MODEL MATEMATIKA KADAR AIR KESEIMBANGAN DUA PARAMETER UNTUK LADA

dokumen-dokumen yang mirip
Larutan garam jenuh (Saturated salt) CH 3 COOK MgCl 2 K 2 CO 3 NaBr NaNO 3

PEMILIHAN KORELASI KANDUNGAN AIR SETIMBANG (TIGA PARAMETER) UNTUK PRODUK PERTANIAN PADI

KADAR AIR KESETIMBANGAN (Equilibrium Moisture Content) BUBUK KOPI ROBUSTA PADA PROSES ADSORPSI DAN DESORPSI

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

PERUBAHAN NILAI DESORPSI PRODUK KAKAO FERMENTASI PADA BERBAGAI SUHU DAN KELEMBABAN

THESIS Submitted to The Faculty of Agricultural Technology in partial fulfillment of the requirements for obtaining the Bachelor Degree

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Karakteristik Pengeringan Lapisan Tipis Buah Mahkota Dewa

Perpindahan Massa Pada Pengeringan Gabah Dengan Metode Penjemuran

Penentuan Konstanta Pengeringan Dalam Sistem Pengeringan Lapis Tipis (Thin Layer Drying)

Peranan a w dalam Pendugaan dan Pengendalian Umur Simpan

Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem, Vol.3, No. 2, September 2015 PENGERINGAN LAPIS TIPIS KOPRA PUTIH MENGGUNAKAN OVEN PENGERING

1. Pendahuluan PENGARUH SUHU DAN KELEMBABAN UDARA PADA PROSES PENGERINGAN SINGKONG (STUDI KASUS : PENGERING TIPE RAK)

PENENTUAN KONSTANTA PENGERINGAN PATHILO DENGAN MENGGUNAKAN SINAR MATAHARI

Kemampuan yang ingin dicapai:

PERMODELAN PERPINDAHAN MASSA PADA PROSES PENGERINGAN LIMBAH PADAT INDUSTRI TAPIOKA DI DALAM TRAY DRYER

Model Pengeringan Lapisan Tipis Cengkeh (Syzygium aromaticum) 1) ISHAK (G ) 2) JUNAEDI MUHIDONG dan I.S. TULLIZA 3) ABSTRAK

ANALISIS PERFORMANSI MODEL PENGERING GABAH POMPA KALOR

Karakteristik Isotermi Sorpsi Air Benih Cabai Merah. (Sorption Characteristics of Red Chilli Seed)

MESIN PENGERING LADA MENGGUNAKAN RAK BERBAHAN PLAFON GRC (GLASSFIBER REINFORCED CEMENT BOARD) DAN KARUNG GONI

FENOMENA HISTERESIS ISOTERMI SORPSI AIR PADA GRANULA PATI AMILOSA GRANULA PATI AMILOPEKTIN, PROTEIN, DAN SELULOSA

SHELF LIFE ESTIMATION OF CORN COOKIES PACKED IN OPP-PP AND METALIZED PLASTIC USING ACCELERATED SHELF-LIFE TESTING METHOD-ARRHENIUS EQUATION SKRIPSI

KARAKTERISTIK PENGERINGAN BAWANG MERAH (Alium Ascalonicum. L) MENGGUNAKAN ALAT PENGERING ERK (Greenhouse)

HASIL DAN PEMBAHASAN

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

BAB I PENDAHULUAN. Kopi merupakan komoditas sektor perkebunan yang cukup strategis di. Indonesia. Komoditas kopi memberikan kontribusi untuk menopang

Determination of Thin Layer Drying Characteristic of Globefish (Rastrelliger sp.)

