LEMBARAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I BALI NOMOR : 176 TAHUN : 1993 SERI : B NO. 1 PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I BALI

dokumen-dokumen yang mirip
PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 9 TAHUN 2003 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN IJIN USAHA PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI BANTEN NOMOR : 6 TAHUN 2004 TENTANG IZIN USAHA PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANTEN,

PERATURAN DAERAH PROPINSI LAMPUNG NOMOR 2 TAHUN 1991 TENTANG PERIZINAN USAHA PERIKANAN DALAM WILAYAH PROVINSI DAERAH TINGKAT I LAMPUNG

BUPATI KEPULAUAN MERANTI

GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR

PERIZINAN USAHA PERIKANAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG IZIN USAHA PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEBUMEN,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG

PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN NOMOR 14 TAHUN 2000 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA IKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TARAKAN,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 28 TAHUN 2012 TENTANG USAHA PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PASURUAN,

PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO

LEMBARAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I SULAWESI SELATAN NOMOR : 12 TAHUN 1996 SERI : B NOMOR: 2

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I SUMATERA SELATAN

BUPATI JEMBRANA KEPUTUSAN BUPATI JEMBRANA NOMOR 656 TAHUN 2003

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 4 TAHUN 2003 TENTANG PERIZINAN USAHA PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA TAHUN 2010 NOMOR 2 PERATURAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG. IZIN USAHA PERIKANAN dan TANDA PENCATATAN KEGIATAN PERIKANAN

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1990 TENTANG USAHA PERIKANAN

PERATURAN DAERAH KOTA PEKANBARU Nomor : 9 Tahun 2000 T E N T A N G PERIZINAN USAHA PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PEKANBARU

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TRENGGALEK,

SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA

PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA BARAT NOMOR 14 TAHUN 2002 TENTANG USAHA PERIKANAN DAN RETRIBUSI USAHA PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH KABUPATEN KOLAKA UTARA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULELENG NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG RETRIBUSI IZIN USAHA PERIKANAN KABUPATEN BULELENG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1990 TENTANG USAHA PERIKANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 54 TAHUN 2002 TENTANG USAHA PERIKANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 1990 Tentang : Usaha Perikanan

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI NOMOR 36 TAHUN 2000 TENTANG USAHA PERIKANAN DI KABUPATEN KUTAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KUTAI,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BERAU

PERATURAN DAERAH KABUPATEN POSO NOMOR : 25 TAHUN 2001 TENTANG RETRIBUSI IZIN USAHA PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI POSO

BUPATI JENEPONTO Jalan Lanto Dg. Pasewang No. 34 Jeneponto Telp. (0419) Kode Pos 92311

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 54 TAHUN 2002 TENTANG USAHA PERIKANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PEMERINTAH KABUPATEN TRENGGALEK SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG RETRIBUSI IZIN USAHA PERIKANAN

PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG IZIN USAHA PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BALIKPAPAN,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BADUNG NOMOR 3 TAHUN 1990 TENTANG PAJAK RUMAH BOLA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN REMBANG NOMOR 9 TAHUN 2006 TENTANG PERIZINAN USAHA PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI REMBANG,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BADUNG NOMOR 18 TAHUN 1994 TENTANG BEA PANGKAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BUTON UTARA TAHUN 2015 NOMOR 9 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BUTON UTARA NOMOR 9 TAHUN 2015 RETRIBUSI IZIN USAHA PERIKANAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BADUNG NOMOR 4 TAHUN 1991 TENTANG TERMINAL KENDARAAN BERMOTOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG TIMUR NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PERIZINAN USAHA PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN DONGGALA

WALIKOTA BANJARMASIN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KOTA BANJARMASIN TENTANG PERIZINAN USAHA PERIKANAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT NOMOR 45 TAHUN 2001 TENTANG RETRIBUSI PENGUSAHAAN PERIKANAN

PEMERINTAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I J A W A T I M U R

QANUN KOTA LANGSA NOMOR 12 TAHUN 2003 TENTANG RETRIBUSI IZIN USAHA PERIKANAN DAN KELAUTAN DENGAN RAHMAT ALLAH SUBHANAHU WATA ALA WALIKOTA LANGSA,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BADUNG NOMOR 2 TAHUN 1990 TENTANG PAJAK POTONG HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SINJAI NOMOR 23 TAHUN 2012 TENTANG RETRIBUSI IJIN USAHA PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SINJAI,

PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR

LEMBARAN DAERAH KOTA TARAKAN TAHUN 2010 NOMOR 14

PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA (PERDA DIY) NOMOR : 15 TAHUN 1987 (15/1987) TENTANG USAHA PETERNAKAN

PEMERINTAH KABUPATEN MAJENE

LEMBARAN DAERAH KAUPATEN TOLITOLI TAHN 2012 NOMOR 4 BUPATI TOLITOLI PERATURAN DAERAH KABUPATEN TOLITOLI NOMOR 4 TAHUN 2012 T E N T A N G

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PERIZINAN USAHA PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERAM BAGIAN TIMUR NOMOR 08 TAHUN 2013 TENTANG RETRIBUSI IZIN USAHA PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 54 TAHUN 2002 TENTANG USAHA PERIKANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BATANG Tahun 2010 Nomor 4 9. LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BATANG Tahun 2010 Nomor 4 9 NOMOR 4 TAHUN 2010

PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BADUNG NOMOR 5 TAHUN 1998 TENTANG PELESTARIAN SUMBER DAYA PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

QANUN PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM NOMOR 17 TAFIUN 2002 TENTANG DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA GUBERNUR NANGGROE ACEH DARUSSALAM,

PERATURAN DAERAH KOTA KENDARI

PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PERIZINAN USAHA PERIKANAN

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 3 TAHUN 2005 TENTANG PERIZINAN USAHA PERIKANAN

- 2 - MEMUTUSKAN : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 15 TAHUN 1990 TENTANG USAHA PERIKANAN.

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 54 TAHUN 2002 TENTANG USAHA PERIKANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR : 3 TAHUN 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG RETRIBUSI IZIN USAHA PERIKANAN

BUPATI BULUNGAN PROVINSI KALIMANTAN UTARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 10 TAHUN 2016

PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II JEMBRANA NOMOR 5 TAHUN 1991 TENTANG PEMBERIAN IJIN TEMPAT USAHA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA SELATAN

PEMERINTAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II GRESIK PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II GRESIK NOMOR 03 TAHUN 1994 TENTANG

PEMERINTAH PROVINSI MALUKU PERATURAN DAERAH PROVINSI MALUKU NOMOR : 11 TAHUN 2008 TENTANG RETRIBUSI IZIN USAHA PERIKANAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II JEMBRANA NOMOR 4 TAHUN 1991 TENTANG PEMBERIAN IZIN UNDANG-UNDANG GANGGUAN ( HO )

QANUN KABUPATEN ACEH BARAT DAYA NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG IZIN USAHA PERIKANAN BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA

PEMERINTAH KABUPATEN LAMONGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH LAMONGAN NOMOR 27 TAHUN 2010 TENTANG RETRIBUSI IZIN USAHA PERIKANAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 15 TAHUN 2007 TENTANG USAHA PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBAWA,

PERLINDUNGAN TERHADAP IKAN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG

PEMERINTAH PROVINSI PAPUA BARAT PERATURAN DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG RETRIBUSI IZIN USAHA PERIKANAN

LEMBARAN DAERAH KOTA PEKALONGAN TAHUN 2006 NOMOR 5

PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BADUNG NOMOR 4 TAHUN 1996 TENTANG PAJAK RADIO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II SUMEDANG NOMOR : 2 TAHUN : 1993 SERI : C.2

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG RETRIBUSI IZIN USAHA PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KLUNGKUNG,

PERATVRAN DAERAH KABUPATEN BANYUASIN NOMOR 22 TAHUN 2003 TENTANG IZIN USAHA PERIKANAN DALAM KABUPATEN BANYUASIN DENGAN RAHMAT TVHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 4 TAHUN 2006 TENTANG RETRIBUSI IZIN USAHA PERIKANAN

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN TENTANG MAHA ESA GUBERNUR MALUKU, bahwa. Menimbang. merupakan. Maluku; Usaha. Perikanan : 1. Mengingat. Tahun. Lembaran Indonesia

PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BADUNG NOMOR 2 TAHUN 1994 TENTANG RETRIBUSI KEBERSIHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER. 12/MEN/2007 TENTANG PERIZINAN USAHA PEMBUDIDAYAAN IKAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DRAFT PERATURAN DAERAH TENTANG RETRIBUSI IZIN USAHA PERIKANAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PENGENDALIAN DAN PERLINDUNGAN SEMPADAN SUNGAI

