BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. didik disekolah melalui proses pembelajaran. Namun, mengupayakan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. lain dan meningkatkan kemampuan intelektual. Pembelajaran

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam bidang pendidikan di sekolah peranan seorang guru sangat

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), hlm (Jakarta: Kementrian Agama Republik Indonesia, 2012), hlm. 27.

BAB I PENDAHULUAN. orang lain serta alat untuk mengidentifikasi diri. Bahasa memiliki peranan dalam

BAB I PENDAHULUAN. Asep Resa Baehaki,2014

Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Kooperatif pada Mata Pelajaran IPA di Kelas V SD Negeri 2 Tatura

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Desi Sukmawati, 2013

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Satu sisi pendidikan dilaksanakan

BAB I PENDAHULUAN. sosial, dan emosional peserta didik dan menerapkan fungsi penunjang

I. PENDAHULUAN. Keterampilan berbahasa mencakup empat komponen, yaitu menyimak/

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Maulida Zahara, 2013

BAB I PENDAHULUAN. Retno Friethasari, 2015 PENERAPAN METODE STORY TELLING UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA SISWA SEKOLAH DASAR

BAB I PENDAHULUAN. didik (siswa), materi, sumber belajar, media pembelajaran, metode dan lain

Kata kunci: hasil belajar, penggunaan huruf, Think Pair Share

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI KELAS RENDAH DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK PERMAINAN TEBAK BENDA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. lain. Untuk menjalin hubungan tersebut diperlukan suatu alat komunikasi. Alat

BAB I PENDAHULUAN. membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang

BAB I PENDAHULUAN. individu lainnya. Menurut Wibowo (Hidayatullah, 2009), bahasa adalah sistem

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

Kata Kunci: Kemampuan Membaca, Permainan Bahasa Melengkapi Cerita, Kartu Bergambar

BAB I PENDAHULUAN. Berkomunikasi adalah salah satu keterampilan berbahasa. Keterampilan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip keilmuan secara holistik,

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis

BAB I PENDAHULUAN. dirinya, budayanya serta budaya orang lain. Pembelajaran bahasa juga dapat

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Karya sastra mengandung pesan moral tinggi, yang dapat menjadi

Contoh File KKM, PROTA, PROMES, SILABUS, RPP, SK & KD, PEMETAAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dalam aktivitas sehari-hari, manusia tidak lepas dari interaksi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. memindahkan informasi pengetahuan ke buku catatan yang telah didapat dari

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembelajaran Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran

BAB 1 PENDAHULUAN. Bahasa dalam kehidupan manusia menduduki fungsi yang utama. sebagai alat komunikasi. Bahasa dapat meningkatkan potensi diri manusia

BAB I PENDAHULUAN. berbicara, membaca dan menulis. Menulis merupakan kegiatan yang produktif

PERNYATAAN KEASLIAN TESIS

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa bantuan

BAB I PENDAHULUAN. ide serta gagasan yang terdapat pada materi atau bahasa simakan.

BAB I PENDAHULUAN. semua peristiwa itu aktivitas menyimak terjadi. Dalam mengikuti pendidikan. peristiwa ini keterampilan menyimak mutlak diperlukan.

Penerapan Metode Bermain Peran Pada Materi Drama Anak Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas 3 SDN Gio

BAB I PENDAHULUAN. sebagai anak usia prasekolah. Perkembangan kecerdasan pada masa ini

BAB I PENDAHULUAN. (2001: 289), bercerita merupakan salah satu bentuk tugas kemampuan

2014 PENERAPAN METODE MENULIS BERANTAI DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS CERPEN

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu keharusan bagi manusia karena pada

BAB I PENDAHULUAN. membiasakan peserta didik aktif dalam kegiatan berbahasa secara lisan.

sendiri dari hasil pengalaman belajarnya.

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Pada dasarnya manusia tidak akan pernah terlepas dari kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. salah satu faktor hakiki yang membedakan manusia dari makhluk lainnya.