PENYIMPANAN DAN PENGGUDANGAN PENDAHULUAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil dari penelitian ini adalah merancang suatu instrumen pendeteksi kadar

JURNAL PENELITIAN PROGRAM STUDI KETEKNIKAN PERTANIAN JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

Pengujian Pengeringan Garam Briket Skala Laboratorium

MODEL MATEMATIS PENGERINGAN LAPISAN TIPIS BIJI KOPI ARABIKA (Coffeae arabica) DAN BIJI KOPI ROBUSTA (Coffeae cannephora) ABSTRAK

PENDUGAAN UMUR SIMPAN PRODUK BISKUIT DENGAN METODE AKSELERASI BERDASARKAN PENDEKATAN KADAR AIR KRITIS

PERPINDAHAN MASSA PADA PENGERINGAN JAHE MENGGUNAKAN EFEK RUMAH KACA *

PENGARUH BAHAN KEMASAN TERHADAP PERUBAHAN KADAR AIR KOPI BUBUK (Coffea sp.) PADA BERBAGAI SUHU DAN RH UDARA

ANALISIS LINTAS BEBERAPA KARAKTER TANAMAN LADA PERDU DI KEBUN PERCOBAAN PAKUWON

IV. METODOLOGI PENELITIAN

KARAKTERISTIK PENGERINGAN BIJI KOPI BERDASARKAN VARIASI KECEPATAN ALIRAN UDARA PADA SOLAR DRYER

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Distribusi Suhu, Aliran Udara, Kadar Air pada Pengeringan Daun Tembakau Rajangan Madura

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENGERINGAN JAGUNG (Zea mays L.) MENGGUNAKAN ALAT PENGERING DENGAN KOMBINASI ENERGI TENAGA SURYA DAN BIOMASSA

II. TINJAUAN PUSTAKA. membantu aktivitas pertumbuhan mikroba dan aktivitas reaksi-reaksi kimiawi

BAB I PENDAHULUAN. berbeda dibandingkan sesaat setelah panen. Salah satu tahapan proses pascapanen

PENENTUAN KADAR AIR LAPIS TUNGGAL MENGGUNAKAN PERSAMAAN BRUNAUER-EMMETT-TELLER (BET) DAN GUGGENHAIM-ANDERSON-deBOER (GAB) PADA BUBUK TEH

Bul. Teknol. dan Induatri Pangan, Vol. XI, No. I, Th. BOO0 EVALUASI MODELMODEL PENDUGAAN UMUR SIMPAN PANGAN DARI DIFUSI HUKUM FICK UNIDIREKSIONAL

JURNAL RONA TEKNIK PERTANIAN ISSN : Analisis Sebaran Kadar Air Jagung Selama Proses Pengeringan dalam In-Store Dryer (ISD) Bogor

Pengeringan (drying)/ Dehidrasi (dehydration)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian Teknologi

HISTERESIS PADA PROSES ADSORPSI DAN DESORPSI LENGAS KAKAO BUBUK SKRIPSI

EVALUASI POLA SURVIVAL KERIPIK SINGKONG SELAMA PENYIMPANAN BERDASARKAN KERUSAKAN FISIK

MODEL HETEROGEN PENGERINGAN BUTIRAN JAGUNG DALAM UNGGUN DIAM

PERANCANGAN BANGUNAN PENGERING KERUPUK MENGGUNAKAN PENDEKATAN PINDAH PANAS. Jurusan Teknik Industri Universitas Ahmad Dahlan 2

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGUJIAN DIRECT EVAPORATIVE COOLING POSISI VERTIKAL DENGAN ALIRAN BERLAWANAN ARAH

EKSPERIMEN PENGARUH UKURAN PARTIKEL PADA LAJU PENGERINGAN PUPUK ZA DALAM TRAY DRYER

FORMULASI PANGAN DARURAT BERBENTUK FOOD BARS BERBASIS TEPUNG MILLET PUTIH (Panicum milliaceum L.) DAN TEPUNG KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris L.