LEMBARAN DAERAH KOTA DUMAI

PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BADUNG NOMOR 3 TAHUN 1996 TENTANG TEMPAT DAN RETRIBUSI PARKIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BADUNG NOMOR 9 TAHUN 1990 TENTANG IJIN TEMPAT USAHA DAN IJIN UNDANG-UNDANG GANGGUAN (HINDER ORDONNANTIE)

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANOKWARI NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG RETRIBUSI IZIN USAHA PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MANOKWARI,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG NOMOR : 9 TAHUN 2003 TENTANG RETRIBUSI IZIN USAHA PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BENGKAYANG,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BREBES. Nomor : 6 Tahun : 2010 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BREBES NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 16 TAHUN 2005 TENTANG USAHA PERIKANAN DI KABUPATEN INDRAMAYU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BREBES

PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN NOMOR 21 TAHUN 2001 TENTANG PENGESAHAN PENDIRIAN DAN PERUBAHAN BADAN HUKUM KOPERASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Transkripsi:

LEMBARAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I BALI NOMOR : 176 TAHUN : 1993 SERI : B NO. 1 PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I BALI NOMOR 17 TAHUN 1991 T E N T A N G IJIN USAHA PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I BALI, Menimbang : a. bahwa berhubung Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Bali Nomor 5 Tahun 1980 ten-tang Ijin Usaha Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I Bali beserta pembahannya sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan saat ini ; b. bahwapengelolaan dan pemanfaatan sumber daya perikanan perlu dibina dan diatur sebaik-baiknya sehingga pemanfaatannya dapat memperluas kesempatan kerja, meningkatkan taraf hidup masyarakat nelayan dan petani ikan serta kelestarian sumber daya perikanan dan lingkungannya dapat dipertahankan ; c. bahwa untuk pelaksanaan pembinaan dan pengaturan pemanfaatan sumber daya perikanan serta untuk meningkatkan pendapatan daerah dipandang perlu menetapkan Peraturan Daerah Pro pinsi Daerah Tingkat I Bali tentang Ijin Usaha Perikanan. Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah (Lemba-ran Negara Republik lndonesia Tahun 1974 Nomor 38; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3037) ; 2. Undang-undang Nomor 64 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-daera htingkat I Bali,Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1958 Nomor 115; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1649);

3. Undang-undang Nomor 12 Drt. Tahun 1957 tentang Peraturan Umum Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik IndonesiaTahun 1957 Nomor 57; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1288) ; 4. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 46; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3299) ; 5. Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 1957 tentang Penyerahan Sebagian dari urusan Pemerintah Pusat di Lapangan Perikanan Laut, Kehutanan dan Karet Rakyat kepada Daerah-daerah Swatantra Tingkat I (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1957 Nomor 169; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1490); 6. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisis mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Republik IndonesiaTahun 1986 Nomor 42; Tambah an Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3338) ; 7. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1990 tentang Usaha Perikanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 19; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3408) ; 8. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 14 Tahun 1974 tentang Bentuk Peraturan Daerah ; 9. Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 815/ Kpts/IK. 120/11/90 tentang Perizinan Usaha Perikanan. Dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Bali. MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I BALI TENTANG IJIN USAHA PER-IKANAN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : a. Gubernur Kepala Daerah adalah Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali ; b. Dinas Perikanan adalah Dinas Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I Bali ; c. Ikan adalah semua jenis ikan termasuk biota perairan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 ; d. Usaha Perikanan adalah kegiatan ekonomi yang berkesinambungan yang dilakukan perorangan atau Badan-Badan Hukum Indonesia untuk menangkap atau membudidayakan ikan, termasuk kegiatan menyimpan, mendinginkan, mengolah, atau mengawetkan ikan untuk tujuan komersil;

