PENGERUKAN PELABUHAN

dokumen-dokumen yang mirip
PEDOMAN TEKNIS KEGIATAN PENGERUKAN DAN REKLAMASI

MENTERIPERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA

Bab iv Pelaksanaan dan proses pekerjaan Pengerukan

Abstrak Penulisan ini akan dikaji mengenai multi fungsi hidrolik untuk kapal keruk 30 M. Dengan kajian ini diharapkan dapat mengoptimalkan dan memenuh

Bray, R.N. Dredging a Hand Book For Engineer. Edward Arnold Ltd. London

MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR : KEP.33/MEN/2002 TENTANG ZONASI WILAYAH PESISIR DAN LAUT UNTUK KEGIATAN PENGUSAHAAN PASIR LAUT

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. sangat luas, dirasakan sangat perlu akan kebutuhan adanya angkutan (transport) yang

OPTIMALISASI DERMAGA PELABUHAN BAJOE KABUPATEN BONE

TIPE DERMAGA. Dari bentuk bangunannya, dermaga dibagi menjadi dua, yaitu

BAB 6 PENUTUP. BAB VI PenUTUP

Fasilitas pembuangan hasil keruk (dumping area)

BAB VII METODE PELAKSANAAN

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI PENYEMPURNAAN RANCANGAN RTR KAWASAN STRATEGIS PANTURA JAKARTA

Desain Konsep Self-Propelled Backhoe Dredger untuk Operasi Wilayah Sungai Kalimas Surabaya

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2000 TENTANG KENAVIGASIAN

BAB III PERENCANAAN PERAIRAN PELABUHAN

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BUPATI MUSI BANYUASIN PROVINSI SUMATERA SELATAN PERATURAN BUPATI MUSI BANYUASIN NOMOR 28 TAHUN 2017 TENTANG

LAPORAN TUGAS AKHIR (KL-40Z0) Perancangan Dermaga dan Trestle Tipe Deck On Pile di Pelabuhan Garongkong, Propinsi Sulawesi Selatan. Bab 1.

RANCANGAN PERATURAN MENTERI TENTANG PENYELENGGARAAN PELABUHAN PENYEBERANGAN MENTERI PERHUBUNGAN,

PRESENTASI TUGAS AKHIR (MN091382)

I. PENDAHULUAN Permasalahan

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan - Universitas Gadjah Mada. Pertemuan Kesembilan TRANSPORTASI UDARA

SPESIFIKASI PEKERJAAN SURVEI HIDROGRAFI Jurusan Survei dan Pemetaan UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

D3 TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI BANDUNG BAB I PENDAHULUAN

Septyan Adi Nugroho

P E N J E L A S A N A T A S PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG KENAVIGASIAN

Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 55 Tahun Tentang

III - 1 BAB III METODOLOGI

BAB II SURVEI LOKASI UNTUK PELETAKAN ANJUNGAN EKSPLORASI MINYAK LEPAS PANTAI

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Sketsa Pembangunan Pelabuhan di Tanah Grogot Provinsi Kalimantan Timur

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Batu bara

BAB I PENDAHULUAN. dengan yang lain, yaitu masing-masing wilayah masih dipengaruhi oleh aktivitas

Pelabuhan secara umum adalah daerah yang terlindung

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM. 52 TAHUN 2012 TENTANG ALUR-PELAYARAN SUNGAI DAN DANAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Analisa Perbandingan Teknis dan Ekonomis Penggunaan Belt dan Roda Gigi pada Kapal Keruk 30 m

BAB I PENDAHULUAN I - 1 BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

2016, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

BAB I PENDAHULUAN 1.1 TINJAUAN UMUM

2017, No Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 151, Tambahan L

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : 7 TAHUN 2005 TENTANG PENYELENGGARAAN SARANA BANTU NAVIGASI PELAYARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Studi Master Plan Pelabuhan Bungkutoko di Kendari KATA PENGANTAR

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pelabuhan Perikanan Pengertian, klasifikasi dan fungsi pelabuhan perikanan

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

ALAT GALI. Backhoe dan Power Shovel disebut juga alat penggali hidrolis karena bucket digerakkan secara hidrolis.