PENENTUAN LAJU PENGERINGAN JAGUNG PADA ROTARY DRYER

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Devi Yuni Susanti 1), Joko Nugroho Wahyu Karyadi 1), dan Setiawan Oky Hartanto 2) Mada Jl. Flora No 1. Bulaksumur, Yogyakarta 55281; ABSTRACT

PENGARUH PENGERINGAN ALAMI DAN BUATAN TERHADAP KUALITAS KAYU GALAM UNTUK BAHAN MEBEL

Pengembangan Metode dan Peralatan Pengering Mekanis untuk Biji-bijian dalam Karung

5/30/2014 PSIKROMETRI. Ahmad Zaki M. Teknologi Hasil Pertanian UB. Komposisi dan Sifat Termal Udara Lembab

PENENTUAN UMUR SIMPAN KRIPIK PISANG KEJU GORONTALO DENGAN PENDEKATAN KURVA SORPSI ISOTERMIS

LAPORAN AKHIR PKM-P PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Apriadi 1), Hanim Z. Amanah 1),Nursigit Bintoro 1),. 1) ABSTRAK. Keyword : corn cob, drying, green house, heat transfer, mass transfer PENDAHULUAN

BAB IV ANALISA. Gambar 4.1. Fenomena case hardening yang terjadi pada sampel.

4.1 FENOMENA DAN PENYEBAB KERUSAKAN KUALITAS PADA PRODUK PENGERINGAN

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode

KADAR AIR KRITIS PADA PROSES PENGERINGAN DALAM PEMBUATAN TEPUNG UBI JALAR (Ipomoea batatas (L) Lam.) ABSTRACT

Gambar 1. Tanaman Temu Putih (Curcuma zedoaria (Berg.) Roscoe) (Ochse & Van Den Brink, 1977)

ABSTRAK. penting dalam penentuan kualitas dari tepung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari hubungan matematis

PENGERINGAN JAGUNG DENGAN METODE MIXED-ADSORPTION DRYING MENGGUNAKAN ZEOLITE PADA UNGGUN TERFLUIDISASI

SIFAT FISIKOKIMIA TEPUNG PREGELATINISASI BERAS MERAH DAN KETAN HITAM DENGAN VARIASI WAKTU PENGUKUSAN SKRIPSI

KARAKTERISTIK PENGERINGAN GABAH PADA ALAT PENGERING KABINET (TRAY DRYER) MENGGUNAKAN SEKAM PADI SEBAGAI BAHAN BAKAR

DARl KELAPA KMINA-1, KHINA-2 DAN KHINA-3

ISOTERM SORPSI AIR DARI KERUPUK KEDELAI

Satuan Operasi dan Proses TIP FTP UB

Pengukuran Difusivitas Termal dan Sifat Dielektrik pada Frekuensi Radio dari Andaliman

Air. Shinta Rosalia Dewi

PENINGKATAN KUALITAS PRODUK DAN EFISIENSI ENERGI PADA ALAT PENGERINGAN DAUN SELEDRI BERBASIS KONTROL SUHU DAN HUMIDITY UDARA

PENENTUAN LAJU PENGERINGAN GABAH PADA ROTARY DRYER

BAB IV HASIL PENGAMATAN. Natrium Asetat Hari Berat Alufo Berat Awal sampel

DESAIN SISTEM PENGERING KERUPUK KEMPLANG DENGAN UAP SUPER PANAS BERBAHAN BAKAR BIOMASA

BAB I PENDAHULUAN. Kacang tanah merupakan komoditas pertanian yang penting karena banyak

PENGARUH JENIS SPRAYER TERHADAP EFEKTIVITAS DIRECT EVAPORATIVE COOLING DENGAN COOLING PAD SERABUT KELAPA

SISTEM PENGERINGAN ADSORPSI DENGAN ZEOLIT (PARZEL) SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN MUTU KARAGINAN

BAB 1 PENDAHULUAN Latar belakang

PEMANFAATAN ALAT PENGERING DENGAN PENGONTROL SUHU UNTUK PAKAN IKAN PADA CV. FAJAR ABADI

Pengeringan. Shinta Rosalia Dewi

PENGARUH KONDISI PENYIMPANAN TERHADAP PERUBAHAN MUTU FISIK, BIOLOGI DAN MIKROBIOLOGIS BERAS GILING

PENDUGAAN UMUR SIMPAN PRODUK PANGAN

Transkripsi:

MODEL MATEMATIKA KADAR AIR KESEIMBANGAN DUA PARAMETER UNTUK LADA Agus Supriatna Somantri Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat ABSTRAK Kadar air keseimbangan atau EMC (Equilibrium of Moisture Content) merupakan faktor penting yang berperan dalam proses pengeringan dan penyimpanan. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Fisiologi Hasil, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat dari tanggal 2 sampai dengan 30 Juni 2001. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan model sorpsi isotermi yang sesuai untuk komoditas lada, sehingga model yang terpilih bisa diaplikasikan pada proses pengeringan dan penyimpanan di lapangan. Metode yang digunakan adalah metode statik pada temperatur 40, 45 dan 50 o C serta rentang aktivitas air (A w ) 0,20 0,64. Model-model yang dipilih adalah model Henderson, model Chung-Pfost, model Oswin dan model Halsey dengan menggunakan metode numerik bahasa BASIC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model matematik dua parameter (temperatur dan kelembaban) telah dapat memberikan hasil yang baik dibandingkan dengan data percobaan. Model Halsey memiliki ketepatan yang terbaik di antara keempat model yang dipilih, sehingga lebih jauh model ini dapat dipergunakan untuk memprediksi sorpsi isotermi untuk lada hitam dan model Oswin untuk lada putih. Kata kunci : Sorpsi isotermi, lada. ABSTRACT The Mathematical Model for Two Parameters of Equilibrium Moisture Content for Black Pepper Equilibrium of Moisture Content (EMC) plays an important role in drying and storage processes. The research was conducted at the Post Harvest Laboratory, Research Institute for Spices and Medicinal Crops, from June 2 to 30, 2001. The research aimed to determine a suitable model of isotherm sorption for pepper commodities, which can be applied on drying and storage processes at the field. The method used was the static method at temperature 40, 45 and 50 o C and range of water activity (A w ) 0.20 0.64. The models correlated were the Henderson, Chung-Pfost, Oswin and Halsey, by using numerical method with the BASIC language. The result showed that the two parameters (temperature and relative humidity) of mathematical model had given good result compared with the experimental data. The model of Halsey showed the best accuracy among the other models and it can be used for prediction of the isotherm sorption for black pepper, while the Oswin model for white pepper. Keywords : Isotherm sorption, pepper. PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu produsen lada terbesar di dunia dengan total produksi rata-rata 60.000 ton per tahun dan 90% dari produksi tersebut ditujukan untuk ekspor (Nurdjannah et al., 2000). Dalam dunia perdagangan 8

dikenal dua jenis lada, yaitu lada putih dan lada hitam. Penanganan terhadap produk tersebut sangat diperlukan sebelum dilakukan pengolahan lebih lanjut baik dalam industri maupun untuk pendistribusiannya. Penanganan yang dilakukan adalah dengan mengurangi kadar air bahan melalui suatu proses pengeringan, baik secara alamiah maupun buatan. Kadar air bahan sangat berpengaruh terhadap aktivitas mikrobiologi yang mengakibatkan pembusukan selama proses pengangkutan dan penyimpanan. Pengeringan merupakan suatu proses yang diperlukan untuk menjaga kualitas berbagai jenis produk bijibijian pertanian dan perkebunan. Proses ini merupakan proses yang kompleks dalam penggambaran fenomena-fenomena perpindahan yang simultan, multifasa dan multidimensi, seperti perpindahan massa, energi, dan momentum. Pengembangan modelmodel matematis untuk menjelaskan proses-proses perpindahan dalam pengeringan tersebut tidak terlepas dari pemahaman tentang konsep kadar air keseimbangan. Dalam hal ini, korelasi antara kadar air seimbang (Me) dengan aktivitas air (Aw) digunakan dalam model pengeringan untuk mengetahui kelembaban udara setimbang pada lapisan batas (permukaan). Kadar air keseimbangan atau Equilibrium of Moisture Content (EMC) merupakan konsep penting dari teori pengeringan dan pembasahan pada bahan-bahan pertanian. Kadar air keseimbangan didefinisikan sebagai kandungan air pada bahan yang seimbang dengan kandungan air udara sekitarnya. Hal tersebut merupakan satu faktor yang menentukan sampai seberapa jauh suatu bahan dapat dikeringkan pada kondisi lingkungan tertentu (aktivitas air tertentu) dan dapat digunakan sebagai tolok ukur kemampuan berkembangnya mikro organisme yang menyebabkan terjadinya kerusakan atau pembusukan bahan pada saat penyimpanan. Istadi et al., (2000), menyatakan bahwa persamaan EMC dua parameter (temperatur dan kelembaban) memberikan korelasi yang baik untuk bahan pertanian berbentuk butiran, sehingga lebih mudah digunakan penerapannya dibandingkan dengan tiga parameter. Menurut Sun Da-Wen (1998), persamaan Modified Chung-Pfost dan Modified Oswin merupakan persamaan yang paling sesuai untuk produk butiran jagung. Sedangkan menurut Sitompul et al. (2000), persamaan Modified Henderson dan persamaan Modified Oswin merupakan persamaan yang sesuai untuk produk butiran jagung, sedangkan untuk butiran padi persamaan Modified-Henderson yang paling sesuai. Pemilihan model persamaan EMC dua parameter telah dilakukan oleh Papadakis et al (1993) dan Sitompul et al., (2000) untuk komoditas biji-bijian. Banyaknya model sorpsi yang dikembangkan menunjukkan bahwa pengembangan model matematik yang dapat menjelaskan data-data sorpsi pada rentang aktivitas air yang lebih lebar dan berlaku untuk bermacammacam produk serta berbagai macam 9