e. Perusahaan Perikanan adalah perusahaan yang rnelakukan usaha perikanan atau dilakukan oleh Warga Negara Republik Indonesia atau Badan Hukum Indonesia ; f. Penangkapan ikan adalah kegiatan yang bertujuan untuk memperoleh ikan di perairan yang tidak dalam keadaan dibudidayakan dengan alat atau cara apapun termasuk yang menggunakan kapal untuk memuat, mengangkut, menyimpan, mendinginkan atau mengavvetkannya ; g. Kapal perikanan adalah kapal atau perahu atau alat apung lainnya yang dipergunakan untuk penangkapan ikan, termasuk untuk melakukan survai atau eksplorasi perikanan ; h. Usaha budidaya ikan adalah kegiatan untuk memelihara,membesarkan dan ataumembiakkan ikan dan memanen hasilnya ; i. Usaha pengumpulan dan pengangkutan ikan adalah kegiatan untuk memuat, mengangkut, menyimpan dan mendistribusikan ikan dan hasil olahannya ; j. Usaha pengolahan/pengawetan ikan adalah kegiatan perlakuan ikan dengan atau tanpa bah an pengawet sehingga sifat fisik akhir berbeda dari semula ; k. Ijin Usaha Perikanan adalah ijin tertulis yang harus dimiliki Perusahaan Perikanan untuk rae-laksanakan usaha perikanan dengan menggunakan sarana produksi seperti yang tercantum dalam ijin dimaksud yang selanjutnya disebut IUP; 1. SuratPenangkapan Ikan adalah suratyangharus dimiliki setiap kapal perikanan berbendera Indonesia yang melakukan kegiatan penangkapan ikan di perairan Indonesia dan atau Zona Eko-nomiEksklusif Indonesia (ZEEI)yangmerupakari bagian yang tidak terpisahkan dari IUP yang selanjutnya disebut SPI ; m. Nelayan adalah orangyangmatapencahariannya menangkap ikan ; n. Petaniikanadalahorangyangmatapencaharian-nya melakukan pembudidayaan ikan. BAB II WEWENANG PEMBERIAN IJIN DAN KEWENANGAN PEMEGANG IJIN Pasal 2 (1) Perusahaan Perikanan yangberdomisili di Propinsi Daerah Tingkat I Bali wajib memiliki IUP dari Gubernur Kepala Daerah. (2) Ijin sebagaimana dimaksud ayat (1), diberikan kepada perorangan berkewarganegaraan Indonesia atau Badan Hukum Indonesia yang seluruh modalnya adalah modal nasional serta tidak menggunakan tenaga asing. (3) IUP sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberikan untuk masing-masing usaha perikanan dan berlaku selama pemegang ijin masih melaksanakan kegiatan.

Pasal 3 Perusahaan perikanan yangtelah memiliki IUP dapat melakukan perluasan usahanya setelah mendapat persetujuan dari pemberi ijin. Pasal 4 (1) Perusahaan Perikanan yang telah memiliki IUP apabila menggunakan Kapal Perikanan diwajibkan memiliki SPI setelah menyampaikan dokumen teknis Kapal. (2) SPI sebagaimana dimaksud ayat (1) diterbitkan oleh pemberi IUP dan berlaku selama 3 (tiga) tahun. Pasal 5 (1) IUP dan SPI diberikan kepada Perusahaan Perikanan yang menggunakan kapal perikanan tidak bermotor, kapal perikanan bermotor luar dan kapal perikanan bermotor dalam yang berukuran tidak lebih dari 30 GTdan atau yang mesinnya berkekuatan tidak lebih dari 90 Daya Kuda (DK) serta berpangkalan di Propinsi Daerah Tingkat I Bali. (2) IUP diberikan kepada Perusahaan Perikanan yang melakukan pembudidayaan ikan di air tawar, di air payau dan di laut. Pemegang IUP berkewajiban : Pasal 6 a. melakukan ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam IUP dan SPI ; b. memberikan laporan kegiatan usaha setiap 6 (enam) bulan sekali ; c. memohon persetujuan tertulis dari pemberi ijin dalam hal memindahtangankan IUP nya. Pasal 7 Ke wajiban memiliki IUP sebagaimana dimaksud pasal 2 ayat (1), dikecualikan bagi : a. kegiatan penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan dengan menggunakan sebuah kapal peri kanan tidak bermotor atau menggunakan motor luar atau motor dalam yang berukuran tidak lebih dari 5 GT dan atau yang mesinnya berkekuatan tidak lebih dari 15 Daya Kuda (DK); b. kegiatan pembudidayaan ikan yang dilakukan oleh petani ikan di kolam air tenang dengan luas a"real lahan tidak lebih dari 2 (dua) Ha ; c. kegiatan pembudidayaan ikan di air payau yang dilakukan oleh petani ikan dengan luas areal lahan tidak lebih dari 4 (empat) ha dan atau dengan padat penebaran 50.000 (lima puluh ribu) benih/ha ; d. kegiatan pembudidayaan ikan di laut yang dilakukan oleh petani ikan dengan luas areal lahan tidak lebih dari 0,5 (setengah) Ha.