BAB I PENDAHULUAN. mengungkapkan berbagai keinginan maupun kebutuhannya, serta memungkinkan

BAB I PENDAHULUAN. dan meningkatnya kemampuan siswa, kondisi lingkungan yang ada di. dan proaktif dalam melaksanakan tugas pembelajaran.

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. Siswa Sekolah Dasar mulai mengembangkan keterampilan yang dimilikinya

berbahasa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di SD diarahkan untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam berkomunikasi secara lisan maupun tulisan

PENERAPAN METODE COCOA UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENGOMENTARI TOKOH CERITA/ DONGENG ANAK

BAB II KAJIAN TEORI. A. Keterampilan Mengungkapkan Pendapat. 1. Mengungkapkan pendapat sebagai keterampilan berbicara

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA MELALUI METODE BERMAIN PERAN PESERTA DIDIK KELAS V SDN 2 PURWOSARI BABADAN PONOROGO TAHUN PELAJARAN

BAB I PENDAHULUAN. memberikan pengetahuan serta membentuk kepribadian individu. Sehubungan

Oleh: Sadar SDN 1 Tasikmadu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek

BAB I PENDAHULUAN. potensi, kecakapan dan karakteristik pribadi peserta didik. Kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pada hakikatnya, pembelajaran bahasa adalah belajar berkomunikasi,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMAHAMI UNSUR-UNSUR CERITA PENDEK MELALUI METODE JIGSAW

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Marfuah, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. dalam berbahasa meliputi empat aspek dasar, yaitu keterampilan

keinginan, penyampaian informasi tentang suatu peristiwa, dan lain-lain.

BAB I PENDAHULUAN. Keterampilan berbahasa mencakup empat aspek, yaitu (1) keterampilan

Transkripsi:

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia adalah makhluk bermasyarakat. Untuk memenuhi fungsi kemasyarakatan digunakan bahasa sebagai alat komunikasi utama. Bahasa adalah sekumpulan bunyi yang diucapkan manusia sesuai dengan sistem yang berlaku. Bunyi-bunyi tersebut membentuk satuan yang bermakna. Dengan satuan-satuan itulah anggota masyarakat berkomunikasi. Bahasa digunakan sebagai alat komunikasi bagi manusia baik secara lisan maupun tulisan. Sebagai alat komunikasi, bahasa mempunyai fungsi lain yaitu sebagai alat mengekspresikan diri, sebagai alat untuk mengadakan interaksi, dan sebagai alat untuk berkomunikasi (Hartati, dkk., 2006: 24). Bahasa juga memiliki peran sentral dalam pengembangan intelektual, sosial, dan emosional, serta merupakan penunjang keberhasilan semua mata pelajaran. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu siswa mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan, serta menggunakan kemampuan analisis dan imajinatif yang ada dalam dirinya. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisan, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil kesastraan manusia Indonesia. Salah satu kemampuan berbahasa adalah berbicara. Tarigan (Resmini, dkk., 2006: 193) menyatakan, Bebicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan. Dengan demikian berbicara merupakan proses komunikasi, dan dalam berkomunikasi seseorang harus mempunyai kemampuan yang baik untuk menyampaikan pesan atau infomasi kepada pendengarnya agar pendengar dapat memahami informasi yang diberikan. Jika yang menyampaikan informasi atau pesan tidak menyampaikan informasi atau pesannya dengan baik, maka pendengar tidak akan memahami apa yang disampaikan. Akan tetapi pembicara