temperatur ternyata lebih sulit. Dalam hal ini pemilihan model EMC tersebut harus memperhatikan beberapa faktor, antara lain (a) kesesuaian data sorpsi terhadap model, (b) rentang aplikasi, (c) dasar teori parameter, (d) kesederhanaan, dan (e) tujuan yang diinginkan (Marinos-Kuoris et al., 1995). Beberapa model baik secara teoritis, semiempiris maupun empiris telah disampaikan oleh para peneliti untuk menjelaskan fenomena histeresis yang terjadi. Beberapa peneliti menyatakan bahwa model GAB merupakan model yang paling baik untuk menjelaskan sorpsi isotermi pada berbagai macam bahan makanan untuk rentang aktivitas air yang cukup lebar (0-0,9). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan model matematik kadar air keseimbangan yang sesuai untuk butiran lada sebagai fungsi dari temperatur dan kelembaban, serta grafik desorpsi isoterminya. Diharapkan model dan grafik yang diperoleh akan menambah informasi tentang kadar air keseimbangan lada. Selanjutnya model matematik ini dapat dipergunakan untuk memprediksi proses desorpsi dan untuk kebutuhan disain peralatan pengeringan khususnya lada. BAHAN DAN METODE Penelitian dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat pada tanggal 2 sampai dengan 30 Juni tahun 2001. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah lada putih, lada hitam dan beberapa garam jenuh, seperti potassium 10 karbonat, sodium nitrat, sodium dikromat, sodium bromida dan magnesium klorida. Sedangkan peralatan yang digunakan meliputi cawan, desikator, oven dan timbangan. Garam-garam jenuh tersebut dipergunakan untuk membangkitkan kelembaban udara tertentu seperti ditunjukkan pada Tabel 1. Tabel 1. Nilai Kelembaban nisbi udara (%) beberapa garam jenuh pada setiap perbedaan temperatur Table 1. Relative humidity (%) of some saturated salts at different temperatures Larutan garam jenuh (Saturated salt) CH 3 COOK MgCl 2 K 2 CO 3 NaBr NaNO 3 Suhu, o C (Temperature, o C) 40 45 50 20 c 32 a 43 c 54 c 64 d 20 b 32 b 43 c 54 b 64 d 20 b 32 b 43 b 54 b 64 d a. Gustafson (1972) dalam Brooker et al (1981) b. Interpolasi c. Wink and Sears (1950) dalam Metz (1965) d. Hall (1957) dalam Brooker et al (1981) Penentuan EMC lada pada penelitian ini dilakukan dengan metode statik pada suhu 40, 45 dan 50 o C. Metode ini diterapkan dengan menempatkan biji lada dalam cawan masingmasing sebanyak 25 g, kemudian dimasukkan ke dalam desikator yang telah dilengkapi dengan garam jenuh pada bagian bawahnya. Setelah itu cawan beserta desikator dimasukkan ke dalam oven yang suhunya diatur seperti tersebut di atas. Tabel 2. Model-model EMC dua parameter Table 2. The two- parameters models of EMC No. Nama/Name Model EMC dua parameter/two parameters models of EM 1. Henderson ln1 A 2. Chung-Pfost 3. Oswin 4. Halsey X 1 AT w 1/ B A X ln ln( ln A w ) B RT Aw X A 1 A A X T ln W A W B 1/ B