Pasal 8 (1) Nelayan dan petani ikan yang tidak diwajibkan memiliki IUP dalam rangka pembinaan dan pengawasan setiap tahun wajib mencatatkan kegiatannya kepada Dinas Perikanan Kabupaten Daerah Tingkat II setempat. (2) Nelayan dan petani ikan yang telah dicatat sebagaimana dimaksud ayat (1), diberikan tanda pencatatan kegiatan perikanan. (3) Tanda pencatatan kegiatan perikanan berkedudukan sederajat dengan IUP. BAB III SYARAT-SYARAT DAN TATA CARA PEMBERIAN IJIN USAHA PEREKANAN DAN SURAT PENANGKAPAN IKAN Pasal 9 IUPdiberikankepadaPerusahaan Perikanan setelah menyampaikan permohonan tertulis kepada Guber-nur Kepala Daerah yang dilengkapi dengan : a. Rencana Usaha ; b. N P W P ; c. Akte Pendirian Perusahaan/Koperasi ; d. Dokumen teknis kapal yang telah dimiliki ; e. Ijin lokasi/persetujuan prinsip lokasi dari Gubernur Kepala Daerah bagi usaha pembudidayaan ikan ; f. Penyajian Analisis mengenai Dampak Lingku-ngan (AMDAL) bagi usaha pembudidayaan ikan. Pasal 10 Guna kelancaran pelaksanaan pemberian IUP sebagaimana dimaksud pasal 2 ayat (l)gubernur Kepala Daerah menyerahkan wewenang pemberian IUP dimaksud kepada Kepala Dinas Perikanan. (1) IUP berakhir karena : BAB IV BERAKHIRNYA IJIN USAHA PERIKANAN DAN SURAT PENANGKAPAN IKAN Pasal 11 a. diserahkan kembali kepada pemberi ijin ; b. perusahaan Perikanan dinyatakan Pailit;

c. perusahaan perikanan menghentikan usahanya ; d. dicabut oleh pemberi ijin. (2) Pencabutan IUP sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf d dalam hal pemegang IUP : a. melakukan perluasan usaha tanpa persetujuan tertulis dari pemberi ijin ; b tidakmelaksanakanketentuan-ketentuanyang tercantum dalam IUP ; c. memindahtangankan IUP tanpa persetujuan tertulis dari pemberi IUP ; d. tidak menyampaikan laporan kegiatan usaha 3 (tiga) kali berturut-turut dan atau dengan sengaja menyampaikan laporan yang ti dak benar. (3) SPI berakhir karena : a. jangka berlakunya telah habis ; b. diserahkan kembali kepada pemberi ijin sebelum jangka waktunya habis ; c. dicabut oleh pemberi ijin ; d. IUP yang bersangkutan dicabut oleh pemberi ijin (4) Pencabutan SPI sebagaimana dimaksud ayat (3) huruf c dalam hal : a. perusahaan perikanan tidak melaksanakan ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam IUP dan atau SPI ; b. perusahaan perikanan menggunakan kapal Perikanan di luar kegiatan penangkapan ikan ; c. perusahaan perikanan tidak lagi menggunakan kapal Perikanan yang dilengkapi SPI tersebut. BAB V PUNGUTAN DAERAH Pasal 12 Untuk setiap pemberian IUP sebagaimana dimaksud pasal 2 ayat (1) dan perluasan usahanya sebagaimana dimaksud pasal 3 dikenakan Retribusi sebagai beri-kut: a. Retribusi atas ijin usaha penangkapan per unit penangkapan : 1. Jaring. a). Muroami : Rp. 20.000,00 b) Lampara : Rp. 25.000,00