7 KAPASITAS FASILITAS

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

Pembuatan Alur Pelayaran dalam Rencana Pelabuhan Marina Pantai Boom, Banyuwangi

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

TENTANG IZIN PEMBANGUNAN DAN PENGELOLAAN PELABUHAN KHUSUS

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 69 TAHUN 2017 TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN REMBANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB 4 ANALISIS PELAKSANAAN PERENCANAAN ALUR PELAYARAN

HIBAH PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS UDAYANA JUDUL PENELITIAN STUDI ANALISIS PENDANGKALAN KOLAM DAN ALUR PELAYARAN PPN PENGAMBENGAN JEMBRANA

2015, No ruang wilayah Kabupaten Manggarai Barat sebagaimana yang direkomedasikan oleh Bupati Manggarai Barat melalui surat Nomor BU.005/74/IV

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

KOMPOSISI BUTIRAN PASIR SEDIMEN PERMUKAAN SELAT BENGKALIS PROPINSI RIAU

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

2 Tahun 2009 Nomor 151, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5070); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2010 tentang Kenavigasian (Lemb


Pendangkalan Alur Pelayaran di Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu

BAB 2 DASAR TEORI 2.1 Pembagian Wilayah Laut

BUPATI BANGKA TENGAH

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Perancangan Dredger Ship untuk Normalisasi Hilir Sungai Kalimas

ESTIMASI EFEKTIFITAS PENGGUNAAN GROIN UNTUK MENGATASI EROSI PADA KAWASAN PESISIR PANTAI UTARA TELUK BAGUALA AMBON. Tirza Jesica Kakisina * Abstract

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2001 TENTANG KEPELABUHANAN

2016, No kepelabuhanan, perlu dilakukan penyempurnaan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 51 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pelabuhan L

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 1996 TENTANG KEPELABUHANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERHUBUNGAN DAN KEPALA BADAN PENGUSAHAAN KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS BATAM

Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 1996 Tentang : Kepelabuhanan

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2000 TENTANG KENAVIGASIAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

1. SIMBOL, NOTASI, DAN KODE UNSUR, UNSUR-UNSUR PERAIRAN PETA DASAR

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2001 TENTANG KEPELABUHANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2013

PT PLN (PERSERO) UNIT PELAKSANA KONSTRUKSI PLTU PANGKALAN SUSU

BAB 3 TINJAUAN LINGKUNGAN

BAB IV ALTERNATIF PEMILIHAN BENTUK SALURAN PINTU AIR

Perencanaan Pelabuhan Penyeberangan Desa Buton, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah

4.1. DEFINISI DASAR 4.2. FASILITAS UTAMA DAN FASILITAS DASAR PERAIRAN

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

KONDISI BATIMETRI DAN SEDIMEN DASAR PERAIRAN DI KOLAM PELABUHAN CARGO PT. PERTAMINA RU VI BALONGAN, JAWA BARAT

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BERITA NEGARA. KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL. Izin Khusus. Pertambangan. Mineral Batu Bara. Tata Cara.

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB III DATA DAN ANALISA

REKLAMASI PANTAI DI PULAU KARIMUN JAWA

KL 4099 Tugas Akhir. Desain Pengamananan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari. Bab 1 PENDAHULUAN

TINJAUAN PUSTAKA. menahan gaya angkat keatas. Pondasi tiang juga digunakan untuk mendukung

Sungai Musi mempunyai panjang ± 750 km

ejournal Teknik sipil, 2012, 1 (1) ISSN ,ejurnal.untag-smd.ac.id Copyright 2012

Transkripsi:

METODA PELAKSANAAN PENGERUKAN PELABUHAN ABSTRAK Dalam merencanakan pembangunan dan pengembangan Pelabuhan, masalah sedimentasi atau pendangkalan harus diminimalisasi terutama pada kolam Pelabuhan guna mengamankan dan melancarkan arus pelayaran. Setiap waktu sedimen di dasar laut akan bertambah, sehubungan dengan hal tersebut, untuk mengurangi pendangkalan yang diakibatkan oleh sedimentasi adalah dengan cara melakukan pengerukan sedimen pada kolam Pelabuhan. Sedimen didefenisikan sebagai kumpulan dari pertikel-partikel organik dan anorganik yang berbentuk tidak beraturan dan terakumulasi secara luas di daerah pantai. Berdasarkan hasil perhitungan uji sedimen yang didapat Laju sedimen rerata 2.176.071,364 m3/th/m. Ini berarti, dalam jangka waktu 1 tahun, luasan sedimen sebesar 2.176.071,364 m2. Dan waktu pada saat tinggi maksimum sedimen yang diperbolehkan adalah 10,69 tahun, berarti setiap 10,69 tahun harus dilakukan pengerukan terhadap sedimen di dasar laut, khususnya di daerah kolam pelabuhan I. PENDAHULUAN Secara umum Pelabuhan adalah suatu perairan yang terlindung dari pengaruh gelombang, badai, arus agar kapal-kapal dapat dengan mudah dan aman untuk berlabuh dan berputar (turning basin), bersandar sehingga bongkar muat dan pengangkutan penumpang dapat dilaksanakan dengan lancar. Pelabuhan mengalami berbagai hambatan fisik antara lain masalah pendangkalan yang disebabkan oleh sedimentasi yang terjadi pada kolam Pelabuhan dan alur pelayaran. Masalah pendangkalan ini akan semakin besar dan kom- pleks jika Pelabuhan tersebut terletak di muara sungai (estuary). Maka dari itu, pendang- kalan harus diminimalisasi terutama pada kolam pelabuhan guna mengamankan dan melancarkan arus pelayaran. Sehubungan dengan hal tersebut, untuk mengurangi pen- dangkalan yang diakibatkan oleh sedimentasi adalah dengan cara melakukan pengerukan sedimen pada kolam Pelabuhan.Dengan demikian pembahasan tentang masalah Analisa Transportasi Sedimen dan Pengaruhnya Terhadap Pengerukan Kolam Pelabuhan Batubara di Kawasan Sukaraja Bandar Lampung merupakan hal yang perlu dilakukan agar Pelabuhan dapat berfungsi dengan maksimal.

II. KEGIATAN PENGERUKAN A. PEKERJAAN PENGERUKAN 1. Pekerjaan pengerukan meliputi dua jenis kegiatan, yaitu pekerjaan pengerukan yang hasil material keruknya tidak dimanfaatkan atau dibuang dan pekerjaan pengerukan yang hasil material keruknya dimanfaatkan. 2. Selain itu pengerukan dapat dikategorikan dalam dua pekerjaan yaitu pekerjaan pengerukan awal dan pengerukan untuk pemeliharaan alur pelayaran dan atau kolam pelabuhan. 3. Pekerjaan pengerukan terdiri dari tiga kegiatan, yaitu pelaksanaan pengerukan, transportasi material keruk ke lokasi pembuangan dan kegiatan pembuangan material keruk di lokasi pembuangan material keruk (Dumping area). B. PERENCANAAN PENGERUKAN 1. Perencanaan desain alur dan kolam pelabuhan yang berkaitan dengan pekerjaan pengerukan, pembangunan dan pemeliharaan harus sepengetahuan Direktur Jendral Perhubungan Laut yang meliputi : 2. Untuk pekerjaan pengerukan awal, harus didahului dengan penyelidikan tanah, setidak-tidaknya meliputi test Spesific gravity dan Standard Penetration Test (SPT) dan kadar garam (Salinity). Keadaan tanah dasar diperiksa untuk dua keperluan, pertama kemudahannya untuk di keruk (Excavability) dan kedua pengangkutannya (Transportability). 3. Penentuan/penetapan posisi alur pelayaran/kolam pelabuhan pada Peta Sounding 4. Profil/potongan melintang, memanjang alur/kolam pelabuhan dengan perhitungan volume keruk. 5. Jenis dan tipe serta kapasitas kapal keruk. Yang perlu diperhatikan dalam menentukan jenis alat keruk berdasarkan jenis material tanah dasar adalah sebagai berikut : 6. Pengerukan di daerah sekitarnya.