Data-data percobaan yang diperoleh berupa perubahan kadar air bahan dalam lingkungan suhu dan kelembaban udara yang telah ditentukan (20, 32, 43, 54 dan 64%), kemudian diaplikasikan pada modelmodel EMC dua parameter seperti pada Tabel 2 di bawah ini. Metode pengkorelasian dilakukan dengan metode regresi non-linier dengan menggunakan bahasa BASIC. Untuk mengetahui tingkat ketepatan setiap model yang diterapkan, digunakan kriteria modulus deviasi (P), yang dinyatakan sebagai berikut (Lomauro dan Bakshi 1985) : n 100 Xni Xmi P n i1 Xmi dimana : A, B : Parameter-parameter dalam model EMC A w : Aktivitas air = RH/100 T : Temperatur r : Koefisien korelasi R 2 : Koefisien determinasi X : Kadar air keseimbangan atau EMC P : Tingkat ketepatan model Xm : Kadar air keseimbangan dari hasil simulasi Xn : Kadar air keseimbangan dari hasil percobaan n : Jumlah data HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian kadar air keseimbangan untuk lada putih dan lada hitam ditunjukkan pada Gambar 1. Kadar air keseimbangan akan semakin besar dengan turunnya temperatur pada aktivitas air yang tetap. Kenaikan temperatur menyebabkan meningkatnya jumlah air yang teruapkan dan menurunnya jumlah air yang terserap pada aktivitas air tetap. Kecenderungan yang sama telah ditemukan untuk beberapa produk makanan, seperti yang dilaporkan pada beberapa literatur (McMinn et al., 1997, Sun, 1998). Nilai parameter (A, B) hasil regresi non-linier untuk model-model EMC ditunjukkan pada Tabel 3, sedangkan nilai uji ketepatan model ditunjukkan pada Tabel 4. 11

Tabel 4. Tingkat ketepatan hasil pengujian model Table 4. The accuracy level of model testing 12 Komoditas Commodity Lada Putih White pepper Suhu, o C Tingkat ketepatan (Accuracy level) Temperature, o C Henderson Chung-Pfost Oswin Ha 40 2,76 2,93 2,57 4 45 3,31 3,19 3,91 5 50 4,58 6,42 3,39 3 Rata-rata (Average) 3,55 4,18 3,29 4 40 8,56 9,76 7,45 5 Lada Hitam 45 4,76 6,11 3,39 1

Pada Tabel 4 terlihat bahwa keempat model yang digunakan memiliki ketepatan yang sangat tinggi bila diaplikasikan pada lada putih, sedangkan untuk lada hitam Model EMC dua parameter yang memiliki tingkat ketepatan yang tinggi berturutturut adalah model Halsey, Oswin, Henderson dan Chung-Pfost. Modelmodel ini dalam aplikasinya dapat digunakan untuk menduga besarnya kadar air keseimbangan yang bisa dicapai pada kisaran suhu 40-50 o C dan sampai berapa lama nilai EMC ini bisa dicapai, sehingga akan memberikan kemudahan dalam membuat sebuah perencanaan proses pengeringan khususnya untuk komoditas lada. Hasil penelitian penentuan kadar air keseimbangan lada (Gambar 1) menunjukkan bahwa kurva keseimbangan yang diperoleh untuk model-model yang dipilih pada dasarnya tidak berbeda jauh. Koefisien korelasi (r) dan koefisien determinasi (R 2 ) untuk hasil regresinya mempunyai harga yang cukup tinggi yaitu untuk nilai korelasinya berkisar antara 0,96 0,99, sedangkan untuk koefisien determinasinya berkisar 0,92 0,99. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan model dua parameter untuk kepentingan proses desorpsi sangat sesuai untuk komoditas lada ini. 13