c) Payang : Rp. 25.000,00 d) Purse Seine : Rp. 25.000,00 e) Dill Net : Rp. 15.000,00 f) Pukat Pantai : Rp.10.000,00 g). Jala/Serok : Rp. 5000,00 2. P a n c i n g. a). Long Line (Rawe Tuna) : Rp. 35.000,00 b). Pole and Line : Rp. 35.000,00 c). Long Line Mini (Prawe) : Rp. 15.000,00 d). Bertical Line (Ulur) : Rp. 25.000,00 e). T o n d a : Rp. 10.000,00 3. P e r a n g k a p. a). Bubu per unit : Rp. 15.000,00 b). Bagan/Serok : Rp. 10.000,00 4. a ). R u m p on : Rp. 10.000,00 b). Alat Selam : Rp. 15.000,00 b. Retribusi atas ijin kapal perikanan : 1. Kapal Perikanan bermesin dalamper GT : Rp 1.000,00 2. Perahu dengan motor tem- pelper PK : Rp. 250,00 c. Retribusi atas ijin usaha budidaya : 1. Air Tawar. a). Kolam air tenang per Ha : Rp. 10.000,00 b). Kolam air deras per 100 M 2 : Rp. 10.000,00 2. Air Payau (Tambak). a). Tambak intensif per Ha : Rp. 30.000,00 b). Tambak nonintensif per

3. La ut. Ha : Rp. 10.000,00 a). Rumput Laut per Ha : Rp. 20.000,00 b). Ikan Kerapu, Kakap, Beronang dan Lobster per 100 M2 : Rp. 1.500,00 c). Kerang Hijau per 100 M2 : Rp. 1.000,00 d). Kerang Mutiara per 100 M2 : Rp. 5.000,00 d. Retribusi atas ijin usaha pembenihan : 1. Pembenihan Udang : a). Udang Galah. 1. Kapasitas 1 juta sam- pai 4 juta ekor : Rp. 20.000,00 2. Kapasitas 4 juta ekor ke atas : Rp. 35.000,00 b). Udang Windu. 1. Kapasitas 1 juta sam- pai 4 juta ekor/tahun : Rp. 40.000,00 2. Kapasitas 4 juta ekor keatas/tahun : Rp. 75.000,00 2. Pembenihan Bandeng : Rp. 40.000,00 3. Pembenihan ikan lainnya : Rp. 25.000,00 e. Retribusi atas ijin usaha pengumpulan, penyimpanan dan pengangkutan hasil-hasil perikanan untuk tujuan ekspor/ impor : Rp. 40.000,00 f. Retribusi atas Ijin Usaha Pengelolaan/Pengawetan : 1. Pengolahan tradisional dengan kapasitas : 1 ton ke atas per hari : Rp. 10.000,00 2. Pengolahan modern a. Kapasitas 10 ton per hari : Rp. 25.000,00

b. Kapasitas 10-20 ton per hari : Rp. 35.000,00 c. Kapasitas di atas 20 ton per hari : Rp. 50.000,00 Pasal 13 (1) Retribusi IUP sebagaimana dimaksud pasal 12 harus dibayar lunas pada saat ijin diterima. (2) Pelaksanaan pungutan atas ijin usaha perikanan serta perubahan ijin dilakukan oleh Dinas Perikanan. (3) Semua pendapatan dari pungutan sebagaimana dimaksud ayat (2) disetor ke Kas Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Bali sesuai ketentuan yang berlaku. (4) Para petugas yang melaksanakan kegiatan perijinan usaha perikanan diberikan uang perangsang sebesar 5 (lima) % dari keseluruhan hasil pendapatan sebagaimana dimaksud ayat (3). BAB VI KETENTUAN PIDANA Pasal 14 (1) Barang siapa yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pasal 2 ayat (1), pasal 4,pasal 6, pasal 6 ayat (1) dan Pasal 12 Peraturan Daerah ini diancam dengan pidana kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 50.000,- (lima puluh ribu rupiah) ; (2) Apabila'tindak pidana sebagaimana dimaksud ayat (1) dilakukan oleh : a. Suatu Badan Hukum, maka tindakan hukuman dikenakan terhadap pengurus Badan Hukum dimaksud ; b. Kapal Perikanan, maka tindakan hukum dike nakan terhadapnakhodakapal yang bersang-kutan. (3) Tindak pidana sebagaimana dimaksud ayat (1) adalah pelanggaran. BAB VII KETENTUAN PENYIDIKAN Pasal 15 (1) Selain oleh Pejabat Penyidik Umum yang bertugas menyidik tindak pidana, peyidikan atas tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Daerah ini, dapat juga dilakukan oleh Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil dilingkungan Pemerintah Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Bali yang pengangkatannya ditetapkan sesuai dengan Peraturan