2 yang baik juga harus didukung oleh pendengar yang baik pula, karena meskipun pembicara menyampaikan informasinya dengan baik, tetapi pendengarnya tidak menyimak dengan baik, maka komunikasi tidak akan berjalan dengan baik. Banyak bentuk keterampilan berbicara dalam pelajaran bahasa, salah satunya adalah menceritakan kembali cerita anak yang telah didengar. Resmini, dkk. (2006: 216) mengungkapkan, Bercerita merupakan salah satu teknik dalam pengembangan kemampuan berbicara, melalui bercerita kemampuan bicara siswa akan terlihat. Menceritakan kembali cerita anak yang didengarkan dengan menggunakan kata-kata sendiri merupakan salah satu kompetensi dasar pada aspek berbicara yang harus dimiliki siswa kelas II madrasah ibtidaiyah. Rendahnya tingkat kemampuan berbicara siswa madrasah ibtidaiyah merupakan tantangan bagi proses pelaksanaan pembelajaran oleh guru, maka perlu dikembangkan materi serta proses pembelajarannya yang sesuai, sehingga siswa tidak mengalami kesulitan belajar dan memperoleh hasil belajar yang baik. Pengelolaan pembelajaran yang dilakukan dengan baik oleh guru, tentu saja akan memberikan kesempatan kepada perkembangan belajar siswa. Komunikasi belajar harus dilakukan dua arah atau lebih, dan tidak bersifat teacher s centered. Padahal menuut Piaget (Sutardi dan Sudirjo, 2007: 13), Belajar tidak harus selalu berpusat pada guru, tetapi anak harus lebih aktif. Oleh karena itu siswa harus dibimbing supaya aktif menemukan sesuatu yang dipelajarinya. Konsekuensinya materi yang akan dipelajari harus menarik dan menantang untuk siswa terlibat dalam proses pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi di lapangan yang dilakukan pada bulan November 2012, didapatkan masalah dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang diduga mengakibatkan rendahnya hasil belajar yang dicapai siswa. Keragaman masalah yang ditemukan adalah sebagai berikut. 1. Sebagian besar siswa belum lancar berbicara dalam bahasa Indonesia, sehingga siswa merasa takut salah dan malu, serta kurang berminat untuk berlatih berbicara di depan kelas. 2. Dalam kegiatan belajar mengajar guru hanya menggunakan pendekatan konvensional. Pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran klasik,

3 guru memberi ceramah, sedangkan siswa mendengar, mencatat setelah itu menghafal. Pembelajaran hanya berpusat pada guru, sehingga tidak mendorong siswa dalam mengembangkan keterampilan berpikir. 3. Guru masih kurang tegas dalam mengelola kelas, sehingga masih ada siswa yang ribut, dan tidak memperhatikan apa yang sedang dijelaskan oleh guru. 4. Dalam pembelajaran guru tidak menggunakan media, sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai. Berdasarkan data tes akhir berupa tes perbuatan, ternyata dari 20 siswa kelas II Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Gunungmanik Kecamatan Talaga Kabupaten Majalengka, hanya 7 (tujuh) siswa atau sekitar 35% yang sudah mencapai KKM, sedangkan sisanya 13 siswa atau sekitar 65% belum mencapai KKM yang ditetapkan yaitu 66,67 serta nilai rata-rata kelas 55. Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa belum memahami kompetensi dasar pembelajaran tersebut. Ini menunjukkan baik proses maupun hasil pembelajaran menjadi kurang optimal. Padahal keterampilan berbicara pada kompetensi dasar tersebut sangat penting dalam membekali siswa untuk berkomunikasi. Kemudian hasil yang diharapkan dalam penelitian ini yaitu: 1. Seorang siswa disebut telah tuntas belajar bila ia telah mencapai nilai 66,67. 2. Suatu kelas disebut telah tuntas belajar bila di kelas tersebut 85% siswa mencapai daya serap lebih dari 66,67, Hasil tes akhir yang diperoleh siswa kelas II Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Gunungmanik Kecamatan Talaga Kabupaten Majalengka dapat dilihat pada Lampiran 1. Berdasarkan permasalahan di atas maka perlu dipikirkan agar pembelajaran tidak hanya berjalan satu arah tetapi banyak arah, bisa guru kepada siswa atau sebaliknya siswa kepada guru dan siswa kepada siswa. Dengan demikian interaksi yang terjadi di dalam kelas lebih hidup. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan penerapan teknik story telling melalui media kotak musik. Story telling adalah kegiatan bercerita atau mendongeng yang sudah lama dikenal sebagai sarana hiburan, pendidikan, dan pelestarian budaya (Anonymous, 2013a). Bercerita atau mendongeng merupakan salah satu teknik mengajar yang