14 Gambar 1. Sorpsi isotermi (desorpsi) hasil regresi dua parameter untuk lada Figure 1. Isotherm sorption (desorption) of two parameters of pepper

KESIMPULAN Model matematik dua parameter telah memberikan hasil korelasi yang baik untuk memprediksi besarnya kadar air keseimbangan pada kondisi suhu dan kelembaban tertentu. Model Halsey, Oswin, Henderson dan Chung- Pfost berturut-turut adalah model matematik yang dapat dipergunakan untuk kegiatan sorpsi isotermi lada hitam, sedangkan untuk lada putih keempat model yang dipilih memiliki tingkat ketepatan yang sangat tinggi. Dari keempat model yang dipilih, model Halsey memiliki ketepatan tertinggi untuk menduga proses desorpsi pada lada hitam, sedangkan untuk lada putih adalah model Oswin. Keberlakuan model-model ini hanya pada rentang nilai aktivitas air antara 0,2 0,64. Dalam hal ini, perlu dikembangkan atau dipilih lebih lanjut model yang bisa menjelaskan sorpsi isotermi yang dapat berlaku pada rentang aktivitas air yang lebih besar dan juga dapat berlaku untuk semua jenis produk pada berbagai temperatur. DAFTAR PUSTAKA Brooker, D.B., F.W. Bakker-Arkema dan C.W. Gall, 1981. Drying cereal grains. The AVI Pub. Co., Inc. Westport, Connecticut. Istadi, J.P., Sitompul dan S. Sumardiono, 2000. Perbandingan korelasi dua dan tiga parameter untuk prediksi kandungan air setimbang padi. Prosiding Seminar Nasional Rekayasa Kimia dan Proses 2000, 26-27 Juli 2000. Jurusan Teknik Kimia, Universitas Diponegoro. Lopez, A., M. T. Pique, J. Boatella, A. Ferra, J. Garcia, dan A. Romero, 1998. Drying characteristics of the hazelnut. Drying Technology, 16 (3-5) : 627-649. Lomauro, G.J. dan A.S. Bakshi, 1985. Finite element analysis of moisture diffusion in store foods. Food Sci. 50 : 395. Marinos-Kouris, D. dan Z.B. Maroulis, 1995. Transport properties in the drying of solids, dalam Handbook of Industrial Drying, A.S. Mujumdar (ed). Vol. 1. Marcel Dekker, Inc., New York, pp. 113 159. McMinn, W.A.M., dan T.R.A. Magee, 1997. Moisture sorption characteristics of starch materials. drying technology. 14(5): 1527 1551. 15

Nurdjannah, N., T. Hidayat dan Risfaheri, 2000. Pedoman pengolahan lada putih dengan mesin. Kerjasama Pemda Kabupaten Bangka dengan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Tidak dipublikasikan). Papadakis, S.E., R.E. Bahu, K.A. McKenzie, dan I.C. Kemp, 1993. Measurement and prediction of the equilibrium moisture content for drying. The 1993 Research Event, pp. 507 509. Stencl, J., J. Gotthardova, dan P. Homola, 1998. Equilibrium moisture content of dried blood flour in the temperature range of 20 50 o C. Drying Technology, 16(8): 1729 1739. Sitompul, J.P., Istadi dan S. Sumardiono, 2000. Non liniear parameter estimation of EMC correlation for grain-type agricultural products. Proc. Of International Confrence on Fluid- Thermal and Energy Conversion 2000, 2-6 July, Bandung, Indonesia. Sun, Da-Wen, 1998. Selection of EMC/ERH isotherm equation for shelled corn based on fitting to available data. Drying Technology, 16(3 5) : 779-797. 16