Perundang-undangan yang berlaku. (2) Dalam melaksanakan tugas penyidikan, Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud ayat (1), berwenang : a. menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana ; b. melakukan tindakan pertama pada saat itu di tempat kejadian dan melakukan pemeriksaan ; c. menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka ; d. melakukan penggeledahan dan penyitaan barang bukti dan atau surat; e. mengambil sidik jari dan memotret tersangka ; f. memanggil oranguntukdidengardan diperiksa sebagai tersangka atau saksi ; g. mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara; h. mengadakan penghentian penyidikan setelah mendapat petunjuk dari penyidik POLRI bahwa tidakterdapatcukupbuktiatauperistiwaterse-but bukan merupakan tindak pidana dan se-lanjutnya melalui Penyidik POLRI memberi-tahukan hal tersebutkepada penuntut umum, tersangka atau keluarganya ; i. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang dapat dipertanggungjawabkan. BAB VIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 16 IUP dan SPI yang telah dikeluarkan sebelum dite-tapkannya Peraturan Daerah ini, tetap berlaku sam-pai habis masa berlakunya dan harus diperbaharui sepanjangperusahaan Perikanan yangbersangkutan masih melanjutkan kegiatannya berdasarkan Peraturan Daerah ini. BAB IX KETENTUAN PENUTUP Pasal 17 Hal-hal yangbelum diatur dalam Peraturan Daerah ini, akan diatur kemudian oleh Gubernur Kepala Daerah, sepanjangmengenai Peraturan Pelaksanaan-nya. Pasal 18 Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Bali Nomor 05 Tahun 1980 tentangljin Usaha Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I Bali yang diubah dengan Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Bali Nomor 02 Tahun 1985 tentang Perubahan Pertama Kali Peraturan Daerah Propinsi

Daerah Tingkat I Bali Nomor 05 Tahun 1980 tentang Ijin Usaha Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I Bali, dinyatakan tidak berlaku lagi. Pasal 19 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar supaya setiap orang mengetahuinya memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Bali. DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I BALI KETUA, Ttd. I GUSTI PUTU RAKA, SH Denpasar, 5 Desember 1991. GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I BALI, Ttd. IDA BAGUS OKA. DISAHKAN Dengan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Tanggal : 16 Maret 1993 Nomor : 503.523.61-332 Direktorat Jenderal Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah Direktur Pembinaan Pemerintahan Daerah ttd. (Drs. SOEJITNO) Pembina Utama Madya Nip. :010021794

Diundangkan dalam Lembaran Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Bali Nomor : 176 tanggal : 13 April 1993 Seri : B Nomor : 1. Sekretaris Wilayah/Daerah Tingkat I Bali, ttd. DEWA BERATHA PEMBINA UTAMA MADYA NIP. 010049857

P E N J E L A S A N ATAS PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I BALI NOMOR 17 TAHUN 1991 T E N TA NG IJIN USAHA PERIKANAN I. UMUM. Pengelolaan sumber daya ikan merupakan suatu bagian integral dari proses pembangunan, dengan demikian perlu adanya mekanisme pengelolaan yang efektif sehingga pemanfaatannya dapat dilaksanakan secara optimal dan rasional dengan memberi-kan manfaat yang sebesar-besarnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta pelestarian sumber daya ikan dan lingkungan dapat dipertahankan. Disamping adanya usaha-usaha melestarikan kekayaan sumber daya hayati perikanan, perlu pula adanya pembinaan kepada usahausaha perikanan yang mengelola kekayaan sumber itu sendiri. Selanjutnya kepada usaha-usaha perikanan dikenakan retribusi guna menunjang pembinaan atas usaha-usaha perikanan dimaksud disamping menambah pendapatan Daerah di dalam rangka membiayai kegiatan pembangunan di Propinsi Daerah Tingkat I Bali. Dalam usaha pembinaan kelestarian kekayaan yang ter-dapat dalam sumber daya hayati perikanan, maka dipandang perlu mengatur usaha-usaha perikanan di Propinsi Daerah Tingkat I Bali. Dengan telah terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1990 tentang Usaha Perikanan dan Surat Keputusan Men-teriPertanian Nomor 815/Kpts/IK. 120/11/90 tentang Perijinan Usaha Perikanan, maka Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Bali Nomor 05 Tahun 1980 tentang Ijin usaha Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I Bali beserta perubahannya perlu diperbaharui. Untuk memberikan kepastian hukum terlaksananya kegiatan pengelolaan sumber daya ikan di Propinsi Daerah Tingkat I Bali perlu diatur kembali Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Bali tentang Ijin Usaha Perikanan. II. PASAL DEMI PASAL : Pasal 1 huruf a huruf b hurup c huruf d huruf e : Pengertian Ikan termasuk juga bekicot.