Klasifikasi Nilai N Jenis Tanah Slope Tanah lempung < 4 4 8 8 20 20-40 Lumpur Lunak Sedang Keras 1 : 3-5 1 : 2-3 1 : 1,5-2 1 : 1-1,5 Pasir < 10 10 30 30-50 Lunak Sedang Keras 1 : 2-3 1 : 1,5-2 1 : 1-1,5 Kerikil 1 : 1-1,5 Batu 1 : 1 C. LOKASI / AREA PEKERJAAN PENGERUKAN 1. Pekerjaan pengerukan dapat dilaksanakan di perairan yang meliputi : alur laut bebas, alur angkutan perairan, alur pelayaran, alur masuk pelabuhan,anjir atau terusan, kanal dan lokasi-lokasi lain. 2. Pekerjaan pengerukan dan atau penambangan harus memperhatikan lokasi keruk dan atau tambang dengan memperhatikan zona-zona yang ada antara lain zona keselamatan (Zafety zone), zona TSS (Trafficseparation Scheme), zona STS (Ship to ship transfer) dan zona tempat labuh jangkar (anchorage area), zona kabel laut, zona pipa instalasi bawah air, zona pengeboran lepas pantai (Off shore drilling), zona pengambilan barang-barang berharga, zona keamanan sarana bantu navigasi (SBNP), maupun zona-zona lainnya yang diatur oleh ketentuan Internasional maupun instalasi Pemerintah terkait. 3. Bagi pelaksana pekerjaan pengerukan/penambangan di zona trafficseparation sheme atau lokasi lainnya yang merupakan alur pelayaran yang ditentukan oleh pemerintah aupun IMO harus mematuhi segala ketentuanantara lain yang telah diatur dalam Convention on Regulation for Preventing Collition at Sea 1972 (colreg 1972).

D. LOKASI PEMBUANGAN HASIL PENGERUKAN 1. Tempat pembuangan material keruk yang lokasinya di perairan, idealnya dibuang pada jarak 12 mil dari daratan danatau pada kedalaman lebih dari 20 m ataulokasi lainnya setelah mendapat rekomendasi atau izin dari Direktorat Jenderal perhubungan Laut,melalui ADPEL atau KAKANPEL setempat. 2. Tempat pembuangan material keruk di darat harus mendapat persetujuan dari PEMDA setempat yang berkaitan dengan penguasaan lahan yang sesuai RUTR. E. KEGIATAN PEMERUMAN DAN PERHITUNGAN OLUME KERUK 1. Kegiatan pemeruman yaitu pemeruman yang meliputi tiga tahap yakni pemeruman awal (predredge sounding) untuk mengetahui kondisi awal perairan yang akan dikeruk dan membuat desain atau perencanaan pekerjaan pengerukan dan untuk memperhitungkan volume keruk, pemeruman pelaksanaan pekerjaan pengerukan (progress sounding) untuk memantau pelaksanaan pekerjaan pengerukan yang pemerumannya dilaksanakan berkala dan pemeruman akhir (final sounding) untuk memperhitungkan volume keruk yang telah dikerjakan. 2. Pelaksana pekerjaan pengerukan wajib mengirimkan hasil pemeruman final pada DITJEN HUBLA untuk diteruskan/disiarkan pada Berita Maritim (Notice to Marine) 3. Sebagai dasar pembuatan desain alur pelayaran/kolam pelabuhan dan atau pekerjaan pengerukan lainnya, perhitungan volume keruk harus menggunakan hasil pemeruman awal yang dilakukan dalam kurun waktu maksimum 2 (dua) bulan setelah pelaksanaan pemeruman. 4. Pemeruman (Sounding) menggunakan Echo Sounder dengan frekuensi antara 200 KHz sampai 210 KHz. 5. Perhitungan volume keruk didasarkan pada luas penampang dikalikan panjang pias ditambah volume pengendapan selama pekerjaan berlangsung dan atau

