlindungan konsumen jasa keuangan, mendorong diperlukannya fungsi edukasi, perlindungan konsumen, dan pembelaan hukum UU No.23 Th. 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan UU No.6 Th 2009, mengamanatkan pembentukan lembaga pengawasan sektor jasa keuangan yang mencakup perbankan, asuransi, dana pensiun, sekuritas, modal ventura dan perusahaan pembiayaan, serta badanbadan lain yang menyelenggarakan pengelolaan dana masyarakat 2
2. TUJUAN DIBENTUKNYA OJK MENGATUR & MENGAWASI Industri Jasa Keuangan (Perbankan, Pasar Modal dan Industri Keuangan Non Bank) MELINDUNGI Konsumen dan Masyarakat Sesuai pasal 4 UU OJK, yang menyebutkan bahwa pembentukan OJK untuk menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan dalam sektor jasa Keuangan dengan tujuan agar: Keseluruhan kegiatan dalam sistem jasa keuangan terselenggara secara teratur, adil, transparan, dan akuntabel; Mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil; dan Mampu melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat 3
3. WEWENANG OJK PENGATURAN Menetapkan: Peraturan pelaksanaan UU OJK; Peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan; Peraturan mengenai pengawasan; dan Peraturan mengenai tata cara penetapan perintah tertulis PENGAWASAN Melakukan pengawasan dan perlindungan konsumen sektor perbankan, pasar modal, dan Industri Keuangan Non Bank (IKNB); Memberikan dan atau mencabut izin usaha; pengesahan, persetujuan atau penetapan pembubaran; Memberikan perintah tertulis kepada lembaga jasa keuangan dan menunjuk pengelola statuter; dan Menetapkan sanksi administratif EDUKASI & PERLINDUNGAN KONSUMEN Edukasi kepada masyarakat dalam rangka pencegahan kerugian konsumen dan masyarakat; Pelayanan pengaduan konsumen; dan Pembelaan hukum untuk kepentingan perlindungan konsumen dan masyarakat 4
4. Lingkup Pengawasan Bank Umum Konvensional Syariah Bank Perkreditan Rakyat Konvensional Syariah PERBANKAN PASAR MODAL Org. Regulator Mandiri (Self Regulatory Org-SRO) Bursa Efek Indonesia (BEI), Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Perusahaan Efek Perantara Pedagang Efek, Penjamin Emisi Efek, Manajer Investasi Lembaga Penunjang Biro Administrasi Efek (BAE), Kustodian, Wali Amanat, Pemeringkat Efek Asuransi Konvensional & Syariah Dana Pensiun Lembaga Pembiayaan Konvensional & Syariah Lembaga Jasa Keuangan Lainnya Konvensional & Syariah INDUSTRI KEUANGAN NON BANK LEMBAGA KEUANGAN MIKRO Badan Kredit Desa Badan Kredit Kecamatan Baitul Maal Wat Tamwil Baitul Tamwil Muhammadiyah Credit Union Kelompok Usaha Bersama Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pedesaan dll. 5
4. Lingkup Pengawasan TOTAL ASET LEMBAGA JASA KEUANGAN (dalam triliun rupiah) JUMLAH LEMBAGA JASA KEUANGAN Modal Ventura Pergadaian Perusahaan Pembiayaan Infrastruktur LPEI Bank Perkreditan Rakyat 11 48 58 105 115 LPEI Perusahaan Pembiayaan Infrastruktur PERGADAIAN Bank Umum Syariah Modal Ventura 1 2 8 13 65 Dana Pensiun 247 Bank Umum 115 Bank Umum Syariah Perusahaan Pembiayaan Asuransi Bank Umum 258 450 1.016 6.830 Asuransi Pembiayaan Dana Pensiun BPR 150 200 245 1.630-200 400 600 800 1.000 1.200 1.400 1.600 1.800 Sumber: Sistem Monitoring Data Sektor Jasa Keuangan Terintegrasi (posisi Maret 2017) 6
4. Lingkup Pengawasan JUMLAH EMITEN (Obligasi Korporasi) 111 NILAI OUTSTANDING Obligasi Korporasi Rp311 trilun + $68 juta Obligasi Pemerintah Rp1.773 triliun + $1.240 juta JUMLAH INVESTOR 524.604 TOTAL TRANSAKSI SAHAM 1.844 triliun JUMLAH EFEK 537 RATA-RATA TRANSAKSI SAHAM HARIAN 7,5 triliun Sumber: Statistik Pasar Modal Semester II - 2016 Otoritas Jasa Keuangan 7
5. Kondisi Akses Keuangan 70,00% 60,00% 57,28% 63,63% 63,83% 50,00% 40,00% 30,00% 20,00% 10,00% 0,00% 11,81% 12,08% 1,53% 4,66% 6,33% 11,85% Perbankan Perasuransian Dana Pensiun Lembaga Pembiayaan 5,04% 10,49% 0,11% 1,25% 5,05% Pergadaian Pasar Modal BPJS Kesehatan BPJS Ketenagakerjaan Tahun 2013 Tahun 2016 Tingkat Inklusi Keuangan 8
6. Governance Otoritas Jasa Keuangan Anggota (Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan) Anggota (Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal) Anggota (Kepala Eksekutif Pengawas IKNB) Ketua DK OJK Bersifat kolektif dan kolegial Memiliki hak suara yang sama Melaksanakan tugas pengaturan Mengawasi pelaksanaan tugas Kepala eksekutif Wakil (Ketua Komite Etik) Anggota (Ex Officio BI) Anggota (Ex Officio Kemenkeu) Struktur tata kelola terdiri dari: 1. Organ utama tata kelola adalah Dewan Komisioner; yang bersifat kolektif kolegial 2. Organ pendukung tata kelola adalah Sekretariat, Dewan Audit, Komite Etik dan komite lainnya; 3. Infrastruktur tata kelola terdiri dari pedoman (code), piagam (charter), peraturan, prosedur (SOP) dan sistem informasi sebagai acuan di dalam menjalankan fungsi dan tugas, serta menerbitkan laporan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada pemangku kepentingan. KOMITE ETIK Mengawasi kepatuhan Anggota Dewan Komisioner, Pejabat dan Pegawai OJK terhadap Kode Etik OJK DEWAN AUDIT Anggota (Bid. Edukasi & Perlindungan Konsumen) Anggota (Ketua Dewan Audit) Melakukan evaluasi atas pelaksanaan tugas OJK, menyusun standar audit, manajemen risiko dan pengendalian kualitas Otoritas Jasa Keuangan 9
7. Lingkup Tanggung Jawab FISCAL POLICY Mengatur dan melaksanakan kebijakan fiskal MONETERY POLICY Menjaga stabilitas sistem moneter Macroprudential Stability (Stability of whole financial system) Fokus pada sistem keuangan secara menyeluruh terhadap industri jasa keuangan. Dalam melakukan pengawasan makroprudensial, pengawasan terhadap lembaga jasa keuangan tidak dilakukan secara individu namun dilakukan secara agregat. FINANCIAL REGULATION & SUPERVISION Mengatur dan mengawasi lembaga Jasa Keuangan Microprudential Stability (Stability of individual financial institutions) 10 Fokus pada kinerja individu lembaga jasa keuangan termasuk konglomerasinya, apakah setiap individu lembaga jasa keuangan dan/ atau konglomerasinya sudah sehat, stabil, dan memiliki kinerja yang bagus
8. Jaringan Kantor 9 KANTOR REGIONAL 37 KANTOR OJK 11