4 manjur karena menarik minat siswa dan membantu mereka berkreasi membayangkan gambaran yang mengaktifkan proses berpikir. Cerita berisi suatu kerangka yang menghubungkan peristiwa dan konsep, sehingga memudahkan siswa menerima dan mengingat informasi secara lebih baik. Selain itu, bagi anakanak usia prasekolah, story telling juga berfungsi sebagai sarana menambah perbendaharaan kata (vocabulary) dengan cara yang mengasyikkan, dan menanamkan nilai-nilai moral serta etika. Dengan penerapan teknik story telling melalui media kotak musik dalam pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya dalam materi menceritakan kembali cerita anak yang didengarkan, diharapkan siswa kelas II Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Gunungmanik Kecamatan Talaga Kabupaten Majalengka prestasi dan aktivitas belajarnya akan jauh lebih baik. Sehubungan dengan itu, maka dilakukan penelitian lebih lanjut dengan mengambil judul Penerapan Teknik Story Telling melalui Media Kotak Musik dalam Meningkatkan Kemampuan Berbicara Siswa Kelas II Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Gunungmanik Kecamatan Talaga Kabupaten Majalengka. B. Rumusan dan Pemecahan Masalah 1. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang, maka dirumuskan masalah sebagai berikut. a. Bagaimana perencanaan penerapan teknik story telling melalui media kotak musik dalam pembelajaran berbicara di kelas II Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Gunungmanik Kecamatan Talaga Kabupaten Majalengka? b. Bagaimana pelaksanaan penerapan teknik story telling melalui media kotak musik dalam pembelajaran berbicara di kelas II Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Gunungmanik Kecamatan Talaga Kabupaten Majalengka? c. Bagaimana peningkatan kemampuan berbicara siswa kelas II Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Gunungmanik Kecamatan Talaga Kabupaten Majalengka melalui penerapan teknik story telling melalui media kotak musik?

5 2. Pemecahan Masalah Berdasarkan hasil observasi yang dilaksanakan pada bulan November 2012 di kelas II Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Gunungmanik Kecamatan Talaga Kabupaten Majalengka, didapatkan beberapa permasalahan dalam pembelajaran berbicara yang diduga merupakan faktor yang mengakibatkan rendahnya hasil belajar berbicara yang dicapai siswa. Permasalahan yang ditemukan bersumber pada kinerja guru dan aktivitas siswa sebagimana telah diutarakan di muka. Akibat dari permasalahan tersebut hasil tes menunjukkan 35% yang sudah mencapai nilai KKM, sedangkan selebihnya 65% belum mencapai nilai KKM serta perolehan nilai rata-rata kelas 55. KKM individual yang diharapkan 66,67, dan KKM klasikal jika 85% kelas tersebut mencapai daya serap lebih dari 66,67. Untuk menyelesaikan masalah kesulitan siswa kelas II Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Gunungmanik Kecamatan Talaga Kabupaten Majalengka dalam memahami konsep berbicara, digunakanlah salah satu alternatif dari sekian banyak pendekatan yang dilakukan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu menerapkan teknik story telling melalui media kotak musik. Dalam penelitian ini story telling yang diterapkan dalam pembelajaran yaitu teknik story telling melalui media kotak musik yang merupakan salah satu teknik pembelajaran yang pada pelaksanaannya dilakukan dengan mengisahkan cerita melalui media kotak musik. Alasan teknik story telling melalui media kotak musik digunakan dalam pemecahan masalah, di antaranya bahwa melalui teknik story telling dapat membantu dan memotivasi siswa untuk menyimak isi dari suatu cerita, melatih kemampuan berbicara siswa, menyajikan informasi dengan cara menceritakan kembali cerita yang pernah didengarnya, dan mengembangkan sikap betanggung jawab atas proses belajarnya sendiri. Dengan kata lain, kegiatan kreatif dan pola pikir berbahasa siswa harus dikembangkan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan yang dimiliki setiap siswa. Adapun langkah-langkah teknik story telling melalui media kotak musik dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