volume toleransi vertikal. 6. Besaran pengendapan atau tingkat pengendapan dan toleransi vertikal sebagaimana ditentukan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut untuk masing-masing alur pelayaran dan atau kolam pelabuhan, F. KEDALAMAN PERAIRAN KERUK Pendalaman alur pelayaran atau kolam pelabuhan ditentukan berdasarkan permukaan air,draft rencana angkutan perairan, pergerakan vertikal angkutanperairan,ruang bebas lunas kapal, pasang surut dan kemudahan atau kelancaran masuknya angkutan perairan atau lebar alur dalam 1 lajur atau 2 lajur. G. MOBILISASI DAN DEMOBILISASI Dalam merencanakan biaya pengerukan, hal-hal yang perlu diperhatikan : Pekerjaan persiapan (material yang harus dibersihkan) Supervisi BAB II

METODE PELAKSANAAN 2.1. UMUM Aspek teknologi sangat berperan dalam suatu proyek konstruksi. Umumnya, aplikasi teknologi ini banyak diterapkan dalam metode metode pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Penggunaan metode yang tepat, praktis, cepat dan aman, sangat membantu dalam penyelesaian pekerjaan pada suatu proyek konstruksi. Sehingga, target 3T yaitu tepat mutu/kualitas, tepat biaya/kuantitas dan tepat waktu sebagaimana ditetapkan, dapat tercapai. Dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi, adakalanya juga diperlukan suatu metode terobosan untuk menyelesaikan pekerjaan lapangan. Khususnya pada saat menghadapi kendala kendala yang diakibatkan oleh kondisi lapangan yang tidak sesuai dengan dugaan sebelumnya. Untuk itu, penerapan metode pelaksanaan konstruksi yang sesuai kondisi lapangan, akan sangat membantu dalam penyelesaian proyek konstruksi bersangkutan. Konstruksi bangunan pantai memerlukan teknik khusus dalam pembuatannya. Oleh sebab itu,maka metode pelaksanaan bangunan sangat diperlukan untuk mengatasi masalah masalah dalam pembangunan konstruksi bangunan tersebut. 2.2.1 METODE PENGERUKAN Pekerjaan pengerukan secara garis besar dapat di bagi dalam tiga proses utama,

yakni penggalian, pengangkutan dan pembuangan. Kapal yang dipakai pada masing-masing proses ini adalah sebagai berikut : Pengerukan Pekerjaan Pengerukan dengan Alat : Cutter suction dredger Hopper barge Grab bucket dredger Dipper dredger Rock breaker Lain-lain Kapal bantu Pengangkutan Tug boat Pusher boat Hopper barger Pembuangan Kapal bantu Gambar Komponen Proses Pengerukan