huruf f : Yang dimaksud dengan usaha penangkapan yaitu selain usaha budidaya di Laut, juga termasuk usaha penangkapan di perairan umum seperti misalnya danau, sungai, waduk dan sebagainya ; huruf g huruf h huruf I huruf j huruf k huruf l huruf m huruf n : Penggunaan istilah Kapal Perikanan ini ter-batas pada bidang usaha perikanan sebagai dimaksud dalam Peraturan Daerah ini Pasal 2 Pasal 3 Pasal 4 Pasal 5 Pasal 6 : Peraturan daerah ini berlaku pula bagi Pengusaha Perikanan dari luar Propinsi daerah Tingkat I Bali. : Persetujuan yang dimaksud adalah persetujuan tertulis. : SPI harus selalu berada di atas kapal untuk diperlihatkan apabila sewaktu-waktu di adakan pemeriksaan. : Ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam IUP dan SPI yang harus dipatuhi antara lain : - Dilarang menangkap ikan menggunakan bahan peledak, tuba atau bahan beracun lainnya. - Dilarang menggunakan mata jaring Purse Seine yangberukuran kurang dari dua inci pada bagian sayap dan kurang dari satu inci pada bagian kantong. - Jalur penangkapan. Dilarang menangkap udang/lobster yang sedang bertelur. - Mematuhi ketentuan Peraturan Daerah Nomor 09 Tahun 1984 tentang Pelelangan Ikan. Pasal 7 Pasal 8 Pasal 9 Pasal 10 Pasal 11 : SPI yang dipegang oleh perorangan akan berakhir apabila yang bersangkutan meninggal dunia sedangkan yang dipegang oleh Badan Hukum akan berakhir apabila Badan Hukum ter sebut dinyatakan failit atau bubar.

Pasal 12 Pasal 13 Pasal 14 Pasal 15 Pasal 16 Pasal 17 Pasal 18 Pasal 19

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR: 503.5233.61-332 TENTANG PENGESAHAN PERATURAN DAERAH PTOPINSI DAERAH TINGKAT I BALI NOMOR 17 TAHUN 1991 TENTANG IZIN USAHA PERIKANAN MENTERI DALAM NEGERI Membaca : a. Surat Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali tanggal 16 Desember 1991 Nomor 188.341/21224/ HK perihal permohonan pengesahan Peraturan Daerah ; b. Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Bali Nomor 17 Tahun 1991 tentang Izin Usaha Per-ikanan. Menimbang Mengingat : bahwa tidak berkeberatan untuk mengesahkan Peraturan Daerah yang dimaksud. : 1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah. 2. Undang-undang Nomor 12 Drt Tahun 1957 tentang Peraturan Umum Retribusi Daerah. 3. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan. 4. Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1990 tentang Usaha Perikanan. M E M U T U S K A N : Menetapkan : Mengesahkan Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Bali Nomor 17 Tahun 1991 ten tang Izin Usaha Perikanan, dengan perubahan : Pasal 15 : - ayat(l) disempurnakan dan harus dibaca sebagai berikut: "(1) Selain oleh Pejabat Penyidik Umum yang bertugsfs menyidik tindak pidana, penyidik -an atas tindak pidana sebagaimana dimak-sud dalam Peraturan

Daerah ini, dapat juga dilakukan oleh Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil dilingkungan Pemerintah Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Bali yang pen-gangkatannya ditetapkan sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang ber-laku". - ayat (2) huruf a disempurnakan dan harus dibaca sebagai berikut : " a. menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana". Ditetapkan di : J a k a r t a Pada tanggal : 16 Maret 1993 MENTERI DALAM NEGERI ttd. RUDINI SALINAN keputusan ini disampaikan kepada : 1. Sdr. Menteri Sekretaris Negara di Jakarta 2. Sdr. Menteri Kehakiman di Jakarta. 3. Sdr. Menteri Keuangan di Jakarta. 4. Sdr. Sekretaris Jenderal Departemen Dalam Negeri di Jakarta. 5. Sdr. Direktur Jenderal Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah Departemen Dalam Negeri di Jakarta. 6. Sdr. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali di Denpasar. 7. Sdr. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Bali di Denpasar.