6 a. Guru mengelompokkan siswa dalam beberapa kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang. b. Guru mendengarkan cerita melalui media kotak musik, dan meminta siswa untuk mendengarkan dan menyimak dengan seksama cerita tersebut. c. Masing-masing kelompok mendiskusikan cerita tersebut. d. Siswa diberi kesempatan bertanya jika ada hal yang belum dipahami. e. Secara bergiliran, siswa diminta untuk menceritakan kembali isi cerita yang didengar dengan menggunakan kata-kata sendiri di depan kelas. f. Setiap kelompok diminta untuk melakukan pengecekan terhadap apa yang diceritakan oleh kelompok lain. g. Guru menutup kegiatan pembelajaran. Berdasarkan penjelasan di atas, maka diharapkan siswa dalam memahami mata pelajaran bahasa Indonesia yang berkaitan dengan kemampuan berbicara khususnya dalam menceritakan kembali cerita anak yang didengarkan diharapkan dapat ditingkatkan dengan cara belajar, pola pikir, serta pengalaman mereka. Hal ini akan menjadi langkah positif bagi guru guna berkreasi dalam menyajikan suatu materi pelajaran dengan menerapkan teknik story telling melalui media kotak musik. C. Tujuan dan Manfaat 1. Tujuan Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Untuk mengetahui perencanaan penerapan teknik story telling melalui media kotak musik dalam pembelajaran berbicara di kelas II Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Gunungmanik Kecamatan Talaga Kabupaten Majalengka. b. Untuk mengetahui pelaksanaan penerapan teknik story telling melalui media kotak musik dalam pembelajaran berbicara di kelas II Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Gunungmanik Kecamatan Talaga Kabupaten Majalengka. c. Untuk mengetahui peningkatan kemampuan berbicara siswa kelas II Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Gunungmanik Kecamatan Talaga Kabupaten Majalengka melalui penerapan teknik story telling melalui media kotak musik.

7 2. Manfaat Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut. a. Manfaat bagi siswa 1) Meningkatkan pemahaman berbicara tentang memberikan tanggapan dan saran khususnya siswa kelas II Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Gunungmanik Kecamatan Talaga Kabupaten Majalengka. 2) Meningkatkan motivasi siswa untuk belajar aktif dan kreatif. b. Manfaat bagi guru Mengembangkan kreativitas guru agar siswa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran berbicara, dan memotivasi guru lain untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode atau pendekatanpendekatan untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang lebih baik. c. Bagi sekolah dasar Dapat memberikan gambaran yang jelas tentang pembelajaran berbicara dengan penerapan teknik story telling melalui media kotak musik dapat meningkatkan kreatifitas dan keaktifan dalam mempelajari suatu konsep berbicara, sehingga belajar akan lebih efektif dan bermakna. D. Batasan Istilah Agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam menafsirkan atau mengartikan istilah yang terdapat pada judul penelitian, peneliti membatasi istilah tersebut sebagai berikut. 1. Teknik Story Telling Teknik adalah suatu cara khusus/spesifik yang digunakan oleh guru/siswa dalam melakukan suatu kegiatan (Winataputra, dkk., 1995: 124). Story telling adalah kegiatan bercerita atau mendongeng yang sudah lama dikenal sebagai sarana hiburan, pendidikan, dan pelestarian budaya (Anonymous, 2013a). Adapun teknik story telling dalam penelitian ini adalah suatu cara yang digunakan oleh guru atau siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia dengan cara menceritakan kembali cerita yang pernah didengar.

8 2. Media Kotak Musik Media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pengajaran (Djamarah dan Zain, 2002: 137). Adapun media kotak musik yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu alat bantu elektronik berbentuk balok yang dapat menyimpan suatu informasi dan dapat disajikan dalam bentuk suara (alat yang dapat merekam suara). 3. Kemampuan Berbicara Kemampuan berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau mengucapkan kata-kata untuk mengekpresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Pendengar menerima informasi melalui rangkaian nada, tekanan, dan penempatan persendian. Jika komunikasi berlangsung secara tatap muka, berbicara ini dapat dibantu dengan mimik dan pantomimik pembicara (Depdiknas, 2004: 8). Adapun kemampuan bebicara yang diukur dalam penelitian ini di antaranya kesesuaian cerita, kelancaran berbicara, dan tokoh cerita.