1. Metode pekerjaan pengerukan dapat dilaksanakan dengan pengerukan sistem hidraulik (Kapal Keruk Hopper dan Kapal Keruk Cutter), pengerukan dengan cangkram, pengerukan dengan timba dan pengerukan denagn sistem lainnya. 2. Untuk material keruk yang keras, semisal karang, pekerjaan pengerukan dapat dilaksanakan dengan cara penggalian material karang dengan metode mekanikal kemudian pemindahan material keruk dengan sistem pengerukan yang normal, penggalian material karang denagan metode peledakan karanng kemudian pemindahan material keruk dengan sistem pengerukan yang normal dan sistem lainnya seperti penggalian material karang dengan metode pemecahan karang melalui gelombang pendek atau microwave, pemotongan karang dengan menggunakan peralatan tekanan tinggi atau sistem lainnya. Penggalian material keruk/karang dengan metode peledakan ini harus mendapat rekomendasi dari institusiyang berwenang. 3. Kegiatan pengerukan yang hasil material keruknya tidak dimanfaatkan, adalah kegiatan pekerjaan pengerukan untuk pendalaman alur pelayaran dan kolam pelabuhan atau untuk keperluan lainnya, antara lain adalah :pembangunan pelabuhan/dermaga, penahan gelombang, saluran air masuk untuk sistem pendinginan (Water intake), pendalaman galangan kapal dan lain-lain. 4. Kegiatan pengerukan yang hasil material keruknya dimanfaatkan adalah kegiatan pekerjaan pengerukan untuk pengurugan atau reklamasi dan pekerjaan pengerukan untuk penambangan. A. PEMILIHAN JENIS ALAT KERUK Masing-masing jenis alat keruk memiliki kinerja berbeda untuk berbagai keadaan cuaca dan material tanah dasarnya. Secara umum, alat keruk dengan penggerak sendiri memiliki kelaikan laut yang baik dan dapat digunakan di perairan laut terbuka. Sedangkan alat keruk tanpa penngerak sendiri terutama jenis dengan jangkar tiang mudah dipengaruhi oleh angin dan gelombang.

1. Oleh karena itu jenis alat keruk selain memperhatikan keadaan tanah dasarnya ditetapkan setelah memperhatikan keadaan cuaca, sebagi berikut : a. Gelombang, angin, arus, pasang surut dan daerah teduh b. Hari kerja dan jam kerja c. olume kerukan dan kedalaman maksimum d. Luas daerah keruk, tempat tambat dan volume lalu-lintas e. Tempat berlindung alat keruk dan kapal serta fasilitas perbaikan. f. Perlengkapan daya, suplai air dan fasilitas penjangkaran. g. Gaya penjangkaran h. Akomodasi untuk alat keruk dan kapal pendukung. 2. Pemilihan alat keruk harus disesuaikan dengan kondisi lapangan dan jenis material dasar yang dikeruk sebagaimana tabel di bawah ini : JENIS TANAH JENIS ALAT KERUK

Klasifikasi Keadaan N Sangat lunak < 40 Pump Dredger Hopper Dredger Grab Gredger Bucket Dredger Dipper Dredger Rock Breaker Lunak 4 Tanah Lempung Sedang Keras 10 10 Lebih keras 20 Sangat keras Lunak 20 < 10 Sedang 10 Tanah Kepasiran Keras Lebih keras 20 20 Tanah Lempung Berkerikil Tanah Kepasiran Berkerikil Batu Sangat keras Lunak Keras Lunak Keras Lebih lunak Lunak Sedang Keras 30 < 30 > 30 < 30 > 30 40 50 50 60 Lebih 60 2.2.2. Peralatan Kerja Selain bahan bangunan, untuk pelaksanaan proyek ini juga diperlukan adanya peralatan kerja sebagai sarana untuk membantu dan memudahkan pelaksanaan pekerjaan. Sebagaimana halnya pengadaan barang, maka dalam

pengadaan dan pemilihan peralatan kerja harus dilakukan kiat khusus agar pemilihan jenis peralatan kerja tersebut dapat menghasilkan efektifitas dan produktifitas alat yang optimal, antara lain : a. Merinci mengenai peralatan yang dibutuhkan. b. Memperhitungkan banyaknya alat yang akan dipakai sesuai dengan volume pekerjaan yang akan dilaksanaan. c. Memperhitungkan kapasitas alat. d. Memperhitungkan biaya alat (sewa/beli, pemeliharaan, dll). e. Memperhitungkan daya tahan alat. 2.2.2. Diagram Analisa P engerukan Analisa Pelaksanaan Pengeruk an Analisis Evaluasi Pekerjaan Pengerukan Analisis didasarkan pada jumlah volume material yang dikeruk di setiap spot selama pekerjaan pengerukan Analisis Resiko Analisis didasarkan pada pengaruh ketelitian ukuran dalam perhitungan volume material yang dikeruk Pelaksanaan Tahap Final Sounding Penyajian peta batimetri alur pelayaran yang sudah mencapai desain kedalaman sesuai dengan ketentuan yang berlaku bagi alur pelayaran di Pelabuhan. Gambar 1.1 Diagram Analisis 2.2.3. Pekerjaan pengerukan dasar laut Pekerjaan pengerukan dasar laut ini dilakukan untuk membuat alur pelayaran dan sebagai lokasi pembuatan jetty. Pekerjaan ini menggunakan

dragline. Pekerjaan pengerukan yang lain adalah pengerukan untuk kolam pelabuhan, pekerjaan ini dilakukan di darat karena letak layout pelabuhan yang menjorok ke daratan. Pekerjaan ini menggunakan excavator. Adapun material material hasil pengerukan yang berupa batu karang dan pasir dibuang ketempat yang telah ditentukan dengan menggunakan dump truk Gambar 7.2. Pengerukan dasar laut 2.2.3. Pekerjaan Galian Pekerjaan galian dilakukan untuk memperoleh kedalaman tertentu dimana pelindung kaki dan lapis batu pelindung konstruksi seawall akan ditempatkan. Pelaksanaan pekerjaan galian dilakukan dengan menggunakan excavator. II.2.4.Alat yang digunakan dalam pekerjaan Pengerukan GPS ( Digunakan operator untuk melihat lokasi yang akan di keruk, melihat loaksi pembuangan / Dumping material hasil kerukan )

Clamshell / Cengkram ( Digunakan operator keruk untuk mengeruk material sedimen yang kemudian di tamping di tongkang lumpur ( Split Barge ). dan untuk diam pada lokasi pengerukan menggunakan Spud ( digunakan pada kedalaman <12m) dan Jangkar ( digunakan pada kedalaman >12) Bak lumpur / Split Barge ( Digunakan untuk menampung material hasil kerusakan )

Tug Boat ( Kapal yang berfungsi untuk menarik Clamshell Untuk berpindah pindah tempat ) Spud ( tiang Pancang yang digunakan agar Kapal tidak bergrak pada saat pengerukan berlangsung ). Spud hanya efektif digunakan pada kedalaman <12m, jika kedalaman >12m maka harus menggunakan Jangkar.

Dumping Proses Pengerukan Proses Cengkram Material Hasil Kerukan Proses Pengerukan

BAB III. KESIMPULAN DAN SARAN 3.1. Kesimpulan Pengerukan adalah pekerjaan Mengubah bentuk dasar perairan/ laut untuk mencapai kedalam dan lebar yang dikehendaki atau mengambil material dasar laut/ perairan yang digunakan untuk keperluan tertentu. Pada proyek pengerukan alur dan kolam pelabuhan dimasuksudkan untuk mengurangi sedimen pada alur dan kolam pelayaran kapal yang masuk ke pelabuhan agar tidak karam/kandas. Biaya Pengerukan Operasional sangat besar maka harus dilakukan perhitungan yang sangat matang. 3.2. Saran Penggunaan alat harus lebih di perhatikan, dalam pengerjaan pengerukan harus baik dan berfungsi secara baik dalam pengerjaannya. Survey sedimen yang masuk ke Pelabuhan harus di perhatikan dan di perhitungkan agar pekerjaan pengerukan tidak berjalan sia sia.

28 NOE 26 November 2013 PELABUHAN MBER 2013 DAFTAR PUSTAKA Djainal, Herry. 2005. Reklamasi dan Pengaruhnya terhadap lingkungan fisik. Universitas Gadjah Mada. Pertiwi, Bangun Surya. 1996 Analisis dampak lingkungan ( Andal Terpadu ) reklamasi pantai dan pembangunan dalam Teluk Bintan, Pulau Bintan, Provinsi. Anonim : http://teknikkelautan.blogspot.com/2012/01/pengertian-pelabuhan.html : Di akses tanggal 24 November 2013 Pukul : 18 : 58